MIND ID Tegaskan Komitmen Keberlanjutan di Setiap Daerah Operasional Nasional
Nasional
Selasa, 21 April 2026 | 09:05 WIB

MIND ID Tegaskan Komitmen Keberlanjutan di Setiap Daerah Operasional

Jakarta, katakabar.com - Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID konsisten terapkan prinsip keberlanjutan di setiap daerah operasional. Komitmen ini tidak semata untuk memenuhi ketentuan regulasi, tetapi sebagai cara perusahaan mengoptimalkan sumber daya alam secara bertanggung jawab sekaligus menjaga keberlangsungan, keseimbangan lingkungan serta sosial di sekitar wilayah operasional. Direktur Strategi Hilirisasi dan Ekosistem Mineral MIND ID, Tedy Badrujaman, mengatakan praktik pertambangan yang baik merupakan fondasi utama dalam menjaga kinerja lingkungan sekaligus sosial di seluruh operasional Grup MIND ID. Menurutnya, keberlanjutan harus hadir sejak tahap perencanaan, operasional, hingga pemulihan. “Kalau berusaha harus memperhatikan kondisi alam sekitar. Ini adalah komitmen sesuai dengan aturan yang ada, dan bahkan kita mencoba lebih dari aturan yang ada. Apa pun yang kita jalankan adalah untuk lingkungan tempat hidup kita,” ujar Tedy. Kata Tedy, Anggota Grup MIND ID tidak hanya menjalankan program agar patuh terhadap aturan, tetapi juga berupaya menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan di sekitar area penambangan maupun pengolahan. Upaya ini dilakukan melalui inovasi yang melibatkan masyarakat yang dampaknya terukur dan dapat dibuktikan kinerjanya. Salah satu inovasi dijalankan PT Timah (Persero) Tbk (TIMAH) Pengolahan dan Pemurnian Muntok, melalui penerapan program Menjaga Nusantara: Muntok Berjaya dan Bahagia Melalui Inklusifitas Berkelanjutan dan Sejahtera. Program ini memanfaatkan Lahan Bekas Eks Tambang Ilegal untuk dijadikan tempat pembinaan usaha masyarakat yang mendukung ketahanan pangan daerah. TIMAH juga menjalankan program Bank Sampah sekaligus pembinaan usaha Pemanfaatan Limbah Kulit Udang menjadi Simbiotik. Untuk memperkuat sisi ekonominya, program Menjaga Nusantara juga diintegrasikan dengan pemberdayaan Kelompok Usaha Batik Ciprat, Batik Ecoprint dan UMKM Snack, serta budidaya sayuran dengan metode hidroponik, serta pembinaan kelompok usaha pempek udang yang anggotanya berasal dari mantan penambang ilegal. Di sisi lain, PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) memiliki program inovasi sosial di Desa Kuta Tanjung. Program menggunakan pendekatan holistik yang mengintegrasikan penguatan ekonomi, sosial, dan lingkungan melalui pemanfaatan potensi lokal serta pemberdayaan masyarakat rentan, termasuk masyarakat miskin, kelompok perempuan, penyandang disabilitas, dan pemuda. Dampak dari program terintegrasi ini, INALUM mampu mendukung peningkatan pendapatan masyarakat, terciptanya lapangan kerja lokal, pengelolaan puluhan ton sampah secara berkelanjutan, serta kontribusi nyata terhadap penurunan emisi gas rumah kaca. Program INALUM ini telah menghasilkan pendapatan ekonomi sebesar Rp2,9 miliar, mengelola 28.625,8 kilogram sampah melalui sistem bank sampah. Selanjutnya, kontribusi pada penurunan Global Warming Potential (GWP) mencapai 11.494 ton CO₂ ekuivalen. Adapun kedua program inovasi sosial dari TIMAH dan INALUM tersebut memperoleh apresiasi PROPER Emas 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup. Tedy menambahkan aktivitas pertambangan pada dasarnya akan mengubah bentang alam, namun dampaknya dapat dikendalikan dan dipulihkan apabila perusahaan menjalankan program keberlanjutan secara komprehensif dan terintegrasi. “Kami berupaya memastikan bagaimana kegiatan tambang diikuti dengan berbagai upaya pengendalian dan pemulihan yang sesuai kaidah, dan bahkan lebih jauh lagi untuk dapat menjaga kelestarian alam dengan inovasi sosial yang tepat,” jelasnya.

Pemerintah Indonesia dan THE Sinergi Gelar Kongres Keberlanjutan Global di Tengah Asteng Sorotan Dunia Internasional
Internasional
Jumat, 27 Maret 2026 | 13:11 WIB

Pemerintah Indonesia dan THE Sinergi Gelar Kongres Keberlanjutan Global di Tengah Asteng Sorotan Dunia

Jakarta, katakabar.com - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) resmi bergabung sebagai co-host untuk Global Sustainable Development Congress (GSDC) 2026. Ini merupakan perkembangan penting bagi kawasan Asia Tenggara. Dengan adanya kemitraan tersebut, Kongres yang bakal digelar di Jakarta ini tidak hanya berfungsi sebagai forum pertukaran ide, tetapi sebagai pusat pengambilan keputusan global. Dalam acara yang digelar pada 2026 ini, Pemerintah Indonesia dan Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) akan memainkan peran penting. Acara ini akan menjadi platform utama yang mempertemukan kebijakan nasional dan inovasi global untuk mendorong langkah berikutnya dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). “Di tengah peran Indonesia memimpi upaya kawasan menuju masa depan lebih tangguh, kami merasa terhormat dapat menjadi tuan rumah bagi forum yang mencerminkan kompleksitas SDGs secara nyata," kata Rachmat Pambudy, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia. Menururnya, upaya mencapai keberlanjutan tidak bisa dilakukan oleh satu sektor saja. Dibutuhkan kolaborasi erat antara pembuat kebijakan, pimpinan perusahaan global, peneliti akademik, dan organisasi masyarakat sipil. Dengan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan ini di Jakarta, kami ingin menjembatani kesenjangan antara rencana strategis dan implementasi nyata di lapangan. Dengan kemitraan ini, solusi yang dihasilkan diharapkan memiliki dukungan politik, pendanaan, serta kepercayaan Masyarakat untuk membawa dampak nyata di tingkat lokal,” ujarnya. Sedang, Yemi Adeshiyan, Managing Director GSDC, menimpali keterlibatan Pemerintah Indonesia sebagai co-host menjadi pendorong penting bagi kawasan ini. Dengan menjadikan Asia Tenggara sebagai pusat penyelenggaraan Kongres dan bekerja langsung dengan sistem perencanaan nasional, kami pastikan solusi yang lahir dari Jakarta memiliki kekuatan strategis dan politik untuk memberi pengaruh nyata terhadap Agenda Global 2030. "Kemitraan ini juga mempertemukan keahlian akademik global dengan implementasi kebijakan di tingkat negara," ucap Yemi. Salah satu sorotan utama dalam program tahun 2026 adalah peluncuran Asia-Pacific Sustainable Business Summit yang pertama. Apalagi digelar bersamaan dengan Kongres utama, forum tingkat tinggi ini akan membahas berbagai isu penting yang membentuk arah bisnis berkelanjutan di kawasan Asia-Pasifik. Topik yang dibahas mencakup transisi energi, pembiayaan berkelanjutan, rantai pasok, ekonomi sirkular, infrastruktur digital, hingga pengembangan kapasitas tenaga kerja. Sejumlah perusahaan dan institusi global dijadwalkan berpartisipasi, di antaranya Coca-Cola, TikTok, dan IBM, bersama European Investment Bank, Danantara Indonesia, serta UN Global Compact. Kepemimpinan dalam Pendidikan dan FilantropiKongres ini juga akan menghadirkan berbagai tokoh pengambil keputusan, termasuk para Menteri Pendidikan dari kawasan Asia Tenggara. Selain itu, Tan Sri Dr. Jeffrey Cheah, pendiri sekaligus Chairman Sunway Group, juga akan turut hadir. Komitmen filantropinya mendukung pendidikan berkualitas telah menjadi salah satu fondasi penting bagi gerakan SDG di kawasan. Terkait acara ini, Tan Sri Dr. Jeffrey Cheah menyampaikan, pendidikan berkualitas dan pembangunan berkelanjutan merupakan dua pilar utama bagi masa depan yang tangguh. GSDC menjadi ruang pertemuan penting untuk menggerakkan dunia akademik, pemerintah, dan sektor swasta dari sekadar ambisi menjadi tindakan nyata yang terukur. Saya bersama Sunway University merasa terhormat dapat ikut berkontribusi dalam upaya memberdayakan generasi masa depan.” Agenda Global 2026 Pada 22 hingga 25 Juni 2026 mendatang, Kongres utama bersama Asia-Pacific Sustainable Business Summit akan mempertemukan sekitar 5.000 pemimpin dari berbagai sektor untuk membahas enam pilar transformasi: Kota dan Komunitas, Pendidikan, Gender dan Ketimpangan, Lingkungan, Ekonomi Sirkular dan Material, Dekarbonisasi dan Energi, serta Rantai Pasok dan Sumber Daya. Acara ini juga akan menampilkan pengumuman global secara langsung untuk THE's Impact Rankings 2026, yang merupakan kerangka penilaian terkemuka di dunia untuk mengukur kontribusi universitas terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB. Home | Global Sustainable Development Congress 2026

Telkom AI Center Bali Bahas Peran AI Keberlanjutan Lingkungan dan Transformasi Digital Tekno
Tekno
Rabu, 28 Januari 2026 | 11:50 WIB

Telkom AI Center Bali Bahas Peran AI Keberlanjutan Lingkungan dan Transformasi Digital

Bali, katakabar.com - Telkom AI Center Bali gelar AI Connect Online Series angkat tema “The Intersection of Sustainability and AI” , Sabtu (17/1) lalu. Kegiatan yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting ini berlangsung selama kurang lebih tiga jam dan diikuti peserta dari berbagai latar belakang profesional, mulai dari pelaku industri digital, praktisi teknologi, hingga pemerhati isu keberlanjutan. Webinar ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif mengenai peran strategis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam mendukung pelestarian lingkungan serta mendorong transformasi digital yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Melalui forum ini, Telkom AI Center Bali menegaskan komitmennya dalam memperkuat literasi AI yang tidak hanya berorientasi pada inovasi teknologi, tetapi juga pada dampak sosial dan lingkungan. Sesi pertama menghadirkan Wira Atmana Wibisana, Product Design Lead Clamby.id, yang membahas pentingnya keseimbangan tiga pilar keberlanjutan, yakni perlindungan lingkungan, sistem ekonomi yang bertanggung jawab, dan keadilan sosial. Dalam paparannya, Wira membagikan praktik nyata penerapan AI melalui Clamby, sebuah tech startup binaan Apple Developer Academy yang memanfaatkan AI untuk mengurangi limbah industri fesyen. Platform ini membantu pengguna mendata isi lemari pakaian secara digital dan memberikan rekomendasi padu padan, sehingga mendorong konsumsi fesyen yang lebih sadar dan berkelanjutan. Selain itu, Wira menyoroti berbagai contoh global pemanfaatan AI untuk sustainability, seperti Too Good To Go yang berfokus pada pengurangan limbah makanan, Google DeepMind yang berhasil menekan konsumsi energi pusat data hingga 40 persen, serta Pachama yang memanfaatkan citra satelit dan AI untuk memantau kondisi hutan secara real-time. Di sesi kedua, Soviani Sopandi, Founder Bestari Amerta Nusantara, mendemonstrasikan pemanfaatan ChatGPT-5 Mini sebagai asisten otomatis dalam mendukung komunikasi dan pemasaran digital perusahaan. Dalam sesi ini, Soviani memperlihatkan berbagai fitur AI, mulai dari pembuatan kalender konten, penulisan blog, carousel content creator, hingga reels creator yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi dan konsistensi strategi digital marketing secara signifikan. Program Lead Telkom AI Connect, Mizan Lazuardi, menyampaikan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Telkom dalam membangun ekosistem AI yang berdampak nyata bagi keberlanjutan. “Melalui AI Connect Online Series, kami ingin mendorong pemanfaatan AI yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat. AI harus menjadi solusi nyata untuk tantangan global, termasuk isu keberlanjutan,” ujar Mizan. Ia menambahkan, Telkom AI Connect akan terus menghadirkan ruang kolaborasi dan pembelajaran bagi pelaku industri, kreator, dan talenta digital agar mampu mengembangkan inovasi berbasis AI yang selaras dengan prinsip sustainable development. Selama kegiatan berlangsung, para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi dan aktif berdiskusi mengenai peluang implementasi AI di berbagai sektor. Diskusi interaktif ini menunjukkan tingginya minat terhadap pemanfaatan AI sebagai alat strategis untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan transformasi digital bisnis di Indonesia. Melalui penyelenggaraan AI Connect Online Series ini, Telkom AI Center Bali berharap dapat memperluas kesadaran publik mengenai pentingnya integrasi AI dan sustainability, sekaligus mendorong lahirnya inovasi-inovasi digital yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

Toga dan PK Serukan Transformasi Sistem Pangan Berbasis Spritualisme dan Keberlanjutan Nusantara
Nusantara
Jumat, 12 Desember 2025 | 19:00 WIB

Toga dan PK Serukan Transformasi Sistem Pangan Berbasis Spritualisme dan Keberlanjutan

Depok, katakabar.com - Lebih dari 20 tokoh agama, penghayat kepercayaan, serta perwakilan organisasi keagamaan berkumpul dalam Lokakarya Sistem Pangan untuk Tokoh Agama dan Kepercayaan yang digelar Yayasan KEHATI bekerja sama dengan Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) pada 7 hingga 10 Desember 2025 di Wisma Hijau, Depok. Kegiatan ini menghasilkan Deklarasi Bersama Tokoh Agama dan Kepercayaan yang menegaskan komitmen lintas iman dalam mendorong transformasi sistem pangan nasional yang adil, berkelanjutan, serta berakar pada nilai-nilai spiritualitas nusantara. Di lokakarya tersebut, para peserta menyoroti krisis sistem pangan yang ditandai oleh hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan fungsi lahan, ketimpangan akses pangan bagi kelompok rentan, hingga pola konsumsi yang semakin menjauh dari kearifan lokal. Manajer Program Ekosistem Pertanian Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), Puji Sumedi, menekankan pangan harus dipandang secara holistik. "Pangan adalah ruang spiritual, ekologis, dan sosial. Ia bukan sekadar komoditas. Transformasi sistem pangan tidak akan terjadi tanpa memulihkan relasi manusia dengan alam sebagai anugerah Tuhan,” ujarnya. Kepala Sekretariat KSPL, Gina Karina, menambahkan pendekatan teknokratik tidak cukup dalam menjawab krisis pangan. “Nilai agama dan kearifan lokal memberikan landasan moral yang kuat untuk menggerakkan perubahan. Tokoh agama memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku dan pilihan konsumsi masyarakat,” jelasnya. Peran Strategis Komunitas Agama dan Kepercayaan Di acara yang sama, Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas Jarot Indarto menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan komunitas iman. “Transformasi sistem pangan merupakan agenda besar dalam RPJMN, dan partisipasi tokoh agama sangat diperlukan agar kebijakan diversifikasi pangan serta perlindungan sumber daya lokal dapat berkembang menjadi gerakan luas di masyarakat,” ucapnya. Beberapa perwakilan tokoh agama dan kepercayaan turut menyuarakan beberapa poin penting peran strategis agama dalam program pangan lokal berkelanjutan. Perwakilan tokoh Katolik dari JPIC, Sr. Maria Monika, menyatakan dimensi spiritual harus tercermin dalam perilaku konsumsi umat, dan menurutnya bumi adalah rumah bersama sehingga memilih pangan lokal, mengurangi sampah, dan menjaga tanah merupakan bagian dari praktik iman sehari-hari. Dari kalangan penghayat kepercayaan, Kento Subarman, menekankan bahwa pangan memiliki keterhubungan erat dengan adat dan kosmos. Ia menyatakan merusak tanah sama artinya dengan merusak diri sendiri, sehingga regenerasi petani dan perlindungan lahan harus dipahami sebagai laku spiritual, bukan sekadar upaya teknis. Deklarasi Bersama Deklarasi yang disepakati para tokoh agama dan penghayat kepercayaan menegaskan komitmen untuk memperkuat pangan lokal dan kedaulatan benih dengan melindungi benih-benih lokal, mendorong diversifikasi pangan, dan mengembangkan inovasi olahan pangan yang dapat menarik minat generasi muda. Deklarasi tersebut juga menekankan pentingnya integrasi spiritualitas ekologis dalam pendidikan dan kebijakan dengan mengarusutamakan ajaran agama dan kearifan lokal tentang rasa syukur, kesederhanaan, dan harmoni dengan alam dalam pendidikan formal, khutbah, ritual, serta perayaan keagamaan. Selain itu, para tokoh menyatakan perlunya perlindungan lahan dan ekosistem melalui penolakan terhadap alih fungsi lahan subur, penguatan upaya restorasi lingkungan, dan penegakan hukum terhadap tindakan yang merusak alam. Mereka juga mendorong regenerasi petani dengan membuka akses lahan, menyediakan pendidikan pertanian ekologis, dan membangun kemitraan yang dapat menarik anak muda untuk kembali bergerak di sektor pertanian. Deklarasi tersebut turut menegaskan tata kelola sistem pangan harus dilakukan secara lintas sektor dan melibatkan kementerian terkait, lembaga agama, komunitas adat, serta organisasi masyarakat sipil secara setara dan kolaboratif. Pembentukan Forum Lintas Iman dan Komitmen Bersama Sistem Pangan Lestari Dengan menggunakan pendekatan System Thinking, para peserta lokakarya merumuskan Teori Perubahan Sistem Pangan Berkelanjutan, menyusun rencana aksi yang berlandaskan nilai-nilai spiritualitas, dan menyepakati pembentukan Forum Lintas Agama dan Kepercayaan untuk Sistem Pangan Lestari. Wakil Kementerian Agama, Deva Sebayang, memberikan apresiasi terhadap inisiatif ini dan menegaskan bahwa agama memiliki kekuatan moral yang besar, serta bahwa gerakan lintas iman untuk pangan berkelanjutan merupakan bukti bahwa spiritualitas dapat memberikan kontribusi nyata terhadap penyelesaian persoalan nasional. Deklarasi penutup menegaskan bahwa pangan merupakan hak dasar sekaligus titipan Tuhan yang harus dijaga, konsumsi pangan harus dilakukan secara beragam, bergizi, seimbang, dan tidak berlebihan, serta komunitas agama, penghayat kepercayaan, dan masyarakat adat memiliki peran penting dalam mendorong perubahan perilaku konsumsi masyarakat.

Bangun Strategi Keberlanjutan, LindungiHutan Rilis E book Penerapan CSR Lingkungan Perusahaan Lingkungan
Lingkungan
Senin, 08 Desember 2025 | 10:32 WIB

Bangun Strategi Keberlanjutan, LindungiHutan Rilis E book Penerapan CSR Lingkungan Perusahaan

Semarang, katakabar.com - Dorongan global terhadap transparansi dan akuntabilitas lingkungan membuat perusahaan dituntut semakin serius dalam menjalankan program CSR berbasis keberlanjutan. Di tengah meningkatnya risiko greenwashing dan ketatnya regulasi ESG, LindungiHutan merilis e-book terbaru bertajuk “Do's and Don'ts dalam Mengimplementasikan CSR Lingkungan di Perusahaan Anda”, sebuah panduan praktis yang dirancang untuk membantu perusahaan menyusun program lingkungan yang strategis, berdampak, dan bebas dari kesalahan umum yang kerap merugikan reputasi. E-book ini menjadi sumber rujukan penting bagi perusahaan yang ingin memastikan bahwa program CSR-nya tidak lagi sekadar simbolik. Di dalamnya dibahas langkah-langkah fundamental, seperti penyusunan tujuan berbasis SMART yang selaras dengan roadmap dekarbonisasi dan strategi Net Zero, pentingnya pelibatan pemangku kepentingan lokal, serta bagaimana memastikan setiap kegiatan konservasi memiliki basis data yang kuat melalui perhitungan jejak karbon dan pelaporan dampak yang terukur. Selain memberikan panduan tentang langkah yang harus dilakukan, dokumen ini juga menyoroti kesalahan kritis yang harus dihindari, mulai dari program seremonial tanpa dampak, ketidakpatuhan terhadap regulasi nasional dan standar internasional, hingga kegagalan perusahaan melibatkan komunitas lokal dalam pengelolaan lingkungan jangka panjang. Di tengah meningkatnya tren ESG, risiko greenwashing semakin diperhatikan investor dan publik. Kebijakan seperti Green Claims Directive di Uni Eropa hingga peningkatan standar pengungkapan keberlanjutan di Asia Tenggara membuat perusahaan perlu memastikan klaim lingkungan mereka dapat dipertanggungjawabkan. Banyak program CSR yang gagal memberikan dampak nyata karena tidak memiliki sistem monitoring, tidak menyusun laporan keberlanjutan yang sesuai standar GRI, atau tidak memilih mitra yang memiliki keahlian teknis dan rekam jejak yang kredibel. E-book ini membantu perusahaan memahami bagaimana memilih mitra konservasi yang mampu mengelola program end-to-end, termasuk survei lokasi, pemilihan spesies, pelibatan masyarakat, monitoring digital, hingga pelaporan berbasis data. LindungiHutan merancang e-book ini sebagai panduan praktis yang bisa langsung diterapkan oleh tim CSR, sustainability officer, ESG officer/ ESG manager, maupun divisi komunikasi perusahaan. Melalui panduan yang ringkas dan aplikatif, perusahaan dapat menghindari jebakan program hijau yang tidak berkelanjutan serta mulai membangun fondasi CSR yang kuat, transparan, dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat. Dokumen ini juga memberikan perspektif strategis tentang pentingnya integrasi CSR dengan visi bisnis jangka panjang agar setiap inisiatif lingkungan tidak sekadar menjadi proyek tahunan, tetapi investasi keberlanjutan yang terencana. Perusahaan dapat mengunduh e-book tersebut secara gratis melalui tautan berikut: https://lynk.id/lindungihutan/50ld9l5vyq9q. Melalui panduan ini, LindungiHutan mengajak seluruh pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas dalam menjalankan program lingkungan, memperkuat kredibilitas keberlanjutan, serta menyusun strategi CSR yang relevan dengan kebutuhan zaman dan tuntutan global.

LindungiHutan Luncurkan Ebook Winning with Green Branding Bantu Perusahaan Lingkungan
Lingkungan
Kamis, 27 November 2025 | 09:32 WIB

LindungiHutan Luncurkan Ebook Winning with Green Branding Bantu Perusahaan

Semarang, katakabar.com - Di tengah meningkatnya tuntutan publik terhadap transparansi dan aksi keberlanjutan, LindungiHutan merilis ebook terbaru berjudul “Winning with Green Branding: Panduan Praktis 3 Halaman untuk Decision Maker yang Serius Soal Keberlanjutan.” Ebook ringkas namun padat ini dirancang sebagai pegangan strategis bagi para pemimpin perusahaan yang ingin mengembangkan green branding secara kredibel dan berdampak. Ebook dapat diunduh secara gratis melalui tautan https://lynk.id/lindungihutan/yn7qeemm20y2. Green branding kini menjadi elemen penting dalam strategi bisnis modern. Bukan sekadar upaya pemasaran, pendekatan ini menuntut perusahaan menunjukkan tanggung jawab sosial dan lingkungan secara nyata. Praktik ini berbeda dengan traditional branding yang berfokus pada peningkatan penjualan dan loyalitas pelanggan. Green branding mendorong edukasi isu lingkungan, pembentukan nilai keberlanjutan jangka panjang, serta terciptanya dampak sosial-ekologis yang terukur. Dalam ebook ini, LindungiHutan menguraikan manfaat konkret yang dapat diperoleh perusahaan melalui green branding, mulai dari meningkatnya minat konsumen yang peduli lingkungan, membaiknya citra perusahaan, hingga terbukanya peluang kolaborasi dan efisiensi biaya produksi melalui inovasi proses yang lebih hijau. Pendekatan ini juga memungkinkan bisnis bertahan di tengah perubahan regulasi dan ekspektasi publik terhadap transparansi lingkungan. Selain memberikan gambaran dasar, ebook ini juga menyajikan langkah-langkah implementasi green branding yang dapat langsung diterapkan. Salah satunya adalah pentingnya perusahaan menetapkan tujuan keberlanjutan yang realistis dan terukur, seperti target pengurangan emisi karbon, efisiensi limbah, atau peningkatan penggunaan bahan ramah lingkungan. Pembaca juga diajak memahami tantangan green branding di Indonesia, seperti tingginya harga produk hijau, minimnya edukasi produsen kecil, hingga bahaya greenwashing yang dapat merusak reputasi perusahaan. Rilis ini turut menyoroti sejumlah studi kasus kolaborasi brand kecantikan bersama LindungiHutan, sebagai bukti bahwa green branding dapat menghasilkan dampak nyata. Di antaranya adalah kampanye “Penanaman 300 Pohon Mangrove The Body Shop” di Pantai Indah Kapuk; program Avoskin melalui #LoveAvoskinLoveEarth dan Avorestation yang telah menanam lebih dari 2.500 pohon; serta kampanye Envygreen di Tambakrejo, Semarang yang menghasilkan lebih dari 2.000 mangrove tertanam. Ketiga inisiatif tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan bisa dikomunikasikan sekaligus diaktualisasikan melalui aksi nyata di lapangan. Ebook ini juga memuat pengenalan singkat tentang LindungiHutan sebagai platform crowdsourcing konservasi yang berfokus pada aksi penghijauan, pemberdayaan masyarakat, dan transparansi data. Dengan visi “melestarikan hutan bagi kemanusiaan,” LindungiHutan bekerja melalui berbagai program, di antaranya CorporaTree, solusi CSR penanaman pohon perusahaan, SustainabiliTree untuk konsultasi dan implementasi proyek lingkungan berkelanjutan, serta Imbangi untuk tebus emisi karbon melalui penanaman pohon lengkap dengan kalkulator karbon untuk brand maupun komunitas. Hingga 2025, LindungiHutan telah menanam lebih dari satu juta pohon di 30+ lokasi, bersama 600+ lebih mitra, yang totalnya menyerap hingga lebih dari 48 ribu ton karbon. Melalui peluncuran ebook “Winning with Green Branding,” LindungiHutan berharap lebih banyak perusahaan dapat memasuki era keberlanjutan dengan langkah yang nyata, strategis, dan kredibel. Bukan hanya mengikuti tren, tetapi membangun fondasi keberlanjutan yang berdampak jangka panjang bagi konsumen, lingkungan, dan bisnis itu sendiri.

Aspek Keberlanjutan Produksi Minyak Sawit Utama Dukung Kelestarian Lingkungan Sawit
Sawit
Sabtu, 15 November 2025 | 16:00 WIB

Aspek Keberlanjutan Produksi Minyak Sawit Utama Dukung Kelestarian Lingkungan

katakabar.com - Aspek keberlanjutan produksi dan pengelolaan minyak sawit jadi faktor utama mendukung kelestarian lingkungan. Pemanfaatan minyak sawit yang luas dalam industri pangan global dengan tingkat konsumsi yang mencakup hampir seluruh negara di dunia menjadikan masyarakat internasional semakin bergantung pada komoditas tersebut (Shigetomi et al., 2020). Itu sebabnya, aspek keberlanjutan (sustainability) dalam produksi dan pengelolaan minyak sawit jadi faktor yang sangat krusial untuk diperhatikan dalam mendukung kelestarian lingkungan. Perkembangan industri minyak sawit global yang sangat pesat sering dikaitkan dengan perubahan tata guna lahan (land use change), termasuk di dalamnya isu deforestasi (Vijay et al., 2016; European Union, 2013), serta hilangnya keanekaragaman hayati (biodiversity loss) sebagaimana dikemukakan oleh sejumlah penelitian (Koh & Wilcove, 2008; Fitzherbert et al., 2009; Foster et al., 2011; Savilaakso et al., 2014; Austin et al., 2019). Menurut PASPI Monitor (2022) lewat jurnal berjudul Ketahanan Pangan Minyak Nabati Global Berkelanjutan, permasalahan deforestasi, perubahan tata guna lahan, emisi, dan penurunan keanekaragaman hayati pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan industri minyak sawit melainkan relevan pada berbagai komoditas, sektor, dan negara, bahkan lintas peradaban. Pada konteks penyediaan minyak nabati dan lemak dunia, pertanyaan utama terkait keberlanjutan bukanlah sekadar apakah deforestasi atau emisi terjadi atau tidak, melainkan lebih pada komoditas tanaman penghasil minyak nabati mana yang paling efisien dalam penggunaan lahan, menghasilkan emisi dan polusi paling rendah, serta memiliki dampak biodiversity loss paling kecil? Berikut ini ulasan mengenai keunggulan minyak sawit dalam hal keberlanjutan apabila dibandingkan dengan berbagai minyak nabati utama lain. Ulasan mengenai aspek keberlanjutan ditinjau dari berbagai indikator yang meliputi indeks deforestasi, keanekaragaman hayati, emisi karbon, serta kebutuhan air. Indeks Deforestasi: data mengenai luas areal dan produktivitas berbagai jenis minyak nabati dunia maka dapat diidentifikasi secara implisit perbandingan intensitas deforestasi antar-komoditas minyak nabati utama dunia. Dengan asumsi bahwa semua ekspansi minyak nabati merupakan suatu deforestasi maka indeks deforestasi minyak kedelai mencapai 956 persen, minyak rapeseed 614 persen, minyak biji bunga matahari 827 persen, dan minyak sawit 150 persen. Temuan tersebut menunjukkan konteks produksi minyak nabati global maka tingkat deforestasi yang terkait dengan minyak sawit relatif paling rendah apabila dibandingkan dengan minyak nabati lain. Jadi, keberadaan minyak sawit dalam rantai pasok minyak nabati global berkontribusi terhadap penghematan lahan dan berpotensi mencegah deforestasi dalam skala yang lebih luas (PASPI Monitor, 2021e). Indeks Keanekaragaman Hayati: Studi yang dilakukan oleh Beyer et al. (2020) serta Beyer dan Rademacher (2021) membandingkan biodiversity loss secara global antar-berbagai jenis minyak nabati. Studi tersebut menilai perubahan biodiversitas berdasarkan perbandingan tutupan lahan sebelum dan sesudah dikonversi menjadi lahan perkebunan tanaman penghasil minyak nabati. Sebagai indikator, penelitian tersebut menggunakan ukuran footprint Species Richness Loss (SRL) per liter minyak yang dihasilkan untuk menggambarkan tingkat kehilangan keanekaragaman hayati. Dengan menggunakan SRL minyak sawit sebagai tolok ukur (benchmark), studi tersebut menunjukkan bahwa SRL minyak kedelai mencapai 184 persen lebih tinggi dibandingkan dengan SRL minyak sawit. Selanjutnya, SRL minyak rapeseed tercatat 179 persen lebih tinggi. Adapun, SRL minyak biji bunga matahari mencapai 144 persen lebih tinggi dibandingkan dengan minyak sawit. Hasil tersebut menunjukkan bila SRL dijadikan indikator untuk mengukur biodiversity loss maka minyak sawit merupakan jenis minyak nabati dengan tingkat kehilangan keanekaragaman hayati paling rendah (PASPI Monitor, 2021g). Sebaliknya, minyak kedelai tercatat sebagai minyak nabati dengan biodiversity loss tertinggi. Jadi, untuk setiap liter minyak yang dihasilkan maka minyak sawit memiliki dampak kehilangan keanekaragaman hayati paling kecil di dunia. Indeks Emisi Karbon: Studi yang dilakukan oleh Beyer et al. (2020) serta Beyer dan Rademacher (2021) menemukan bahwa pada tingkat ekosistem global, perkebunan kelapa sawit merupakan penghasil minyak nabati dengan tingkat emisi terendah apabila dibandingkan dengan sumber minyak nabati lain (PASPI Monitor, 2021h). Dibandingkan dengan emisi karbon yang dihasilkan perkebunan sawit untuk setiap liter minyak maka emisi minyak kedelai tercatat 425 persen lebih tinggi, emisi minyak rapeseed 242 persen lebih tinggi, dan emisi minyak biji bunga matahari 225 persen lebih tinggi. Indeks emisi berbagai jenis minyak nabati lain tercatat juga jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan minyak sawit. Indeks emisi minyak kacang tanah mencapai 424 persen, minyak kelapa 337 persen, dan minyak zaitun (olive oil) sebesar 342 persen (PASPI Monitor, 2021h). Bila diurutkan berdasarkan tingkat emisi terendah hingga tertinggi maka peringkat minyak nabati adalah sebagai berikut: (1) minyak sawit, (2) minyak biji bunga matahari, (3) minyak rapeseed, (4) minyak zaitun, (5) minyak kelapa, (6) minyak kedelai, dan (7) minyak kacang tanah. Indeks Kebutuhan Air: Gerbens-Leenes et al. (2009) serta Mekonnen & Hoekstra (2010) mengemukakan bahwa tanaman penghasil minyak nabati dengan kebutuhan air tertinggi adalah tanaman rapeseed, diikuti oleh kelapa, ubi kayu, jagung, kedelai, dan bunga matahari. Untuk menghasilkan setiap satu giga joule (GJ) bioenergi berupa minyak, tanaman rapeseed memerlukan sekitar 184 meter kubik air. Sementara, tanaman kelapa yang banyak dibudidayakan di Indonesia, Filipina, dan India memerlukan rata-rata sekitar 126 meter kubik air, sedangkan tanaman ubi kayu yang menjadi sumber etanol membutuhkan rata-rata sekitar 118 meter kubik air. Hasil penelitian tersebut menunjukkan kelapa sawit termasuk salah satu tanaman penghasil bioenergi yang paling efisien dalam penggunaan air, menempati posisi kedua setelah tebu. Tanaman kedelai membutuhkan rata-rata sekitar 100 meter kubik air untuk menghasilkan setiap satu GJ bioenergi. Sedang, kelapa sawit hanya memerlukan sekitar 75 meter kubik air untuk menghasilkan jumlah energi yang sama. Makanya, minyak sawit dapat dikategorikan sebagai minyak nabati paling efisien dalam penggunaan air (PASPI Monitor, 2021f). Dari data di atas bisa disimpulkan minyak sawit merupakan komoditas minyak nabati yang paling berkelanjutan apabila dibandingkan dengan berbagai jenis minyak nabati lain.

Talk Show Karantina Day 2025, Dialog Produktivitas Hingga Keberlanjutan Industri Sawit Nasional Sawit
Sawit
Sabtu, 25 Oktober 2025 | 18:32 WIB

Talk Show Karantina Day 2025, Dialog Produktivitas Hingga Keberlanjutan Industri Sawit Nasional

Bogor, katakabar.com - Badan Karantina Indonesia kolaborasi dengan PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), taja Talk Show Karantina Day 2025, usung tema “Dari Karantina untuk Sawit Berkelanjutan: Mendukung Ketahanan Pangan dan Energi Indonesia”. Acara ini rangkaian kegiatan Hari Karantina ke 148, sekaligus HUT Badan Karantina Indonesia ke 2. Di talk show itu dibahas peningkatan produktivitas dan keberlanjutan industri kelapa sawit nasional melalui dukungan kebijakan karantina untuk introduksi plasm nutfah, dan serangga penyerbuk dari Afrika. Badan Karantina Indonesia (BKI) menegaskan peran karantina sangat krusial proses indtroduksi sumber daya genetik kelapa sawit, dan tiga species serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus, E subvittatus, E.plagiatus dari Tanzania. Karantina tidak hanya berfungsi sebagai penjaga gerbang biosecurity nasonal, tetapi mitra riset strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan energi Indonesia. Melalui pengawasan ketat, dan penerapan standar fitosanitari internasional. "Badan Karantina Indonesia memastikan seluruh proses eksplorasi, transportasi, hingga karantina berjalan aman dan sesuai protokol biosekuriti. Keberhasilan introduksi Sumber Daya Genetik, dan serangga penyerbuk dari Tanzania ini menjadi tonggak penting sejarah industri kelapa sawit Indonesia," ujar BKI, dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Sabtu (25/10). Kegiatan ini wujud nyata sinergi Badan Karantina Indonesia, Ditjen Perkebunan, BPDP, GAPKI, PT Riset Perkebunan Nusantara, Perhimpunan Ilmu Pemuliaan dan Perbenihan Indonesia, Konsorsium Plasma Nutfah Kelapa Sawit Indonesia, Perhimpunan Entomologi Indonesia dalam menjaga keberlanjutan sawit Indonesia. Upaya kolaborasi ini diharapkan memperkuat kapasitas riset perkebunan nasional, membuka peluang kerja sama internasional, serta mempercepat tercapainya ketahanan pangan dan energi berbasis sawit berkelanjutan. Kegiatan ini menegaskan komitmen PT RPN sebagai lembaga riset holding perkebunan untuk terus berinovasi dalam bidang pemuliaan tanaman dan teknologi budidaya kelapa sawit yang adaptif terhadap tantangan global.

LindungiHutan Luncurkan E-book: Edukasi Benchmarking, Bongkar Strategi Keberlanjutan! Lingkungan
Lingkungan
Senin, 20 Oktober 2025 | 10:10 WIB

LindungiHutan Luncurkan E-book: Edukasi Benchmarking, Bongkar Strategi Keberlanjutan!

Semarang, katakabar.com - Di tengah meningkatnya tuntutan praktik bisnis berkelanjutan, LindungiHutan menghadirkan sebuah e-book eksklusif berjudul “Bongkar Strategi Keberlanjutan! 100+ Laporan Sustainability Perusahaan Tercatat di BEI Siap Anda Pelajari.” Publikasi ini menjadi sumber pembelajaran strategis bagi para profesional, pelaku bisnis, dan pengambil keputusan yang ingin memahami lebih dalam implementasi ESG (Environmental, Social, Governance) di berbagai sektor industri di Indonesia. E-book ini menghimpun lebih dari 100 laporan keberlanjutan perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), lengkap dengan pengelompokan per sektor seperti energi, manufaktur, perbankan, properti, makanan dan minuman, kesehatan, transportasi, hingga pariwisata. Pembaca dapat mempelajari beragam pendekatan, indikator, serta strategi komunikasi yang diterapkan oleh perusahaan besar dalam menerjemahkan prinsip keberlanjutan ke dalam aksi nyata. “Laporan keberlanjutan bukan sekadar dokumen formalitas, tetapi cermin komitmen bisnis terhadap transparansi dan tanggung jawab sosial. Melalui e-book ini, kami ingin membantu para profesional memahami bagaimana perusahaan di Indonesia menyusun, mengukur, dan melaporkan dampak keberlanjutan mereka,” ujar Siktiyana, Head of Content and Marketing LindungiHutan. Di era bisnis modern, keberlanjutan telah menjadi syarat mutlak. Survei global menunjukkan 86 persen investor kini mempertimbangkan faktor ESG dalam keputusan investasi, sementara lebih dari 80 persen konsumen Indonesia memilih merek yang peduli lingkungan. Dengan memahami laporan-laporan ini, para ESG Officer, CSR Manager, hingga corporate decision-maker dapat menyusun strategi yang lebih kredibel, berdampak, dan selaras dengan tren regulasi nasional maupun global. E-book “Bongkar Strategi Keberlanjutan! 100+ Laporan Sustainability Perusahaan Tercatat di BEI” dapat diunduh secara gratis melalui tautan https://lynk.id/lindungihutan/q2mz92xzdqgk Selain menyediakan kompilasi laporan, e-book ini memperkenalkan sejumlah solusi keberlanjutan terpadu dari LindungiHutan yang dapat membantu perusahaan merancang dan mengelola program lingkungan secara strategis. Melalui CorporaTree, LindungiHutan menyediakan platform manajemen CSR dan ESG yang terintegrasi, mencakup proses perencanaan, implementasi, hingga pelaporan program secara transparan. Di sisi lain, IMBANGI hadir sebagai layanan kompensasi emisi karbon yang memungkinkan perusahaan mengimbangi jejak karbon mereka dengan cara yang mudah dan berkelanjutan. Sementara, CollaboraTree menawarkan inisiatif kampanye hijau bagi brand yang ingin menggabungkan aktivitas pemasaran dengan aksi nyata pelestarian lingkungan. Semua solusi ini dirancang untuk membantu bisnis menjalankan tanggung jawab sosialnya secara terukur, berdampak, dan selaras dengan prinsip keberlanjutan global. Hingga 2025, LindungiHutan telah mencatat lebih dari 1 juta pohon tertanam di 30+ lokasi di seluruh Indonesia, menyerap sekitar 48,9 ribu ton CO₂, dengan partisipasi 62 ribu pengguna dan 600+ mitra korporasi. Sejak berdiri pada 2016, platform ini menjadi penggerak kolaborasi lintas sektor dalam upaya konservasi hutan, perubahan iklim, dan pemberdayaan masyarakat pesisir serta pedesaan.

Luncurkan Program SPACE, PT REA Dorong Keterlibatan dan Keberlanjutan Petani Sawit di Kukar Sawit
Sawit
Sabtu, 11 Oktober 2025 | 17:38 WIB

Luncurkan Program SPACE, PT REA Dorong Keterlibatan dan Keberlanjutan Petani Sawit di Kukar

Kutai Kartanegara, katakabar.com - PT REA Kaltim Plantations (REA) luncurkan Program Smallholder Partnership Acceleration (SPACE), dan penyerahan sertifikat Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) dan Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL), di Gedung Pemerintah Kecamatan Kembang Janggut, Kutai Kartanegara, Jumat (10/10) kemarin. Kegiatan itu bukti komitmen keterlibatan atau inklusivitas kepada keberlanjutan, sekaligus memperkuat kemitraan bersama petani swadaya di bawah payung inisiatif Smallholder Inclusion for Ethical Sourcing (SHINES) sektor kelapa sawit. Turut hadir Bupati Kutai Kartanegara, perwakilan Dinas Perkebunan, Dinas Koperasi dan UKM, Camat Kembang Janggut dan Tabang, para kepala desa, serta perwakilan koperasi dan kelompok tani di kegiatan itu. Program SPACE hadir sebagai langkah strategis PT REA memperkuat kolaborasi antara petani, koperasi, dan desa. Fokus utamanya, meliputi empat aspek, memperluas inklusi petani, meningkatkan kesejahteraan, mendorong ekonomi desa, serta melindungi kawasan hutan. Di tahap awal, program ini melibatkan Desa Kembang Janggut, Koperasi Merah Putih, dan lebih dari 100 petani. Mereka akan mendapatkan pelatihan praktik budidaya berkelanjutan (Good Agricultural Practices), dukungan peremajaan tanaman, serta mekanisme pembayaran yang lebih cepat. “SPACE bukan sekadar program, melainkan cara baru bekerja bersama petani dan masyarakat,” kata Presiden Direktur REA, Luke Robinow. “Kami ingin petani menjadi mitra sejajar dalam membangun masa depan bersama. Tujuan kami sederhana: petani, masyarakat, lingkungan, dan perusahaan tumbuh bersama," jelasnya, dilansir dari laman sapos.co.id, Sabtu sore. Sebagai bentuk komitmen nyata, peluncuran SPACE ditandai dengan penandatanganan tiga Nota Kesepahaman (MoU) antara REA, pemerintah desa, koperasi, dan petani. MoU tersebut ditandatangani Kepala Desa Kembang Janggut, Ardiansyah, Ketua Koperasi Merah Putih, Yadi, dan Anwar sebagai perwakilan petani swadaya. Peluncuran SPACE menjadi momentum perayaan keberhasilan Program SHINES yang telah berjalan sejak 2024. Melalui kerja sama dengan lima koperasi binaan, REA membantu petani memperoleh legalitas dan kesiapan sertifikasi keberlanjutan. Dari total 173 petani yang mengajukan STDB, sebanyak 105 e-STDB telah diterbitkan, sementara 59 SPPL berhasil difasilitasi. Selain itu, REA mendukung 103 petani dalam proses sertifikasi RSPO yang mencakup 279,6 hektare dan membantu 256 petani mempersiapkan kepatuhan terhadap regulasi EUDR dengan total area 1.016,94 hektare. Bupati Kukar, dr. Aulia Rahman Basri, M.Kes, di acara peluncuran Program SPACE, disaksikan Camat Kembang Janggut, pejabat Pemkab Kukar, serta pimpinan PT REA Kaltim Plantations. “STDB dan SPPL bukan sekadar dokumen administratif, melainkan tiket menuju pasar global,” tegas Aulia Rahman Basri. “Kolaborasi antara petani, koperasi, pemerintah, dan REA memastikan sawit dari Kutai Kartanegara diakui sebagai produk legal dan berkelanjutan,” ucapnya. Hal senada disampaikan Erwinsyah K, salah seorang petani peserta program aminkan Bupati Kukar. “Dulu kami ragu apakah hasil kami akan diterima pasar. Kini, dengan STDB dan SPPL, kami punya pengakuan dan keyakinan baru bahwa hasil panen kami legal dan berkelanjutan,” timpalnya. Kepala Desa Kembang Janggut, Ardiansyah, mengutarakan dengan adanya SHINES dan SPACE, petani di desa kami belajar mengelola lahan secara bertanggung jawab sekaligus memperkuat koperasi dan kebanggaan lokal karena sawit kami kini berstandar internasional. Menurut Group Chief Sustainability Officer REA, Dr. Bremen Yong, kedua program ini menjadi pilar penting dalam strategi keberlanjutan perusahaan. "SPACE memberikan dukungan praktis seperti mekanisme pembayaran yang cepat dan bantuan peremajaan, sementara SHINES memastikan kepatuhan terhadap aspek legal dan lingkungan,” jelasnya. “Keduanya memberi stabilitas bagi petani dan komunitas untuk menatap masa depan," tambahnya. Program SPACE dan SHINES menjadi bagian dari pilar Empowering Livelihoods (Pemberdayaan Mata Pencaharian) dalam strategi keberlanjutan REA, bersama tiga pilar lainnya: Sustainable Development, Climate Action, dan Forest Conservation. Melalui pendekatan ini, REA menegaskan komitmennya untuk memberdayakan petani dan masyarakat lokal dengan menyediakan pelatihan, akses sumber daya, serta dukungan finansial agar mereka tangguh dan berdaya saing. PT REA anak perusahaan REA Holdings PLC yang terdaftar di London Stock Exchange. Berdiri sejak 1991, perusahaan ini beroperasi di Kalimantan Timur dengan fokus pada produksi minyak sawit berkelanjutan, dan inklusif. REA telah tersertifikasi RSPO sepenuhnya sejak 2023 dan hampir 100 persen tersertifikasi ISPO. Perusahaan juga mengoperasikan dua fasilitas penangkapan gas metana yang menyuplai listrik bagi kegiatan operasional serta desa sekitar. Hingga kini, REA melestarikan sekitar 18.000 hektare kawasan hutan sebagai bagian dari komitmen konservasi dan mitigasi perubahan iklim.