Prospek Pasar Nikel Global Naik 21,39% hingga 2031: Fokus Hilirisasi Produk Akhir Nasional
Nasional
Kamis, 22 Oktober 2026 | 09:01 WIB

Prospek Pasar Nikel Global Naik 21,39% hingga 2031: Fokus Hilirisasi Produk Akhir

Jakarta, katakabar.com - Prospek pasar nikel dunia yang terus menanjak menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengakselerasi industri pengolahan dalam negeri. Shanghai Metals Market (SMM) memproyeksikan permintaan nikel global naik 21,39 persen, dari 3.717 kiloton (Kt Ni) pada 2026 menjadi 4.512 Kt Ni pada 2031. Sektor baterai dan baja nirkarat (stainless steel) menjadi pendorong utamanya.

Resmikan Kantor Baru, OSL Indonesia Dukung Komitmen Kepatuhan Standar Global Nasional
Nasional
Rabu, 30 September 2026 | 11:05 WIB

Resmikan Kantor Baru, OSL Indonesia Dukung Komitmen Kepatuhan Standar Global

Jakarta, 28 September 2026 - OSL Indonesia, perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang berizin resmi dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), resmikan kantor barunya. Tandakan komitmen jangka panjang pada pertumbuhan dan pemberdayaan industri aset keuangan digital di Indonesia berbasis standar kepatuhan global.

BRICS 2026: Perkuat Suara Global South dari New Delhi Internasional
Internasional
Kamis, 17 September 2026 | 09:47 WIB

BRICS 2026: Perkuat Suara Global South dari New Delhi

New Delhi, katakabar.com - Negara-negara BRICS perkuat komitmen untuk membangun kerja sama yang lebih tangguh, inklusif, dan berorientasi pada pembangunan melalui Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke 18 di New Delhi, India. Pertemuan yang berlangsung dari 12 hingga 13 September 2026 tersebut menghasilkan Deklarasi New Delhi, yang menjadi arah bersama negara-negara BRICS dalam memperkuat kerja sama politik dan keamanan, ekonomi dan keuangan, serta hubungan antar masyarakat. KTT tahun ini digelar di bawah kepemimpinan India usung tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability.” Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto turut hadir dalam KTT tersebut sebagai salah satu pemimpin negara anggota BRICS. Di pertemuan itu, Prabowo menekankan kekuatan kolektif BRICS dapat digunakan untuk perkuat ketahanan global sekaligus memberikan manfaat yang lebih besar bagi negara-negara berkembang. “BRICS mewakili setengah dari seluruh umat manusia dan bagian yang besar dari perekonomian global serta perdagangan global. BRICS menyatukan pasar-pasar terbesar di dunia dan para produsen energi utama. Hal ini memberikan kita kekuatan kolektif yang sangat besar,” jelas Prabowo. BRICS dan Perubahan Tatanan Global BRICS telah berkembang jauh dari kelompok ekonomi yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, dan China. Setelah Afrika Selatan bergabung, kelompok tersebut kemudian mengalami ekspansi dan kini mencakup negara-negara seperti Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Perluasan tersebut membuat BRICS memiliki cakupan kepentingan yang semakin beragam. Forum ini tidak lagi hanya berbicara mengenai perdagangan dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menyentuh isu teknologi, energi, pangan, perubahan iklim, pendidikan, kesehatan, hingga reformasi tata kelola global. Deklarasi New Delhi menegaskan kembali komitmen BRICS terhadap multilateralisme dan sistem internasional yang lebih representatif. Negara-negara anggota juga menyerukan partisipasi yang lebih bermakna bagi negara-negara berkembang dan emerging markets dalam proses pengambilan keputusan global. Global South Harus Ikut Membentuk Aturan Sebagai Ketua BRICS 2026, India mendorong agar BRICS menjadi salah satu wadah untuk memperkuat suara negara-negara berkembang. Dalam sesi KTT mengenai tata kelola global dan penguatan multilateralisme, Perdana Menteri India Narendra Modi menyoroti ketimpangan antara besarnya dampak yang dirasakan Global South dan keterwakilannya dalam pengambilan keputusan dunia. “Global South berada di barisan terdepan dalam menghadapi krisis global, tetapi berada di barisan belakang dalam pengambilan keputusan,” ucap Modi. Modi menyerukan agar negara-negara Global South tidak hanya menjadi rule-taker, tetapi berkembang menjadi rule-shaper dalam tata kelola global. BRICS, menurutnya, dapat menjadi platform untuk memperkuat kapasitas negara-negara berkembang. Pandangan tersebut sejalan dengan Deklarasi New Delhi yang menekankan pentingnya memperluas partisipasi dan representasi negara-negara berkembang dalam institusi internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ekonomi dan Ketahanan Menjadi Fondasi Deklarasi New Delhi menekankan pentingnya rantai pasok yang lebih tangguh serta peningkatan kapasitas produksi negara berkembang agar dapat masuk ke segmen manufaktur dan produksi bernilai tambah lebih tinggi. Kerja sama tersebut juga mencakup transfer teknologi, peningkatan kapasitas industri, fasilitasi perdagangan, dan investasi. BRICS juga melanjutkan pembahasan mengenai sistem pembayaran lintas batas dan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan serta investasi antaranggota, dengan tetap mempertimbangkan prioritas nasional masing-masing negara. Prabowo menilai kekuatan kolektif BRICS dapat menjadi modal untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi serta menciptakan peluang pembangunan bagi negara-negara berkembang. Dari Teknologi hingga Riset BRICS juga memberikan perhatian besar terhadap perkembangan sains, teknologi, dan inovasi. Deklarasi New Delhi menempatkan kerjasama Science, Technology and Innovation (STI) sebagai salah satu penggerak pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. Negara-negara anggota mendukung kerja kelompok-kelompok kerja STI serta pengembangan BRICS Science and Research Repository sebagai platform berbagi pengetahuan dan hasil penelitian. Melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia menawarkan pemanfaatan infrastruktur dan fasilitas riset unggulan kepada periset, perguruan tinggi, industri, dan peneliti dari negara-negara anggota BRICS. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat mobilitas peneliti dan mendorong lahirnya kolaborasi riset yang lebih konkret. Pendidikan Menjadi Investasi Jangka Panjang Selain ekonomi dan teknologi, pendidikan menjadi bagian penting dari upaya BRICS membangun sumber daya manusia. Deklarasi New Delhi mendorong peningkatan kualitas dan aksesibilitas pendidikan, program pertukaran dan beasiswa pada tingkat sarjana maupun pascasarjana, termasuk dalam bidang Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM). BRICS Network University menjadi salah satu mekanisme yang didukung untuk memperkuat kerjasama akademik dan penelitian antarnegara. Jaringan tersebut mendorong program bersama, mobilitas akademik, serta pertukaran pengetahuan lintas disiplin. Menariknya, agenda pendidikan BRICS juga mencakup tahap paling awal dalam perkembangan manusia. Deklarasi mendorong pertukaran praktik terbaik dalam Early Childhood Care and Education (ECCE) serta Foundational Literacy and Numeracy (FLN). Penggunaan teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan (AI), dalam pendidikan juga didorong dengan prinsip aman, etis, dan berpusat pada manusia. Indonesia Memperkuat Posisi di BRICS Bagi Indonesia, KTT BRICS 2026 menjadi salah satu momentum penting setelah Indonesia bergabung sebagai anggota penuh. Kehadiran Presiden RI di New Delhi menunjukkan upaya Indonesia untuk mengambil peran aktif dalam forum yang semakin berpengaruh terhadap pembahasan ekonomi dan tata kelola global. Pemerintah Indonesia menempatkan keanggotaan BRICS sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama multilateral dan membangun kemitraan strategis dengan negara-negara berkembang. Indonesia memiliki kepentingan untuk memastikan keanggotaannya menghasilkan kerja sama konkret, mulai dari perdagangan dan investasi hingga pangan, energi, teknologi, riset, dan pengembangan sumber daya manusia. Dengan pasar yang luas dan sumber daya yang dimiliki negara-negara BRICS, Indonesia memiliki peluang untuk memperluas kerja sama ekonomi sekaligus membangun kapasitas nasional melalui pertukaran teknologi, pengetahuan, dan sumber daya manusia. Deklarasi New Delhi dan Tantangan ke Depan Deklarasi New Delhi menjadi salah satu hasil utama KTT BRICS 2026. Dokumen tersebut mencakup agenda yang luas, mulai dari reformasi tata kelola global dan kerja sama ekonomi hingga teknologi, pendidikan, perubahan iklim, kesehatan, dan hubungan antar masyarakat. Dengan anggota yang memiliki sistem politik, struktur ekonomi, serta kepentingan nasional yang berbeda, konsensus menjadi faktor penting dalam menjaga efektivitas kerja sama. Karena itu, keberhasilan BRICS tidak hanya akan diukur dari banyaknya deklarasi yang dihasilkan, tetapi dari sejauh mana kesepakatan tersebut dapat diterapkan melalui program, investasi, pertukaran pengetahuan, dan kerja sama lintas negara. Dari Suara Menjadi Aksi Dua dekade setelah pembentukannya, BRICS kini memasuki fase yang berbeda. Ekspansi keanggotaan telah memperluas cakupan kelompok tersebut, sementara agenda kerja sama semakin masuk ke berbagai aspek yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. India, melalui kepemimpinannya pada 2026, mendorong BRICS untuk memperkuat ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan. Indonesia, sebagai anggota penuh, memiliki kesempatan untuk ikut membentuk agenda tersebut sekaligus memastikan kepentingan negara berkembang tetap mendapat tempat dalam pembahasan global. Bagi negara-negara Global South, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa peningkatan suara juga diikuti dengan peningkatan pengaruh. Prabowo melihat kekuatan tersebut sebagai sesuatu yang harus diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. “Ketahanan kita harus memberikan manfaat bagi rakyat kita dan untuk memberikan manfaat bagi rakyat kita, kita harus mampu mengubah kerentanan kita menjadi peluang. Kelemahan kita menjadi kekuatan,”sebut Prabowo dalam KTT BRICS. Menurut Prabowo, BRICS memiliki kesempatan untuk menyatukan sumber daya, kapasitas produktif, kemampuan teknologi, dan pasar yang dimiliki negara-negara anggotanya untuk menghasilkan perubahan yang nyata bagi dunia. Pandangan tersebut bertemu dengan pesan yang disampaikan Modi dalam menutup sesi mengenai tata kelola global. Bagi India, masa depan BRICS bukan sekadar tentang seberapa besar suara yang dimiliki kelompok tersebut, tetapi bagaimana suara itu diterjemahkan menjadi pengaruh dan kemitraan yang lebih setara. “Jika masa depan kita adalah milik bersama, maka hak untuk membentuk masa depan itu pun harus menjadi milik bersama. From voice to impact. From privilege to partnership," tegas Presiden RI ke 8. Pesan tersebut menjadi salah satu gagasan utama India dalam kepemimpinan BRICS 2026: mengubah suara menjadi dampak dan privilese menjadi kemitraan.

Di Tengah Tren Emas Global, Bittime Perkenalkan Investasi Kripto Berbasis Emas Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 08 September 2026 | 08:30 WIB

Di Tengah Tren Emas Global, Bittime Perkenalkan Investasi Kripto Berbasis Emas

Jakarta, katakabar.com - Emas kembali menjadi salah satu aset yang banyak diperhatikan di pasar global sepanjang 2026. Laporan Gold Demand Trends Q2 2026 dari World Gold Council mencatat permintaan emas pada paruh pertama tahun ini mencapai 2.522 ton dengan nilai rekor US$380 miliar. Di tengah tren tersebut, teknologi blockchain juga menghadirkan aset kripto yang memberikan eksposur terhadap harga emas, salah satunya Tether Gold ($XAUT). Sebagai aset kripto berbasis blockchain yang nilainya merujuk pada emas fisik, $XAUT memiliki karakteristik yang berbeda dari kepemilikan emas fisik.  Sejalan dengan perkembangan tersebut, Bittime menghadirkan program Bonus $XAUT hingga Rp1.500.000 untuk Investasi Pertama di Bittime yang berlangsung pada 1 hingga 30 September 2026. Melalui program ini, pengguna dapat memulai investasi dari Rp10.000 sekaligus mengenal $XAUT sebagai salah satu pilihan aset kripto dengan eksposur terhadap emas.  “Investasi pertama sering kali menjadi langkah yang sulit karena banyak orang merasa harus menunggu sampai memiliki modal besar atau pengetahuan yang sempurna. Melalui campaign ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk mulai mengambil langkah pertama dan mengenal berbagai pilihan aset yang tersedia untuk membangun portofolio,” ujar Ryan Lymn, COO Bittime. Melalui program tersebut, pengguna baru yang melakukan transaksi pertama di Bittime dengan nilai di atas Rp250.000 dapat memperoleh bonus $XAUT senilai Rp25.000. Selain itu, pengguna dapat memperoleh bonus tambahan berdasarkan total volume trading yang dicapai dalam periode akumulasi, mulai dari Rp50.000 hingga Rp1 juta dalam bentuk $XAUT. Dengan demikian, total bonus yang tersedia dapat mencapai Rp1,5 juta. Program ini terdiri dari lima kategori, yakni Entry, Bronze, Silver, Gold, dan Black, yang ditentukan berdasarkan total volume trading selama 14 hari setelah transaksi pertama. Setelah periode tersebut, pengguna yang memenuhi ketentuan juga perlu mempertahankan aset kripto yang dibeli selama tujuh hari. Kehadiran $XAUT dalam program ini menambah pilihan aset yang dapat diakses melalui ekosistem aset kripto. Sebagai aset kripto yang nilainya merujuk pada emas fisik, $XAUT memiliki karakteristik yang berbeda dari kepemilikan emas fisik. Karena itu, pengguna perlu memahami karakteristik dan risiko aset sebelum melakukan transaksi. Pergerakan harga $XAUT juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang memengaruhi pasar emas, seperti suku bunga, nilai dolar AS, inflasi, dan kondisi geopolitik. Di tengah dinamika pasar, pemahaman terhadap setiap aset dan diversifikasi tetap menjadi bagian penting dalam mengambil keputusan investasi. “Setiap aset memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda. Karena itu, kami mendorong pengguna untuk terus meningkatkan pemahaman sebelum berinvestasi dan menentukan pilihan yang sesuai dengan tujuan serta profil risikonya,” tambah Ryan. Informasi lengkap mengenai program Bonus $XAUT hingga Rp1.500.000 untuk Investasi Pertama di Bittime, termasuk mekanisme dan syarat serta ketentuannya, dapat dilihat melalui halaman resmi program Bittime.

Dorong Promosi Global, Kebun Rancabali PTPN I Jadi Sorotan Media Amerika Serikat Nusantara
Nusantara
Minggu, 09 Agustus 2026 | 15:10 WIB

Dorong Promosi Global, Kebun Rancabali PTPN I Jadi Sorotan Media Amerika Serikat

Bandung, katakabar.com - Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN I Regional 2 kembali mendapat perhatian internasional melalui peliputan khusus oleh media asal Amerika Serikat, Lost In Space Media. Kebun Rancabali di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menjadi lokasi pengambilan gambar untuk proyek dokumenter bertajuk The Tea Trail yang mengangkat perjalanan teh Indonesia dari perkebunan hingga menjadi sajian yang dikenal di berbagai belahan dunia. Peliputan dilakukan langsung oleh pendiri Lost In Space Media, Connor Space, bersama timnya. Mereka mendokumentasikan berbagai aktivitas di Kebun Rancabali, mulai dari proses pemetikan pucuk teh, pengolahan di pabrik, hingga kisah para pekerja yang menjaga tradisi pengelolaan teh secara turun-temurun. Connor Space mengatakan, Kebun Rancabali dipilih karena memiliki kombinasi nilai yang kuat, mulai dari lanskap alam yang indah, kualitas teh yang dihasilkan, hingga sejarah panjang perjalanan komoditas teh di Indonesia. “Rancabali memiliki cerita yang sangat istimewa. Tempat ini bukan hanya menawarkan pemandangan alam yang luar biasa, tetapi juga menghasilkan teh dengan kualitas yang baik dan memiliki hubungan erat dengan sejarah masuk serta berkembangnya teh di Indonesia. Kami ingin membawa cerita ini kepada masyarakat dunia bahwa di balik secangkir teh terdapat perjalanan panjang manusia, alam, dan budaya,” ujar Connor Space. Menurutnya, The Tea Trail merupakan perjalanan untuk memahami bagaimana teh menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. Dokumenter tersebut ingin menggambarkan bahwa sebuah produk yang terlihat sederhana memiliki nilai sejarah, keterampilan, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. “Kami melihat teh bukan hanya sebagai minuman, tetapi sebagai bagian dari peradaban. Dari lapangan pemetikan hingga proses pengolahan, ada cerita tentang dedikasi manusia, hubungan dengan lingkungan, dan tradisi yang mampu bertahan melewati perubahan zaman,” ucapnya. Dalam kunjungannya, tim Lost In Space Media juga mengeksplorasi kawasan wisata yang berada di lingkungan PTPN I Regional 2. Keindahan alam perkebunan Rancabali menjadi salah satu daya tarik yang memperlihatkan bahwa kawasan perkebunan memiliki fungsi lebih luas, tidak hanya sebagai pusat produksi, tetapi juga sebagai ruang edukasi, konservasi, dan wisata berbasis alam. Connor Space menjelaskan, Lost In Space Media hadir untuk menggali kembali nilai-nilai dari tempat dan praktik yang telah bertahan selama berabad-abad. Di tengah perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan otomatisasi, pihaknya melihat masih banyak pelajaran berharga dari kearifan manusia dan tradisi yang terus dijaga. “Kami percaya masa depan tidak harus meninggalkan masa lalu. Justru dari warisan dan praktik yang telah bertahan lama, kita dapat menemukan inspirasi mengenai keberlanjutan, ketangguhan, dan keseimbangan hidup,” tambahnya. Lost In Space Media merupakan kolektif para petualang dan penutur cerita yang mengangkat berbagai kisah dunia melalui film, fotografi, tulisan, dan percakapan. Karya-karya mereka berfokus pada pertemuan antara tradisi dan teknologi, keahlian manusia dan inovasi, serta warisan budaya dengan masa depan. Bagi PTPN I, peliputan internasional tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi perkebunan Indonesia kepada dunia. Kebun Rancabali tidak hanya menjadi penghasil teh berkualitas, tetapi juga merepresentasikan sejarah panjang perkebunan nasional yang memiliki nilai ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan. PTPN I terus mendorong transformasi perkebunan melalui peningkatan produktivitas, penguatan keberlanjutan, serta pengembangan potensi kawasan agroindustri dan agrowisata. Dengan pendekatan tersebut, perkebunan Indonesia diharapkan mampu terus menghadirkan nilai tambah sekaligus memperkuat posisi komoditas nasional di tingkat global.

Holding PTPN Perkuat Kolaborasi Global, PT RPN Terima Kunjungan Duke Corporate Education Nasional
Nasional
Sabtu, 08 Agustus 2026 | 13:03 WIB

Holding PTPN Perkuat Kolaborasi Global, PT RPN Terima Kunjungan Duke Corporate Education

Bogor, katakabar.com - PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), entitas dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), menerima kunjungan delegasi Duke Corporate Education (Duke CE) dalam rangka company visit yang bertujuan memperkuat kolaborasi di bidang pengembangan kepemimpinan, inovasi, serta implementasi praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) pada sektor perkebunan. Kunjungan ini menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan transformasi yang tengah dilakukan PTPN Group melalui RPN, khususnya dalam pengembangan riset, inovasi, digitalisasi, dan praktik bisnis berkelanjutan yang mendukung daya saing industri perkebunan di tingkat global. Delegasi Duke CE disambut oleh jajaran manajemen PT RPN dan mengikuti berbagai sesi, mulai dari pemaparan profil perusahaan, demonstrasi teknologi digital seperti Chat OPA, e-Hara, dan NusaGIS, hingga diskusi interaktif mengenai tantangan dan peluang industri perkebunan masa depan. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke Unit Bogor Getas serta Kebun Percobaan Kopyor Ciomas untuk melihat secara langsung aktivitas riset dan inovasi yang dikembangkan RPN. SEVP Riset, Inovasi & Sustainability PT RPN, Dr. Misnawi, menegaskan industri perkebunan menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan dinamis seiring dengan pertumbuhan pasar global bisnis sektor perkebunan yang senantiasa berubah. “Perkebunan semakin berkembang dan semakin besar. Tantangan yang kita hadapi pun semakin besar. Karena itu, sinergi dan kolaborasi menjadi kunci. Pertemuan antara Duke Corporate Education, PT RPN, dan PTPN Group merupakan kesempatan berharga untuk mempererat kerja sama dalam membangun industri perkebunan yang lebih maju, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga memperluas jejaring dan dampaknya di tingkat global,” kata Misnawi. Managing Director for Middle East & APAC Duke Corporate Education, Mr. Dennis Foo, menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari PTPN Group dan PT RPN. “Terima kasih kepada PTPN Group dan seluruh panitia yang telah menerima kami hari ini. Berbagi wawasan mengenai ESG menjadi sangat penting karena keberlanjutan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Kita membutuhkan ESG hari ini, besok, dan di masa depan sebagai fondasi bagi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” ujar Dennis. Kunjungan ini menjadi langkah awal dalam membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara dunia industri dan institusi pendidikan global. Pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta praktik terbaik diharapkan mampu memperkuat kapasitas sumber daya manusia, mempercepat inovasi, dan mendorong transformasi sektor perkebunan menuju industri yang lebih modern, berdaya saing, dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi lintas negara dan lintas sektor ini, PT Riset Perkebunan Nusantara sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi yang memberikan nilai tambah bagi industri perkebunan Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain penting dalam ekosistem perkebunan berkelanjutan di tingkat dunia.

Holding PTPN Perkuat Kolaborasi Global, PT RPN Gelar IRRDB Socio-Economic Seminar 2026 Internasional
Internasional
Selasa, 04 Agustus 2026 | 11:39 WIB

Holding PTPN Perkuat Kolaborasi Global, PT RPN Gelar IRRDB Socio-Economic Seminar 2026

Bali, katakabar.com - PT Riset Perkebunan Nusantara melalui Pusat Penelitian Karet, entitas dari Holding Perkebunan Nusantara, bekerja sama dengan International Rubber Research and Development Board (IRRDB) gelar IRRDB Socio-Economic Seminar 2026 pada 30 Juni hingga 2 Juli 2026 di Hotel Aryaduta, Kuta, Bali. Usung tema "Strengthening Economic Resilience and Value Addition in the Global Natural Rubber Supply Chain", seminar ini menjadi forum internasional yang mempertemukan para peneliti, pembuat kebijakan, pelaku industri, akademisi, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk membahas tantangan serta peluang dalam pengembangan industri karet alam global. Seminar ini dihadiri sejumlah tamu yang mewakili pemerintah, asosiasi industri, dan organisasi internasional, di antaranya Wakil Sekretaris Jenderal IRRDB, Dr. Wan Abdul Rahaman, Direktur Hasil Hutan dan Industri Perkebunan Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian RI, Direktur Sabah Rubber Industry Board (Malaysia), Ketua International Rubber Consortium (IRCo), Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO), dan Ketua Asosiasi Produsen Ban Indonesia (APBI). Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut semakin menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dan lintas negara dalam mendorong kemajuan industri karet alam yang berdaya saing dan berkelanjutan. Seminar dibuka dengan sambutan dari Direktur PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN), Dr. Iman Yani Harahap, yang menyoroti berbagai tantangan global yang saat ini memengaruhi industri karet, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga meningkatnya biaya produksi. Dr. Iman Yani Harahap menyampaikan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah telah memberikan dampak nyata terhadap pasar energi dunia, yang berujung pada kenaikan harga minyak serta meningkatnya biaya produksi di berbagai sektor. "Sebagai produsen karet alam terbesar kedua di dunia, Indonesia menghadapi tantangan berupa meningkatnya biaya logistik, transportasi, serta harga pupuk yang semakin membebani sektor perkebunan karet. Melalui seminar ini, kami berharap lahir berbagai gagasan, rekomendasi, dan solusi praktis untuk menjawab tantangan sosial ekonomi yang terus berkembang dalam industri karet global," ujar Dr. Iman Yani Harahap. Seminar ini diikuti lebih dari 80 peserta yang berasal dari negara Jepang, Malaysia, Thailand, India, Singapura, Sri Lanka, Vietnam dan Indonesia. Peserta berasal dari berbagai kalangan, termasuk lembaga penelitian, perusahaan perkebunan dan industri karet, asosiasi petani, organisasi internasional, lembaga pembangunan, perguruan tinggi, serta instansi pemerintah dan perbankan. Kehadiran beragam institusi tersebut mencerminkan kuatnya sinergi kolaborasi lintas negara dan lintas sektor dalam mendukung pengembangan industri karet alam yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan berdaya saing. Selama tiga hari pelaksanaan seminar, peserta mengikuti pemaparan materi utama, sesi teknis, diskusi ilmiah, dan berbagi pengalaman yang menghadirkan para pakar dari negara-negara anggota IRRDB, organisasi internasional, akademisi, serta pelaku industri karet. Melalui penyelenggaraan seminar ini, IRRDB bersama PT Riset Perkebunan Nusantara berharap dapat memperkuat sinergi internasional dalam merumuskan strategi yang mampu meningkatkan ketahanan ekonomi, keberlanjutan, nilai tambah, serta daya saing industri karet alam di tingkat global.