Bandung, katakabar.com - Di antara limbah atau biomassa dari kelapa sawit, yakni tandan kosong atau Tankos, bisa dijadikan sebagai sebagai material karbon ramah lingkungan bahan pembuatan perangkat teknologi superkapasitor.
Stok berlimpah di banyak pabrik kelapa sawit atau PKS di Indonesia, keberadaan Tankos sawit diyakini bisa membuat superkapasitor menjadi salah satu teknologi kunci dukung kemandirian energi nasional.
“Inovasi ini tidak hanya mendukung pengembangan teknologi penyimpan energi masa depan, tapi perkuat transisi menuju energi bersih,” ujar Prof. Yusuf Nur Wijayanto, Kepala Pusat Riset Elektronika atau PRE pada Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, saat webinar SISTEM #5 bertema “Advances in Supercapacitor Devices: From Microstructure Engineering to Biomass-Derived Carbon Material”, dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Senin (1/9).
Di kegiatan webinar itu hadirkan para pakar yang membahas perkembangan mutakhir teknologi superkapasitor, mulai dari teknologi rekayasa mikrostruktur hingga pemanfaatan material berkelanjutan.
Prof. Yusuf menekankan pentingnya riset superkapasitor dalam mendukung agenda transisi energi bersih nasional.
“Potensi pemanfaatan limbah biomassa kelapa sawit sebagai material karbon ramah lingkungan serta strategi rekayasa mikrostruktur dalam peningkatan performa superkapasitor dikupas tuntas di sini,” jelasnya.
Kegiatan ini, harap Prof. Yusuf, dapat mendorong diseminasi hasil riset di bidang divais elektronika, khususnya superkapasitor, sekaligus membangun ekosistem riset melalui kolaborasi dan sinergi seluruh pemangku kepentingan di Indonesia.

Sementara, Rike Yudianti, Profesor Riset dari Pusat Riset Elektronika BRIN, aparkan potensi TKKS sebagai bahan baku material karbon ramah lingkungan untuk perangkat superkapasitor.
Menurut Rike Yudianto, seiring meningkatnya produksi minyak sawit, limbah TKKS dapat menjadi sumber material bernilai tinggi. Sejumlah penelitian menunjukkan TKKS mampu diolah menjadi tiga produk utama, yakni porous carbon graphite, nanocellulose, dan nano-silica.
Jadi, ulas Rike, ketiga material ini menjadi kunci pengembangan energi berkelanjutan, khususnya superkapasitor. Perangkat superkapasitor berbahan dasar TKKS terbukti memiliki kinerja baik dan mampu mempertahankan performanya hingga ribuan siklus.
“Target riset kami adalah menghasilkan perangkat superkapasitor dengan performa setara baterai, dengan material berbasis keluarga karbon yang lebih ramah lingkungan,” ucap Rike.
Masih Rike Yudianto, sinergi antara riset material berbasis biomassa lokal dan inovasi rekayasa mikrostruktur merupakan langkah strategis menuju teknologi energi bersih. Pemanfaatan potensi biomassa Indonesia, khususnya dari sektor perkebunan kelapa sawit, dengan dukungan inovasi riset tingkat lanjut, menjadikan superkapasitor semakin dipandang sebagai teknologi penting dalam mendukung transisi energi nasional yang berkelanjutan.
Lalu, Prof. Markus Diantoro, Guru Besar Departemen Fisika Universitas Negeri Malang aminkan Rike. "Modifikasi mikrostruktur dapat meningkatkan performa superkapasitor," terangnya.
“Rekayasa ini membuka peluang besar untuk menghadirkan perangkat superkapasitor yang memiliki kapasitas lebih besar dan efisien, sehingga dapat memaksimalkan kapasitas penyimpanan energi terbarukan,” tegas Prof. Markus Diantoro.
Material Pembuatan Superkapasitor dari Tangkos Sawit Untuk Kemandirian Energi Nasional
Diskusi pembaca untuk berita ini