RI Proyeksikan Ekspor Produk Oleokimia Senilai US$ 54 Miliar 2030
Bandung, katakabar.com - Republik Indonesia proyeksikan ekspor produk Oleokimia capai US$ 54 miliar pada 2030 mendatang. Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) berharap dengan peningkatan ini dapat didorong perkembangan hilirisasi industri sawit nasional Menurut Sekretaris Jenderal APOLIN, Rapolo Hutabarat dilansir dari laman website resmi BPDPKS, pada Sabtu (10/2), peningkatan nilai ekspor oleokimia ini didorong permintaan yang beragam dari industri kosmetik, makanan-minuman, hingga farmasi. Perkiraan nilai pasar oleokimia pada tahun 2030 bisa mencapai USD5,4 miliar, ujar Rapolo, dengan pertumbuhan sekitar 6 persen per tahun. Tapi, kata Rapolo, nilai ekspor oleokimia pada tahun sebelumnya mengalami penurunan disebabkan anjloknya nilai komoditas dunia sebesar USD3,5 miliar, dengan volume diperkirakan mencapai 4,2 juta ton. "Untuk itu, pasar ekspor oleokimia terbesar ke kawasan Asia Pasifik, dengan nilai mencapai USD16 miliar, dan sisanya menuju Uni Eropa dan Amerika," jelasnya saat menjadi pembicara di workshop Jurnalis Industri Hilir Sawit di Bandung, di awal Februari 2024 lalu. Produk utamanya, ucap Rapolo, mesti melibatkan fatty acid, fatty alcohol, dan lainnya. Makanya Indonesia harus mengeksplorasi pasar di Afrika, mengingat populasi yang besar walau GDP yang masih rendah Beberapa tantangan yang dihadapi industri hilir sawit Indonesia, ulasnya, termasuk kurangnya perhatian terhadap beberapa produk seperti tokoferol dan betakaroten. Meskipun pangsa pasar keduanya cukup besar, masing-masing sekitar USD1,3 miliar dan USD4,7 miliar. Saat ini, terang Rapolo, belum ada produsen oleokimia di Indonesia yang memproduksi keduanya. "Jadi, Indonesia seharusnya memanfaatkan sumber daya alamnya untuk mengisi kekosongan ini, khususnya dengan melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor farmasi," sebutnya.