Sukabumi, katakabar.com--Selama tiga hari dalam sepekan, Asep Saepulloh dan istrinya, Kapten Laut/W Tuti Mulyati, berpindah dari rumah mereka di Ciangsana, Bogor, Jawa Barat, ke Desa Ciheulang Tonggoh, Kecamatan Cibadak, Sukabumi, masih di provinsi yang sama. Jumat hingga Minggu, mereka tinggal di tengah kebun, mengurus tanaman dan menikmati kehidupan menyenangkan di sekitar kandang kambing.
Pagi-pagi sekali, Asep, pensiunan POM AL dengan pangkat mayor laut, biasa mencangkul lahan. Tuti, yang masih berdinas di Komando Armada RI, Jakarta—kebetulan setiap Jumat bekerja secara WFH--ini menanaminya dengan sayuran dan pohon buah. Itu baru pemanasan.
Kegiatan “inti” dimulai jam delapan pagi, yaitu mengontrol dan merawat kambing-kambing Etawa penghasil susu—usaha yang dirintis Asep menjelang pensiun. Keduanya dengan penuh antusias mencermati perkembangan usaha ternak kambing perah yang menunjukkan perkembangan cukup menggembirakan itu. Dimulai dengan 12 ekor kambing, termasuk seekor pejantan Tangguh, kini telah berkembang menjadi 26 ekor kambing—enam ekor di antaranya masih anakan yang kelak siap berperan sebagai penghasil susu seperti induknya.
Dalam “sidak” tersebut, Asep dengan detil menanyakan segala sesuatunya kepada Ujang Supardi, 45 tahun, yang sehari-hari mengurus peternakan tersebut bersama isterinya, Dede Herlina. Sang anaknya semata wayang, Novi, yang masih duduk di kelas 5 SD, turut membantu sambil bermain-main dengan riang bersama “Si Mbek”.
Saat wartawan katakabar.com Taufik Alwie mengunjungi lokasi peternakan itu pada pada Sabtu, 26 September 2026, kondisinya secara menyeluruh tampak asri. Dan, ini yang merupakan salah satu nilai plusnya: peternakan kambing tersebut nyaris tidak berbau sama sekali, meski pun ditongkrongi dari dekat.
Rahasianya? “Ini berkat desain kandangnya yang benar, serta dibersihkan setiap hari. Kambingnya pun sering dimandikan oleh Mang Ujang,” tutur Asep dalam percakapan yang berlangsung di kandang kambing. Pantas saja, meski lahan peternakan itu bisa dibilang masih menyatu dengan komplek perumahan, warga sepertinya tidak merasa terganggu.
Kambing-kambing itu ditampung dalam kandang seluas sekitar 150 meter persegi, berada di lahan seluas kurang lebih 1.000 meter persegi. Sebagian lahan ditanami rumput odot untuk cadangan pakan; sebagian lagi menjadi kebun sayur dan buah. Di pojokan, terdapat kandang lain berisi belasan ekor ayam petelur Elba. Selain itu, ada pula rumah sederhana yang disediakan untuk Ujang Supardi dan keluarganya, serta rumah permanen sekitar 45 meter persegi tempat Asep dan Tuti beristirahat ketika berkunjung.

Bagi Asep, kesibukan itu punya arti yang melampaui hitungan susu dan pakan. Sebagai mantan prajurit yang sehari-harinya selalu sibuk di lapangan, masa pensiun bukanlah waktunya untuk istirahat, apalagi bermalas-malasan. “Kalau kita tidak punya kegiatan, di rumah terus, makan, tidur, jarang bergerak, kondisi fisik dan mental bisa cepat turun,” ujarnya. Ia ingin tetap bergerak, punya pekerjaan yang ditunggu setiap pagi, dan alasan untuk terus belajar.
Berawal dari Kunjungan ke Kandang
Minat Asep pada peternakan tumbuh menjelang pensiun. Ia mengikuti pembekalan wirausaha yang dikenal dengan nama Program Pembekalan Keterampilan (Bektram), memperkenalkan sejumlah pilihan, antara lain pertanian, perikanan, dan peternakan. Program yang diikuti Asep dan sejumlah prajurit jelang pensiun lainnya ini diselenggarakan Mabes TNI bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM, berlangsung di Cisalopa, Lido, Sukabumi.
Awalnya, pilihan Asep belum langsung jatuh pada ternak kambing. Nah, saat mengikuti sebuah kunjungan ke peternak kambing susu di kawasan Caringin, Bogor, barulah kemudian ia mulai kepincut dengan usaha tersebut.
Asep tertarik pada hasil yang bisa diperoleh selama induk kambing memproduksi susu. Jika pada usaha penggemukan, peternak menanggung biaya pemeliharaan sampai ternak siap dijual. Pada kambing perah, susu dapat dipasarkan sepanjang masa produksi, sementara anak kambing juga berpotensi menambah nilai usaha. Jadilah Asep merintis usaha ini.
Ia bahkan membeli kambing sebelum kandangnya di Ciheulang Tonggoh siap. Ternak itu sempat dititipkan di peternakan Caringin. Setelah sarana di lahannya tersedia, barulah kambing dipindahkan. Pada masa itu, Asep telah melihat bahwa pasar bagi susu Etawa ini telah tersedia, yang dimulai dari kantor isterinya. “Setiap susu yang dibawa isteri ke kantornya selalu habis, bahkan banyak yang memesan duluan karena takut nggak kebagian,” ujar Asep, tersenyum riang.
Sang isteri, Tuti Mulyati, yang menjadi “tenaga pemasar sambilan” menuturkan bahwa rekan-rekannya di kantor mengaku cocok dengan susu tersebut. “Kata mereka, setelah minum susu itu tubuh terasa lebih segar dan fit. Bahkan ada yang mengaku nyeri lututnya berkurang dan akhirnya sembuh,” tuturnya.
Suami-isteri ini menyebut, harga susu kambing di kandang berada di kisaran Rp30.000 hingga Rp35.000 per liter. Namun, banyaknya kambing tidak berarti semuanya menghasilkan susu setiap hari. Ada induk yang sedang bunting, ada yang baru melahirkan, dan ada yang masa produksinya telah berakhir. Jumlah susu pun dapat berubah menurut kondisi ternak dan pakannya.
Yang jelas, susu kambing yang jauh lebih mahal dari susu sapi yang hanya Rp 12.000 per liter ini membuat peternak tidak merasa berat menggunakan susu sapi sebagai pengganti susu induknya bagi anak-anak kambing selama masa menyusui. Anak-anak kambing yang baru lahir hanya diberi kesempatan sepekan menetek pada induknya agar memperoleh khasiat kolustrum guna meningkatkan daya tahan tubuh, setelah itu disapih.
Mang Ujang yang Cukup Diandalkan
Ketika Asep dan Tuti kembali ke Bogor, pekerjaan di peternakan berlanjut sepenuhnya pada Ujang Supardi. Di tangan pria asal Purwakarta, pekerjaan di kandang yang menuntut perhatian setiap hari, selalu beres. Kambing diberikan rumput, ampas tahu, dan pakan tambahan. Kondisi induk serta anakan harus terus diamati. Rumput odot yang tumbuh di lahan menjadi salah satu cara menyediakan sebagian kebutuhan pakan dekat kandang. Ujang pun cekatan memerah susu, setiap pagi dan petang.

Asep mengakui, Ujang Supardi sangat diandalkan dalam mengurus ternak dan kebun. Selain piawai—karena sejak kecil ia sudah menjadi pekerja ternak kambing Etawa di kampungnya di Purwakarta—Ujang juga berkarakter baik, rajin dan amanah.
Atas anjuran Ujang pula, Asep memikirkan pemanfaatan kotoran kambing. Ia pun membeli alat penggiling mekanis bermesin diesel. Kotoran hewan (kohe) itu dijemur hingga kering, lalu digiling dan dicampur tanah serta debu. Asep berencana mengolah dan mengemasnya menjadi pupuk kandang. Rencana lain, seperti menambah indukan dan kandang, masih menunggu perkembangan usaha.
Mantan Komandan Detasemen POMAL Pangkalan AL Bangka Belitung ini cukup terbuka mengenai posisi keuangannya. Menurut dia, penjualan susu telah membantu menutup biaya operasional peternakan. Namun, keuntungan bersihnya belum terlihat jelas. Lahan, kandang, ternak, pakan, dan pekerja merupakan bagian dari usaha yang masih ia bangun.
“Kalau untuk marginnya, ya, belum kelihatan,” katanya. Bagi Asep, pada tahap merintis ini, kemampuan peternakan membiayai kegiatan hariannya sendiri sudah merupakan kemajuan.
Mengabdi di Laut, Bersemi di Kandang Pensiunan Perwira TNI AL ini Merajut Asa dari Susu Kambing Etawa
Diskusi pembaca untuk berita ini