Jakarta, katakabar.com - Jangankan produk utama Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit, limbah sawit dapat hasilkan gas metana dapat diubah menjadi sumber energi terbarukan.

Lantaran itu pula industri kelapa sawit industri untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi saat ini dan masa datang. Apalagi industri ini nihil limbah (zero waste) dari 'emas hijau' nama lain dari kelapa sawit tumbuh subur di nusantara menjadikannya satu-satunya sumber daya alam terbarukan paling ramah lingkungan dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dunia kian meningkat.

Menurut Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), M Hadi Sugeng saat membuka Seminar Nasional Percepatan Peningkatan Pemanfaatan Gas Metana di Pabrik Kelapa Sawit Sebagai Sumber Listrik, Bio-CNG dan Hidrogen di Jakarta, di penghujung Januari 2024 lalu, jangankan produk utama dari kelapa sawit limbah sawit bisa hasilkan gas metana dapat diubah jadi sumber energi terbarukan.

Selain menghasilkan produktivitas yang sangat tinggi, ujar Hadi, dengan penggunaan lahan paling efisien dibanding minyak nabati lainnya, kelapa sawit minyak nabati paling serbaguna. 

"Limbah kelapa sawit (janjang kosong, limbah padat dan cair) dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, energi, partikel board, pupuk, pakan ternak dan lain-lain," jelasnya, dilansir pada Sabtu (3/2).

Kendalanya, ulas Hadi, proses bisnis dari industri emas hijau ini mempunyai beberapa tantangannya tersendiri, yakni aspek lingkungan, salah satunya upaya pengurangan emisi gas rumah kaca dalam bentuk pemanfaatan gas metana.

Tanaman kelapa sawit menghasilkan biomasa, seperti pelepah, tandan kosong, fiber, cangkang. Di mana proses produksi CPO (Crude Palm Oil) sebagian kecil biomasa ini terbawa dalam limbah cair dan harus dibusukkan agar limbah cair memenuhi syarat Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biochemical Oxygen Demand (BOD) untuk dapat dilepaskan ke badan air atau dimanfaatkan sebagai pupuk. Proses pembusukan ini menghasilkan gas metana salah satu penyumbang global warming dengan potensi 27,9 kali dari emisi CO2. 

“Dengan teknologi Methane Capture, gas metana dapat diubah menjadi energi yang dapat memangkas biaya produksi minyak kelapa sawit dan dapat mentransformasi menjadi energy yang digunakan sebagai pengganti bahan bakar ke tungku boiler atau diproses serta dimanfaatkan sebagai bahan bakar gas engine penggerak genset (listrik) hingga sebagai pengganti LPG atau Liquified Petroleum Gas," bebernya.

Dilihat dari aspek ekonomi, Project Management Section Head PT Dharma Satya Nusantara Tbk, Setyoardi Purwanto menyatakan, pemanfaataan energi terbarukan berbasis Palm Oil Mill Effluent (POME) ke depan bisa memberikan nilai ekonomi yang besar karena dapat mengganti listrik PLN yang berbahan bakar diesel, genset, solar dan LPG untuk digunakan di pusat perbelanjaan dan juga hotel.

Tidak cuma memberikan dampak positif dalam segi ekonomi, pemanfaatan POME  sejalan dengan agenda pemerintah Indonesia dalam memenuhi komitmen Net Zero Emission (NZE) 2060 dan perjanjian Paris Agreement sebagai upaya global untuk mengatasi perubahan iklim dunia. Sinergi yang baik antara pemerintah dengan sektor swasta menjadi kunci dalam tercapai target-target yang sudah ditetapkan. 

“Sejauh ini industri batubara masih mendominasi pangsa pemanfaatan energi nasional, sedangkan pemanfaatan EBT (energi baru terbarukan) masih rendah. Kolaborasi dan kerja sama untuk pemanfaatan energi yang berkelanjutan diperlukan untuk memenuhi target komitmen Indonesia dalam mencapai target NZE 2060,” terang Direktur Bio Energi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Edi Wibowo.

Pengamat Lingkungan, Petrus Gunarso aminkan Wibowo. Tapi, sebut Petrus, perlu dilakukan koordinasi antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), khususnya yang menangani sampah dan limbah dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baik EBTKE (Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi) maupun MIGAS (Minyak dan Gas Bumi) untuk implementas pencapaian target Nationally Determined Contributions (NDC) sektor energi.

Selain manfaatnya bagi lingkungan, industri kelapa sawit Indonesia dikenal sebagai penyumbang devisa terbesar di luar sektor tambang. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa produk turunan sawit telah diekspor ke 160 negara dan kontribusi devisa sebanyak Rp600 triliun di tahun 2022 lalu.