Balikpapan, katakabar.com - Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi (SBRC IPB University) kerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) taja Workshop “Oleokimia dari Minyak Sawit: Potensi dan Tantangan” di Grand Tjokro Balikpapan, pada Selasa (7/11) kemarin.
Workshop ini pesertanya berasal dari kalangan akademisi dan petani berasal dari Balikpapan, bagian dari serangkaian kegiatan bakal digelar di tiga kota, yakno Bogor, Medan, dan Balikpapan.
Kepala Divisi Teknologi Proses, Departemen Teknologi Industri Pertanian, IPB University, Prof. Dr. Erliza Hambali menuturkan, minyak kelapa sawit tetap menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia meningkatkan devisa negara.
Data Ditjenbun (2022) menunjukkan, luas areal kelapa sawit pada tahun 2022 mencapai 15,38 juta hektar dengan total produksi Crude Palm Oil (CPO) Indonesia mencapai 48,24 juta ton dan produksi Palm Kernel Oil (PKO) sebesar 9,65 juta ton. Di mana, CPO dan PKO bahan baku yang berpotensi untuk diolah menjadi berbagai produk Oleokimia.
Industri kelapa sawit, ujar Prof Erliza, tidak hanya sumbang devisa, tapi menciptakan lapangan kerja yang signifikan dengan menyerap 4,53 juta tenaga kerja petani.
“Kelapa sawit termasuk dalam 10 kelompok komoditas unggulan Indonesia yang didorong oleh pemerintah untuk meningkatkan proses hilirisasi dan daya saingnya. Hilirisasi industri kelapa sawit, terutama untuk ekspor, menjadi sangat penting mengingat pertumbuhan impor yang masih lebih tinggi dibandingkan ekspor,” ulasnya, dilansir dari laman Kaltim Post, pada Rabu (8/11).
Hilirisasi industri kelapa sawit, ucapnya, proses pengolahan CPO dan PKO jadi produk-produk bernilai tambah lebih tinggi, baik untuk tujuan ekspor maupun untuk substitusi produk impor.
Harapannya, melalui upaya hilirisasi ini, devisa dari kelapa sawit dapat meningkat, dan nilai tambah produk kelapa sawit dapat dinikmati oleh semua pemangku kepentingan di Indonesia.
Hilirisasi minyak sawit di dalam negeri mencakup pengolahan CPO dan PKO menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi, baik untuk ekspor maupun penggantian produk impor. Ini melibatkan tiga kelompok besar, yakni Oleo Pangan, Oleokimia, dan Biofuel. Oleokimia, dalam konteks ini, merujuk pada industri yang menghasilkan produk antara berbasis oleokimia dari minyak sawit, seperti surfaktan, sabun, deterjen, shampo, biolubricant, biomaterial, dan bioplastik.
Workshop ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang produk oleokimia berbasis minyak sawit yang berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia, teknologi terkait, pasar produk oleokimia berbasis sawit di dalam dan luar negeri, serta peluang dan tantangan dalam pengembangan industri oleokimia sawit di Indonesia.
“Kegiatan ini diharapkan memberikan wawasan kepada masyarakat dan industri minyak sawit terkait pengembangan produk turunan minyak sawit, khususnya oleokimia,” imbuhnya.
Peneliti BRIN, Indra Budi Susetyo menambahkan, komoditas kelapa sawit termasuk dalam 10 kelompok komoditas unggulan Indonesia yang didorong oleh pemerintah untuk digiatkan proses hilirisasi dan peningkatan daya saingnya.
“Hilirisasi industri kelapa sawit terutama untuk industri berorientasi ekspor diperlukan, mengingat pertumbuhan impor tahun 2019 sebesar 7,1 persen yang masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor yang sebesar 6,3 persen," tuturnya.
Jadi, sebut Indra, lewat upaya hilirisasi industri kelapa sawit, diharapkan dapat meningkatkan perolehan devisa dari kelapa sawit dan nilai tambah produk kelapa sawit dapat dinikmati semua stakeholder di Indonesia.
Cerita Hilirisasi dan Tantangan Sawit di Workshop SBRC IPB university
Diskusi pembaca untuk berita ini