Dilema

Sorotan terbaru dari Tag # Dilema

Guru dan Siswa Dilema Tanpa LKS Kontradiktif Antara Aturan Pemerintah, Disdik Rohul Diminta Cari Solusi Pendidikan
Pendidikan
Senin, 20 Juli 2026 | 12:31 WIB

Guru dan Siswa Dilema Tanpa LKS Kontradiktif Antara Aturan Pemerintah, Disdik Rohul Diminta Cari Solusi

Rokan Hulu, katakabar.com - Di balik aturan yang melarang pembelian Lembar Kerja Siswa (LKS) di sejumlah sekolah Kabupaten Rokan Hulu, Riau tersimpan keluhan mendalam dari guru, siswa, maupun orang tua. Dilema antara tujuan meringankan beban biaya pendidikan, justru kini berbalik menyulitkan proses belajar mengajar sehari-hari. Selama puluhan tahun, LKS menjadi teman setia anak-anak Rokan Hulu. Bukan sekadar lembaran berisi soal, ia panduan terstruktur untuk mengulang pelajaran di rumah, acuan bagi guru memberikan tugas, dan jembatan sederhana bagi orang tua yang sibuk bekerja untuk tetap mendampingi proses belajar anaknya. Tetapi kini, benda itu nyaris tak terlihat lagi di tas sekolah. Seorang guru di wilayah Rokan Hulu tidak mau ditulis  namanya menceritakan kenyataan pahit di lapangan. Tanpa LKS, jam belajar di rumah sering kali terbuang sia-sia. Anak-anak bingung harus mengerjakan apa, sementara kecenderungan alami mereka lebih condong untuk bermain ketika tidak ada panduan yang jelas. "Kami selaku tenaga pengajar terpaksa hanya bisa tegak pada aturan yang berlaku. Jika melanggar, kami siap dikenai sanksi. Tetapi faktanya, siswa dan orang tualah yang paling menanggung dampaknya. Tidak ada pedoman yang pasti untuk mengulang pembelajaran di rumah. Kami berusaha melakukan yang terbaik sebisa kami, tapi keterbatasan nyata terasa," tuturnya saat berbincang dengan katakabar.com, Senin (20/7). Pihak sekolah dan guru sebenarnya tidak menolak upaya menjadikan pendidikan lebih terjangkau. Tetapi, aturan yang melarang pembelian LKS dirasa belum sepenuhnya mempertimbangkan kenyataan di lapangan. Biaya satu kali pembelian LKS untuk satu semester dinilai jauh lebih ringkas dibandingkan harus memfotokopi materi dan soal secara berkala yang belum tentu lengkap dan terurut sesuai kurikulum. "Sekolah seolah disandera, seolah keinginan memiliki LKS itu semata kepentingan kami. Padahal ini murni kebutuhan anak didik kami. Dilemanya tepat di situ, kami mengerti maksud kebijakan, tapi tak berani mengambil langkah lain di luar aturan yang ditetapkan," ceritanya. Berbagai upaya penggantian telah dicoba. Mengubah metode belajar menjadi bermain peran (role play) untuk mata pelajaran Sejarah, IPS, atau Bahasa, misalnya. Tujuannya sederhana: menyalurkan semangat bermain anak ke dalam materi pelajaran. Di mana hasilnya belum sepenuhnya efektif menggantikan fungsi LKS sebagai sarana latihan pemahaman yang sistematis. Memang benar, pemerintah telah menyalurkan anggaran pendidikan terbesar dalam sejarah APBN, mulai dari Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Program Indonesia Pintar (PIP), hingga beragam beasiswa. Dana BOS dialokasikan untuk modul utama yang dipakai bertahun-tahun bergantian antar siswa, sedangkan PIP sejatinya bisa dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan alat tulis maupun buku pendukung bagi siswa yang membutuhkan. Di era digital pun, sumber belajar tak lagi terbatas pada lembar kertas. Buku elektronik, video pembelajaran, hingga kecerdasan buatan dapat diakses kapan saja. Bagi banyak keluarga di pelosok Rohul, LKS tetap memegang peran yang tak tergantikan: materi soal yang sudah disusun berurutan sesuai kompetensi kelas, terjamin relevansinya, dan paling sederhana digunakan bersama anak di rumah tanpa perlu koneksi internet atau keahlian khusus mencari referensi. LKS bukanlah satu-satunya kunci keberhasilan pendidikan, dan bukan pula kitab suci yang tak boleh diganggu gugat. Tetapi, melarang keberadaannya secara mutlak sama saja mengabaikan fungsi praktis yang telah terbukti membantu ribuan keluarga di daerah ini. Lantaran itu, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Rokan Hulu diharapkan segera turun ke lapangan, mendengar keluhan nyata ini secara langsung, dan merumuskan solusi yang adil. Tak sekadar mematuhi aturan pusat, namun juga menjawab kebutuhan mendesak siswa, guru, dan orang tua di daerah: bagaimana memastikan proses latihan belajar tetap berjalan teratur, tanpa membebani biaya berlebihan bagi masyarakat. Solusi yang tepat waktu dan bijak adalah kunci agar aturan yang dibuat tak berbalik menjadi penghambat bagi masa depan pendidikan anak-anak Rokan Hulu. Antara Tekhnologi dan Non-tekhnologi Harus Seimbang Sistem pembelajaran yang memanfaatkan teknologi suatu keharusan di zama sekarang ini. Tetapi hendaknya jangan meninggalkan sistem pembelajaran non-tekhnologi di mana guru dan siswa masih sangat membutuhkan buku paket, LKS, dan buku tulis, serta lainnya. Untuk itu, pelaksanaan sistem pembelajaran  harus seimbang. Saat ini perkembangan tekhnologi cukup pesat khususnya di bidang sains tetapi perlu dipahami sekolah adalah ruang pembelajaran harus mengedepankan keseimbangan agar lahir generasi penerus bangsa melek tekhnologi tanpa melupakan apalagi meninggalkan sistem pembelajara offline dianggak sudah ketinggalan zaman. Bercermin kepada Norwegia, salah satu negara yang telah puluhan tahun lamanya memanfaatkan kemajuan tekhnologi untuk kegiatan pembelajaran. Tetapi, konon katanya pada 2026 ini pemerintahan Norwegia kembali melaksanakan sistem pembelajaran offline seperti dulu. Pemerintahan tersebut kembali membeli buku-buku untuk kepentingan pembelajaran di sekolah yang menyebar di Norwegia. Antara sistem pembelajaran memanfaatkan tekhnologi dan sistem pembelajaran memanfaatkan buku dan pena, pensil, dan lainnya ada plus minusnya. Lantaran itu, keseimbangan sistim pembelajaran harus dibangun untuk mewujudkan generasi siap bersaing di masa datang.

Hindari 'Sarjana Salah Jurusan' Binus @Bekasi Ungkap Strategi Orang Tua Hadapi Dilema Biaya dan Karir 2026 Nasional
Nasional
Selasa, 28 April 2026 | 17:08 WIB

Hindari 'Sarjana Salah Jurusan' Binus @Bekasi Ungkap Strategi Orang Tua Hadapi Dilema Biaya dan Karir 2026

Bekasi, katakabar.com - Memilih perguruan tinggi di tahun 2026 bukan lagi soal "masuk mana", tapi lebih dari itu sebuah keputusan besar yang melibatkan kecemasan massal. Fenomena yang dikenal sebagai decision anxiety kini menjadi kenyataan yang menghantui banyak orang tua dan calon mahasiswa. Terlebih, dengan semakin banyaknya informasi dan pilihan, ditambah dengan ketidakpastian dunia kerja yang semakin dinamis, keputusan ini terasa jauh lebih berat dibandingkan generasi sebelumnya. Kekhawatiran ini diperparah dengan data career mismatch, yang menunjukkan 36 persen pemuda Indonesia bekerja di bidang yang tak sesuai dengan pendidikan yang dimiliki. Angka ini bukan sekadar statistik, ini adalah kenyataan yang memicu kecemasan besar, terutama bagi orang tua yang harus mengeluarkan biaya tinggi untuk pendidikan anak mereka. Salah satu orang tua mahasiswa Binus @Bekasi, mengungkapkan perjalanan tersebut dimulai dari kekhawatiran yang sangat wajar. “Di awal, jujur kami cukup khawatir. Takut salah jurusan, takut anak tidak siap menghadapi dunia kerja, dan tentu saja mempertimbangkan biaya pendidikan yang cukup besar. Tetapi setelah melihat program-program di Binus yang langsung terhubung dengan dunia industri, saya mulai merasa ini adalah investasi yang tepat,” ucap Rosita. Semakin banyak orang tua yang kini melihat pendidikan tinggi bukan hanya sebagai biaya, tetapi sebagai investasi yang memberikan hasil nyata bahkan sebelum anak mereka lulus. Prof. Gatot Soepriyanto, Direktur Kampus Binus @Bekasi, menegaskan penawar terbaik untuk decision anxiety adalah kejelasan arah. Kejelasan arah ini menjadi hal yang sangat dicari oleh orang tua, yang ingin melihat anak mereka tidak hanya mendapatkan pendidikan akademik, tetapi juga keterampilan yang relevan dengan dunia kerja. “Orang tua saat ini tidak hanya bertanya anak saya belajar apa? tetapi anak saya jadi apa? Itu sebabnya, kami mengintegrasikan industri langsung ke dalam kelas kami, sebagai Business, Service dan Technology Campus,” ujar Prof. Gatot. Menurutnya, pengenalan industri sejak dini adalah "obat penenang" terbaik bagi decision anxiety yang banyak dirasakan orang tua. Selain memberi kejelasan arah karir, terangnya, Binus @Bekasi juga berusaha meredam tekanan finansial, yang sering menjadi salah satu sumber stres terbesar orang tua. Melalui Beasiswa EMAS (Empowering Achievement of Student), jelasnya, Binus memastikan pendidikan tetap dapat diakses tanpa mengurangi kualitas. Program beasiswa ini memberikan dukungan finansial untuk mengurangi kekhawatiran orang tua mengenai biaya kuliah yang tinggi. “Dengan adanya Beasiswa EMAS, orang tua bisa lebih fokus pada masa depan anak dan potensi mereka, tanpa merasa terbebani secara finansial. Beasiswa ini juga memberikan emas sebagai simbol investasi, mempertegas bahwa pendidikan adalah investasi yang dapat memberikan return dalam bentuk yang nyata, baik dari sisi finansial maupun karier,” beber Prof. Gatot. Dr. Istiani, M.Psi., Psikolog Binus University, menimpali proses pengambilan keputusan pendidikan sekarang ini jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Tekanan ganda, yakni keinginan orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi anak sementara juga harus memastikan keputusan tersebut aman secara finansial, menciptakan kecemasan yang luar biasa. “Orang tua saat ini menghadapi tekanan ganda: ingin memberikan yang terbaik untuk anak, tetapi juga harus memastikan keputusan tersebut aman secara finansial dan relevan dengan masa depan anak,” tutur Dr. Istiani. “Rasa yakin dalam memilih pendidikan sangat dipengaruhi oleh seberapa jelas orang tua melihat arah masa depan anak mereka," terangnya. Melalui pendekatan yang mengintegrasikan pengalaman industri, ekosistem pembelajaran yang relevan, serta dukungan bagi orang tua, Binus @Bekasi berupaya membantu orang tua melewati perjalanan ini dengan lebih tenang dan yakin. Pada akhirnya, keputusan pendidikan bukan hanya tentang memilih kampus, tetapi tentang bagaimana orang tua dan anak bisa melangkah dengan lebih yakin tanpa rasa takut yang berlebihan, dan dengan keyakinan bahwa mereka sedang berada di jalur yang tepat.