Emisi
Sorotan terbaru dari Tag # Emisi
Dukung Transformasi Hijau Lewat Energi Alternatif, Sucofindo Siap Tekan Laju Emisi Berkelanjutan
Jakarta, katakabar.com - PT Sucofindo (Persero) dukung upaya transformasi energi hijau melalui layanan Testing, Inspection, dan Certification (TIC) untuk pengembangan energi alternatif. Direktur Layanan Industri PT Sucofindo (Persero), Budi Utomo, menyampaikan pemanfaatan energi alternatif menjadi salah satu solusi dalam menurunkkan emisi serta menjaga kelestarian lingkungan secara keberlanjutan. “Pengembangan ini sejalan dengan komitmen Sucofindo dukung implementasi energi bersih dan berperan aktif dalam transformasi energi nasional menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan,” jelas Budi Utomo. Dalam mendukung transformasi energi hijau tersebut, PT Sucofindo (Persero) terapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) pada setiap layanan jasa yang diberikan, di antaranya yaitu pada analisis risiko lingkungan, keselamatan konstruksi, hingga kepatuhan terhadap regulasi nasional dan internasional. “Pencapaian target keberlanjutan tidak bisa dilakukan secara individu, termasuk dalam transformasi energi hijau, dan memerlukan komitmen bersama untuk mewujudkannya,” kata Budi Utomo. Langkah konkret PT Sucofindo (Persero) tersebut, selaras dengan upaya PT Butonas Petrochemical Indonesia yang berfokus pada proses bisnis berwawasan lingkungan dan berkelanjutan, antara lain melalui kolaborasi pembangunan Methanol Project Development. “Kolaborasi ini menandai langkah maju dalam penyediaan bahan bakar alternatif yang lebih bersih di Indonesia, mendukung keamanan energi nasional, serta memperkuat kemandirian pasokan bahan baku industri kimia dan energi domestik,” terangnya. Ia menambahkan inisiatif hijau ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong penggunaan energi ramah lingkungan dan mengurangi ketergantungan pada impor methanol. Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Utama PT Butonas Petrochemical Indonesia, Ignatius Tallulembang menegaskan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam mempercepat pembangunan fasilitas produksi methanol sebesar 1 juta ton per tahun yang diharapkan akan beroperasi di awal tahun 2029 yang kedepannya akan menjadi salah satu pusat produksi terintegrasi di Indonesia. “Kolaborasi dan implementasi bersama dengan SUCOFINDO akan memastikan bahwa setiap proses operasional berjalan sesuai standar mutu dan regulasi yang berlaku,” timpal Ignatius Tallulembang. Dilanjutkannya, sinergi bersama SUCOFINDO akan menciptakan nilai tambah dari segi socio-economy di lingkungan sekitar area operasi, dengan tetap mengedepankan proses bisnis berwawasan lingkungan dan berkelanjutan, serta transparan dalam kepatuhan terhadap koridor hukum dan regulasi pemerintah. “Keseluruhan upaya tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi positif dalam menghantarkan Indonesia menuju swasembada energi, yang kami rangkum dalam prinsip OTOBOSOR (On Time, On Budget, On Specification, On Return)," sebut Ignatius Tallulembang. Untuk mendukung keberlanjutan lingkungan, PT Sucofindo (Persero) berperan aktif mendukung industri menerapkan bisnis hijau, yakni dengan menghadirkan layanan Green Generation, antara lain peran Sucofindo sebagai Lembaga Validasi dan Verifikasi untuk skema Gas Rumah Kaca dan Nilai Ekonomi Karbon, Inventarisasi Emisi Gas Rumah Kaca, layanan otomasi pemantauan dan pengelolaan lingkungan, serta layanan audit dan pengujian lingkungan.
LRT Jabodebek Dorong Mobilitas Rendah Emisi dengan 14,5 Juta Pengguna di Tengah Krisis Iklim
Jakarta, katakabar.com - Di tengah anomali curah hujan sejak Mei 2025 yang diperkirakan berlanjut hingga Oktober, kita diingatkan perubahan iklim sudah nyata memengaruhi kehidupan. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyebut curah hujan di atas normal terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, bahkan saat musim kemarau. Hujan deras ini adalah salah satu dampak perubahan iklim yang dipicu oleh emisi gas rumah kaca, terutama dari transportasi dan bahan bakar fosil. Mengurangi emisi dengan beralih ke transportasi publik rendah emisi menjadi langkah penting untuk memperlambat perubahan iklim dan mengurangi cuaca ekstrem. Fenomena ini menggarisbawahi pentingnya upaya bersama menekan emisi, di mana LRT Jabodebek hadir sebagai moda transportasi publik yang menawarkan solusi mobilitas ramah lingkungan untuk mobilitas sehari-hari. Menurut hasil kajian PT Ametis Institut tahun 2024, LRT Jabodebek hanya menghasilkan rata-rata 15 gram karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) per penumpang per kilometer. Perhitungan ini mengacu pada faktor emisi listrik Sistem Jawa-Madura-Bali (Jamali) tahun 2024 berdasarkan Statistik PLN 2023. Sebagai perbandingan, moda transportasi pribadi menghasilkan emisi yang jauh lebih tinggi:
Transportasi Rendah Emisi: 17,7 Juta Pelanggan KAI Kurangi Sekitar 420 Ribu Ton CO₂ dalam 4 Bulan
Jakarta, katakabar.com - PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus menegaskan fokus strategisnya sebagai penyedia transportasi publik rendah emisi. Berdasarkan data operasional, kereta api jarak jauh hanya menghasilkan 15,64 gram CO₂ per penumpang per kilometer, jauh lebih efisien dibandingkan mobil bensin yang menghasilkan 90–100 gram CO₂ per penumpang per kilometer, dengan asumsi dua orang per mobil. Artinya, kereta api 6 hingga 7 kali lebih rendah emisinya dibanding kendaraan pribadi. Pada konteks keberlanjutan, pilihan masyarakat untuk beralih ke kereta api memiliki dampak lingkungan yang signifikan. 17,7 Juta Pelanggan = 420 Ribu Ton Emisi CO₂ Lebih Sedikit. Selama Januari–April 2025, KAI mencatat 17.709.671 pelanggan. Jika seluruh perjalanan rata-rata sejauh 300 kilometer, maka jejak karbon via kereta api: 17,7 juta × 300 km × 15,64 gram = ±83.300 ton CO₂ Jika menggunakan mobil pribadi: 17,7 juta × 300 km × 95 gram = ±504.200 ton CO₂ Pengurangan emisi: lebih dari 420.000 ton CO₂ Setara penyerapan karbon oleh ±15 juta pohon dalam satu tahun Vice President Public Relations KAI, Anne Purba menyampaikan, peralihan ke moda berbasis rel bukan hanya mendukung efisiensi transportasi, tetapi juga bagian dari aksi nyata terhadap isu lingkungan. “Setiap pelanggan yang memilih naik kereta adalah bagian dari solusi. Ini bukan sekadar perjalanan, tapi kontribusi langsung untuk masa depan yang lebih bersih,” ujar Anne. Kinerja positif ini tak lepas dari meningkatnya kepercayaan publik terhadap layanan KAI. Volume pelanggan tumbuh 5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu: • 2025 (Jan–Apr): 17.709.671 pelanggan • 2024 (Jan–Apr): 16.796.376 pelanggan Rinciannya sebagai berikut: • KA Jarak Jauh Komersial: 11.324.717 pelanggan • KA Jarak Jauh PSO: 3.756.486 pelanggan • KA Lokal Komersial: 596.399 pelanggan • KA Lokal PSO: 2.032.069 pelanggan Untuk memperluas kesadaran publik, KAI menghadirkan fitur carbon footprint di aplikasi Access by KAI. Fitur ini menampilkan estimasi emisi CO₂ dari perjalanan yang dilakukan pelanggan dan memberikan pembanding dengan moda transportasi lain.
Taja Pelatihan PPPU Online, Energy Academy Pacu Kontrol Emisi Industri Berisiko Tinggi
Jakarta, katakabar.com - Sebagai bentuk kontribusi pengendalian pencemaran udara industri, Energy Academy kembali taja Pelatihan PPPU secara online. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi tenaga kerja dalam memantau dan mengendalikan emisi udara, khususnya pada sektor-sektor dengan risiko tinggi terhadap lingkungan. Penanggung Jawab Pengendalian Pencemaran Udara (PPPU) memegang peran penting identifikasi, menilai, dan mengendalikan potensi pencemaran udara dari kegiatan industri. Untuk itu, kehadiran Training PPPU sangat krusial, terutama dalam memastikan bahwa emisi yang dihasilkan telah sesuai dengan baku mutu dan regulasi pemerintah. Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman teoretis, tetapi juga keterampilan praktis dalam menjalankan tanggung jawab teknisnya di lapangan secara efektif. Diklat PPPU yang diselenggarakan oleh Energy Academy mengacu pada sejumlah regulasi penting, di antaranya UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, serta PP Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Regulasi-regulasi ini mengatur dengan ketat tanggung jawab industri dalam menjaga kualitas udara. Dengan mengikuti Pelatihan PPPU, peserta dibekali pemahaman mendalam terhadap aturan-aturan tersebut, sekaligus keterampilan teknis untuk memenuhi kewajiban perusahaan terhadap lingkungan. Peserta Training PPPU akan mempelajari berbagai unit kompetensi yang disusun secara terstruktur dan relevan dengan kebutuhan industri masa kini, seperti: Identifikasi dan karakteristik sumber pencemar udara Evaluasi tingkat pencemaran dari emisi Operasional alat pengendali pencemaran udara Rencana dan pelaksanaan pemantauan emisi Penerapan prinsip K3 dalam pengendalian pencemaran udara Metode penyampaian materi dilakukan secara daring dan interaktif, sehingga memungkinkan peserta dari berbagai wilayah untuk mengakses pelatihan ini tanpa batasan geografis.
Training Sertifikasi PPPU Energy Academy, Kunci Kendali Emisi Udara demi Industri Ramah Lingkungan
Jakarta, katakabar.com - Sebagai bentuk kontribusi terhadap pembangunan industri yang lebih berkelanjutan, Energy Academy sukses taja Training PPPU secara daring. Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi para profesional yang bertanggung jawab atas pengendalian emisi di lingkungan kerja industri. Meski dilakukan secara online, pelatihan PPPU terbukti tetap interaktif dan aplikatif. Melalui platform digital, peserta dapat mengikuti sesi pembelajaran, simulasi, serta diskusi dengan instruktur berpengalaman secara real-time. Diklat PPPU ini memberikan keleluasaan bagi peserta dari berbagai wilayah untuk tetap memperoleh materi berkualitas tanpa batasan geografis. Dalam pelaksanaannya, Sertifikasi PPPU ini mengacu pada peraturan pemerintah yang relevan seperti Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta PP Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Sertifikasi ini diberikan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), menjadikan program ini kredibel dan diakui secara nasional. Peserta Training PPPU dibekali dengan pemahaman teknis dan praktis, mulai dari identifikasi sumber emisi, penggunaan alat pengendali pencemaran, hingga pelaksanaan pemantauan berkala terhadap kualitas udara. Pelatihan PPPU juga mencakup penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam kegiatan operasional, yang sangat relevan dengan praktik industri saat ini. Antusiasme peserta terhadap Diklat PPPU menunjukkan tingginya kesadaran akan pentingnya pengendalian emisi. Diskusi yang dinamis, presentasi kelompok, dan studi kasus aktual memperkaya pengalaman belajar para peserta. Melalui Sertifikasi PPPU, Energy Academy berperan penting dalam membentuk tenaga profesional yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Hal ini menjadi bagian dari upaya mendorong terciptanya industri yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Keberhasilan pelaksanaan Pelatihan PPPU ini mempertegas peran Energy Academy sebagai institusi pelatihan terdepan di sektor lingkungan. Dengan pendekatan digital, materi yang relevan, serta dukungan instruktur bersertifikat, Training PPPU menjadi jawaban atas tantangan pencemaran udara di era industri modern.
Himpun Masukan, Lemhanas Tentukan Platform Perhitungan Emisi Sawit
Pekanbaru, katakabar.com - Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) taja Forum Group Discussion (FGD) guna "Tentukan Platform Perhitungan Emisi Gas Rumah Kaca Industri Kelapa Sawit Indonesia yang Terpercaya dan Diakui di Tingkat Nasional dan Internasional” di Pekanbaru, Riau, Rabu (9/10). FGD ini dipimpin Deputi Pengkajian Strategik Lemhannas RI, Reni Mayerni. Menurutnya, kegiatan ini penting karena industri minyak sawit di Indonesia berkontribusi besar pada ekonomi secara nasional. "Volume Crude Palm Oil (CPO) yang diekspor tahun 2023 totalnya 30,380 juta ton dengan senilai USD 25,070 milyar sesuai dengan data BPS," kata Reni lewat keterangan resmi di Pekanbaru, dilansir dari laman EMG, Rabu malam.
Siap-siap Masuki Perdagangan Karbon, SSMS Petakan Sumber dan Serapan Emisi
Jakarta, katakabar.com - Nationally Determined Contribution (NDC) 2016 atau Enhanced NDC 2022 dan pengendalian emisi Gas Rumah Kaca (GRK), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS) komitmen melakukan percepatan implementasi Nilai Ekonomi Karbon (NEK) untuk mendukung upaya pemerintah agar capai target. Chief Sustainability Officer SSMS, Henky Satrio W. menjelaskan, perkebunan kelapa sawit potensial berpartisipasi dalam perdagangan karbon melalui tiga skema, meliputi konservasi stok karbon, peningkatan karbon stok, dan penurunan emisi dalam produksi. "Perkebunan kelapa sawit yang dikelola secara berkelanjutan dan ramah lingkungan memiliki potensi menyimpan karbon dalam jumlah yang cukup besar yang dapat menyumbang pada penurunan emisi," ujarnya lewat pernyataan resmi SSMS, dilansir dari laman elaeis.co, pada Senin (11/12). Guna mewujudkan komitmen itu, SSMS mulai memetakan sumber emisi GRK dan menghitung potensi serapan karbon yang terjadi di lingkup operasional. SSMS kerja sama dengan konsultan eksternal PT Cedar Karyatama Lestarindo (CKL) melakukan perhitungan karbon di salah satu perkebunan kelapa Sawit SSMS Group, PT Mitra Mendawai Sejati. Metodologi penghitungan yang digunakan sesuai dengan ketentuan dari KLHK, yakni melalui pembuatan Dokumen Rencana Aksi Mitigasi (DRAM) dan mendaftarkan dalam paltform Sistem Registrasi Nasional (SRN) sebelum masuk dalam tahapan Validasi dan Verifikasi. Dijabarkan Henky, SSMS telah melakukan beberapa upaya meminimalkan emisi karbon diantaranya dari sektor energi dan limbah pabrik kelapa sawit. "Yakni pengoperasian Methane Capture dan Bio-CNG Plant dengan cara memanfaatkan limbah cair pabrik sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi tenaga listrik dan bahan bakar operasional," ulasnya. Dari sektor pertanian, sebutnya, pengurangan emisi melalui substitusi penggunaan pupuk anorganik menjadi pupuk organik. Semua limbah hasil pengolahan kelapa sawit 100 persen digunakan kembali seperti pemanfaatan limbah cair (POME) dan jangkos untuk meminimalisir penggunaan pupuk kimia (anorganik). Di sektor kehutanan dan tata guna lahan, kegiatan penghitungan karbon sebagai bagian dari Program Blue Carbon Initiative, solusi berbasis alam yang mengacu pada pengelolaan dan penggunaan alam yang berkelanjutan diantaranya perlindungan areal Nilai Konservasi Tinggi (HCV) dan pengelolaan areal konservasi orangutan di Pulau Salat. Di momen sama, Henky menerangkan hasil perhitungan serapan karbon dari lima sektor, PT Mitra Mendawai Sejati diperkiraan dapat menurunkan emisi sebesar 345 ribu ton CO2e per tahun. Saat ini, proses implementasi NEK sudah pada tahap validasi Dokumen Rancangan Aksi Mitigasi (DRAM). SSMS menargetkan pertengahan tahun depan dapat mengantongi Sertifikat Pengurangan Emisi GRK (SPE-GRK) untuk masuk dalam perdagangan karbon di Indonesia. “SSMS melihat peluang untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui perdagangan kabon," bebernya. Untuk itu, sambunya, SSMS siap dukung pemerintah mewujudkan perdagangan karbon di Indonesia. Apalagi ini sejalan dengan komitmen pengendalian emisi GRK menuju net zero emmision (NZE) serta ikut berkontribusi pada komitmen nasional terhadap NDC,” tandasnya.
Turunkan Emisi di Permukaan Bumi, Gubernur Kaltim: Sawit Hasilkan Oksigen
Kalimantan Timur, katakabar.com - Semua tanaman yang hijau mengandung klorofil, dan matahari berperan memproses fisiologi tanaman, pasti bakal menghasilkan, termasuk kelapa sawit. Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor menjelaskan, daerahnya telah berjasa besar dalam penurunan pengurangan emisi di permukaan dunia. Indonesia berbasis lahan peringkat ketiga memiliki lahan teluas di dunia setelah Brazil dan Kongo, rinciannya Brazil sekitar 5 juta kilometer persegi hutan tropis, Kongo kurang lebih 2 juta kilometer persegi hutan hujan tropis, dan Indonesia sekitar 1.8 juta kilometer persegi. Jika lahan terbakar tumbuh lagi, tidak ada satu wilayah atau sejengkal pun di Indonesia, saat lahan terbakar tidak dapat tumbuh lagi. "Tanaman-tanaman itu penghasil oksigen. Sepanjang tahun, tumbuhan itu hidup dan sepanjang tahun memproduksi," kata Isran dilansir dari laman elaeis.co ari saat membuka Seminar Nasional Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca dan Peluang Perdagangan Karbon di Indonesia digelar dari 14 hingga 15 Agustus 2023 di salah satu hotel, di Kota Balikpapan. Ditegaskannya, semua tanaman yang hijau mengandung klorofil, matahari berperan memproses fisiologi tanaman, pasti menghasilkan. "Termasuk sawit, cuma sawit ini homogen (monokultur) sifatnya yang tidak disukai Eropa, sebab katanya merusak hutan. Itu awal-awalnya,” ulasnya. Memang ujar Orang Nomor Satu di Kalimantan Timur ini, ada kesalahan pandangan. Pengelolaan kebun kelapa sawit dilakukan di kawasan areal penggunaan lainnya atau APL. Tapi, seringkali salah diterjemahkan kawasan APL disebut hutan, padahal tidak. Tanaman sawit, daunnya mengandung klorofil sehingga menghasilkan oksigen. Sekarang ini cara pengelolaan kawasan peralihan pengelolaan sawit. Kalau buka lahan segera tanam dengan penutup lahan yang cepat tumbuh. Tujuannya agar jangan sampai terjadi penguapan saat matahari sinari tanah, salah satu tanaman penutup lahan contohnya kurkuma. "Kelapa Sawit umur 30 tahun, dibandingkan dengan bunga matahari, setiap 6 bulan atau 7 bulan panen. Di mana panennya membabat habis permukaan tanah. Akibatnya, tanah setiap tahun terbuka. Ini bukan persoalan merusak hutan, ini persoalan persaingan saja," jelasnya. Menurutnya, minyak nabati bersumber dari kelapa sawit 10 kali lipat lebih banyak dibanding bunga matahari. Sebanyak 60 persen produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) ada di Indonesia termasuk di Kalimantan Timur. Sedang 20 persen CPO untuk bahan baku produk dalam negeri termasuk minyak goreng dan biodiesel. "Total 35 juta diekspor ke Eropa, dan sekitar 8 persen dari 35 juta, sebanyak 200 hingga 250 ribu ton digunakan untuk keperluan bahan baku produksi dalam negeri. Begitu realitas yang saya tahu," sebutnya.