Aku Yang Punya, Aku Yang Dipenjara (2)

Rakit Kulim (katakabar) - Masih di tahun 2005. Aku dikenalkan MH yang polisi Peranap berpangkat Brigadir itu, kepada mertuanya Hj I (alm). Hj I dikenal sebagai pedagang lontong di Pasar Peranap Tebing Kuantan. Dari perkenalan itulah aku tahu kalau MH ternyata tinggal di rumah mertunya itu. 

Asal aku belanja ke Pasar Peranap itu, aku selalu disuruh MH singgah dan makan lontong di kedai mertuanya. 

Dasar orang kampung, aku langsung tersentuh saja dengan kebaikan mertua MH itu. Apalagi setelah kemudian aku sudah dianggap keluarga, aku senang. 

Tapi ada yang aneh kemudian. MH nanya lagi soal tanah yang pernah dia tanya sebelumnya. Bahkan kali ini, MH langsung menanya berapa aku jual sehektar. 

Dia juga nanya berapa biaya menebas dan menebang pepohonan di ladang itu. "Kalau nebas, Rp75 ribu perhektar dan menumbang Rp125 ribu perhektar," aku merinci dan MH kemudian mencatat. 

Beberapa hari setelah nanya soal mengimas dan menumbang, MH menyuruh aku datang ke Peranap. Dia nanya kenapa aku sampai bisa punya kebun kelapa sawit. "Biasanya orang kampung kita enggak mau kelapa sawit. Paling juga karet," kata MH waktu itu. 

"Aku diajari oleh kawan-kawanku dari Sumatera Utara (Sumut) cara bertanam sawit. Makanya tahun 2000 lalu, aku nanam," Indra cerita. 

"Di belakang kebun sawitmu itu sudah ada yang nanam sawit?" MH kemudian bertanya. 

Aku heran dari manalah dia tahu ladangku itu. "Ah namanya juga polisi, pasti dia punya oranglah yang bisa disuruh menelusuri aku," bathinku. 

Singkat cerita, MH nanya lagi berapa sehektar aku jual ladangku itu. Lantaran ditanyai terus, "Rp1 juta lah perhektar," akhirnya kujawab. 

"Ya sudah, kalau 20 hektar berapa biaya membersihkan?" suatu hari MH bertanya. 

Tapi sebelum aku jawab, dia malah menyodori aku duit Rp5 juta. "Inilah dulu pakai untuk membersihkan lahan itu," katanya. 

Aku terima duit itu dan kemudian aku berikan kepada adik angkatku, Lukman Rp 4,5 juta. Dia kusuruh mecari 18 orang pekerja. 

Sembari membersihkan ladang yang 20 hektar itu, MH pun cerita kalau bibit kelapa sawit sudah ada di belakang rumahnya. Aku enggak tahu kapan bibit itu dibeli MH. 

Setelah beres mengimas, menebang, memurun dan membakar, aku disuruh MH berangkat ke Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) untuk menjumpai F yang abang iparnya itu. 

Aku ajak ponakanku Iwan yang kebetulan kuliah di Air Molek berangkat. Kami naik Superband ke Tembilahan. "Jadi gimana kira-kira sistim yang kita bikin untuk mengurus kebun kelapa sawit itu," aku bertanya kepada F saat kami duduk di ruang tamu ruamhnya yang megah itu. Waktu itu sudah sore, sekitar pukul 16.00 wib.  

Iwan yang duduk santai menonton televisi di ruang tamu itu, mendengar omongan kami. Semuanya dia dengar. 

"Kaulah semuanya. Kaulah yang urus," jawab F. 

"Soal gaji gimana?"

"Kau ndak kugajilah," jawab F. 

"Kalau enggak digaji, siapalah yang mau mengurus ladang itu?" aku protes. 

Melihat aku yang mulai gusar, F mencoba menenangkan aku. "Dengar dulu. Kebun itu kau uruslah baik-baik. Nanti setelah berhasil, kita bagi dua," katanya. 

Anehnya waktu itu, kami enggak ada bicara soal jual beli lahan meski sebelumnya MH sudah menanya berapa lahan itu aku jual sehektar. 

Tapi lantaran F kemudian menjanjikan kalau sudah berhasil ladang 20 hektar itu kami bagi dua, aku enggak menanyakan lagi soal jual beli lahan itu. 

Apalagi setelah dia janjikan kalau kelak aku akan dibelikannya mobil operasional dan aku dibikinkan rumah, aku semakin sungkan bertanya soal jual beli ladang itu. 

Setelah pertemuan itu, aku semakin semangat mengurus ladang tadi. Sebab F janji, dia yang membiayai semuanya. Aku tuntas menanam semua lahan itu dengan kelapa sawit tanggal 17 Desember 2005. 

"Apa keluhanmu soal ladang itu, tolong kasi tahu ya. Biar ladang itu bagus. Ini HP untukmu. Biar bisa langsung menghubungi aku," kata F saat kami ketemu. 

Sumpah, aku enggak pandai memakai HP motorola yang dikasi F itu. Sebab bahasa inggris semua. Hanya seminggu aku pakai, dia kemudian menggantinya dengan HP Nokia. 

Urusan duit, aku disuruh langsung sama MH. Tapi ada yang aneh. Asal aku meminta duit kepada F melalui MH, aku disuruh meneken kwitansi yang isinya justru kwitansi pembelian lahan. 

Misalnya saat dia kasi uang Rp3 juta, dia tulis di kwitansi itu, uang untuk pembelihan 3 hektar lahan. Sementara duit yang dia kasi itu, justru kupakai untuk keperluan ladang tadi. 

Aku mulai mengeluh saat pembiayaan untuk ladang itu mulai tak jelas. Lantaran biaya tak jelas, duit hasil penjualan karetku pun sudah terpakai untuk mengurus ladang itu. 
  
"Gimana ini bang. Sudah hampir dua tahun umur sawit kita. Banyak butuh biaya itu bang," aku pun menyampaikan keluhanku kepada F. 

"Tenang saja kau. Banyak duit di sini. Tekenanku mahal lho. Tapi jangan sesekali kau cerita sama wartawan ya, apalagi LSM. Mampus aku nanti," F mengingatkanku saat kami ketemu. 

"Terus hitung-hitungan uang yang sudah terpakai ke ladang itu gimana ini bang," katamu kepada F sambil menunjukkan berkas-berkas pengeluaran yang cukup tebal itu. 

"Kau bakar sajalah. Ngapain kau simpan-simpan itu. Bikin sakit kepala saja," kata F. 

Baca juga: Aku Yang Punya, Aku Yang Dipenjara (1)

"Lho...kok dia suruh pula aku membakar semua bukti-bukti pembiayaan ini? Padahal ini sangat penting lho," aku mulai curiga dengan bahasa F itu dan akhirnya semua bukti-bukti pembiayaan ladang itu, aku simpan rapi. Enggak aku bakar seperti perintah F...(bersambung)

Editor : Aziz

Berita Terkait