Palu, katalabar.com - Di weekend sehari sebelum upacara bendera memperingati Hari Pahlawan tahun 2024, di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako (Untad) dibongkar mitos dan fakta tentang kelapa sawit.

Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) yang menggelar bedah buku dan diseminasi buku di Kota Palu, Sulteng, sebagai upaya melanjutkan kampanye positif kelapa sawit

Kegiatan bedah buku dan diseminasi ini terlaksana berkat kerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako (Untad) dan didukung penuh oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Bedah buku dan diseminasi buku untuk membahas mitos dan fakta sawit ini berlangsung di gedung serbaguna Pascasarjana Universitas Tadulako. Hadir Direktur Eksekutif PASPI INSTITUTE, Dr Tungkot Sipayung dan beberapa dosen Universitas Tadulako sebagai pembahas.

Sedang, Wakil Dekan Bagian Kemahasiswaan dan Alumni FEN Untad, Chaerul Anam yang membahas isu ekonomi, Rostiati dari Fakultas Pertanian yang membahas isu sosial, lingkungan serta tata kelola dan kebijakan, serta Linda Ayu Rizka Putri dosen prodi Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat yang membahas sawit dalam isu Gizi dan Kesehatan.

Wakil Dekan Bagian Kemahasiswaan Untad, Chaerul Anam mengatakan, acara seperti itu sangat membantu mahasiswa dalam membentuk pemikiran yang kritis.

"Terutama topik yang diusung kali ini sangat sesuai dengan kondisi selera konsumen sekarang," jelasnya melalui keterangan resmi FEB Untad dilansir dari laman EMG, Senin (11/11).

Kata Anam, produksi sawit sangat membantu perekonomian Indonesia. Selain sumber devisa, industri sawit mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, menggerakkan sektor ekonomi di kawasan pedesaan, menyerap tenaga kerja, serta dengan biodesel sawit dapat menurunkan defisit neraca migas,

Di sesi bedah buku, Tungkot Sipayung penulis buku menjabarkan mengenai sinopsis buku tersebut melihat dari sejarah Indonesia menjadi negara pengekspor terbesar di dunia baik dari hasil karet, pertanian, maupun gula. 

Tapi beberapa tahun terakhir ini, ujar Tungkot, Indonesia mengalami penurunan ekspor bahkan menjadi menjadi pengimpor terbesar beberapa komoditas di dunia. 

"Sawit tidak demikian. Untuk ekspor sawit, Indonesia mengalami peningkatan yang cukup pesat dan berhasil menjadi produset sawit terbesar di dunia. Bahkan mengalahkan Amerika Serikat yang juga memproduksi minyak nabati di dunia," terangnya.

Dalam pada itu, Rostiati memaparkan isu lingkungan dan menjelaskan mengenai tanaman sawit sebagai tanaman monokultura.

"Walaupun memiliki kekurangan, tanaman sawit memiliki kelebihan dibandingkan dengan tanaman lainnya," ucapnya.

Sementara, Linda Ayu soroti isu kesehatan yang sering dikaitkan dengan sawit. "Minyak sawit bukan penyebab penyakit cardiovascular ataupun penyakit lainnya. Tapi penggunaannya yang berulang kali membuat kandungan di dalamnya menjadi berkurang yang mana dapat menyebabkan oksidasi," ulasnya.

Ia membantah mitos sawit adalah penyebab kolestrol. "Karena kolestrol itu tidak didapatkan dari sumber nabati," ucapnya.

Selain bedah buku ini, PASPI gelar lomba video konten creator yang mengedukasi tentang sawit di Indonesia. Pemenangnya langsung diumumkan pada acara tersebut.

Ke depan, PASPI dan BPDPKS terus meningkatkan level kegiatan serupa dan akan terus melakukan kerja sama dengan lembaga penelitian dan universitas untuk memperkenalkan sawit kepada masyarakat.