Aceh Tamiang

Sorotan terbaru dari Tag # Aceh Tamiang

PT RPN Lewat Pusat Penelitian Karet Salurkan Bantuan TJSL Bagi Masyarakat Terdampak Banjir di Aceh Tamiang Nasional
Nasional
Senin, 26 Januari 2026 | 10:02 WIB

PT RPN Lewat Pusat Penelitian Karet Salurkan Bantuan TJSL Bagi Masyarakat Terdampak Banjir di Aceh Tamiang

Aceh Tamiang, katakabar.com - Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui entitasnya, PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) Cabang Pusat Penelitian Karet, menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Kegiatan ini wujud kepedulian dan tanggung jawab sosial institusi dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana alam. Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tamiang telah menyebabkan terganggunya aktivitas sosial dan ekonomi warga serta menimbulkan kebutuhan mendesak akan bantuan logistik dan dukungan sosial. Menyikapi kondisi tersebut, Pusat Penelitian Karet berinisiatif mengambil peran aktif dalam membantu meringankan beban masyarakat terdampak. Kegiatan penyaluran bantuan ini bertujuan membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat korban banjir, meringankan beban sosial dan ekonomi, serta memperkuat hubungan dan solidaritas antara institusi dan masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wujud nyata komitmen Pusat Penelitian Karet dalam menjalankan peran sosial yang berkelanjutan. “Kami berharap bantuan yang disalurkan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat terdampak banjir serta menjadi bentuk kehadiran dan kepedulian Pusat Penelitian Karet di tengah masyarakat yang sedang menghadapi musibah,” ujar Perwakilan Tim TJSL Pusat Penelitian Karet. Penyaluran bantuan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pihak, antara lain aparat pemerintah daerah setempat, perangkat desa, relawan, serta perwakilan masyarakat terdampak. Seluruh kegiatan sepenuhnya didukung melalui Program TJSL Pusat Penelitian Karet. “Kegiatan ini tidak hanya sekadar penyaluran bantuan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara institusi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam penanganan bencana,” tambahnya. Meskipun dihadapkan pada sejumlah kendala seperti keterbatasan akses akibat genangan air hingga kondisi cuaca yang kurang mendukung, kegiatan tetap dapat terlaksana dengan baik melalui koordinasi intensif dengan pihak-pihak terkait di lapangan. Melalui pelaksanaan Program TJSL ini, Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui Pusat Penelitian Karet menegaskan komitmennya untuk terus hadir dan berkontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya dalam situasi darurat dan bencana. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek berupa pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong, kepedulian sosial, serta kepercayaan antara institusi, pemerintah daerah, dan masyarakat. Ke depan, PT Riset Perkebunan Nusantara sebagai bagian dari ekosistem Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) berharap sinergi dan kolaborasi lintas pihak dapat terus terjalin secara berkelanjutan dalam mendukung upaya penanggulangan bencana, pemulihan sosial, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kementerian PU Alirkan Air Bersih Lewat Sumur Bor Pulihkan Kehidupan dan Ibadah Warga Aceh Tamiang Nasional
Nasional
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:33 WIB

Kementerian PU Alirkan Air Bersih Lewat Sumur Bor Pulihkan Kehidupan dan Ibadah Warga Aceh Tamiang

Aceh Tamiang, katakabar.com - Komitmen Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memulihkan layanan dasar pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang kian menunjukkan hasil nyata. Melalui program pembangunan sumur bor di 24 titik strategis, akses terhadap air bersih yang sempat terputus kini secara bertahap telah dipulihkan, mengalirkan harapan dan kemudahan bagi masyarakat. Salah satu bukti keberhasilan program ini adalah sumur bor yang telah beroperasi dan dimanfaatkan langsung oleh masyarakat di Masjid Simpang Lhee, Kecamatan Manyak Payed. Dengan kedalaman mencapai 82 meter, sumur ini telah menjadi sumber kehidupan baru, memastikan tersedianya air bersih untuk keperluan ibadah di masjid sekaligus kebutuhan sehari-hari warga sekitar. Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan penyediaan akses air bersih merupakan prioritas utama dalam proses pemulihan pascabencana. “Pemulihan tidak hanya fokus pada rehabilitasi infrastruktur fisik, tetapi yang terpenting adalah mengembalikan akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar, khususnya air bersih. Hal ini merupakan fondasi bagi kesehatan, kenyamanan, dan keberlangsungan aktivitas sosial-keagamaan masyarakat untuk bangkit kembali,” tegas Dody. Kehadiran sumur bor ini disambut dengan penuh rasa syukur oleh masyarakat, yang selama ini menghadapi kesulitan besar mendapatkan air bersih. Kini, aktivitas wudu, kebersihan masjid, hingga kebutuhan domestik rumah tangga dapat kembali berjalan dengan normal. “Alhamdulillah, air telah mengalir dengan lancar. Jamaah dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan khusyuk. Warga sekitar pun turut merasakan manfaatnya, tidak lagi harus antri berpanas-panas mencari air. Semoga fasilitas ini dapat terjaga dan bermanfaat untuk waktu yang lama,” ujar Aisyah Rahmi, salah seorang warga Manyak Payed, yang merasakan langsung dampak positifnya. Progres Pemulihan di Berbagai Titik Kementerian PU melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I terus mempercepat penyelesaian pengeboran sumur bor di lokasi-lokasi lainnya. Berikut adalah progres terkini: 1. Kantor Camat Kuala Simpang: Pengeboran telah mencapai 86 meter dari target 100 meter. Saat ini sedang dilakukan persiapan konstruksi pendukung setelah identifikasi potensi akuifer. 2. Masjid Al Ikhlas, Gampong Sukajadi, Banda Mulia: Telah mencapai kedalaman 76 meter dengan potensi akuifer yang baik, diproyeksikan menjadi sumber air bagi jamaah dan warga. 3. Kantor Datok Gampong Menanggini, Karang Baru: Proses pengeboran pilot hole mencapai 25 meter dan sedang dalam penanganan teknis pascakerusakan alat. 4. Pesantren Darul Mukhlisin, Karang Baru: Pilot hole telah mencapai 96 meter dengan potensi akuifer pada beberapa lapisan, menjanjikan pasokan air yang memadai untuk lingkungan pesantren. 5. TK Nurul Ikhlas Telaga Meuku II, Banda Mulia: Pilot hole selesai pada 82 meter dan memasuki tahap persiapan konstruksi sumur. 6. Desa Matang Teupah, Bendahara: Pengeboran pilot hole telah selesai sesuai target 100 meter dan sedang dilanjutkan ke tahap konstruksi sumur. 7. Desa Bandar Khalifah, Bendahara: Telah mencapai 118 meter dan tengah memasuki tahap konstruksi. 8. Desa Meurandeh, Manyak Payed: Konstruksi sumur telah selesai. Saat ini dalam proses well development dan pemasangan pompa untuk segera dapat digunakan. Untuk memastikan ketepatan sasaran, Kementerian PU telah dan akan terus melaksanakan survei geolistrik di berbagai lokasi, termasuk di wilayah Manyak Payed, Kantor Kejaksaan Negeri, serta titik-titik cadangan lainnya guna mengantisipasi kebutuhan di masa depan. Program ini wujud nyata komitmen pemerintah dalam membangun negeri dan memulihkan kehidupan masyarakat pascabencana, dimulai dari hal yang paling mendasar yaitu air bersih. Program kerja ini bagian dari “Setahun Bekerja, Bergerak - Berdampak” menjalankan Asta Cita dari Presiden RI, H Prabowo Subianto.

Dibangun Cepat Sistem Modular, Huntara Aceh Tamiang Siap Tampung 80 KK Nusantara
Nusantara
Sabtu, 03 Januari 2026 | 21:32 WIB

Dibangun Cepat Sistem Modular, Huntara Aceh Tamiang Siap Tampung 80 KK

Aceh Tamiang, katakabar.com - Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo mengisi waktu libur Tahun Baru, Kamis (1/1) dengan meninjau langsung progres pembangunan hunian sementara (Huntara) bagi masyarakat terdampak bencana di Gampong Bundar, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Pembangunan huntara ini merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam menyediakan tempat tinggal yang layak, aman, dan manusiawi bagi warga yang sebelumnya bertahan di tenda pengungsian dengan fasilitas terbatas akibat bencana banjir dan tanah longsor. Dalam kunjungannya, Dody menegaskan Kementerian PU mendukung penuh upaya penanggulangan bencana yang dikoordinasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). “Kami berkomitmen untuk men-support penuh BNPB. Huntara ini dibangun agar masyarakat terdampak dapat segera tinggal di tempat yang lebih layak, aman, dan bermartabat. Selain hunian, nantinya juga akan dilengkapi dengan sarana air bersih dan sanitasi,” ujar Dody. Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Prasarana Strategis Kementerian PU bekerja sama dengan BUMN Karya, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Proyek ini menunjukkan progres yang signifikan dan cepat, mulai dari pekerjaan fondasi hingga pemasangan atap modular. Secara teknis, Huntara ini mengadopsi sistem bangunan modular dengan struktur rangka baja ringan. Teknologi ini dipilih karena karakteristiknya yang kuat, cepat dalam pengerjaan, namun tetap mengutamakan kenyamanan penghuni. Proses pembangunan Huntara meliputi pekerjaan pembuatan fondasi, pemasangan rangka modular, dinding, atap baja ringan, serta pekerjaan Mekanikal, Elektrikal, dan Plambing (MEP). Dengan metode konstruksi tersebut, pembangunan huntara di Gampong Bundar ditargetkan rampung pada awal Januari 2026. Dengan terselesaikannya Huntara ini, pemerintah berharap dapat mempercepat relokasi warga ke hunian yang lebih aman dan nyaman. Deputi Penanganan Darurat BNPB, Budi Irawan, turut mengapresiasi kualitas dan kecepatan pengerjaan huntara yang dilakukan Kementerian PU. Menurutnya, standar bangunan yang diterapkan sangat baik untuk kebutuhan darurat. “Saya lihat bahannya premium dan sangat layak bagi masyarakat. Pekerjaannya juga sangat cepat, baru tiga atau empat hari sudah berdiri seperti ini. Kami berharap huntara ini dapat menarik minat masyarakat untuk pindah dari tenda pengungsian, karena jauh lebih layak dan manusiawi,” kata Budi Irawan. Kawasan Huntara Aceh Tamiang direncanakan mampu menampung sekitar 80 Kepala Keluarga (KK). Kompleks huntara ini terdiri dari 7 blok bangunan modular hunian dan 1 blok tambahan dengan kapasitas 12 KK. Setiap blok dirancang memiliki kapasitas hingga 48 orang atau setara 12 KK, dengan total daya tampung mencapai 336 orang. Untuk mendukung aktivitas sehari-hari warga, seluruh kawasan huntara dilengkapi dengan fasilitas pendukung yang memadai, antara lain toilet komunal yang higienis, instalasi listrik dan pencahayaan, jaringan air bersih dan sanitasi. Kementerian PU berharap keberadaan huntara ini tidak hanya memulihkan rasa aman masyarakat, tetapi juga menjadi fondasi awal bagi pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang. Program kerja ini merupakan bagian dari “Setahun Bekerja, Bergerak - Berdampak” dalam menjalankan ASTA CITA dari Presiden Prabowo Subianto.

Holding PTPN Dukung Percepatan Pembangunan 600 Huntara Pascabanjir di Aceh Tamiang Nasional
Nasional
Jumat, 02 Januari 2026 | 11:22 WIB

Holding PTPN Dukung Percepatan Pembangunan 600 Huntara Pascabanjir di Aceh Tamiang

Aceh Tamiang, katakabar.com – Penanganan pascabencana banjir di Aceh memasuki fase lanjutan melalui pembangunan hunian sementara (Huntara) bagi masyarakat terdampak. Di tahap awal, sebanyak 600 unit huntara telah direalisasikan sebagai bagian dari upaya pemulihan warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana. Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan pembangunan Huntara bentuk partisipasi aktif negara melalui BUMN dalam membantu masyarakat terdampak bencana. “Pada prinsipnya kami ingin ikut berpartisipasi membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana. Kami berharap hunian yang dibangun dapat menjadi tempat tinggal yang aman dan layak bagi masyarakat, sekaligus mendukung proses pemulihan mereka,” ujar Dony saat tinjau lokasi, Selasa (30/12) lalu. Menurut Dony, pembangunan Huntara tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi memperhatikan kualitas lingkungan hunian. Kawasan huntara dirancang dilengkapi fasilitas pendukung kehidupan sehari-hari, seperti fasilitas umum, tempat ibadah, hingga ruang bermain anak. Aspek konektivitas juga menjadi perhatian agar masyarakat tetap dapat beraktivitas selama masa pemulihan. Ia menambahkan, 600 unit Huntara tersebut tahap awal dari program berskala lebih besar dengan target pembangunan hingga 15.000 unit di berbagai wilayah terdampak bencana. “Kami akan menunggu arahan dari pemerintah daerah terkait lokasi-lokasi lain yang memang membutuhkan dan siap untuk dibangunkan,” jelasnya. Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, S.E., menyampaikan banjir berdampak luas di hampir seluruh wilayah provinsi. Dari 18 kabupaten dan kota terdampak, sedikitnya tujuh daerah mengalami dampak paling parah sehingga memerlukan penanganan cepat dan kolaboratif. “Kami menyampaikan ribuan terima kasih. Progresnya sangat cepat. Kami melihat pekerjaan pembangunan nonstop 24 jam. Kami berharap pembangunan hunian sementara ini berjalan paralel dengan pemulihan yang sedang berjalan,” jelas Fadhlullah. Ia menegaskan pentingnya penyediaan lahan oleh pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pihak lain agar pembangunan tahap berikutnya dapat segera dilanjutkan. Sementara, Bupati Aceh Tamiang Irjen. Pol. (Purn.) Drs. Armia Pahmi, MH, mengungkapkan skala kerusakan akibat banjir di wilayahnya tergolong sangat besar. “Untuk rumah yang rusak parah jumlahnya lebih kurang 8.000 unit. Total rumah terdampak bisa lebih dari 14.000. Karena itu, untuk rumah-rumah yang rusak berat kemungkinan besar akan dilakukan relokasi,” ucapnya. Pembangunan Huntara tahap awal ini dilaksanakan melalui kolaborasi lintas BUMN, melibatkan BUMN Karya, Himbara, PLN, Pertamina, dan Telkom, serta didukung oleh kesiapan dan percepatan penyediaan areal oleh Holding Perkebunan Nusantara, PT Perkebunan Nusantara III (Persero). Dukungan kesiapan lahan dari PTPN Group memungkinkan proses pembangunan dilakukan secara lebih cepat dan terintegrasi. Program pembangunan Huntara ini menjadi bagian dari sinergi pemerintah pusat dan daerah bersama BUMN dalam memastikan hunian sementara yang aman, layak, dan mendukung proses pemulihan masyarakat terdampak bencana.

Asa Kembali Menyala, Pemulihan Aceh Tamiang Terus Berjalan Nasional
Nasional
Senin, 29 Desember 2025 | 20:01 WIB

Asa Kembali Menyala, Pemulihan Aceh Tamiang Terus Berjalan

Aceh Tamiang, katakabar.com - Masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang perlahan mulai bangkit pascabencana banjir yang merusak permukiman dan fasilitas umum. Setelah hampir satu minggu terisolasi, akses transportasi kini kembali terbuka dan bantuan kemanusiaan dapat menjangkau wilayah terdampak. Selama masa terputusnya akses, warga bertahan dalam keterbatasan. Makanan, pakaian, dan perlengkapan seadanya menjadi tumpuan hidup sehari-hari. Seiring mulai berdatangannya bantuan pangan pokok dan obat-obatan, masyarakat berangsur kembali untuk membersihkan rumah serta lingkungan sekitar sebagai bagian dari upaya pemulihan. Di tengah kondisi sulit tersebut, semangat anak-anak Aceh Tamiang mencerminkan ketangguhan masyarakat. Mereka menyambut para relawan dengan senyum dan pesan penuh harapan, seakan menegaskan bahwa mereka sanggup melewati cobaan ini bersama. “Untuk teman-teman Aceh yang juga terkena bencana, tetap semangat ya,” ujar anak-anak saat direkam oleh Relawan MIND ID, Sabtu (20/12) lalu. Sebagai bagian dari dukungan pemulihan masyarakat terdampak, Holding Industri Pertambangan MIND ID menyalurkan tiga truk bantuan berisi sekitar 100.000 item kebutuhan, meliputi vitamin, obat-obatan, serta perlengkapan dasar masyarakat. Bantuan tersebut mencakup multivitamin anak dan dewasa, susu, madu, obat batuk, demam, maag, alergi, flu, diare, obat topikal, serta kebutuhan kebersihan seperti popok bayi dan dewasa, tisu basah, dan tisu kering. Distribusi bantuan difokuskan ke Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Aceh Tamiang. Selain bantuan logistik, MIND ID bersama seluruh Anggota Grup juga menjalankan program Employee Volunteering. Melalui program ini, para karyawan diajak untuk terlibat langsung sejak proses evakuasi, penyaluran bantuan, hingga pendampingan pemulihan masyarakat di berbagai wilayah terdampak bencana di Sumatra. Bantuan ini sebagai bentuk kehadirkan MIND ID sebagai perusahaan bersama seluruh karyawannya untuk hadir langsung, memberi bantuan tenaga dan semangat. Koordinator Posko Paya Awe, Akhiruddin, bercerita bahwa desanya sempat terendam banjir hingga setinggi dua meter. “Kami hanya bisa mengungsi di balai pengajian. Tidak ada makanan sama sekali, bahkan untuk anak-anak. Dampaknya bagi kami seperti tsunami kedua,” ujarnya. Menurutnya, bantuan yang datang dari berbagai pihak, termasuk MIND ID sangat membnatu bagi masyarakat terdampak. Meski akses untuk membeli bahan pangan sudah mulai terbuka, dukungan dari luar masih sangat dibutuhkan. “Sekitar 80 persen masyarakat sudah kembali ke rumah, tetapi kebutuhan dasar seperti tempat tinggal, kelambu, dan perlengkapan lainnya masih banyak yang kurang,” ucapnya. Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, memastikan akses transportasi antarwilayah kini telah kembali terhubung, meski beberapa daerah terpencil masih hanya dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua. “Alhamdulillah, seluruh warga Tamiang sudah bisa kita antar bantuan makanan. Tidak ada yang terisolir, walaupun belum sempurna. Kami terus berupaya agar rakyat tidak lapar,” bebernya. Ia menegaskan prioritas pemerintah daerah saat ini adalah memastikan ketahanan pangan serta menjaga kesehatan masyarakat dalam jangka panjang. “Ada pengungsi yang mengalami batuk dan gatal, namun sudah tertangani berkat relawan dan tim medis. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu,” tuturnya. Corporate Secretary MIND ID Pria Utama menyampaikan bahwa masyarakat kini mulai menemukan asa untuk kembali bangkit dari bencana. Menurutnya, hal ini merupakan perkembangan yang baik, sebab semangat dari masyarakat Adalah modal utama yang perlu dijaga untuk dapat melanjutkan proses pemulihan dan bahkan bangkit dari bencana. “Kami bersama seluruh Anggota akan berupaya semaksimal mungkin memberikan bantuan yang dibutuhkan, bukan hanya untuk evakuasi, tetapi juga bantuan yang mendukung Kesehatan masyarakat agar terus bertahan di masa sulit ini,” sebutnya. Asa masyarakat Aceh dan Sumatra perlahan menyala kembali. Kini saatnya kita bergandengan tangan, memastikan setiap bantuan menjadi harapan nyata agar mereka dapat membangun kembali rumah, kehidupan, dan masa depan yang lebih baik.

Menteri PU Instruksikan Penanganan Jalan Terdampak Bencana di Aceh Tamiang 24 jam Nasional
Nasional
Sabtu, 27 Desember 2025 | 17:37 WIB

Menteri PU Instruksikan Penanganan Jalan Terdampak Bencana di Aceh Tamiang 24 jam

Aceh Tamiang, katakabar.com - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mengintensifkan percepatan penanganan infrastruktur jalan yang terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Fokus utama saat ini tertuju pada pembersihan material lumpur dan sedimentasi yang menutupi satu ruas jalan nasional dan dua ruas jalan daerah. Menteri PU, Dody Hanggodo, saat meninjau langsung lokasi penanganan bencana di Aceh Tamiang, Rabu (24/12) lalu, menekankan urgensi pemulihan akses jalan, terutama di kawasan perkotaan yang menjadi nadi lalu lintas masyarakat. Guna mengejar target pemulihan, Dody menginstruksikan jajarannya untuk menerapkan sistem kerja nonstop dengan pembagian waktu yang efektif agar tidak menghambat aktivitas warga. “Saya minta kita bekerja 24 jam untuk mengejar waktu. Pagi sampai sore mengumpulkan lumpur dari lorong-lorong kanan dan kiri, kemudian malam hingga subuh fokus membersihkan area tengah kota, ada shift kerjanya," tegas Dody di lokasi peninjauan. Prioritas penanganan saat ini dilakukan pada Ruas Jalan Nasional Kota Kuala Simpang hingga Batas Provinsi Sumatera Utara. Meskipun terdampak endapan lumpur yang cukup tebal, Kementerian PU memastikan seluruh jembatan nasional di wilayah Aceh Tamiang dalam kondisi aman dan dapat dilalui kendaraan. Ditargetkan, pembersihan jalan nasional ini dapat rampung dalam waktu singkat, yakni 3 hingga 4 hari ke depan. "Dari batas masuk Kota Tamiang sampai jembatan masih banyak lumpur, saya minta dipercepat. Memang kendalanya di lapangan lalu lintas dari pagi sampai sore sangat kuat, sehingga pekerjaan menjadi lebih sulit, tetapi manfaatkan juga waktu malam," tutur Dody. Hingga saat ini, Kementerian PU telah melakukan penanganan darurat sepanjang kurang lebih 30 kilometer pada jalan nasional tersebut. Tim di lapangan masih berfokus membersihkan sedimentasi di bahu jalan, termasuk tumpukan material sisa pembersihan rumah warga yang berada di sisi jalan. Demi mendukung percepatan tersebut, Kementerian PU telah mengerahkan kekuatan penuh berupa 22 unit alat berat dan 10 unit dump truck di wilayah Aceh Tamiang. Secara rinci, 12 alat berat dan 10 dump truck beroperasi di titik penanganan tertentu, sementara 21 unit alat berat disiagakan khusus di kawasan Kota Kuala Simpang. Meski demikian, Menteri Dody menilai jumlah tersebut masih perlu ditambah untuk memaksimalkan pekerjaan di pusat kota. “Di kota ini alat berat masih kurang, jadi akan kita tambahkan lagi. Saya sudah meminta Kepala Balai Jalan dan Kepala Balai Sumber Daya Air di Medan untuk mencari penyedia jasa alat berat yang bisa kita sewa,” sebutnya. Melalui langkah percepatan dan kerja 24 jam ini, Kementerian PU optimistis fungsi jalan nasional di Aceh Tamiang akan pulih optimal dalam beberapa hari ke depan. Hal ini diharapkan dapat segera menormalkan kembali distribusi logistik serta aktivitas perekonomian masyarakat, khususnya di kawasan pasar dan pertokoan yang juga menjadi prioritas pembersihan. Program kerja ini bagian dari “Setahun Bekerja, Bergerak - Berdampak” menjalankan Asta Cita dari Presiden RI, H Prabowo Subianto.

Kementerian PU Bor 48 Sumur Sediakan Air Bersih dan Sanitasi Bagi Warga di Aceh Tamiang Nasional
Nasional
Sabtu, 27 Desember 2025 | 12:00 WIB

Kementerian PU Bor 48 Sumur Sediakan Air Bersih dan Sanitasi Bagi Warga di Aceh Tamiang

Aceh Tamiang, katakabar.com - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus perkuat komitmen mendukung penanganan pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang. Salah satu prioritas utama kementerian saat ini pastikan ketersediaan sarana air bersih dan sanitasi yang layak bagi masyarakat terdampak bencana. Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menegaskan ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda. Oleh karena itu, Kementerian PU melakukan pengeboran sumur dalam dan sumur dangkal di sekitar 48 titik secara bertahap untuk melengkapi fasilitas Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK). "Kalau sudah tidak ada air, penyakit pasti datang. Setelah urusan jalan dan jembatan mulai membaik, fokus kita berikutnya adalah soal air. Air bersih harus segera tersedia untuk seluruh masyarakat," kata Dody saat melakukan kunjungan kerja di Aceh Tamiang, Rabu (24/12) lalu. Dalam pelaksanaannya, Kementerian PU memprioritaskan pengeboran sumber air dalam. Hal ini dilakukan mengingat kondisi tanah di lokasi pascabencana yang berlumpur menyulitkan pencarian sumber air dangkal yang layak konsumsi. "Kalau lumpur seperti ini agak susah mencari sumber air di bawah 100 meter. Bukan berarti tidak ada, pasti ada, tapi memang lebih sulit. Karena itu saya fokus ke pengeboran sumber air dalam," jelasnya. Untuk mempercepat proses ini, Kementerian PU menerapkan strategi kombinasi, yaitu memperbaiki Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang rusak akibat bencana sekaligus melakukan pengeboran baru di beberapa titik. Upaya ini juga mendapat dukungan penuh dari unsur TNI dan Polri. "Kita kombinasikan perbaikan SPAM yang rusak dengan pengeboran sumber air dalam, supaya air yang keluar benar-benar bisa menjadi air bersih bagi masyarakat," tambahnya. Sembari proses pengeboran berjalan, Kementerian PU melalui Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) telah menyiagakan berbagai sarana darurat di lapangan. Sebanyak 27 unit tangki air bersih atau Hidran Umum (HU) dengan kapasitas 1.000 liter hingga 2.000 liter telah disebar ke sejumlah kecamatan sesuai arahan Bupati Aceh Tamiang. Guna menjamin ketersediaan air, pengisian tangki dilakukan secara rutin dua kali sehari. Selain itu, untuk mendukung kebersihan lingkungan, telah terpasang 13 unit toilet portable dan 10 set toilet knockdown. Fasilitas sanitasi ini dibersihkan rutin pada pagi dan sore hari, didukung oleh satu unit armada truk tinja yang beroperasi keliling melakukan penyedotan. Selain itu, Kementerian PU tengah mengirimkan bantuan tambahan sarana dan prasarana dari Jakarta untuk memperkuat penanganan di Aceh Tamiang. Bantuan tersebut dikirim melalui Pelabuhan Patimban menuju Pelabuhan Belawan, Medan, dan saat ini terpantau berada di perairan Batam di atas Kapal Ostina. Adapun bantuan yang dikirimkan meliputi 2 unit IPA Mobile Setta, 1 unit mobil double cabin, 1 unit mobil sedot tinja, 40 unit HU kapasitas 2.000 liter, 8 unit tenda, 20 unit velbed, 10 unit toilet portable, serta 10 unit mobil tangki air. Langkah komprehensif ini merupakan wujud nyata kehadiran pemerintah melalui Kementerian PU untuk menyediakan sarana air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan bagi masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang di tengah masa pemulihan bencana. Program kerja ini bagian dari “Setahun Bekerja, Bergerak - Berdampak” menjalankan Asta Cita dari Presiden RI, H Prabowo Subianto.

Seluas Ratusan Hektar Kebun Sawit Rusak Diterjang Lumpur dan Kayu Gelondongan di Aceh Tamiang Sawit
Sawit
Jumat, 26 Desember 2025 | 19:00 WIB

Seluas Ratusan Hektar Kebun Sawit Rusak Diterjang Lumpur dan Kayu Gelondongan di Aceh Tamiang

Aceh, katakabar.com - Musibah bencana alam yang terjadi di wilayah Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh menimbulkan kerusakan parah, tak terkecuali kebun kelapa sawit milik masyarakat. Kalau ditaksir kerusakan kebun kelapa tidak hanya puluhan hektar, tetapi mencapai ratusan hektar kebun kelapa sawit yang tertimbun lumpur, dan tersapu kayu gelondongan. Muhammad Irwan yang merupakan Ketua Apkasindo Aceh Tamiang, Muhammad Irwan, dilansir dari laman elaeis.co, Jumat siang, menyampaikan dampak bencana ini sangat besar, dan dirasakan langsung oleh para petani. Menurutnya, banyak tanaman sawit yang mati total disebabkan tertimbun tanah dan material lainnya. “Benar, banyak tanaman mati semua disebabkan tertimbun tanah. Rata-rata masyarakat di Aceh Tamiang petani kebun, dan kebun kelapa sawit menjadi tempat bergantung hidup mereka selama ini,” kata pria menjabat Anggota DPR Kabupaten Aceh Tamiang lewat keterangan resmi, Jumat (26/12). Diinformasikannya, wilayah yang mengalami kerusakan paling parah berada di Kecamatan Bandar Pusaka dan Kecamatan Sekerak. Selain itu, dampak bencana dirasakan di Kecamatan Rantau, Kecamatan Kejuruan Muda, dan Kecamatan Tenggulun. "Bencana ini menjadi pukulan berat bagi perekonomian masyarakat, mengingat hasil panen kelapa sawit sebagai sumber pendapatan utama bagi sebagian besar warga. Hilang kebun berarti hilang mata pencaharian yang selama ini menopang kebutuhan hidup sehari-hari," jelasnya. Ia berharap agar para petani kelapa sawit yang terdampak dapat segera bangkit. Kemudian mendapatkan perhatian dari pihak terkait, khususnya Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). “Harapan kita, pihak BPDP dapat melihat langsung kondisi petani sawit yang sehari-harinya bergantung dari hasil panen. Semoga ada perhatian dan dukungan agar perekonomian petani sawit bisa bangkit kembali,” ucapnya.

Aceh Tamiang Dua Tahun Lagi Punya PLTBm Inovasi Baru Bahan Bakar Jangkos Tekno
Tekno
Kamis, 27 Juli 2023 | 21:01 WIB

Aceh Tamiang Dua Tahun Lagi Punya PLTBm Inovasi Baru Bahan Bakar Jangkos

Semua Orang Bisa Buang ke Sini Aceh Tamiang Dua Tahun Lagi Punya PLTBm Inovasi Baru Pakai Jangkos Kualasimpang, katakabar.com - Perusahaan Listrik Negara (PLN) pilih Kabupaten Aceh Tamiang, persisnya di Kampung Payakulbi Kecamatan Karangbaru jadi lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm). "Proyek ini usung inovasi baru, sebab menggunakan limbah kelapa sawit sebagai bahan produksi," ujar Komisaris Utama PT Primanusa Energi Lestari, Karimun Usman, dilansir dari laman serambinews.com, pada Kamis (27/7). Kata Usman, limbah kelapa sawit atau lebih dikenal khalayak bernama Janjangan Kosong (Jangkos) ini nantinya bisa dipasok dari masyarakat. “Berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 25 tahun 2021 semua orang dapat membuang limbah sawit ke tempat ini,” ulas Usman. General Manager PT PLN Induk Distribusi Aceh, Parulian Noviandri turut mengapresiasi pembangunan ini. Menurutnya, ini bagian dari inovasi menggunakan limbah sawit untuk menjadi bahan bakar di PLTBm. Pembangunan PLTBm ini diinisiasi PTPN 1 dan PT Primanusa Energi Lestari dengan kapasitas terpasang 1×12 MW dari output Generator. Proyek yang dikerjakan BUMN China ini rencananya rampung kurun dua tahun masa pengerjaan. Pj Bupati Aceh Tamiang, Meurah Budiman turut pula memberikan apresiasi. Ia menilai proyek ini bukti daerahnya kondusif sebagai tujuan investasi. “Kami sangat semangat mendukung hadirnya investasi sektor energi baru terbarukan di sini. Kami mendapat laporan, proyek ini aman dan lancar tanpa gangguan. Ini menunjukkan Aceh Tamiang daerah yang kondusif sebagai tujuan investor untuk menanamkan modalnya," jelasnya. Proyek ini sudah mulai dikerjakan ditandai peletakan batu pertama, pada Selasa (25/7) lalu. Pj Bupati Aceh Tamiang optimis pembangunan PLTBm memberikan stimulasi tumbuhnya perekonomian masyarakat bersumber dari energi listrik baru terbarukan. Apalagi nanti bahan yang digunakan untuk menghasilkan energi listrik berasal dari bahan biologis dan organik. "Kepada masyarakat, mari dukung pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) buat kepentingan bersama," serunya.