Intelijen AS Tuding Rusia Bayar Taliban untuk Bunuh Tentara Amerika

Katakabar.com - Badan intelijen Amerika Serikat menyimpulkan militer Rusia menawarkan hadiah uang ke sekelompok milisi yang terkait dengan Taliban di Afghanistan jika mereka berhasil membunuh pasukan AS dan tentara dari negara koalisi lainnya, demikian temuan dari harian the New York Times, Jumat (26/6).

Dari keterangan seorang pejabat terkait, New York Times menulis, AS sejak bulan lalu yakin salah satu unit dari intelijen militer Rusia menawarkan hadiah uang setelah beberapa serangan berhasil dilakukan. Unit itu juga diyakini terkait dengan percobaan pembunuhan di Eropa.

Beberapa organisasi bersenjata yang terkait erat dengan unit intelijen itu diduga telah menerima uang hadiah tersebut, demikian dilaporkan New York Times.

Gedung Putih, Badan Intelijen AS (CIA) dan Direktorat Intelijen Nasional menolak menanggapi temuan New York Times itu, demikian dikutip Antara, Sabtu (27/6).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menerima informasi mengenai temuan intelijen tersebut, tulis the New York Times. Pihak New York Times menyampaikan Gedung Putih belum menentukan sikap terhadap tawaran hadiah uang untuk milisi dari intelijen Rusia itu.

Setidaknya, 20 warga AS tewas terbunuh dalam pertempuran pada 2019, kata New York Times. Sejauh ini belum jelas kasus kematian mana yang dicurigai terkait dengan skandal tersebut.

Setelah hampir selama 20 tahun berperang melawan Taliban, AS mencari cara keluar dari Afghanistan dengan mendorong adanya perundingan damai antara Pemerintah Afghanistan dengan kelompok garis keras yang menguasai sejumlah wilayah negara.

AS dan Taliban pada 29 Februari menyepakati perjanjian yang salah satunya mewajibkan AS menarik pasukannya secara bertahap dari Afghanistan.

Personel militer AS di Afghanistan kini sudah berkurang hingga nyaris mencapai angka 8.600 prajurit. Penarikan mundur itu dilakukan lebih awal dari jadwal yang telah disepakati dengan Taliban. Salah satu alasannya, AS dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) khawatir pasukan mereka tertular Covid-19.

Merdeka.com

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait