Begini Geliat Bisnis Minyak Sawit 2021 Versi GAPKI

  • Reporter: aziz
  • 15 November 2020, 19:04:57 WIB
  • Nusantara, Kabar Khusus, Ekonomi, Sawit

Banten, katakabar.com - Forum Group Discussion (FGD) bertajuk 'Outlook Industri Kelapa Sawit Indonesia' yang ditaja oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) di kawasan Serpong, Banten, tiga hari lalu itu menyisakan harapan positif sekaligus kecemasan. 

Dibilang harapan positif lantaran prognosa  Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyebut bahwa tahun depan produksi Crude Palm Oil (CPO) akan berada di kisaran angka 47-49 juta ton. Itu jika kondisi cuaca normal dan pandemi berangsur reda. 

Total ekspor juga menunjukkan perkembangan positif lantaran akan berpeluang naik ke angka 36.4 juta metrik ton dari yang tahun ini berada di angka 31,7 juta metrik ton. 

Ada enam komoditi yang dirilis oleh GAPKI pada total ekspor tadi; biodiesel dari yang tadinya 79.402 metrik ton menjadi 91.230 metrik ton. 

CPO dari 5,7 juta metrik ton naik menjadi 6,5 metrik ton. Refined juga begitu, dari 18 juta metrik ton menjadi sekitar 20,7 metrik ton. 

CPO dan turunannya, dari 23,8 juta metrik ton naik menjadi 27,3 juta metrik ton. Lauric, dari 1,5 juta metrik ton menjadi 1,8 juta metrik ton. Lain-lain, dari 6,3 juta metrik ton menjadi sekitar 7,2 juta metrik ton. 

Di dalam negeri, konsumsi domestik juga menunjukkan peningkatan. F&B dan Oleokimia misalnya, dari 5,5 juta metrik ton, naik menjadi 6,3 juta metrik ton. 

Biodoesel juga begitu, dari 8,5 juta kilo liter menjadi 9,4 juta kilo liter. Peningkatan ini terjadi lantaran tahun depan pemerintah sudah bakal menghadirkan B30.

Hanya saja, mandatori B30 ini akan mengakibatkan keuangan BPDPKS devisit meski skema pungutan ekspor sudah dilakukan dengan sistim progresif. 

"Devisit ini terjadi lantaran perbedaan harga FAME dan solar. Dalam hitungan kita, duit yang dibutuhkan untuk pembuatan 9,2 juta kilo liter biodiesel itu sekitar Rp54,1 triliun," cerita DR. Fadhil Hasan melalui sambungan telepon kepada katakabar.com, tadi sore.

Ketua Bidang Luar Negeri GAPKI ini pula yang membikin paparan soal Outlook Industri Minyak Sawit 2021 dan Implikasinya pada Program B-30 setebal 27 halaman itu bersama Achmad Nur Hidayat dari Narasi Institute.

Sistim progresif pungutan ekspor tadi kata pendiri Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) ini memangkan berdampak positif pada pundi-pundi BPDPKS. Duit tambahan bakal mengalir sekitar Rp28,1 triliun dari total Rp45,52 triliun.

Tapi untuk petani sawit, sistim progresif  pungutan ekspor itu justru berdampak buruk. Sebab harga TBS petani hanya akan berada di kisaran Rp1400 perkilogram. Harga ini jauh di bawah harga idela Rp1700 perkilogram. 

Editor : Aziz

Berita Terkait