Apple

Sorotan terbaru dari Tag # Apple

Apple Masuk ke Pasar Foldable, Bisakah iPhone Duo Saingi Samsung? Teknologi
Teknologi
Selasa, 15 September 2026 | 10:28 WIB

Apple Masuk ke Pasar Foldable, Bisakah iPhone Duo Saingi Samsung?

Jakarta, katakabar.com - Persaingan di industri smartphone semakin menarik setelah Samsung mengungkap adanya peningkatan signifikan jumlah pengguna iPhone yang beralih ke perangkat foldable Galaxy. Momentum ini datang tepat ketika Apple akhirnya memasuki pasar smartphone lipat dengan memperkenalkan iPhone Duo pada September 2026. Kondisi tersebut membuka babak baru persaingan dua raksasa teknologi. Samsung selama bertahun-tahun telah membangun posisi di pasar foldable, sementara Apple baru mulai masuk ke segmen tersebut. Bagi investor, perkembangan ini juga menjadi perhatian karena keberhasilan atau kegagalan produk foldable berpotensi memengaruhi prospek bisnis serta pergerakan saham kedua perusahaan. Pengguna iPhone Mulai Beralih ke Samsung Samsung menyebut tingkat perpindahan pengguna iOS ke seri Galaxy Z Fold8 mencapai 1,6 kali lebih tinggi dibandingkan tingkat perpindahan ke generasi Fold7 dan Flip7 tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa perangkat foldable Samsung mulai memiliki daya tarik yang lebih besar di kalangan pengguna iPhone. Di Amerika Serikat, sekitar 30% pembeli Galaxy Z Flip8 disebut berasal dari pengguna perangkat merek lain. Menariknya, sebagian besar dari mereka merupakan konsumen yang baru pertama kali membeli smartphone foldable. Samsung juga berupaya membuat proses perpindahan dari iPhone menjadi lebih mudah. Melalui pembaruan fitur Smart Switch, pengguna iPhone dapat memindahkan data ke perangkat Galaxy menggunakan pemindaian kode QR tanpa perlu memasang aplikasi tambahan. Langkah tersebut menjadi strategi penting bagi Samsung karena salah satu hambatan terbesar dalam berpindah ekosistem adalah proses transfer data dan adaptasi terhadap sistem operasi baru. Samsung Punya Keunggulan sebagai Pelopor Samsung mulai memasuki pasar foldable pada 2019 melalui Galaxy Fold. Artinya, perusahaan Korea Selatan tersebut memiliki pengalaman sekitar tujuh tahun dalam mengembangkan dan memasarkan perangkat dengan layar lipat. Keunggulan sebagai pelopor memungkinkan Samsung memiliki waktu lebih panjang untuk mengembangkan desain, mekanisme engsel, software, serta pengalaman pengguna pada perangkat foldable. Apple kini harus menghadapi tantangan untuk mengejar pengalaman tersebut. Namun, masuknya Apple ke pasar foldable juga dapat memperluas ukuran pasar secara keseluruhan karena basis pengguna iPhone yang sangat besar. Menurut Counterpoint Research, Samsung diproyeksikan tetap memimpin pasar foldable pada 2026 dengan pangsa sekitar 32%, sedangkan Apple diperkirakan langsung mengambil sekitar 25% setelah memasuki pasar tersebut. Huawei juga masih menjadi pemain penting, khususnya di pasar China. Apple Akhirnya Hadirkan iPhone Duo Setelah bertahun-tahun menjadi bahan rumor, Apple akhirnya memperkenalkan perangkat foldable pertamanya yang diberi nama iPhone Duo pada acara 9 September 2026. Perangkat tersebut dibanderol mulai US$1.999 untuk kapasitas 256 GB dan mencapai US$3.199 untuk varian 2 TB. iPhone Duo memiliki layar internal berukuran sekitar 7,6 inci dan layar eksternal 5,4 inci dengan bodi berbahan titanium. Harga tersebut menjadikan iPhone Duo sebagai salah satu perangkat paling premium yang pernah diperkenalkan Apple. Pre-order dijadwalkan dimulai pada 16 Oktober, sementara penjualan perdana berlangsung pada 23 Oktober di Amerika Serikat dan lebih dari 70 negara lainnya. Peluncuran tersebut juga menjadi momen penting bagi CEO baru Apple, John Ternus, yang baru menggantikan Tim Cook pada 1 September 2026. Karena itu, iPhone Duo bukan hanya produk baru, tetapi juga menjadi salah satu ujian awal bagi arah Apple di bawah kepemimpinan baru. Saham Apple Menghadapi Efek “Sell the News” Meski peluncuran iPhone Duo menjadi perhatian besar, reaksi pasar terhadap saham Apple tidak langsung positif. Saham Apple ditutup di sekitar US$315,34, turun 0,28% setelah acara peluncuran. Pola tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Analis Bank of America Wamsi Mohan mencatat bahwa saham Apple pernah turun pada hari setelah peluncuran produk dalam 10 dari 24 acara sebelumnya. Fenomena ini sering disebut sebagai “sell the news”, ketika investor yang telah membeli saham berdasarkan ekspektasi positif sebelum sebuah acara memilih merealisasikan keuntungan setelah katalis tersebut benar-benar terjadi. Tetapi, secara historis, penurunan tersebut tidak selalu berlangsung lama. Data yang dikutip Yahoo Finance menunjukkan bahwa pergerakan saham Apple dalam pola serupa cenderung berbalik dalam rentang sekitar 30 hingga 60 hari. Persaingan Foldable Jadi Katalis Baru Persaingan antara Samsung dan Apple di pasar foldable menjadi menarik karena keduanya memiliki kekuatan yang berbeda. Samsung memiliki pengalaman lebih panjang serta portofolio foldable yang sudah berkembang. Sementara itu, Apple mempunyai basis pengguna iPhone yang sangat besar dan ekosistem produk yang terintegrasi. Jika Apple mampu meyakinkan pengguna iPhone untuk melakukan upgrade ke iPhone Duo, perangkat tersebut berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru. Sebaliknya, jika konsumen tetap memilih perangkat Samsung karena harga, pengalaman foldable, atau fleksibilitas Android, Samsung berpeluang mempertahankan keunggulannya. Bagi investor, perkembangan ini menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan karena persaingan produk dapat berdampak pada penjualan, pendapatan, hingga sentimen terhadap saham perusahaan teknologi. Pantau Saham AS dan Aset Investasi di Nanovest Pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Saham AS, Nanovest dapat menjadi pilihan untuk mulai berinvestasi sekaligus mengeksplorasi berbagai koin kripto lainnya. Nanovest merupakan aplikasi investasi saham dan kripto yang dapat menjadi pilihan bagi investor di Indonesia. Bagi para investor yang baru ingin memulai berinvestasi, kamu juga tidak perlu khawatir karena Nanovest memiliki perlindungan dari risiko cybercrime dengan Asuransi Sinarmas. Nanovest berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi lebih lanjut dapat kamu kunjungi melalui www.nanovest.io. Aplikasi Nanovest juga sudah tersedia di Play Store maupun App Store, sehingga investor dapat mengakses berbagai pilihan aset investasi melalui satu aplikasi. Persaingan Apple dan Samsung di pasar foldable pada akhirnya bukan hanya soal siapa yang memiliki teknologi layar lipat terbaik. Perkembangan ini juga menjadi gambaran bagaimana perusahaan teknologi besar terus mencari sumber pertumbuhan baru di tengah pasar smartphone yang semakin kompetitif. Bagi investor, respons konsumen terhadap iPhone Duo dan kemampuan Samsung mempertahankan pengguna iPhone akan menjadi cerita yang menarik untuk dipantau sepanjang 2026.

Palantir dan Apple Jadi Sorotan, Saham Teknologi AS Masih Punya Katalis Pertumbuhan Teknologi
Teknologi
Sabtu, 12 September 2026 | 15:20 WIB

Palantir dan Apple Jadi Sorotan, Saham Teknologi AS Masih Punya Katalis Pertumbuhan

Jakarta, katakabar.com - Saham teknologi Amerika Serikat kembali menjadi perhatian investor seiring munculnya sejumlah katalis baru dari perusahaan besar seperti Palantir Technologies (PLTR) dan Apple (AAPL). Di satu sisi, Palantir terus memperkuat posisinya di industri kecerdasan buatan (AI) melalui ekspansi kerja sama dengan perusahaan besar. Di sisi lain, Apple bersiap memasuki fase baru dengan peluncuran produk terbarunya yang berpotensi menjadi kejutan bagi pasar. Kedua perusahaan tersebut menunjukkan bagaimana perkembangan AI, inovasi teknologi, dan ekspansi bisnis masih menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan saham teknologi AS. Namun, di balik prospek pertumbuhan tersebut, investor juga perlu mencermati valuasi saham yang sudah relatif tinggi. Palantir Perkuat Bisnis AI Lewat Kemitraan Enterprise Palantir kembali menunjukkan pertumbuhan yang kuat setelah membukukan salah satu kuartal terbaik dalam sejarah perusahaan. Pada kuartal kedua 2026, pendapatan Palantir mencapai US$1,935 miliar, meningkat 93% secara tahunan. Bisnis perusahaan di Amerika Serikat juga mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 115% menjadi US$1,573 miliar. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap platform AI dan data analytics milik Palantir, baik dari sektor pemerintah maupun perusahaan komersial. Pendapatan komersial AS bahkan tumbuh 149% secara tahunan, sementara pendapatan dari pemerintah AS meningkat 90%. Palantir juga mencatat US$2,132 miliar dalam commercial bookings di AS selama kuartal tersebut. Angka ini hampir US$800 juta lebih tinggi dibandingkan rekor sebelumnya. Perusahaan turut membukukan adjusted free cash flow sebesar US$1,22 miliar dengan margin mencapai 63%. Kerja Sama dengan PwC Jadi Katalis Baru Momentum pertumbuhan Palantir semakin diperkuat melalui ekspansi kerja sama dengan PwC U.S. Pada 3 September 2026, kedua perusahaan mengumumkan perluasan aliansi strategis yang berfokus pada penggunaan AI untuk berbagai kebutuhan enterprise, termasuk merger dan akuisisi serta modernisasi sistem ERP. Keduanya juga memperkenalkan platform transaksi berbasis AI yang dibangun menggunakan Foundry dan Palantir AI Platform (AIP). Teknologi tersebut ditujukan untuk membantu perusahaan menyelesaikan proses merger, akuisisi, dan divestasi dengan lebih cepat sekaligus menekan biaya transaksi. Palantir sebelumnya juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan dan institusi besar, termasuk Nvidia serta Angkatan Darat Amerika Serikat. Serangkaian kemitraan ini memperkuat posisi Palantir dalam ekosistem AI yang semakin berkembang. Meski fundamental bisnisnya kuat, valuasi tetap menjadi perhatian. Dengan kapitalisasi pasar sekitar US$419 miliar, saham Palantir telah menghasilkan kenaikan yang sangat besar sejak IPO. Kondisi tersebut membuat investor perlu mempertimbangkan apakah pertumbuhan bisnis perusahaan masih cukup cepat untuk membenarkan valuasi sahamnya. Apple Bersiap Hadirkan Kejutan September Sementara itu, perhatian investor juga tertuju pada Apple menjelang acara peluncuran produk pada 9 September 2026. Acara yang diberi nama “Surprise and Shine” tersebut diperkirakan menjadi salah satu momen penting bagi Apple, terutama karena merupakan peluncuran produk besar pertama di bawah CEO baru, John Ternus. Apple diperkirakan memperkenalkan lini iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max. Namun, salah satu rumor terbesar adalah kemungkinan hadirnya iPhone lipat pertama Apple. Perangkat tersebut berpotensi menjadi produk baru yang membawa Apple masuk lebih jauh ke pasar smartphone foldable. Saham Apple sendiri telah mencatat performa positif sepanjang 2026. Menjelang acara tersebut, saham Apple dilaporkan telah naik hampir 21% secara year-to-date dan mengungguli pasar secara keseluruhan. Jika iPhone lipat benar-benar diperkenalkan, produk tersebut dapat menjadi katalis pertumbuhan baru bagi Apple. Tetapi, investor tetap akan memperhatikan harga, penerimaan konsumen, serta seberapa besar kontribusinya terhadap pendapatan perusahaan. Dua Strategi Berbeda di Era AI Palantir dan Apple menunjukkan dua pendekatan berbeda dalam menghadapi perubahan industri teknologi. Palantir secara langsung memanfaatkan pertumbuhan AI dengan menyediakan platform data dan kecerdasan buatan bagi perusahaan serta pemerintah. Sementara itu, Apple lebih mengandalkan kekuatan ekosistem hardware dan software, sekaligus berupaya mempercepat inovasi AI dan menghadirkan kategori produk baru. Bagi investor, perkembangan kedua saham ini menunjukkan bahwa peluang di sektor teknologi tidak hanya datang dari perusahaan yang membangun AI, tetapi juga dari perusahaan yang mampu mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam produk dan layanan mereka. Meski demikian, performa bisnis yang kuat tidak selalu berarti harga saham akan terus naik. Investor tetap perlu mempertimbangkan valuasi, kondisi pasar, prospek pertumbuhan, serta risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Pantau Saham Teknologi AS di Nanovest Pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Saham AS, Nanovest dapat menjadi pilihan untuk mulai berinvestasi sekaligus mengeksplorasi berbagai koin kripto lainnya. Nanovest aplikasi investasi saham dan kripto yang dapat menjadi pilihan bagi investor di Indonesia. Bagi investor yang baru ingin memulai berinvestasi, kamu juga tidak perlu khawatir karena Nanovest memiliki perlindungan dari risiko cybercrime dengan Asuransi Sinarmas. Nanovest berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi lebih lanjut dapat kamu kunjungi melalui website Nanovest. Bagi para penggiat investasi yang ingin menggunakan Nanovest, aplikasinya juga sudah tersedia di Play Store maupun App Store. Dengan perkembangan AI yang semakin pesat dan inovasi produk yang terus bermunculan, saham seperti Palantir dan Apple masih akan menjadi perhatian investor. Namun, memahami fundamental perusahaan dan risiko tetap menjadi langkah penting sebelum menentukan strategi investasi.

Kolaborasi Apple dan Google Dikonfirmasi, Sentimen Saham Teknologi Menguat Internasional
Internasional
Kamis, 15 Januari 2026 | 13:09 WIB

Kolaborasi Apple dan Google Dikonfirmasi, Sentimen Saham Teknologi Menguat

Jakarta, katakabar.com - Apple resmi mengonfirmasi kerja sama teknologi dengan Google. Langkah strategis ini dinilai berdampak pada saham Apple, Alphabet, dan arah industri AI global. Apple Inc., salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, baru-baru ini mengonfirmasi langkah strategis penting dengan memperkuat hubungan kerjasama teknologi bersama Google. Informasi ini telah menjadi sorotan para investor global karena dampaknya yang luas terhadap ekosistem teknologi, termasuk di pasar modal Amerika Serikat. Menurut laporan terbaru dari Yahoo Finance, Apple akan menggunakan teknologi Google termasuk dukungan AI dan mesin pencari dalam fitur-fitur barunya, seperti Siri dan integrasi mesin pencari pada perangkat iOS mendatang. Kolaborasi multiyear ini menunjukkan bahwa Apple menghormati keahlian Google dalam kecerdasan buatan dan infrastruktur pencarian di internet, sekaligus mendukung pengalaman pengguna di perangkat Apple. Apa yang Dimaksud dengan Kolaborasi Apple dan Google? Kerja sama ini mencakup pemanfaatan teknologi Google untuk memperkuat kemampuan Siri dan proses pencarian menggunakan AI. Model AI seperti Google Gemini dipilih Apple untuk menghadirkan performa yang jauh lebih cepat dalam memahami permintaan pengguna, mengatasi kelemahan kompetitif yang selama ini melekat pada Siri dibanding kompetitor lain seperti Google Assistant atau bahkan ChatGPT. Langkah ini bukan sekadar penguatan fitur: ia mencerminkan perubahan paradigma di dunia teknologi. Apple yang sebelumnya selalu menekankan in-house development kini akhirnya menggandeng perusahaan lain dalam aspek inti pengalaman pengguna. Bukan hanya soal fitur, ini juga berdampak pada persepsi investor terhadap nilai saham Apple serta saham perusahaan teknologi lain. Dampaknya ke Saham Teknologi Kabar ini langsung memengaruhi pergerakan saham Apple dan Google di pasar AS. Pasar modal sangat peka terhadap berita strategis yang berpotensi mendongkrak pertumbuhan pendapatan atau mengubah pandangan industri jangka panjang. Misalnya, pasar saham Alphabet (perusahaan induk Google) diperkirakan sempat mencapai valuasi lebih dari US$4 triliun setelah berita itu dirilis, memberikan sentimen positif bagi pemegang saham teknologi. Sementara itu, saham Apple tetap dipantau ketat karena investor menilai keputusan ini sebagai sinyal kuat bahwa AI akan menjadi kompetisi inti industri selama dekade berikutnya. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa sektor teknologi tetap menjadi pendorong utama indeks saham Amerika Serikat seperti NASDAQ dan S&P 500. Dengan banyak perusahaan besar seperti Apple, Google, Microsoft, dan Amazon yang terlibat dalam pengembangan AI, para investor global terus mengamati bagaimana tren ini berkembang di tahun-tahun mendatang. Apa Artinya bagi Investor di Indonesia? Bagi para investor di Indonesia yang ingin mengikuti pergerakan pasar AS, asset kripto, ataupun emas digital, berita seperti ini penting untuk dipantau secara berkala karena bisa memengaruhi tren aliran modal global. Pergerakan saham teknologi yang berfluktuasi sering kali bergerak seiring dinamika investasi kripto dan emas digital sebagai aset alternatif. ✨ Pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Aset Kripto, Nanovest dapat menjadi pilihan kamu untuk mulai berinvestasi dan eksplor koin kripto lainnya, sebuah aplikasi investasi saham & kripto yang terpercaya dan aman yang dapat menjadi pilihan terbaik bagi para investor di Indonesia. Bagi para investor yang baru ingin memulai berinvestasi tidak perlu khawatir karena, Karena cuma di aplikasi ini aset kamu terproteksi dari risiko cybercrime dengan Asuransi Sinarmas. Nanovest secara resmi telah terdaftar dan berlisensi resmi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi lebih lanjut silahkan kunjungi web kami di www.nanovest.io. Bagi para penggiat investasi yang ingin menggunakan Nanovest, aplikasi ini sudah tersedia di Play Store maupun App Store Anda. Menjaga Portofolio di Era AI Investasi pintar selalu dimulai dari pemahaman yang baik tentang tren pasar global seperti kolaborasi Apple–Google ini. AI bukan lagi sekadar janji teknologi masa depan, tetapi telah menjadi driver pertumbuhan nyata yang memengaruhi keputusan investor. Saham Apple dan Google, serta saham teknologi lainnya, sering kali menjadi barometer sentimen pasar global. Sementara itu, aset kripto dan emas digital menyediakan diversifikasi penting bagi portofolio investor yang ingin melindungi nilai dari volatilitas pasar saham ataupun inflasi ekonomi. Nanovest memudahkan pengguna untuk melakukan pengamatan real-time terhadap ketiga kelas aset tersebut di satu platform.

Kolaborasi Apple dan Google Dikonfirmasi, Sentimen Saham Teknologi Menguat Tekno
Tekno
Kamis, 15 Januari 2026 | 12:00 WIB

Kolaborasi Apple dan Google Dikonfirmasi, Sentimen Saham Teknologi Menguat

Jakarta, katakabar.com - Apple resmi mengonfirmasi kerja sama teknologi dengan Google. Langkah strategis ini dinilai berdampak pada saham Apple, Alphabet, dan arah industri AI global. Apple Inc., salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, baru-baru ini mengonfirmasi langkah strategis penting dengan memperkuat hubungan kerjasama teknologi bersama Google. Informasi ini telah menjadi sorotan para investor global karena dampaknya yang luas terhadap ekosistem teknologi, termasuk di pasar modal Amerika Serikat. Menurut laporan terbaru dari Yahoo Finance, Apple akan menggunakan teknologi Google termasuk dukungan AI dan mesin pencari dalam fitur-fitur barunya, seperti Siri dan integrasi mesin pencari pada perangkat iOS mendatang. Kolaborasi multiyear ini menunjukkan bahwa Apple menghormati keahlian Google dalam kecerdasan buatan dan infrastruktur pencarian di internet, sekaligus mendukung pengalaman pengguna di perangkat Apple. Apa yang Dimaksud dengan Kolaborasi Apple dan Google? Kerja sama ini mencakup pemanfaatan teknologi Google untuk memperkuat kemampuan Siri dan proses pencarian menggunakan AI. Model AI seperti Google Gemini dipilih Apple untuk menghadirkan performa yang jauh lebih cepat dalam memahami permintaan pengguna, mengatasi kelemahan kompetitif yang selama ini melekat pada Siri dibanding kompetitor lain seperti Google Assistant atau bahkan ChatGPT. Langkah ini bukan sekadar penguatan fitur: ia mencerminkan perubahan paradigma di dunia teknologi. Apple yang sebelumnya selalu menekankan in-house development kini akhirnya menggandeng perusahaan lain dalam aspek inti pengalaman pengguna. Bukan hanya soal fitur, ini juga berdampak pada persepsi investor terhadap nilai saham Apple serta saham perusahaan teknologi lain. Dampaknya ke Saham Teknologi Kabar ini langsung memengaruhi pergerakan saham Apple dan Google di pasar AS. Pasar modal sangat peka terhadap berita strategis yang berpotensi mendongkrak pertumbuhan pendapatan atau mengubah pandangan industri jangka panjang. Misalnya, pasar saham Alphabet (perusahaan induk Google) diperkirakan sempat mencapai valuasi lebih dari US$4 triliun setelah berita itu dirilis, memberikan sentimen positif bagi pemegang saham teknologi. Sementara itu, saham Apple tetap dipantau ketat karena investor menilai keputusan ini sebagai sinyal kuat bahwa AI akan menjadi kompetisi inti industri selama dekade berikutnya. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa sektor teknologi tetap menjadi pendorong utama indeks saham Amerika Serikat seperti NASDAQ dan S&P 500. Dengan banyak perusahaan besar seperti Apple, Google, Microsoft, dan Amazon yang terlibat dalam pengembangan AI, para investor global terus mengamati bagaimana tren ini berkembang di tahun-tahun mendatang. Apa Artinya bagi Investor di Indonesia? Bagi para investor di Indonesia yang ingin mengikuti pergerakan pasar AS, asset kripto, ataupun emas digital, berita seperti ini penting untuk dipantau secara berkala karena bisa memengaruhi tren aliran modal global. Pergerakan saham teknologi yang berfluktuasi sering kali bergerak seiring dinamika investasi kripto dan emas digital sebagai aset alternatif. ✨ Pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Aset Kripto, Nanovest dapat menjadi pilihan kamu untuk mulai berinvestasi dan eksplor koin kripto lainnya, sebuah aplikasi investasi saham & kripto yang terpercaya dan aman yang dapat menjadi pilihan terbaik bagi para investor di Indonesia. Bagi para investor yang baru ingin memulai berinvestasi tidak perlu khawatir karena, Karena cuma di aplikasi ini aset kamu terproteksi dari risiko cybercrime dengan Asuransi Sinarmas. Nanovest secara resmi telah terdaftar dan berlisensi resmi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi lebih lanjut silahkan kunjungi web kami di www.nanovest.io. Bagi para penggiat investasi yang ingin menggunakan Nanovest, aplikasi ini sudah tersedia di Play Store maupun App Store Anda. Menjaga Portofolio di Era AI Investasi pintar selalu dimulai dari pemahaman yang baik tentang tren pasar global seperti kolaborasi Apple–Google ini. AI bukan lagi sekadar janji teknologi masa depan, tetapi telah menjadi driver pertumbuhan nyata yang memengaruhi keputusan investor. Saham Apple dan Google, serta saham teknologi lainnya, sering kali menjadi barometer sentimen pasar global. Sementara itu, aset kripto dan emas digital menyediakan diversifikasi penting bagi portofolio investor yang ingin melindungi nilai dari volatilitas pasar saham ataupun inflasi ekonomi. Nanovest memudahkan pengguna untuk melakukan pengamatan real-time terhadap ketiga kelas aset tersebut di satu platform.

NVIDIA Pimpin Industri Chip AI Salip Apple Jadi Perusahaan Termahal Kedua di Dunia Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 15 Juni 2024 | 17:14 WIB

NVIDIA Pimpin Industri Chip AI Salip Apple Jadi Perusahaan Termahal Kedua di Dunia

Jakarta, katakabar.com - NVIDIA umumkan arsitektur chip AI terbaru yang dijuluki “Rubin” setelah resmi merilis “Blackwell” hanya waktu kurang dari tiga bulan di konferensi teknologi COMPUTEX, Pameran Komputer Internasional Taipei 2024 angkat tema “Connecting AI” sebagai sorotan pameran tahun ini. Memimpin percepatan laju cip AI tersebut, membuat lonjakan saham NVIDIA melewati Apple dengan kapitalisasi pasar melebihi $3 Triliun sehingga menjadi perusahaan publik paling berharga kedua secara global. CEO NVIDIA, Jensen Huang menyatakan, Blackwell Ultra Chip bakal diluncurkan pada tahun 2025, disusul Rubin sebagai chip generasi selanjutnya pada 2026. Menurut laporan Reuters, keluarga cip Rubin mencakup prosesor grafis GPU (graphic processing unit) dan prosesor sentral atau CPU (central processor unit) baru beserta cip jaringan yang disebut “Vera”. Peralihan dari Blackwell ke Rubin menekankan persaingan kompetitif di pasar chip dengan teknologi AI dan menjadi salah satu upaya NVIDIA untuk mempertahankan posisi dominannya saat ini. Kemajuan pesat Artificial Intelligence (AI) bikin NVIDIA secara konsisten mampu menangkap peluang tersebut, termasuk dalam permintaan game dan kripto. Salah satu tren AI yang memegang peranan besar di ranah teknologi saat ini adalah ChatGPT, chatbot buatan OpenAI yang memungkinkan berbagai pertanyaan dapat dijawab langsung menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. ChatGPT mengandalkan AI milik Microsoft dengan nama “Azure” dan ditopang oleh ribuan unit pengolah grafis (GPU) bikinan NVIDIA. Berkat minat tinggi terhadap generative AI dari ChatGPT yang diluncurkan pada tahun 2022 tersebut, saham NVIDIA turut melambung tinggi. Saham NVIDIA pada 11 Juni 2024 ini berada di harga $121,79 atau setara dengan 1.979.575 rupiah, dibandingkan dengan harga setelah pengumuman Nvidia pada 2 Juni 2024. Mengenai peluncuran AI nya di konferensi COMPUTEX yaitu USD $115,00 atau 1.873.787 mengalami kenaikan sekitar 5,65 persen. Investor dapat mengikuti perkembangan harga saham berbasi AI lainnya seperti META, AMAZN, TSLA di Nanovest, aplikasi investasi yang aman dan terpercaya dengan kurang lebih 2000 pilihan aset digital mulai dari saham Amerika Serikat, aset kripto, hingga emas digital di Indonesia. Senin lalu, NVIDIA melakukan pemecahan saham 10 banding 1 atau stock split, mengikuti perkembangan harga yang secara signifikan naik 212 persen dibandingkan tahun lalu. Ini dianggap sebagai sinyal positif terhadap besarnya potensi AI Industri, di mana NVIDIA menjadi salah satu perusahaan Amerika yang berhasil bergabung ke dalam Klub $3 Triliun bersamaan dengan Apple (AAPL) dan Microsoft (MSFT). Pemecahan saham ini dianggap sebagai kepercayaan manajemen bahwa saham akan mempertahankan nilainya seiring dengan kenaikan harganya ucap Howard Silverblatt, Analis Senior Indeks S&P Dow Jones. Investor memandang pemecahan saham ini sebagai tanda kekuatan, dimana perusahaan yang membagi sahamnya biasanya dapat mengungguli S&P 500 pada tahun setelah pengumuman. Meta (META), Tesla (TSLA), dan sejumlah perusahaan teknologi otomotif besar lainnya juga berupaya memanfaatkan chip dari NVIDIA untuk melatih dan menerapkan model AI untuk segala hal mulai dari rekomendasi mesin hingga perangkat lunak mengemudi otonom. Dengan perspektif jangka panjang, investasi saham NVIDIA saat seperti ini dapat menjadi langkah yang strategis yang menguntungkan bagi para investor. Jika dilihat dalam 30 hari terakhir, harga saham NVIDIA telah mengalami kenaikan sekitar 33,82%. Bagi para investor yang ingin memulai berinvestasi tidak perlu khawatir, sebab aset-aset tersebut tersedia di aplikasi Nanovest yang dapat kamu beli secara langsung dan aset-aset yang kamu miliki akan terjamin oleh perlindungan asuransi Sinar Mas sehingga terlindungi dari risiko cybercrime. Nanovest telah terdaftar dan diawasi oleh BAPPEBTI, sehingga aman untuk digunakan. Bagi para investor dan penggiat investasi yang ingin menggunakan Nanovest, aplikasi ini bisa ditemukan di Play Store maupun App Store Anda. Kontak: Cindy Claudia Yunefi Senior Marketing Communication 0813 7273 8935 | [email protected]

Tim Cook Sambangi ADA @BINUS, Perkuat Pengembangan Talenta Digital Indonesia Pendidikan
Pendidikan
Sabtu, 20 April 2024 | 11:58 WIB

Tim Cook Sambangi ADA @BINUS, Perkuat Pengembangan Talenta Digital Indonesia

Jakarta, katakabar.com - CEO Apple, Tim Cook bertandang ke Apple Developer Academy @Binus. Kunjungan bagian dari agenda pengembangan talenta digital di Indonesia. Di momen tersebut, Tim bertemu siswa dan alumni Apple Developer Academy @Binus yang menampilkan beberapa aplikasi inovatif ciptaan mereka. Aplikasi tersebut memanfaatkan teknologi Apple untuk menangani masalah nyata yang terjadi pada masyarakat dunia. “Kunjungan Tim Cook ke Apple Developer Academy @Binus ini bagian dari komitmen Apple untuk membangun talenta digital di Indonesia yang berkontribusi dan berdampak bagi Masyarakat”, tutur Michael Wijaya, Vice President of Binus Higher Education, lewat rilis diterima katakabar.com, pada Jumat kemarin. Binus University dan Apple, ujar Wijaya, punya semangat yang sama untuk berdampak bagi masyarakat secara luas. Apple Developer Academy @Binus sudah melahirkan lebih dari 1.500 lulusan. Harapannya, semoga semakin banyak kolaborasi yang dibangun. Berdiri di tahun 2018, ulas Wijaya, Apple Developer Academy telah melatih lebih dari 1.500 pengembang potensial di Indonesia, menjalin kemitraan dengan institusi terkemuka seperti Binus University. Banyak alumni telah berhasil membangun karier di bidang pengembangan aplikasi melalui program pelatihan tingkat lanjut seperti Apple Entrepreneur Camp dan Catalyst, yang memberikan bimbingan dari para ahli dan insinyur Apple. "Aplikasi-aplikasi tersebut telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam menciptakan solusi untuk berbagai tantangan nyata dan memajukan berbagai aspek kehidupan, mulai dari Kesehatan, masalah sosial, hingga pendidikan," jelasnya. Kontak: Gandy Pratama [email protected] 0815 1949 8085