Jakarta, katakabar.com - Wakil Ketua DPR RI Bidang Koordinator Industri dan Pembangunan, Rachmat Gobel, meminta Jepang untuk menerima petani muda Indonesia untuk belajar bertani dengan metode smart farming di negara tersebut. 

Hal itu ia sampaikan saat menerima delegasi dari partai berkuasa di Jepang, Partai Demokrat Liberal (LDP), di Ruang Delegasi, Gedung Nusantara III, DPR RI, Jakarta, Jumat kemarin.

“Bukan untuk bekerja dan juga bukan untuk sekolah, tapi belajar praktik bertani yang baik dan berkualitas serta smart farming kepada petani muda Indonesia. Cukup satu tahun saja,” kata Gobel dikutip dari situs resmi DPR RI. 

Gobel mengatakan, hal ini sangat perlu diingat mengingat dunia sekaligus bersinggungan dengan krisis pangan akibat perubahan iklim dan konflik geopolitik dunia. 

Perubahan iklim berdampak pada hadirnya cuaca panas yang tinggi atau curah hujan yang berlebihan dan tidak pasti. Sedangkan konflik geopolitik berdampak pada kenaikan harga pupuk yang tinggi.

“Semua itu berakibat Indonesia melakukan impor beras dengan jumlah yang sangat besar. Padahal Indonesia adalah negara agraris, memiliki lahan yang luas, tanah yang subur, dan jumlah petani yang besar. Namun faktanya Indonesia harus mengimpor beras dari berbagai negara seperti Myanmar, Vietnam, Thailand , India, dan Cina,” jelasnya.

 Di sisi lain, lanjut politisi NasDem itu, Jepang adalah negara yang memiliki keunggulan teknologi sehingga bisa menghasilkan produktivitas pertanian yang besar dan kemampuan menghadapi perubahan iklim. 

Selain itu, katanya, produk pertanian Jepang dikenal dengan cita rasa yang lezat dan memiliki harga yang bagus. Ia juga meminta Jepang mengajarkan pembuatan pupuk organik dan smart farming. Teknologi penggilingan beras Jepang katanya juga menghasilkan beras yang berkualitas.

Walaupun sudah melakukan impor beras dengan jumlah yang sangat besar, kata Gobel, secara ironis harga beras di Indonesia tetap tinggi.

“Harga beras premium di Indonesia mendekati harga beras di Jepang. Padahal kualitasnya sangat berbeda. Tentu ini memprihatinkan,” kata dia. 

Selain itu, katanya, karena jumlah petani di Indonesia sangat besar maka membangun pertanian secara otomatis akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

"Jumlah penduduk Indonesia juga sangat besar. Jadi pemecahan masalah kebutuhan pokok ini akan sangat mendasar bagi kemajuan dan stabilitas Indonesia. Untuk itu, saya berharap Jepang dan Indonesia bisa meningkatkan kerja sama yang lebih erat di bidang pertanian ini," jelasnya. 

Selain itu, Gobel juga menyampaikan tentang pentingnya Jepang membagi teknologinya dalam pengolahan air bersih. Hingga saat ini, katanya, masalah penyediaan air bersih yang sehat masih merupakan tantangan besar bagi Indonesia.

“Air bersih higienis sangat penting dalam mengatasi stunting dan penyakit kulit. Dua hal ini masih merupakan permasalahan mendasar bagi masyarakat lapis bawah Indonesia dan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Jepang memiliki kemampuan dan teknologi pengolahan air bersih yang sehat,” katanya.

Jika masalah pertanian dan penyediaan air bersih bisa diatasi Indonesia, kata Gobel, maka ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih baik lagi. “Ini tentu saja juga akan baik bagi perekonomian kawasan Asia Tenggara dan akan memberikan dampak yang baik pula bagi perekonomian Jepang. Jadi ini kerja yang sama yang sifatnya saling menguntungkan,” katanya.

Sedangkan Delegasi Jepang dipimpin oleh Ketua Badan Riset Kebijakan LDP, Tokai Kisaburo. Sedangkan anggota delegasinya antara lain Ketua Harian Badan Riset Kebijakan LDP Shibayama Masahito dan Kepala Sekretariat Badan Riset Kebijakan LDP Nakai Toyoron. Hadir pula Wakil Dirjen untuk urusan Asia Tenggara dan Asia Barat Daya Kementerian Luar Negeri Jepang Hayashi Makoto serta Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yasushi Masahi.