Bogor, katakabar.com - Institut Pertanian Bogor (IPB) University hadirkan inovasi 'Rumah Sawit' untuk meningkatkan kehidupan sosial petani dan masyarakat sekitar perkebunan kelapa sawit, khususnya perempuan dan anak dengan memberikan advokasi, pendidikan dan pelatihan buat mereka.
Ketua tim peneliti Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) LPPM-IPB, Dr Anna Fatchiya, di Kota Bogor, dilansir dari laman ANTARA, pada Selasa (3/10) menuturkan, inovasi kelembagaan diharapkan dapat menjadi wadah bagi masyarakat di sekitar perkebunan sawit, khususnya proses pemberdayaan masyarakat, pemenuhan hak perempuan dan anak.
“Rumah Sawit tempat layanan terpadu bagi masyarakat sebagai media advokasi, pelatihan, pendidikan, dan kesehatan perempuan dan anak," jelasnya.
Menurut Anna sapaan akrab Ketua tim peneliti Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) LPPM-IPB ini, latar belakang riset aksi sosial dilakukan terkait adanya isu pembangunan di sektor perkebunan sawit telah meninggalkan kelompok perempuan dan anak, yakni dengan tidak terpenuhinya hak-hak mereka di sektor kesehatan, pendidikan, dan ekonomi atau pekerjaan.
Di satu sisi, perempuan punya peran penting sebagai pintu masuk pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs).
Tim peneliti PKGA IPB University, meliputi Dr Anna Fatchiya, Ir Fredian Tonny Nasdian, MS, Ir Julio Adosantoso, MS; Mahmudi Siwi, SP, MSi, Asri Sulistiawati, SKPm, MSi, dan Kunandar Prasetyo, SP MSi.
Penelitian ini dilakukan dengan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
"Rumah Sawit sebagai pusat layanan terpadu telah dilaksanakan di Desa Sidorejo Lampung, Desa Timbang Lawan Sumatera Utara, dan Desa Belawan Mulia Kalimantan Tengah," ujarnya.
Penerapan model Rumah Sawit di tiga tempat, kata Dr Anna, terbukti memberikan dampak positif. Jadi, model ini dapat dikembangkan di desa-desa lain.
"Kegiatan warga desa pascariset terus berkembang. Terbukti dari bertambahnya aktivitas, yakni kegiatan bakti sosial, arisan, dan simpan pinjam," terangnya.
Hingga Maret 2023, sambungnya, nilai dana simpan pinjam mencapai Rp16,8 juta dan dana tabungan Rp7,5 juta. Tidak hanya itu, muncul inisiasi dana sosial yang dikumpulkan secara sukarela setiap kali pertemuan.
Minat perempuan untuk menjadi anggota kelompok meningkat pesat, sehingga direncanakan penambahan jumlah kelompok.
Selain inovasi kelembagaan, ucapnya, inovasi tersedia dalam bentuk aplikasi, Rumah Sawit App namanya. Perangkat ini dapat digunakan masyarakat luas berupa layanan informasi dan konsultasi.
Aplikasi ini berisi berita dan informasi terkini tentang sawit di Indonesia, layanan konsultasi pakar IPB University dan pelayanan lapor kejadian kekerasan dan pelanggaran hak pada perempuan dan anak.
Fitur pelaporan kekerasan pada anak dan perempuan dapat digunakan oleh khalayak umum di luar perkebunan sawit.
Fitur ini bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) setempat.
“Aplikasi Rumah Sawit dikembangkan berbasis web dan android. Ini agar aplikasi bisa diakses dengan smartphone oleh masyarakat banyak,” bebernya.
Aplikasi Rumah Sawit dapat dimanfaatkan untuk kalangan di luar perkebunan kelapa sawit. Misalnya, untuk konsultasi pertanian pangan dan hortikultura, perikanan, peternakan dan kehutanan dari para pakar IPB University, tambahnya.
IPB Hadirkan Inovasi Rumah Sawit Tingkatkan Kehidupan Sosial Petani
Diskusi pembaca untuk berita ini