kampus
Sorotan terbaru dari Tag # kampus
Ratusan Mahasiswa Baru Ikuti PKKMB STMIK Methodist Binjai, Gloria Tekankan Integritas dan Etika
Staf Ahli Wali Kota Binjai Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Gloria, S.Pd., M.Pd., mewakili Wali Kota Binjai, resmi membuka kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) STMIK Methodist Binjai Tahun Akademik 2026/2027.
Ketika Kampus Tak Lagi Cukup Sekadar Digital: Metranet dan Masa Depan PTI
Jakarta, katakabar.com - Lewat konsep Building Impactful Universities untuk membangun perguruan tinggi yang bermutu, berdampak, dan mampu berdaya saing global, Metranet melihat teknologi sebagai enabler. Perguruan tinggi Indonesia (PTI) tengah memasuki fase baru dalam pemanfaatan teknologi. Digitalisasi tidak lagi cukup dimaknai sebagai upaya memindahkan layanan dan proses ke platform digital, tetapi perlu diarahkan untuk membangun institusi yang lebih adaptif, berbasis data, inovatif, dan mampu menciptakan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. Perspektif tersebut menjadi salah satu konteks kehadiran Metranet, anak perusahaan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, dalam Indonesia Higher Education CIO Forum 2026 yang berlangsung di Aula Timur dan Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, pada 31 Agustus hingga 1 September 2026. Usung tema “Empowering PDDikti (Pangkalan Data Pendidikan Tinggi) through IDREN Collaboration: Advancing IT Governance, Cyber Resilience, and Operational Excellence”, forum ini mempertemukan pimpinan teknologi informasi dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia bersama pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan terkait. Selama dua hari, forum ini membahas sejumlah agenda strategis yang menjadi fondasi pengembangan pendidikan tinggi berbasis teknologi, mulai dari integrasi dan pelaporan PDDikti, perluasan konektivitas melalui Indonesia Research and Education Network (IDREN), tata kelola teknologi informasi, pemerintahan digital, ketahanan siber, hingga pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk analitik data dan pelaporan. Diskusi juga diperluas melalui sesi meja bundar yang membahas tata kelola dan kebijakan TI, ekosistem data pendidikan tinggi, transformasi digital, ketahanan siber, serta SDM digital dan kepemimpinan TI. Bagi Metranet, berbagai agenda tersebut menunjukkan bahwa masa depan kampus digital membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Teknologi perlu ditempatkan sebagai enabler yang menghubungkan kebutuhan akademik, operasional, data, inovasi, dan aktivitas ekonomi kampus sehingga menghasilkan nilai yang nyata. Pandangan tersebut dituangkan Metranet melalui kerangka “Building Impactful Universities”, yang menggambarkan evolusi perguruan tinggi menuju empat area utama: AI-Ready Campus, Digital University, Campus Economic Hub, serta Research to Impact to Market. Keempat area tersebut didukung oleh kapabilitas Metranet Group pada lima area, yaitu technology, AI, data, commerce, dan ecosystem. “Kami melihat transformasi perguruan tinggi bukan semata-mata mengenai seberapa banyak teknologi yang digunakan, tetapi seberapa besar nilai yang dapat dihasilkan dari pemanfaatannya. Teknologi harus mampu meningkatkan kualitas layanan, memperkuat pengambilan keputusan, membuka ruang inovasi, dan mendukung perguruan tinggi menghasilkan dampak yang lebih besar. Karena itu, Metranet mengambil posisi sebagai Digital Enabler for Nation untuk membantu menghadirkan kapabilitas yang relevan dengan kebutuhan tersebut,” kata Faisal Yusuf, Direktur Bisnis Metranet. Dalam visi tersebut, digitalisasi bukan sekadar membangun layanan berbasis teknologi, melainkan menyatukan berbagai aspek perguruan tinggi, mulai dari akademik dan riset hingga pengalaman mahasiswa dan operasional. Dukungan data dan AI kemudian memungkinkan institusi mengambil keputusan secara lebih cerdas, meningkatkan kualitas layanan, dan menciptakan nilai yang lebih besar bagi seluruh ekosistemnya. Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Metranet menghadirkan sejumlah kapabilitas melalui portofolionya, antara lain SCALA sebagai digital transformation enabler, Xooply sebagai e-commerce platform, Cazbox sebagai community platform, dan Uzone sebagai digital literacy platform. Metranet juga memperkuat kapabilitasnya melalui kolaborasi dengan Google untuk produk Google Education dan Zoom Communications untuk produk Zoom Workplace di sektor pendidikan. Portofolio tersebut merepresentasikan pendekatan Metranet yang tidak hanya berfokus pada penyediaan teknologi, tetapi juga pada bagaimana berbagai kapabilitas dapat menjawab kebutuhan institusi secara lebih utuh, mulai dari transformasi proses, pengembangan layanan, penguatan komunitas, hingga peningkatan literasi digital. “Perguruan tinggi memiliki kebutuhan yang sangat beragam dan tidak dapat diselesaikan oleh satu solusi saja. Karena itu, pendekatannya harus berbasis ekosistem. Pemerintah memiliki peran dalam kebijakan dan arah nasional, perguruan tinggi memahami kebutuhan akademik dan institusionalnya, sementara industri dan technology partner dapat membawa kapabilitas untuk mempercepat implementasi. Metranet ingin mengambil peran sebagai penghubung kekuatan tersebut,” lanjut Faisal. Pendekatan berbasis ekosistem ini menjadi semakin relevan ketika pendidikan tinggi dihadapkan pada tantangan yang bersifat lintas institusi. Perbedaan tingkat kematangan teknologi, kualitas dan interoperabilitas data, risiko keamanan siber, serta kebutuhan mengadopsi cloud dan AI secara strategis menjadi sejumlah isu yang perlu dijawab bersama oleh ekosistem pendidikan tinggi. Karena itu, Indonesia Higher Education CIO Forum 2026 menjadi ruang untuk menyamakan perspektif dan menyusun langkah bersama. Forum ini diarahkan untuk membangun kesepahaman mengenai arah transformasi digital pendidikan tinggi sekaligus memperkuat tata kelola TI, infrastruktur dan konektivitas, keamanan siber, pemanfaatan AI, serta jejaring kolaborasi antar-CIO dengan perguruan tinggi. Bagi Metranet, keterlibatan dalam forum tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk terus memperluas kontribusi TelkomGroup dalam mendukung kemajuan pendidikan Indonesia. Dengan mempertemukan kapabilitas teknologi, mitra strategis, dan kebutuhan institusi, Metranet melihat peluang untuk membantu perguruan tinggi bergerak menuju institusi yang tidak hanya digital, tetapi juga bermutu, berdampak, dan mampu berdaya saing secara global. “Pada akhirnya, teknologi bukanlah tujuan akhir. Teknologi adalah enabler untuk menciptakan perguruan tinggi yang bermutu, berdampak, dan mendunia. Kami percaya ketika pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan technology partner bergerak bersama, transformasi yang dihasilkan tidak hanya memperkuat institusi, tetapi juga memberikan kontribusi bagi kemajuan Indonesia,” sebut Faisal.
Holding PTPN Dukung Kampus Berbasis Perkebunan, Arya Sandhiyudha Jadi Mahasiswa Angkatan Pertama Magister ITSI
Medan, katakabar.com - Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyudha, secara resmi mendaftarkan diri sebagai mahasiswa angkatan pertama pada Program Magister (S2) Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian, Institut Teknologi Sawit Indonesia (ITSI) untuk Tahun Akademik 2026-2027. Keikutsertaan jajaran direksi Subholding Perkebunan Nusantara ini merupakan bentuk dukungan terhadap program pascasarjana perdana di kampus tersebut, mengingat ITSI merupakan institusi pendidikan tinggi yang juga bernaung di bawah PTPN Group. “Pengembangan industri perkebunan, khususnya kelapa sawit, kini menghadapi tantangan yang multidimensi, mulai dari aspek teknis agronomi hingga penyelesaian isu sosial dan ekonomi secara komprehensif. Keikutsertaan saya di angkatan pertama ini adalah wujud komitmen continuous learning untuk terus memperluas perspektif, sekaligus bentuk dukungan terhadap eksistensi ITSI sebagai kawah candradimuka SDM perkebunan yang unggul,” ujar Arya Sandhiyudha. Menurut Arya, kehadiran program beridentitas Magister Berbasis Industri Perkebunan dan Keberlanjutan di ITSI merupakan ruang akademik yang relevan bagi para profesional, praktisi, maupun pembuat kebijakan dalam memperdalam keilmuan yang sejalan dengan peta jalan bisnis sawit nasional. Di sisi lain, pembukaan Program Magister (S2) Sosial Ekonomi Pertanian ini menjadi babak baru bagi ITSI. Rektor ITSI, Dr. Purjianto, SE, MM, menyambut baik antusiasme pendaftar pada angkatan pertama ini, yang sejalan dengan visi transformasi kampus untuk memberikan kontribusi yang lebih luas. “Pembukaan program studi ini merupakan wujud komitmen ITSI dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta menjawab tantangan pembangunan sektor pertanian dan perkebunan yang semakin kompleks dan dinamis. Ini juga menjadi tonggak awal bagi ITSI dalam memperluas peran dan kontribusinya di bidang pendidikan tinggi berbasis perkebunan,” jelas Dr. Purjianto. Diketahui, lulusan dari program magister ini nantinya akan menyandang gelar Magister Pertanian (M.P.). Guna mendukung kelancaran akademik bagi kalangan pekerja, aparatur negara, maupun profesional, ITSI menerapkan skema perkuliahan hybrid yang memadukan kelas luring dan daring. Mahasiswa akan mendapatkan bimbingan dari tenaga pengajar yang merupakan kolaborasi antara akademisi dan praktisi di industri perkebunan. Beragam fasilitas penunjang juga telah disiapkan di kampus ITSI yang berlokasi di Jalan Willem Iskandar, Medan. Mahasiswa pascasarjana dapat memanfaatkan ruang kelas eksekutif, plantation class, perpustakaan, hingga student lounge. Lebih jauh, program ini juga memfasilitasi mahasiswa dengan jejaring dunia usaha dan industri, peluang riset, serta opsi benchmarking ke luar negeri. Pendaftaran penerimaan mahasiswa baru Program Magister ITSI Tahun Akademik 2026/2027 saat ini masih terbuka. Program ini dapat diikuti oleh lulusan sarjana (S1) dari berbagai disiplin ilmu. Calon mahasiswa yang berminat dapat mengakses informasi pendaftaran secara daring melalui portal resmi pmb.itsi.ac.id atau menghubungi layanan konsultasi di 0821-8391-2114. Sebagai bagian dari ekosistem Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo mendukung penguatan kapasitas sumber daya manusia sebagai fondasi penting dalam mendorong transformasi, inovasi, dan keberlanjutan industri perkebunan nasional. Pengembangan SDM melalui kolaborasi antara dunia usaha dan institusi pendidikan diharapkan dapat memperkuat daya saing sektor perkebunan Indonesia di tingkat global.
Bahasa Inggris di Kampus: Mitos atau Realita?
Jakarta, katakabar.com - Ketika membahas modal paling penting untuk bekerja di perusahaan multinasional atau bahkan luar negeri, salah satunya adalah kemampuan berbahasa Inggris. Buktinya, laporan dari Cambridge English menemukan bahwa sekitar 85 persen organisasi internasional di seluruh dunia menggunakan bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa kerja utama mereka. Kabar gembiranya, kamu bisa mengasah skill bahasa Inggris dengan sangat efektif jika memilih kuliah program international di kampus yang menerapkan lingkungan English-only. Memang, apa saja kelebihannya? Keuntungan Kuliah di Kampus Berbahasa Inggris Berkuliah di kampus yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama untuk pembelajaran dan komunikasi akan memberimu banyak manfaat untuk pengembangan karier dalam jangka panjang. Ini dia contohnya! 1. Imersi total untuk mengasah kemampuan Program international di Indonesia mewajibkanmu menggunakan bahasa Inggris dalam setiap aspek kehidupan kampus. Misalnya, saat belajar teori di ruang kelas, berdiskusi dengan teman sekelompok, menulis paper, dan membawakan presentasi di depan dosen. Alhasil, kondisi ini memaksa otakmu untuk terus aktif memproses informasi dalam bahasa asing secara alami. Kemampuan komunikasi verbalmu akan meningkat tajam karena kamu terbiasa mendengar berbagai aksen dari dosen maupun teman-temanmu. Selain itu, kemampuan menulismu juga akan terasah lewat tugas laporan, esai, hingga ujian yang semuanya menuntut standar akademis internasional. 2. Membentuk kepercayaan diri berbahasa Inggris Proses imersi tersebut secara otomatis akan membentuk kepercayaan diri kamu dalam menggunakan bahasa Inggris. Apalagi, kalau kamu selama ini mudah merasa ragu atau takut salah saat berbicara dalam bahasa asing karena kurangnya jam terbang. Namun, lingkungan kuliah program international mengubah rasa takut itu menjadi sebuah kebiasaan yang menyenangkan. Kamu akan menyadari bahwa melakukan kesalahan adalah bagian dari proses belajar yang wajar. Seiring berjalannya waktu, kamu akan jadi lebih lancar saat harus menyampaikan ide atau berdebat dalam forum resmi. Kepercayaan diri ini akan sangat membantumu saat kuliah ke luar negeri, menghadapi wawancara kerja di perusahaan multinasional, atau melakukan presentasi di hadapan klien asing. 3. Paparan terhadap budaya global Selain aspek bahasa, kamu juga akan mendapatkan paparan terhadap budaya global yang sangat kaya. Sebab, kampus internasional biasanya menjadi rumah bagi mahasiswa dari berbagai belahan dunia. Kamu akan berinteraksi dengan teman-teman yang memiliki latar belakang, tradisi, dan cara berpikir yang berbeda-beda. Secara tidak langsung, interaksi harian ini melatih kecerdasan budaya kamu agar lebih adaptif di lingkungan yang beragam. Kamu pun jadi belajar menghargai perbedaan pendapat dan memahami etika pergaulan internasional tanpa harus pergi ke luar negeri terlebih dahulu. 4. Akses mudah ke rujukan berkualitas Sebagian besar jurnal ilmiah, buku teks terbaru, dan hasil riset terkemuka di dunia terbit dalam bahasa Inggris. Nah, kalau kamu sudah terbiasa dengan bahasa ini dalam keseharian kuliah, kamu tidak perlu lagi menunggu versi terjemahan yang sering kali membutuhkan waktu lama. Justru, kamu bisa langsung menyerap informasi terbaru dari sumber aslinya secara cepat dan akurat. Pada akhirnya, pemahaman yang mendalam terhadap literatur global akan membuat kualitas hasil tugas-tugas akademismu menjadi jauh lebih berbobot. 5. Membentuk kemampuan berpikir kritis Kuliah di lingkungan internasional juga sangat efektif untuk mengasah kemampuan critical thinking, lho. Saat kamu mempelajari materi dalam bahasa asing, otakmu bekerja lebih keras untuk menganalisis dan memahami setiap konsep secara mendalam. Selain itu, dosen di kampus internasional biasanya mendorong mahasiswa untuk berani bertanya dan menyanggah argumen dengan landasan logika yang kuat. Kamu akan sering terlibat dalam diskusi kelompok yang menantang kamu untuk memecahkan masalah dari berbagai sudut pandang. Jadi, pola pendidikan seperti ini melatih kamu untuk mengevaluasi tiap informasi secara mendalam lebih dulu. Di Indonesia, kamu bisa menemukan lingkungan belajar ideal seperti ini di BINUS International. Sebab, BINUS International menggunakan bahasa Inggris secara penuh untuk pemaparan materi kuliah di dalam ruang kelas, sehingga suasana belajarnya sangat autentik. Kehadiran banyak mahasiswa internasional dari berbagai negara di Binus International semakin memperkuat nuansa global yang akan kamu rasakan setiap hari. Kamu juga akan didorong untuk rutin melakukan presentasi dalam bahasa asing guna melatih kemampuan berbicara di depan umum secara profesional. Bahkan, ada juga program double degree di kampus luar negeri supaya kamu bisa mendapatkan gelar sarjana lokal dan internasional!
Dari Eksplorasi di Kampus ke Karier Profesional: Kisah Mahasiswa Binus @Bandung
Bandung, katakabar.com - Berbagai pengalaman selama masa perkuliahan sering kali menjadi fondasi penting dalam membentuk arah karier seseorang di masa depan. Tidak hanya melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga dari keterlibatan dalam aktivitas organisasi, eksplorasi minat, hingga pengalaman internasional yang membuka perspektif baru. Pada konteks industri kreatif yang terus berkembang, proses ini menjadi semakin relevan untuk menyiapkan individu yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga kesiapan beradaptasi dan berkembang di lingkungan profesional. Hal tersebut juga dialami oleh Felisitas Elisha Dominique, alumni dari salah satu program studi unggulan BINUS @Bandung yaitu Desain Komunikasi Visual (DKV) New Media, yang kini berkarier sebagai Graphic Designer di WINGS Group. Perjalanan karier Felisitas tidak terlepas dari berbagai pengalaman yang ia jalani selama masa perkuliahan di Binus @Bandung. Mulai dari pembelajaran akademik, keikutsertaan dalam organisasi, hingga kesempatan mengikuti program study abroad, seluruh pengalaman tersebut menjadi proses penting dalam membentuk kemampuan dan pola pikirnya di bidang desain. Selama masa perkuliahan, Felisitas berkesempatan mengikuti program Study Abroad di Kyungsung University, Korea Selatan selama satu semester. Pengalaman belajar di lingkungan internasional ini memberikan perspektif baru, tidak hanya dari sisi akademik tetapi juga pemahaman lintas budaya. Meskipun menghadapi keterbatasan bahasa, Felisitas tetap aktif dalam berbagai kegiatan mahasiswa dan menjalani proses pembelajaran dengan antusias. Menurutnya, pengalaman ini membantunya memahami bahwa kreativitas dapat berkembang dari berbagai sudut pandang. Kesempatan untuk mengambil mata kuliah lintas jurusan selama program berlangsung juga semakin membuka wawasan dan memperkaya proses belajarnya secara lebih luas. Selain itu, Felisitas juga aktif dalam organisasi kampus sebagai bagian dari pengembangan diri di luar akademik. Ia pernah menjabat sebagai sekretaris di Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK), serta aktif di Himpunan Mahasiswa DKV (HIMDKV) sebagai koordinator acara hingga dipercaya menjadi Ketua organisasi. Keterlibatan tersebut memberikan banyak pengalaman berharga, terutama dalam membangun kemampuan kepemimpinan, komunikasi, serta kerja sama tim. Pengalaman organisasi ini menjadi salah satu fondasi penting yang turut membentuk kesiapan dirinya dalam menghadapi lingkungan kerja profesional. Perjalanannya menuju dunia industri kemudian berlanjut ketika Felisitas mengikuti program internship di WINGS Group pada September 2023 selama lima bulan. Selama menjalani internship, ia menunjukkan performa yang konsisten dan mampu beradaptasi dengan tuntutan pekerjaan di industri. Pengalaman tersebut kemudian membawanya pada kesempatan untuk bergabung sebagai karyawan tetap setelah masa magang berakhir. Bahkan di tengah proses menyelesaikan tugas akhir hingga wisuda, Felisitas tetap aktif berkarya dan terus mengembangkan kemampuan desainnya. Di Binus @Bandung, Felisitas merasakan bahwa kampus tidak hanya memberikan pembelajaran akademik, tetapi juga menghadirkan berbagai kesempatan untuk berkembang sesuai minat dan potensi masing-masing mahasiswa. Hal ini selaras dengan semangat Binus @Bandung sebagai Creative Technology & Entrepreneurship Campus, salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia yang mendorong mahasiswa untuk aktif mengeksplorasi kemampuan, mencoba hal baru, dan membangun pengalaman yang relevan dengan dunia industri. Menurut Felisitas, setiap kesempatan yang diberikan selama masa kuliah memiliki peran penting dalam membentuk perjalanan kariernya hingga saat ini. Ia meyakini bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh apa yang dipelajari, tetapi juga oleh keberanian untuk mengambil peluang yang ada. “BINUS akan memberikanmu banyak pilihan. Peranmu adalah memilih dan memanfaatkan segala yang disediakan,” ungkap Felisitas. Melalui kisahnya, Felisitas ingin mengajak mahasiswa untuk berani mencoba dan tidak ragu memanfaatkan setiap kesempatan yang ada selama masa perkuliahan. Baginya, pengalaman, proses belajar, dan keberanian untuk melangkah menjadi kunci dalam membentuk masa depan. Perjalanan Felisitas menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil yang diambil selama masa kuliah dapat menjadi fondasi penting dalam membangun karier profesional di masa depan.
Pendidikan Layak Menuju Kampus Impian
Jakarta, katakabar.com - Pagi di Asrama Pemali Boarding School selalu dimulai lebih awal. Sejumlah siswa sudah bangun sebelum matahari terbit, merapikan tempat tidur, bersiap mengikuti kegiatan pagi, sebelum benar-benar berangkat ke sekolah untuk mengikuti pelajaran akademik. Bagi mereka, rutinitas bangun pagi ini menjadi kewajiban yang diberikan contoh dengan sangat baik dari para seniornya. Kelak, kebiasaan menjadi modal bagi mereka untuk meningkatkan taraf hidup keluarganya di kampung halaman. Di lingkungan asrama, para siswa mendapatkan ruang dan kesempatan untuk belajar dan berkembang lebih baik. Melalui program sekolah berasrama berbasis beasiswa, anak-anak peserta didik yang berasal dari keluarga buruh harian, nelayan, hingga pekerja serabutan kini memiliki akses pada pendidikan yang sebelumnya sulit dijangkau. Program Pemali Boarding School yang didukung PT Timah, anggota holding industri pertambangan MIND ID, telah berjalan sejak tahun 2000, dan menjangkau wilayah Bangka Belitung, Karimun, hingga Meranti. Hingga kini, sekitar 952 alumni telah merasakan manfaat program tersebut. Di balik angka tersebut, Kepala Asrama Pemali Boarding School, Ulul, menyampaikan bahwa mayoritas siswa berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. “Banyak orang tua yang awalnya ragu karena keterbatasan biaya. Mereka tidak membayangkan anaknya bisa mendapatkan fasilitas pendidikan seperti ini,” ujar Ulul. Tetapi, cerita Ulul, setelah memahami program ini memberikan dukungan penuh, dari perusahaan, mulai dari pendidikan hingga berbagai program pembinaan, para orang tua justru menjadi pihak yang paling mendorong anak-anaknya untuk mengikuti seleksi. Alhasil, setiap tahun sebanyak 36 siswa terpilih mendapatkan beasiswa penuh dan tinggal di asrama selama menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Pemali. Proses seleksi dilakukan melalui asesmen akademik dan psikologi bekerja sama dengan tim dari Universitas Padjadjaran. Ulul menegaskan pembinaan di asrama tidak hanya berfokus pada akademik. Para siswa juga dibekali keterampilan seperti public speaking, pengelolaan media sosial, serta penguatan karakter dan kepemimpinan. Pembinaan ini dilakukan secara rutin untuk membantu siswa menghadapi tantangan di luar sekolah, baik di dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat. “Yang kita bangun bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga kepercayaan diri dan cara mereka melihat masa depan,” jelasnya. Dampak program ini mulai terlihat dari capaian para siswa. Tahun ini, sebanyak 20 siswa berhasil lolos ke perguruan tinggi melalui jalur prestasi, sementara siswa lainnya masih menjalani proses seleksi melalui jalur tes. Para siswa juga mencatatkan prestasi dalam lomba debat Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di tingkat Kabupaten Bangka. Di samping itu, dampak yang lebih krusial justru terlihat dalam jangka panjang. Banyak alumni yang melanjutkan pendidikan atau telah bekerja, dan perlahan mulai berkontribusi kembali di lingkungan sekitarnya. “Mereka tidak hanya berubah secara pribadi, tetapi juga membawa pengaruh bagi keluarga dan komunitasnya. Itu yang paling terasa,” tuturnya. Menurut Ulul, tantangan terbesar para siswa justru muncul pada masa awal adaptasi. Sebagian siswa belum pernah tinggal jauh dari orang tua dan harus menyesuaikan diri dengan pola belajar yang lebih disiplin. “Namun, proses itulah yang membentuk mereka. Seiring waktu, para siswa mulai menunjukkan perubahan. Mereka yang semula pendiam menjadi lebih berani berbicara, lebih percaya diri, dan mampu mengikuti ritme belajar yang lebih terstruktur,” terangnya. Bagi anak-anak dari pesisir dan kawasan tambang, kesempatan ini bukan sekadar soal bersekolah. Kesempatan ini menjadi titik awal yang membuka masa depan baru, untuk melanjutkan pendidikan, membantu keluarga, dan melihat masa depan dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.
Melihat Masa Depan Karier Anak: Binus @Bandung Bahas Pentingnya Orang Tua Memilih Kampus Tepat
Bandung, katakabar.com - Di tengah ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi setiap tahunnya, Binus @Bandung gelar Media Gathering bersama para awak media di kampus Binus @Bandung untuk berbagi pandangan mengenai tren memilih pendidikan tinggi yang tepat serta memperkenalkan ekosistem pembelajaran yang dirancang untuk mempersiapkan mahasiswa lebih dekat dengan dunia karier. Momentum ini hadir beriringan dengan dinamika penerimaan mahasiswa baru yang setiap tahun semakin selektif dan menjadi perhatian para siswa dan orang tua di berbagai daerah, termasuk Kota Bandung yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi di Indonesia. Memilih perguruan tinggi keputusan penting bagi calon mahasiswa dan orang tua, sebab pendidikan tinggi semakin dipandang sebagai langkah strategis yang dapat mempengaruhi masa depan karier. Di tengah meningkatnya biaya pendidikan dan tingginya ekspektasi setelah lulus, tidak sedikit keluarga yang merasa khawatir akan salah langkah menentukan pilihan jurusan maupun kampus. Kekhawatiran ini tidak muncul tanpa alasan. Fenomena career mismatch masih menjadi tantangan di berbagai negara, termasuk di Indonesia, di mana sekitar 35%–36% pemuda bekerja tidak sesuai dengan tingkat pendidikan yang dimiliki. Di saat yang sama, perkembangan teknologi dan transformasi industri juga terus mengubah lanskap dunia kerja. Laporan dari World Economic Forum memprediksi sekitar 22% pekerjaan global akan mengalami perubahan pada tahun 2030, menunjukkan generasi muda akan memasuki dunia kerja yang semakin dinamis dan membutuhkan keterampilan baru. Fenomena ini membuat banyak orang tua semakin berhati-hati dalam mendampingi anak menentukan pilihan pendidikan. Riset yang dilakukan oleh Populix bersama Binus University juga menunjukkan bahwa kekhawatiran orang tua tidak hanya berkaitan dengan pilihan jurusan, tetapi juga dengan minimnya informasi mengenai prospek karier dari suatu bidang studi. Bahkan, pertimbangan mengenai employability atau peluang kerja setelah lulus kini menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan pilihan perguruan tinggi. Dari sisi orang tua, Vivi, mengungkapkan kekhawatiran memilih perguruan tinggi juga menjadi pertimbangan penting sebelum menentukan pilihan pendidikan anak. “Sebagai orang tua tentu kami ingin memastikan bahwa pendidikan yang dipilih benar-benar memberikan bekal yang bermanfaat bagi masa depan anak. Melihat bagaimana lingkungan belajar dan kesempatan pengembangan diri yang diberikan oleh kampus menjadi salah satu faktor yang membuat kami yakin,” ujar Vivi. Pada diskusi tersebut, Dr. Esther Widhi Andangsari, Head of Psychology Department Binus University sekaligus praktisi psikologi, menyoroti kekhawatiran menentukan pilihan pendidikan merupakan hal yang wajar, terutama ketika keputusan tersebut dianggap sangat menentukan masa depan seseorang. “Banyak anak muda merasa keputusan memilih jurusan atau kampus seolah menentukan seluruh hidup mereka. Padahal yang lebih penting adalah bagaimana mereka memahami minat, potensi, serta lingkungan belajar yang dapat mendukung perkembangan mereka. Ketika mahasiswa berada di ekosistem yang tepat, mereka akan memiliki ruang untuk mengeksplorasi kemampuan dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang terus berubah,” jelas Dr. Esther. Sebagai Creative Technology & Creativepreneurship Campus, Binus @Bandung menjawab kekhawatiran itu dengan menggabungkan penguasaan teknologi dengan kreativitas serta pemahaman bisnis. Pendekatan ini menjadi relevan dengan perkembangan ekonomi kreatif dan industri digital yang terus tumbuh, khususnya di kota Bandung yang dikenal sebagai salah satu pusat kreativitas dan inovasi di Indonesia, Pendekatan ini juga diperkuat dengan ekosistem Binus University yang telah terhubung dengan lebih dari 2.200 perusahaan global serta didukung oleh jaringan lebih dari 175.000 komunitas Binusian yang tersebar di berbagai sektor industri di dalam maupun luar negeri. Ekosistem ini membuka peluang bagi mahasiswa untuk membangun koneksi profesional, memperoleh pengalaman industri, hingga mempersiapkan karir sejak masa kuliah. Sementara, Campus Director Dr. Johan Muliadi Kerta menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan mahasiswa siap menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin cepat. “Perguruan tinggi tidak hanya berperan memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga harus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan industri. Mahasiswa perlu dibekali dengan kemampuan teknologi, kreativitas, serta pola pikir inovatif agar mereka siap menghadapi berbagai peluang dan tantangan karir di masa depan,” jelasnya. Selain itu, mahasiswa Binus juga memiliki kesempatan untuk memperoleh pengalaman internasional selama masa studi. Tercatat 98% lulusan Binus telah mendapatkan pengalaman internasional, baik melalui kegiatan akademik global, program kolaborasi internasional, maupun berbagai aktivitas lintas negara. Untuk memberikan akses pendidikan yang lebih luas bagi generasi muda, Binus University juga menyediakan berbagai pilihan program beasiswa hingga 100%, sehingga semakin banyak siswa berprestasi dapat memperoleh kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi dengan dukungan yang memadai. Konsep pendidikan di Binus @Bandung yang menempatkan kreativitas, teknologi terutama AI dan kewirausahaan sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran. Hal ini menjadi relevan dengan Bandung yang dikenal sebagai salah satu kota kreatif di Indonesia dengan perkembangan industri kreatif yang pesat.
Pop Mie CGG 2026 Perluas Peta Esports Kampus, Catat Partisipasi Tertinggi di UG
Depok, katakabar.com - Pop Mie bersama EVOS Esports kembali menghadirkan program Pop Mie Campus Gaming Ground (CGG) 2026 di Universitas Gunadarma (UG), Depok. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperluas jangkauan esports di lingkungan kampus, sekaligus merespons tingginya antusiasme mahasiswa dari berbagai daerah. Dari kali pertama digelar pada 2024, Pop Mie Campus Gaming Ground telah menjangkau 8 kampus dengan total partisipasi lebih dari 2.500 mahasiswa. Capaian ini menunjukkan meningkatnya minat mahasiswa terhadap esports. Tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang pengembangan keterampilan dan eksplorasi karier. Pada pegelaran di Universitas Gunadarma, program ini mencatatkan jumlah partisipasi turnamen tertinggi dibandingkan kampus sebelumnya. Tercatat 30 tim mahasiswa yang mendaftar dalam kompetisi Mobile Legends Bang Bang. Tingginya partisipasi ini mencerminkan semakin luasnya adopsi esports di kalangan mahasiswa. Hubungkan Mahasiswa dengan Industri Esports Pop Mie Campus Gaming Ground tidak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga dirancang sebagai ruang edukasi. Ruang yang memperkenalkan mahasiswa pada ekosistem esports secara menyeluruh. Melalui sesi interaktif bersama talenta EVOS seperti Mira, Charmaine, Kezi, Van dan Swaylow, mahasiswa mendapatkan gambaran langsung mengenai berbagai peran di industri ini. Aufa Bassam, Head of Esports EVOS, menjelaskan kegiatan ini menjadi salah satu cara untuk mendekatkan dunia esports dengan mahasiswa. “Esports hari ini tidak hanya tentang bermain game, tetapi juga tentang bagaimana membangun ekosistem yang bisa membuka peluang. Melalui program ini, kami ingin mahasiswa melihat bahwa ada banyak jalur yang bisa mereka eksplorasi di industri ini, baik sebagai pemain maupun di balik layar,” ujarnya. Diskusi yang berlangsung mencakup peluang karier sebagai pro player, kreator konten, hingga peran di balik layar seperti manajemen tim dan produksi konten. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa esports memiliki keterkaitan dengan berbagai kompetensi yang relevan dengan dunia akademik, termasuk kerja tim, komunikasi, strategi, dan kreativitas digital. Hadirkan Pengalaman Interaktif Dekat dengan Mahasiswa Selain turnamen dan sesi diskusi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan berbagai aktivitas interaktif. Salah satunya adalah 360 Corner Experience, sebuah photobooth dengan kamera berputar 360 derajat yang memungkinkan peserta membuat konten visual yang dinamis dan siap dibagikan di media sosial. Antonius Pandu, Senior Brand Manager Pop Mie, mengatakan pendekatan ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan kebiasaan dan minat mahasiswa saat ini. “Kami melihat mahasiswa tidak hanya ingin menjadi penonton, tetapi juga ingin terlibat dan mengekspresikan diri. Karena itu, Pop Mie Campus Gaming Ground kami rancang bukan hanya sebagai kompetisi, tetapi juga sebagai pengalaman yang relevan dengan keseharian mereka, termasuk dalam hal membuat dan berbagi konten,” jelasnya. Ekspansi ke Luar Jabodetabek di 2026 Tahun 2026 menjadi fase pengembangan baru bagi Pop Mie Campus Gaming Ground. Program ini mulai memperluas jangkauan ke kampus-kampus di luar Jabodetabek sebagai respons atas permintaan mahasiswa di berbagai daerah yang ingin menghadirkan kegiatan serupa. Aufa Bassam menambahkan perluasan ini menjadi langkah lanjutan dalam membangun ekosistem esports di tingkat kampus. “Antusiasme yang kami lihat di berbagai kota menunjukkan potensi talenta esports tidak hanya terpusat di kota besar. "Ke depan, kami ingin membuka lebih banyak ruang bagi mahasiswa di berbagai daerah untuk bisa terlibat dan berkembang,”ucapnya. Dengan menggabungkan kompetisi, edukasi, dan pengalaman interaktif, Pop Mie dan EVOS berupaya mendorong terbentuknya ekosistem esports kampus yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Ke depan, Pop Mie Campus Gaming Ground diharapkan dapat terus menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan industri kreatif, sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi di era digital.
Jawab Kebutuhan Industri, Kolaborasi Kampus dan Industri Kunci Siapkan Talenta Masa Depan
Jakarta, katakabar.com - Mahasiswa didorong pahami tantangan bisnis nyata untuk menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang Di tengah percepatan transformasi industri global dari elektrivikasi hingga rantai pasok, Indonesia menghadapi satu tantangan krusial yakni memastikan talenta yang dihasilkan tidak hanya siap kerja, juga siap menghadapi kompleksitas dunia bisnis secara nyata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dari lulusan universitas masih menjadi perhatian dengan nilai 5,39% pada tahun 2025. Sementara, laporan World Economic Forum memproyeksikan 39 persen keterampilan inti tenaga kerja akan berubah dalam lima tahun ke depan, menegaskan kesenjangan antara dunia akademik dan kebutuhan industri kian nyata. Menjawab tantangan tersebut, kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri bukan lagi pilihan tetapi kebutuhan strategis. Dari Teori ke Realitas Industri Melalui kemitraan Binus Internasional program International Business dan perusahaan Bosch di Indonesia, mahasiswa tidak hanya belajar konsep, tetapi diajak langsung membedah tantangan bisnis yang riil, mulai dari strategi adaptasi pasar lokal hingga dinamika rantai pasok industri global, antara lain: Masa Depan Mobilitas: Peralihan menuju kendaraan listrik dan hidrogen sebagai masa depan industri otomotif global termasuk di Indonesia. Strategi Adaptasi Lokal: Pentingnya pendekatan “local-for-local”, di mana produk dan strategi disesuaikan untuk menjawab permintaan unik pasar domestik. Resiliensi Rantai Pasok: Studi kasus mengenai keputusan investasi strategis, diantaranya pada industri semikonduktor, sebagai respon terhadap dinamika geopolitik dan ekonomi global. Pendekatan ini membawa mahasiswa keluar dari zona teoritis ke dalam kompleksitas pengambilan keputusan bisnis yang sesungguhnya. Bentuk Cara Berpikir Bukan Sekedar Keterampilan “Melalui inisiatif integrated project pada mata kuliah Multinational Corporation Management, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk terlibat langsung dalam memahami kompleksitas operasional perusahaan multinasional,” ujar Dr Ami Fitri Utama, Head of Program International Business BINUS International. “Pengalaman ini tidak hanya memperkaya wawasan praktis mahasiswa, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam membentuk kompetensi global mereka agar siap menghadapi tantangan dan peluang di dunia bisnis internasional,” timpal Dr Ami. Dari sisi industri, berbagi pengalaman praktis dipandang sebagai kontribusi penting untuk membangun ekosistem talenta yang kuat. Hal ini tidak hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk pola pikir yang tangkas dan adaptif. “Di pasar seperti Indonesia, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh inovasi, tetapi juga oleh kemampuan mengelola biaya, menjaga kualitas, dan memastikan kepatuhan terhadap standar global. Melalui kolaborasi ini, kami ingin berbagi perspektif tersebut secara langsung kepada generasi muda.” ungkap Bernard Simanjuntak, Country Sales Director Bosch Mobility Indonesia. Ia menegaskan sebagai salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk memahami dinamika bisnis di pasar berkembang, mulai dari skala pasar, kompleksitas regulasi, hingga kebutuhan lokalisasi. Menurutnya, dalam konteks ini, kolaborasi antara Bosch dan Binus tidak hanya berkontribusi pada pendidikan, tetapi juga pada penguatan ekosistem talenta nasional yang selaras dengan kebutuhan industri masa depan. Bosch Dorong Model Kolaborasi Lebih Luas Program ini akan berlangsung hingga Juni 2026 dan akan ditutup dengan presentasi solusi inovatif dari mahasiswa terhadap tantangan industri yang diberikan. Lebih dari sekadar program akademik, inisiatif ini diharapkan menjadi model kolaborasi berkelanjutan antara dunia pendidikan dan industry, yang mampu mempercepat kesiapan talenta Indonesia sekaligus mendukung daya saing ekonomi nasional.
Binus @Bandung Dinobatkan Kampus Pendukung Wirausaha Muda Terbaik di Jabar
Bandung, katakabar.com - Selama dua tahun terakhir, ekonomi kreatif Indonesia menunjukkan performa solid dengan serapan tenaga kerja mendekati 26 hingga 27 juta pekerja, menurut rilis Kemenparekraf dan BPS; Jawa Barat tercatat sebagai provinsi dengan jumlah pekerja ekraf terbesar (±6,24 juta pekerja). Angka ini menegaskan peran ekosistem kreatif khususnya Bandung dan Jabar sebagai motor inovasi, kewirausahaan muda, dan penciptaan peluang usaha baru. Menjawab fenomena tersebut, International Franchise and Business Expo (IFBEX) 2026 salah satu pameran bisnis dan kemitraan terbesar di Indonesia kembali digelar pada 6 hingga 8 Februari 2026 lalu di Graha Manggala Siliwangi, Bandung. Ajang pameran bisnis ini mempertemukan pelaku usaha, franchisor, investor, serta calon wirausahawan dari berbagai sektor industri. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Himpunan Kemitraan dan Peluang Usaha Indonesia (HIKPI) bekerja sama dengan DK Consulting dan PT. Myevent Promosindo Asia. Acara ini dihadiri perwakilan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Pemerintah Kota Bandung. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, industri, dan institusi pendidikan dalam memperkuat ekosistem bisnis nasional. Pada perhelatan tersebut, Binus @Bandung dianugerahi penghargaan “Universitas di Jawa Barat Pendukung Peluang Usaha & Wirausaha Muda”, sebuah bentuk pengakuan atas kontribusi kampus dalam menumbuhkan ekosistem inovasi yang mendorong kemandirian berusaha di kalangan mahasiswa dan generasi muda. Penghargaan ini mencerminkan peran strategis perguruan tinggi dalam mendukung agenda nasional yaitu memperkuat literasi kewirausahaan, mendorong inovator muda, serta menyiapkan lulusan yang mampu bersaing di era ekonomi digital. Binus @Bandung yang mengusung identitas sebagai Creative Technology & Entrepreneurship Campus mengembangkan berbagai program unggulan seperti inkubasi bisnis mahasiswa, pembinaan UMKM, kolaborasi dengan startup regional, hingga kemitraan industri yang terintegrasi dengan kurikulum. Penghargaan IFBEX 2026 diterima secara langsung oleh Dr. Johan Muliadi Kerta, S.Kom., M.M., selaku Direktur Kampus Binus @Bandung. Dalam keterangannya, Dr. Johan menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kolaborasi seluruh sivitas akademika dalam membangun lingkungan belajar yang mendorong inovasi dan keberanian berwirausaha. “Penghargaan ini merupakan wujud apresiasi atas perjalanan panjang kami membangun ekosistem kewirausahaan yang inklusif dan berkelanjutan. BINUS @Bandung percaya bahwa generasi muda Jawa Barat memiliki kapasitas besar untuk menjadi penggerak ekonomi kreatif Indonesia. Tugas kami adalah memastikan mereka dibekali kompetensi, pendampingan, dan jejaring yang memadai agar dapat menciptakan dampak nyata bagi masyarakat.” ujarnya. Diraihnya penghargaan IFBEX 2026 adalah sebuah bukti nyata peran Binus @Bandung sebagai universitas pendukung wirausaha muda yang relevan dengan agenda nasional di bidang penguatan ekonomi kreatif. Dengan pendekatan berbasis teknologi, kreativitas, dan kolaborasi, Binus @Bandung berkomitmen melanjutkan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi regional dan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.