Surabaya, katakabar.com - Terinspirasi dari workshop olahan sawit yang ditaja Elaeis Media Group atau EMG kerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP di 'Kota Pahlawan' nama lain dari Sursbaya, Probinsi Jawa Timur akhir April 2025 lalu.

Amin Tojoyo, pengusaha mie asal Sidoarjo, siap bereksperimen membuat produk baru dari sawit. Amin Tojoyo, seorang pelaku UMKM bidang makanan dari Sidoarjo, menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap potensi kelapa sawit sebagai bahan pangan alternatif.

Ia melihat peluang baru untuk mendiversifikasi produk mie yang telah lama ia tekuni.

“Saya tahu info workshop ini dari grup Instagram Elaeis. Begitu lihat temanya soal sawit, saya langsung tertarik. Pengen coba dan cari tahu lebih dalam,” kata Amin saat diwawancarai selepas sesi pelatihan.

Sejak 2019 lalu, Amin sebenarnya mengembangkan usaha mie kering yang kemudian merambah ke produk mie siap saji. Usahanya berlabel Mime Cucu kini dikenal dengan aneka rasa pedas yang khas dan telah masuk ke berbagai pasar modern, termasuk hypermarket dan beberapa gerai ritel lokal.

“Alhamdulillah, saat ini produksi bulanan bisa mencapai 50 hingga 100 kilogram, bahkan pernah sampai 500 hingha 600 kilogram saat permintaan sedang tinggi,” ulasnya.

Tapi di balik kesuksesan tersebut, Amin menyadari pentingnya terus berinovasi. Ia tidak ingin usahanya jalan di tempat. Workshop olahan sawit ini pun jadi momen yang ia anggap pas untuk membuka cakrawala baru.

“Kalau dilihat dari bahan dasarnya, mie dan produk olahan sawit sama-sama berbasis tepung. Jadi, saya pikir, kalau bisa difermentasi dan dikembangkan, mungkin bisa jadi produk baru, semacam dodol atau bahkan brownies dari sawit,” ceritanya atusias.

Bagi Amin, ide diversifikasi bukan sekadar mencari untung. Ia ingin membawa nilai tambah dari produk UMKM lokal agar bisa bersaing lebih luas, sekaligus mengedukasi konsumen bahwa sawit punya potensi lebih dari sekadar minyak goreng atau bahan bakar.

“Awalnya saya enggak sangka sawit bisa diolah jadi makanan. Tapi setelah dijelasin di workshop, ternyata banyak peluangnya. Bahkan bisa dibuat makanan manis juga,” tuturnya.

Ia mengaku sudah mulai mencatat ide-ide pengembangan sejak sesi awal workshop. “Saya udah nyatet beberapa kemungkinan produk yang bisa dicoba. Kalau nanti bahannya mudah diakses dan prosesnya masuk akal, pasti saya eksekusi,” tegas Amin.

Ke depan, ia berharap ada dukungan lebih dari komunitas dan pelatihan lanjutan yang bisa memperdalam teknik fermentasi maupun pengolahan sawit. Ia pun terbuka untuk kolaborasi dengan pelaku UMKM lainnya yang punya visi serupa.

“Kalau kita bisa saling konsolidasi dan berbagi pengalaman, saya yakin inovasi olahan sawit ini bisa jadi tren baru di dunia F&B, khususnya buat pelaku UMKM seperti saya,” imbuhnya.

Dari dapur kecil di Sidoarjo, Amin Tojoyo telah membuktikan keberanian bereksperimen dan terbuka pada ide baru adalah kunci untuk terus tumbuh.

Kini, bukan tak mungkin ke depan kita akan menikmati mie, dodol, atau bahkan brownies berbasis sawit, buatan tangan pelaku UMKM penuh semangat seperti dirinya.