Hidupkan

Sorotan terbaru dari Tag # Hidupkan

IPD Jadikan Layar Desa Sebagai Metode, Hidupkan Desa dan Ajak Perencana Lebih Pahami Desa Nasional
Nasional
Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:45 WIB

IPD Jadikan Layar Desa Sebagai Metode, Hidupkan Desa dan Ajak Perencana Lebih Pahami Desa

Maros, katakabar.com - Akses warga desa untuk menikmati film masih terbatas. Padahal, film dapat menjadi media pembelajaran, hiburan, dan pendukung pembangunan. Sering kali alam dan budaya desa menjadi objek dalam film, tetapi masyarakat di desa tidak pernah menikmati film tersebut karena terbatasnya akses terhadap bioskop dan kendala biaya. Hal tersebut mendorong Ikatan Perencana Desa (IPD) Indonesia untuk menggelar pemutaran film gratis bertajuk “Layar Desa di Taman Purbakala Geopark” di Dusun Pajjaiang, Desa Tukamasea, Kabupaten Maros (22/8) lalu. Kegiatan Layar Desa tersebut memutar film nasional berjudul “Silariang: Cinta yang (tak) Direstui” karya Ichwan Persada. “Kami sengaja memilih film ini. Film Silariang dibuat di kawasan karst Maros, tetapi, sayangnya, hampir semua masyarakat di sekitar karst ini justru tidak pernah menonton film ini,” kata Fitrawan Umar, Ketua Ikatan Perencana Desa (IPD) Indonesia. Fitrawan Umar juga peneliti BRIN, menambahkan tujuan berikutnya dari kegiatan Layar Desa adalah untuk menghidupkan ekosistem seni dan budaya di desa serta meningkatkan keberdayaan masyarakat dan komunitas pemuda. “Selain itu, Ikatan Perencana Desa (IPD) mendorong perencana dan peneliti desa untuk mampu lebih memahami desa, terlibat dalam aktivitas desa, dan mampu menangkap aspirasi warga desa. Melalui pemutaran film atau festival, perencana dan peneliti dapat berinteraksi langsung dengan warga desa. Festival layar desa adalah suatu metode,” jelasnya. Selain pemutaran film, ucap Umar, kegiatan Layar Desa dimeriahkan dengan pagelaran seni tari dari kelompok seni Dusun Pajjaiang, festival jajanan lokal yang dibuat oleh ibu-ibu desa, dan penyerahan hadiah lomba Agustusan Dusun Pajjaiang. "Kegiatan ini juga disertai dengan penyerahan simbolis kerja sama antara Ikatan Perencana Desa (IPD), Ikatan Pemuda Pajjaiang, dan Kepala Desa Tukamasea. Ikatan Perencana Desa ingin menjadikan Desa Tukamasea sebagai Desa Binaan dan Laboratorium Sosial Desa, serta menggandeng Ikatan Pemuda Pajjaiang sebagai Sister Community atau mitra komunitas," terangnya. Kepala Desa Tukamasea, H Makmur sangat mengapresiasi kegiatan Layar Desa ini. “Kami berterima kasih kepada Ikatan Perencana Desa yang telah memilih Desa Tukamasea sebagai lokasi acara pemutaran film ini. Kegiatan ini dapat membawa hal positif bagi masyarakat desa,” tuturnya saat membuka acara secara resmi. Kegiatan Layar Desa seolah menjadi penghibur warga desa yang mayoritas adalah petani, yang saat ini memasuki musim paceklik. Lokasi kegiatan bahkan memanfaatkan sawah warga yang sedang mengering. Ketua Ikatan Pemuda Pajjaiang, Basri, turut menyampaikan rasa terima kasihnya karena telah diajak berkolaborasi oleh Ikatan Perencana Desa (IPD). “Semoga kami tetap dapat terus bersinergi dengan IPD. Kegiatan pemutaran film seperti ini dapat menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan warga desa, khususnya pemuda-pemudi di desa,” timpalnya. Layar Desa dihadiri oleh sekitar seratus warga Desa Tukamasea dan sekitarnya, serta komunitas pemuda dan Karang Taruna. Turut hadir Ahmad Dahlan (Wakil Ketua IPD), Agung Kappi (Kotata’), Fauzan Khabir (Pascasarjana PWK Unhas), Ibe S Palogai (Antologi Manusia), Nurfitrah (Forum Lingkar Pena), dan mahasiswa-mahasiswa KKN Berdampak UNM. Hadir langsung juga produser dan sutradara Ichwan Persada dari Jakarta, associate producer film Silariang, Irfan Syam, dan pemeran Akbar di film Silariang, Fhail Firmansyah. “Kami sangat mendukung acara pemutaran film seperti ini. Selamat untuk Ikatan Perencana Desa (IPD) Indonesia. Semoga berikutnya kita dapat berkolaborasi lagi dan memperbanyak kegiatan-kegiatan sejenis di tempat lain,” ulas Ichwan Persada. Acara Layar Desa berlangsung meriah dan menyenangkan, terlihat dari wajah antusias dan ekspresi bahagia para pengunjung. Acara ditutup dengan foto bersama. Banyak penonton yang memanfaatkan kesempatan untuk berfoto langsung dengan aktor Fhail Firmansyah. Kegiatan Layar Desa didukung oleh Dana Indonesiana, LPDP, dan Kementerian Kebudayaan. Sebelum kegiatan puncak di Desa Tukamasea, Ikatan Perencana Desa (IPD) telah menggelar rangkaian pemutaran film di 5 titik di Makassar, Gowa, dan Maros. Ikatan Perencana Desa (IPD) Indonesia merupakan wadah bagi para profesional di bidang perencanaan desa seluruh Indonesia, didirikan atas inisiatif Dr. Fitrawan Umar, Dr. Amiruddin Akbar Fisu, Ahmad Dahlan, dan Abdul Qodir Jaelani. IPD Indonesia berdiri sejak deklarasi tanggal 24 Mei 2025 di Jakarta, bertujuan untuk mendukung terwujudnya desa-desa Indonesia yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan. Aktivitas Ikatan Perencana Desa dapat diikuti di Instagram @ipd_indonesia dan website www.ipd-indonesia.or.id.

Lewat PT RPN, Holding PTPN Hidupkan Kembali Kawasan Heritage P3GI Pusat Edukasi dan Ekonomi Nusantara
Nusantara
Minggu, 07 Juni 2026 | 11:07 WIB

Lewat PT RPN, Holding PTPN Hidupkan Kembali Kawasan Heritage P3GI Pusat Edukasi dan Ekonomi

Pasuruan, katakabar.com -  PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN), entitas dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), terus menghidupkan kembali kawasan bersejarah Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) sebagai pusat edukasi dan penggerak ekonomi berbasis heritage. Melalui penataan kawasan cagar budaya dan pengembangan museum gula, PT RPN mendorong pemanfaatan warisan sejarah tidak hanya sebagai objek pelestarian, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran publik dan sumber nilai tambah bagi masyarakat. Upaya tersebut diperkuat melalui kegiatan usung tema “Adaptif Bangunan Gedung Cagar Budaya untuk Mendukung Kesejahteraan Masyarakat” yang digelar melalui sinergi dan kolaborasi bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur di kompleks P3GI, Pasuruan. Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah daerah, akademisi, serta pegiat pelestarian budaya dalam membahas strategi pemanfaatan kawasan heritage secara berkelanjutan. Kepala P3GI, Aris Lukito, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari peran strategis PT RPN sebagai holding knowledge di sektor perkebunan. “Kami ingin P3GI tidak hanya menjadi pusat penelitian, tetapi juga tempat edukasi sejarah dan teknologi gula,” kata Aris. Sejak ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan pada 2020 dan meningkat menjadi cagar budaya tingkat provinsi pada 2021, kawasan P3GI terus dikembangkan secara bertahap. Sejak 2023, revitalisasi difokuskan pada penguatan fungsi edukasi melalui museum gula serta pengelolaan kawasan berbasis pelestarian. Pengakuan terhadap nilai historis dan intelektual P3GI juga semakin menguat, ditandai dengan arsip sejarahnya yang telah memperoleh pengakuan Memory of the World (MoW) tingkat provinsi dan tengah diajukan ke UNESCO. Pemerintah daerah turut mengapresiasi langkah tersebut. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan, Agus Budi Darmawan, menyebut P3GI sebagai model pemanfaatan cagar budaya yang produktif. “P3GI menjadi contoh bagaimana bangunan cagar budaya dapat dirawat dan dimanfaatkan untuk edukasi masyarakat serta generasi muda,” jelasnya. Kepala Bidang Cagar Budaya dan Sejarah Disbudpar Jawa Timur, Satria Devi Kurniawan, menegaskan keberhasilan pelestarian terletak pada kemampuannya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Cagar budaya bukan hanya tentang menjaga bangunan lama, tetapi bagaimana kawasan tersebut bisa hidup, bermanfaat, dan mendukung kesejahteraan masyarakat,” ucapnya. Melalui sinergi antara PT RPN, pemerintah, dan para pemangku kepentingan lainnya, kawasan P3GI diharapkan dapat menjadi model nasional dalam pengelolaan heritage yang adaptif, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus menghubungkan warisan masa lalu dengan kebutuhan masa depan.

Dubes India dan Presiden RI ke 5 Hidupkan Lagi Jejak Persahabatan Soekarno-Nehru Internasional
Internasional
Selasa, 02 Juni 2026 | 16:17 WIB

Dubes India dan Presiden RI ke 5 Hidupkan Lagi Jejak Persahabatan Soekarno-Nehru

Jakarta, katakabar.com - Hubungan panjang Indonesia dan India kembali mendapat sorotan ketika Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty mengunjungi Presiden ke 5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri di kediamannya di Menteng, Jakarta Pusat, di penghujung Mei 2026 lalu. Pertemuan itu tidak sekadar menjadi agenda diplomatik biasa, tetapi berubah menjadi ruang nostalgia yang menyingkap kembali akar historis hubungan kedua negara sejak era Presiden Soekarno dan Perdana Menteri pertama India, Jawaharlal Nehru. Dalam suasana hangat yang dipenuhi cerita masa lalu, Megawati dan Sandeep membahas bagaimana kedekatan personal antara dua tokoh pendiri bangsa tersebut menjadi fondasi hubungan Indonesia dan India hingga hari ini. Pembicaraan tidak hanya menyentuh sejarah, tetapi juga berkembang ke isu geopolitik, demokrasi, hingga tantangan global yang dihadapi kedua negara. Pertemuan itu memperlihatkan hubungan Indonesia dan India tidak dibangun semata oleh kepentingan diplomatik modern, melainkan berakar pada persahabatan ideologis yang telah terjalin sejak masa perjuangan kemerdekaan. Kenangan Megawati Bersama Nehru Megawati membuka percakapan dengan mengenang pengalaman pribadinya saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok di Beograd, Yugoslavia, pada 1 hingga 6 September 1961. Saat itu, Megawati masih berusia 14 tahun, tetapi telah ikut dalam delegasi Indonesia dan bertemu langsung dengan sejumlah tokoh besar dunia. Ia mengingat bagaimana dirinya duduk bersama para pendiri Gerakan Non-Blok, termasuk Jawaharlal Nehru. Momen tersebut menjadi salah satu pengalaman yang membekas dalam hidupnya. “Saya saat itu memakai kebaya,” kata Megawati sambil menunjukkan foto lama pertemuannya dengan Nehru. Megawati juga memperlihatkan sejumlah dokumentasi bersejarah lain, termasuk foto ketika Nehru berbincang dengan Presiden Soekarno di Istana Merdeka pada 8 Juni 1950. Di foto itu terlihat Guntur Soekarnoputra tengah bermain sepeda sambil membonceng Megawati kecil. Cerita-cerita tersebut menggambarkan bagaimana hubungan Indonesia dan India kala itu bukan hanya berlangsung di tingkat kenegaraan, tetapi juga terasa dekat secara personal di antara keluarga para pemimpin. Selain mengenang Nehru, Megawati turut menyinggung kedekatannya dengan Bijayananda “Biju” Patnaik, tokoh kemerdekaan India sekaligus pilot legendaris yang dikenal memiliki hubungan erat dengan Indonesia pada masa perjuangan. Fondasi Diplomasi dari Dua Bapak Bangsa Duta Besar India Sandeep Chakravorty menilai hubungan yang dibangun Soekarno dan Nehru telah menjadi warisan diplomatik penting bagi kedua negara. Menurutnya, kedekatan dua tokoh tersebut masih terasa dalam hubungan bilateral Indonesia dan India hingga saat ini. “Hubungan baik kedua negara sampai saat ini terjalin dan dibangun oleh kedua Bapak Bangsa, Presiden Soekarno dan PM Nehru,” ujar Sandeep. Ia juga mengungkapkan jejak sejarah keluarga Soekarno masih mendapat tempat khusus di India. Saat berkunjung ke Museum Nehru di New Delhi, Sandeep mengaku melihat foto Megawati bersama Soekarno dipajang di sana. “Saya juga melihat foto Ibu Megawati dan Soekarno dipajang di Museum Nehru di New Delhi,” ucapnya. Sandeep sendiri bukan sosok baru bagi Megawati. Ia mengaku pernah bertemu Megawati di Korea Utara pada 2011 dan kembali berjumpa saat Gala Dinner KTT G20 di Bali pada 2022. Pertemuan di Menteng kali ini menurutnya terasa sangat personal karena dipenuhi kenangan sejarah dan refleksi hubungan kedua negara. “Kehormatan besar dapat bertemu dengan Ibu Megawati Sukarnoputri, mantan Presiden Indonesia dan putri dari Presiden Sukarno. Beliau adalah simbol hidup dari eratnya hubungan kedua negara kita dan pertemuan kami terasa sangat hangat dengan cerita-cerita kenangan masa lalu,” imbuh Sandeep. Diplomasi Dibangun dari Simbol dan Kedekatan Dalam pertemuan itu, Megawati juga menceritakan bagaimana Presiden Soekarno dahulu memilih lokasi kedutaan India di Indonesia. Sebagai balasan, Nehru kemudian membantu mencarikan lokasi kedutaan Indonesia di New Delhi yang berada dekat dengan kediaman Perdana Menteri India saat itu. Cerita tersebut memperlihatkan bahwa diplomasi pada masa awal kemerdekaan tidak hanya diwujudkan melalui kerja sama formal, tetapi juga melalui simbol kedekatan dan penghormatan personal antar pemimpin negara. India sendiri dikenal sebagai salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah hubungan bilateral kedua negara, terutama di tengah dinamika politik global pasca-Perang Dunia II dan lahirnya negara-negara baru di Asia. Hingga kini, hubungan Indonesia dan India terus berkembang dalam berbagai sektor, mulai dari perdagangan, teknologi, pendidikan, hingga kerjasama strategis di kawasan Indo-Pasifik. Bahas Geopolitik dan Masa Depan Demokrasi Selain nostalgia sejarah, pembahasan dalam pertemuan itu juga menyentuh isu-isu global yang lebih luas. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto mengatakan Megawati dan Sandeep turut berdiskusi mengenai perkembangan geopolitik internasional dan tantangan demokrasi. “Tadi dalam pertemuan tersebut juga dibahas hal-hal strategis terkait geopolitik dan bagaimana meningkatkan kualitas demokrasi serta hubungan kedua negara,” timpal Hasto. Pembicaraan mengenai demokrasi menjadi relevan mengingat Indonesia dan India sama-sama dikenal sebagai negara demokrasi besar di Asia dengan populasi yang sangat besar dan keragaman sosial yang kompleks. Dalam konteks global yang terus berubah, kedua negara dinilai memiliki kepentingan yang sama untuk menjaga stabilitas kawasan sekaligus memperkuat posisi negara-negara berkembang dalam percaturan dunia. Pertemuan tersebut kemudian ditutup dengan pertukaran cenderamata. Sandeep menyerahkan miniatur Taj Mahal sebagai simbol India, sementara Megawati memberikan miniatur kapal Pinisi dan kemeja tenun endek sebagai representasi budaya Indonesia. Momen itu menjadi simbol kecil dari hubungan panjang dua negara yang dibangun bukan hanya oleh kepentingan politik, tetapi juga oleh memori sejarah, penghormatan budaya, dan persahabatan lintas generasi.

Holding PTPP Wujudkan Ekonomi Kerakyatan Hidupkan Puluhan UMKM di 'Jalur Nyali' Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 01 November 2025 | 16:00 WIB

Holding PTPP Wujudkan Ekonomi Kerakyatan Hidupkan Puluhan UMKM di 'Jalur Nyali'

Bandung, katakabar.com - Upaya mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar kawasan wisata terus dilakukan Holding Perkebunan Nusantara, lewat unit usahanya, PTPN I Regional 2. Salah satu bukti nyata program pemberdayaan tersebut bisa dilihat di Rengganis Suspension Bridge, kawasan wisata alam unggulan di Kebun Teh Rancabali, Kabupaten Bandung, yang kini menjadi sumber penghidupan baru bagi puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Wahana wisata yang populer dengan sebutan “Jalur Nyali” ini merupakan jembatan gantung sepanjang 370 meter dengan ketinggian 75 meter di atas lembah menuju Kawah Rengganis. Kawasan wisata ini menjadi magnet baru wisata agro milik PTPN I Regional 2 di bawah pengelolaan Holding Perkebunan Nusantara dan terus menarik ribuan wisatawan setiap bulannya. Selain menjadi destinasi unggulan, pengelolaan Rengganis Suspension Bridge juga menghadirkan dampak sosial yang signifikan melalui kemitraan dengan masyarakat lokal. Sebanyak puluhan kios dan warung yang dikelola UMKM berdiri di area parkir utama kawasan wisata. Para pelaku usaha ini direkrut dan dikoordinasikan oleh PTPN I Regional 2 bersama mitra pengelola PT Prakarsa Mulia. “Mereka adalah pelaku usaha UMKM yang kami rekrut untuk bisa berusaha di sini. Kami koordinasikan agar mampu melayani wisatawan dengan baik. Ini adalah komitmen kami untuk maju bersama masyarakat sekitar agar keberadaan perusahaan memberi efek ekonomi dan membuka lapangan kerja,” ujar Desmanto, Region Head PTPN I Regional 2, di pekan ketiga Oktober 2025 lalu. Salah satu pelaku UMKM yang kini merasakan manfaat program ini adalah Warung Kopi “Mang Eko”. Di warung sederhana tersebut, pengunjung dapat menikmati kopi, teh, dan kuliner ringan khas pegunungan sambil bersantai menikmati panorama Rancabali. “Kemitraan ini telah menunjukkan dampak positif dalam pemberdayaan UMKM dan masyarakat lokal. Keberhasilan program ini menjadi perwujudan nyata dukungan BUMN terhadap agenda pembangunan nasional,” kata Aris Handoyo, Sekretaris Perusahaan PTPN I. Aris menegaskan, langkah ini bagian dari mandat Holding Perkebunan Nusantara (PTPN III Persero) untuk memastikan seluruh aset perkebunan dapat memberikan nilai tambah tidak hanya secara ekonomi, tetapi sosial. “Kemitraan Rengganis Suspension Bridge adalah contoh nyata bagaimana aset BUMN dapat menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan, memastikan masyarakat lokal menjadi subjek utama pembangunan pariwisata,” ujarnya. Membangun dari Desa Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, menilai kemitraan dengan masyarakat di sekitar Rancabali sejalan dengan visi kepemimpinan nasional yang menekankan pembangunan dari desa dan penguatan ekonomi rakyat. “Program pengembangan pariwisata berbasis masyarakat ini secara langsung merefleksikan dua cita-cita utama Presiden RI, H Prabowo Subianto. Pertama, kita berhasil meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas dan mendorong kewirausahaan melalui pemberdayaan UMKM lokal serta penyerapan 90 persen tenaga kerja pemuda setempat,” ulas Teddy. Ia menambahkan, kemitraan ini menjadi langkah konkret untuk menciptakan pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. “Dengan menyediakan infrastruktur warung, tempat tinggal, dan kebijakan bebas iuran, kami memastikan masyarakat asli yang direlokasi menjadi penerima manfaat utama dari kemajuan kawasan wisata ini,” tegasnya. Keberhasilan program ini turut diakui oleh masyarakat. Salah satunya Eko Marta Wijaya 39 tahun, Ketua UMKM kawasan parkir Rengganis Suspension Bridge. Ia menuturkan program relokasi yang dijalankan sejak pembangunan kawasan wisata berlangsung membawa perubahan besar bagi kehidupan warga. “Tahun 2019 lalu, saat kawasan wisata mulai dibangun, kami yang tinggal di sekitar kawah direlokasi dan disediakan bangunan warung yang bisa digunakan sebagai tempat usaha sekaligus tempat tinggal. Sebanyak 25 warung disiapkan tanpa biaya, lengkap dengan fasilitas kebersihan dan pengangkutan sampah. Alhamdulillah, dari usaha ini rata-rata teman-teman bisa mengantongi penghasilan hingga Rp1 juta per minggu,” cerita Eko.

Pop Mie Campus Gaming Ground UEU: Lanjutkan Perjalanan Hidupkan Semangat Baru di 2025 Nasional
Nasional
Kamis, 23 Januari 2025 | 14:54 WIB

Pop Mie Campus Gaming Ground UEU: Lanjutkan Perjalanan Hidupkan Semangat Baru di 2025

'Perjalanan untuk menginspirasi generasi esports muda masih terus berlanjut' Jakarta, katakabar.com - Awal baru, semangat baru, dan tujuan baru! EVOS dan Pop Mie membuka tahun 2025 dengan kunjungan seru melalui Pop Mie Campus Gaming Ground di Universitas Esa Unggul (UEU), Jakarta Barat. Melanjutkan kesuksesan tahun 2024, kali ini giliran mahasiswa Esa Unggul yang akan merasakan pengalaman esports langsung di kampus mereka. Pop Mie Campus Gaming Ground Universitas Esa Unggul hadir dengan berbagai aktivitas yang lebih fresh dan penuh energi! Mulai dari turnamen Mobile Legends: Bang Bang (MLBB), talk show inspiratif, hingga meet & greet eksklusif dengan deretan talent EVOS, acara ini dirancang untuk menginspirasi generasi muda sekaligus mempererat hubungan dengan komunitas gaming di Jakarta. Tony Tham, Head of Commercial EVOS menyampaikan, kali ini, Pop Mie Campus Gaming Ground menjadi bentuk konsistensi dari EVOS dan Pop Mie untuk terus dekat dengan komunitas. "Di tahun 2025 khususnya di bulan Januari, kami ingin membuka lebih banyak peluang dan inspirasi bagi mahasiswa untuk menjelajahi dunia esports. Universitas Esa Unggul menjadi tujuan di bulan Januari 2025 ini yang spesial untuk melanjutkan perjalanan seru ini," ujarnya. Paling ditunggu, mahasiswa Esa Unggul bakal bertemu langsung dengan deretan talent EVOS, yakni EVOS Rachel, EVOS Alyssa, EVOS Alditto, EVOS Branz, EVOS Age, EVOS Oner, dan EVOS Razeboy. Siapkan energi terbaikmu untuk merasakan momen penuh keseruan ini!