Kembangkan
Sorotan terbaru dari Tag # Kembangkan
CLEAR dan Shin Tae-yong Sinergi Kembangkan Talenta Muda Sepak Bola Indonesia
Jakarta, katakabar.com - CLEAR menegaskan komitmennya mendukung pengembangan sepak bola Indonesia di dalam CLEAR Men Ultra Squad Series. Berkolaborasi langsung dengan Shin Tae-yong (STY), serial dokumenter ini merangkum komitmen CLEAR dan STY untuk mewujudkan mimpi talenta muda Indonesia menjadi pemain sepak bola profesional dalam program Clear Men Ultra Squad Bootcamp. Program ini diawali dari kompetisi digital sejak Mei 2026 yang berhasil menjaring lebih dari 300 pendaftar dari seluruh Nusantara. Dari proses tersebut, 50 peserta terpilih berhak mengikuti CLEAR Men Ultra Squad Bootcamp intensif di Urban Dome, Jakarta. Selama tiga hari, mereka dilatih langsung oleh Shin Tae-yong dan tim STY Academy melalui evaluasi teknik, ketahanan mental, hingga kedisiplinan. Hasilnya, terpilih 11 talenta muda terbaik yang berhak menerima CLEAR x STY Academy Scholarship sebuah program pembinaan intensif selama tiga bulan mencakup coaching, mentoring, hingga pengembangan performa untuk menyiapkan mereka ke level sepak bola profesional. Ari Astuti, Beauty & Wellbeing Indonesia Marketing Demand Creation Hair Care, Unilever Indonesia, mengatakan.CLEAR dan Shin Tae-yong memiliki visi yang sama untuk mendukung perkembangan sepak bola Indonesia melalui pembinaan talenta muda. Program ini lahir dari keyakinan bahwa bakat saja tidak cukup tanpa wadah pembinaan yang tepat. “Banyak talenta muda Indonesia memiliki potensi besar, namun terbatas pada akses dan kesempatan pembinaan yang terstruktur. Lewat CLEAR Men Ultra Squad Bootcamp, kami tidak hanya memberikan ruang belajar langsung dari sosok legendaris seperti Shin Tae-yong, tetapi juga ingin menyampaikan pesan bahwa untuk memberikan performa terbaik, dibutuhkan fokus, disiplin, dan kepercayaan diri tanpa kompromi,” ujar Ari. Shin Tae-yong menambahkan penilaian tidak hanya didasarkan pada olah bola di lapangan, melainkan mentalitas dan komitmen para atlet muda. "Untuk menjadi pemain hebat, bakat saja tidak cukup. Kedisiplinan, kerja keras, mental yang kuat, serta kemauan untuk terus belajar adalah kunci utama. Selama bootcamp, saya melihat semangat luar biasa dari para peserta untuk terus berkembang dan beradaptasi," jelas Shin Tae-yong. CLEAR Men Ultra Squad Series mengangkat cerita tentang mimpi, ketekunan, dan kesempatan. Banyak talenta muda memiliki kemampuan, tetapi belum tentu memiliki akses, pembinaan, atau wadah yang tepat untuk berkembang. CLEAR melalui program ini hadir untuk membantu menjembatani hal tersebut. “CLEAR ingin menyampaikan setiap orang memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya dan menciptakan momen pentingnya sendiri. Untuk memberikan performa terbaik, dibutuhkan fokus, disiplin, kerja keras, dan kepercayaan diri,” jelas Ari. Dukungan Performa Maksimal Tanpa Gangguan Kulit Kepala Dalam dunia olahraga yang intensif, fokus penuh di lapangan seringkali terganggu oleh masalah fisik minor yang kerap diabaikan, seperti rasa gatal, lepek, dan ketombe akibat keringat berlebih saat latihan berat. Menjawab tantangan tersebut, CLEAR turut mengedukasi pentingnya menjaga kesehatan kulit kepala agar para pemain muda dapat tampil percaya diri dan menjaga fokus 100% pada permainan. Bersamaan dengan rangkaian program ini, CLEAR menghadirkan CLEAR Men Ultra Menthol Fresh Active yang diperkaya dengan 3X Cooling Factor (Menthol & Peppermint) untuk melawan ketombe sekaligus memberikan sensasi segar dingin hingga 48 jam. “Sepak bola adalah olahraga yang menguras fisik, konsentrasi dan juga emosi sehingga pemain dituntut untuk bisa menjaga stamina dan fokus sampai peluit berakhir. Adanya gangguan karena ketombe atau kulit kepala gatal bisa membuat pemain kehilangan fokus yang berdampak pada performanya di lapangan. Formula CLEAR Men Ultra Menthol Fresh Active terbukti mampu melindungi kulit kepala tetap sehat dan bebas ketombe sehingga pemain bisa fokus untuk menampilkan performa terbaik,” terangnya. Tonton CLEAR Men Ultra Squad Series di Kanal Digital Clear CLEAR Men Ultra Squad Series terdiri atas 10 episode, mulai dari proses seleksi, pelatihan, tantangan, hingga perkembangan para peserta selama mengikuti program. Episode pertama tayang pada 25 Juli 2026 dan episode baru hadir setiap Sabtu. Serial ini bisa disaksikan di kanal digital resmi CLEAR Indonesia, termasuk Tik Tok, Instagram, dan YouTube Shorts. "CLEAR Men Ultra Squad Docuseries memperlihatkan proses emosional dan perjuangan nyata para peserta. Kami ingin menginspirasi seluruh anak muda Indonesia untuk terus mengejar mimpinya dan tampil percaya diri memberikan performa terbaik tanpa terdistraksi oleh masalah kulit kepala dan ketombe," sebutnya.
Pemerintah Kembangkan Industri Intermediate Mineral, Regulasi dan Insentif Jadi Tantangan
Jakarta, katakabar.com - Kepastian regulasi serta jaminan insentif fiskal menjadi kunci utama bagi Pemerintah dalam mendorong pengembangan industri antara (intermediate industry) dan material lanjut (advanced materials) di Indonesia. Langkah ini mendesak dilakukan agar potensi hilirisasi mineral nasional tidak terhenti pada produk setengah jadi, melainkan mampu menembus industri manufaktur strategis bernilai tambah tinggi. Padahal, Indonesia memiliki keunggulan pada sisi hulu berkat cadangan mineral yang melimpah. Komoditas tersebut meliputi nikel, tembaga, bauksit, timah, silika, rare earth elements (REE), besi, hingga emas, perak, galium, dan tantalum. Berbagai komoditas tersebut saat ini telah diolah menjadi produk hilirisasi dasar. Untuk nikel misalnya telah menghasilkan feronikel (FeNi), nickel pig iron (NPI), mixed hydroxide precipitate (MHP), nikel sulfat, dan kobalt sulfat, sementara tembaga telah diolah menjadi copper cathode, wire rod, kabel, tube, dan strip. Sedang, bauksit telah menghasilkan alumina, aluminium ingot, billet, extrusion, plate, hingga foil. Adapun timah telah diolah menjadi tin ingot, hingga solder wire, sedangkan silika menghasilkan silica, dan REE menjadi material magnet. Tak lupa, emas perak diproduksi menjadi materi elektronik. Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi & Pertambangan (PUSHEP) Bisman Bhaktiar mengatakan, saat ini Indonesia sudah melakukan hilirisasi. Mesi demikian, produknya hanya sampai produk setengah jadi atau belum produk akhir. "Secara umum saat ini kita sudah hilirisasi namun hanya sampai produk setengah jadi atau belum produk akhir, sehingga nilai tambahnya tidak maksimal. Karena nilai tambah terbesar justru berada pada tahapan industri lanjutan dan sampai produk akhir," ungkap Bisman. Masalahnya, Indonesia masih dihadapi dengan kesenjangan terbesar pada industri antara (intermediate industry) dan advanced materials yang berfungsi sebagai penghubung antara hasil hilirisasi mineral dengan industri manufaktur strategis. Akibatnya, banyak material berteknologi tinggi masih harus dipenuhi melalui impor. Melalui laporan di forum Danantara's Advanced Materials Industry Dialogue 2026, material tersebut antara lain meliputi aluminium alloy, baja khusus, battery-grade aluminium foil dan copper foil, silicon wafer, hingga magnet permanen NdFeB. Material-material tersebut merupakan komponen penting dalam industri elektronik, energi, hingga kendaraan listrik. Selain material khusus, Indonesia juga dinilai masih memiliki keterbatasan dalam memproduksi komponen industri bernilai tinggi. Komponen tersebut mencakup chip, transistor MOSFET dan IGBT, printed circuit board (PCB), sensor, radar, modul komunikasi, motor BLDC, battery cell hingga battery pack dan battery management system (BMS), serta komponen presisi untuk industri dirgantara. "Untuk pengembangan material lanjut, maka yg penting itu Pemerintah perlu memberikan jaminan hukum, kepastian regulasi dan insentif baik fiskal dan non fiskal," terang Bisman. Ia mendorong adanya kebijakan pemerintah agar setiap kerja sama dengan asing harus dengan transfer teknologi, alih-alih hanya investasi modal. Selain itu, Indonesia juga mesti mendorong Sumber Daya Manusia (SDM) dan membangun ekosistem industri berbasis mineral. Adapun, Danantara Indonesia menggelar Danantara's Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing di Wisma Danantara Indonesia belum lama ini. Forum ini menjadi inisiasi untuk pengembangan material maju (critical minerals downstreaming ) antara PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID, PT LEN Industri (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan PT Perminas (Persero). Kerja sama ini bertujuan untuk optimalisasi supply-offtake mineral kritis dan material maju untuk kebutuhan industri strategis dalam negeri, mengakselerasi terwujudnya industri material maju nasional berskala besar melalui pengembangan teknologi bersama, serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional bernilai tambah tinggi melalui program-program industri strategis seperti, namun tidak terbatas pada, mobil dan motor listrik nasional, dirgantara, maritim, komponen dasar, pertahanan dan ketenagalistrikan.
PENAS XVII 2026 Momentum Penguatan Pengembangan Komoditas Perkebunan Termasuk Sawit Nasional di Gorontalo
Gorontalo, katakabar.com - Puncak acara Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 berlangsung di Gelanggang Olah Raga David Tony, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, di pekan keempat Juni 2026 lalu. Kegiatan yang dihadiri Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto ini jadi ajang pertemuan lebih dari 50.000 petani, nelayan, petani hutan, penyuluh, peneliti, pelaku usaha, serta pemerintah dari seluruh Indonesia untuk memperkuat sinergi pembangunan sektor pertanian dan perkebunan nasional. Pada kegiatan ini, komoditas kelapa menjadi salah satu sektor yang mendapat perhatian sebagai komoditas strategis yang berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mendukung ketahanan ekonomi daerah. Turut hadir pada acara tersebut Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang diwakili oleh Kepala Divisi Penyaluran Dana Sektor Hulu Pekebunan Kelapa, Triana Meinarsih, beserta tim. PENAS XVII Tahun 2026 digelar sebagai wadah pertukaran informasi, gelar teknologi, pengembangan kemitraan, serta penguatan jejaring antara petani, pemerintah, dunia usaha, dan lembaga penelitian. Hal ini juga selaras dengan tugas dan fungsi BPDP dalam melaksanakan program-program yang telah diamanatkan melalui Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2024 mengenai penyaluran dana untuk komoditas perkebunan (kelapa sawit, kakao, dan kelapa). Program yang diamanatkan kepada BPDP tersebut, antara lain pengembangan sumber daya manusia perkebunan, penelitian dan pengembangan perkebunan, promosi perkebunan, peremajaan perkebunan, penyediaan sarana dan prasarana perkebunan, serta pemenuhan kebutuhan pangan, bahan bakar nabati, dan hilirisasi industri perkebunan. Untuk mendukung pengembangan komoditas perkebunan (kelapa sawit, kakao, dan kelapa), BPDP berpartisipasi dalam kegiatan PENAS XVII Tahun 2026 melalui penyebarluasan informasi program pengembangan perkebunan, penguatan kapasitas pekebun, serta dukungan terhadap pengembangan komoditas perkebunan strategis nasional. Kehadiran BPDP menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara pemerintah, pekebun, dan pelaku usaha dalam mendorong peningkatan produktivitas, peremajaan tanaman, penyediaan sarana dan prasarana, serta pengembangan hilirisasi komoditas perkebunan. Sebagai salah satu daerah penghasil kelapa di Indonesia, Provinsi Gorontalo memanfaatkan momentum PENAS untuk memperkenalkan potensi besar komoditas kelapa beserta produk turunannya. Berbagai produk bernilai tambah, seperti minyak kelapa, Virgin Coconut Oil (VCO), cocopeat, coco fiber, arang tempurung, dan produk olahan lainnya, ditampilkan sebagai contoh peluang hilirisasi yang mampu meningkatkan nilai ekonomi kelapa sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Melalui kolaborasi antara BPDP, BRMP Gorontalo, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan para pekebun, PENAS XVII Tahun 2026 diharapkan menjadi katalisator percepatan pengembangan kelapa dari hulu hingga hilir. Sinergi tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil perkebunan kelapa, memperkuat kelembagaan pekebun, serta mendorong terwujudnya industri kelapa yang berdaya saing dan berkelanjutan guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
BPDP BLU Kemenkeu Dorong UKMK Kembangkan Produk Turunan Sawit
Magelang, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dorong Usaha Kecil, Mikro, dan Koperasi (UKMK) untuk kembangkan berbagai produk turunan sawit di Magelang meski bukan daerah penghasil kelapa sawit. BLU Kemenkeu menekankan hal itu ketika Workshop Pemberdayaan UKMK Magelang dan Promosi Sawit Baik 2026 usung tema "Inovasi Produk Turunan Sawit untuk Pelaku UKMK" yang digelar Majalah Hortus Archipelago bersinergi dengan BPDP di Magelang, di pertengahan Juni 2026 lalu. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menjelaskan industri sawit tawarkan banyak peluang usaha yang dapat dimanfaatkan pelaku UKMK. "Potensi-potensi kelapa sawit bisa diusahakan UKMK-UKMK, termasuk di Magelang. Meski Magelang tidak ada kelapa sawit, isu keberadaan bahan bakunya karena kita sudah terkoneksi menjadi tidak relevan," ucap Helmi melalui sambungan virtual. Pengembangan UKMK berbasis sawit sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen sejalan ditargetkan Presiden RI, H Prabowo Subianto. "Salah satu yang bisa mendukung itu adalah ketika ekonomi rakyat kita bergerak. Lantaran itu, kami ingin menginspirasi UKMK di Magelang agar bisa berinovasi membangun ekonomi berbasis sawit," imbuhnya. Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menerangkan Kabupaten Magelang memiliki potensi UKMK yang luar biasa besar dan menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Ia menilai produk turunan sawit dapat menjadi salah satu peluang usaha yang dapat dikembangkan oleh pelaku UKMK setempat. "Ketika kita mendengar kata kelapa sawit, yang pertama kali terlintas di benak kita sebagian besar pasti minyak goreng. Tetapi, kita hadir di sini untuk membuka mata dan mendobrak batasan tersebut," ulas Grengseng dalam sambutan yang dibacakan Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Magelang, Edi Wasono. Menurutnya, keunggulan usaha berbasis produk turunan sawit adalah dapat dijalankan dalam skala kecil dan menengah tanpa membutuhkan investasi besar. "Melalui sinergi dengan program Sawit Baik 2026, Grengseng berharap UKMK Magelang tidak hanya menjadi penonton dalam rantai industri sawit nasional, tetapi mampu menjadi pelaku usaha yang aktif, inovatif, dan berdaya saing," tuturnya. Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, menimpali kelapa sawit menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif dan bernilai ekonomi tinggi. Namun, potensi tersebut hanya dapat diwujudkan melalui pengetahuan, keterampilan, dan keberanian untuk berinovasi. Damar menyampaikan apresiasi kepada Majalah Hortus Archipelago yang didukung BPDP atas inisiasinya menyelenggarakan Workshop Pemberdayaan UKMK Magelang dan Promosi Sawit Baik 2026. Workshop ini tidak hanya meningkatkan kapasitas pelaku usaha, tetapi juga mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya praktik sawit yang baik dan berkelanjutan.
Dirut PTPN III Seru Generasi Muda Kembangkan Industri Perkebunan
Bogor, katakabar.com - Transformasi sektor perkebunan nasional dinilai tidak bisa hanya bertumpu pada perusahaan dan pemerintah. Keterlibatan generasi muda melalui inovasi, teknologi, dan penguatan sumber daya manusia menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing industri perkebunan Indonesia di tengah tantangan pangan, energi, dan perubahan iklim. Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara (PT Perkebunan Nusantara III), Denaldy Mulino Mauna, mengatakan sektor perkebunan memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional sehingga membutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk menjawab berbagai tantangan yang terus berkembang. "Kita harus bersama-sama membangun sektor perkebunan Indonesia. Masa depan sektor ini tidak hanya ditentukan oleh perusahaan atau pemerintah, tetapi oleh seluruh pihak yang memiliki komitmen untuk mendorong kemajuan bangsa," kata Denaldy dalam Studium Generale bertema Membangun Masa Depan Sektor Perkebunan Indonesia: Inovasi, Talenta Muda, dan Keberlanjutan di IPB University, Bogor, Selasa (9/6). Denaldy menjelaskan, transformasi industri perkebunan saat ini semakin berkaitan dengan pemanfaatan teknologi, digitalisasi, peningkatan produktivitas, dan tuntutan keberlanjutan. Lantaran itu, keterlibatan generasi muda dinilai menjadi kebutuhan untuk mempercepat adaptasi sektor perkebunan terhadap perubahan global. "Generasi muda memiliki peran penting dalam mendorong transformasi digital, peningkatan produktivitas, serta penguatan daya saing perkebunan Indonesia di tingkat global," jelasnya. Kegiatan tersebut dihadiri ratusan mahasiswa dan alumni IPB University. Turut hadir Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa IPB University M. Abdan Rofi, Founder Rembuk Pemuda Aidil Afdan Pananrang, serta Wakil Rektor I Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan IPB University Deni Noviana yang membuka acara secara resmi. Menurut Deni, forum yang mempertemukan dunia akademik dan industri penting untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai tantangan pembangunan nasional sekaligus kebutuhan dunia kerja yang terus berubah. "Kolaborasi seperti ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami tantangan pembangunan secara langsung dari para pelaku industri. Ini adalah bentuk sinergi yang perlu terus diperkuat untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan menjawab tantangan dan kebutuhan pembangunan nasional ke depannya," terang Deni. Presiden BEM KM IPB, M Abdan Rofi, menilai berbagai tantangan yang dihadapi sektor perkebunan dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk menghadirkan solusi baru melalui inovasi dan pengembangan teknologi. "Setiap tantangan selalu menghadirkan peluang. Transformasi sektor perkebunan hari ini dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk menciptakan inovasi, membangun teknologi baru, dan menghadirkan solusi yang memberikan dampak nyata bagi pembangunan nasional," ucapnya. Sementara, Aidil Afdan Pananrang menegaskan bahwa pembangunan nasional membutuhkan kontribusi seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda yang akan menjadi aktor utama pembangunan di masa depan. "Kerja-kerja untuk mengoptimalkan peluang bagi kemajuan bangsa bukanlah kerja satu atau dua pihak saja. Ini adalah kerja bersama lebih dari 200 juta jiwa yang memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan Indonesia terus bergerak maju," bebernya. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pembahasan mengenai peluang karier di sektor perkebunan, pemanfaatan teknologi pertanian dan perkebunan, hingga strategi membangun industri yang lebih berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, PTPN menegaskan komitmennya memperkuat kolaborasi dengan dunia akademik untuk mendukung pengembangan talenta muda dan transformasi sektor perkebunan nasional.
PHR Buka Magang Batch 9: Komitmen Kembangkan SDM Unggul Sektor Energi
Jakarta, katakabar.com - Sebagai komitmen perusahaan kembangkan sumber daya manusia (SDM) unggul di sektor energi, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) buka lagi Program Magang Kerja Batch 9. Program ini menghadirkan ruang belajar dan pengembangan diri bagi para lulusan terbaik, khususnya putra-putri Riau, untuk berkontribusi dalam perjalanan transformasi energi nasional. Lewat program sudah berjalan sejak 2022 lalu, peserta magang berkesempatan melihat dan terlibat langsung dengan berbagai aktivitas operasional dan bisnis perusahaan. Selama enam bulan masa magang, mereka mendapatkan pengalaman kerja nyata, pendampingan dari para profesional PHR, serta berkesempatan berkontribusi dalam berbagai proyek strategis yang mendukung operasional perusahaan. “Program ini salah satu bentuk investasi perusahaan dalam pengembangan sumber daya manusia. Kami ingin memberikan pengalaman belajar yang relevan, memperluas wawasan peserta mengenai industri hulu migas, sekaligus membuka peluang bagi mereka untuk mengembangkan potensi dan kompetensi yang dimiliki,” ujar Vice President Human Capital PHR Regional 1 Sumatra, Sanon R.A. Sitanggang, lewat keterangan resmi, Kamis siang. Peserta nanti bakal ditempatkan di berbagai fungsi, mulai dari teknik produksi, geologi, kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan (HSE), keuangan, komunikasi, hingga pengembangan teknologi dan digitalisasi operasional migas. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkaya wawasan sekaligus meningkatkan kesiapan mereka memasuki dunia kerja profesional. Program magang ini terbuka bagi lulusan D3, D4, dan S1 yang telah menyelesaikan pendidikan dan belum bekerja. Pendaftar berasal dari perguruan tinggi dengan akreditasi minimal Baik Sekali atau setara, serta memiliki indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal 3,00. Bagi peserta yang lolos nanti akan ditempatkan di seluruh Zona Rokan dan Jakarta, sesuai lokasi pilihan magang. Untuk penempatan di Riau, peserta harus memenuhi minimal salah satu kriteria berikut, yakni lahir di Riau, atau berdomisili di Riau, atau lulusan perguruan tinggi yang berada di wilayah Riau. Sedang, kesempatan magang di Jakarta terbuka bagi pelamar dari seluruh Indonesia. Pendaftaran Program Magang Kerja Batch 9 akan berlangsung pada 15 hingga 19 Juni 2026 melalui laman magangphr.id. Setelah proses pendaftaran, peserta akan mengikuti rangkaian seleksi yang meliputi tes potensi akademik dan wawancara pada periode 21 Juni hingga 10 Juli 2026. Peserta yang lolos akan mengikuti onboarding dan orientasi pada 31 Agustus 2026 sebelum memulai masa magang pada 1 September 2026. Program berlangsung hingga Februari 2027. Selama mengikuti program, peserta akan memperoleh uang saku, perlindungan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, serta sertifikat magang. Sejak pertama kali diluncurkan pada 2022, Program Magang Kerja PHR telah melibatkan lebih dari 825 putra-putri Riau dari berbagai disiplin ilmu. Dari delapan batch sebelumnya, para alumni program tersebut kini meniti karier di berbagai perusahaan energi, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, maupun membangun usaha secara mandiri. Melalui program ini, PHR terus memperkuat perannya dalam membangun talent pipeline yang berkelanjutan guna mendukung kebutuhan sumber daya manusia sektor energi Indonesia di masa depan. Tentang PT Pertamina Hulu Rokan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018. Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan Zona Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041. Daerah operasi Zona Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). Zona Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina. Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.
Holding PTPN Kembangkan Kawasan Bawang Putih Berbasis Konservasi di Jabar
Jawa Barat, katakabar.com - Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I), resmi inisiasi penyiapan lahan strategis untuk budidaya bawang putih di Jawa Barat (Jabar) sebagai langkah konkret mendukung percepatan swasembada pangan nasional. Inisiatif ini dimulai di Perkebunan Teh Gedeh, Cianjur, sebagai tindak lanjut atas instruksi Presiden Prabowo Subianto melalui Menteri Pertanian Amran Sulaiman guna memperkuat kedaulatan pangan nasional. Dalam pelaksanaannya, PTPN I menjalankan mandat ganda yang saling terintegrasi, yakni memenuhi target produksi sayuran nasional sekaligus menjaga amanat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi memulihkan fungsi ekologis perkebunan teh sebagai benteng kelestarian lingkungan. Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara III (Persero), Denaldy Mulino Mauna saat meninjau langsung Kebun Gedeh, di pekan kedua Mei 2026 lalu, menegaskan integrasi komoditas tersebut dijalankan dengan perhitungan teknis yang presisi. "PTPN I berkomitmen mengakomodasi program swasembada pangan tanpa sedikit pun mengabaikan aspek konservasi. Tanaman teh tetap menjadi bisnis pokok yang harus terlindungi. Budidaya bawang putih di area ini wajib diikuti dengan pengamanan teknis yang ketat agar areal perkebunan tetap terjaga dari risiko erosi," jata Denaldy di hadapan para petani penggarap. Sebagai tahap awal, ujarnya, PTPN I menyiapkan lahan seluas 3 hingga 200 hektare di Kebun Gedeh dengan agenda groundbreaking yang dijadwalkan berlangsung pada Mei 2026. Lahan tersebut merupakan area yang masa Perjanjian Kemitraan Masyarakatnya (PMDK) telah berakhir, sehingga kini dioptimalkan untuk mendukung program strategis nasional. Region Head PTPN I Regional 2, Desmanto, menimpali pihaknya telah memetakan tujuh unit perkebunan teh di bawah koordinasi Regional 2. Pemetaan dilakukan guna menjawab target kebutuhan lahan dari Kementerian Pertanian yang mencapai 10.000 hektare di wilayah Jawa Barat. "PTPN I menyadari keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi aktif dan kepercayaan masyarakat lokal," ucapnya. Pada sesi diskusi di lapangan, Ketua Kelompok Tani, Suhendar, memberikan refleksi atas program serupa yang pernah dijalankan pada 2017–2018 sebagai bahan evaluasi bersama. Menanggapi hal tersebut, manajemen memastikan pola kerja sama kali ini akan jauh lebih terukur, transparan, dan berorientasi pada keberlanjutan. Langkah PTPN I di Kebun Gedeh diharapkan menjadi prototipe bagaimana korporasi negara mampu menyelaraskan kebutuhan pangan nasional dengan upaya menjaga “sabuk hijau” Jawa Barat agar tetap lestari dan bebas dari ancaman bencana alam.
PTPN I Regional 2 Kembangkan 600 Ha Kebun Kopi di Gunung Halu dan Rongga
keputusan bisnis, tetapi juga bagian dari transformasi berkelanjutan untuk meningkatkan kemandirian industri perkebunan nasional. “Program hilirisasi ini ibarat sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Industri tumbuh, ekonomi daerah bergerak, tenaga kerja terserap, dan kemiskinan berkurang. Inilah semangat PTPN sebagai agent of development dan agent of change yang kami bawa sejak awal berdiri,” sebutnya.
Binus @Malang Kembangkan Inovasi Teknologi Atasi Penyakit dan Hama Apel Manalagi
Malang, katakabar.com - Kabupaten Malang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil apel terbesar di Indonesia, terutama varietas Apel Manalagi yang menjadi kebanggaan masyarakat lokal. Tetapi beberapa tahun terakhir, petani menghadapi tantangan serius akibat meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman. Kondisi ini menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas hasil panen, yang berdampak langsung pada kesejahteraan petani serta perekonomian daerah. Menanggapi fenomena tersebut, dosen Program Studi Computer Science Binus@Malang, M. Aldiki Febriantono, ST., MT mengambil langkah inovatif melalui kegiatan Inovasi Teknologi untuk Mengatasi Penyakit dan Hama pada Tanaman Apel Manalagi di Kabupaten Malang. "Kegiatan ini menjadi wujud nyata penerapan semangat Digitechpreneur, yaknipenggabungan inovasi digital dan pemecahan masalah nyata di masyarakat melalui pendekatan kewirausahaan dan teknologi," ujarnya. Langkah ini, kata Aldiki, bertujuan untuk mengatasi penurunan hasil panen yang disebabkan oleh serangan hama dan penyakit melalui penerapan teknologi digital berbasis mobile. Dengan adanya solusi ini, petani dapat lebih cepat dan akurat dalam mengidentifikasi penyakit dan hama tanaman, sehingga dapat melakukan tindakan pengendalian yang lebih efektif. "Teknologi ini diharapkan mampu meminimalkan kerugian dan meningkatkan hasil panen apel Manalagi yang berkualitas tinggi," jelasnya. Proses pengembangan ini telah dimulai sejak Januari 2025 melalui forum diskusi grup (FDG) antara Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BAPELITBANGDA) Kabupaten Malang dan Binus @Malang, kemudian berlanjut pada Agustus 2025 dengan kunjungan lapangan ke kebun apel Manalagi. Di kegiatan ini, tim dosen melakukan observasi langsung terhadap kondisi tanaman, berdialog dengan petani, serta memperkenalkan solusi digital yang diberi nama ManalagiCare. Aplikasi ManalagiCare menjadi hasil nyata dari kolaborasi ini. Aplikasi berbasis mobile ini dirancang khusus untuk membantu petani dalam mengidentifikasi penyakit dan hama tanaman apel secara real-time. Salah satu fitur unggulannya adalah identifikasi visual menggunakan kamera ponsel. Petani cukup mengarahkan kamera ke bagian tanaman yang dicurigai terinfeksi, dan aplikasi akan secara otomatis mendeteksi jenis penyakit atau hama tersebut. Setelah itu, sistem menampilkan informasi diagnostik yang jelas, termasuk jenis penyakit atau hama serta rekomendasi tindakan pengendalian yang sesuai. Dengan dukungan kecerdasan buatan (AI), aplikasi ini terus belajar dari data lapangan untuk meningkatkan akurasi deteksi dan efektivitas saran yang diberikan. Melalui teknologi ini, petani tidak hanya terbantu dalam pengambilan keputusan yang cepat dan tepat, tetapi juga mendapatkan akses terhadap informasi yang sebelumnya sulit dijangkau. Selain itu, data yang dikumpulkan dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk memantau pola serangan penyakit dan hama secara lebih luas, sehingga kebijakan pertanian dapat dibuat dengan lebih efektif dan terarah. “Kami ingin menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi solusi nyata bagi masyarakat, khususnya di sektor pertanian. Melalui pengembangan aplikasi ManalagiCare, kami berharap petani dapat memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga keberlanjutan pertanian lokal," ucap Aldiki. Selain memberikan manfaat langsung bagi petani apel Manalagi, inovasi ini juga membuka peluang penelitian lanjutan di bidang agritech, mendorong kolaborasi lintas disiplin antara teknologi informasi dan pertanian, serta memperluas dampak ekonomi daerah.
IPB Kembangkan Inkubator dan Teknologi Murah Lantaran Ekosistem UMKM Sawit Dinilai Masih Rapuh
Jakarta, katakabar.com - Pusat Studi SEAFAST Center Institut Pertanian Bogor (IPB) dorong penguatan sekaligus kembangkan ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sawit agar sektor ini dapat jadi penggerak ekonomi baru di daerah. Teknologi pembuatan minyak sawit merah, ujar Puspo, bisa diakses UMKM dengan modal sekitar Rp150 juta. “Kalau beli di Alibaba saja sudah bisa dapat mesin untuk menghasilkan minyak sawit merah,” jelas Puspo selepas Workshop Jurnalis Promosi UKM sawit bertajuk “Kolaborasi Media dan Pelaku UKM Sawit untuk Indonesia Emas 2045” di Banten, seperti dilansir Ahaď (26/10). Dijelaskannya, teknologi ini mudah diterapkan dan dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk produksi minyak makan, tetapi berbagai produk turunan seperti sabun, lotion, hingga bahan pangan bernilai tambah tinggi. “Minyak sawit merah ini memiliki kandungan antioksidan tinggi dan terbukti efektif dalam penanganan gizi buruk sebelum menjadi stunting,” terangnya. Hasil kajian SEAFAST IPB menunjukkan, minyak sawit merah mampu membantu pemulihan anak dengan gizi buruk waktu kurang dari delapan minggu. Ini menjadi peluang besar bagi UMKM untuk mengembangkan produk fungsional yang memiliki nilai sosial dan ekonomi sekaligus. Tetapi, Puspo menilai tantangan utama pengembangan UMKM sawit di Indonesia adalah belum terbentuknya ekosistem yang kuat antara pelaku usaha, lembaga riset, investor, dan pasar. Ia mencontohkan, di negara lain UMKM mampu tumbuh cepat karena dukungan angel investor dan jaringan bisnis yang solid. “Di luar negeri, banyak angel investor yang bukan hanya menanam modal, tapi juga membina UMKM. Kalau di Indonesia, itu masih minim,” tuturnya. Menurutnya, pengembangan UMKM sawit memerlukan dukungan program yang berkelanjutan, bukan sekadar penyaluran dana. “Kalau sudah disediakan Rp200 triliun untuk pembiayaan, programnya harus jelas. Bukan hanya dikucurkan, lalu selesai,” tegasnya. Ia menilai keberhasilan UMKM sawit sangat bergantung pada kekuatan jaringan antaraktor di dalam ekosistem. Contohnya, di IPB, beberapa UMKM binaan inkubator bisnis telah berhasil menghasilkan produk turunan sawit seperti gula dari nira, helm dan serat tekstil dari limbah sawit, hingga bahan pangan alternatif. “Kalau inkubator bisnisnya kuat, terhubung dengan investor, pemasaran, dan pasar luar negeri, maka UMKM sawit bisa berkembang pesat,” bebernya. Itu sebabnya, Puspo mendorong agar lebih banyak dibangun inkubator bisnis sawit di berbagai daerah. Ia menilai, kehadiran universitas, perusahaan besar, dan CSR korporasi dapat membantu menyiapkan fasilitas dan pendampingan bagi pelaku UMKM sawit di tingkat lokal. “Tidak semua harus datang jauh-jauh ke IPB. Setiap daerah sebaiknya memiliki inkubator sendiri, dengan standar pengelolaan jaringan yang baik,” ulasnya.