Ketika Kampus Tak Lagi Cukup Sekadar Digital: Metranet dan Masa Depan PTI Pendidikan
Pendidikan
Minggu, 13 September 2026 | 13:03 WIB

Ketika Kampus Tak Lagi Cukup Sekadar Digital: Metranet dan Masa Depan PTI

Jakarta, katakabar.com - Lewat konsep Building Impactful Universities untuk membangun perguruan tinggi yang bermutu, berdampak, dan mampu berdaya saing global, Metranet melihat teknologi sebagai enabler. Perguruan tinggi Indonesia (PTI) tengah memasuki fase baru dalam pemanfaatan teknologi. Digitalisasi tidak lagi cukup dimaknai sebagai upaya memindahkan layanan dan proses ke platform digital, tetapi perlu diarahkan untuk membangun institusi yang lebih adaptif, berbasis data, inovatif, dan mampu menciptakan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. Perspektif tersebut menjadi salah satu konteks kehadiran Metranet, anak perusahaan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, dalam Indonesia Higher Education CIO Forum 2026 yang berlangsung di Aula Timur dan Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, pada 31 Agustus hingga 1 September 2026. Usung tema “Empowering PDDikti (Pangkalan Data Pendidikan Tinggi) through IDREN Collaboration: Advancing IT Governance, Cyber Resilience, and Operational Excellence”, forum ini mempertemukan pimpinan teknologi informasi dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia bersama pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan terkait. Selama dua hari, forum ini membahas sejumlah agenda strategis yang menjadi fondasi pengembangan pendidikan tinggi berbasis teknologi, mulai dari integrasi dan pelaporan PDDikti, perluasan konektivitas melalui Indonesia Research and Education Network (IDREN), tata kelola teknologi informasi, pemerintahan digital, ketahanan siber, hingga pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk analitik data dan pelaporan. Diskusi juga diperluas melalui sesi meja bundar yang membahas tata kelola dan kebijakan TI, ekosistem data pendidikan tinggi, transformasi digital, ketahanan siber, serta SDM digital dan kepemimpinan TI. Bagi Metranet, berbagai agenda tersebut menunjukkan bahwa masa depan kampus digital membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Teknologi perlu ditempatkan sebagai enabler yang menghubungkan kebutuhan akademik, operasional, data, inovasi, dan aktivitas ekonomi kampus sehingga menghasilkan nilai yang nyata. Pandangan tersebut dituangkan Metranet melalui kerangka “Building Impactful Universities”, yang menggambarkan evolusi perguruan tinggi menuju empat area utama: AI-Ready Campus, Digital University, Campus Economic Hub, serta Research to Impact to Market. Keempat area tersebut didukung oleh kapabilitas Metranet Group pada lima area, yaitu technology, AI, data, commerce, dan ecosystem. “Kami melihat transformasi perguruan tinggi bukan semata-mata mengenai seberapa banyak teknologi yang digunakan, tetapi seberapa besar nilai yang dapat dihasilkan dari pemanfaatannya. Teknologi harus mampu meningkatkan kualitas layanan, memperkuat pengambilan keputusan, membuka ruang inovasi, dan mendukung perguruan tinggi menghasilkan dampak yang lebih besar. Karena itu, Metranet mengambil posisi sebagai Digital Enabler for Nation untuk membantu menghadirkan kapabilitas yang relevan dengan kebutuhan tersebut,” kata Faisal Yusuf, Direktur Bisnis Metranet. Dalam visi tersebut, digitalisasi bukan sekadar membangun layanan berbasis teknologi, melainkan menyatukan berbagai aspek perguruan tinggi, mulai dari akademik dan riset hingga pengalaman mahasiswa dan operasional. Dukungan data dan AI kemudian memungkinkan institusi mengambil keputusan secara lebih cerdas, meningkatkan kualitas layanan, dan menciptakan nilai yang lebih besar bagi seluruh ekosistemnya.  Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Metranet menghadirkan sejumlah kapabilitas melalui portofolionya, antara lain SCALA sebagai digital transformation enabler, Xooply sebagai e-commerce platform, Cazbox sebagai community platform, dan Uzone sebagai digital literacy platform. Metranet juga memperkuat kapabilitasnya melalui kolaborasi dengan Google untuk produk Google Education dan Zoom Communications untuk produk Zoom Workplace di sektor pendidikan. Portofolio tersebut merepresentasikan pendekatan Metranet yang tidak hanya berfokus pada penyediaan teknologi, tetapi juga pada bagaimana berbagai kapabilitas dapat menjawab kebutuhan institusi secara lebih utuh, mulai dari transformasi proses, pengembangan layanan, penguatan komunitas, hingga peningkatan literasi digital. “Perguruan tinggi memiliki kebutuhan yang sangat beragam dan tidak dapat diselesaikan oleh satu solusi saja. Karena itu, pendekatannya harus berbasis ekosistem. Pemerintah memiliki peran dalam kebijakan dan arah nasional, perguruan tinggi memahami kebutuhan akademik dan institusionalnya, sementara industri dan technology partner dapat membawa kapabilitas untuk mempercepat implementasi. Metranet ingin mengambil peran sebagai penghubung kekuatan tersebut,” lanjut Faisal. Pendekatan berbasis ekosistem ini menjadi semakin relevan ketika pendidikan tinggi dihadapkan pada tantangan yang bersifat lintas institusi. Perbedaan tingkat kematangan teknologi, kualitas dan interoperabilitas data, risiko keamanan siber, serta kebutuhan mengadopsi cloud dan AI secara strategis menjadi sejumlah isu yang perlu dijawab bersama oleh ekosistem pendidikan tinggi. Karena itu, Indonesia Higher Education CIO Forum 2026 menjadi ruang untuk menyamakan perspektif dan menyusun langkah bersama. Forum ini diarahkan untuk membangun kesepahaman mengenai arah transformasi digital pendidikan tinggi sekaligus memperkuat tata kelola TI, infrastruktur dan konektivitas, keamanan siber, pemanfaatan AI, serta jejaring kolaborasi antar-CIO dengan perguruan tinggi. Bagi Metranet, keterlibatan dalam forum tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk terus memperluas kontribusi TelkomGroup dalam mendukung kemajuan pendidikan Indonesia. Dengan mempertemukan kapabilitas teknologi, mitra strategis, dan kebutuhan institusi, Metranet melihat peluang untuk membantu perguruan tinggi bergerak menuju institusi yang tidak hanya digital, tetapi juga bermutu, berdampak, dan mampu berdaya saing secara global. “Pada akhirnya, teknologi bukanlah tujuan akhir. Teknologi adalah enabler untuk menciptakan perguruan tinggi yang bermutu, berdampak, dan mendunia. Kami percaya ketika pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan technology partner bergerak bersama, transformasi yang dihasilkan tidak hanya memperkuat institusi, tetapi juga memberikan kontribusi bagi kemajuan Indonesia,” sebut Faisal.

Sabtu, 12 September 2026 | 16:22 WIB

ION Ajak Startup Bandung Lihat Celah Infrastruktur Digital Peluang Bisnis

Bandung, katakabar.com - Peluang bisnis baru tidak selalu datang dari menciptakan platform baru. Dalam ekosistem digital yang semakin terhubung, peluang juga bisa muncul dari hal-hal yang belum terhubung: antara bisnis dan pelanggan, layanan pembayaran dan merchant, logistik dan penjual, atau teknologi dan berbagai penyedia layanan. Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam “Digital Public Infrastructure: Mini Seminar & Networking” yang digelar Indonesia Open Network (ION) di Garuda Spark Innovation Hub, BLOCK71 Bandung, Rabu (9/9/2026) lalu. Usung tema “What’s Your Next Big Move? Discover New Business Opportunities Through the Power of Open Networks,” kegiatan tersebut memperkenalkan konsep Digital Public Infrastructure (DPI), interoperabilitas dan open network kepada startup serta pelaku ekosistem digital di Bandung. Yang membuat kegiatan ini berbeda adalah peserta tidak hanya duduk mendengarkan presentasi. Mereka kemudian diajak melihat bisnis masing-masing, mengidentifikasi persoalan yang dihadapi, mencari celah dalam ekosistem dan memikirkan koneksi apa yang dibutuhkan untuk membuka peluang baru. Format tersebut memang dirancang sebagai proses dua arah. Selain memperkenalkan ION kepada startup, kegiatan ini juga digunakan untuk menemukan use cases, kebutuhan dan missing connections yang belum tercermin dalam pemetaan ekosistem ION. Ketika Sistem Digital Tidak Saling Terhubung Bisnis saat ini semakin bergantung pada berbagai platform, sistem pembayaran, layanan logistik, data dan perangkat digital lainnya. Masalahnya, sistem-sistem tersebut tidak selalu dapat terhubung dengan mudah. Fragmentasi ini dapat menciptakan hambatan bagi bisnis yang ingin berkembang, mulai dari kesulitan integrasi hingga keterbatasan dalam menjangkau pasar dan bekerja sama dengan partner baru. Karena itu, interoperabilitas menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai Digital Public Infrastructure. ION memperkenalkan dirinya sebagai open digital commerce network yang menghubungkan buyers, sellers, logistics providers, developers dan penyedia layanan lainnya melalui partisipasi terbuka dan standar bersama. Pendekatan ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap platform tertentu sekaligus memperluas akses pasar. Tetapi, bagi Dr. Uruqul Nadhif Dzakiy, Assistant Professor di Telkom University, membangun koneksi saja belum cukup. Dalam sesi “Ecosystem Opportunity Mapping”, Uruqul mengajak peserta melihat ekosistem bisnis dari sisi hubungan antaraktor dan manfaat yang dapat mereka peroleh. “Masalahnya adalah ketika masuk di platform itu tidak adanya mutual benefit. Nah di open network ini menganut prinsip yaitu ada mutual benefit," jelasnya. Menurut Uruqul, sebuah ekosistem memiliki berbagai peran, mulai dari buyer dan vendor hingga pihak yang mengoordinasikan hubungan di antara para aktor tersebut. Yang penting bukan sekadar membuat mereka terhubung, tetapi memastikan hubungan tersebut memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terlibat. Bukan Sekedar “Connectivity” Pembahasan Uruqul kemudian bergerak pada satu hal yang menurutnya menjadi pembeda antara konektivitas biasa dan ekosistem yang benar-benar berjalan: transaksi dan kepercayaan. “Melalui di sini tidak hanya sekedar connectivity. Tapi di situ ada namanya transaksi. Kalau connectivity saja itu sudah bisa dengan teknologi. Tapi kalau sampai kemudian ada transaksi di dalamnya itu sudah ada trust,” ucapnya. Menurutnya, teknologi dapat membuat berbagai pihak saling terhubung. Tetapi hubungan tersebut belum tentu menciptakan ekosistem yang hidup jika tidak ada kolaborasi nyata dan manfaat bagi setiap aktor. Hal itu juga menjadi tantangan yang ia lihat dalam ekosistem startup Bandung. Kota tersebut memiliki banyak startup dan institusi pendukung inovasi, tetapi tantangannya adalah bagaimana kolaborasi dapat bergerak dari sekadar koneksi menuju kerja sama yang menghasilkan transaksi dan kepercayaan. “Kolaborasinya itu dalam bentuknya yang real tidak hanya sekedar ... tapi ada sampai kemudian transaksi karena dengan transaksi itu ada trust,” imbuhnya. Uruqul menilai sebuah ekosistem dapat disebut aktif ketika para aktornya memahami peran masing-masing dan mendapatkan manfaat dari keberadaannya di dalam ekosistem. “Parameter aktif adalah entiti di dalam ekosistem itu saling mendapatkan benefit dan dia tahu peran masing-masingnya," terangnya. Mulai dari Masalah, Bukan Teknologi Dari konsep tersebut, peserta kemudian diarahkan untuk melihat bisnis mereka sendiri. Materi ION menggunakan Ecosystem Opportunity Mapping untuk membantu peserta memetakan platform, partner, pelanggan, layanan dan sistem digital yang mereka gunakan, kemudian melihat koneksi mana yang sudah ada dan mana yang masih hilang. Uruqul meminta peserta memulai dari persoalan yang benar-benar mereka hadapi dalam menjalankan bisnis. “Bisa nanti mengidentifikasi apa sih jadi pain point yang dirasakan, khususnya yang running business, masalahnya di mana," ulasnya. Setelah menemukan pain point, peserta kemudian diminta mencari gap antara kondisi yang ada dan kondisi yang mereka butuhkan. “Pertama apa sih pain point, apa sih yang jadi problem ... kemudian setelah itu gap-nya apa ... dari situlah kemudian kira-kira apa sih yang perlu diakomodasi oleh Open Network," bebernya. Menurut Uruqul, masukan tersebut penting karena ION juga masih mengembangkan ekosistemnya. Apa yang dibutuhkan oleh pelaku bisnis dapat menjadi insight untuk menentukan koneksi dan fungsi apa yang perlu dikembangkan ke depan. Melihat Peluang dari Berbagai Sektor Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh Haryo Kusuma Wibawa, Head of Operations ION, yang memimpin sesi Mini Group Discussion. Dalam sesi tersebut, Haryo membawa konsep open network ke contoh peluang bisnis yang lebih konkret. Ia menunjukkan bahwa peluang dapat muncul di berbagai sisi ekosistem, termasuk finance, logistik, teknologi dan mobility. Salah satu ilustrasi yang disampaikan Haryo adalah bagaimana bisnis dapat memanfaatkan koneksi dengan pemilik basis pengguna yang sudah memiliki ekosistem sendiri. Dalam contoh yang ia berikan, perusahaan telekomunikasi dan bank dapat memiliki basis pengguna serta informasi transaksi yang, dengan persetujuan dan mekanisme yang tepat, dapat membuka kemungkinan koneksi dengan bisnis atau produk lain di dalam open network. Bagi startup, kemungkinan seperti itu berarti akses terhadap partner dan pelanggan tidak harus selalu dibangun dari nol. Haryo juga menyoroti kemungkinan model bisnis dengan biaya administrasi yang lebih rendah dibandingkan marketplace konvensional. “Kalau teman-teman punya marketplace dengan ION itu bisa men-charge administrasi yang jauh lebih rendah daripada yang saat ini terjadi. Nah itu yang kita harapkan,” tukasnya. Enam Kelompok Mencari Peluang Setelah sesi pemaparan, peserta dibagi menjadi enam kelompok untuk mengerjakan pemetaan mereka masing-masing. Haryo memimpin proses pembentukan kelompok tersebut dan mengarahkan peserta masuk ke sesi diskusi. Dalam kelompok, peserta diminta memilih bisnis atau kasus tertentu kemudian mengidentifikasi kebutuhan utama, persoalan yang muncul, aktor yang terlibat, koneksi yang sudah tersedia dan koneksi yang masih hilang. Mereka kemudian mencari kemungkinan peluang yang dapat muncul jika koneksi tersebut tersedia melalui interoperabilitas atau open network. Tujuannya bukan menghasilkan solusi teknologi yang sudah final, melainkan menemukan kebutuhan, peluang dan kemungkinan use case. Pendekatan ini membuat diskusi menjadi lebih dekat dengan persoalan yang dihadapi startup sehari-hari. Alih-alih bertanya, “Teknologi apa yang bisa kita bangun?”, peserta diajak mulai dari pertanyaan yang lebih sederhana: masalah apa yang sebenarnya ingin diselesaikan? Dari sana, mereka dapat melihat siapa saja yang dibutuhkan, apa yang belum tersedia dan apakah koneksi baru dapat menciptakan nilai. Peserta Menguji Model Bisnisnya Salah satu peserta, Fajar dari Bandung, mengatakan bahwa framework yang digunakan dalam workshop membantunya melihat sebuah ide bisnis secara lebih terstruktur. “Itu bisa membantu kami dalam membuat sebuah business model, apa yang jadi tantangan dan juga bisa melihat opportunities apa yang bisa kita lakukan," katak Fajar. Kelompok Fajar mengembangkan ide layanan untuk tenaga kerja di Indonesia, dengan fokus pada pengembangan pekerja untuk berbagai jenis pekerjaan seperti pengemudi, pekerja rumah tangga dan koki. Melalui framework yang diperkenalkan ION, kelompok tersebut melihat kembali model bisnis, target pasar dan peluang yang mungkin dikembangkan. “Kita bisa membantu bagaimana bisa melihat business modelnya, target marketnya gimana, dan juga peluang apa yang bisa didapatkan dari business model yang dibuat tadi dengan dibantu framework yang diajarkan oleh ION," tuturnya. Bagi ION, contoh tersebut menunjukkan fungsi lain dari kegiatan di Bandung. Startup tidak hanya diperkenalkan dengan konsep open network, tetapi juga diajak memberikan gambaran mengenai persoalan dan kebutuhan yang mereka hadapi sendiri. Membangun Open Network dari Kebutuhan Nyata Kegiatan di Bandung merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem Bandung ION Lab, dengan menghubungkan startup, inkubator, bisnis, komunitas teknologi dan stakeholder inovasi lokal dengan kebutuhan pasar yang lebih luas. Karena itu, hasil workshop tidak hanya berhenti pada enam kelompok yang selesai berdiskusi. ION juga menggunakan kegiatan tersebut untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai kebutuhan, kapabilitas dan kemungkinan partisipasi para pelaku ekosistem. Setiap kelompok diharapkan menghasilkan setidaknya satu peluang bisnis, kebutuhan infrastruktur digital atau tantangan konektivitas, sekaligus memahami posisi bisnis mereka dalam ekosistem ION. Bagi startup Bandung, pertanyaan yang diberikan ION menjadi cukup praktis: apa yang seharusnya bisa dilakukan oleh ekosistem mereka hari ini, tetapi belum bisa dilakukan? Jawaban atas pertanyaan itu bisa saja menjadi peluang bisnis berikutnya.

Talenta Digital Dibekali Keterampilan Analisis Data, Telkom AI Center Bali Taja Pelatihan Python Fundamental Teknologi
Teknologi
Minggu, 30 Agustus 2026 | 17:16 WIB

Talenta Digital Dibekali Keterampilan Analisis Data, Telkom AI Center Bali Taja Pelatihan Python Fundamental

Denpasar, katakabar.com - Sebagai upaya meningkatkan pemahaman dan keterampilan talenta digital dalam bidang analisis data, salah satu program AI Connect yang diinisiasi Telkom sukses digelar pada 10 hingga13 Agustus 2026 lalu. Usung tema “AI Introductory: Pre Class Python Fundamental for Data Analysis”, kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang interaktif bagi talenta digital untuk memahami dasar-dasar analisis data sekaligus mempraktikkan pengolahan data menggunakan Python. Ruang Telkom AI Center Bali dipenuhi antusiasme para talenta digital yang mengikuti kegiatan secara luring. Kegiatan pelatihan menghadirkan I Gusti Ayu Prema Santhi, Data Science Enthusiast dari Western Sydney University sebagai narasumber sekaligus mentor yang membagikan wawasan sekaligus praktik langsung mengenai dasar-dasar Python dalam analisis data. Kegiatan ini dirancang untuk menghubungkan pemahaman teknologi dengan kebutuhan pengolahan data. Dalam materinya, peserta diperkenalkan pada dasar-dasar Python sebagai salah satu keterampilan yang dapat digunakan dalam proses analisis data. Melalui pembelajaran yang tidak hanya bersifat teoretis, peserta juga mendapatkan kesempatan untuk memahami jenis-jenis data, tahapan proses pengolahan data secara lebih aplikatif dan contoh kasusnya.  Pelatihan ini diikuti oleh 7 talenta lokal dari beberapa kampus di Bali. Di hari pertama, peserta diperkenalkan dengan bahasa pemrograman Python. Dimulai dengan mempelajari dasar-dasar Python, seperti penggunaan variable, data types, operators, lists, dan dictionaries, kemudian dilanjutkan dengan conditional statements. Peserta juga melakukan praktik basic coding dan menyelesaikan mini challenge mengenai perhitungan serta klasifikasi data pelanggan. Melalui kegiatan ini, peserta mempelajari dasar pemrograman Python yang menjadi fondasi untuk melakukan pengolahan dan analisis data pada tahap berikutnya. Memasuki hari kedua, peserta mempelajari cara membuat program yang dapat melakukan pekerjaan secara berulang dan lebih terstruktur. Setelah memahami konsep tersebut, kegiatan pembelajaran diakhiri dengan latihan menganalisis data penjualan menggunakan konsep repetitif yang telah dipelajari. Materi yang telah disampaikan  membantu peserta mengotomatisasi pekerjaan yang berulang, membuat kode yang lebih efisien, serta memahami dasar pengolahan data numerik. Pada hari ketiga, peserta mulai menerapkan Python secara langsung untuk melakukan analisis terhadap dataset. Peserta mempelajari penggunaan pandas untuk membaca dataset. Peserta juga diperkenalkan dengan visualisasi sederhana untuk menyampaikan hasil analisis dalam bentuk grafik. Di akhir sesi, peserta mengerjakan mini challenge berupa analisis dataset e-commerce dan menghasilkan beberapa business insights. Materi yang diberikan membuat peserta mendapatkan gambaran mengenai workflow seorang data analyst mulai dari data mentah, proses cleaning dan analysis, hingga menghasilkan insight yang dapat mendukung pengambilan keputusan. “Penguasaan analisis data menjadi salah satu keterampilan penting bagi talenta digital. Melalui pelatihan ini, kami berharap peserta tidak hanya memahami dasar Python, tetapi juga mampu menggunakannya untuk mengolah data dan menghasilkan insight yang dapat diterapkan,” ujar Indria Trisni Puspita, Business and Community Lead Telkom AI Connect Bali. Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya Telkom AI Connect dalam membuka ruang pembelajaran bagi talenta digital di Bali. Melalui kombinasi materi dan praktik langsung, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat literasi teknologi, kemampuan analisis data, serta keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan dunia digital.

Tigo AI Perkenalkan Matrix v4.0  Dukung Pemasaran Digital di Asia Tenggara Tekno
Tekno
Kamis, 20 Agustus 2026 | 15:10 WIB

Tigo AI Perkenalkan Matrix v4.0  Dukung Pemasaran Digital di Asia Tenggara

Jakarta, katakabar.com - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus membuka peluang baru dalam industri pemasaran digital. Teknologi ini mulai digunakan tidak hanya untuk menghasilkan konten, tetapi juga untuk membantu proses distribusi, pengelolaan kreator, hingga analisis performa kampanye. Di tengah perkembangan tersebut, Tigo AI memperkenalkan Matrix v4.0 di Indonesia, sebuah sistem pemasaran yang dirancang untuk menghubungkan sejumlah aktivitas pemasaran digital dalam satu platform. Menurut perusahaan, Matrix v4.0 mengintegrasikan produksi materi kreatif, distribusi konten, aktivitas promosi melalui kreator, serta evaluasi data kampanye. Sistem tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan karakter ekosistem digital di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara. Menghubungkan Beberapa Proses Marketing Dalam aktivitas pemasaran digital, perusahaan biasanya menggunakan berbagai layanan berbeda untuk membuat konten, mencari kreator, menjalankan kampanye, dan melakukan analisis. Kondisi ini dapat membuat proses pemasaran menjadi lebih kompleks, khususnya bagi bisnis yang menjalankan kampanye di beberapa kanal sekaligus. Matrix v4.0 mencoba menyederhanakan proses tersebut dengan menghubungkan sejumlah fungsi dalam satu sistem. Menurut Tigo AI, platform dapat digunakan untuk membantu pembuatan materi pemasaran sekaligus mendukung distribusinya melalui berbagai kanal digital. Beberapa platform yang menjadi fokus antara lain TikTok, Instagram, dan kanal e-commerce seperti Shopee. Indonesia Menjadi Salah Satu Pasar Utama Indonesia memiliki ekosistem media sosial dan e-commerce yang besar sehingga menjadi salah satu pasar penting dalam perkembangan pemasaran digital di Asia Tenggara. Tidak hanya perusahaan berskala besar, UMKM dan pelaku e-commerce juga semakin bergantung pada kanal digital untuk menjangkau konsumen. Tigo AI menyatakan pengembangan Matrix v4.0 diarahkan untuk mengurangi hambatan penggunaan teknologi AI dalam pemasaran. Dengan pendekatan tersebut, solusi AI diharapkan dapat digunakan oleh bisnis dengan skala yang lebih beragam. Ke depan, perusahaan menyebut akan terus mengembangkan fitur seperti produksi konten multibahasa, live streaming virtual, mekanisme anti-fraud, serta pengendalian risiko kampanye. Kedua, Produksi Konten AI dan Jaringan Kreator Mulai Terintegrasi dalam Pemasaran Digital Perkembangan media sosial membuat proses pemasaran semakin bergantung pada kemampuan bisnis dalam menghasilkan dan mendistribusikan konten secara konsisten. Tetapi, produksi materi kreatif dan distribusi konten selama ini sering kali dikelola melalui proses yang berbeda. Perusahaan dapat menggunakan satu penyedia layanan untuk membuat video dan desain, kemudian bekerja sama dengan pihak lain untuk mengelola kreator maupun distribusi konten. Model seperti ini dapat menambah proses komunikasi dan koordinasi dalam sebuah kampanye. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Tigo AI mengembangkan sistem yang menggabungkan produksi materi berbasis AI dengan distribusi melalui jaringan kreator. Dari Produksi hingga Distribusi Dalam sistem yang dikembangkan perusahaan, AI digunakan untuk membantu membuat sejumlah jenis materi pemasaran seperti copy media sosial, poster, dan video pendek. Materi kemudian dapat digunakan di berbagai platform seperti TikTok, Instagram, Shopee, dan Lazada. Tigo AI menyebut sistemnya mendukung beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Hal tersebut ditujukan untuk membantu bisnis yang menjalankan aktivitas pemasaran di beberapa negara. Setelah materi dibuat, konten dapat diteruskan kepada micro-creator untuk disesuaikan dengan karakter audiens masing-masing. Pendekatan tersebut menghasilkan format seperti review produk, pengalaman penggunaan, maupun konten rekomendasi. Konten Native Semakin Mendapat Perhatian Banyak pengguna media sosial terbiasa menemukan iklan dalam jumlah besar setiap hari. Hal ini membuat brand semakin memperhatikan format konten yang terasa lebih natural dan sesuai dengan karakter platform. Konten native maupun user-generated content menjadi salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengurangi kesan komunikasi yang terlalu komersial. Namun, efektivitas strategi tersebut tetap dipengaruhi oleh relevansi kreator, kualitas konten, transparansi hubungan komersial, serta kesesuaian produk dengan audiens. Tigo AI menyebut bahwa seluruh proses tersebut dapat dipantau melalui sistem yang sama, mulai dari produksi materi, distribusi kepada kreator hingga data exposure, engagement, traffic, dan conversion. Platform juga menyatakan telah menerapkan mekanisme verifikasi untuk membantu mengurangi trafik yang tidak valid. Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri pemasaran digital mulai bergerak dari penggunaan tools yang berdiri sendiri menuju sistem yang lebih terintegrasi. Ketiga, AI Mulai Mengubah Proses dan Biaya Produksi Materi Periklanan Penggunaan generative AI mulai memberikan perubahan dalam proses produksi materi pemasaran. Jika sebelumnya pembuatan sebuah kampanye membutuhkan keterlibatan copywriter, desainer, editor, tim produksi, hingga fotografer atau videografer, sebagian proses tersebut kini dapat dibantu oleh teknologi AI. Tigo AI menjadi salah satu perusahaan yang mengembangkan teknologi tersebut melalui AI Creative Engine yang digunakan untuk menghasilkan berbagai materi pemasaran. Menurut perusahaan, sistem tersebut dapat menghasilkan materi tertentu dalam waktu yang sangat singkat. Tigo AI mengklaim bahwa pada kondisi tertentu proses generasi materi dapat mencapai sekitar 0,8 detik. Perusahaan juga menyebut penggunaan AI berpotensi mengurangi sebagian biaya produksi dibandingkan model produksi konvensional, meskipun tingkat efisiensi pada praktiknya dapat berbeda tergantung jenis dan kompleksitas materi. Satu Informasi Produk Menjadi Beberapa Konten AI Creative Engine milik Tigo AI menggunakan informasi dasar seperti produk, positioning brand, selling point, dan target audiens sebagai bahan untuk menghasilkan materi. Dari informasi tersebut, sistem dapat membantu menghasilkan poster, naskah video pendek, hingga copy media sosial. Materi kemudian dapat disesuaikan dengan kebutuhan berbagai platform digital. Menurut perusahaan, sistem juga dikembangkan dengan pendekatan lokalisasi agar bahasa dan gaya visual lebih sesuai dengan karakter pasar Indonesia. Hal tersebut menjadi salah satu tantangan penting bagi generative AI. Konten yang secara teknis terlihat baik belum tentu sesuai dengan budaya, kebiasaan komunikasi, maupun preferensi masyarakat di suatu pasar. AI Mempercepat Proses Eksperimen Kreatif Salah satu perubahan yang ditawarkan generative AI adalah kemampuan menghasilkan lebih banyak variasi materi. Bagi advertiser, hal ini memungkinkan proses pengujian ide dilakukan lebih cepat. Bisnis dapat mencoba beberapa versi headline, desain, video, atau konsep komunikasi sebelum menentukan materi yang memberikan respons terbaik. Dengan demikian, peran AI tidak hanya berkaitan dengan efisiensi produksi, tetapi juga dengan kemampuan bisnis melakukan eksperimen kreatif dalam skala lebih besar. Namun, hasil dari teknologi tersebut tetap membutuhkan evaluasi manusia untuk memastikan kualitas, akurasi informasi, identitas brand, serta kesesuaian dengan audiens. Keempat, AI Content Factory Menjadi Pendekatan Baru dalam Produksi Materi Marketing Pertumbuhan e-commerce dan media sosial membuat kebutuhan terhadap materi pemasaran terus meningkat. Satu brand dapat membutuhkan puluhan jenis konten untuk berbagai kebutuhan, mulai dari posting media sosial, promosi produk, video pendek, hingga kampanye penjualan. Kondisi tersebut mendorong berkembangnya konsep AI Content Factory, yaitu sistem yang memanfaatkan AI untuk membantu menghasilkan materi pemasaran secara lebih terstruktur dan dalam jumlah besar. Tigo AI mengembangkan konsep tersebut melalui Smart Content Factory yang mencakup tiga kategori utama: AI copy, AI poster, dan AI short video. Produksi Konten dalam Satu Sistem Dalam sistem tersebut, pengguna memasukkan informasi produk, target konsumen, serta tema pemasaran. AI kemudian mengolah informasi tersebut menjadi beberapa jenis materi. Misalnya, satu informasi produk dapat dikembangkan menjadi caption Instagram, poster promosi, serta video pendek yang digunakan untuk TikTok. Menurut perusahaan, materi juga dapat disesuaikan dengan konteks bahasa dan karakter pasar Indonesia. Pendekatan ini dapat membantu bisnis yang sebelumnya harus menggunakan beberapa software maupun tenaga profesional untuk pekerjaan yang berbeda. UMKM dan Brand Memiliki Kebutuhan Berbeda Jumlah materi yang dibutuhkan setiap perusahaan tidak selalu sama. Brand berskala besar mungkin membutuhkan banyak variasi konten untuk melakukan A/B testing dan menjalankan kampanye dalam skala besar. Sebaliknya, UMKM mungkin hanya membutuhkan beberapa materi setiap minggu untuk menjaga aktivitas media sosial maupun mempromosikan produk tertentu. Karena itu, pemanfaatan AI dalam content production berpotensi memberikan manfaat yang berbeda bagi setiap skala bisnis. Bagi perusahaan besar, AI dapat meningkatkan kapasitas produksi. Sementara bagi bisnis kecil, teknologi tersebut dapat membantu mengurangi hambatan dalam menghasilkan materi pemasaran secara rutin. Perkembangan AI Content Factory menunjukkan bahwa teknologi generatif mulai bergerak dari sekadar alat pembuat gambar atau teks menjadi bagian dari workflow pemasaran perusahaan. Kelima, Platform Marketing Mulai Menawarkan Layanan Berbeda Berdasarkan Skala Bisnis Tidak semua perusahaan memiliki kebutuhan pemasaran yang sama. Brand besar biasanya berfokus pada peningkatan awareness, jangkauan pasar, dan pengelolaan kampanye dalam skala besar. Sementara bisnis yang sedang berkembang lebih sering berorientasi pada peningkatan traffic dan conversion. UMKM memiliki tantangan lain, terutama keterbatasan anggaran, tenaga kerja, dan kemampuan teknis. Perbedaan kebutuhan tersebut mendorong perusahaan marketing technology untuk mengembangkan layanan yang lebih fleksibel. Tigo AI termasuk salah satu platform yang memperkenalkan sistem layanan pemasaran berdasarkan skala bisnis. Brand Besar Untuk perusahaan berskala besar, kebutuhan marketing biasanya mencakup produksi konten dalam volume tinggi, distribusi melalui sejumlah kanal, serta analisis data kampanye. Tigo AI menyediakan kombinasi materi kreatif berbasis AI, jaringan micro-creator, serta data lintas kanal untuk kategori tersebut. Bisnis yang Sedang Berkembang Untuk seller maupun perusahaan yang sedang memperbesar skala bisnis, fokus kampanye dapat lebih diarahkan pada traffic dan conversion. Pada konteks e-commerce, pendekatan tersebut dapat mencakup produksi konten promosi dan distribusi melalui kreator yang diarahkan ke kanal seperti Shopee atau Lazada. UMKM Bagi UMKM, kesederhanaan operasional menjadi salah satu faktor penting. Pelaku usaha kecil umumnya tidak memiliki tim marketing yang terdiri dari desainer, copywriter, social media specialist, dan video editor. Lantaran itu, penggunaan sistem yang mengintegrasikan beberapa pekerjaan dapat mengurangi hambatan awal untuk menjalankan promosi digital. Menurut Tigo AI, pengguna dapat memilih layanan berdasarkan skala usaha, anggaran, dan tujuan kampanye. Model bertingkat seperti ini mencerminkan semakin beragamnya kebutuhan pelaku ekonomi digital Indonesia. Keenam, AI Membuka Alternatif Promosi Digital bagi UMKM dengan Anggaran Terbatas Digitalisasi memberikan banyak peluang bagi UMKM Indonesia, tetapi aktivitas pemasaran online masih menjadi tantangan bagi sebagian pelaku usaha. Membuat konten secara konsisten membutuhkan waktu dan kemampuan tertentu, sedangkan menggunakan jasa profesional dapat meningkatkan biaya operasional. Perkembangan generative AI mulai menawarkan alternatif baru. Teknologi tersebut memungkinkan berbagai aktivitas dasar seperti pembuatan copy, desain promosi, dan video pendek dilakukan dengan proses yang lebih sederhana. Tigo AI menjadi salah satu platform yang menawarkan layanan pemasaran berbasis AI untuk segmen UMKM. Menurut informasi perusahaan, layanan tertentu dapat digunakan dengan anggaran awal mulai sekitar Rp50 ribu, tergantung jenis kampanye dan kebutuhan pengguna. Dari Informasi Produk ke Materi Promosi Dalam sistem yang dikembangkan platform, pemilik usaha memberikan informasi dasar mengenai produk. AI kemudian dapat membantu menghasilkan beberapa jenis materi seperti copy media sosial, poster, dan video pendek. Materi tersebut dapat digunakan untuk akun bisnis atau didistribusikan melalui jaringan micro-creator. Bagi UMKM, pendekatan ini dapat mengurangi kebutuhan memiliki kemampuan desain maupun editing secara mendalam. Memulai dari Skala Kecil Salah satu tantangan dalam pemasaran adalah menentukan seberapa besar anggaran yang perlu dikeluarkan. Bisnis kecil umumnya memiliki toleransi risiko yang lebih rendah dibanding perusahaan besar. Karena itu, kemampuan memulai kampanye dalam skala kecil dapat memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk melakukan eksperimen sebelum meningkatkan investasi. Menurut Tigo AI, pengguna dapat memantau indikator seperti exposure dan engagement untuk mengevaluasi respons kampanye. Data tersebut kemudian dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan strategi berikutnya. Meskipun AI dapat menurunkan sebagian hambatan produksi, keberhasilan pemasaran tetap dipengaruhi oleh kualitas produk, harga, pelayanan, strategi distribusi, kreativitas komunikasi, serta kesesuaian dengan target konsumen. Kerujuh, Review Pengguna dan Micro-Creator Semakin Berperan dalam Strategi E-Commerce Ulasan menjadi salah satu elemen yang diperhatikan konsumen sebelum melakukan pembelian secara online. Selain membaca informasi produk yang disediakan seller, pembeli juga dapat melihat komentar pelanggan, video review, maupun pengalaman pengguna di media sosial. Fenomena tersebut membuat reputasi digital semakin penting dalam persaingan e-commerce. Tigo AI mengembangkan pendekatan pemasaran yang menggabungkan jaringan micro-creator dengan produksi konten berbasis AI. Menurut perusahaan, sistem digunakan untuk membantu seller memperoleh distribusi konten dari pengguna atau kreator yang relevan. Dari Media Sosial ke E-Commerce Dalam model tersebut, kreator dapat membuat konten berupa pengalaman penggunaan, foto produk, ataupun video review yang kemudian dipublikasikan melalui kanal seperti TikTok dan Instagram. Konten tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan konsumen sebelum akhirnya mengunjungi halaman produk di marketplace. Pendekatan semacam ini mencoba menghubungkan social media discovery dengan transaksi e-commerce. Keaslian Tetap Menjadi Faktor Penting Penggunaan review sebagai bagian dari strategi marketing perlu dibedakan dari manipulasi ulasan. Review palsu dapat merugikan konsumen, merusak reputasi brand, dan bertentangan dengan kebijakan sejumlah platform. Tigo AI menyatakan sistemnya memiliki mekanisme verifikasi untuk membantu memastikan aktivitas dilakukan oleh pengguna nyata serta mengurangi risiko trafik yang tidak valid. Menurut perusahaan, platform juga digunakan untuk membantu bisnis memilih kreator berdasarkan kategori produk serta melihat data exposure, engagement, dan traffic. Bagi produk baru, konten dari pengguna dapat membantu meningkatkan percakapan mengenai produk sekaligus memberikan feedback kepada seller. Namun, kredibilitas strategi tersebut tetap bergantung pada transparansi, pengalaman penggunaan yang nyata, serta kebebasan kreator dalam menyampaikan pendapat. Ke depan, perpaduan antara micro-creator, UGC, social commerce, dan e-commerce diperkirakan akan semakin banyak digunakan sebagai bagian dari strategi pemasaran digital. Kedelapan, Tigo Mengembangkan Sistem Produksi Short Drama Berbasis AI dalam Skala Besar Perkembangan artificial intelligence mulai memberikan dampak pada industri produksi video dan konten hiburan. Teknologi generative AI kini dapat digunakan dalam berbagai tahap produksi, mulai dari pengembangan naskah, pembuatan karakter, desain latar, suara, hingga video. Tigo menjadi salah satu platform yang mencoba menerapkan teknologi tersebut dalam produksi serial video pendek atau short drama. Pada Agustus 2026, perusahaan memperkenalkan konsep layanan “100 Episode Short Drama dalam 1 Hari”. Menurut perusahaan, angka tersebut menggambarkan target kapasitas produksi yang dapat dicapai melalui workflow AI yang telah distandardisasi, bukan berarti setiap proyek secara otomatis menghasilkan 100 episode dalam kondisi yang sama. Dari Produksi Berbasis Proyek ke Workflow Terstandardisasi Produksi serial video secara tradisional membutuhkan banyak tenaga kerja. Proses dapat melibatkan penulis naskah, sutradara, pemain, tim kamera, lighting, lokasi, editor, voice-over, hingga tim pascaproduksi. Untuk proyek dengan jumlah episode besar, proses tersebut membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Tigo mencoba menerapkan pendekatan berbeda. Tema dan konsep cerita terlebih dahulu dikembangkan menjadi struktur karakter, dunia cerita, serta format episode. Setelah elemen dasar tersebut ditentukan, AI digunakan untuk membantu mempercepat berbagai bagian produksi. AI Script Generation AI dapat digunakan untuk menyusun struktur cerita berdasarkan genre, audiens, dan kebutuhan platform. Proses tersebut mencakup pengembangan karakter, konflik utama, serta alur setiap episode. AI Character Generation Teknologi generatif digunakan untuk membuat desain karakter dan mempertahankan konsistensi tampilan di berbagai scene dan episode. Konsistensi karakter masih menjadi salah satu tantangan utama dalam produksi video berbasis AI. AI Scene Generation AI memungkinkan pembuat konten menghasilkan berbagai lingkungan tanpa membangun seluruh set secara fisik. Latar tersebut dapat berupa sekolah, rumah, kantor, kawasan perkotaan, dunia historis, maupun lingkungan futuristik. AI Video Generation Visual statis kemudian dapat dikembangkan menjadi rangkaian shot atau video menggunakan teknologi generative video. AI Voice-Over dan Dialogue Teknologi suara sintetis dapat digunakan untuk menghasilkan dialog dalam beberapa bahasa maupun karakter suara yang berbeda. Kemampuan ini membuka kemungkinan lokalisasi konten untuk berbagai negara. AI Subtitle dan Post-Production Sebagian proses subtitle, editing dasar, audio, dan pengolahan visual juga dapat diotomatisasi. Dengan menggabungkan beberapa tahapan tersebut dalam satu workflow, proses produksi yang sebelumnya tersebar ke banyak fungsi dapat dikelola secara lebih terintegrasi. Mengapa Mengejar Skala Produksi? Dalam ekosistem TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, dan platform video pendek lainnya, konsistensi publikasi menjadi salah satu tantangan utama kreator. Satu konten viral dapat menghasilkan pertumbuhan tinggi dalam waktu singkat, tetapi mempertahankan perhatian audiens membutuhkan produksi konten secara terus-menerus. Menurut Tigo, konsep 100 episode bukan hanya tentang jumlah video. Perusahaan ingin mengembangkan sistem di mana karakter, dunia cerita, dan format produksi dibuat terlebih dahulu sehingga proses berikutnya dapat dilakukan lebih cepat. Pendekatan tersebut juga memungkinkan kreator menguji beberapa genre dan konsep cerita dalam waktu yang relatif singkat. Tidak Hanya untuk Industri Film Tigo menyebut sistem tersebut tidak hanya ditujukan kepada studio film atau perusahaan produksi profesional. Brand dapat menggunakan serial cerita sebagai bagian dari branded content. Produk dapat ditempatkan sebagai bagian dari cerita, bukan hanya muncul dalam format iklan konvensional. Bisnis lokal juga dapat mengembangkan cerita untuk sektor seperti kuliner, kecantikan, pendidikan, maupun pariwisata. Sementara kreator individual dapat menggunakan teknologi tersebut untuk membangun karakter dan intellectual property mereka sendiri. Indonesia Menjadi Pasar Menarik untuk Eksperimen AI Short Drama Indonesia memiliki basis pengguna media sosial yang besar dan aktivitas konsumsi video pendek yang tinggi. Kondisi ini membuat Indonesia menjadi salah satu pasar yang menarik untuk perkembangan format konten baru. Video pendek, live streaming, social commerce, e-commerce, dan storytelling juga semakin saling terhubung. Menurut Tigo, perkembangan tersebut berpotensi membuat short drama tidak hanya berfungsi sebagai konten hiburan tetapi juga sebagai salah satu format komunikasi pemasaran. Alih-alih hanya membuat satu iklan, sebuah brand dapat membangun rangkaian cerita yang terus diikuti pengguna. Meski demikian, peningkatan kapasitas produksi tidak otomatis menjamin keberhasilan sebuah konten. Kualitas cerita, konsistensi karakter, kreativitas, relevansi budaya, serta kemampuan memahami audiens tetap menjadi faktor penting. Perkembangan AI kemungkinan akan membuat proses produksi menjadi semakin mudah diakses. Namun, persaingan selanjutnya bukan hanya mengenai siapa yang mampu menghasilkan lebih banyak video, melainkan siapa yang mampu menghasilkan cerita yang relevan dan cukup menarik untuk terus diikuti audiens.

Holding PTPN Percepat Transformasi Digital Layanan Kesehatan Melalui Penerapan SIMRS dan SIMKlinik PT SPMN Kesehatan
Kesehatan
Kamis, 06 Agustus 2026 | 20:11 WIB

Holding PTPN Percepat Transformasi Digital Layanan Kesehatan Melalui Penerapan SIMRS dan SIMKlinik PT SPMN

Tebing Tinggi, katakabar.com - PT Sri Pamela Medika Nusantara (SPMN), salah satu entitas dari Holding Perkebunan Nusantara, terus perkuat transformasi digital di bidang pelayanan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui pelaksanaan Sosialisasi Implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dan Sistem Informasi Manajemen Klinik (SIMKlinik) yang diikuti oleh seluruh unit pelayanan kesehatan di lingkungan perusahaan. Kegiatan sosialisasi ini menjadi langkah strategis dalam mempersiapkan implementasi sistem informasi yang terintegrasi guna mendukung peningkatan kualitas pelayanan di seluruh rumah sakit dan klinik yang dikelola PT Sri Pamela Medika Nusantara. Para peserta memperoleh pemahaman mengenai berbagai fitur sistem, alur kerja, mekanisme penggunaan aplikasi, serta tahapan implementasi yang akan diterapkan pada masing-masing unit pelayanan. Melalui penerapan SIMRS dan SIMKlinik, proses pelayanan kesehatan diharapkan dapat berlangsung lebih efektif, efisien, dan terdokumentasi secara optimal. Sistem tersebut mendukung pengelolaan data pasien secara terintegrasi, mempercepat proses administrasi dan pelaporan, meningkatkan akurasi data, serta memberikan kemudahan bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Selain itu, implementasi sistem informasi ini juga akan memperkuat proses monitoring dan evaluasi kinerja pelayanan sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat, tepat, dan berbasis data. Digitalisasi layanan kesehatan menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam menghadirkan tata kelola pelayanan yang modern, transparan, dan berorientasi pada kebutuhan pasien. Melalui implementasi SIMRS dan SIMKlinik, PT Sri Pamela Medika Nusantara menegaskan komitmen untuk terus menghadirkan inovasi dalam pelayanan kesehatan sekaligus mendukung percepatan transformasi digital di sektor kesehatan. Penerapan sistem ini diharapkan memberikan manfaat nyata bagi tenaga kesehatan, manajemen, maupun masyarakat sebagai pengguna layanan, sehingga tercipta pelayanan yang semakin cepat, aman, terintegrasi, dan berkelanjutan. Pelatihan Avenza Maps di Way Kanan: PTPN IV Regional VII Dukung Peningkatan Kompetensi Aparatur Perkebunan Lampung, katakabar.com - Sebagai bentuk komitmen mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di sektor perkebunan, PTPN IV Regional VII, salah satu entitas dari Holding Perkebunan Nusantara, menerima kunjungan peserta Praktik Kerja Lapangan (PKL) Dinas Perkebunan Kabupaten Way Kanan yang dilaksanakan di Afdeling I Kebun Rejosari. Pada kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan pelatihan mengenai teknik pemetaan menggunakan aplikasi Avenza Maps, salah satu teknologi berbasis Global Positioning System (GPS) yang banyak dimanfaatkan dalam operasional perkebunan modern. Kegiatan ini merupakan hasil sinergi antara PTPN IV Regional VII, Dinas Perkebunan Kabupaten Way Kanan, dan PT Titian Karsa Mandiri selaku mitra pelaksana pelatihan, dalam upaya meningkatkan kompetensi aparatur perkebunan melalui pemanfaatan teknologi digital. Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga melakukan praktik langsung di lapangan sehingga mampu memahami implementasi teknologi pemetaan secara nyata dalam mendukung pengelolaan perkebunan. Avenza Maps merupakan aplikasi pemetaan digital yang memungkinkan pengguna melakukan navigasi, pengambilan titik koordinat, penandaan lokasi, hingga pemetaan berbagai objek di lapangan tanpa harus selalu terhubung dengan jaringan internet. Di lingkungan perkebunan, teknologi ini memiliki peran penting dalam mendukung pengelolaan areal, inventarisasi tanaman, identifikasi kondisi lapangan, pengawasan aset perusahaan, hingga penyusunan data spasial yang akurat sebagai dasar pengambilan keputusan. Selama pelatihan, peserta dibimbing untuk mengenal berbagai fitur Avenza Maps, mulai dari proses pemasangan peta digital, penggunaan koordinat GPS, teknik pengambilan waypoint, pencatatan lokasi penting, hingga proses sinkronisasi data hasil pemetaan. Selanjutnya, peserta diajak melakukan praktik langsung di Afdeling I Kebun Rejosari untuk mengaplikasikan materi yang telah diberikan sehingga memperoleh pengalaman operasional yang lebih komprehensif. Selain meningkatkan keterampilan teknis, pelatihan ini juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya data spasial dalam mendukung efektivitas pengelolaan perkebunan. Dengan pemanfaatan teknologi digital, proses identifikasi lokasi, monitoring kondisi areal, serta pelaporan kegiatan lapangan dapat dilakukan secara lebih cepat, akurat, dan efisien. Region Head PTPN IV Regional VII, Denny Ramadhan, menyampaikan perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam pengelolaan perkebunan. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi SDM harus berjalan seiring dengan transformasi digital yang sedang dilakukan perusahaan. "Transformasi digital di sektor perkebunan tidak hanya berbicara mengenai penggunaan teknologi, tetapi juga bagaimana sumber daya manusianya mampu menguasai dan memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal. Melalui pelatihan pemetaan menggunakan Avenza Maps ini, kami berharap para peserta memperoleh wawasan baru mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung pekerjaan di lapangan sehingga mampu meningkatkan efektivitas dan kualitas pengelolaan perkebunan," jelasnya. Menurut Denny, PTPN IV Regional VII selalu terbuka untuk berbagi pengalaman dan best practices kepada berbagai pemangku kepentingan sebagai bentuk kontribusi perusahaan terhadap kemajuan sektor perkebunan nasional. "Kami menyambut baik pelaksanaan praktik kerja lapangan ini karena menjadi wadah berbagi pengetahuan antara perusahaan dan pemerintah daerah. Apa yang dipelajari hari ini kami harapkan tidak berhenti sebagai pengalaman selama pelatihan, tetapi dapat diimplementasikan di wilayah kerja masing-masing sehingga mampu meningkatkan produktivitas, akurasi data lapangan, serta kualitas pelayanan di sektor perkebunan. Kolaborasi seperti ini merupakan investasi jangka panjang dalam membangun SDM perkebunan yang unggul dan siap menghadapi tantangan industri yang semakin modern," bebernya. Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Way Kanan, B. Ishak, S.Sos., M.H., menyampaikan apresiasi kepada PTPN IV Regional VII yang telah memberikan kesempatan kepada aparatur perkebunan Kabupaten Way Kanan untuk belajar secara langsung di lingkungan operasional perusahaan. "Kami mengucapkan terima kasih kepada PTPN IV Regional VII yang telah membuka ruang pembelajaran bagi aparatur perkebunan Kabupaten Way Kanan. Pelatihan praktik lapangan seperti ini memiliki nilai yang sangat besar karena peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana teknologi diterapkan dalam pengelolaan perkebunan modern. Kami berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat diimplementasikan di daerah masing-masing sehingga mampu meningkatkan kualitas pelayanan, pengawasan, serta pembangunan sektor perkebunan di Kabupaten Way Kanan," ucapnya. Ia menambahkan penguasaan teknologi pemetaan digital merupakan kompetensi yang harus dimiliki aparatur perkebunan dalam menghadapi era transformasi digital. "Kemampuan memanfaatkan aplikasi pemetaan seperti Avenza Maps akan menjadi bekal penting bagi aparatur perkebunan untuk bekerja secara lebih efektif, akurat, dan berbasis data. Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut sehingga kompetensi SDM perkebunan semakin meningkat dari waktu ke waktu," urainya. Direktur PT Titian Karsa Mandiri selaku mitra pelaksana pelatihan, Azka Rahmania Salsabila, S.Pd., menjelaskan materi pelatihan dirancang agar peserta mampu memahami sekaligus mengimplementasikan teknologi pemetaan sesuai kebutuhan pekerjaan di lapangan. "Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada pengenalan aplikasi Avenza Maps, tetapi juga bagaimana peserta mampu menggunakannya secara efektif dalam mendukung aktivitas operasional sehari-hari. Kami mengombinasikan pembelajaran di kelas dengan praktik langsung di lapangan agar peserta benar-benar memahami proses pengambilan titik koordinat, navigasi, pemetaan areal, hingga penyusunan data spasial yang akurat," sebutnya. Ia berharap kompetensi yang diperoleh selama pelatihan dapat menjadi bekal bagi peserta dalam mendukung transformasi digital di sektor perkebunan. "Harapan kami, seluruh peserta mampu menerapkan ilmu yang diperoleh untuk meningkatkan efisiensi kerja dan kualitas data di lapangan. Pemanfaatan teknologi pemetaan bukan lagi menjadi pilihan, tetapi sudah menjadi kebutuhan dalam mendukung pengelolaan perkebunan yang modern, efektif, dan berbasis data," imbuhnya. Selama praktik kerja lapangan, peserta juga melakukan observasi langsung terhadap berbagai aktivitas operasional di Kebun Rejosari, didampingi oleh tim teknis perusahaan. Peserta melakukan simulasi pemetaan areal, pengambilan titik koordinat, identifikasi objek lapangan, hingga penyusunan data spasial menggunakan perangkat bergerak (mobile device) yang terintegrasi dengan aplikasi Avenza Maps. Melalui pengalaman tersebut, peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya data spasial dalam mendukung proses perencanaan, monitoring, dan evaluasi kegiatan perkebunan. Pelaksanaan kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, dan mitra pengembangan kompetensi mampu menghasilkan program pembelajaran yang memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kapasitas SDM. PTPN IV Regional VII meyakini pengembangan kompetensi melalui praktik lapangan merupakan salah satu langkah strategis dalam menciptakan aparatur perkebunan yang profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan mampu menjawab tantangan industri yang terus berkembang. Ke depan, PTPN IV Regional VII berkomitmen untuk terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan melalui program-program pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri.

Audit Trail Dokumen Digital: Cara Kerja dan Manfaatnya Untuk Bisnis Tekno
Tekno
Senin, 03 Agustus 2026 | 17:08 WIB

Audit Trail Dokumen Digital: Cara Kerja dan Manfaatnya Untuk Bisnis

Jakarta, katakabar.com - Pelajari cara kerja audit trail pada dokumen digital dan manfaatnya dalam menjaga transparansi, keamanan, serta keabsahan proses persetujuan bisnis. Fitur ini membantu melacak setiap aktivitas dokumen secara otomatis sehingga risiko sengketa dan manipulasi dapat diminimalkan. Banyak bisnis kesulitan melacak siapa saja yang menyetujui sebuah dokumen. Revisi yang dilakukan berkali-kali sering membuat versi terbaru sulit dipastikan. Tim legal maupun auditor pun kerap kesulitan menelusuri riwayat persetujuan. Di sinilah audit trail mulai banyak dibutuhkan oleh perusahaan. Tanpa pelacakan yang jelas, karyawan bisa saja menyangkal pernah menyetujui suatu dokumen. Sengketa internal semacam ini sering memakan waktu lama untuk diselesaikan. Risiko lain muncul ketika dokumen penting dimanipulasi tanpa terdeteksi. Kepercayaan mitra bisnis maupun klien pun bisa ikut terganggu akibat masalah ini. Semakin besar skala bisnis, semakin kompleks pula alur persetujuan dokumen yang berjalan. Kondisi ini membuat kebutuhan terhadap sistem pelacakan otomatis jadi semakin mendesak. Bisnis yang masih mengandalkan cara manual berisiko tertinggal dari sisi tata kelola. ezSign hadir dengan fitur pelacakan aktivitas yang terintegrasi dalam layanan e signature. Setiap aktivitas pada dokumen tercatat otomatis, mulai dari waktu hingga identitas pengguna. Bagi yang masih awam dengan istilah ini, penjelasan berikut akan membantu memahami cara kerjanya. Artikel ini juga membahas contoh kasus yang sering terjadi akibat minimnya pelacakan dokumen. Apa Itu Audit Trail dan Kenapa Bisnis Membutuhkannya Mencegah Sengketa Akibat Persetujuan Disangkal Audit trail mencatat setiap interaksi yang terjadi pada sebuah dokumen. Data yang tersimpan meliputi waktu akses, identitas pengguna, hingga tindakan yang dilakukan. Dengan catatan ini, klaim bahwa seseorang tidak pernah menyetujui dokumen jadi sulit dibantah. Bukti digital semacam ini juga bisa dipakai sebagai referensi hukum bila diperlukan. Mendukung Kepatuhan dan Proses Audit Internal Banyak perusahaan wajib menjalani audit rutin sesuai regulasi yang berlaku. Sistem ini membantu auditor internal menelusuri riwayat aktivitas dengan lebih cepat. Proses yang sebelumnya memakan waktu lama kini bisa diselesaikan lebih efisien. Kepatuhan terhadap prosedur pun menjadi lebih mudah dibuktikan kepada pihak berwenang. Studi Kasus: Ketika Riwayat Persetujuan Dokumen Dipertanyakan Ada kalanya sebuah kontrak kerja sama dipermasalahkan di kemudian hari. Salah satu pihak mengklaim tidak pernah menyetujui isi dokumen yang beredar. Tanpa catatan aktivitas yang jelas, perusahaan kesulitan membuktikan keabsahan persetujuan tersebut. Situasi seperti ini rentan terjadi pada bisnis yang masih mengandalkan dokumen fisik atau sistem tanpa pelacakan. Dampak Jika Bisnis Tidak Memiliki Jejak Aktivitas Jelas Minimnya pelacakan dokumen bisa menimbulkan berbagai dampak. Berikut beberapa di antaranya: ● Proses pembuktian hukum yang memakan waktu dan biaya tambahan ● Menurunnya kepercayaan mitra terhadap tata kelola perusahaan ● Potensi kerugian akibat dokumen yang dimanipulasi tanpa terdeteksi Karena itu, mekanisme pelacakan otomatis jadi bagian penting dalam pengelolaan dokumen bisnis. Fitur ini membantu memastikan setiap langkah dalam siklus dokumen tetap terekam. Cara Kerja Fitur Pelacakan Aktivitas pada Platform ezSign Pencatatan Waktu, Lokasi, dan Identitas Pengguna Setiap kali dokumen dibuka, dibaca, atau ditandatangani, sistem mencatat detailnya secara otomatis. Informasi yang direkam mencakup waktu akses, lokasi, hingga identitas pengguna yang terlibat. Data ini tersimpan sesuai kebijakan retensi yang berlaku pada sistem. Pendekatan ini membuat setiap tahap proses tanda tangan digital lebih mudah ditelusuri. Verifikasi Dokumen Lewat QR Code dan Portal Resmi Setiap dokumen yang ditandatangani lewat ezSign akan dilengkapi kode QR khusus. Kode ini mengarah ke halaman yang menampilkan riwayat aktivitas dokumen tersebut. Keabsahan dokumen bahkan bisa dicek lewat portal resmi milik Kementerian Komunikasi dan Digital. Bila seluruh poin pengecekan berwarna hijau, dokumen dinyatakan valid dan tidak mengalami perubahan. Langkah Menerapkan Sistem Pelacakan Aktivitas di Perusahaan Anda Bagi perusahaan yang baru mulai, penerapannya bisa dilakukan secara bertahap. Berikut langkah umum yang biasa dilakukan: 1. Melakukan evaluasi alur persetujuan dokumen di seluruh divisi 2. Menentukan staf yang berwenang mengakses riwayat aktivitas 3. Mengintegrasikan sistem audit trail ke proses tanda tangan digital yang berjalan 4. Melakukan sosialisasi kepada tim agar terbiasa dengan alur baru Uji coba pada satu divisi terlebih dahulu bisa membantu proses adaptasi berjalan lebih lancar. Evaluasi berkala juga diperlukan supaya alur kerja baru semakin sesuai kebutuhan. ezSign, Pendukung Keandalan Rekam Jejak Dokumen Bisnis Pada akhirnya, audit trail bukan sekadar fitur tambahan dalam proses digital. Kehadirannya membantu bisnis menjaga integritas dokumen sekaligus mengurangi risiko sengketa internal. ezSign menghadirkan pencatatan aktivitas pada proses e signature, mulai dari persetujuan hingga verifikasi lewat QR code. Bagi bisnis yang ingin mulai menerapkan sistem pelacakan ini, tim ezSign dapat membantu memberi penjelasan lebih lanjut. FAQ Seputar Fitur Pelacakan Aktivitas pada Dokumen Digital 1. Apa yang dimaksud dengan audit trail pada dokumen digital? Ini adalah catatan otomatis yang merekam setiap aktivitas pada sebuah dokumen. 2. Apakah data pada riwayat aktivitas ini bisa dihapus atau diubah sembarangan? Tidak, sistem dirancang agar riwayat aktivitas tetap tersimpan dan bisa ditelusuri. 3. Siapa saja yang bisa mengakses riwayat aktivitas dokumen? Hanya pihak yang mendapat otorisasi akses dari perusahaan yang bisa melihatnya.

Google.org Kucurkan Hibah USD 1,5 Juta untuk ION, Perkuat Fondasi Perdagangan Digital Terbuka Indonesia Internasional
Internasional
Kamis, 30 Juli 2026 | 15:05 WIB

Google.org Kucurkan Hibah USD 1,5 Juta untuk ION, Perkuat Fondasi Perdagangan Digital Terbuka Indonesia

Jakarta, katakabar.com - Google.org umumkan hibah senilai USD 1,5 juta kepada Indonesia Open Network (ION) untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur perdagangan digital terbuka di Indonesia. Pengumuman tersebut disampaikan dalam acara Google & YouTube: AI untuk Ekonomi Kreatif di Jakarta, Kamis (23/7) lalu, yang juga menjadi momentum peluncuran laporan mengenai peluang kecerdasan buatan (AI) bagi ekonomi kreatif Indonesia. Dukungan ini menandai kolaborasi antara Google.org dan ION dalam memperkuat fondasi ekonomi digital Indonesia melalui pengembangan infrastruktur yang lebih terbuka, inklusif, dan interoperabel. Dana hibah tersebut akan digunakan untuk memperkuat Digital Public Infrastructure (DPI) yang memungkinkan usaha mikro dan wirausaha, khususnya di wilayah perdesaan, memasuki pasar digital dengan lebih mudah, terbuka, dan tanpa dibebani biaya awal yang besar. Membangun Ekosistem Perdagangan Digital Terbuka Berbasis ONDC Indonesia Open Network (ION) merupakan inisiatif yang mengembangkan jaringan perdagangan digital terbuka (open digital commerce network) di Indonesia dengan mengadaptasi prinsip Open Network for Digital Commerce (ONDC), sebuah inisiatif Pemerintah India yang dirancang untuk menciptakan ekosistem perdagangan digital yang lebih terbuka, inklusif, dan tidak bergantung pada satu platform tertentu. ION dikembangkan bersama Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), serta berbagai mitra strategis lainnya. Berbeda dengan model marketplace konvensional yang mengumpulkan seluruh penjual dan pembeli dalam satu aplikasi, ION membangun jaringan terbuka yang menghubungkan penjual, pembeli, penyedia pembayaran, perusahaan logistik, lembaga keuangan, hingga berbagai aplikasi digital melalui standar teknologi yang sama. Melalui pendekatan tersebut, pelaku usaha cukup mendaftarkan identitas usaha beserta katalog produknya satu kali ke dalam jaringan ION. Setelah itu, produk dapat ditemukan dan ditransaksikan melalui berbagai aplikasi pembeli yang telah terhubung ke jaringan tersebut tanpa harus membuka dan mengelola toko secara terpisah di setiap platform. Presiden Direktur PT Indonesia Open Network, Bayu Prawira Hie menegaskan bahwa ION bukan dibangun sebagai marketplace baru, melainkan sebagai infrastruktur digital publik yang menghubungkan seluruh pelaku dalam ekosistem perdagangan digital. "ION bukan marketplace. ION adalah jaringan digital terbuka yang memungkinkan seluruh pelaku ekosistem perdagangan digital saling terhubung," ujar Bayu. Menurut Bayu, perdagangan digital saat ini masih didominasi oleh closed network, yaitu ekosistem tertutup yang dikendalikan oleh masing-masing platform. Sebaliknya, ION mengusung konsep open network yang memungkinkan marketplace, sistem pembayaran, perbankan, perusahaan logistik, hingga pelaku UMKM saling terhubung melalui protokol yang sama. "Yang kami bangun adalah infrastrukturnya. Marketplace tetap ada, tetapi semuanya dapat saling terhubung dalam jaringan yang sama," tambahnya. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengatasi fragmentasi perdagangan digital sekaligus memberikan keleluasaan bagi pelaku usaha dalam memilih layanan pembayaran, logistik, maupun platform penjualan yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka. Semakin banyak pelaku yang bergabung ke dalam jaringan, semakin besar pula manfaat ekonomi yang dapat tercipta melalui efek jaringan (network effect). AI Berpotensi Tambah Rp910 Triliun bagi Perekonomian Indonesia Pengumuman hibah tersebut juga bertepatan dengan peluncuran AI Economic Opportunity Report 2026 yang disusun Google bersama Public First dan Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Laporan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan AI secara lebih luas berpotensi menciptakan nilai ekonomi hingga Rp910 triliun (US$55 miliar) atau setara sekitar 3,8% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, apabila usaha kecil dan menengah mampu mengadopsi AI pada tingkat yang setara dengan perusahaan besar. Saat ini, baru sekitar 14,5% UMKM di Indonesia yang telah memanfaatkan AI, dibandingkan dengan 62,5% perusahaan berskala besar. Menurut Vice President Government Affairs and Public Policy, Centers of Excellence Google, Markham Erickson, kesenjangan tersebut justru menunjukkan besarnya peluang yang dapat dimanfaatkan Indonesia. "Jadi, peluang besar ada di depan kita," kata Markham. Menurutnya, apabila tingkat adopsi AI di kalangan UMKM dapat ditingkatkan hingga setara dengan perusahaan besar, Indonesia berpotensi memperoleh tambahan nilai ekonomi hingga Rp910 triliun sekaligus menciptakan lebih dari 510.000 lapangan kerja baru melalui lahirnya produk, layanan, dan model bisnis baru. Selain itu, pemanfaatan generative AI di sektor kreatif dan media diperkirakan mampu menghasilkan nilai ekonomi tahunan hingga Rp66 triliun. Teknologi tersebut juga berpotensi menghemat rata-rata 390 jam kerja per tahun bagi pekerja kreatif, sehingga mereka dapat lebih fokus mengembangkan ide, kreativitas, dan storytelling. Sementara itu, teknologi lokalisasi berbasis AI seperti penerjemahan otomatis, subtitling, dan dubbing diperkirakan dapat membuka potensi ekspor ekonomi kreatif hingga Rp6,7 triliun setiap tahun. Fondasi Baru bagi Ekonomi Digital Indonesia Google juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung transformasi digital Indonesia melalui pemanfaatan AI yang bertanggung jawab. Perusahaan menilai AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas, membuka peluang ekonomi baru, serta membantu kreator dan pelaku usaha Indonesia menjangkau pasar global sebagai bagian dari upaya mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar menilai Indonesia harus memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat posisinya, tidak hanya sebagai pasar digital, tetapi juga sebagai pusat lahirnya karya kreatif dan kekayaan intelektual. "Indonesia bukan hanya pasar dengan populasi besar, tetapi juga rumah bagi para kreator dan mesin kreatif yang mampu mengekspor karya ke dunia. Dunia membutuhkan produk yang datang dari Indonesia karena produk yang diciptakan dengan hati dapat menyentuh banyak orang," ucap Irene. Melalui dukungan Google.org, pengembangan ION sebagai jaringan perdagangan digital terbuka diharapkan mampu mempercepat digitalisasi UMKM sekaligus memperluas akses mereka terhadap pembayaran digital, logistik, pembiayaan, hingga pemanfaatan AI untuk meningkatkan produktivitas. Dengan mengadaptasi model ONDC dari India dan menargetkan pemberdayaan 100.000 usaha mikro pada tahun pertama, ION diharapkan menjadi fondasi bagi ekosistem perdagangan digital Indonesia yang lebih terbuka, kompetitif, dan inklusif, sehingga semakin banyak pelaku usaha dapat memanfaatkan peluang ekonomi digital yang diproyeksikan terus tumbuh di era AI.

Ledakan Industri Mobile Game Indonesia 2026: Ekosistem Digital Kian Solutif dan Aksesibel bagi Gamer Serba Serbi
Serba Serbi
Selasa, 28 Juli 2026 | 14:11 WIB

Ledakan Industri Mobile Game Indonesia 2026: Ekosistem Digital Kian Solutif dan Aksesibel bagi Gamer

Jakarta, katakabar.com - Di 2026, peta persaingan mobile game Indonesia diramaikan oleh variasi genre yang makin beragam. Meski platform sandbox dan casual game terus meraih jutaan unduhan baru, genre Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) seperti Mobile Legends: Bang Bang tetap mengukuhkan posisinya sebagai salah satu judul dengan komunitas terbesar dan basis penggemar paling aktif di Tanah Air. Industri mobile game di Indonesia menunjukkan lonjakan signifikan yang menegaskan posisinya sebagai salah satu pangsa pasar hiburan digital terbesar di Asia Tenggara. Dengan jumlah pemain aktif yang menembus lebih dari 200 juta jiwa dan estimasi valuasi pasar mencapai lebih dari USD 2 miliar, lanskap gaming di Tanah Air kini tidak lagi sekadar sarana hiburan kasual, melainkan telah bertransformasi menjadi pilar penting dalam ekonomi kreatif digital nasional. Perkembangan pesat ini didorong oleh penetrasi jaringan 5G yang kian merata, keterjangkauan perangkat smartphone berspesifikasi tinggi, serta makin ramahnya ekosistem pembayaran digital. Laporan tren industri tahun 2026 mencatat adanya pergeseran perilaku konsumen yang signifikan, di mana antusiasme pemain terhadap aktivitas transaksi dalam game (in-game purchase) terus meningkat secara konsisten. "Pasar gamer Indonesia kini jauh lebih matang. Para pemain tidak hanya mencari game berkualitas, tetapi juga menginginkan layanan pendukung seperti platform top up yang cepat, terpercaya, transparan, dan terjangkau." Pergeseran Tren dan Dominasi Game MOBA & Sandbox Di tahun 2026, peta persaingan mobile game Indonesia diramaikan oleh variasi genre yang makin beragam. Meski platform sandbox dan casual game terus meraih jutaan unduhan baru, genre Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) seperti Mobile Legends: Bang Bang tetap mengukuhkan posisinya sebagai salah satu judul dengan komunitas terbesar dan basis penggemar paling aktif di Tanah Air. Pertumbuhan ekosistem esports lokal dan turnamen berjenjang dari tingkat komunitas hingga profesional turut menjaga antusiasme para pemain. Kebutuhan pemain akan barang digital—mulai dari skin eksklusif, battle pass, hingga item kosmetik—membuat aktivitas pengisian ulang mata uang digital dalam game (top up) menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup gamer masa kini. Top Up Boy Hadir Jawab Kebutuhan Ekosistem Gamer Menjawab tingginya permintaan pasar akan layanan transaksi in-game yang praktis dan efisien, keberadaan platform layanan pihak ketiga menjadi kunci pendukung utama ekosistem. Salah satu platform yang menjadi sorotan utama bagi komunitas gamer di Indonesia pada tahun 2026 ini adalah Top Up Boy. Sebagai salah satu penyedia layanan transaksi digital tepercaya yang berpusat di situs www.topupboy.com, Top Up Boy mengusung komitmen untuk memberikan pengalaman bertransaksi yang serba cepat, aman, dan tanpa hambatan. Layanan ini dirancang khusus untuk memenuhi ekspektasi para pemain yang menginginkan pemrosesan item atau diamond secara real-time dengan berbagai metode pembayaran digital lokal. Hadir sebagai solusi atas tingginya biaya transaksi dan rumitnya proses pembayaran konvensional, portal ini menjadi pilihan utama bagi mereka yang mencari layanan top up game murah tanpa harus mengorbankan keamanan akun. Solusi Hemat dan Instant untuk Komunitas Mobile Legends Di tengah tingginya kompetisi dalam gim MOBA, kebutuhan para pemain Mobile Legends akan akses diamond cepat dan terjangkau terus meningkat. Menjawab kebutuhan spesifik tersebut, Top Up Boy menghadirkan halaman khusus yang disesuaikan untuk kenyamanan transaksi para player Mobile Legends. Melalui penawaran top up ml murah, pemain dapat menikmati berbagai kemudahan transaksi, mulai dari: · Proses Otomatis 24/7: Transaksi diproses secara instan hitungan detik tanpa perlu menunggu konfirmasi manual yang memakan waktu. · Harga Sangat Kompetitif: Menawarkan penyesuaian harga promo harian yang ramah bagi kantong pelajar maupun pemain profesional. · Keamanan Terjamin: Sistem enkripsi terintegrasi yang memastikan keamanan data akun pengguna tetap terjaga. · Variasi Pembayaran Luas: Mendukung berbagai metode transaksi lokal mulai dari e-wallet, transfer bank, QRIS, hingga jaringan gerai retail. Prospek Cerah Masa Depan Industri Game Nasional Dengan makin solidnya infrastruktur digital, integrasi sistem pembayaran yang inklusif, serta dukungan platform pihak ketiga seperti Top Up Boy, industri mobile game Indonesia diproyeksikan akan terus tumbuh positif hingga beberapa tahun mendatang. Sinergi antara pengembang game, komunitas pemain, dan platform pendukung transaksi tepercaya diyakini menjadi modal utama Indonesia untuk tidak hanya menjadi pasar gamer terbesar, tetapi juga ekosistem digital terkuat di Asia Tenggara.

Lintasarta Dorong Digital Sovereignty bagi BPD se Indonesia  Perkuat Ekonomi Nasional Ekonomi
Ekonomi
Senin, 27 Juli 2026 | 08:49 WIB

Lintasarta Dorong Digital Sovereignty bagi BPD se Indonesia  Perkuat Ekonomi Nasional

Jakarta, katakabar.com - Lintasarta berkomitmen percepat transformasi digital Bank Pembangunan Daerah (BPD) se Indonesia melalui penguatan fondasi digital yang berdaulat. Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Lintasarta bakal gelar BPD Summit 2026 yang pertemukan BPD dari seluruh Indonesia pada 5 hingga 7 Agustus 2026 di Semarang. Forum ini menjadi wadah kolaborasi bagi BPD untuk membahas penerapan Digital Sovereignty sebagai fondasi transformasi digital, penguatan ketahanan siber, serta pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) guna memperkuat peran BPD dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Pembahasan ini semakin relevan mengingat tingkat kematangan digital, kapabilitas keamanan siber, dan kesiapan talenta digital di setiap BPD masih beragam. President Director & CEO Lintasarta, Armand Hermawan, mengatakan BPD membutuhkan kapabilitas digital dan keamanan siber yang setara dengan bank-bank besar, tapi tetap efisien dan mampu mengakomodasi karakteristik serta kebutuhan masing-masing daerah. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Lintasarta Intelligent Core hadir sebagai fondasi digital yang mengintegrasikan Connectivity, Cloud, Cybersecurity, dan Collaboration-AI (4C) dalam satu ekosistem yang aman, terhubung, dan andal. “Fondasi ini dibangun di atas tiga prinsip utama, yakni  Sovereign melalui sovereign infrastructure dan sovereign AI, Integrated melalui solusi end-to-end yang menyatukan empat kapablitas utama (4C), serta Seamless Experience yang menghadirkan pengalaman digital yang terintegrasi, andal, dan efisien,” kata Armand. Selain itu, ucap Armand, tingkat kematangan Cybersecurity dan Security Operations Center (SOC) di setiap BPD juga masih bervariasi. Lantaran itu, dibutuhkan pendekatan yang memungkinkan kapabilitas keamanan siber yang lebih terintegrasi, proaktif, serta didukung oleh pemanfaatan AI agar mampu menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks. Untuk mendukung transformasi tersebut, Lintasarta menghadirkan tiga pilar kolaborasi bagi BPD. Pertama, membangun forum kolaborasi yang memungkinkan BPD berbagi pengetahuan dan praktik terbaik di bidang transformasi digital, connectivity, keamanan siber, dan AI. Kedua, mendorong pemanfaatan AI untuk menjawab berbagai use case yang menjadi prioritas di masing-masing daerah. Ketiga, memperkuat kapasitas sumber daya manusia melalui pengembangan talenta digital daerah dengan melibatkan BPD dan perguruan tinggi. Ketiga pilar tersebut sejalan dengan Roadmap Penguatan BPD 2024–2027 yang dicanangkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), khususnya dalam mempercepat transformasi digital BPD sekaligus memperkuat perannya sebagai penggerak ekonomi daerah dan nasional. Di tengah meningkatnya tuntutan digitalisasi layanan keuangan, muncul pertanyaan penting: bagaimana BPD dapat mempercepat transformasi digital tanpa mengorbankan keamanan, menjaga kedaulatan data, sekaligus menghadirkan layanan terbaik bagi nasabah? Pertanyaan tersebut akan menjadi salah satu fokus pembahasan dalam BPD Summit 2026, yang menghadirkan regulator, pimpinan BPD, serta berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan arah masa depan transformasi digital perbankan daerah. Melalui inisiatif ini, Lintasarta kembali menegaskan perannya sebagai Beyond AI Factory dari Indosat Ooredoo Hutchison Group yang menghadirkan fondasi digital berdaulat guna memperkuat daya saing BPD dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Indonesia ION Membangun Ekosistem Perdagangan Digital Terbuka Nasional Internasional
Internasional
Sabtu, 18 Juli 2026 | 17:07 WIB

Indonesia ION Membangun Ekosistem Perdagangan Digital Terbuka Nasional

Jakarta, katakabar.com - Indonesia dan India menandai babak baru dalam kemitraan strategis di bidang ekonomi digital melalui peluncuran Indonesia Open Network (ION), sebuah infrastruktur perdagangan digital terbuka berskala nasional yang dirancang untuk membangun pasar digital yang interoperabel. Melalui ION, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), petani, koperasi, pasar tradisional, hingga pelaku usaha lokal dapat melakukan transaksi lintas berbagai aplikasi dan platform tanpa terikat pada satu ekosistem digital tertentu. Peluncuran ION merupakan salah satu pengumuman strategis yang disambut langsung oleh Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India, Narendra Modi dalam kunjungan kenegaraan PM Modi ke Indonesia. Inisiatif ini merupakan implementasi dari Memorandum of Understanding (MoU) Kerja Sama Pengembangan Digital yang ditandatangani kedua negara pada Januari 2025, sekaligus menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi di bidang Digital Public Infrastructure (DPI), kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan inovasi digital. Dalam Pernyataan Bersama kedua pemimpin, Indonesia Open Network (ION), yang dikembangkan berdasarkan arsitektur Open Network for Digital Commerce (ONDC) milik India, dipandang sebagai fondasi penting dalam membangun pasar digital yang terbuka dan saling terhubung. Melalui pendekatan ini, UMKM, petani, koperasi, dan pelaku usaha lokal dapat menjangkau lebih banyak pasar melalui berbagai aplikasi dan platform tanpa harus bergantung pada satu platform e-commerce tertentu. Peluncuran ION menjadi salah satu kolaborasi paling strategis di Asia Tenggara dalam membangun Digital Public Infrastructure (DPI) untuk sektor perdagangan. Inisiatif ini mempertemukan Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Kementerian UMKM), Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), APINDO, SMESCO Indonesia, konsorsium pakar Digital Public Infrastructure dan perusahaan teknologi dari India yang berkontribusi dalam pengembangan ONDC, bersama Indonesia Open Network (ION) beserta para mitra ekosistemnya untuk membangun fondasi baru perdagangan digital Indonesia. Beberapa bulan mendatang, lebih banyak kementerian, penyedia layanan, serta pelaku industri akan bergabung untuk memperkuat ION sebagai infrastruktur dasar ekonomi digital Indonesia. Memberdayakan UMKM Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi digital tercepat di dunia. Tetapi, jutaan UMKM, petani, koperasi, dan pelaku usaha informal masih menghadapi berbagai hambatan struktural yang membatasi partisipasi mereka dalam ekonomi digital. Fragmentasi marketplace, sistem logistik yang belum terintegrasi, kebutuhan integrasi teknologi yang kompleks, keterbatasan akses pembiayaan, hingga tingginya biaya memperoleh pelanggan masih menjadi tantangan utama, terutama bagi pelaku usaha di daerah. Implementasi ION dilakukan melalui kolaborasi erat antara pemerintah, sektor swasta, dan mitra teknologi. Bersama Kementerian UMKM, ION memperkuat inisiatif nasional SAPA UMKM melalui PASAR SAPA, sebuah lapisan perdagangan digital interoperabel yang mengembangkan platform UMKM milik pemerintah menjadi ekosistem transaksi digital yang lebih komprehensif. Melalui kerja sama ini, UMKM yang terdaftar akan memperoleh akses ke jaringan pembeli, penyedia logistik, sistem pembayaran digital, layanan pembiayaan, asuransi, hingga berbagai layanan pendukung usaha lainnya melalui arsitektur jaringan terbuka. Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Republik Indonesia, Maman Abdurrahman, mengatakan Visi kami adalah memastikan setiap UMKM Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital, tanpa memandang ukuran maupun lokasi usahanya. Melalui SAPA UMKM dan Indonesia Open Network, kami membangun ekosistem terbuka yang menghubungkan pelaku usaha dengan pasar, layanan logistik, pembiayaan, layanan publik yang terintegrasi, hingga layanan berbasis kecerdasan buatan. Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana Digital Public Infrastructure dapat menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Di tingkat komunitas, ION Hyperlokal akan menghubungkan desa, kecamatan, pasar tradisional, koperasi, petani, serta penyedia layanan lokal ke dalam ekosistem ekonomi digital berbasis wilayah. Model ini memungkinkan transaksi perdagangan, distribusi logistik, dan layanan lainnya dipenuhi dari dalam komunitas setempat sekaligus membuka akses menuju pasar nasional. Sementara, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mendukung pengembangan ekosistem ION dengan mendorong partisipasi komunitas inovasi digital Indonesia, termasuk pengembang aplikasi, startup, dan penyedia layanan digital agar menjadi bagian dari infrastruktur digital nasional yang interoperabel. Membangun Infrastruktur Digital Bersama Indonesia Open Network hadir bukan sebagai platform e-commerce baru, melainkan sebagai infrastruktur digital bersama yang memungkinkan berbagai marketplace, aplikasi, penyedia logistik, sistem pembayaran, lembaga keuangan, dan layanan digital saling terhubung dalam satu jaringan terbuka. Dengan pendekatan ini, pelaku usaha hanya perlu melakukan satu kali integrasi untuk dapat berpartisipasi dalam ekosistem digital yang terus berkembang. Prinsip utama ION adalah: Join Once. Sell Everywhere. Dengan memisahkan fungsi infrastruktur digital dari aplikasi komersial, ION mendorong inovasi, meningkatkan persaingan yang sehat, menurunkan biaya teknologi, serta memberikan pilihan yang lebih luas bagi pelaku usaha maupun konsumen. Infrastruktur Digital yang Dirancang untuk Indonesia Mengacu pada pengalaman India melalui ONDC, Indonesia mengembangkan ION dengan menyesuaikannya pada kebutuhan nasional, karakteristik ekonomi, serta prioritas pembangunan Indonesia. Alih-alih menyalin model India, Indonesia mengadaptasi prinsip jaringan terbuka untuk memperkuat pembangunan ekonomi yang inklusif, kedaulatan digital, serta pemanfaatan AI dalam skala nasional. Managing Director dan CEO ONDC sekaligus Anggota Dewan Penasihat Indonesia Open Network, T Koshy, menimpali keberhasilan jaringan digital terbuka tidak terletak pada meniru model negara lain, melainkan mengadaptasi prinsip-prinsip yang telah terbukti sesuai dengan kebutuhan lokal. Indonesia berhasil mengembangkan pendekatan nasionalnya sendiri yang mencerminkan kondisi ekonomi, institusi, dan cita-cita pembangunan nasional. Kami merasa terhormat dapat mendukung perjalanan penting ini. Kolaborasi Seluruh Ekosistem ION dibangun atas keyakinan bahwa keberhasilan Digital Public Infrastructure hanya dapat dicapai melalui kolaborasi erat antara pemerintah, sektor swasta, dan mitra teknologi. Sebagai representasi dunia usaha nasional, APINDO bekerja sama dengan ION untuk memperluas partisipasi pelaku usaha sekaligus mempercepat adopsi jaringan terbuka di berbagai sektor industri. Melalui interoperabilitas, pelaku usaha dari berbagai skala dapat menikmati biaya transaksi yang lebih rendah, akses pasar yang lebih luas, dan konektivitas digital yang lebih baik. Ketua Dewan Penasihat Indonesia Open Network sekaligus Ketua Umum APINDO, Shinta Kamdani, menerangkan Sektor swasta telah lama memahami bahwa interoperabilitas merupakan kunci menuju tahap berikutnya dalam perkembangan ekonomi digital Indonesia. ION membangun infrastruktur bersama yang menurunkan hambatan inovasi, mengurangi biaya usaha, dan membuka peluang bagi perusahaan dari berbagai skala untuk berkembang dalam perdagangan digital. APINDO bangga mendukung inisiatif nasional ini. Sebagai bagian dari implementasi ION, SMESCO Indonesia dan PT Chairos International Ventures juga menandatangani Nota Kesepahaman untuk memperluas partisipasi digital UMKM, meningkatkan akses pasar, memperkuat inklusi keuangan, serta mengembangkan kapasitas usaha melalui berbagai program implementasi dan pengembangan ekosistem. Babak Baru Kemitraan Strategis Indonesia dan India Peluncuran Indonesia Open Network menjadi salah satu implementasi nyata pertama dari kemitraan Indonesia dan India di bidang pengembangan digital. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana kerja sama strategis antarnegara dapat menghasilkan infrastruktur digital yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, pelaku usaha, dan komunitas. Dengan memadukan visi Indonesia dalam membangun ekonomi yang inklusif serta pengalaman India dalam mengembangkan Digital Public Infrastructure, kedua negara menghadirkan model baru kolaborasi internasional yang berlandaskan keterbukaan, interoperabilitas, inovasi bersama, dan kesejahteraan bersama. Chief Executive Officer PT Chairos International Ventures, Sachin Gopalan, menekankan ION bukan sekadar platform e-commerce baru, melainkan infrastruktur digital bersama yang memungkinkan seluruh marketplace, perusahaan logistik, penyedia pembayaran, perbankan, dan aplikasi bisnis saling terhubung. Dengan memisahkan infrastruktur dari aplikasi, Indonesia sedang membangun ekonomi digital yang mendorong kolaborasi sebagai sumber inovasi. Peran Chairos adalah mempertemukan pemerintah, industri, mitra teknologi, dan para ahli internasional untuk mewujudkan visi ini menjadi ekosistem nasional yang pada akhirnya dimiliki oleh Indonesia." Menuju Indonesia Emas 2045 Seiring langkah Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045, Digital Public Infrastructure akan menjadi fondasi penting dalam meningkatkan daya saing nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Indonesia Open Network bukan sekadar inisiatif teknologi, tetapi awal dari arsitektur baru ekonomi digital Indonesia, di mana interoperabilitas menggantikan fragmentasi, kolaborasi menggantikan eksklusivitas, dan Digital Public Infrastructure menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Bersama, Indonesia dan India menunjukkan bagaimana kemitraan strategis dapat membangun infrastruktur digital terbuka yang memperluas peluang, memperkuat kedaulatan digital, dan menghadirkan kesejahteraan bagi jutaan masyarakat. Tentang Indonesia Open Network (ION) Indonesia Open Network (ION) merupakan Digital Public Infrastructure (DPI) nasional Indonesia untuk perdagangan digital yang dibangun menggunakan arsitektur jaringan terbuka dan dirancang khusus sesuai kebutuhan Indonesia. ION memungkinkan aplikasi pembeli, aplikasi penjual, penyedia layanan logistik, sistem pembayaran, lembaga keuangan, serta berbagai layanan digital untuk saling terhubung melalui satu infrastruktur nasional bersama. Melalui prinsip "Join Once. Sell Everywhere.", ION memperluas akses pasar, menurunkan hambatan bagi pelaku usaha untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Tentang PT Chairos International Ventures PT Chairos International Ventures merupakan perusahaan pengembangan venture dan inovasi strategis asal Indonesia yang berperan sebagai incubation agency bagi Indonesia Open Network (ION). Chairos bekerja sama dengan pemerintah, pelaku industri, mitra teknologi, serta berbagai organisasi internasional dalam mengembangkan Digital Public Infrastructure dan ekosistem inovasi yang mendukung percepatan transformasi digital Indonesia.