Solo, katakabar.com - Dinamika sering dipicu kata-kata, karena rakyat sudah terbiasa tertipu, diterbangkan kata-kata. Di lahan empuk bahasa politik kita, jamak terdengar pileg, pilpres, pilkada, pilkades. Pil, mewakili kata pemilihan. Bagaimana dengan pemilu serentak, enak gak enak, kita singkat saja "Pilrentak".
Dinamika Pilrentak Indonesia 2024, akan diwarnai pestapora demokrasi kolosal. Peristiwa besar, serentak di seantero Indonesia. Di tahun yang sama ada, pileg, pilpres, disusul pilkada.
Drama-drama politik, yang dramatik bisa terjadi di Jawabalinusa, Kamasutra (Kalimantan, Maluku, Sulawesi, Sumatra), dan Papua. Tiga kaukus ini bakal menggetarkan suara, sebelum rakyat ke bilik suara.
Dari dulu, pemilu memberi residu politik yang susah dibersihkan. Residu itu berganti nama menjadi "politik uang". Pilpres melahirkan rumpang, gap yang begitu luas pada perbedaan pilihan, suka atau tidak suka. Masih saja ada dendam, yang disembunyikan. Pilkada menyisakan gesekan dan kegenitan politik lokal.
Pilrentak, diharapkan tidak bernasib sama seperti menelan Pil KB, "jadi lupa, atau lupa jadi". Penyelenggara bertanggung jawab pada kualitas pemilu, dari waktu ke waktu. Bila tidak, maka pemilu hanya menjadi etalase kepalsuan, kehendak rakyat yang dirupiahkan.
Di TPS, kehendak rakyat serentak diangkakan, lalu direkapitulasi. Ada suara sah, suara tidak sah. Sementara di gunung-gunung, di lembah-lembah, rakyat gelisah.
Itu sebabnya, di setiap pemilu, rakyat sejatinya tidak sedang diuji, tapi diundi. Nasibnya, hidupnya, harapannya. Masa depannya diundi dengan janji-janji. Jabatan dilelang, kepemimpinan diperjualbelikan. Berapa "harga" Anies, Ganjar atau Prabowo?
Sangat memprihatinkan, jika "seharga" beras bulog yang "anjlok".
Pestapora Pemilu Serentak, Pilrentak 2024
Diskusi pembaca untuk berita ini