Kedutaan Besar India Dorong Impor Urea dari Indonesia Perkuat Ketahanan Pangan Internasional
Internasional
Minggu, 19 April 2026 | 12:16 WIB

Kedutaan Besar India Dorong Impor Urea dari Indonesia Perkuat Ketahanan Pangan

Jakarta, katakabar.com - Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty bertemu dengan Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono di Jakarta, Kamis (16/4) lalu. Pertemuan tersebut dilakukan demi mendorong kerja sama impor pupuk urea dari Indonesia guna mengamankan pasokan pupuk bagi musim tanam India mendatang melalui skema antar pemerintah di tengah dinamika global rantai pasok pertanian. Langkah ini menegaskan pendekatan aktif India dalam memperluas sumber pasokan pupuk strategis, sekaligus mencerminkan meningkatnya peran Indonesia sebagai mitra potensial dalam menjaga stabilitas pangan kawasan dan global. Dorongan dari pihak Kedutaan India juga memperlihatkan bahwa isu pupuk kini tidak lagi sekadar persoalan teknis pertanian, tetapi telah menjadi bagian dari diplomasi ekonomi dan ketahanan nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, fluktuasi harga energi global, gangguan rantai pasok, hingga dinamika geopolitik telah mempengaruhi ketersediaan pupuk di berbagai negara, termasuk India yang memiliki kebutuhan sangat besar untuk menopang sektor pertaniannya. Kerja sama ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan sektor pertanian nasional. Fokus pembahasan tidak hanya terbatas pada perdagangan pupuk, tetapi juga mencakup isu yang lebih luas seperti ketahanan pangan dan ketersediaan sarana produksi. “Diskusi yang komprehensif dan produktif bersama Pak Sudaryono mengenai kerja sama pertanian bilateral termasuk ketahanan pangan dan ketersediaan input (sarana produksi),” ujar Dubes Sandeep. Ia menegaskan India melihat Indonesia sebagai mitra yang kredibel dalam menjawab kebutuhan pupuk, khususnya urea, yang menjadi komponen penting dalam mendukung produktivitas pertanian. “Pak Sudaryono telah menyampaikan dengan sangat jelas bahwa ekspor hanya akan dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Jika terdapat surplus, maka kami akan sangat senang untuk membelinya dari Indonesia melalui skema kerja sama antar pemerintah,” jelasnya. Pernyataan ini sekaligus menunjukkan India tidak hanya mencari pemasok, tetapi juga mengedepankan model kerja sama yang stabil, terukur, dan berbasis kesepahaman antar pemerintah. Skema seperti ini dinilai penting untuk meminimalkan risiko volatilitas pasar global yang sering kali berdampak pada harga dan ketersediaan pupuk. Indonesia Buka Peluang Tetap Prioritaskan Domestik Di sisi lain, pemerintah Indonesia menyambut positif minat tersebut, dengan tetap menegaskan prinsip kehati-hatian dalam kebijakan ekspor. Sudaryono menyampaikan bahwa pembahasan ini juga menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk berkontribusi tanpa mengorbankan kebutuhan nasional. “Hari ini kami mendiskusikan salah satu topik utamanya adalah bagaimana India itu kemudian bisa mengamankan kebutuhan pasokan ureanya yang salah satu sumbernya adalah berasal dari Indonesia,” kata Sudaryono. Indonesia saat ini memiliki potensi surplus produksi urea sekitar 1,5 juta ton. Tetapi, ekspor hanya akan dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi secara optimal guna menjaga stabilitas produksi pertanian dan ketahanan pangan nasional. Pendekatan ini mencerminkan strategi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara peluang ekonomi dari ekspor dan tanggung jawab menjaga pasokan domestik. Pada konteks ini, pupuk menjadi komoditas strategis yang tidak bisa diperlakukan semata-mata sebagai barang dagangan biasa. Kerja sama ini juga diperkuat oleh faktor teknis yang menguntungkan kedua negara, yakni perbedaan siklus musim tanam. India memasuki periode tanam utama pada Juli hingga September, sementara Indonesia berada dalam fase aktivitas yang relatif lebih rendah. Perbedaan ini memberikan fleksibilitas dalam pengaturan distribusi pupuk, sehingga Indonesia dapat mengalokasikan sebagian produksinya untuk ekspor tanpa mengganggu kebutuhan petani dalam negeri. Hal ini menjadi salah satu alasan utama mengapa kerja sama ini dinilai realistis untuk direalisasikan dalam waktu dekat. Selain itu, momentum ini juga memperlihatkan bagaimana koordinasi lintas negara dalam sektor pertanian dapat menghasilkan solusi yang saling menguntungkan, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Industri Pupuk Nasional Siap Tetapi Selektif Kesiapan Indonesia turut didukung oleh kapasitas produksi yang kuat. Direktur Utama Pupuk Indonesia Holding Company, Rahmad Pribadi, menegaskan ekspor akan tetap dilakukan secara terukur dan mengikuti siklus pertanian nasional. “Kita ekspor ketika kebutuhan dalam negeri mencukupi. Kalau hitungan total nasional kan ada ekses tapi kita tahu ada musim tanam dan musim di luar tanam. Kita tidak mungkin ekspor saat musim tanam,” ulas Rahmad. Ia memastikan stok pupuk nasional berada dalam kondisi aman. “Saat ini (stok pupuk) 1,2 juta ton, ditambah produksi harian sekitar 25.000 ton urea dan 15.000 ton NPK. Jadi sangat cukup,” imbuhnya. Dengan kapasitas produksi yang mencapai puluhan juta ton per tahun, Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk memainkan peran lebih besar di pasar global. Tetapi, kehati-hatian tetap menjadi prinsip utama agar tidak terjadi gangguan pada distribusi dalam negeri. Diplomasi Pertanian dan Peran Global Indonesia Dorongan dari Kedutaan India ini mencerminkan penguatan diplomasi berbasis pangan di tengah tekanan global terhadap rantai pasok pupuk. Kebutuhan pupuk yang tinggi, ditambah dengan ketidakpastian pasokan global, membuat negara-negara mulai mencari mitra yang stabil dan dapat diandalkan. Bagi India, Indonesia menawarkan kombinasi antara kapasitas produksi, kedekatan geografis, dan hubungan bilateral yang kuat. Sedang, bagi Indonesia, kerja sama ini membuka peluang untuk memperluas pengaruhnya dalam isu ketahanan pangan global. Lebih jauh, langkah ini juga memperlihatkan transformasi peran Indonesia dari sekadar produsen domestik menjadi aktor strategis dalam ekosistem pangan dunia. Dengan pengelolaan yang tepat, kerja sama seperti ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi internasional berbasis sektor riil.

Menakar Masa Depan Baja Nasional: Level Playing Field dan Data Objektif Kunci Hadapi Dominasi Impor Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:05 WIB

Menakar Masa Depan Baja Nasional: Level Playing Field dan Data Objektif Kunci Hadapi Dominasi Impor

Jakarta, katakabar.com - Perdagangan baja global memasuki fase baru yang semakin ditentukan oleh kebijakan negara melalui tarif, kuota impor, hingga instrumen pengamanan perdagangan. Kondisi ini menuntut penguatan kebijakan perdagangan nasional agar industri baja domestik tetap kompetitif di tengah tekanan global yang meningkat. Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Dr. Akbar Djohan, menegaskan pentingnya konsistensi kebijakan perdagangan untuk menjaga keberlanjutan industri baja nasional. “Perdagangan baja global saat ini semakin ditentukan oleh kebijakan negara. Karena itu, penguatan instrumen pengamanan perdagangan dan konsistensi kebijakan impor menjadi penting agar industri baja nasional dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Dr. Akbar Djohan, sebagai Chairman Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA). Pasar Baja Global Semakin Tertutup Pengamat Industri Baja dan Pertambangan Widodo Setiadharmaji, Steel & Mining Insights menilai bahwa lanskap perdagangan baja global kini semakin bergeser dari mekanisme pasar terbuka menuju sistem yang dikendalikan oleh kebijakan negara. Berbagai negara mulai mengombinasikan instrumen tarif, Tariff Rate Quota (TRQ), serta kebijakan pengamanan perdagangan untuk membatasi akses pasar baja impor. Selain tarif dan kuota, instrumen anti-dumping dan countervailing duties juga semakin sering digunakan untuk mengendalikan tekanan kelebihan kapasitas produksi global. Di sisi lain, Uni Eropa memperkenalkan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang menambah beban biaya bagi impor baja melalui mekanisme sertifikat karbon. Menurut Widodo, kombinasi kebijakan tersebut membuat pasar-pasar utama dunia semakin tertutup secara simultan. Akibatnya, kelebihan pasokan global cenderung mencari pasar alternatif yang relatif lebih terbuka. Risiko Tekanan Impor di Pasar Domestik Dalam situasi tersebut, Indonesia berpotensi menjadi tujuan realokasi perdagangan baja global. Ketika akses pasar di Amerika Utara dan Eropa semakin ketat, produk baja dari negara produsen besar dapat mengalir ke pasar yang lebih terbuka, termasuk Asia Tenggara. Tekanan tersebut tidak selalu muncul dalam bentuk lonjakan impor yang mendadak, tetapi dapat terjadi melalui tekanan harga yang persisten dan persaingan pasar yang semakin ketat di dalam negeri. Adapun upaya penguatan industri baja nasional sejalan dengan agenda pembangunan ekonomi nasional dan Asta Cita Presiden RI, Prabowo Subianto, khususnya dalam mendorong kemandirian industri strategis dan memperkuat daya saing sektor manufaktur.

Meski RI Dikenai Tarif 19 Persen AS, Tarif impor Baja Merah Putih ke 'Negeri Paman Sam' Tembus 50 Persen Pendidikan
Pendidikan
Kamis, 14 Agustus 2025 | 18:54 WIB

Meski RI Dikenai Tarif 19 Persen AS, Tarif impor Baja Merah Putih ke 'Negeri Paman Sam' Tembus 50 Persen

Jakarta, katakabar com - Harapan pelaku industri baja Indonesia untuk menikmati tarif masuk preferensial 19 persen ke pasar Amerika Serikat atau AS harus terkubur dalam-dalam. Kenyataannya, produk baja nasional justru dihadapkan pada tarif lebih dari 50 persen disebabkan kebijakan proteksionis Washington. Kondisi ini tidak hanya membatasi akses ekspor, tetapi juga memicu ancaman serius bagi pasar domestik. Kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat yang diumumkan pada 22 Juli 2025 lalu, yang seolah menjanjikan tarif 19 persen melalui Executive Order atau EO 14257, ternyata tidak berlaku untuk sektor baja. Dokumen kebijakan tersebut secara eksplisit mengecualikan produk baja dan aluminium, yang tetap tunduk pada rezim tarif khusus Section 232. Menurut ketentuan Section 232, seluruh produk baja Indonesia tanpa terkecuali dikenai tarif dasar sebesar 50 persen. "Ini adalah realita yang harus kita hadapi. Angka 19% itu tidak berlaku untuk baja," kata Widodo Setiadharmaji, pemerhati industri baja dan pertambangan, lewat rilis resmi diterima katakabar.com, Rabu siang. Beban biaya itu, tekan Widodo Setiadharmaji, bahkan menjadi lebih besar untuk produk-produk strategis. Misalkan, untuk baja canai panas atau HRC, pelat, baja tulangan, dan PC Strand, tarif efektifnya bisa meroket hingga 108 persen hingga 122 persen. Angka fantastis ini akumulasi dari tarif dasar 50 persen ditambah dengan bea antidumping (AD) dan bea imbalan (CVD) yang mencapai 58 persen hingga 72 persen. Meski begitu, tutur Widodo Setiadharmaji, secercah peluang tetap ada. Produk baja lapis (coated steel), stainless steel, dan alloy tertentu yang tidak dikenai trade remedies tambahan, tarifnya "hanya" berkisar 50 persen hingga 55 persen.

Pelindo Multi Terminal Tanjung Intan Layani Bongkar Muat 1.213 Ekor Sapi Perah Impor Nusantara
Nusantara
Kamis, 22 Mei 2025 | 16:02 WIB

Pelindo Multi Terminal Tanjung Intan Layani Bongkar Muat 1.213 Ekor Sapi Perah Impor

Cilacap, katakabar.com - PT Pelindo Multi Terminal atau SPMT, Subholding dari PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang bergerak di bidang terminal nonpetikemas, komitmenbdukung ketahanan pangan nasional. Melalui Branch Tanjung Intan, Pelindo Multi Terminal memastikan kesiapan penuh dalam melayani kegiatan bongkar muat 1.213 ekor sapi perah di Pelabuhan Tanjung Intan, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (15/5) lalu secara aman, efisien, dan sesuai standar operasional yang berlaku. Branch Manager Pelindo Multi Terminal Tanjung Intan, Miftah Fajrisal menegaskan, Pelindo Multi Terminal melalui Tanjung Intan berkomitmen untuk terus menghadirkan pelayanan bongkar muat yang andal, termasuk untuk komoditas khusus seperti ternak hidup yang memerlukan penanganan ekstra. "Pelabuhan Tanjung Intan telah menyiapkan fasilitas, infrastruktur, serta personel untuk menjamin keamanan dan keselamatan hewan selama proses bongkar muat. Seluruh kegiatan dilakukan dengan memperhatikan prinsip animal welfare dan standar Kesehatan hewan yang ketat," terangnya. Dari total ternak yang tiba, rincinya, total 1.013 ekor bagian dari skema joint shipment antara 62 perusahaan dan PT Global Dairy Alami atau GDA. Sedang, 200 ekor lainnya diimpor PT Lunar Chemplast. Seluruh sapi yang masuk berada dalam kondisi bunting dengan masa kehamilan antara dua hingga lima bulan. Sapi-sapi tersebut bakal didistribusikan ke berbagai koperasi peternak di Indonesia, seperti KAN Jabung (Malang), Koperasi Larasati (Kuningan), KPBS Pangalengan (Bandung), Chibugary (Jakarta Timur), serta kawasan Kunak (Bogor). Distribusi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor peternakan nasional melalui penyediaan bibit unggul dan peningkatan produktivitas susu dalam negeri.

Mantap! Port Academy Luncurkan Program Pelatihan Praktisi Ekspor Impor Nasional
Nasional
Minggu, 13 April 2025 | 16:36 WIB

Mantap! Port Academy Luncurkan Program Pelatihan Praktisi Ekspor Impor

Jakarta, katakabar.com - Sebagai upaya memperkuat daya saing pelaku usaha di pasar global, Port Academy secara resmi meluncurkan program Pelatihan Export Import. Program ini ditujukan untuk para profesional, pemilik bisnis, dan staf operasional yang terlibat langsung dalam aktivitas perdagangan internasional. Perdagangan lintas negara menuntut pemahaman menyeluruh terhadap regulasi, dokumen, dan proses pengiriman barang antarnegara. Lantaran itu, Port Academy menghadirkan Diklat Export Import sebagai solusi pelatihan yang aplikatif dan sesuai kebutuhan industri. Training Export Import ini sangat tepat diikuti oleh staf ekspor-impor, pengusaha UMKM, freight forwarder, hingga profesional logistik yang ingin meningkatkan efisiensi dan kepatuhan dalam aktivitas ekspor-impor. Pelatihan Export Import menyajikan materi yang komprehensif, meliputi proses ekspor-impor dari hulu ke hilir. Topik utama mencakup penyiapan dokumen (invoice, packing list, bill of lading), prosedur pengurusan perizinan, perhitungan bea masuk dan pajak, hingga pemahaman terhadap Incoterms dan strategi logistik global. Diklat Export Import membahas tantangan ekspor-impor di era digital dan solusi berbasis teknologi.

2024, Puluhan Peserta Sukses Belajar Ekspor Impor di Port Academy Nasional
Nasional
Kamis, 27 Februari 2025 | 21:20 WIB

2024, Puluhan Peserta Sukses Belajar Ekspor Impor di Port Academy

Jakarta, katakabar.com - Sepanjang tahun 2024, Port Academy berhasil gelar Diklat Export Import Management, yang diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai latar belakang. Program ini memberikan pemahaman mendalam tentang regulasi, prosedur, serta strategi ekspor-impor untuk meningkatkan daya saing di sektor perdagangan internasional. Peserta mendapatkan pelatihan tentang regulasi perdagangan, dokumentasi ekspor-impor, manajemen logistik, serta penerapan teknologi dalam perdagangan internasional. Dengan dukungan dari berbagai mitra industri, pelatihan ini tidak hanya berbasis teori tetapi juga mencakup praktik langsung di lapangan. Sepanjang tahun 2024, Port Academy sukses gelar Diklat Export Import Management, yang telah memberikan pemahaman mendalam kepada puluhan peserta mengenai prosedur, regulasi, dan strategi ekspor-impor. Program ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja di bidang perdagangan internasional, khususnya dalam menghadapi tantangan global di sektor logistik dan ekspor-impor. Di bawah kepemimpinan Wiratama, Port Academy terus berkomitmen untuk menyediakan pelatihan berbasis praktik dan studi kasus, sehingga peserta dapat langsung mengaplikasikan ilmu yang didapat dalam dunia kerja. Keberhasilan program ini menunjukkan bahwa semakin banyak tenaga kerja dan pelaku usaha yang menyadari pentingnya pemahaman yang komprehensif dalam pengelolaan ekspor dan impor. Di era globalisasi yang semakin berkembang, pemahaman mengenai proses ekspor-impor menjadi faktor kunci dalam menunjang pertumbuhan bisnis. Melalui Diklat Export Import Management, peserta memperoleh keterampilan dan wawasan mengenai: Regulasi dan Kebijakan Ekspor-Impor Peserta mendapatkan pemahaman mendalam tentang peraturan perdagangan internasional, kebijakan bea cukai, dan persyaratan dokumen ekspor-impor yang berlaku di Indonesia serta di pasar global. Prosedur dan Dokumentasi Ekspor-Impor Pelatihan ini membahas langkah-langkah praktis dalam melakukan ekspor-impor, termasuk persiapan dokumen penting seperti invoice, packing list, bill of lading, serta sertifikat asal barang.

Andai Penerapan B50 Lancar Indonesia Bisa Stop Impor Solar 2026 Sawit
Sawit
Sabtu, 04 Januari 2025 | 21:45 WIB

Andai Penerapan B50 Lancar Indonesia Bisa Stop Impor Solar 2026

Jakarta, katakabar.com - Pemerintah sudab tetapkan penerapan bahan bakar minyak atau BBM jenis solar dengan campuran bahan bakar nabati atau BBN biodiesel berbasis minyak sawit sebesar 40 persen atau B40 dimulai 1 Januari 2025. Ketetapan ini disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (3/1). "Kementerian ESDM baru selesai melakukan rapat internal bahas secara detail terkait urusan biodiesel. Kami telah memutuskan peningkatan biodiesel dari B35 ke B40 sudah berlaku mulai 1 Januari 2025," ujarnya melalui siaran pers, dilansir dari laman EMG, Sabtu (4/1). Langkah ini, menurutnya, sejalan dengan agenda Asta Cita Presiden RI, Prabowo Subianto terkait ketahanan dan swasembada energi, serta target pemerintah mencapai net zero emission di tahun 2060. Pemerintah bahkan menyiapkan rencana peningkatan lebih lanjut ke B50 pada 2026. "Kalau B40 ini berjalan baik, atas arahan Presiden RI, kita dorong implementasi B50 pada 2026. Kalau ini kita lakukan, maka impor kita terhadap solar, Insya Allah dipastikan sudah tidak ada lagi di tahun 2026. Jadi program (mandatori biodiesel) ini bagian dari pada perintah presiden tentang ketahanan energi dan mengurangi impor," terangnya. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi mengutarakan, program mandatori B40 dapat mengurangi impor BBM sehingga menghemat devisa sebesar Rp147,5 triliun. Sedangkan untuk B35 dapat menghemat Rp122,98 triliun. “Dengan demikian terjadi penghematan devisa sekitar Rp 25 triliun dengan tidak mengimpor BBM jenis minyak solar dari peningkatan B35 ke B40,” ucapnya.

2024, Impor Pupuk Naik Signifikan Capai 70 Persen di Riau Sawit
Sawit
Kamis, 19 September 2024 | 17:16 WIB

2024, Impor Pupuk Naik Signifikan Capai 70 Persen di Riau

Pekanbaru, katakabar.com - Impor produk pupuk naik signifikan sepanjang tahun 2024 ini di Provinsi Riau. Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, selama periode Januari hingga Agustus 2024, nilai impor produk pupuk Riau mencapai USD 230,64 juta. Bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2023 sebesar USD 136,16 juta, jumlah meningkat sekitar 70 persen," ujar Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, dilansir dari laman EMG, Kamis (19/9).

Dorong UKMK Gunakan Produk Berbahan Sawit, BPDPKS Tekan Ketergantungan Bahan Baku Impor Sawit
Sawit
Jumat, 14 Juni 2024 | 17:53 WIB

Dorong UKMK Gunakan Produk Berbahan Sawit, BPDPKS Tekan Ketergantungan Bahan Baku Impor

Sukoharjo, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS dorong kalangan pelaku usaha kecil, menengah, dan koperasi atau UKMK gunakan produk-produk berbahan baku sawit. Dengan penggunaan bahan dari kelapa sawit sebagai salah satu komoditas strategis bangsa Indonesia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor. Direktur Perencanaan dan Pengelolaan Dana sekaligus Pelaksana Tugas (Pit) Direktur Kemitraan BPDPKS, Kabul Wijayanto di Wokshop UKMK, Oleofood Berbahan Sawit di Hotel Grand Mercure Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, pada Rabu (12/6) menyatakan, dorongan ini bagian dari penguatan hilirisasi untuk mendapat nilai tambah dari kelapa sawit sebagai bahan mentah. "Selama ini kita hanya menggunakan bahan mentahnya dan tidak diproses menjadi turunan-turunannya, kita tidak mendapat manfaat lebih," ujarKabul Wijayanto, dilansir dari laman resmi BPDPKS, pada Jumat (14/6). Produk turunan dari kelapa sawit menurut Kabul, diharapkan bisa digunakan untuk kebutuhan domestik bahkan untuk ekspor. Penguatan UKMK dalam penggunaan bahan dari kelapa sawit tersebut difokuskan salah satunya di UKMK batik. "Kenapa batik? Sebab batik produk budaya Indonesia yang hampir semua daerah punya batik dengan kekhasan dan cirinya masing-masing. Lihat, dari Jawa Tengah, ada Solo dan Jogja, Pekalongan, di Jawa Timur, belum lagi masuk ke kabupaten, seperti Cirebon, Madura, bahkan Sumatera ada," bebernya. Ia mengambil contoh pembuatan batik saat ini banyak menggunakan lilin atau parafin atau malam sebagai salah satu bahan bakunya. Padahal sebagian besar lilin tersebut saat ini diimpor. "Nah kalau impor artinya bahan bakunya mahal, sehingga kalau itu mahal otomatis produk batik yang dijual kepada masyarakat ini harganya ikut terdongkrak," ulasnya. BPDPKS menurut Kabul berupaya mendorong para pelaku UKMK beralih menggunakan lilin atau malam yang berbahan baku sawit. Lilin berbahan sawit tersebut salah satu produk hasil penelitian dari kerja sama BPDPKS dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN. Selain lilin atau malam berbahan sawit, Kabu menyebut BPDPKS bersama BRIN telah menghasilkan sejumlah produk lain yang merupakan produk-produk turunan kelapa sawit. Melalui wokshop UKMK saat ini dan besok, ke depan diharapkan semakin banyak pelaku UKMK beralih atau menggunakan produk-produk olahan kelapa sawit dan turunannya itu. Di kegiatan itu dikenalkan tentang oleofood, yakni beragam produk kuliner yang berbahan dari turunan sawit. Selain diberikan pengetahuan dan materi terkait produk-produk kuliner berbahan sawit didemonstrasikan beragam produk oleofood sawit kepada peserta. "Kegiatan ini sebagai salah satu upaya untuk untuk mempromosikan kebaikan-kebaikan sawit," tuturnya. Kegiatan itu, lanjutnya, sebagai upaya BPDPKS untuk mengambil peran dari sisi Exit Srategy, yakni mendukung pemulihan dan percepatan ekonomi dari sektor promosi hasil minyak sawit, dan promosi hasil hasil penelitian sawit yang dapat digunakan untuk pengenalan serta pengembangan industri kelapa sawit mendorong peningkatan volume ekspor maupun industri kelapa sawit Indonesia.

Impor Barang Semudah Belanja Online di KMD Cargo Saja! Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 11 Mei 2024 | 20:47 WIB

Impor Barang Semudah Belanja Online di KMD Cargo Saja!

Jakarta, katakabar.com - KMD Cargo, sebuah startup yang yang bergerak di bidang logistik dengan spesialisasi proses pasokan barang dari China ke Indonesia, semakin menancapkan pijakan kuat di sektor industri logistik dengan inovasi dan pertumbuhan yang mengesankan. Berdiri pada 2021 lalu, KMD Cargo telah menjadi pilihan utama bagi para pelaku usaha online shop yang mencari solusi pasokan barang yang mudah, efisien, dan terjangkau. Menjawab tuntutan pasar yang terus berkembang, KMD Cargo telah berhasil menarik perhatian lebih dari 2000 anggota yang tersebar di pulau Jawa dan Sumatera. "Kami bangga dapat memberikan kontribusi positif bagi para UMKM tanah air, terutama para Ibu Rumah Tangga (IRT) yang berjuang untuk menopang ekonomi keluarga mereka," ucap Al Fath Nuur Rochman, alumni MBA ITB, sekaligus Co-Founder sekaligus CEO dari KMD Cargo, lewat rilis resmi diterima katakabar.com, pada Jumat kemarin. Inovasi dan Teknologi Fokus kenyamanan pengguna, KMD Cargo perkenalkan inovasi terbaru mereka, yakni sebuah Web Aplikasi KMD Cargo dengan konsep eCommerce mudahkan pengguna mendapatkan pasokan barang dengan cepat dan efisien. "KMD Cargo hadir sebagai solusi pasokan barang untuk meningkatkan daya saing UMKM di Indonesia. Dengan platform Kami, impor barang menjadi semudah berbelanja online," ujar Al Fath. Keberhasilan KMD Cargo tidak hanya terlihat dari pertumbuhan pengguna yang pesat, kata Al Fath lagi, tapi dari pencapaian keuangan yang mengesankan. Apalagi tiga tahun berturut-turut, KMD Cargo berhasil meraih EBITDA positif, menunjukkan kestabilan dan konsistensi dalam operasionalnya. Pertumbuhan dan Keberlanjutan Melihat potensi pasar yang luas, KMD Cargo memiliki rencana ambisius untuk memperkuat manajemen rantai pasok mereka. Strategi keberlanjutan ini dilakukan melalui akuisisi konsentris sebagai langkah proaktif dalam menghadapi dinamika industri yang terus berubah. Untuk mendukung pertumbuhan dan ekspansi mereka, KMD Cargo membuka peluang kerja sama pendanaan dengan Venture Capital dan Private Equity Company melalui kepemilikan saham. Untuk tiga tahun mendatang, target mereka mendapatkan 50,000 pengguna, sebuah pencapaian yang bukan lagi hal yang mustahil. Dengan peluang ini, para investor dapat turut serta dalam perjalanan KMD Cargo menuju kesuksesan sebagai salah satu startup logistik yang berpotensi menjadi unicorn di masa depan. Kontak: Al Fath Nuur Rochman 081220749955 fathnrochman@gmail.com