FLOQ

Sorotan terbaru dari Tag # FLOQ

Bitcoin Diprediksi Ungguli Saham dan Emas, Ini Alasan CEO FLOQ Internasional
Internasional
Sabtu, 31 Oktober 2026 | 08:49 WIB

Bitcoin Diprediksi Ungguli Saham dan Emas, Ini Alasan CEO FLOQ

Jakarta, katakabar.com - Bitcoin (BTC) diproyeksikan memberikan imbal hasil tahunan sebesar 10% dalam 10 tahun ke depan, melampaui saham Amerika Serikat (AS) dan emas. Proyeksi tersebut tercantum dalam laporan 2027 Long-Term Capital Market Assumptions yang dirilis JPMorgan Asset Management pada Oktober 2026.

Sinergi FLOQ dan Telkomsel Jajaki Perluasan Akses Aset Digital Teknologi
Teknologi
Selasa, 27 Oktober 2026 | 13:09 WIB

Sinergi FLOQ dan Telkomsel Jajaki Perluasan Akses Aset Digital

Jakarta, katakabar.com - FLOQ dan Telkomsel menjalin kolaborasi strategis melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) untuk menjajaki potensi integrasi layanan aset digital FLOQ ke dalam ekosistem seluruh aplikasi yang dikembangkan Telkomsel untuk pelanggan.

Mengenal KOL Watchlist FLOQ, Cara Cerdas Pantau Pergerakan Aset Kripto Ekonomi
Ekonomi
Minggu, 11 Oktober 2026 | 12:12 WIB

Mengenal KOL Watchlist FLOQ, Cara Cerdas Pantau Pergerakan Aset Kripto

Jakarta, katakabsr com - Platform perdagangan aset keuangan digital FLOQ meluncurkan fitur KOL Watchlist yang memungkinkan pengguna melihat aset kripto yang sedang dipantau sejumlah key opinion leader (KOL) di industri kripto. Fitur tersebut ditujukan sebagai sarana informasi dan edukasi bagi pengguna, khususnya investor pemula. FLOQ menegaskan bahwa daftar aset dalam watchlist bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset tertentu.

Bitcoin Turun ke US$84.000, FLOQ: Pasar Masih Sensitif Pada Suku Bunga Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 26 September 2026 | 14:09 WIB

Bitcoin Turun ke US$84.000, FLOQ: Pasar Masih Sensitif Pada Suku Bunga

Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan pada perdagangan di pekan keempat September 2026. BTC turun sekitar 2 persen, dan bergerak di kisaran US$84.000 setelah sebelumnya gagal menembus level US$87.000. Koreksi terjadi ketika imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun melonjak hingga 5,11 persen, level tertinggi sejak 2007.  Kenaikan yield obligasi AS menjadi salah satu perhatian utama pasar karena dapat meningkatkan daya tarik aset berpendapatan tetap sekaligus memperketat kondisi likuiditas bagi aset berisiko, termasuk aset kripto. Laporan data pasar terbaru yang FLOQ rangkum menunjukkan, BTC sempat menyentuh sekitar US$84.425 setelah mengalami penurunan 2,06 perse  dalam sehari. Di sisi teknikal, area US$83.520 menjadi salah satu level support yang diperhatikan pasar. Jika tekanan jual berlanjut dan level tersebut ditembus, BTC berpotensi menguji area US$81.000.  Yield Treasury Jadi Perhatian Pasar Lonjakan yield US Treasury terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan ekspektasi kebijakan moneter AS. Data pasar menunjukkan yield US Treasury 10 tahun naik sekitar 15 basis poin dalam 24 jam hingga mencapai 5,11 persen.  Kondisi tersebut membuat investor kembali memperhatikan hubungan antara kebijakan suku bunga, imbal hasil obligasi, dan aset berisiko. Ketika yield meningkat, sebagian investor dapat memilih instrumen berpendapatan tetap dengan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi sehingga tekanan terhadap aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto dapat meningkat. Menurut CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai pergerakan Bitcoin saat ini perlu dilihat dalam konteks makroekonomi yang lebih luas, bukan hanya dari pergerakan harga BTC. “Koreksi Bitcoin ke area US$84.000 menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan pergerakan yield Treasury. Ketika yield 10 tahun menembus 5 persen, investor kembali melakukan penyesuaian terhadap tingkat risiko dan imbal hasil di berbagai kelas aset,” jelas Yudho. Kata Yudho, kenaikan yield tidak serta-merta mengubah fundamental Bitcoin dalam jangka panjang. Namun, dalam jangka pendek, kondisi tersebut dapat meningkatkan volatilitas karena investor melakukan rebalancing portofolio. “Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya apakah Bitcoin turun hari ini, tetapi bagaimana pasar merespons setelah tekanan makro tersebut mereda. Selama permintaan struktural terhadap Bitcoin tetap ada, koreksi dapat menjadi bagian dari proses price discovery. Karena itu, investor perlu membedakan antara tekanan jangka pendek akibat kondisi makro dan perubahan fundamental aset,”lanjutnya. Arus ETF Bitcoin Masih Menunjukkan Permintaan Institusional Di tengah koreksi harga, minat terhadap produk investasi Bitcoin berbasis spot ETF di Amerika Serikat masih terlihat kuat. Pada 21 September 2026, ETF Bitcoin spot AS mencatat arus dana masuk bersih sekitar US$998,95 juta, menjadi salah satu arus masuk harian terbesar sejak Oktober 2025. BlackRock IBIT mencatat inflow sekitar US$381,37 juta, disusul ARKB sekitar US$289,12 juta dan FBTC sekitar US$238,84 juta.  Data tersebut menunjukkan bahwa koreksi harga belum sepenuhnya diikuti oleh pelemahan permintaan institusional. Bahkan, arus masuk ETF Bitcoin pada September masih mencatat nilai positif secara keseluruhan.  Bagi Yudho, kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam membaca arah pasar berikutnya. “Arus masuk ETF yang tetap besar menunjukkan bahwa di balik volatilitas harga, masih terdapat permintaan dari investor dengan horizon yang lebih panjang. Jadi, pasar saat ini menghadapi dua kekuatan sekaligus: tekanan jangka pendek dari kenaikan yield dan permintaan struktural yang masih terlihat dari produk ETF,” ulasnya. Level US$83.500 Jadi Perhatian Berikutnya Dari sisi teknikal, area US$87.000 masih menjadi resistance penting setelah BTC gagal mempertahankan momentum kenaikannya. Sementara itu, level sekitar US$83.500 menjadi area support yang perlu diperhatikan. Penembusan support tersebut dapat membuka ruang koreksi lebih lanjut menuju US$81.000.  Yudho menambahkan, volatilitas Bitcoin kemungkinan masih tinggi selama pasar global merespons perkembangan yield, inflasi, kebijakan bank sentral, dan kondisi geopolitik. “Untuk beberapa waktu ke depan, volatilitas kemungkinan masih menjadi bagian dari pasar. Investor sebaiknya tidak hanya terpaku pada satu level harga, tetapi juga memperhatikan likuiditas, arus ETF, kebijakan moneter, serta perkembangan ekonomi global sebagai satu kesatuan,” sebutnya.

FLOQ Listing PONS dari Robinhood Chain, Kenali Fungsi dan Ekosistemnya Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 23 September 2026 | 07:31 WIB

FLOQ Listing PONS dari Robinhood Chain, Kenali Fungsi dan Ekosistemnya

Jakarta, katakabar.com - FLOQ memperluas pilihan aset kripto yang tersedia di platform dengan mencantumkan PONS, aset kripto yang menjadi bagian dari ekosistem Pons di Robinhood Chain. Pencantuman PONS di FLOQ memberikan pengguna akses terhadap aset tersebut melalui platform yang telah menyediakan dukungan terhadap jaringan Robinhood Chain. Sebelumnya, FLOQ juga telah menyiapkan dukungan Robinhood Chain untuk kebutuhan deposit dan withdrawal aset tertentu. PONS merupakan token yang berkaitan dengan Pons, sebuah token launchpad yang dibangun di atas Robinhood Chain. Berdasarkan dokumentasi proyek, Pons memungkinkan pengguna membuat dan memperdagangkan token langsung dari wallet tanpa Pons menyimpan dana pengguna. Setiap transaksi dilakukan melalui wallet pengguna. Robinhood Chain sendiri merupakan jaringan Layer 2 berbasis Ethereum yang dikembangkan menggunakan teknologi Arbitrum. Jaringan tersebut dirancang sebagai lingkungan permissionless untuk pengembangan berbagai aplikasi onchain, termasuk layanan keuangan dan aset yang merepresentasikan aset dunia nyata. PONS dan Ekosistem Robinhood Chain Dalam ekosistemnya, Pons berfungsi sebagai platform untuk meluncurkan dan memperdagangkan token di Robinhood Chain. Dokumentasi Pons menyebutkan bahwa setiap token yang diluncurkan memiliki pasokan tetap dan diperdagangkan melalui liquidity pool berbasis WETH. Model tersebut membuat aktivitas Pons berkaitan erat dengan perkembangan aktivitas onchain di Robinhood Chain. Dalam beberapa pekan terakhir, PONS juga mendapat perhatian pasar seiring meningkatnya aktivitas pada jaringan tersebut. Sejumlah laporan mencatat PONS mengalami kenaikan harga yang signifikan pada awal September 2026. Token tersebut juga telah tersedia di sejumlah platform perdagangan, termasuk Gate, BloFin, serta HTX. Pada awal September, PONS juga tercatat mencapai titik tertinggi sepanjang masa di sekitar US$0,75. Pergerakan tersebut terjadi di tengah meningkatnya aktivitas dan perhatian terhadap ekosistem Robinhood Chain. Tetapi, pergerakan harga tersebut tidak secara otomatis menggambarkan fundamental maupun prospek aset pada masa mendatang. Harga aset kripto dapat berubah dengan cepat, terutama pada aset dengan likuiditas dan kapitalisasi pasar yang masih berkembang.kripto Menurut CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, pencantuman PONS bagian dari upaya FLOQ menyediakan akses terhadap perkembangan ekosistem aset digital yang terus bertambah, dengan tetap mengedepankan pemahaman pengguna terhadap aset dan risikonya. “Listing PONS di FLOQ kami lihat sebagai bagian dari perkembangan ekosistem Robinhood Chain yang semakin mendapatkan perhatian. Bagi pengguna, yang penting bukan hanya mengetahui bahwa sebuah aset sudah tersedia, tetapi juga memahami fungsi aset, jaringan yang digunakan, serta risiko yang melekat pada pergerakan harganya,” ujar Yudho. Kata Yudho, pertumbuhan ekosistem onchain juga perlu diikuti dengan peningkatan literasi pengguna. Akses yang semakin mudah terhadap suatu aset perlu disertai pemahaman mengenai cara kerja blockchain, likuiditas, volatilitas, serta risiko transaksi. “Kami ingin akses terhadap aset digital berjalan beriringan dengan edukasi. Pencantuman suatu aset di platform bukan merupakan penilaian bahwa aset tersebut akan naik atau turun, dan bukan pula ajakan untuk melakukan transaksi. Pengguna tetap perlu melakukan riset dan mengambil keputusan sesuai profil risikonya masing-masing,” lanjutnya. Perkembangan Robinhood Chain Robinhood Chain menjadi salah satu jaringan blockchain baru yang mendapatkan perhatian pada 2026. Jaringan ini dikembangkan sebagai Layer 2 Ethereum dan menggunakan ETH sebagai aset untuk biaya transaksi. FLOQ sebelumnya telah mengumumkan dukungan terhadap Robinhood Chain untuk deposit dan withdrawal aset tertentu. Integrasi tersebut ditujukan untuk menyederhanakan akses pengguna Indonesia terhadap aktivitas onchain, sekaligus tetap menekankan pentingnya memastikan kesesuaian aset, jaringan, dan alamat wallet sebelum melakukan transaksi. Sementara, perkembangan Pons menunjukkan bagaimana jaringan baru dapat melahirkan berbagai aplikasi dan aktivitas ekonomi onchain. Pons sendiri menyatakan bahwa token yang diluncurkan melalui platformnya bersifat eksperimental dan dapat mengalami volatilitas tinggi maupun likuiditas yang terbatas. Hadirkan aset PONS, FLOQ memberikan pilihan tambahan bagi pengguna yang ingin memantau perkembangan aset dan ekosistem Robinhood Chain melalui platformnya. Namun, keputusan untuk melakukan transaksi tetap menjadi tanggung jawab masing-masing pengguna setelah mempertimbangkan informasi dan profil risiko yang dimiliki.

Sinergi Ondo Finance dan FLOQ Hadirkan Akses Tokenisasi Saham dan ETF AS di Indonesia Nasional
Nasional
Sabtu, 12 September 2026 | 12:45 WIB

Sinergi Ondo Finance dan FLOQ Hadirkan Akses Tokenisasi Saham dan ETF AS di Indonesia

Jakarta, katakabar.com - Akses investor Indonesia terhadap saham dan exchange-traded fund (ETF) Amerika Serikat (AS) berpotensi semakin luas melalui teknologi blockchain. Ini seiring Ondo Finance dan platform aset digital FLOQ menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk menjajaki penyediaan tokenisasi saham dan ETF AS bagi masyarakat di Indonesia. MoU tersebut ditandatangani dalam ajang Indonesia Blockchain Week (IDBW) 2026 di Jakarta, setelah diskusi panel mengenai perkembangan tokenisasi saham dan ETF AS serta masa depan akses pasar global. Kesepakatan ini menjadi langkah awal bagi kedua perusahaan untuk mengevaluasi potensi integrasi produk, distribusi lokal, edukasi pengguna, serta kesiapan teknis sebelum produk tokenisasi pasar modal dapat tersedia melalui FLOQ. Ondo Finance Bawa Lebih dari 430 Saham dan ETF ke Blockchain Ondo Finance saat ini menawarkan lebih dari 430 tokenisasi saham dan ETF melalui Ondo Stocks. Produk tersebut memungkinkan investor yang memenuhi syarat di luar AS memperoleh eksposur ekonomi secara onchain terhadap berbagai saham dan ETF yang diperdagangkan di pasar AS. Sejumlah aset yang masuk dalam pembahasan kerja sama antara lain saham perusahaan besar seperti Nvidia, Apple, Amazon, Alphabet, Meta, dan Tesla. ETF seperti SPDR S&P 500 ETF Trust (SPY) dan Invesco QQQ juga termasuk aset yang sedang dipertimbangkan. Meski demikian, belum ada aset atau produk tertentu yang dikonfirmasi akan diluncurkan melalui FLOQ di Indonesia. Ondo Stocks dirancang untuk memberikan eksposur ekonomi terhadap saham dan ETF yang mendasarinya. Aset pendukung tersebut disimpan melalui broker-dealer yang terdaftar di AS. Kolaborasi dengan FLOQ menjadi langkah bagi Ondo Finance untuk menjajaki bagaimana infrastruktur tokenisasi sekuritas tersebut dapat menjangkau pengguna di salah satu pasar aset digital terbesar di Asia Tenggara. FLOQ dan Ondo Jajaki Akses Pasar Global Kerja sama ini berlangsung ketika ekosistem aset digital Indonesia terus berkembang. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah akun konsumen aset keuangan digital di Indonesia mencapai 22,93 juta akun pada Juli 2026, meningkat 1,03 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Pada periode yang sama, nilai transaksi aset kripto tercatat sebesar Rp20,52 triliun. Angka tersebut turun 28,20 persen secara bulanan dari Rp28,58 triliun pada Juni 2026. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan perkembangan ekosistem aset digital Indonesia tidak hanya berkaitan dengan penambahan jumlah aset, tetapi juga bagaimana pengguna dapat memperoleh akses terhadap perkembangan pasar keuangan global. “Indonesia telah memiliki ekosistem aset digital yang besar. Kami percaya bahwa tahap berikutnya bukan sekadar menambahkan lebih banyak aset, melainkan menjajaki bagaimana produk keuangan global dan infrastruktur pasar baru dapat diakses oleh masyarakat Indonesia,” jelas Yudho. Menurut Yudho, Ondo Finance telah membangun kapabilitas dalam membawa sekuritas tradisional ke infrastruktur onchain. Sementara itu, FLOQ memiliki distribusi lokal serta pemahaman terhadap karakteristik pasar Indonesia. Senior Director for Asia Pacific Ondo Finance, Rania Rahardja, menimpali Indonesia merupakan pasar penting bagi perkembangan tokenisasi sekuritas karena memiliki komunitas aset digital yang besar dan aktif. “Di Ondo, kami membangun infrastruktur untuk membawa saham dan ETF secara onchain. FLOQ memberi kami mitra lokal yang kuat untuk menjajaki bagaimana aset pasar tokenisasi dapat menjangkau masyarakat di Indonesia secara bertanggung jawab,” ujar Rania. Selain menjajaki integrasi produk, FLOQ dan Ondo Finance juga akan mengevaluasi potensi program edukasi bagi komunitas. Materi tersebut dapat mencakup cara kerja tokenisasi saham dan ETF, hubungan antara token dengan aset yang mendasarinya, mekanisme penerbitan dan penebusan, serta risiko yang perlu dipahami pengguna. Dengan kolaborasi ini, kedua perusahaan menjajaki kemungkinan menghubungkan ekosistem aset digital Indonesia dengan pasar publik global melalui teknologi blockchain. Bagi FLOQ, langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses pengguna Indonesia terhadap perkembangan produk keuangan global. Sementara bagi Ondo Finance, kerja sama tersebut membuka peluang untuk memperluas jangkauan infrastruktur tokenisasi ke pasar Indonesia.

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 11:04 WIB

Institusi Makin Dominan, CEO FLOQ: Retail Tetap Motor Pasar Kripto

Bali, katakabar.com - Pertumbuhan keterlibatan investor institusi diperkirakan bakal mengubah struktur pasar aset kripto pada siklus berikutnya. Namun, besarnya modal institusional tidak serta-merta menghilangkan peran investor retail yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama aktivitas dan adopsi aset digital. CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai institusi dan retail justru akan memainkan dua fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi. Modal institusional berpotensi memperkuat fondasi dan kedalaman pasar, sementara investor retail memberikan kecepatan sekaligus memperluas partisipasi. “Institusi akan memainkan peran yang semakin signifikan dalam siklus berikutnya. Mereka akan membantu membentuk price floor dan memberikan kedalaman pada pasar. Namun, jika kita ingin membawa kripto menjadi kelas aset yang jauh lebih besar, partisipasi retail tetap dibutuhkan. Institusi bisa membangun fondasinya, tetapi retail yang akan memberikan velocity pada pasar,” kata Yudho. Pandangan tersebut disampaikan Yudho dalam panel bertajuk “Is the Bull Market Dead, or Just Resting?” pada CoinFest Asia 2026 di Bali, 21 Agustus 2026. Panel tersebut membahas kondisi pasar serta bagaimana perubahan struktur industri dapat membentuk siklus aset digital berikutnya. Dalam panel tersebut, Yudho berbagi panggung bersama CEO dan Co-Founder Nansen Alexander Svanevik, Co-Founder Yellow Alexis Sirkia, serta Founder Polyburg Andreas Tobing, dengan Felita Setiawan sebagai moderator. Perspektif Yudho dalam diskusi berfokus pada bagaimana perkembangan pasar global dapat diterjemahkan menjadi strategi yang lebih relevan bagi investor, mulai dari pemula hingga profesional. Indonesia Tunjukkan Kekuatan Retail Menurut Yudho, Indonesia menjadi salah satu contoh bagaimana besarnya basis investor retail dapat menciptakan dinamika pasar yang berbeda dibandingkan negara dengan industri keuangan digital yang lebih matang. “Banyak orang mulai menyerah pada retail, bahkan bagi pelaku industri mungkin lebih mudah untuk hanya berfokus pada institusi. Namun kenyataannya, retail masih merupakan pasar yang sangat besar. Di pasar yang relatif muda seperti Indonesia, masuknya investor retail dalam jumlah besar dapat menjadi salah satu motor utama pertumbuhan berikutnya,” ucapnya. Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperlihatkan besarnya basis tersebut. Hingga Juni 2026, jumlah akun konsumen pedagang aset keuangan digital di Indonesia mencapai 22,69 juta, naik 1,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang sebanyak 22,40 juta akun. Aktivitas transaksinya juga menguat. Nilai transaksi aset kripto di Indonesia mencapai Rp28,58 triliun sepanjang Juni 2026, meningkat 24,20 persen dibandingkan Mei 2026 sebesar Rp23,01 triliun. Perkembangan tersebut menunjukkan meski harga aset kripto mengalami berbagai fase naik dan turun, basis pengguna domestik masih terus bertumbuh. Bagi Yudho, kondisi itu penting karena siklus pasar berikutnya kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal yang masuk, tetapi juga seberapa luas teknologi dan aset digital digunakan masyarakat. Institusi Mulai Kembali Masuk Di tingkat global, sinyal kembalinya modal institusi juga mulai terlihat. Survei CoinShares terhadap investor yang mengelola sekitar US$1,16 triliun aset menunjukkan alokasi aset digital dalam portofolio meningkat menjadi 1,2 persen pada survei Juli 2026. Kenaikan tersebut merupakan yang pertama sejak aksi jual pada Oktober 2025 dan, menurut CoinShares, sepenuhnya didorong oleh peningkatan alokasi investor institusi. Arus modal produk investasi aset digital juga kembali menguat. CoinShares mencatat produk investasi aset digital memperoleh sekitar US$2,2 miliar dalam sepekan hingga 20 Agustus 2026, menjadi arus masuk mingguan terbesar sepanjang tahun berjalan. Dari jumlah tersebut, sekitar US$1,6 miliar mengalir ke produk berbasis Bitcoin. Kondisi ini menguatkan pandangan bahwa institusi semakin menjadi bagian permanen dari struktur pasar kripto, bukan sekadar peserta yang masuk saat harga meningkat. Tetapi, Yudho mengingatkan bahwa institusionalisasi pasar bukan berarti siklus berikutnya akan sepenuhnya menjadi permainan investor besar. “Saya melihat institusi akan semakin kuat dalam menentukan fondasi pasar, tetapi gelombang berikutnya tetap membutuhkan kelompok investor kelas menengah atas dan investor retail. Mereka yang nantinya memperluas partisipasi dan membawa pasar ke skala berikutnya,” jelasnya. Siklus Berikutnya Bisa Berbeda Yudho juga menilai perdebatan mengenai apakah pasar saat ini masih berada dalam fase bull market atau telah memasuki bear market bukan satu-satunya pertanyaan yang relevan. Struktur pasar aset digital kini semakin kompleks. Bitcoin tidak lagi hanya dipengaruhi pola halving dan aktivitas perdagangan retail. Likuiditas global, ETF, derivatif, stablecoin, neraca perusahaan hingga aktivitas onchain kini ikut mempengaruhi pembentukan harga. Karena itu, siklus berikutnya berpotensi memiliki karakter berbeda dengan siklus kripto sebelumnya. Yudho menekankan pentingnya melihat positioning, manajemen risiko, konsistensi investasi dan adopsi struktural ketimbang mencoba menebak secara tepat titik tertinggi maupun terendah pasar. Perubahan juga terlihat dari cara investor retail memperoleh eksposur terhadap aset digital. Investor baru ke depan tidak harus selalu memulai perjalanan dari Bitcoin atau aset kripto spekulatif. Stablecoin, saham yang ditokenisasi hingga berbagai produk keuangan berbasis blockchain membuka pintu masuk baru menuju ekonomi onchain. “Gelombang berikutnya tidak hanya soal membawa lebih banyak orang masuk ke kripto. Kita juga bisa melihat semakin banyak bagian dari sistem keuangan yang masuk ke onchain,” tutur Yudho. Pandangan tersebut sejalan dengan berkembangnya tokenisasi aset tradisional. Tokenized stocks dan ETF disebut sebagai bagian dari evolusi portofolio digital, sehingga diversifikasi ke depan tidak lagi hanya berarti memiliki Bitcoin, Ether dan sejumlah altcoin, tetapi dapat mencakup stablecoin, aset pasar modal yang ditokenisasi serta instrumen lindung nilai bagi investor yang lebih berpengalaman. Yudho menilai perkembangan tersebut dapat memperbesar pasar potensial aset digital sekaligus menjembatani dunia keuangan tradisional dengan infrastruktur blockchain. “Bagian paling menarik dari tokenisasi adalah ketika suatu hari investor tidak lagi harus memilih apakah dirinya investor TradFi atau investor kripto. Infrastruktur digital memungkinkan berbagai kelas aset berada dalam satu portofolio,” terangnya. Meski optimistis terhadap perkembangan tersebut, Yudho menekankan bertambahnya pilihan produk harus berjalan beriringan dengan peningkatan literasi dan kedewasaan investor. Bagi investor baru, disiplin, pengelolaan risiko dan kemampuan bertahan melalui berbagai kondisi pasar dinilai lebih penting daripada mengejar momentum harga jangka pendek. Pada akhirnya, kata CEO FLOQ, institusi mungkin akan memberikan fondasi yang semakin kuat bagi pasar aset digital. Namun, skala ekonomi kripto selanjutnya tetap sangat bergantung pada apakah produk tersebut mampu menjangkau jutaan investor baru dan menjadi bagian dari aktivitas keuangan mereka. “Institusi akan membangun lantainya. Tetapi retail yang akan memberikan kecepatan pada pasar," tambahnya.