Etika

Sorotan terbaru dari Tag # Etika

Etika Jadi Kunci di Era AI, Legislator Senayan Ingatkan Masyarakat Jangan Asal Sebar Informasi Politik
Politik
13 jam yang lalu

Etika Jadi Kunci di Era AI, Legislator Senayan Ingatkan Masyarakat Jangan Asal Sebar Informasi

Jakarta, katakabar.com - Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) semakin memengaruhi berbagai aktivitas masyarakat. Di tengah kemudahan dan peningkatan produktivitas yang ditawarkan teknologi tersebut, masyarakat juga dihadapkan pada risiko penyalahgunaan apabila AI digunakan tanpa memperhatikan etika dan tanggung jawab. Anggota Komisi I DPR RI, Syahrul Aidi Maazat mengibaratkan teknologi sebagai pisau bermata dua. Menurutnya, teknologi dapat memberikan manfaat apabila dimanfaatkan secara tepat, tetapi berpotensi menimbulkan dampak negatif ketika disalahgunakan. Demikian kata Syahrul saat menjadi pembicara dalam Forum Diskusi Publik yang digelar Bakti Komdigi bersama Komisi I DPR RI angkat tema “Etika Digital di Era AI: Cerdas Berteknologi, Bijak Berinformasi”, di penghujung Agustus 2026 lalu. Dijelaskan Syahrul, teknologi digital saat ini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Berbagai aktivitas, mulai dari komunikasi, pendidikan, pekerjaan hingga memperoleh informasi, semakin banyak dilakukan melalui platform digital. Itu sebabnya, kemajuan teknologi dinilai perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai etika, tanggung jawab, serta kemampuan berpikir kritis. “Teknologi itu ibarat pisau bermata dua. Pisau bisa digunakan untuk membantu pekerjaan dan memberikan manfaat, tetapi kalau digunakan dengan cara yang salah, bisa mencelakai. Begitu juga teknologi, termasuk AI. Semua tergantung bagaimana manusia menggunakannya,” ujar Syahrul. AI Buka Peluang, tetapi Juga Mengandung Risiko AI memiliki banyak manfaat bagi masyarakat. Teknologi tersebut dapat membantu mengolah informasi, meningkatkan produktivitas, mendukung proses pendidikan, hingga mempermudah berbagai pekerjaan. Tetapi, ucap Syahrul, kemudahan dalam memproduksi dan menyebarkan konten juga membuka ruang bagi penyalahgunaan. AI dapat dimanfaatkan untuk membuat informasi palsu, memanipulasi konten, menghasilkan materi yang menyesatkan, hingga menciptakan konten yang berpotensi merugikan pihak lain. Ia menilai kemampuan menggunakan teknologi harus berjalan beriringan dengan kecerdasan moral. “Jangan sampai kita hanya menjadi pintar menggunakan teknologi, tetapi tidak pintar dalam mempertimbangkan dampaknya. Kita harus memiliki etika. Apa yang kita buat, apa yang kita sebarkan, harus dipikirkan apakah memberikan manfaat atau justru merugikan orang lain,” ulasnya. DPR RI Ingatkan Masyarakat Tak Asal Sebar Informasi Syahrul juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai atau menyebarkan setiap informasi yang ditemukan di ruang digital. Perkembangan AI membuat produksi konten menjadi semakin mudah. Kondisi tersebut juga memungkinkan munculnya konten yang terlihat meyakinkan, tetapi belum tentu sesuai dengan fakta. Lantaran itu, masyarakat didorong membangun kebiasaan melakukan verifikasi sebelum membagikan informasi kepada orang lain. “Di era digital ini, jari kita bisa lebih cepat daripada pikiran kita. Begitu informasi kita sebarkan, dampaknya bisa ke mana-mana. Karena itu, sebelum membagikan sesuatu, pastikan dulu kebenarannya dan pikirkan dampaknya,” pesannya. Ia menegaskan, ruang digital merupakan ruang publik yang perlu dijaga bersama. Kebebasan berekspresi, menurutnya, tetap harus disertai tanggung jawab serta memperhatikan aturan dan kepentingan orang lain. Syahrul berharap literasi digital tidak hanya berorientasi pada kemampuan menggunakan perangkat dan aplikasi, tetapi juga membentuk karakter pengguna teknologi yang kritis, bertanggung jawab dan beretika. “Tujuan akhirnya adalah bagaimana teknologi benar-benar menjadi alat untuk mencerdaskan masyarakat, bukan sebaliknya membuat masyarakat mudah dipengaruhi, mudah terprovokasi dan mudah menyebarkan informasi yang belum tentu benar,” tegasnya. Pakar Dorong Penggunaan AI yang Bertanggung Jawab Pakar Ade Rahmatullah, S.Fil.I., M.M., mengatakan kehadiran AI telah mengubah pola masyarakat dalam memperoleh, memproduksi dan menyebarkan informasi. Menurutnya, perubahan tersebut membutuhkan kemampuan baru agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami konsekuensi dari setiap aktivitas yang dilakukan di ruang digital. Kemudahan menghasilkan konten dengan bantuan AI, kata Ade, harus diikuti tanggung jawab untuk memastikan konten yang dibuat tidak melanggar etika, merugikan orang lain maupun menyebarkan informasi yang menyesatkan. Sementara, akademisi Wamdi, S.Pd., M.H., menilai pendidikan mengenai etika digital perlu diperkuat sejak dini, khususnya kepada generasi muda yang menjadi salah satu kelompok aktif dalam penggunaan teknologi dan media sosial. Disebutkan Wamdi, kemampuan literasi digital harus dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis. Hal tersebut penting agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam hoaks, manipulasi digital, penipuan maupun berbagai bentuk penyalahgunaan teknologi AI. Dorong Ruang Digital yang Sehat Forum Diskusi Publik tersebut menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk memahami perkembangan teknologi sekaligus berbagai tantangan yang menyertainya. Melalui tema “Etika Digital di Era AI: Cerdas Berteknologi, Bijak Berinformasi”, Bakti Komdigi bersama Komisi I DPR RI mendorong masyarakat untuk meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi sekaligus memperkuat kesadaran mengenai etika dan tanggung jawab dalam berinformasi. Dengan literasi digital yang kuat dan kemampuan berpikir kritis, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan perkembangan AI secara bijak serta turut menjaga ruang digital agar tetap sehat, aman dan memberikan manfaat bagi publik.

Menjaga Marwah Melayu di Tengah Globalisasi, Adat Jadi Benteng Etika Sosial dan Politik di Tanah Jantan Opini
Opini
Minggu, 04 Januari 2026 | 18:17 WIB

Menjaga Marwah Melayu di Tengah Globalisasi, Adat Jadi Benteng Etika Sosial dan Politik di Tanah Jantan

Oleh: Humas LAMR Kepulauan Meranti, Ucok Alexander Kepulauan Meranti, katakabar.com - Di tengah derasnya arus globalisasi yang kerap menggerus identitas budaya lokal, masyarakat Melayu di 'Tanah Jantan' sebutan lain dari Kabupaten Kepulauan Meranti tetap menjadikan adat istiadat sebagai benteng utama menjaga marwah dan jati diri. Bagi masyarakat setempat, adat bukan sekadar simbol seremonial, melainkan pedoman hidup yang mengatur etika sosial, tata pergaulan, hingga nilai-nilai politik. Falsafah hidup Melayu yang berbunyi “Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah” masih dipegang kuat hingga kini. Prinsip tersebut menempatkan adat pada kedudukan tertinggi dalam kehidupan bermasyarakat, sekaligus menjadi fondasi moral dalam setiap aspek kehidupan. Tokoh-tokoh adat menilai, ketika adat mulai diabaikan, sendi-sendi kehidupan masyarakat akan rapuh. Politik kehilangan etika, hubungan sosial menjadi renggang, dan generasi muda berpotensi tercerabut dari akar budayanya sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Melayu Kepulauan Meranti dikenal menjunjung tinggi nilai sopan santun, musyawarah, dan kebersamaan. Hal ini tercermin dalam pepatah Melayu, “Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,” yang menggambarkan semangat solidaritas dan gotong royong. Nilai-nilai adat tersebut juga menjadi rujukan dalam etika kepemimpinan. Dalam budaya Melayu, seorang pemimpin tidak dinilai dari jabatan semata, melainkan dari budi pekerti dan moralitasnya. Pepatah “Tinggi tampuk kerana sirih, tinggi adat kerana budi” menegaskan jabatan adalah amanah, sementara akhlak menjadi dasar kehormatan kepemimpinan. Selain itu, adat Melayu berperan sebagai filter terhadap pengaruh luar. Globalisasi dipandang sebagai keniscayaan, tetapi adat berfungsi sebagai penuntun agar modernisasi tidak mengikis nilai-nilai kemanusiaan. Masyarakat Melayu meyakini menjaga adat bukan berarti menolak kemajuan, melainkan memastikan pembangunan tetap berkeadilan dan memuliakan manusia. Dengan berlandaskan adat, pembangunan dan politik diharapkan tidak semata mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Prinsip adat diyakini mampu mencegah praktik politik yang hanya menguntungkan kelompok tertentu. Ungkapan Melayu yang sangat dikenal, “Biar mati anak, jangan mati adat,” kembali mengingatkan pentingnya menjaga warisan leluhur. Hilangnya adat dianggap sama dengan hilangnya jati diri, yang pada akhirnya membuat masyarakat kehilangan arah dalam menghadapi perubahan zaman. Tantangan ke depan adalah menanamkan kembali nilai-nilai adat kepada generasi muda Meranti. Pendidikan tidak hanya dituntut mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berakar kuat pada kecerdasan budaya. Dengan demikian, adat istiadat tetap tegak, etika sosial tetap hidup, dan marwah Melayu terus terjaga di tengah gelombang globalisasi.