Jakarta, katakabar.com - Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menilai penurunan permintaan minyak sawit dari India beberapa waktu belakangan ini dipicu perbedaan arah kebijakan dagang antara kedua negara.
Direktur Eksekutif GIMNI, Sahat Sinaga, menjelaskan India saat ini menerapkan bea masuk rendah untuk crude palm oil (CPO), tetapi lebih tinggi untuk produk turunannya seperti refined, bleached, and deodorized (RBD) olein.
Sebaliknya, Indonesia justru mendorong hilirisasi industri sawit, dengan mengenakan bea keluar dan pungutan ekspor tinggi pada CPO, serta lebih rendah untuk produk olahan.
“Dengan situasi ini, India cenderung lebih banyak mengimpor CPO sebagai bahan baku dari negara lain agar industri pengolahannya tetap berjalan,” kata Sahat, dilansir dari laman Kontan.co.id, Selasa (7/10).
Kondisi tersebut, ujar Sahat, berdampak langsung pada kinerja ekspor produk hilir sawit Indonesia, yang kini kehilangan sebagian pangsa pasar strategis di India.
Tetapi, kata Sahat, dampaknya belum signifikan, mengingat negara produsen CPO lain memiliki keterbatasan produksi.
Di sisi lain, India dengan populasi hampir dua miliar orang tetap membutuhkan pasokan minyak nabati dalam volume besar.
“Jadi ada juga mereka Impor produk hilir sawit Indonesia,” terangnya.
Selain faktor kebijakan, Sahat menambahkan selisih harga antara minyak sawit dan minyak kedelai (soyoil) turut memengaruhi pola impor India.
Saat ini, harga CPO di pasar Rotterdam mencapai sekitar US$ 1.345 per ton, sedang soyoil tercatat US$ 1.043 per ton.
“Ini situasi yang tidak biasa, sebab biasanya harga CPO justru lebih rendah sekitar US$ 50–120 per ton dibandingkan soyoil,” bebernya.
Ia menilai pemerintah Indonesia perlu menyesuaikan strategi penetapan harga ekspor agar tidak terbawa oleh dinamika harga global yang justru dapat merugikan pelaku industri domestik.
“Indonesia seharusnya tidak mengikuti harga CPO di Rotterdam, karena seluruh biaya produksi CPO di dalam negeri menggunakan rupiah, bukan dolar AS. Jadi, harga CPO Indonesia sebaiknya tetap dijaga di bawah harga soyoil, bukan malah ikut larut dalam permainan harga minyak nabati global,” imbuhnya.
Diketahui, berdasarkan data The Hindu Business Line, impor minyak sawit India pada September 2025 turun 15,9 persen secara bulanan menjadi sekitar 833.000 ton metrik, merupakan level terendah dari Mei 2025.
Ketika Arah Dagang Antara Dua Negara Berbeda Picu Impor Sawit India Menukik
Diskusi pembaca untuk berita ini