Kedaulatan Digital Hingga AI bagi Semua: Strategi Membangun Masa Depan Inklusif Teknologi
Teknologi
Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:58 WIB

Kedaulatan Digital Hingga AI bagi Semua: Strategi Membangun Masa Depan Inklusif

Bali, katakabar.com - Ambisi Indonesia dalam bidang kecerdasan buatan (AI) memasuki tahap yang semakin menantang. Pembangunan pusat data, investasi perusahaan teknologi internasional, dan perluasan akses komputasi merupakan langkah penting, tetapi belum menjamin kemandirian teknologi maupun kemakmuran ekonomi.

Membangun Kepercayaan di Tengah Pertumbuhan Ekonomi AI Indonesia Teknologi
Teknologi
Senin, 26 Oktober 2026 | 07:41 WIB

Membangun Kepercayaan di Tengah Pertumbuhan Ekonomi AI Indonesia

Bali, katakabar.com - Jika hari pertama Bali Tech Week menyoroti fondasi infrastruktur digital Indonesia, hari kedua membahas bagaimana memastikan ekonomi digital tetap aman, kompetitif, dan mampu menciptakan nilai jangka panjang

Aturan AI Baru, Bos Teknologi AS Setuju Self-Regulation Dorongan Donald Trump Internasional
Internasional
Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:43 WIB

Aturan AI Baru, Bos Teknologi AS Setuju Self-Regulation Dorongan Donald Trump

Jakarta, katakabar.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumpulkan sejumlah pemimpin perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) di Gedung Putih, Selasa (29/9) lalu. Pertemuan tersebut membahas perkembangan pesat teknologi AI sekaligus meningkatnya kekhawatiran mengenai risiko teknologi yang semakin mampu beroperasi secara mandiri.

AI Bagian Workflow Bisnis, Telkom AI Center Malang Perkuat Kapabilitas Digital Pelaku Usaha Teknologi
Teknologi
Sabtu, 03 Oktober 2026 | 09:30 WIB

AI Bagian Workflow Bisnis, Telkom AI Center Malang Perkuat Kapabilitas Digital Pelaku Usaha

Malang, katakabar.com - Penguatan kemampuan memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) menjadi bagian penting dorong kesiapan bisnis menghadapi perubahan cara kerja di era digital. Melalui AI Upskilling Productivity for Business & SME, Telkom AI Center Malang bersama Nortis AI Academy menghadirkan pembelajaran secara daring mengenai penerapan AI dalam workflow bisnis yang diikuti oleh lebih dari 35 peserta dari berbagai kota di Indonesia. Sesi pembelajaran dibuka M. Ziaelfikar Albaba, BCL (Business and Community Lead) Telkom AI Center Malang & CEO Nortis AI Academy. Ia menekankan pentingnya melihat penerapan AI dari perspektif kebutuhan bisnis. Peserta diajak memahami bahwa pemanfaatan AI tidak semata-mata dilakukan karena fear of missing out (FOMO) atau mengikuti tren teknologi, tetapi perlu dikaitkan dengan proses kerja dan tujuan yang ingin dicapai. Dengan pendekatan tersebut, AI dapat diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung pertumbuhan pendapatan. “Adopsi AI sebaiknya dimulai dari kebutuhan dan proses kerja yang ingin dioptimalkan. Dengan begitu, penggunaan AI tidak sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar bisa memberikan dampak yang terukur bagi bisnis,” ujar M. Ziaelfikar Albaba, BCL (Business and Community Lead) Telkom AI Center Malang sekaligus CEO Nortis AI Academy. Materi kemudian dilanjutkan Rachmat Anggara, Founder & CEO Qasir.id, melalui pembahasan “AI Workflow & Task Analysis”. Dia membagikan pengalaman Qasir.id dalam penerapan AI untuk mendukung operasional perusahaan, termasuk pemanfaatan AI Agent Open Claw sebagai salah satu tools dalam workflow perusahaan. Pengalaman tersebut memberikan gambaran kepada peserta mengenai bagaimana AI dapat diterapkan berdasarkan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam operasional bisnis. Sepanjang sesi pembelajaran, diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan yang membahas penerapan AI Agent untuk mendukung pekerjaan karyawan hingga strategi mengoptimalkan penggunaan token agar pemanfaatan AI tetap efisien. Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa peserta tidak hanya tertarik memahami teknologi secara umum, tetapi juga mulai mempertimbangkan aspek implementasi dan efisiensinya dalam lingkungan kerja. Salah satu peserta juga menyampaikan materi yang diberikan memiliki pembahasan yang mendalam dan mampu menjawab berbagai keraguan yang sebelumnya muncul dalam proses mempertimbangkan adopsi AI untuk bisnis.

Pemanfaatan AI UMKM Indonesia: Cek Hal Ini Agar Bisnis Tidak Tertinggal Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 29 September 2026 | 16:44 WIB

Pemanfaatan AI UMKM Indonesia: Cek Hal Ini Agar Bisnis Tidak Tertinggal

Jakarta, katakabar.com - Studi Small Business Credit Survey yang dirilis oleh Federal Reserve Bank of San Francisco mencatat hampir 40 persen bisnis kecil di Amerika Serikat sudah menggunakan atau berencana menggunakan AI. Penggunaannya paling banyak untuk tugas sehari-hari: menulis materi pemasaran, membalas pesan pelanggan, membuat visual, hingga menganalisis data penjualan.

Hisense Paparkan Strategi Pertumbuhan Berbasis AI Bentuk Era Baru Kehidupan Cerdas Internasional
Internasional
Senin, 27 Juli 2026 | 16:13 WIB

Hisense Paparkan Strategi Pertumbuhan Berbasis AI Bentuk Era Baru Kehidupan Cerdas

Tiongkok, katakabar.com - Hisense sebagai merek global elektronik dan peralatan rumah tangga, perkenalkan strategi pertumbuhan berbasis AI. Bersama strategi ini, Hisense siap memasuki babak baru pengembangan global untuk terus mendorong inovasi, menghadirkan kehidupan yang cerdas, dan menciptakan nilai jangka panjang bagi konsumen. Pada Final FIFA World Cup 2026™ di New York, Hisense menggelar Hisense Global Partner Conference 2026. Momen ini menjadi wadah bagi Hisense untuk merangkul para konsumen dan mitra global dalam memperkenalkan visi masa depan di era AI. “AI telah mengubah segalanya, dan kita semua adalah bagian dari perubahan ini,” ujar Fisher Yu, CEO Hisense Group.  “Di era AI, kita harus menyambut gelombang besar ini. Kami memperkuat strategi perusahaan melalui lima pilar utama: memperluas rekam jejak di seluruh rantai nilai AI; mentransformasi perangkat pintar menjadi pendamping rumah cerdas melalui inovasi skenario berbasis AI; mempertahankan pemasaran olahraga jangka panjang untuk memperkuat merek global; mengutamakan pendekatan berbasis layanan demi meningkatkan pengalaman pengguna; serta  memperdalam glokalisasi guna menciptakan nilai jangka panjang bagi pelanggan dan mitra kami,” imbuhnya. Di dalam pusat strategi, Hisense adalah wujud komitmen jangka panjang dalam perkembangan AI. Hisense tengah membangun ekosistem AI terintegrasi yang mencakup seluruh rantai nilai.  “Ketika kami memetakan Hisense ke dalam arsitektur ini, visi kami jelas membangun kembali seluruh bisnis kami berbasis AI,” jelas Yu. Di saat yang sama, Hisense memacu pertumbuhan di berbagai sektor seperti AI Hub, semikonduktor, energi cerdas, teknologi laser, hingga elektronik otomotif, sembari terus memperkuat lini bisnis perangkat pintarnya.  Bagi konsumen, inovasi ini melahirkan era baru tempat perangkat rumah tangga bertransformasi menjadi pendamping cerdas. Bukan lagi sekadar alat, perangkat ini mampu membaca situasi, memahami preferensi personal, berinteraksi secara alami, dan bertindak secara proaktif.  “Perangkat biasa sekadar menerima instruksi. Sebaliknya, seorang pendamping hadir untuk memahami Anda, membaca kebutuhan Anda, dan menciptakan kehangatan di rumah. Inilah masa depan yang sedang kami bentuk,” pungkas Yu. ​Visi ini telah hadir di seluruh ekosistem Hisense. Didukung V AI OS, TV Hisense dapat membaca keinginan pengguna dan menghadirkan tontonan favorit di saat yang paling pas. Tak hanya untuk hiburan, ekosistem ConnectLife menyatukan berbagai peralatan rumah tangga agar bertindak pintar dalam urusan dapur, perawatan pakaian, kenyamanan udara, hingga penghematan energi. Perpaduan fungsi AI ini menghadirkan kehangatan dan kemudahan baru di tengah keluarga. Berupaya memperkuat merk globalnya, Hisense menyatukan konsumen di seluruh dunia denegan kemitraan olahraga jangka panjang, melalui bahasa universal yang dipahami semua orang.  “Sangat menyenangkan melihat mitra kami terus melangkah ke depan, menawarkan teknologi canggih seperti LED mutakhir, serta mendukung operasional VAR di setiap level pertandingan,” ungkap Romy Gai, Chief Business Officer FIFA. “Harvey Norman sangat mengapresiasi kemitraan dengan Hisense, terutama atas investasi global perusahaan yang berkelanjutan dalam teknologi mutakhir, inovasi, dan penguatan merek,” ucap Haydon Myers, Executive General Manager Electrical, Harvey Norman Australia.  "Komitmen Hisense terhadap standar premium global terbukti lewat kemitraannya di tiga Piala Dunia FIFA berturut-turut. Komitmen jangka panjang inilah yang terus memperkuat merek Hisense sekaligus menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi konsumen, mitra ritel, dan industri secara luas,” imbuhnya. Investasi jangka panjang Hisense di dunia olahraga global tumbuh berdampingan dengan perjalanannya di ranah internasional. Memasuki era baru, di mana AI meredefinisikan berbagai industri, Hisense akan terus menyinergikan teknologi mutakhir, kemitraan global, serta inovasi yang mengedepankan kebutuhan pengguna untuk menciptakan pengalaman hidup cerdas yang lebih bermakna.

Google Bangun Infrastruktur AI dari Energi Matahari, Apa Dampaknya bagi Investor? Tekno
Tekno
Senin, 20 Juli 2026 | 09:30 WIB

Google Bangun Infrastruktur AI dari Energi Matahari, Apa Dampaknya bagi Investor?

Jakarta, katakabar.com - Google kembali pertegas komitmen terhadap transisi energi bersih dengan mengumumkan kerja sama strategis bersama Cypress Creek Energy untuk mengembangkan Steel River Energy Center di negara bagian Arkansas, Amerika Serikat. Proyek ini digadang-gadang akan menjadi proyek tenaga surya terbesar yang pernah didukung Google di Amerika Serikat sekaligus menjadi salah satu investasi energi terbarukan paling signifikan yang dilakukan perusahaan teknologi dalam beberapa tahun terakhir. Langkah tersebut menunjukkan bagaimana kebutuhan energi untuk mendukung perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi salah satu prioritas utama perusahaan-perusahaan teknologi global. Seiring semakin masifnya pembangunan data center AI, kebutuhan terhadap pasokan listrik yang stabil sekaligus rendah emisi juga meningkat secara signifikan. Dalam proyek ini, Google menandatangani Virtual Power Purchase Agreement (VPPA) dengan Cypress Creek Energy. Melalui skema tersebut, Google akan menyerap 100% produksi listrik pada tahap awal proyek ketika mulai beroperasi pada tahun 2029. VPPA sendiri merupakan mekanisme pembelian listrik jangka panjang yang banyak digunakan perusahaan untuk mendukung pembangunan energi terbarukan tanpa harus membeli listrik secara langsung dari fasilitas pembangkit. Steel River Energy Center akan dikembangkan dalam dua tahap dengan kapasitas akhir mencapai 2,5 gigawatt (GW) tenaga surya serta didukung oleh 2,9 gigawatt-hour (GWh) sistem penyimpanan baterai. Dengan kapasitas sebesar itu, proyek ini diperkirakan mampu memasok kebutuhan listrik lebih dari 315.000 rumah setiap tahunnya. Keberadaan sistem penyimpanan baterai juga menjadi elemen penting dalam proyek ini. Energi surya bersifat intermiten karena hanya dapat menghasilkan listrik saat matahari bersinar. Dengan dukungan baterai berkapasitas besar, listrik yang dihasilkan pada siang hari dapat disimpan dan digunakan kembali ketika permintaan meningkat atau saat produksi tenaga surya menurun. Hal tersebut membuat pasokan energi menjadi lebih stabil bagi jaringan listrik maupun operasional data center. Bagi Google, proyek ini bukan hanya menjadi bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan, tetapi juga merupakan langkah penting dalam memenuhi kebutuhan energi untuk ekspansi layanan AI yang berkembang sangat pesat. Beberapa tahun terakhir, Google terus meningkatkan investasi pada infrastruktur AI, mulai dari pengembangan model kecerdasan buatan hingga pembangunan data center baru di berbagai wilayah Amerika Serikat dan negara lainnya. Data center AI membutuhkan konsumsi listrik yang jauh lebih besar dibandingkan pusat data konvensional. Proses pelatihan model AI skala besar, komputasi cloud, hingga layanan generative AI memerlukan ribuan unit prosesor yang beroperasi tanpa henti. Kondisi tersebut membuat perusahaan teknologi berlomba-lomba mengamankan sumber energi jangka panjang yang andal sekaligus ramah lingkungan. Google bukan satu-satunya perusahaan yang mengambil langkah serupa. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah hyperscalers seperti Microsoft, Amazon, dan Meta juga meningkatkan investasi pada pembangkit energi terbarukan maupun pembelian listrik melalui skema power purchase agreement (PPA). Persaingan di sektor AI secara tidak langsung telah mendorong peningkatan investasi pada proyek energi bersih berskala besar di Amerika Serikat. Fenomena ini juga menjadi sinyal penting bagi investor. Permintaan energi yang terus meningkat akibat perkembangan AI diperkirakan akan membuka peluang pertumbuhan bagi berbagai sektor, mulai dari perusahaan utilitas, pengembang energi terbarukan, produsen panel surya, produsen baterai, hingga perusahaan penyedia infrastruktur jaringan listrik. Selain mendukung target dekarbonisasi perusahaan, investasi seperti Steel River Energy Center turut memperkuat posisi energi terbarukan sebagai salah satu pilar utama ekonomi digital di masa depan. Seiring meningkatnya kebutuhan komputasi AI, keberhasilan perusahaan teknologi dalam mengamankan pasokan listrik bersih dapat menjadi faktor penting dalam menjaga efisiensi operasional sekaligus memenuhi target keberlanjutan yang semakin menjadi perhatian investor global. Bagi pasar modal, langkah Google juga memberikan gambaran mengenai arah investasi jangka panjang perusahaan teknologi. Belanja modal (capital expenditure) tidak lagi hanya difokuskan pada pengembangan perangkat lunak atau infrastruktur digital, tetapi juga mulai merambah pembangunan aset fisik berupa pembangkit listrik dan fasilitas penyimpanan energi. Hal ini menunjukkan bahwa AI kini tidak hanya menjadi tema teknologi, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor energi, konstruksi, dan manufaktur. Di tengah transformasi tersebut, investor dapat memanfaatkan perkembangan pasar global sebagai bagian dari strategi diversifikasi investasi. Pergerakan saham perusahaan teknologi Amerika Serikat yang aktif mengembangkan AI maupun sektor energi bersih menjadi salah satu indikator yang banyak diperhatikan pelaku pasar. Pergerakan Saham Amerika Serikat, aset kripto, dan Emas Digital saat ini dapat kamu pantau melalui aplikasi Nanovest. Bagi masyarakat yang ingin mulai berinvestasi di saham Amerika Serikat maupun mengeksplorasi berbagai aset kripto, Nanovest dapat menjadi pilihan aplikasi investasi yang terpercaya dan aman bagi investor di Indonesia. Investor pemula juga tidak perlu khawatir karena aset yang tersimpan di aplikasi Nanovest mendapatkan perlindungan terhadap risiko cybercrime melalui Asuransi Sinarmas. Selain itu, Nanovest telah resmi terdaftar dan berlisensi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga memberikan rasa aman bagi pengguna dalam melakukan aktivitas investasi.

Wall Street Melesat Berkat AI, Investor Kini Waspadai Tiga Katalis Besar Ekonomi
Ekonomi
Minggu, 19 Juli 2026 | 14:05 WIB

Wall Street Melesat Berkat AI, Investor Kini Waspadai Tiga Katalis Besar

Jakarta, katakabar.com - Pasar saham Amerika Serikat kembali menunjukkan performa impresif dengan indeks-indeks utama bergerak mendekati rekor tertinggi sepanjang masa. Optimisme investor masih didorong oleh pesatnya perkembangan industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), yang terus menjadi motor utama reli saham teknologi sepanjang tahun ini. Tetapi di balik sentimen positif tersebut, pasar juga mulai menghadapi sejumlah risiko baru yang berpotensi meningkatkan volatilitas dalam jangka pendek. Salah satu sorotan utama datang dari debut perdagangan SK Hynix yang mencatat kenaikan sekitar 13 perseb setelah berhasil menghimpun dana lebih dari US$26 miliar. Kinerja tersebut menjadi salah satu penawaran yang paling mendapat perhatian investor dan memperkuat keyakinan bahwa sektor AI masih menjadi destinasi utama aliran modal global. Keberhasilan SK Hynix juga mencerminkan tingginya permintaan terhadap perusahaan yang berada dalam rantai pasok semikonduktor AI. Produsen chip memori berperforma tinggi saat ini memainkan peran penting dalam mendukung kebutuhan komputasi untuk pusat data, model AI generatif, hingga layanan cloud computing. Tidak mengherankan jika investor terus memburu saham-saham yang memiliki eksposur terhadap tren AI global. Reli sektor teknologi turut mendorong S&P 500 bertahan di dekat level tertinggi sepanjang sejarah. Hingga saat ini, indeks acuan tersebut telah mencatat kenaikan sekitar 10 persen sejak awal tahun (year-to-date). Penguatan tersebut didorong oleh kinerja sejumlah perusahaan teknologi besar yang terus menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan laba di tengah tingginya permintaan terhadap solusi berbasis AI. Tetapi, sejumlah analis mengingatkan bahwa reli pasar saat ini memasuki fase yang semakin sensitif terhadap berbagai katalis baru. Setelah sebelumnya didominasi oleh optimisme terhadap AI, perhatian investor kini mulai bergeser ke faktor-faktor makroekonomi dan geopolitik yang dapat memengaruhi arah pasar dalam beberapa bulan ke depan. Salah satu risiko yang kembali menjadi perhatian adalah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global, terutama apabila terjadi gangguan pada jalur distribusi minyak di Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute perdagangan energi paling penting di dunia. Jika konflik terus meningkat, harga minyak berpotensi kembali mengalami lonjakan. Kenaikan harga energi tidak hanya berdampak pada sektor komoditas, tetapi juga dapat memicu tekanan inflasi yang lebih tinggi di Amerika Serikat maupun negara-negara lain. Kondisi tersebut menjadi perhatian utama investor karena berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral. Dalam situasi seperti ini, Federal Reserve diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait suku bunga. Jika inflasi kembali meningkat akibat kenaikan harga energi, peluang penurunan suku bunga dapat semakin tertunda. Skenario higher for longer, yaitu mempertahankan suku bunga tinggi dalam periode yang lebih panjang, kembali menjadi salah satu ekspektasi yang diperhitungkan pasar. Selain perkembangan geopolitik, pasar juga akan memasuki periode penting musim laporan keuangan perusahaan atau earnings season. Sejumlah bank besar seperti JPMorgan Chase dan Goldman Sachs dijadwalkan merilis laporan keuangan dalam waktu dekat. Hasil kinerja kedua institusi tersebut akan menjadi indikator awal mengenai kondisi sektor keuangan Amerika Serikat serta prospek aktivitas ekonomi pada paruh kedua tahun ini. Selain itu, investor juga akan mencermati laporan keuangan perusahaan-perusahaan teknologi yang selama ini menjadi penggerak utama reli Wall Street. Ekspektasi terhadap pertumbuhan pendapatan dan belanja AI masih sangat tinggi sehingga setiap indikasi perlambatan berpotensi memicu aksi ambil untung (profit taking) di sektor teknologi. Di sisi makroekonomi, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat. Kedua indikator inflasi tersebut akan memberikan gambaran mengenai arah tekanan harga di tingkat konsumen maupun produsen. Apabila data inflasi kembali menunjukkan kenaikan di atas ekspektasi pasar, investor kemungkinan akan merevisi proyeksi terhadap kebijakan The Fed. Sebaliknya, jika inflasi terus menunjukkan tren moderasi, peluang pelonggaran kebijakan moneter dapat kembali terbuka dan menjadi sentimen positif bagi pasar saham. Kombinasi antara perkembangan AI, kondisi geopolitik, musim laporan keuangan, serta data inflasi menjadikan beberapa pekan ke depan sebagai periode yang sangat menentukan bagi arah pasar global. Investor diperkirakan akan menghadapi volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, sehingga strategi pengelolaan risiko menjadi semakin penting. Bagi investor Indonesia yang ingin mengikuti dinamika pasar global, perkembangan saham Amerika Serikat, aset kripto, dan emas digital dapat dipantau secara langsung melalui aplikasi Nanovest. Platform ini memberikan akses bagi pengguna untuk memonitor berbagai instrumen investasi global dalam satu aplikasi yang mudah digunakan. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Saham AS, Nanovest dapat menjadi pilihan untuk memulai investasi sekaligus mengeksplorasi aset kripto lainnya. Nanovest merupakan aplikasi investasi saham dan kripto yang terpercaya dan aman bagi investor Indonesia. Bagi investor yang baru memulai perjalanan investasinya, tidak perlu khawatir karena aset yang dimiliki mendapatkan perlindungan dari risiko cybercrime melalui Asuransi Sinarmas. Tidak cuma itu, Nanovest telah resmi terdaftar dan berlisensi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga memberikan keamanan dan kenyamanan dalam berinvestasi. Informasi lebih lanjut mengenai layanan Nanovest dapat diakses melalui www.nanovest.io, sementara aplikasinya telah tersedia di Google Play Store maupun Apple App Store. Di tengah kuatnya optimisme terhadap AI, investor tetap perlu memperhatikan berbagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi pasar. Kombinasi antara euforia teknologi, perkembangan geopolitik, musim laporan keuangan, dan data inflasi akan menjadi penentu utama arah Wall Street dalam beberapa waktu mendatang. Pendekatan investasi yang disiplin, berbasis fundamental, serta pemantauan pasar secara berkala akan menjadi kunci dalam menghadapi dinamika tersebut.

B2B Tech Asia Expo 2026 Resmi Digelar di Jakarta, Tegaskan AI Fondasi Utama Bisnis di Asia Tenggara Internasional
Internasional
Senin, 13 Juli 2026 | 11:52 WIB

B2B Tech Asia Expo 2026 Resmi Digelar di Jakarta, Tegaskan AI Fondasi Utama Bisnis di Asia Tenggara

Jakarta, katakabar.com - Pameran dua hari yang dihelat VRIGroup bersama DailySocial ini mempertemukan lebih dari 2.800 pemimpin bisnis, penyedia software, pengembang AI, dan investor dari berbagai negara Asia. B2B Tech Asia Expo 2026 (BTA '26) resmi digelar pada 1 hingga 2 Juli 2026 lalu, di AXA Tower, Kuningan City Grand Ballroom, Jakarta, membawa pesan bahwa kecerdasan buatan (AI) dan software kini menjadi fondasi utama operasional perusahaan di Asia Tenggara. Pameran ini mempertemukan pemimpin perusahaan, penyedia software, pengembang AI, investor, hingga eksekutif transformasi digital dari berbagai negara di kawasan. Angkat tema "The Dawn of Asia's B2B Tech Mega Market", BTA '26 menyoroti meningkatnya investasi perusahaan pada otomatisasi, kecerdasan operasional, komputasi awan, serta platform produktivitas berbasis AI. Dua hari penyelenggaraan berhasil menarik sekitar 3.000 pengunjung yang mengikuti rangkaian keynote dan diskusi panel seputar adopsi AI di perusahaan, transformasi tenaga kerja, skalabilitas software, hingga pemanfaatan data dalam operasional bisnis. Pendiri sekaligus CEO VRIGroup, Yuiichiro Sasaki, menyampaikan Asia Tenggara telah melewati fase awal digitalisasi dan kini memasuki periode ketika integrasi AI dan software menjadi kebutuhan mendasar bagi perusahaan untuk beroperasi dan bertumbuh. Menurutnya, penyelenggaraan BTA '26 menjadi bukti bahwa pasar solusi B2B di kawasan ini telah benar-benar terbentuk. Sejalan hal itu, Pendiri dan CEO DailySocial Group, Rama Mamuaya, menjelaskan bahwa BTA '26 hadir sebagai ruang bagi perusahaan untuk mengevaluasi berbagai solusi AI dan software yang dibutuhkan dalam meningkatkan produktivitas bisnis mereka. Seiring semakin matangnya pasar software global, Asia Tenggara dinilai menjadi kawasan ekspansi baru bagi perusahaan teknologi B2B. Hal ini didorong oleh besarnya jumlah tenaga kerja digital, percepatan digitalisasi perusahaan, serta meningkatnya kebutuhan akan efisiensi operasional berbasis AI. Kini, AI tidak lagi diposisikan sebagai teknologi pelengkap, melainkan sebagai infrastruktur inti yang mendukung layanan pelanggan, operasional sumber daya manusia, keuangan, analitik, keamanan siber, hingga produktivitas perusahaan secara menyeluruh. Selain sesi konferensi, BTA '26 juga menghadirkan area pameran yang memperkenalkan berbagai solusi bisnis mulai dari platform AI, software enterprise, layanan cloud, HR tech, infrastruktur fintech, solusi keamanan siber, hingga teknologi otomasi dari perusahaan regional maupun internasional. Penyelenggaraan hari kedua berfokus pada strategi perluasan inovasi perusahaan, operasional software lintas negara, sesi business matchmaking, serta perkembangan ekosistem teknologi perusahaan di Asia.