Bitcoin
Sorotan terbaru dari Tag # Bitcoin
Bitcoin Sentuh Level Tertinggi Lima Pekan, FLOQ Lihat Momentum Positif Masih Terbuka
Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin bergerak fluktuatif setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam lima minggu di kisaran US$66.400–US$66.500 pada 21 Juli 2026. Tetapi, penguatan tersebut tertahan setelah BTC terkoreksi ke area US$65.600–US$65.700 pada 22 Juli 2026. Koreksi terjadi seiring lonjakan harga minyak dunia, dengan WTI menembus US$85 per barel dan Brent mendekati US$90 per barel. Kondisi ini kembali memicu kekhawatiran pasar terhadaptekanan inflasi global dan arah kebijakan suku bunga The Fed. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai koreksi Bitcoin tidak sertamerta menghapus peluang penguatan, tetapi pasar membutuhkan konfirmasi yang lebih kuat dari faktor makro dan arus dana institusional. “Koreksi setelah Bitcoin menyentuh level tertinggi lima minggu adalah hal yang wajar, terutama ketika pasar menghadapi tekanan dari harga minyak dan geopolitik. Peluang penguatan tetap terbuka, tetapi pasar membutuhkan dukungan yang lebih solid, baik dari stabilisasi makro, meredanya risiko energi, maupun keberlanjutan inflow institusional,” kata Yudho. Menurut Yudho, harga minyak kini menjadi salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar dalam membaca arah Bitcoin jangka pendek. Selama tekanan energi dan eskalasigeopolitik masih berlangsung, volatilitas pasar kripto berpotensi tetap tinggi. “Kondisi saat ini, harga minyak menjadi variabel yang sangat penting untuk diperhatikan. Jika kenaikan harga energi berlanjut dan kembali mendorong kekhawatiran inflasi, ekspektasiterhadap arah suku bunga The Fed juga bisa berubah. Dampaknya dapat langsung terasa pada aset berisiko seperti Bitcoin,” jelasnya. Menurut data riset Market Outlook FLOQ, level US$66.500 menjadi resistance jangka pendek Bitcoin setelah dua kali gagal ditembus sepanjang bulan ini. Sementara itu, area US$64.000 menjadisupport penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar. Harga Minyak dan Geopolitik Jadi Fokus Data FLOQ mencatat eskalasi konflik AS-Iran menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak. Selama tekanan geopolitik dan risiko pasokan energi belum mereda, hargaminyak diperkirakan tetap menjadi variabel penting yang memengaruhi pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek. “Dalam kondisi saat ini, harga minyak menjadi indikator penting untuk membaca arah Bitcoin. Jika tekanan energi berlanjut dan kembali mendorong kekhawatiran inflasi, pasar aset berisiko, termasuk kripto, berpotensi tetap bergerak volatil,” jelas Yudho. Selain itu, pelaku pasar juga mencermati pertemuan FOMC pada 28 hingga 29 Juli 2026. Meskipun pasar masih memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga, peluang kenaikan suku bunga pada horizon September meningkat seiring lonjakan harga minyak. ETF dan Regulasi Beri Sinyal Positif Di tengah tekanan makro, arus dana ETF Bitcoin spot memberikan sinyal yang lebih konstruktif. ETF Bitcoin mencatat inflow selama lima hari berturut-turut hingga 21 Juli 2026, menjadi rangkaianinflow pertama sejak April. ETF Ethereum juga mencatat inflow bersih pada pekan 13–17 Juli setelah sebelumnya mengalami outflow selama delapan minggu berturut-turut. Meski demikian, Yudho menilai pemulihan tersebut masih perlu dibaca secara hati-hati karena outflow year-to-date masih berada di sekitar US$5,2 miliar. Dengan demikian, inflow pekan ini lebihtepat dilihat sebagai pemulihan parsial, bukan pembalikan tren besar secara penuh. “Masuknya kembali dana ke ETF Bitcoin dan Ethereum menjadi sinyal positif bagi pasar. Namun, investor tetap perlu membedakan antara pemulihan jangka pendek dan perubahan tren besar, terutama karena risiko makro masih cukup dominan,” terang Yudho. Dari sisi regulasi, perkembangan CLARITY Act di Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar. Data FLOQ mencatat peluang floor vote meningkat setelah hambatan terkait bahasa etika selesai, tetapi peluang RUU tersebut benar-benar disahkan masih perlu dikawal secara realistis. “Regulasi yang lebih jelas akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan industri kripto ke depan. Namun, kemajuan prosedural belum otomatis berarti regulasi akan langsung disahkan ataulangsung berdampak besar terhadap harga aset,” sebut Yudho. Volatilitas Masih Berpotensi Tinggi Yudho menilai pasar kripto masih berpotensi bergerak volatil dalam jangka pendek. Arah Bitcoin pekan ini akan banyak dipengaruhi oleh kombinasi faktor global, mulai dari pergerakan harga minyak, perkembangan geopolitik, ekspektasi suku bunga The Fed, hingga keberlanjutan inflow ETF Bitcoin spot. Dari pasar domestik, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 5,75% pada RDG 21–22 Juli 2026. Rupiah juga menguat tipis ke kisaran Rp17.909–Rp17.917 per dolar AS pada 22 Juli 2026, sementara IHSG melanjutkan penguatan ke level 6.374. Meski kondisi domestik menunjukkan perbaikan, Yudho menilai investor tetap perlu mencermati tekanan eksternal yang dapat mempengaruhi pasar aset berisiko, termasuk kripto. Dalam kondisipasar yang masih dinamis, investor perlu memahami bahwa pergerakan harga tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen pasar, tetapi juga faktor makroekonomi, kebijakan moneter, arus dana institusional, dan risiko geopolitik. “Peluang pasar kripto tetap terbuka, terutama jika inflow ETF berlanjut dan tekanan geopolitik mulai mereda. Namun, dalam kondisi yang masih penuh ketidakpastian, disiplin manajemen risikomenjadi sangat penting. Investor sebaiknya tidak hanya melihat potensi kenaikan harga, tetapi juga memahami faktor-faktor yang dapat memicu volatilitas,” kata Yudho lagi. Edukasi Jadi Kunci bagi Investor Menghadapi pasar kripto yang masih fluktuatif, Yudho mengimbau investor untuk tetap disiplin, melakukan riset mandiri, dan menghindari keputusan investasi yang hanya didasarkan pada sentimenjangka pendek. Strategi investasi juga perlu disesuaikan dengan profil risiko, tujuan keuangan, serta pemahaman masing-masing investor terhadap aset yang dipilih. “Dalam pasar kripto, volatilitas adalah hal yang perlu dipahami, bukan dihindari tanpa strategi. Investor perlu melihat pergerakan harga secara lebih rasional, tidak terbawa euforia jangka pendek, dan tetap menyesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko masing-masing. Untuk investor jangka panjang, strategi seperti dollar cost averaging (DCA) masih dapat menjadi pendekatan yang relevan, selama dilakukan secara konsisten dan disertai pemahaman risiko yang memadai,” jelas Yudho. Sebagai bagian dari komitmen untuk meningkatkan literasi aset digital, FLOQ menyediakan FLOQ Academy yang dapat diakses secara gratis oleh masyarakat. Melalui platform edukasi ini, pengguna dapat mempelajari dasar-dasar kripto, memahami dinamika pasar, serta membangun kebiasaan riset sebelum mengambil keputusan investasi. Disclaimer: Informasi dalam siaran pers ini disusun berdasarkan data publik yang tersedia hingga 24 Juli 2026. Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian akibat volatilitasharga pasar. Seluruh informasi yang disampaikan dalam siaran pers ini bersifat umum dan hanya ditujukan untuk keperluan informasi. Informasi ini bukan merupakan ajakan, penawaran, saran, maupun rekomendasi untuk membeli, menjual, atau melakukan investasi pada aset kripto tertentu. FLOQ mengimbau masyarakat untuk selalu melakukan riset secara mandiri (Do Your Own Research/DYOR) dan mempertimbangkan setiap keputusan investasi secara matang sesuai dengan profilrisiko, tujuan investasi, serta kemampuan finansial masing-masing. Masyarakat juga diharapkan tidak menggunakan dana yang berada di luar batas kemampuan dalam melakukan transaksi aset kripto.
Bitcoin ke US$65.000, FLOQ Ingatkan Investor Waspada Risiko Inflasi dan Geopolitik Masih Bayangi Pasar
Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin kembali menembus level psikologis US$65.000 setelah rilis data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan lebih besar dari perkiraan. Data Consumer Price Index (CPI) Juni tercatat turun menjadi 3,5% secara tahunan, dari 4,2% pada Mei, sementara Producer Price Index (PPI) juga melambat dari 6,0% menjadi 5,5%. Kondisi tersebut picu optimisme pasar terhadap prospek kebijakan moneter Amerika Serikat dan mendorong reli aset berisiko, termasuk Bitcoin. Pada 15 Juli 2026 lalu, Bitcoin berhasil kembali diperdagangkan di atas level US$65.000 setelah sempat berada di bawah area tersebut selama beberapa hari. Kenaikan ini turut memicu short squeeze dengan nilai likuidasi sekitar US$60–77 juta, di mana sekitar 90% berasal dari posisi short, menandakan banyak pelaku pasar yang sebelumnya bertaruh harga Bitcoin akan melemah. Meski demikian, tim trading desk FLOQ menilai bahwa reli tersebut masih perlu dicermati karena belum sepenuhnya didukung oleh perubahan fundamental yang kuat. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan pelaku pasar sebaiknya tidak hanya melihat penurunan angka inflasi, tetapi juga memahami faktor yang menjadi penyebab di balik perlambatan tersebut. "Pasar merespons positif data inflasi Amerika Serikat karena dianggap membuka peluang kebijakan moneter yang lebih longgar. Namun, yang perlu dipahami adalah penurunan inflasi Juni sebagian besar dipengaruhi oleh melemahnya harga energi selama periode gencatan senjata di Timur Tengah. Ketika faktor tersebut mulai berbalik arah, risiko inflasi juga berpotensi kembali meningkat," ujar Yudho. Menurut FLOQ, meningkatnya kembali tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi arah pasar dalam beberapa pekan ke depan. Pada 14 Juli 2026 lalu, Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Iran serta mengenakan levy sebesar 20% terhadap kargo yang melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari kebijakan keamanan. Selat Hormuz sendiri di antara jalur perdagangan minyak terpenting di dunia, sehingga setiap gangguan terhadap distribusi energi berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global. Yudho menjelaskan kenaikan harga energi dapat kembali memberikan tekanan terhadap inflasi dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed. "Kalau harga minyak kembali naik, dampaknya tidak hanya dirasakan sektor energi, tetapi juga biaya logistik, transportasi, hingga harga berbagai kebutuhan pokok. Kondisi ini dapat membuat inflasi kembali meningkat sehingga ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya menjadi lebih terbatas. Investor perlu melihat hubungan antar faktor tersebut, bukan hanya bereaksi terhadap satu data ekonomi," jelasnya. FLOQ juga mencatat ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed masih relatif berhati-hati. Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September memang turun ke kisaran 54–63%, dibandingkan 70–80% pada pekan sebelumnya. Namun di sisi lain, pasar masih memperkirakan sekitar 76% kemungkinan tidak akan terjadi pemangkasan suku bunga sepanjang 2026. Sentimen investor kripto pun belum sepenuhnya pulih. Crypto Fear & Greed Index masih berada di level 29 atau kategori Fear, meskipun Bitcoin telah rebound sekitar 29% dari titik terendahnya pada 5 Juli 2026 lalu. Menurut Yudho, kondisi tersebut menunjukkan bahwa reli Bitcoin saat ini lebih tepat dipandang sebagai pemulihan sentimen jangka pendek dibandingkan awal dari tren bullish yang telah terkonfirmasi. "Level US$65.000 menjadi area yang sangat penting untuk diperhatikan. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut dengan dukungan volume beli yang kuat, peluang melanjutkan tren kenaikan tetap terbuka. Namun apabila kembali turun di bawah US$62.000, investor perlu mengantisipasi potensi koreksi menuju kisaran US$58.000 hingga US$59.000," tambahnya. Selain faktor makroekonomi, FLOQ juga menyoroti bahwa arus dana investor institusi belum sepenuhnya mendukung reli Bitcoin. Pada 13 Juli, ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat outflow sebesar US$424,7 juta, menjadi arus keluar terbesar sepanjang Juli. Sehari kemudian, arus dana kembali berbalik dengan inflow sekitar US$181 juta, dipimpin oleh iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock sebesar US$138,9 juta. Menurut FLOQ, pergerakan yang sangat fluktuatif tersebut menunjukkan bahwa investor institusi masih menunggu kepastian arah pasar. Di sisi lain, data on-chain masih menunjukkan tren akumulasi Bitcoin yang berlanjut, sementara volume perdagangan di centralized exchange (CEX) meningkat sekitar 15,3%, menjadi kenaikan pertama dalam lima bulan terakhir. FLOQ juga menilai perkembangan regulasi di Jepang menjadi salah satu katalis positif jangka panjang yang patut diperhatikan. Persetujuan awal terhadap rancangan undang-undang yang mengklasifikasikan aset kripto sebagai instrumen keuangan dinilai dapat membuka jalan bagi ETF Bitcoin spot domestik di Jepang dalam beberapa tahun mendatang. Selain itu, pembahasan CLARITY Act di Amerika Serikat juga masih menjadi perhatian pasar. Meskipun peluang lolosnya regulasi tersebut menurut pasar prediksi turun menjadi sekitar 43%, kepastian regulasi tetap menjadi faktor penting dalam mendorong partisipasi investor institusi di industri aset digital. Menutup analisanya, Yudho mengingatkan bahwa volatilitas pasar masih berpotensi tinggi dalam beberapa minggu ke depan, seiring pasar mencermati perkembangan inflasi, kebijakan The Fed, konflik geopolitik, hingga dinamika regulasi aset digital. "Volatilitas adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pasar aset digital. Karena itu, investor sebaiknya tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan satu headline atau satu indikator ekonomi. Memahami gambaran besar dan menerapkan manajemen risiko yang baik akan jauh lebih penting dalam menghadapi kondisi pasar seperti saat ini," ujar Yudho. Implikasi Bagi Investor Pemula 1. Jangan menganggap kenaikan harga sebagai sinyal "waktu terbaik untuk membeli" Bitcoin yang kembali menembus US$65.000 memang mencerminkan sentimen pasar yang lebih positif setelah data inflasi AS melandai. Namun, kenaikan tersebut masih dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek. Investor pemula perlu memahami bahwa harga aset digital dapat berubah dengan cepat ketika muncul perkembangan baru, seperti data ekonomi, kebijakan bank sentral, atau kondisi geopolitik. 2. Belajar membaca faktor fundamental, bukan hanya grafik harga Banyak investor baru hanya memperhatikan apakah harga sedang naik atau turun. Padahal, memahami penyebab di balik pergerakan harga jauh lebih penting. Dalam kondisi saat ini, misalnya, inflasi AS, kebijakan suku bunga, konflik geopolitik, hingga perkembangan regulasi aset digital menjadi faktor yang sama-sama memengaruhi sentimen pasar. Dengan memahami konteks tersebut, investor dapat memiliki ekspektasi yang lebih realistis terhadap pergerakan pasar. 3. Volatilitas adalah karakteristik pasar aset digital Pergerakan harga yang tajam, baik naik maupun turun, merupakan bagian dari dinamika pasar aset digital. Oleh karena itu, investor pemula perlu membangun kesiapan menghadapi volatilitas dan menghindari keputusan yang didorong oleh rasa takut tertinggal (fear of missing out atau FOMO) maupun kepanikan ketika harga mengalami koreksi. 4. Pentingnya memahami profil risiko pribadi Setiap investor memiliki tujuan keuangan dan toleransi risiko yang berbeda. Sebelum mulai berinvestasi, penting bagi investor pemula untuk memahami berapa besar risiko yang sanggup mereka hadapi, sehingga keputusan investasi lebih selaras dengan kondisi finansial dan tujuan jangka panjang, bukan sekadar mengikuti tren pasar. 5. Edukasi menjadi langkah pertama sebelum berinvestasi Meningkatnya akses terhadap aset digital perlu diimbangi dengan peningkatan literasi. Investor pemula sebaiknya membangun pemahaman mengenai dasar-dasar aset digital, cara kerja pasar, serta risiko yang menyertainya sebelum mengambil keputusan. Dengan bekal pengetahuan yang memadai, investor dapat lebih siap menghadapi dinamika pasar dan menyusun strategi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. "Bagi investor pemula, kenaikan harga sering kali memunculkan keinginan untuk segera ikut masuk ke pasar. Padahal, yang lebih penting adalah memahami alasan di balik pergerakan tersebut. Ketika seseorang mengerti bagaimana inflasi, kebijakan moneter, regulasi, dan kondisi global memengaruhi pasar, keputusan yang diambil akan lebih rasional dan tidak hanya didasarkan pada momentum sesaat," tutup Yudho. Disclaimer: Informasi dalam siaran pers ini disusun berdasarkan data publik yang tersedia hingga 16 Juli 2026. Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian akibat volatilitas harga pasar. Seluruh informasi yang disampaikan dalam siaran pers ini bersifat umum dan hanya ditujukan untuk keperluan informasi. Informasi ini bukan merupakan ajakan, penawaran, saran, maupun rekomendasi untuk membeli, menjual, atau melakukan investasi pada aset kripto tertentu. FLOQ mengimbau masyarakat untuk selalu melakukan riset secara mandiri (Do Your Own Research/DYOR) dan mempertimbangkan setiap keputusan investasi secara matang sesuai dengan profil risiko, tujuan investasi, serta kemampuan finansial masing-masing. Masyarakat juga diharapkan tidak menggunakan dana yang berada di luar batas kemampuan dalam melakukan transaksi aset kripto.
Bitcoin Turun: Buy the Dip atau DCA, Strategi Mana Lebih Sesuai?
Jakarta, katakabar.com - Ketika harga Bitcoin turun, dua kalimat biasanya mulai ramai muncul di media sosial: “buy the dip” dan “tunggu harga paling bawah”. Keduanya terdengar sederhana, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui secara pasti kapan harga sudah mencapai titik terendah. Harga yang terlihat murah hari ini masih dapat turun lagi besok. Sebaliknya, menunggu harga yang dianggap sempurna juga dapat membuat seseorang tidak pernah mengambil keputusan sesuai rencana. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan koreksi pasar sering membuat pengguna merasa harus mengambil keputusan dengan cepat. Padahal, keputusan yang sehat dimulai dari pemahaman terhadap risiko, kondisi keuangan pribadi, dan tujuan yang jelas, bukan dari rasa takut ketinggalan. Pada 13 Juli 2026, Bitcoin berada di sekitar US$62.328. Sebagai pembanding historis, Bitcoin pernah mencapai sekitar US$68.999,99 pada November 2021. Artinya, harga pada snapshot tersebut berada sekitar 10% di bawah puncak 2021. Perbandingan ini bukan berarti kondisi pasar 2026 sama dengan 2021. Bitcoin telah mencapai level yang lebih tinggi setelah 2021, sehingga angka tersebut hanya digunakan sebagai titik referensi untuk menunjukkan bahwa harga yang terlihat familiar dapat muncul dalam konteks pasar yang sangat berbeda. Mengapa Harga Bitcoin Bisa Turun Tajam? Bitcoin diperdagangkan selama 24 jam setiap hari dan dapat bereaksi cepat terhadap berbagai informasi. Pergerakan harga dapat dipengaruhi oleh: 1. Perubahan suku bunga dan likuiditas global. 2. Kondisi geopolitik dan perubahan selera terhadap aset berisiko. 3. Aktivitas investor besar dan arus dana institusional. 4. Regulasi aset digital. 5. Likuidasi posisi dengan leverage. 6. Pergerakan pasar saham dan aset berisiko lainnya. 7. Sentimen media dan media sosial. Penurunan harga tidak selalu berarti terdapat masalah mendasar pada jaringan Bitcoin. Sebaliknya, kenaikan harga juga tidak berarti risikonya telah hilang. Apa Itu Buy the Dip? Buy the dip adalah pendekatan membeli aset setelah harganya mengalami penurunan dari level sebelumnya. Tujuannya adalah memperoleh harga yang dianggap lebih menarik dibandingkan sebelum koreksi. Tantangan utamanya adalah menentukan kapan penurunan dianggap cukup dalam. Seseorang dapat membeli setelah harga turun 10%, tetapi harga masih dapat turun 10%, 20%, atau lebih setelah transaksi dilakukan. Risiko utamanya bukan hanya salah memilih aset, tetapi juga salah menilai waktu dan menggunakan modal terlalu besar dalam satu keputusan. Apa Itu DCA? DCA atau dollar-cost averaging adalah pendekatan membeli aset secara berkala menggunakan nominal yang sudah ditentukan sebelumnya. Sebagai contoh, pengguna mengalokasikan Rp500.000 setiap bulan selama enam bulan, terlepas dari apakah harga sedang naik atau turun. Dengan DCA, pengguna tidak harus menentukan satu titik masuk yang dianggap sempurna. Harga pembelian rata-rata terbentuk dari beberapa transaksi dalam periode berbeda. Namun, DCA bukan strategi tanpa risiko. Jika harga aset terus turun dalam waktu panjang, nilai portofolio tetap dapat mengalami kerugian. DCA juga tidak menjamin keuntungan. Buy the Dip vs DCA Tidak ada pendekatan yang otomatis sesuai untuk semua orang. Pilihan bergantung pada tujuan, kondisi keuangan, toleransi risiko, jangka waktu, dan pemahaman terhadap aset. Bitcoin 2026 dan Bitcoin 2021: Harga Serupa, Konteks Berbeda Pada November 2021, Bitcoin mencapai puncak mendekati US$69.000 sebelum memasuki periode penurunan besar pada tahun berikutnya. Pada Juli 2026, Bitcoin kembali berada di area harga yang berdekatan dengan referensi tersebut. Namun, pengguna tidak boleh menyimpulkan bahwa pola setelahnya pasti akan sama. Pelaku pasar, kondisi likuiditas, produk institusional, regulasi, dan lingkungan ekonomi telah berubah. Riwayat harga dapat memberikan konteks, tetapi tidak dapat digunakan untuk menjamin arah berikutnya. Pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa saya ingin memiliki Bitcoin, berapa lama saya siap memegangnya, berapa besar penurunan yang dapat saya toleransi, dan apakah kondisi keuangan saya mendukung keputusan ini? Checklist Sebelum Buy the Dip atau DCA 1. Dana darurat sudah tersedia. 2. Dana yang digunakan tidak dibutuhkan untuk kebutuhan jangka pendek. 3. Utang berbunga tinggi sudah dipertimbangkan. 4. Tujuan transaksi dan jangka waktunya sudah jelas. 5. Batas nominal sudah ditentukan. 6. Pengguna memahami volatilitas Bitcoin. 7. Tidak menggunakan leverage yang tidak dipahami. 8. Keputusan tidak hanya didasarkan pada influencer, FOMO, atau tekanan sosial. 9. Harga dan informasi pasar telah diperiksa. 10. Pengguna siap menghadapi penurunan lanjutan. Gunakan Informasi, Bukan Emosi Penurunan harga dapat menciptakan peluang bagi sebagian pengguna, tetapi juga dapat menghasilkan kerugian bagi pengguna yang masuk tanpa perencanaan. Buy the dip memerlukan penilaian terhadap harga dan penggunaan modal. DCA mengurangi kebutuhan untuk menentukan satu waktu pembelian, tetapi tetap membawa risiko pasar. Sebelum mengambil keputusan, cek harga dan pergerakan Bitcoin di Pasar FLOQ dan pelajari manajemen risiko kripto melalui FLOQ Academy. <Diolah dari berbagai sumber> Disclaimer: Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian akibat volatilitas harga pasar. Seluruh informasi yang tersedia hanya bersifat umum dan bukan merupakan ajakan, penawaran, saran, maupun rekomendasi investasi. Kami menghimbau seluruh konsumen untuk melakukan riset dan mempertimbangkan keputusan investasi secara matang sebelum melakukan transaksi aset kripto. Konsumen juga diharapkan untuk bertransaksi sesuai dengan profil risiko dan kemampuan finansial masing-masing serta tidak menggunakan dana yang berada di luar batas kemampuan.
CEO FLOQ: Bitcoin Naik 6 Persen Tapi Pasar Kripto Belum Keluar dari Zona Waspada
Jakarta, katakabar.com - Pasar aset kripto kembali tunjukkan volatilitas tinggi pada pekan kedua Juli 2026. Setelah sempat menguat lebih dari 6 persen pada awal bulan akibat meningkatnya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat, Bitcoin kembali terkoreksi seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan pergerakan pasar saat ini menunjukkan bahwa sentimen terhadap aset kripto masih sangat dipengaruhi oleh faktor makroekonomi dan geopolitik, bukan semata-mata kondisi industri kripto itu sendiri. "Kenaikan Bitcoin di awal Juli sempat memunculkan optimisme bahwa pasar memasuki fase pemulihan. Namun, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran mengingatkan kita bahwa aset kripto tetap menjadi bagian dari pasar keuangan global yang sensitif terhadap perubahan sentimen risiko. Investor perlu memahami bahwa volatilitas saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal dibandingkan fundamental industri kripto," ujar Yudho. Bitcoin Menguat, Tetapi Belum Keluar dari Zona Ketidakpastian Pada awal Juli, Bitcoin sempat menyentuh level terendah di sekitar US$58.278, sebelum kembali menguat hingga US$64.034 dalam waktu kurang dari sepekan. Penguatan tersebut didorong oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari ekspektasi, sehingga memunculkan harapan bahwa Federal Reserve akan mengurangi agresivitas kebijakan suku bunga. Tetapi, peluang kenaikan suku bunga oleh The Fed masih tetap terbuka sehingga pasar belum memiliki kepastian mengenai arah kebijakan moneter dalam beberapa bulan mendatang. "Data ekonomi yang lebih lemah memang membuka ruang bagi ekspektasi penurunan tekanan suku bunga. Namun pasar masih berada dalam fase wait and see. Investor sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa tren bullish telah kembali hanya berdasarkan pergerakan harga dalam beberapa hari," kata Yudho. Konflik Geopolitik Kembali Menekan Aset Berisiko Optimisme pasar tidak berlangsung lama setelah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan tersebut mendorong investor global beralih ke aset yang dianggap lebih aman (risk-off), sehingga Bitcoin maupun aset kripto lainnya kembali mengalami tekanan. Selain memengaruhi pasar keuangan, konflik tersebut juga mendorong kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi tersebut dapat mempersempit ruang bagi Federal Reserve untuk mulai melonggarkan kebijakan moneternya. Altcoin Mengalami Koreksi Lebih Dalam Di tengah meningkatnya ketidakpastian, aset kripto dengan kapitalisasi lebih kecil kembali mengalami tekanan yang lebih besar dibandingkan Bitcoin. Sejumlah altcoin seperti Solana, JUP, ETHFI, hingga PUMP mencatatkan koreksi signifikan seiring meningkatnya aksi jual investor. Menurut FLOQ, kondisi ini merupakan pola yang umum terjadi ketika pasar memasuki fase risk-off, di mana investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset dengan tingkat risiko yang lebih tinggi. Sinyal Positif Mulai Bermunculan Di balik tingginya volatilitas, terdapat sejumlah indikator yang memberikan harapan terhadap prospek jangka menengah pasar kripto. ETF Bitcoin di Amerika Serikat mulai kembali mencatat arus dana masuk (inflow) setelah mengalami outflow besar sepanjang Juni. Selain itu, data on-chain menunjukkan adanya peningkatan akumulasi Bitcoin di area harga sekitar US$59.000, mengindikasikan sebagian investor jangka panjang mulai kembali melakukan pembelian. "Kami melihat adanya sinyal akumulasi dari investor jangka panjang dan mulai pulihnya minat institusi melalui ETF Bitcoin. Namun sinyal tersebut masih memerlukan konfirmasi yang lebih kuat sebelum dapat dianggap sebagai awal dari siklus bullish baru," jelas Yudho. Regulasi Masih Menjadi Faktor Penting Selain faktor ekonomi global, kepastian regulasi di Amerika Serikat juga masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Pembahasan CLARITY Act, yang diharapkan memberikan kepastian hukum bagi industri aset digital, masih mengalami penundaan sehingga belum mampu memberikan katalis positif bagi pasar. Menurut FLOQ, kepastian regulasi akan menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kepercayaan investor institusi terhadap industri aset kripto. Investor Perlu Mengedepankan Manajemen Risiko Menghadapi kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, FLOQ mengimbau investor untuk tetap disiplin dalam mengelola risiko dan menghindari keputusan investasi yang didasarkan pada sentimen jangka pendek. "Volatilitas merupakan bagian dari karakteristik pasar kripto. Yang terpenting bagi investor bukan mengejar setiap kenaikan harga, melainkan memiliki strategi investasi yang konsisten, disiplin, dan sesuai dengan profil risiko masing-masing. Pendekatan seperti dollar cost averaging (DCA) tetap relevan bagi investor jangka panjang selama dilakukan dengan pengelolaan risiko yang baik," terang Yudho. Ke depan, FLOQ menilai pasar akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah agenda penting, di antaranya data inflasi Amerika Serikat, perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, pembahasan regulasi aset kripto di Amerika Serikat, serta keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pada akhir Juli. Sebagai platform perdagangan aset kripto yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), FLOQ berkomitmen menghadirkan pengalaman investasi aset digital yang aman, mudah, dan transparan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Disclaimer: Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian akibat volatilitas harga pasar. Seluruh informasi yang tersedia hanya bersifat umum dan bukan merupakan ajakan, penawaran, saran, maupun rekomendasi investasi. Kami menghimbau seluruh konsumen untuk melakukan riset dan mempertimbangkan keputusan investasi secara matang sebelum melakukan transaksi aset kripto. Konsumen juga diharapkan untuk bertransaksi sesuai dengan profil risiko dan kemampuan finansial masing-masing serta tidak menggunakan dana yang berada di luar batas kemampuan.
Bitcoin Masih Berisiko Turun ke US$50.000 Meski Peluang Rebound Belum Tertutup
Jakarta, katakabar.com - FLOQ merilis laporan Market Outlook pekan keempat Juni 2026 yang menunjukkan bahwa pasar kripto masih berada dalam fase ketidakpastian tinggi setelah Bitcoin (BTC) kehilangan level psikologis US$60.000. Meski harga sempat pulih ke kisaran US$62.000, FLOQ menilai pergerakan tersebut belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pembalikan tren. Tekanan terhadap pasar kripto saat ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor makroekonomi global, keluarnya dana investor institusi dari Spot Bitcoin ETF, hingga meningkatnya perhatian pasar terhadap perkembangan regulasi aset digital di Amerika Serikat melalui CLARITY Act. Menurut Yudhono Rawis, CEO & Founder FLOQ, investor perlu melihat kondisi pasar secara lebih menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada pergerakan harga harian. "Breakdown di bawah US$60.000 memang menjadi sinyal penting karena level tersebut selama ini dipandang sebagai support psikologis Bitcoin. Namun, investor juga perlu memahami bahwa pergerakan pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor makro global dibandingkan fundamental Bitcoin itu sendiri. Karena itu, kami melihat fase saat ini sebagai periode konfirmasi, bukan titik untuk mengambil keputusan secara emosional," ujar Yudho. Tekanan Makro Masih Mendominasi Pergerakan Bitcoin Dalam laporan tersebut, FLOQ menjelaskan bahwa penurunan Bitcoin pada 24 Juni hingga menyentuh level intraday US$59.023 dipicu oleh beberapa faktor yang terjadi secara bersamaan. Penguatan dolar Amerika Serikat, kenaikan imbal hasil US Treasury setelah sikap hawkish Federal Reserve, serta aksi jual pada saham-saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) mendorong investor global mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto. Kondisi tersebut diperparah oleh likuidasi lebih dari US$850 juta dalam waktu 24 jam, yang sebagian besar berasal dari posisi long berleverage. Efek domino dari likuidasi tersebut turut menekan Ethereum (ETH), Solana (SOL), XRP, hingga saham perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap Bitcoin. Secara teknikal, Bitcoin juga masih diperdagangkan di bawah sejumlah indikator moving average utama, sehingga struktur downtrend dinilai masih aktif. Area US$64.000 kini menjadi resistance penting yang harus ditembus sebelum pasar dapat mengonfirmasi pemulihan yang lebih kuat. Bitcoin Treasury Mulai Menghadapi Ujian Selain pergerakan harga Bitcoin, FLOQ juga menyoroti tekanan yang mulai dirasakan perusahaan-perusahaan dengan strategi Bitcoin Treasury seperti Strategy dan Strive. Perusahaan-perusahaan tersebut diketahui melakukan akumulasi Bitcoin pada harga rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan harga pasar saat ini. Di tengah pelemahan harga, investor mulai mempertanyakan keberlanjutan model pendanaan berbasis leverage maupun preferred equity yang digunakan untuk membiayai pembelian Bitcoin. Menurut FLOQ, tantangan terbesar bukan hanya berasal dari potensi unrealized loss, tetapi juga kewajiban pembayaran dividen dan kebutuhan likuiditas apabila pasar bearish berlangsung lebih lama. "Model Bitcoin Treasury belum pernah benar-benar diuji dalam periode penurunan harga yang panjang. Apabila tekanan harga terus berlanjut, investor akan mulai lebih memperhatikan kemampuan perusahaan dalam mengelola arus kas dibanding sekadar jumlah Bitcoin yang dimiliki," jelas Yudho. Outflow ETF Menunjukkan Investor Institusi Masih Berhati-hati FLOQ mencatat Spot Bitcoin ETF masih mengalami tekanan dengan outflow kumulatif sekitar US$6 miliar dalam enam minggu terakhir. Meski sempat terjadi inflow pada 23 Juni, jumlah tersebut dinilai belum cukup untuk membalikkan tren. FLOQ menilai pasar membutuhkan arus dana masuk yang konsisten sebelum dapat menyimpulkan bahwa tekanan jual mulai mereda. Di sisi lain, data on-chain masih menunjukkan aktivitas akumulasi oleh long-term holder dan whale. Namun, akumulasi tersebut belum mampu mengimbangi tekanan dari redemption ETF. CLARITY Act Berpotensi Jadi Katalis Terbesar Tahun Ini Di tengah tekanan jangka pendek, FLOQ menilai perkembangan CLARITY Act masih menjadi katalis positif terbesar bagi pasar aset digital sepanjang tahun 2026. Teks final regulasi tersebut dijadwalkan dirilis pada awal Juli sebelum memasuki tahap floor vote pada bulan yang sama. Apabila berhasil disahkan, Bitcoin dan Ethereum berpotensi memperoleh kepastian hukum sebagai digital commodity di bawah pengawasan Commodity Futures Trading Commission (CFTC). "Pasar saat ini sedang mencari katalis baru. Jika CLARITY Act berhasil disahkan, dampaknya bukan hanya terhadap harga Bitcoin dalam jangka pendek, tetapi juga terhadap meningkatnya kepastian regulasi yang selama ini menjadi perhatian investor institusi. Ini berpotensi menjadi fondasi pertumbuhan industri aset digital dalam jangka panjang," sebut Yudho. Tiga Skenario Bitcoin Waktu Dekat Dalam Market Outlook pekan ini, FLOQ memetakan tiga kemungkinan pergerakan Bitcoin dalam beberapa minggu ke depan. Skenario pertama adalah recovery terkonfirmasi, apabila Bitcoin mampu bertahan di atas US$62.000 selama lebih dari tiga hari berturut-turut, didukung inflow ETF yang kembali positif, data inflasi PCE Amerika Serikat yang melandai, serta stabilnya Nasdaq. Dalam kondisi tersebut, Bitcoin berpotensi bergerak menuju kisaran US$64.000 hingga US$68.000. Skenario kedua adalah konsolidasi, di mana Bitcoin diperkirakan bergerak dalam rentang US$59.000 - US$63.000 sambil menunggu perkembangan data ekonomi dan regulasi. Sementara, skenario ketiga adalah breakdown lanjutan apabila Bitcoin kembali kehilangan level US$59.000 dengan volume transaksi yang besar. Dalam kondisi tersebut, target koreksi menuju US$50.000 - US$51.000 dinilai semakin realistis. Investor Diminta Tetap Kedepankan Manajemen Risiko FLOQ mengimbau investor untuk tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko selama volatilitas pasar masih tinggi. Investor pemula disarankan menghindari panic selling maupun keputusan investasi yang didorong oleh euforia sesaat. Bagi investor jangka panjang, strategi akumulasi bertahap atau Dollar Cost Averaging (DCA) masih dapat dipertimbangkan selama dilakukan sesuai profil risiko dan tujuan investasi. Sedang, trader jangka pendek disarankan menunggu konfirmasi arah pasar, khususnya di area US$62.000 - US$63.000 yang masih menjadi level penentu dalam waktu dekat. "Volatilitas merupakan bagian dari karakter pasar kripto. Yang membedakan investor yang berhasil bukanlah kemampuan menebak harga berikutnya, melainkan kemampuan mengelola risiko dan tetap disiplin terhadap strategi investasi yang telah dibuat," tutup Yudho. Disclaimer: Laporan Market Outlook FLOQ disusun berdasarkan data publik hingga 25 Juni 2026 dan bertujuan sebagai informasi serta edukasi. Seluruh informasi dalam laporan ini bukan merupakan rekomendasi investasi maupun ajakan untuk membeli atau menjual aset kripto. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.
SpaceX Melonjak Disusul Bitcoin Rebound: Lagi, Investor Indonesia Berburu Peluang di Aset Global!
Jakarta, katakabar.com - Beberapa waktu belakangan setelah pencatatan perdananya, saham SpaceX (SPCX) melonjak lebih dari 20 persen (pada 19 Juni 2026) dan mendorong valuasi perusahaan mendekati US$2,7 triliun. Setelah bertahun-tahun hanya dapat diakses oleh investor institusional dan investor besar, SpaceX akhirnya dapat diakses oleh pasar ritel. Sebagian besar investor Indonesia tidak memiliki kesempatan untuk memiliki eksposur terhadap saham SpaceX, karena akses terhadap saham Amerika yang terbatas dan membutuhkan modal yang besar. Tetapi, dengan adanya tokenisasi aset, saham Amerika Serikat seperti SpaceX dapat diakses melalui aset kripto dengan sifat fraksional.Pada pasar lokal, Bittime, platform perdagangan aset kripto yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), telah menyediakan perdagangan SpaceX xStock (SPCXX). Penambahan aset ini menambah pilihan produk yang tersedia di platform bagi pengguna yang ingin mengakses eksposur terhadap tokenisasi saham Amerika Serikat sesuai dengan profil risiko. Bittime, platform perdagangan aset kripto yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), telah menyediakan perdagangan SpaceX xStock (SPCXX). Penambahan aset ini menambah pilihan produk yang tersedia di platform bagi pengguna yang ingin mengakses eksposur terhadap tokenisasi saham Amerika Serikat sesuai dengan profil risiko. Selain SpaceX, sentimen positif juga terlihat pada pasar aset kripto Bitcoin (BTC) yang berhasil rebound hingga 7,38% dalam seminggu dan menyentuh harga $65,766 berdasarkan graphic perdagangan pada Coinmarketcap per-hari ini, 17 Juni 2026. Fenomena penguatan SpaceX dan Bitcoin pada saat yang bersamaan menunjukkan tren yang semakin jelas di pasar keuangan global, yaitu meningkatnya minat terhadap aset-aset pertumbuhan (growth assets). Di tengah gejolak geopolitikal global dan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah, investor mulai mempertimbangkan diversifikasi ke berbagai kelas aset sesuai profil risiko masing-masing. Tokenisasi Real World Assets (RWA) menjadi salah satu inovasi yang membuka akses investasi global yang lebih inklusif bagi masyarakat Indonesia. Menurut Direktur Bisnis Operasional Bittime, Ryan Lymn, melalui proses tokenisasi, berbagai aset yang sebelumnya sulit dijangkau oleh investor dapat diakses secara lebih mudah dan efisien. Dengan begitu, investor dapat memperoleh akses terhadap aset yang memiliki nilai nyata, dan fleksibilitas transaksi yang ditawarkan teknologi blockchain. "Bittime melihat tokenisasi aset sebagai salah satu perkembangan penting yang akan membentuk masa depan industri investasi. Oleh karena itu, Bittime terus menghadirkan berbagai tokenisasi aset global agar investor Indonesia dapat memiliki lebih banyak pilihan dalam membangun portofolio yang terdiversifikasi,” jelas Ryan. Ia melanjutkan, sebagai bentuk dukungan bagi investor Indonesia untuk terus berinvestasi dan memperluas portfolio aset nya, Bittime meluncurkan program terbaru Bittime Mining Points, League of Traders. Melalui program ini, kata Ryan, pengguna dapat memperoleh points dari aktivitas trading dan referral dari berbagai aset yang tersedia di platform Bittime, termasuk Bitcoin (BTC), Emas (XAUT), USD (USDT), maupun aset global RWA seperti SpaceX xStock (SPCXX). Poin yang terkumpul nantinya dapat ditukarkan menjadi hadiah dalam bentuk USDT, sehingga memberikan nilai tambah bagi pengguna yang aktif bertransaksi. Menurut Ryan, melalui Bittime Mining Points, pihaknya ingin memberikan kesempatan bagi pengguna untuk mengeksplorasi peluang tersebut sekaligus memperoleh reward tambahan yang dapat ditukarkan menjadi USDT. Bittime berkomitmen membantu investor Indonesia memanfaatkan peluang investasi global secara lebih mudah, aman, dan terjangkau. Di tengah meningkatnya integrasi pasar keuangan dunia, akses terhadap aset seperti Bitcoin dan SpaceX kini bukan lagi privilese segelintir investor, melainkan peluang yang dapat dijangkau oleh lebih banyak masyarakat Indonesia. Ingat, investor perlu memahami dinamika pasar memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap strategi portofolio masing-masing. Mengingat, kondisi volatilitas pasar yang dapat menciptakan peluang, sekaligus risiko lebih tinggi. Itu sebabnya, edukasi berkelanjutan mengenai manajemen risiko dan analisis fundamental makro ekonomi menjadi pondasi utama dalam membangun portofolio investasi yang sehat dan berkelanjutan di era digital ini. Apalagi, aset kripto mengandung risiko tinggi yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya.
Fed Makin Hawkish, Bitcoin Terseret ke US$63.000: Regulasi AS Harapan Baru Pasar
Jakarta, katakabar.com - Pasar kripto global kembali menghadapi tekanan setelah Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan tetapi mengirim sinyal kebijakan lebih hawkish dibandingkan ekspektasi pasar. Reaksi investor terlihat langsung pada pergerakan aset berisiko, termasuk Bitcoin yang sempat turun ke area US$63.000 pasca pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Juni 2026. Market Outlook FLOQ pekan ketiga Juni 2026 menyoroti, perubahan proyeksi kebijakan moneter The Fed menjadi faktor utama yang saat ini membentuk sentimen pasar global. Meski suku bunga tetap berada di kisaran 3,50%–3,75%, revisi proyeksi inflasi dan perubahan dot plot menunjukkan bank sentral Amerika Serikat masih melihat risiko inflasi yang tinggi, sehingga ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi lebih terbatas dibandingkan perkiraan sebelumnya. Menurut Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ, kondisi pasar saat ini menunjukkan faktor makroekonomi global kembali menjadi penggerak utama sentimen investor, khususnya di pasar aset digital. "Keputusan The Fed kali ini menegaskan bahwa pasar belum sepenuhnya keluar dari tantangan inflasi. Yang perlu dipahami investor adalah bahwa volatilitas jangka pendek bukan berarti fundamental Bitcoin berubah. Saat ini pasar sedang melakukan penyesuaian terhadap ekspektasi suku bunga, sementara di sisi lain kita masih melihat perkembangan positif seperti meningkatnya kepastian regulasi di Amerika Serikat dan akumulasi yang terus dilakukan oleh institusi besar," ujar Yudho. Yudho menambahkan investor perlu lebih disiplin dalam mengelola risiko di tengah ketidakpastian pasar global. "Dalam kondisi seperti sekarang, fokus investor sebaiknya bukan hanya pada pergerakan harga harian, tetapi juga pada faktor-faktor yang akan membentuk arah industri dalam jangka panjang. Regulasi yang lebih jelas, adopsi institusional, serta perkembangan teknologi blockchain masih menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekosistem aset digital ke depan. Karena itu, edukasi dan pengambilan keputusan investasi yang rasional menjadi semakin penting," ucapnya. The Fed Ubah Ekspektasi Pasar Di rapat FOMC Juni 2026, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%. Tetapi, pasar menyoroti perubahan signifikan pada proyeksi ekonomi yang menunjukkan sikap lebih hawkish dibandingkan pertemuan sebelumnya. Median dot plot untuk akhir 2026 meningkat dari 3,4% menjadi 3,8%, sementara sembilan dari 18 anggota FOMC kini memproyeksikan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Di saat yang sama, proyeksi inflasi PCE direvisi naik menjadi 3,6%. Perubahan tersebut mendorong pasar menyesuaikan kembali ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Selain itu, berkurangnya forward guidance dari The Fed membuat pasar semakin sensitif terhadap setiap rilis data ekonomi, termasuk inflasi dan ketenagakerjaan. Bitcoin Uji Area Kritis di Tengah Ketidakpastian Makro Pasca pengumuman FOMC, Bitcoin kembali menguji area US$63.000–US$64.000 yang kini menjadi salah satu level penting yang diperhatikan pelaku pasar. Pergerakan harga tersebut terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama dari perkiraan. Secara historis, kebijakan moneter yang ketat cenderung membatasi aliran likuiditas ke aset berisiko, termasuk pasar kripto. Meski demikian, sejumlah faktor fundamental masih memberikan dukungan terhadap prospek jangka panjang industri aset digital. Salah satunya adalah meningkatnya partisipasi institusional serta perkembangan regulasi yang lebih jelas di Amerika Serikat. CLARITY Act Jadi Sorotan Investor Institusional Di tengah tekanan makroekonomi, perhatian pasar kini mulai beralih ke perkembangan CLARITY Act yang tengah diproses di Senat Amerika Serikat. Rancangan undang-undang tersebut dinilai sebagai salah satu inisiatif regulasi paling signifikan bagi industri aset digital sejak persetujuan ETF Bitcoin Spot. Apabila berhasil disahkan, CLARITY Act berpotensi memberikan kepastian hukum yang lebih jelas bagi pelaku industri dan investor institusional yang selama ini masih menghadapi berbagai ketidakpastian regulasi. Menurut analisis FLOQ, perkembangan regulasi tersebut dapat menjadi salah satu katalis struktural terpenting bagi pasar kripto dalam beberapa bulan mendatang. Kepastian regulasi diyakini dapat membuka jalan bagi partisipasi yang lebih luas dari institusi keuangan tradisional, perusahaan investasi, serta berbagai pelaku pasar yang selama ini masih menunggu kejelasan kerangka hukum aset digital di Amerika Serikat. Strategy Kembali Akumulasi Bitcoin Faktor lain yang menarik perhatian pasar adalah langkah Strategy yang kembali menambah kepemilikan Bitcoin dalam dua pekan terakhir. Perusahaan yang dikenal sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia tersebut membeli 1.550 BTC pada kisaran harga rata-rata US$65.332 dan kembali menambah 1.587 BTC pada harga rata-rata US$63.024. Dengan tambahan tersebut, total kepemilikan Bitcoin perusahaan mencapai 846.842 BTC. Langkah akumulasi ini dilakukan tidak lama setelah perusahaan sempat menjual sebagian kecil kepemilikannya untuk memenuhi kewajiban pembayaran dividen. Aktivitas tersebut sebelumnya sempat memicu spekulasi di pasar, namun kembali ditegaskan oleh manajemen sebagai bagian dari model bisnis perusahaan dan bukan perubahan pandangan terhadap prospek jangka panjang Bitcoin. Bagi pelaku pasar, aktivitas pembelian tersebut menunjukkan bahwa minat institusional terhadap Bitcoin masih tetap terjaga meskipun kondisi makro global sedang menghadapi ketidakpastian. Faktor Geopolitik Masih Perlu Dicermati Selain faktor moneter dan regulasi, pasar juga memantau perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memengaruhi harga energi global. Penurunan harga minyak dalam beberapa hari terakhir memberikan harapan terhadap potensi penurunan tekanan inflasi. Jika tren tersebut berlanjut, tekanan terhadap kebijakan moneter yang agresif dapat berkurang sehingga memberikan sentimen yang lebih positif bagi aset berisiko, termasuk pasar kripto. Meski demikian, perkembangan geopolitik masih bersifat dinamis dan perlu dipantau secara berkelanjutan oleh investor. Investor Perlu Fokus Manajemen Risiko FLOQ menilai bahwa beberapa pekan ke depan masih berpotensi diwarnai volatilitas yang tinggi, terutama menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat, perkembangan pembahasan CLARITY Act, serta dinamika geopolitik global. Dalam kondisi seperti ini, investor disarankan untuk tetap mengedepankan manajemen risiko, menghindari keputusan emosional, serta mempertimbangkan strategi investasi yang sesuai dengan profil risiko masing-masing. Bagi investor jangka panjang, perkembangan regulasi dan adopsi institusional tetap menjadi faktor fundamental yang perlu diperhatikan. Sementara itu, investor jangka pendek perlu mencermati dinamika makroekonomi global yang saat ini menjadi penggerak utama sentimen pasar. Disclaimer: Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian akibat volatilitas harga pasar. Seluruh informasi yang tersedia hanya bersifat umum dan bukan merupakan ajakan, penawaran, saran, maupun rekomendasi investasi. Kami menghimbau seluruh konsumen untuk melakukan riset dan mempertimbangkan keputusan investasi secara matang sebelum melakukan transaksi aset kripto. Konsumen juga diharapkan untuk bertransaksi sesuai dengan profil risiko dan kemampuan finansial masing-masing serta tidak menggunakan dana yang berada di luar batas kemampuan.
Harga Bitcoin Melemah Tajam, Investor Indonesia Tidak Panic Selling
Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan dan bergerak di kisaran US$62.000 setelah pasar kripto global menghadapi tekanan jual dalam beberapa hari terakhir, bahkan penurunan lebih dari 14 persen sepekan belakangan ini. Pelemahan itu dipengaruhi kombinasi beberapa faktor, mulai dari arus keluar dana dari ETF Bitcoin Spot, likuidasi posisi leverage, hingga rotasi likuiditas investor global ke aset lain seperti saham teknologi dan sektor kecerdasan buatan. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, mengatakan tekanan terhadap Bitcoin kali ini tidak terjadi karena satu faktor tunggal. Menurutnya, pasar kripto sedang menghadapi tekanan dari beberapa sisi secara bersamaan, terutama dari melemahnya minat investor institusional tercermin dari arus keluar dana ETF Bitcoin. “Pelemahan konsisten pada kripto kali ini terjadi karena tekanan datang dari beberapa sisi sekaligus. Faktor utamanya adalah arus keluar dana dari Spot Bitcoin ETF. Dalam 13 hari perdagangan dari 15 Mei sampai 3 Juni, ETF Bitcoin mencatat net outflow sekitar US$4,33 miliar, yang menunjukkan demand institusional sedang melemah,” kata Calvin. Calvin menjelaskan sebelumnya ETF Bitcoin menjadi salah satu motor utama yang menopang kenaikan harga Bitcoin. Ketika dana institusional mulai keluar dari instrumen tersebut, pasar merespons dengan tekanan harga yang cukup kuat. Kondisi ini kemudian membuat investor ritel menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil posisi. Selain outflow ETF, ucap Calvin, penurunan harga Bitcoin juga diperparah oleh likuidasi posisi leverage. Saat Bitcoin turun ke area sekitar US$61.000 hingga 62.000, banyak posisi long terpaksa ditutup otomatis. Hal ini menciptakan tekanan jual tambahan karena pasar tidak hanya menghadapi aksi jual investor biasa, tetapi juga forced selling dari trader yang menggunakan leverage. “Ketika banyak posisi leverage terlikuidasi, tekanan jual bisa meningkat dalam waktu singkat. Inilah yang membuat penurunan Bitcoin terasa lebih tajam, terutama saat harga menembus area support penting,” beber Calvin. Rotasi Likuiditas Kripto ke Saham Tekanan terhadap Bitcoin juga terjadi di tengah rotasi likuiditas ke pasar saham AS. Saat kripto melemah, pasar saham AS justru relatif lebih kuat, didorong oleh sentimen positif di sektor teknologi dan kecerdasan buatan. Kondisi ini membuat sebagian pelaku pasar global lebih memilih aset yang memiliki narasi lebih kuat dalam jangka pendek dibandingkan aset kripto. Calvin menilai, perhatian investor global juga mulai tersedot ke peluang besar lain di pasar modal, termasuk rencana IPO jumbo seperti SpaceX. Dalam situasi likuiditas yang terbatas, narasi besar seperti AI, saham teknologi, dan IPO berkapitalisasi besar dapat membuat dana spekulatif berpindah sementara dari kripto ke aset lain. Tetapi, pelemahan Bitcoin tidak serta-merta memicu panic selling besar-besaran di Indonesia. Calvin melihat sentimen investor domestik saat ini cenderung lebih berhati-hati dan defensif. Sebagian investor memilih menahan aset, mengurangi aktivitas trading jangka pendek, atau memindahkan sebagian portofolio ke stablecoin sambil menunggu arah pasar lebih jelas. “Investor Indonesia saat ini lebih berhati-hati. Banyak yang memilih wait and see, menahan posisi, atau memindahkan sebagian aset ke stablecoin. Ini bukan berarti kepercayaan terhadap Bitcoin hilang, tetapi investor sedang menyesuaikan strategi dengan kondisi pasar yang masih penuh tekanan,” ulas Calvin lagi. Masih Calvin, tekanan jual dari investor domestik relatif masih terkendali. Sebagian besar investor tidak langsung melepas aset secara agresif, melainkan menunggu stabilisasi pasar. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap prospek jangka panjang Bitcoin masih tetap ada, meskipun dalam jangka pendek pasar sedang berada dalam fase koreksi. Di sisi lain, Tokocrypto juga mencatat adanya peningkatan minat terhadap stablecoin, terutama USDT. Dalam kondisi pasar yang bergejolak, stablecoin sering digunakan investor untuk menjaga likuiditas, mempertahankan nilai portofolio, dan menunggu momentum masuk kembali ke aset kripto lain. Faktor pelemahan rupiah terhadap dolar AS turut mendorong minat terhadap stablecoin berbasis dolar. Selain stablecoin, sebagian investor dengan toleransi risiko lebih tinggi mulai melakukan diversifikasi ke sejumlah altcoin yang masih memiliki momentum. Meskipun Bitcoin mengalami tekanan, beberapa altcoin dinilai tetap memiliki peluang dari rotasi aset, terutama bagi trader aktif yang terbiasa memanfaatkan volatilitas pasar. Calvin menilai sentimen investor Indonesia saat ini bukan sepenuhnya negatif, tetapi lebih selektif. Investor cenderung mengurangi risiko jangka pendek, menjaga likuiditas, dan tetap memantau peluang di aset kripto lain sambil menunggu arah Bitcoin kembali stabil. Koreksi Jangka Pendek Terkait potensi ke depan, Calvin melihat pelemahan Bitcoin saat ini masih lebih mencerminkan koreksi jangka pendek yang cukup dalam, bukan perubahan tren fundamental secara penuh. Menurutnya, tekanan terbesar saat ini berasal dari outflow ETF Bitcoin, pelemahan minat institusional, dan belum adanya katalis baru yang cukup kuat untuk mendorong pasar kripto kembali naik. “Outflow ETF perlu dilihat sebagai indikator tekanan sentimen dan likuiditas jangka pendek. Ketika dana institusional keluar dari ETF, pasar biasanya merespons dengan tekanan harga. Namun, kami belum melihat kondisi ini sebagai perubahan tren fundamental yang menghapus prospek jangka panjang Bitcoin,” imbuh Calvin. Ia menambahkan, pasar kripto saat ini membutuhkan pemulihan kepercayaan dan arus dana baru untuk kembali mendorong momentum. Jika outflow ETF terus berlanjut dan Bitcoin gagal mempertahankan area support penting, tekanan harga dapat berlangsung lebih lama. Jika ETF kembali mencatat inflow dan harga Bitcoin mulai stabil, sentimen investor domestik berpotensi pulih dengan cepat. Calvin juga menilai peluang Bitcoin turun ke level US$50.000 tahun ini masih terbuka, tetapi belum menjadi skenario utama. Dengan posisi Bitcoin saat ini di sekitar US$62.000, penurunan ke US$50.000 berarti masih membutuhkan koreksi sekitar 20% lagi dari level sekarang. Skenario tersebut dapat terjadi jika tekanan ETF outflow berlanjut, support psikologis US$60.000 ditembus, dan sentimen makro semakin risk-off. “Peluang BTC turun ke US$50.000 tetap ada, tetapi menurut saya belum menjadi skenario utama. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas area US$60.000, peluang rebound masih lebih besar. Level ini menjadi batas psikologis sekaligus area yang sangat dipantau market,” jelas Calvin. Menurutnya, peluang Bitcoin turun ke US$50.000 dapat ditempatkan di kisaran 30 persen hingga 40 persen, sementara peluang rebound atau stabil kembali di atas US$65.000 hingga 70.000 berada di kisaran 60 persen hingga 70 persen. Jika tekanan jual mulai mereda, ETF outflow berkurang, atau terdapat katalis positif dari suku bunga dan minat institusional, Bitcoin masih memiliki ruang untuk pulih menuju area US$70.000–75.000. Investor Tetap Displin Untuk investor ritel yang masih menabung Bitcoin, Calvin menyarankan agar tetap disiplin, tetapi tidak agresif. Investor disarankan menggunakan dana yang memang siap ditahan untuk jangka panjang, bukan dana kebutuhan harian, dana darurat, atau dana pinjaman. “Strategi yang lebih sehat adalah menabung secara bertahap dengan nominal yang siap ditahan untuk jangka panjang. Jangan melihat penurunan harga sebagai alasan untuk langsung all-in. Lebih baik membagi pembelian dalam beberapa tahap, tetap memiliki kas cadangan, dan memastikan porsi Bitcoin dalam portofolio tidak terlalu dominan,” tambah Calvin. Ia juga mengingatkan investor ritel untuk menghindari penggunaan leverage dalam kondisi pasar yang belum stabil. Menurutnya, investor yang tujuannya menabung Bitcoin sebaiknya fokus pada akumulasi spot, bukan trading jangka pendek dengan pinjaman atau margin.
Bitcoin Flat di US$74K, Sebagian Investor Mulai Positioning
Jakarta, katakabar.com - Pergerakan pasaTata Niagar crypto beberapa minggu terakhir terasa cenderung sideways di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Bitcoin (BTC) masih bergerak di kisaran US$74.000 setelah sebelumnya sempat tertekan akibat eskalasi geopolitik di sekitar Bandar Abbas dan meningkatnya sentimen risk-off global. Tetapi di balik market yang terlihat “sepi”, sebagian pelaku market justru mulai melihat fase ini sebagai periode repositioning sebelum volatilitas kembali meningkat. Berdasarkan Analisa pasar dari Trading Desk FLOQ, tekanan pasar global saat ini dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor utama, mulai dari eskalasi konflik di Timur Tengah, kenaikan harga energi global, hingga pergeseran arus dana institusional yang semakin defensif terhadap aset digital. Salah satu sinyal penting datang dari laporan posisi Bank of America yang tercatat mengurangi eksposur terhadap Ethereum dan Solana, lalu meningkatkan alokasi ke ETF Bitcoin seperti IBIT. Pergerakan ini memperkuat persepsi bahwa Bitcoin masih dianggap sebagai aset kripto utama untuk menghadapi ketidakpastian makro global. Di sisi lain, beberapa aset tertentu mulai menunjukkan pergerakan yang lebih kuat dibanding market secara keseluruhan. Saat sebagian besar investor retail merasa market sedang kehilangan momentum, trader dan investor berpengalaman justru mulai fokus pada pengelolaan posisi, cash management, dan strategi akumulasi bertahap. Fenomena ini sering muncul fase market sideways. Sebagian investor retail cenderung menunggu market kembali “ramai” sebelum masuk, sementara sebagian lainnya mencoba mengejar pergerakan jangka pendek melalui overtrading. Namun trader yang lebih disiplin biasanya memahami bahwa peluang sering kali mulai dibangun ketika market terasa lambat dan penuh keraguan. Secara psikologis, kondisi ini juga memunculkan pola yang terus berulang di market crypto: banyak investor berharap harga turun lebih dalam agar bisa membeli lebih murah, tetapi ketika harga mulai bergerak naik, muncul penyesalan karena belum melakukan positioning lebih awal. Menurut tim trading desk FLOQ, kondisi makro saat ini memang masih menunjukkan kecenderungan risk-off dan belum terdapat katalis positif besar yang dapat mendorong penguatan Bitcoin secara agresif dalam jangka pendek. Tetapi justru pada fase seperti inilah sebagian investor jangka panjang mulai memisahkan noise jangka pendek dari tren adopsi yang lebih besar. “Sebagai investor jangka panjang, saya pribadi selalu percaya bahwa periode market sideways adalah waktu untuk repositioning secara berkala. Saat market terasa datar dan banyak orang mulai kehilangan momentum, saya justru selalu ingat bahwa di fase seperti inilah kesempatan sering mulai dibangun. Bagi saya, investasi bukan hanya tentang mengejar kenaikan harga jangka pendek, tetapi tentang disiplin membangun posisi, memahami siklus market, dan tetap rasional di tengah ketidakpastian global. Karena dalam banyak kasus, momentum besar biasanya tidak dimulai saat semua orang sudah optimis, tetapi ketika market masih terasa tenang," beber Yudhono Rawis, CEO and Founder FLOQ Apa Sebaiknya Dilakukan Investor Pemula? Pada kondisi market seperti sekarang, investor pemula sebaiknya menghindari keputusan emosional yang dipicu oleh headline jangka pendek atau fear market sementara. FLOQ melihat banyak investor baru sering terjebak dalam dua kesalahan utama saat market sideways: 1. terlalu cepat panic selling ketika market terkoreksi, 2. atau langsung mengejar altcoin hanya karena terlihat “murah”. Padahal dalam kondisi makro yang masih penuh ketidakpastian, pendekatan yang lebih disiplin justru menjadi lebih penting. Untuk investor pemula, strategi yang lebih aman biasanya adalah:• melakukan akumulasi secara bertahap dibanding all-in dalam satu harga,• membatasi ukuran posisi,• fokus pada aset dengan likuiditas dan adopsi lebih besar seperti Bitcoin,• serta memahami bahwa market crypto kini semakin dipengaruhi dinamika makro global, bukan hanya hype media sosial semata. Pendekatan seperti Dollar Cost Averaging (DCA) juga mulai kembali banyak dibicarakan di tengah market yang bergerak datar, terutama bagi investor yang ingin membangun eksposur jangka panjang tanpa harus mencoba menebak titik bottom market secara presisi. Bagaimana dengan Trader Aktif? Bagi trader aktif, kondisi market saat ini menuntut pendekatan yang lebih defensif dibanding beberapa bulan sebelumnya. FLOQ mencatat saat institusi mulai mengalihkan dana dari altcoin menuju Bitcoin, maka aset dengan volatilitas tinggi berpotensi mengalami tekanan yang lebih besar ketika sentimen global memburuk. Dalam situasi seperti ini, trader biasanya mulai:• mengurangi ukuran leverage,• mempercepat profit taking,• memperketat stop-loss,• dan lebih selektif memilih aset yang memiliki strength relatif dibanding market. Alih-alih memaksa mencari trade setiap hari, sebagian trader berpengalaman justru lebih fokus menjaga modal dan menunggu momentum dengan risk-reward yang lebih jelas. Karena pada akhirnya, bertahan di market sering kali lebih penting daripada memaksakan entry di setiap pergerakan kecil. Fokus Investor Jangka Panjang Mulai Bergeser Sementara itu, investor jangka panjang mulai kembali memperhatikan tren adopsi institusional yang terus berkembang di balik volatilitas jangka pendek. Meningkatnya dominasi Bitcoin dalam arus dana institusional memperlihatkan bahwa BTC semakin dipandang sebagai aset defensif utama di sektor crypto saat ketidakpastian global meningkat. Bagi investor jangka panjang, fase market seperti sekarang biasanya lebih digunakan untuk: • membangun posisi secara bertahap, • menjaga disiplin alokasi aset, • dan membedakan noise jangka pendek dari tren makro yang lebih besar. Karena dalam banyak siklus market sebelumnya, peluang sering kali mulai dibangun bukan saat market sudah euphoric, melainkan ketika semuanya masih terasa flat dan membosankan. Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan saran finansial maupun investasi. Selalu lakukan riset dan pertimbangan risiko sebelum melakukan investasi aset digital. Tentang FLOQ FLOQ adalah platform perdagangan aset digital yang berkomitmen untuk menghadirkan pengalaman investasi yang aman, transparan, dan mudah diakses oleh masyarakat. Dengan fokus pada inovasi, edukasi, serta kepatuhan terhadap regulasi, FLOQ bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekosistem aset digital di Indonesia. FLOQ memiki komunitas aktif dengan lebih dari 250,000 followers yang bergabung di 7 platform social media, 25,000 anggota komunitas aktif dan juga platform yang berkomitmen untuk meningkatkan edukasi bagi setiap pengguna dan publik dengan penyediaan FLOQ Akademi yang dapat diakses tanpa biaya. Hingga saat ini, FLOQ telah mencatat lebih dari 1,8 juta pengguna terdaftar and 2 juta App downloads dan mendukung 100+ aset digital. Dengan fokus pada pengembangan ekosistem dan kolaborasi strategis, FLOQ bertujuan menghadirkan manfaat nyata bagi penggunanya di era ekonomi digital.
Di Tengah Gejolak Global, Bitcoin Tetap Jadi Pilihan Utama Investor Crypto Baru di Indonesia
Jakarta, katakabar.com - Di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, Bitcoin (BTC) tetap jadi aset digital pilihan utama bagi banyak investor crypto baru di Indonesia. Kurun beberapa bulan terakhir, market crypto bergerak semakin sensitif terhadap perkembangan konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Eskalasi militer yang memicu kenaikan harga minyak dan kekhawatiran inflasi global beberapa kali menekan harga Bitcoin secara signifikan. Sebaliknya, kabar terkait ceasefire atau optimisme negosiasi damai cenderung mendorong pemulihan harga BTC dengan cepat. Meski volatilitas meningkat, data dan perilaku user di platform FLOQ menunjukkan tren yang berbeda di level retail Indonesia: minat terhadap Bitcoin sebagai aset digital pertama masih tetap kuat. “Di tengah market yang bergerak sangat dipengaruhi headline global, kami justru melihat banyak user baru tetap memilih Bitcoin sebagai entry point pertama mereka ke dunia aset digital,” ujar Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ. “Ini menunjukkan kepercayaan terhadap Bitcoin sebagai aset jangka panjang masih sangat kuat, bahkan ketika market sedang penuh ketidakpastian," jelasnya. Selain menjadi aset pertama yang paling banyak dipilih user baru, FLOQ juga melihat meningkatnya perilaku akumulasi bertahap atau dollar-cost averaging (DCA) di kalangan investor retail. Banyak user mulai melakukan pembelian rutin dalam nominal kecil dibanding mencoba menebak titik bottom market. Tren ini mencerminkan perubahan perilaku investor Indonesia yang mulai lebih fokus pada strategi jangka panjang dibanding sekadar mengejar momentum jangka pendek. Secara global, Bitcoin dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan hubungan yang semakin erat dengan faktor makro ekonomi dan geopolitik. Sejak akhir Februari 2026, beberapa eskalasi konflik Iran tercatat memicu koreksi tajam di market crypto, termasuk penurunan BTC menuju area low US$60 ribu hingga pada saat ini diperdagangkan di kisaran harga US$73,500 (data diambil pada 30 May 19.15 WIB). Di sisi lain, optimisme terkait de-eskalasi konflik dan pembukaan jalur perdagangan global seperti Strait of Hormuz beberapa kali memicu rebound Bitcoin kembali menuju area high US$70 ribu hingga sempat mendekati US$80 ribu. Menurut FLOQ, kondisi ini menunjukkan bahwa dalam jangka pendek Bitcoin masih bergerak sebagai aset risk-on yang sensitif terhadap sentimen global, khususnya terkait harga minyak, inflasi, dan ekspektasi suku bunga. Tetapi di balik volatilitas tersebut, adopsi retail Indonesia terhadap Bitcoin justru terus menunjukkan fondasi yang semakin matang. “Investor baru mulai memahami bahwa market tidak selalu harus ditiming secara sempurna,” tambah Yudhono. “Banyak yang sekarang memilih membangun eksposur secara bertahap melalui aset yang paling mereka percaya dan paling mereka pahami, dan saat ini Bitcoin masih menjadi aset tersebut," terangnya. FLOQ melihat tren ini sebagai bagian dari evolusi market crypto Indonesia yang mulai bergerak ke arah perilaku investasi yang lebih disiplin, teredukasi, dan berorientasi jangka panjang. Seiring market global yang masih akan dipengaruhi perkembangan geopolitik dan kondisi ekonomi dunia, FLOQ menilai edukasi dan pemahaman strategi investasi akan menjadi faktor penting bagi investor retail dalam menghadapi volatilitas market ke depan. Tentang FLOQ FLOQ adalah platform perdagangan aset digital yang berkomitmen untuk menghadirkan pengalaman investasi yang aman, transparan, dan mudah diakses oleh masyarakat. Dengan fokus pada inovasi, edukasi, serta kepatuhan terhadap regulasi, FLOQ bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekosistem aset digital di Indonesia. FLOQ memiki komunitas aktif dengan lebih dari 250,000 followers yang bergabung di 7 platform social media, 25,000 anggota komunitas aktif dan juga platform yang berkomitmen untuk meningkatkan edukasi bagi setiap pengguna dan publik dengan penyediaan FLOQ Akademi yang dapat diakses tanpa biaya. Hingga saat ini, FLOQ telah mencatat lebih dari 1,8 juta pengguna terdaftar and 2 juta App downloads dan mendukung 100+ aset digital. Dengan fokus pada pengembangan ekosistem dan kolaborasi strategis, FLOQ bertujuan menghadirkan manfaat nyata bagi penggunanya di era ekonomi digital.