Pasir Pengaraian, katakabar.com - Digelapkan oknum-oknum pengurus Badan Usaha Milik Desa atau BumDes, puluhan nasabah notabene warga penabung di BumDes Primadona, Desa Bono Tapung, Kecamatan Tandun, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau, tuntut uang mereka dikembalikan.
Mereka menjadi korban penggelapan uang simpan pinjam hingga ratusan juta per satu keluarga. Jika ditotal uang warga tersebut mencapai Rp2,3 miliar dari 33 orang warga.
Belasan warga Desa Bono Tapung bercerita bagaimana mereka mengalami perbuatan tindak penipuan yang dilakukan pengurus BumDes Primadona.
Menurut beberapa warga, pengurus BumDes Primadona tidak pernah memberikan penjelasan soal kondisi keuangan warga yang sebenarnya. Bahkan, beberapa tahun belakangan pengelolaan dan keadaan keuangan BumDes Primadona kacau balau, dan semrawut.
"Pengurus BumDes Primadona ditanya soal uang warga, Direktur BumDes, dan pengurus lainnya pasti menghindar. Kami mau tarik uang dari BumDes tidak pernah bisa, padahal warga tidak banyak yang minjam di sana. Usaha BumDes tidak ada bahkan usaha ternak ayam yang mereka klaim itu tidak benar, menurut kami itu fiktif. Soalnya, tidak terlihat ada usaha BumDes Primadona soal ternak ayam maupun warga yang meminjam dana disana," kata Arifin salah satu penabung di BumDes Primadona kepada katakabar.com, Jum'at (3/1).
Herannya, tanya Arifin, kemana uang warga itu ? siapa yang bermain! Ini yang menjadi tanda tanya besar kami puluhan warga. Kasihan masyarakat ditipu begini, sebagian warga menabung di sana buat biaya mereka umroh, tabungan biaya anak mereka sekolah tapi pengurus BumDes Primadona malah tega-teganya gelapkan uang puluhan warga itu.
"Saya punya tabungan di sana, uang saya gak bisa ditarik. Kata pengurus Bumdes uang tidak ada," ujarnya.
Nasabah lainnya, Sodiah 49 tahun utarakan kekecewaannya kepada pengurus BumDes Primadona. Termasuk Direktur Bumdes Ratok Sudarto yang tidak mau bertanggungjawab dan terkesan menghindar dari tuntutan warga.
Dari pengakuan Sodiah dan Arifin, hampir seluruh pengurus BumDes Primadona terlihat bermewah-mewah. Bahkan aset mereka dimana-mana dan sebagian pengurus BumDes Primadona bakal pindah diduga menghindari tekanan warga.
"Apa yang diceritakan Arifin tadi benar adanya, saya sendiri menabung dari tahun 2006-2024 di mana tabungan saya Rp120 juta. Saya dan beberapa warga lainnya hendak menarik uang, uang BumDes tidak pernah ada. Dari situ kami sudah mulai curiga. Anehnya lagi, ada sebagian warga tidak pernah menarik uangnya malah tabungan mereka berkurang. Bagaimana mungkin bisa uang itu berkurang kalau tidak dilakukan oleh pengurus itu sendiri," ulas Sodiah sedih sudah tertipu pengurus BumDes Primadona.
Atas dasar itu, puluhan warga Desa Bono Tapung segera melaporkan hal tersebut kepada pihak aparat penegak hukum. Termasuk mereka segera menuntut dan berdemo jika uang mereka tidak dikembalikan BumDes Primadona itu. Mereka sangat menyayangkan tidak adanya keberpihakan Irianto selaku Kepala Desa Bono Tapung. Wajar mereka menduga Irianto turut melindungi hal tersebut.
"Jika uang kami tidak dikembalikan, maka kami segera melaporkan hal ini, dan kami minta aparat penegak hukum baik itu pihak kepolisian dan kejaksaan segera memeriksa Kepala Desa, Irianto dan Direktur BumDes beserta kroninya.
"Kalau tidak kami buat aksi yang cukup besar agar hak kami segera dikembalikan," tegas Arifin yang diamini seluruh warga yang menjadi korban penipuan pengurus BumDes Primadona Desa Bono Tapung.
Berikut rincian beberapa warga selaku nasabah Bumdes Primadona desa Bono Tapung:
1. Nur Husnul Saidah (55) jumlah tabungan Rp.50 juta
2. Ari Ashari atas nama (Nursinah) tanam saham sebesar Rp.56 juta
3. Sodiah (49) jumlah tabungan Rp.120 juta
4. Titin Susanti (40) jumlah tabungan Rp.13 juta
5. Suryati (55) jumlah tabungan Rp.12 juta
6. Sinta lestari jumlah tabungan Rp.54 juta
7. Asipa jumlah tabungan Rp.20 juta
Dan masih banyak warga yang menjadi korban penggelapan uang simpan pinjam pengurus BumDes Primadona Desa Bono Tapung yang belum terungkap.
Digelapkan Oknum BumDes Primadona Puluhan Nasabah Tuntut Kembalikan Uang Rp2,3 Miliar
Diskusi pembaca untuk berita ini