Presiden Ini Ajak Boikot Produk Prancis, Tapi Istrinya Pakai Hermes Mewah

Katakabar.com - Empat hari lalu, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengajak rakyatnya untuk memboikot produk Prancis. 

Ajakan ini mencuat setelah kartun Nabi Muhammad di Kota Mode itu jadi kontroversi. "Jangan memuji barang-barang berlabel Prancis, jangan membelinya," pinta lelaki 66 tahun ini seperti dilansir Hurriyet Daily News, Selasa (27/10) dan dihari yang sama dilansir kembali oleh liputan6.com

Tapi sayang, permintaan ayah 4 anak ini malah jadi bumerang. Soalnya, Emine, istri Erdogan justru doyan dengan produk Prancis. 

Perempuan yang dia nikahi 42 tahun silam itu kedapatan menenteng tas mewah bermerk Hermes waktu berkunjung ke Jepang setahun lalu. 

Oleh orang-orang yang pensaran, harga tas berwarna hitam itupun dicari tahu. Harganya sekitar US$50 ribu. 

Kalau dikonversi ke rupiah dengan estimasi US$1=Rp14.650, harga tas edisi terbatas itu sekitar Rp700 juta. Ahval News kemudian menyebut harga tas itu setara gaji tahunan 11 orang bergaji minimum di Turki.

Tas Hermes itu pun menjadi objek kritikan di situasi ekonomi Turki yang sedang melandai. Tahun lalu pertumbuhan ekonomi Negeri pemilik situas warisan dunia UNESCO, Pamukkale, ini hanya sekitar 0,9 persen. 

Balik ke ajakan Erdogan untuk boikot tadi, negara-negara Uni Eropa justru menanggapinya dengan kompak mendukung Prancis. 

Mereka tidak membully Erdogan lewat tas Hermas tadi, tapi justru mengkritik hinaan Erdogan kepada Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

"Kami berdiri di sisi Prancis setelah terjadinya serangan teroris yang membunuh Samuel Paty," ujar Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen via Twitter. 

High Representative of the EU for Foreign Affairs and Security Policy, Joseph Borrell Fontelles, juga ikut menyesalkan omongan Erdogan. Sebab bagi dia, omongan itu justru bakal membikin Turki makin terisolasi.  

Sama seperti Joseph, Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte juga menyebut kalau omongan Erdogan tidak membantu situasi. 

"Hinaan personal tidak membantu agenda positif yang ingin Uni Eropa bangun dengan Turki," ujar Conte seperti dikutip Politico. "Solidaritas penuh dengan Presiden Emmanuel Macron."

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas juga  begitu, tak berterima dengan omongan Erdogan. 
Jerman kata dia akan terus mendukung Prancis melawan aliran Islam yang ekstremis.

Lalu Perdana Menteri Belanda Mark Rutte bilang, Belanda "berdiri teguh dengan Prancis dan untuk nilai-nilai kolektif Uni Eropa." Alamaaak...

 

Editor : Aziz

Berita Terkait