Makna Strategis Kunjungan Modi ke Indonesia bagi Asia Opini
Opini
Sabtu, 11 Juli 2026 | 14:16 WIB

Makna Strategis Kunjungan Modi ke Indonesia bagi Asia

Oleh: Rajiv Bhatia Jakarta, katakabar.com - Setelah melewati perjalanan panjang yang diwarnai kedekatan, periode saling menjauh, hingga hubungan yang sempat berkembang di bawah potensi sebenarnya, India dan Indonesia kini memasuki babak baru dalam kemitraan strategis mereka. Sejak kedua negara meningkatkan hubungan menjadi Comprehensive Strategic Partnership pada 2018, berbagai upaya terus dilakukan untuk memberikan makna yang lebih besar bagi hubungan bilateral tersebut. Momentum itu semakin menguat setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025 yang dinilai sukses membuka babak baru kerjasama kedua negara. Sejauh mana kemajuan yang telah dicapai dalam 18 bulan terakhir dan bagaimana hubungan tersebut akan berkembang ke depan akan semakin terlihat ketika Perdana Menteri India Narendra Modi mengunjungi Jakarta pada pekan pertama Juli. Indonesia menjadi salah satu tujuan dalam lawatan tiga negaranya, bersama Australia dan Selandia Baru. Kunjungan ini juga berlangsung saat penting dalam dinamika kawasan. Sebelumnya, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi lebih dahulu melakukan kunjungan ke India. Rangkaian diplomasi tersebut menunjukkan semakin besarnya perhatian India terhadap kawasan Indo-Pasifik. Di tengah munculnya tanda-tanda melemahnya komitmen Amerika Serikat terhadap Indo-Pasifik maupun Quadrilateral Security Dialogue (Quad), dialog Modi dengan para pemimpin empat negara demokrasi utama di kawasan memiliki arti strategis yang jauh melampaui hubungan bilateral semata. Saat ini, hubungan India dan Indonesia berada pada kondisi yang sangat kondusif. Tidak terdapat sengketa besar ataupun isu yang berpotensi mengganggu hubungan kedua negara. Hubungan personal antara Perdana Menteri Modi dan Presiden Prabowo juga terjalin dengan baik. Prabowo dikenal mengapresiasi berbagai kebijakan pembangunan yang dijalankan Modi di India, sementara Modi melihat Presiden Prabowo memiliki pendekatan yang lebih seimbang dan realistis dalam memandang peran Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik. Kedekatan tersebut memberikan ruang bagi kedua pemimpin untuk mendorong para pejabat pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya agar mempercepat implementasi berbagai agenda kerja sama yang telah disepakati. Semangat tersebut tercermin dalam Pertemuan Komisi Bersama (Joint Commission Meeting) India–Indonesia ke-8 yang digelar pada 7 Juni lalu dan dipimpin bersama oleh Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar dan Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono. Setelah melakukan peninjauan menyeluruh terhadap hubungan bilateral, kedua menteri mengidentifikasi berbagai peluang baru untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang, mulai dari politik, pertahanan dan keamanan, kemaritiman, perdagangan dan investasi, farmasi dan kesehatan, ekonomi digital, energi, konektivitas, antariksa, pendidikan, pelayanan konsuler, kebudayaan, hingga hubungan antar masyarakat. Dari hasil pertemuan tersebut, besar kemungkinan kunjungan Modi ke Jakarta akan menghasilkan sejumlah nota kesepahaman baru sekaligus peta jalan yang lebih jelas untuk memperdalam hubungan kedua negara dalam beberapa tahun mendatang. Tetapi, arti penting kunjungan ini sesungguhnya jauh melampaui penandatanganan berbagai kesepakatan. India dan Indonesia diperkirakan akan semakin menyelaraskan pandangan mereka terhadap berbagai perkembangan global, terutama setelah perang di Ukraina dan Timur Tengah, serta munculnya kemungkinan membaiknya hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Jika dinamika tersebut benar-benar berkembang, dampaknya akan sangat besar bagi kawasan Indo-Pasifik, tempat India dan Indonesia sama-sama memainkan peran penting. Indo-Pasifik merupakan rumah bersama bagi India dan Indonesia, sebagaimana juga bagi Jepang, Australia, Filipina, dan Korea Selatan. Keenam negara tersebut memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga stabilitas dan keamanan kawasan sebagai fondasi bagi kesejahteraan ekonomi masyarakatnya. Dalam situasi ketika sejumlah forum kerja sama seperti Quad mulai menghadapi tantangan internal akibat berkurangnya perhatian Amerika Serikat, muncul kebutuhan akan wadah konsultasi politik dan diplomatik baru yang lebih inklusif bagi negara-negara demokrasi utama di kawasan. Inilah salah satu dimensi strategis yang layak dicermati selama kunjungan Modi ke Jakarta. Di bidang pertahanan, terdapat harapan baru bahwa kedua negara akhirnya akan mencapai kesepakatan mengenai rencana pembelian rudal jelajah supersonik BrahMos oleh Indonesia. Menteri Pertahanan India Rajesh Kumar Singh sebelumnya mengungkapkan dalam forum Shangri-La Dialogue bahwa negosiasi mengenai transaksi tersebut telah mendekati tahap final. Apabila terealisasi, kerja sama tersebut berpotensi menjadi tonggak penting dalam hubungan pertahanan kedua negara dan membuka jalan bagi peningkatan kerja sama industri pertahanan di masa mendatang. Di bidang ekonomi, target peningkatan perdagangan bilateral dari 30 miliar dolar AS menjadi 50 miliar dolar AS memang belum tercapai sesuai jadwal. Meski demikian, target tersebut tetap menjadi agenda penting karena akan memperkuat keterkaitan ekonomi kedua negara melalui perdagangan dan investasi yang lebih produktif. Kerja sama dalam pengembangan mineral kritis serta perdagangan digital juga diperkirakan akan menjadi salah satu fokus utama pembahasan kedua pemimpin. Pernyataan bersama yang akan dikeluarkan setelah pertemuan diperkirakan akan memberikan gambaran mengenai strategi kedua pemerintah dalam mewujudkan target-target tersebut. Di era diplomasi plurilateral yang semakin berkembang, India dan Indonesia juga dipastikan akan membahas cara memperkuat koordinasi dalam berbagai forum internasional seperti G20, BRICS, maupun Indian Ocean Rim Association (IORA). Keanggotaan Indonesia sebagai anggota baru BRICS membuka peluang besar untuk memperdalam kerja sama dengan India sebagai salah satu anggota pendiri organisasi tersebut. Di sisi lain, India juga memerlukan dukungan Indonesia dalam menyukseskan penyelenggaraan KTT BRICS mendatang di New Delhi. Dalam konteks kawasan, India juga diperkirakan akan menyoroti semakin eratnya hubungan dengan ASEAN, di mana Indonesia selama ini memainkan peran sentral. Kedua pemimpin kemungkinan juga akan bertukar pandangan mengenai perkembangan situasi di Myanmar. Perbedaan pendekatan masih terlihat antara ASEAN yang tetap mengedepankan implementasi Konsensus Lima Poin dan kebijakan India yang mulai beradaptasi dengan realitas politik baru di Myanmar, sebagaimana tercermin dari kunjungan resmi pemimpin Myanmar Min Aung Hlaing ke New Delhi beberapa waktu lalu. Sementara itu, pengumuman India mengenai Great Nicobar Project pada 1 Mei lalu juga memberikan dimensi baru bagi hubungan kedua negara. Proyek yang bertujuan menjadikan Kepulauan Andaman dan Nicobar sebagai pusat maritim dan ekonomi strategis tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan Indonesia mengingat kedekatan geografis kedua wilayah. Pada konteks yang sama, kedua negara juga memiliki kepentingan bersama untuk memperkuat konektivitas kawasan dan mendorong pengembangan Bay of Bengal Initiative for Multi-Sectoral Technical and Economic Cooperation (BIMSTEC). Indonesia dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mewujudkan visi terbentuknya komunitas ekonomi Teluk Benggala yang lebih terintegrasi. Berbagai isu tersebut sesungguhnya telah menjadi pembahasan dalam dua putaran Dialog Track 1.5 antara Gateway House: Indian Council on Global Relations dari Mumbai dan Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia yang diselenggarakan di Mumbai dan Jakarta pada September 2024 dan September 2025. Rekomendasi yang dihasilkan dari dialog tersebut bahkan mendapat pengakuan resmi dan dicantumkan dalam pernyataan bersama India dan Indonesia pada Januari 2025. Kini, kedua ibu kota telah memiliki berbagai gagasan kebijakan yang bersifat visioner sekaligus pragmatis. Tantangan berikutnya bukan lagi mencari ide baru, melainkan menerjemahkan berbagai gagasan tersebut menjadi langkah nyata yang mampu mempererat hubungan India dan Indonesia, sekaligus memperkuat keterhubungan antara Asia Selatan dan Asia Tenggara.

PM Modi Kunjungan ke Indonesia: Pertahanan, Ekonomi Digital dan Investasi Agenda Utama Internasional
Internasional
Sabtu, 11 Juli 2026 | 10:35 WIB

PM Modi Kunjungan ke Indonesia: Pertahanan, Ekonomi Digital dan Investasi Agenda Utama

Jakarta, katakabar.com - Perdana Menteri India, Narendra Modi memulai kunjungan resmi selama dua hari ke Indonesia mulai 7 Juli 2026, dengan agenda pembahasan yang mencakup kerja sama pertahanan, perdagangan dan investasi, ekonomi digital, ketahanan pangan dan energi, serta penguatan kemitraan strategis antara kedua negara. Modi dijadwalkan tiba di Jakarta pada malam 6 Juli sebelum memulai agenda resmi pada 7 Juli. Kunjungan tersebut kunjungan balasan setelah Presiden RI, H Prabowo Subianto menghadiri perayaan Hari Republik India sebagai tamu utama pada Januari 2025. Setelah menyelesaikan agenda di Jakarta, Modi dijadwalkan melanjutkan kunjungan ke Yogyakarta sebelum meneruskan lawatan regionalnya ke Australia. Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty mengatakan kunjungan tersebut akan diisi dengan pembahasan mendalam mengenai isu bilateral, regional, dan global serta diperkirakan menghasilkan sejumlah capaian konkret di berbagai sektor. “Kami menantikan kunjungan yang sangat substantif oleh Perdana Menteri dan diskusi yang panjang mengenai berbagai isu, tidak hanya bilateral tetapi juga isu regional dan global,” kata Chakravorty dalam konferensi pers di Kedutaan Besar India di Jakarta, Jumat (3/7). Visi Pembangunan dan Kemitraan Strategis Dubes Chakravorty mengatakan India dan Indonesia memiliki pengalaman sejarah dan aspirasi pembangunan yang serupa sehingga kerja sama antara kedua negara menjadi semakin relevan. Menurutnya, kedua negara sama-sama memiliki visi pembangunan jangka panjang melalui Viksit Bharat 2047 dan Indonesia Emas 2045, yang menargetkan status negara maju pada usia 100 tahun kemerdekaan masing-masing. “Tantangan bagi kita semua adalah bagaimana membuat hubungan ini menjadi relevan dan mampu meningkatkan kehidupan masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan India dan Indonesia memiliki pengalaman kolonialisme dan perjalanan pembangunan yang serupa sehingga kedua negara dapat saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. “Kami percaya India dan Indonesia memiliki sejarah yang serupa. Kami harus berbagi keahlian untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” jelasnya. Sebagai dua negara berkembang besar di Global South, India dan Indonesia dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat kerja sama antarnegara berkembang dan memberikan kontribusi terhadap stabilitas serta pertumbuhan ekonomi kawasan Indo-Pasifik. Pertahanan, Investasi dan Kerja Sama Strategis Kerja sama pertahanan dan keamanan maritim diperkirakan menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan antara Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Modi. Dubes Chakravorty mengatakan kedua negara memiliki kepentingan bersama dalam keamanan maritim, penanganan pencurian ikan ilegal, pembajakan, bantuan kemanusiaan, serta penanggulangan bencana. Ia juga mengonfirmasi pembahasan mengenai sistem rudal BrahMos masih berlangsung. “Diskusi dengan Indonesia sudah sangat maju dan kami berharap dapat menyelesaikan sejumlah kesepakatan terkait BrahMos,” ucapnya. Menurutnya, kerja sama pertahanan tidak hanya berkaitan dengan pembelian alat utama sistem persenjataan, tetapi juga penguatan industri pertahanan dan kemandirian nasional. India, yang kini telah berkembang menjadi eksportir peralatan pertahanan, ingin berbagi pengalaman tersebut dengan Indonesia yang juga berupaya memperkuat industri pertahanannya. Selain pertahanan, kedua negara juga akan membahas ketahanan pangan, ketahanan energi, hilirisasi industri, serta pengembangan mineral kritis. “Kami melihat peluang investasi di Indonesia dan memproduksi di Indonesia untuk dunia,” tutur Dubes Chakravorty. Ia menambahkan India tengah menjajaki peluang investasi bersama Danantara dan berbagai pihak terkait untuk mengembangkan industri manufaktur yang dapat melayani pasar India maupun pasar global. Sejumlah nota kesepahaman juga tengah dipersiapkan menjelang kunjungan tersebut, mencakup bidang kesehatan, farmasi, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kerja sama antariksa, ketahanan pangan, hingga hilirisasi industri. “Sebagian masih dalam proses, sebagian akan diselesaikan tepat waktu, dan sebagian mungkin memerlukan waktu lebih lama, tetapi tetap akan ada hasil dari kunjungan ini,” jelasnya. Dubes India juga mengungkapkan bahwa terdapat usulan agar Modi menyampaikan pidato di DPR RI selama kunjungan tersebut, meskipun keputusan final masih menunggu konfirmasi. “Ada usulan tersebut dan kami masih menunggu konfirmasi,” ulasnya. Indonesia Open Network Jadi Sorotan Kunjungan Salah satu hasil paling penting yang diperkirakan lahir dari kunjungan Modi adalah peluncuran Indonesia Open Network (ION), sebuah infrastruktur publik digital yang dirancang untuk memperluas akses ekonomi digital. Program tersebut merupakan tindak lanjut dari kerja sama digital yang disepakati saat kunjungan Presiden Prabowo ke India pada 2025 dan dikembangkan bersama Kementerian Komunikasi dan Digital serta Kementerian UMKM. Menurut Dubes Chakravorty, ION dirancang untuk membantu pelaku UMKM, warung, masyarakat di daerah terpencil, dan pelaku usaha perempuan agar dapat memasuki ekonomi digital tanpa menghadapi hambatan biaya maupun teknologi. “Ini adalah platform perdagangan digital berbasis jaringan yang memberdayakan UMKM, warung, daerah terpencil, dan perempuan yang ingin masuk ke ruang perdagangan digital,” bebernya. Platform tersebut nantinya dapat digunakan untuk perdagangan digital, logistik, layanan mobilitas, hingga berbagai aplikasi digital lainnya. Dubes Chakravorty mengatakan Indonesia berpotensi menjadi pelopor dalam penerapan jaringan perdagangan digital terbuka. “Indonesia akan menjadi pionir dalam adopsi jaringan terbuka untuk perdagangan digital,” imbuhnya. Ia menambahkan Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Modi diperkirakan akan meluncurkan ION secara resmi selama kunjungan tersebut. Menurutnya, inisiatif tersebut dapat menjadi langkah penting dalam memperluas akses ekonomi digital di berbagai wilayah Indonesia dan membuka peluang yang lebih besar bagi pelaku usaha kecil. Kunjungan ke Yogyakarta dan Kerja Sama Budaya Setelah menyelesaikan agenda di Jakarta, Modi dijadwalkan mengunjungi Yogyakarta. Kunjungan tersebut berkaitan dengan komitmen India untuk mendukung restorasi Candi Prambanan yang telah disepakati kedua negara pada 2025. Archaeological Survey of India (ASI) telah melakukan kajian awal terhadap proyek tersebut. Lembaga tersebut sebelumnya terlibat dalam restorasi Angkor Wat di Kamboja serta sejumlah situs warisan budaya di Laos dan Vietnam. Dubes Chakravorty menilai proyek tersebut dapat memperkuat hubungan budaya sekaligus mendorong sektor pariwisata. “Jika candi tersebut dipulihkan, saya yakin akan menarik wisatawan dari seluruh dunia, termasuk dari India,” katanya. Ia menambahkan Yogyakarta memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata internasional dan restorasi Prambanan dapat mendukung pengembangan sektor pariwisata Indonesia. Kemitraan Strategis yang Terus Berkembang Hubungan India dan Indonesia saat ini berada pada fase yang semakin erat dan multidimensi, mencakup kerja sama di bidang pertahanan, kesehatan, pendidikan, farmasi, teknologi, antariksa, hingga pertanian. “Secara umum, saya dapat mengatakan bahwa hubungan ini sangat dekat dan bersahabat,” ujar Dubes Chakravorty. Menurutnya, kedua negara tidak hanya berbagi sejarah dan pengalaman pembangunan yang serupa, tetapi juga menghadapi tantangan yang sama sebagai negara berkembang besar di kawasan Indo-Pasifik. Di tengah dinamika geopolitik global, hubungan yang lebih erat antara India dan Indonesia dinilai semakin penting untuk memperkuat stabilitas kawasan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Dua Demokrasi, Satu Ruang Digital: Apa Makna Kunjungan Narendra Modi untuk UMKM Indonesia? Opini
Opini
Kamis, 09 Juli 2026 | 13:10 WIB

Dua Demokrasi, Satu Ruang Digital: Apa Makna Kunjungan Narendra Modi untuk UMKM Indonesia?

Oleh: T Koshy Jakarta, katakabar.com - Ketika Perdana Menteri India, Narendra Modi tiba di Jakarta pada Selasa, 7 Juli 2026, perhatian publik kemungkinan akan tertuju pada agenda-agenda besar yang biasa menyertai kunjungan kenegaraan. Akan ada pembicaraan mengenai perdagangan, investasi, kerjasama strategis, hingga dinamika geopolitik Indo-Pasifik. Tetapi, dampak terbesar dari hubungan Indonesia dan India justru mungkin akan dirasakan oleh pelaku usaha kecil di Yogyakarta, pedagang tekstil di Solo, atau pemilik warung di berbagai daerah di Indonesia. Dampak tersebut datang dari sesuatu yang mungkin tidak banyak mendapat sorotan, yakni Indonesia Open Network atau ION. Kunjungan Modi ke Indonesia merupakan balasan atas kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025 ketika beliau menjadi tamu utama perayaan Hari Republik India. Selain menghasilkan berbagai kesepakatan di bidang pertahanan, perdagangan, dan farmasi, kedua negara juga menandatangani nota kesepahaman mengenai kerja sama pengembangan digital. Kerja sama tersebut kini mulai menghasilkan langkah nyata. Pada Februari 2026, Kementerian UMKM bersama Kementerian Komunikasi dan Digital meluncurkan ION, sebuah jaringan perdagangan digital berbasis protokol terbuka yang terinspirasi dari pengalaman India melalui Open Network for Digital Commerce (ONDC). Yang menarik, ION sejak awal memang dirancang sebagai jembatan Indonesia dan India. Di dalam dewan penasihatnya terdapat tokoh-tokoh Indonesia seperti Shinta Kamdani, Ilham Habibie, dan Rudiantara, yang bekerja bersama para tokoh yang membangun ONDC sejak tahap awal, termasuk R.S. Sharma dan tim pendiri ONDC. Dua Negara, Dua Pengalaman India dan Indonesia sebenarnya menempuh jalan yang berbeda, tetapi menuju tujuan yang sama. India membangun infrastruktur digital publik melalui Aadhaar untuk identitas digital, UPI untuk sistem pembayaran, dan ONDC untuk perdagangan digital. Selama satu dekade terakhir, model ini menjadi salah satu sistem digital publik yang paling banyak dipelajari di dunia. Yang ditawarkan India bukanlah produk teknologi. India menawarkan pengalaman membangun fondasi digital yang terbuka, sehingga bank, perusahaan teknologi, lembaga keuangan, maupun pelaku usaha dapat terhubung dalam satu ekosistem. UPI kini memproses puluhan miliar transaksi setiap tahun. Sementara ONDC memungkinkan sebuah toko kecil ditemukan oleh konsumen melalui aplikasi yang bahkan tidak mereka miliki sendiri. Pedagang tidak lagi harus bergantung pada satu platform atau menghadapi biaya komisi yang tinggi. Indonesia sendiri juga membangun fondasi yang sama pentingnya. QRIS telah menjadi standar pembayaran nasional yang berhasil menghubungkan berbagai bank dan dompet digital. Jutaan UMKM kini dapat menerima pembayaran digital dengan sistem yang sederhana dan terjangkau. Tetapi Indonesia memiliki tantangan yang berbeda. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 270 juta penduduk, persoalan logistik, konektivitas, dan pemerataan digital jauh lebih kompleks dibanding India. Karena itu kerja sama ini menjadi penting. Bukan karena satu negara lebih maju dari yang lain, melainkan karena kedua negara sampai pada kesimpulan yang sama: infrastruktur digital sebaiknya dibangun sebagai ruang bersama yang terbuka, bukan ekosistem tertutup yang hanya menguntungkan segelintir pihak. Mengapa Ini Penting bagi UMKM Ukuran keberhasilan sebuah infrastruktur digital bukanlah seberapa sering ia disebut dalam forum internasional atau dokumen diplomatik. Yang lebih penting adalah apakah ia mampu membantu pelaku usaha kecil mendapatkan pelanggan dan membantu masyarakat memperoleh akses yang lebih mudah terhadap layanan digital. Pengalaman ONDC di India menunjukkan bahwa ketika jaringan digital dibangun secara terbuka, pelaku usaha kecil tidak lagi harus mengeluarkan biaya besar untuk mendapatkan pelanggan. Produk mereka dapat ditemukan melalui berbagai aplikasi yang terhubung ke jaringan yang sama. Beberapa studi awal terhadap UMKM yang bergabung dengan ONDC menunjukkan adanya peningkatan pendapatan, khususnya di kota-kota kecil yang sebelumnya memiliki akses pasar yang terbatas. Indonesia menghadapi persoalan yang serupa. Dengan sekitar 64 juta UMKM, sebagian besar pelaku usaha masih bergantung pada sejumlah marketplace besar dan memiliki posisi tawar yang terbatas dalam menentukan biaya maupun komisi. Akses digital juga masih belum merata. ION berusaha menjawab persoalan tersebut. Jaringan ini tidak hanya dirancang untuk perdagangan barang. Di masa depan, layanan kesehatan, pendidikan, pertanian, logistik, dan layanan keuangan juga dapat terhubung melalui protokol yang sama. Dengan demikian, pelaku usaha kecil tidak perlu membangun seluruh sistem sendiri. Indonesia juga memiliki keuntungan karena tidak memulai dari nol. Pengalaman India selama beberapa tahun terakhir memberikan pelajaran yang sangat berharga, termasuk mengenai tantangan, hambatan, dan kesalahan yang pernah terjadi. Dukungan Politik yang Dibutuhkan ION sebenarnya sudah berjalan. Dewan penasihat telah terbentuk, berbagai inisiatif awal telah dilakukan, dan sejumlah pemangku kepentingan telah terlibat. Namun, yang dibutuhkan sekarang adalah dukungan politik yang kuat agar inisiatif ini dapat berkembang dalam skala yang lebih besar. Kunjungan Perdana Menteri Modi dapat memberikan momentum tersebut. Apabila kedua pemimpin secara jelas menempatkan ION sebagai prioritas bersama dengan target, dukungan kelembagaan, dan agenda implementasi yang konkret, maka dampaknya bagi UMKM Indonesia dan India bisa jauh lebih besar dibanding banyak hasil kunjungan kenegaraan lainnya. Hal ini juga memiliki arti yang lebih luas. Selama satu dekade terakhir, infrastruktur digital dunia banyak didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar dari Amerika Serikat dan China. Indonesia dan India menawarkan pendekatan yang berbeda, yakni membangun jaringan digital yang terbuka dan dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak pelaku. Kedua negara yang secara bersama-sama mewakili lebih dari seperlima populasi dunia ini menunjukkan bahwa ekonomi digital berskala besar tidak harus bergantung sepenuhnya pada platform tertutup. Indonesia membawa keberhasilan QRIS dan kekuatan 64 juta UMKM, dan India membawa pengalaman membangun ONDC dan infrastruktur digital publik. Keduanya memiliki sesuatu yang sama pentingnya untuk dibagikan. Apabila kunjungan Modi mampu mempercepat perjalanan ION dari tahap peluncuran menuju implementasi yang lebih luas, maka manfaatnya mungkin akan lebih terasa oleh pedagang kecil dan pembeli biasa dibandingkan banyak kesepakatan besar yang diumumkan dalam kunjungan kenegaraan.

Kunjungan Modi ke Indonesia: Mampukah Hubungan India-Indonesia Melompat Lebih Jauh? Opini
Opini
Senin, 06 Juli 2026 | 14:04 WIB

Kunjungan Modi ke Indonesia: Mampukah Hubungan India-Indonesia Melompat Lebih Jauh?

Oleh: Gurjit Singh Jakarta, katakabar.com - Kunjungan Perdana Menteri India, Narendra Modi ke Indonesia dijadwalkan berlangsung waktu dekat menghadirkan peluang untuk mengangkat salah satu kemitraan strategis yang paling belum dimanfaatkan secara optimal di Asia. Sebagai dua negara demokrasi besar, kekuatan maritim, anggota G20, dan suara penting bagi Global South, India dan Indonesia selama ini belum sepenuhnya memaksimalkan potensi hubungan bilateral mereka. Kunjungan ini berpotensi menjadi titik balik yang penting. Namun, hal tersebut hanya dapat terwujud apabila kedua negara mampu melampaui simbolisme diplomatik dan mulai melembagakan kerja sama di bidang perdagangan, teknologi, konektivitas, keamanan maritim, serta hubungan antar masyarakat. Dari Kemitraan Strategis Menuju Konvergensi Strategis Hubungan kedua negara memperoleh momentum penting saat Presiden Indonesia Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke India pada Januari 2025, yang bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Lima kesepakatan yang mencakup bidang kesehatan, pengobatan tradisional, kerja sama digital, keamanan maritim, dan pertukaran budaya menunjukkan semakin luasnya agenda bilateral. Kehadiran Presiden Prabowo sebagai tamu utama dalam perayaan Hari Republik India juga menegaskan meningkatnya arti penting Indonesia dalam strategi Indo-Pasifik India. Pertanyaan yang lebih besar tetap muncul: apakah berbagai capaian tersebut mampu menghasilkan lompatan besar dalam hubungan kedua negara? Jawabannya bergantung pada kemampuan India dan Indonesia untuk mengubah hubungan yang selama ini banyak didorong oleh kedekatan diplomatik menjadi hubungan yang didasarkan pada saling ketergantungan ekonomi dan teknologi. Fondasi Sudah Terbangun Secara historis, India dan Indonesia memiliki hubungan peradaban yang kuat dan saling pengertian politik yang mendalam. Kerja sama dalam perjuangan antikolonial, semangat Konferensi Asia-Afrika Bandung, serta dukungan terhadap tatanan dunia yang lebih multipolar telah menciptakan fondasi hubungan yang kokoh. Beberapa tahun terakhir, sejumlah perkembangan positif juga terlihat. Kerja sama maritim dan angkatan laut terus berkembang melalui patroli dan latihan bersama. Hubungan pertahanan semakin erat, termasuk meningkatnya ketertarikan Indonesia terhadap peralatan pertahanan India. Pertukaran budaya dan pendidikan juga terus meningkat, termasuk dukungan India terhadap pelestarian kompleks Candi Prambanan. Selain itu, investasi India di Indonesia mulai bertumbuh, pembahasan mengenai mekanisme perdagangan menggunakan mata uang lokal terus berjalan, dan kerja sama antara Penjaga Pantai India dengan BAKAMLA Indonesia semakin diperkuat. Namun demikian, perdagangan bilateral masih berada di bawah potensi yang sesungguhnya. Investasi India di Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan China, Jepang, Korea Selatan, maupun Singapura. Hubungan India-Indonesia kerap digambarkan sebagai hubungan yang penting secara strategis, tetapi belum berkembang secara optimal dari sisi ekonomi. Mengapa Momentum Saat Ini Berbeda Sejumlah perkembangan global menjadikan momentum saat ini sangat berbeda dibandingkan periode sebelumnya. Kepemimpinan Global South India dan Indonesia semakin memandang diri mereka sebagai pemimpin Global South. Sebagai dua negara berkembang besar, keduanya memiliki kepentingan bersama dalam reformasi tata kelola global, pembiayaan iklim, pendanaan pembangunan, ketahanan pangan, serta akses terhadap teknologi. Di tengah globalisasi yang menghadapi tekanan akibat rivalitas geopolitik, fragmentasi rantai pasok, dan meningkatnya proteksionisme, India dan Indonesia memiliki kesempatan untuk bersama-sama memperjuangkan tatanan ekonomi yang lebih inklusif. Berbeda dengan banyak kerja sama Global South yang sering kali hanya bersifat retoris, India dan Indonesia memiliki skala ekonomi dan pengaruh diplomatik yang cukup besar untuk memengaruhi berbagai forum internasional seperti G20, BRICS, dan ASEAN. Ketahanan Pangan dan Energi Kedua negara juga menghadapi tantangan yang serupa dalam menghadapi inflasi pangan, fluktuasi harga energi, dan dampak perubahan iklim. Indonesia merupakan produsen penting komoditas seperti minyak sawit, nikel, dan batu bara, sementara India merupakan salah satu pasar konsumen terbesar di dunia. Investasi bersama dalam pengolahan pangan, pupuk, energi terbarukan, biofuel, dan cadangan strategis dapat meningkatkan ketahanan kedua negara. Ketahanan pangan dan energi berpotensi menjadi salah satu pilar terkuat kerja sama masa depan karena didorong oleh kepentingan jangka panjang, bukan sekadar pertimbangan politik jangka pendek. Peluang Besar di Bidang Maritim dan Pertahanan Dimensi maritim mungkin menawarkan peluang strategis yang paling besar. Indonesia berada di jalur strategis Selat Malaka, Selat Lombok, dan Selat Sunda, yang merupakan salah satu titik paling penting dalam geopolitik Indo-Pasifik. Sementara itu, India terus memperkuat keterlibatan maritimnya di kawasan timur melalui kebijakan Act East dan strategi Indo-Pasifik. Kedua negara memiliki berbagai kepentingan yang sama, mulai dari kebebasan navigasi, peningkatan kesadaran domain maritim, penanggulangan penangkapan ikan ilegal, pemberantasan pembajakan dan kejahatan lintas negara, pengamanan rantai pasok, hingga respons terhadap bencana. Tahap berikutnya dari kerja sama maritim seharusnya tidak lagi terbatas pada latihan bersama. Kolaborasi industri pertahanan, fasilitas pemeliharaan, produksi bersama, serta transfer teknologi dapat menjadi agenda yang lebih strategis. Keinginan Indonesia untuk mendiversifikasi pemasok pertahanan juga membuka peluang yang lebih besar bagi sistem dan platform pertahanan India. Kemitraan Digital Berpotensi Mengubah Permainan Bidang yang mungkin paling menjanjikan adalah kerja sama digital. Peluncuran Indonesia Open Network (ION), yang terinspirasi oleh Open Network for Digital Commerce (ONDC) di India, mencerminkan transfer pengetahuan yang penting dalam bidang infrastruktur digital publik. Keberhasilan India dalam membangun berbagai digital public goods, mulai dari sistem identitas digital hingga infrastruktur pembayaran, telah menarik perhatian dunia. Dengan ekonomi digital yang besar dan terus berkembang, Indonesia menjadi mitra yang ideal untuk mengadaptasi berbagai inovasi tersebut. Kerja sama digital ke depan dapat mencakup pembangunan infrastruktur digital publik, pengembangan kecerdasan buatan, keamanan siber, teknologi finansial, digitalisasi UMKM, serta pengembangan keterampilan digital. Di tengah persaingan teknologi global yang semakin intensif, kemitraan digital India dan Indonesia berpotensi menjadi model kerja sama baru bagi negara-negara Global South. Tantangan Masih Menghambat Meski terdapat optimisme, sejumlah kendala masih menghambat kemajuan hubungan kedua negara. Kurangnya Pemahaman Salah satu tantangan terbesar adalah minimnya pemahaman kedua negara satu sama lain. Banyak pelaku bisnis India justru lebih memahami Eropa, Amerika Utara, atau negara-negara Teluk dibandingkan Indonesia. Sebaliknya, banyak masyarakat Indonesia masih melihat India terutama melalui lensa sejarah dan budaya. Institusi yang mendorong pertukaran pemikiran secara berkelanjutan masih sangat terbatas. Karena itu, penguatan think tank, jaringan akademik, dan lembaga penghubung menjadi kebutuhan yang mendesak. Persoalan Persepsi Sebagian pemangku kepentingan di Indonesia juga menilai bahwa beberapa pihak di India masih memandang hubungan bilateral melalui perspektif "senioritas peradaban" dengan terlalu menekankan pengaruh historis India terhadap budaya Indonesia. Narasi seperti ini berpotensi menimbulkan resistensi. Indonesia modern adalah negara yang berdaulat dan memiliki identitasnya sendiri. Oleh karena itu, hubungan masa depan harus dibangun atas dasar kemitraan yang setara, bukan warisan budaya semata. Ekosistem Bisnis yang Belum Kuat Perusahaan India juga sering menghadapi kesulitan dalam memahami lanskap politik dan regulasi Indonesia. Dibandingkan perusahaan Jepang dan China, banyak perusahaan India dinilai masih memiliki jaringan lokal yang lebih terbatas. Berbagai tantangan seperti proses administrasi yang lambat, keterbatasan fasilitasi bisnis, hambatan dalam pengadaan pemerintah, serta kurangnya informasi pasar masih menjadi kendala. Selain itu, infrastruktur diplomasi ekonomi dan komersial India juga kerap dinilai masih kurang dibandingkan beberapa negara pesaing. Mobilitas Sumber Daya Manusia Hubungan bisnis kedua negara masih banyak didominasi oleh tingkat CEO dan manajemen senior. Mobilitas profesional muda, peneliti, mahasiswa, perusahaan rintisan, dan tenaga kerja terampil masih relatif terbatas. Padahal, peningkatan mobilitas dapat memperkuat pemahaman dan menciptakan basis dukungan yang lebih luas bagi hubungan bilateral. Kurangnya Proyek Unggulan Salah satu kelemahan yang paling terlihat adalah minimnya proyek-proyek unggulan yang dapat menjadi simbol keberhasilan kerja sama. China memiliki proyek infrastruktur. Jepang memiliki kawasan industri. Korea Selatan memiliki ekosistem manufaktur. India memerlukan proyek serupa, seperti taman teknologi, pusat layanan kesehatan unggulan, laboratorium kecerdasan buatan bersama, kemitraan universitas, kolaborasi pendidikan bergaya IIT, atau pusat manufaktur farmasi. Tanpa keberhasilan yang terlihat secara nyata, persepsi publik akan terus tertinggal dibandingkan retorika diplomatik. Mampukah Kunjungan Modi Menghasilkan Lompatan Besar? Lompatan besar sangat mungkin terjadi, tetapi tidak otomatis terwujud. Keberhasilan bergantung pada kemampuan kedua negara untuk mengubah hubungan yang selama ini didasarkan pada niat baik strategis menjadi kerja sama yang menghasilkan capaian konkret. Tiga prioritas menjadi sangat penting. Pertama, membangun kemitraan teknologi dan digital yang komprehensif dengan fokus pada kecerdasan buatan, infrastruktur digital publik, dan inovasi. Kedua, menciptakan proyek-proyek unggulan di bidang kesehatan, pendidikan, dan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ketiga, memperdalam kerja sama maritim dan industri pertahanan sehingga kemitraan India-Indonesia dapat menjadi salah satu pilar stabilitas Indo-Pasifik. India dan Indonesia saat ini memiliki konvergensi kepentingan yang sangat jarang terjadi. Keduanya memiliki kepentingan dalam kepemimpinan Global South, keamanan maritim, ketahanan pangan dan energi, serta pengembangan teknologi masa depan. Kunjungan Presiden Prabowo ke India pada 2025 telah menciptakan momentum. Kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia memberikan kesempatan untuk mengubah momentum tersebut menjadi transformasi strategis. Apakah hubungan India dan Indonesia dapat mengalami lompatan besar akan lebih ditentukan oleh implementasi dibandingkan deklarasi. Apabila kedua negara mampu mengatasi kesenjangan pengetahuan, hambatan birokrasi, dan berbagai kesalahpahaman, serta menghadirkan proyek-proyek unggulan yang nyata, maka kemitraan India dan Indonesia berpotensi menjadi salah satu hubungan bilateral paling penting di kawasan Indo-Pasifik sekaligus model kerja sama Global South yang praktis dalam dekade mendatang.

Kunjungan Kapal Pesiar Meningkat, Pelindo Multi Terminal Dorong Pariwisata dan Ekonomi Daerah Wisata
Wisata
Rabu, 25 Februari 2026 | 13:00 WIB

Kunjungan Kapal Pesiar Meningkat, Pelindo Multi Terminal Dorong Pariwisata dan Ekonomi Daerah

Medan, katakabar.com - PT Pelindo Multi Terminal (SMPT), Subholding PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang bergerak di bidang operasional terminal nonpetikemas, mencatat tren pertumbuhan positif kunjungan kapal pesiar di tiga branch/cabang pelabuhan yang dikelolanya sepanjang tahun 2025. Sepanjang 2025, Pelindo Multi Terminal melayani 49 kunjungan kapal pesiar di Pelabuhan Tanjung Emas (Semarang), Lembar (Lombok Barat), dan Parepare (Sulawesi Selatan). Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2024 yang mencatat 47 kunjungan kapal pesiar. Dari total kunjungan tersebut, Branch Tanjung Emas mencatat 24 kapal pesiar, Branch Lembar sebanyak 24 kapal pesiar, dan Branch Parepare melayani 1 kapal pesiar selama tahun 2025. Kapal-kapal pesiar tersebut membawa total 119.377 wisatawan mancanagera, meningkat dari 114.304 wisawatan pada 2024, atau tumbuh sekitar 4,4 persen (yoy). “Pelindo Multi Terminal memastikan kesiapan fasilitas pelabuhan dalam melayani kapal pesiar, mulai dari dermaga dan terminal penumpang, pengaturan arus wisatawan, hingga aspek keselamatan dan kemanan. Peningkatan kunjungan kapal pesiar sepanjang tahun 2025 menunjukkan bahwa pelabuhan-pelabuhan yang dikelola Pelindo Multi Terminal semakin diminati sebagai destinasi singgah,” ujar VP Komunikasi Korporasi Pelindo Multi Terminal, Farid Chairmawan. Menurutnya, perusahaan juga terus bersinergi dan berkolaborasi dengan pemerintah daerah, dinas pariwisata setempat, pelaku industri perjalanan wisata, serta UMKM lokal dalam penyambutan wisatawan mancanegara melalui atraksi budaya, promosi destinasi wisata, dan penyediaan ruang bagi produk-produk lokal sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat. "Dari Pelabuhan Tanjung Emas, wisatawan kapal pesiar kerap mengunjungi berbagai destinasi wisata antara lain Candi Borobudur, Candi Gedong Songo, wisata sejarah di Ambarawa, serta city tour mengelilingi Kota Semarang," jelasnya. Sedang, dari Pelabuhan Lembar, wisatawan umumnya mengunjungi berbagai destinasi unggulan di Lombok seperti Senggigi, Tiga Gili, Museum di Kota Mataram, Sekotong, hingga Mandalika. Dari Pelabuhan Parepare, wisatawan kapal pesiar menikmati wisata kota dan budaya Sulawesi Selatan. “Ke depan, kami akan terus meningkatkan kualitas layanan sehingga harapannya tren kunjungan kapal pesiar tahun 2026 bisa terus bertumbuh positif. Kami juga terus bersinergi dan berkolaborasi dengan sejumlah stakeholders sehingga kunjungan kapal pesiar ini dapat mendorong pertumbuhan pariwisata dan pergerakan roda ekonomi daerah,” tambah Farid.

Perkuat Kerja Sama Pertahanan, Kepala Staf Pertahanan India Kunjungan Resmi ke Indonesia Internasional
Internasional
Kamis, 30 Oktober 2025 | 11:06 WIB

Perkuat Kerja Sama Pertahanan, Kepala Staf Pertahanan India Kunjungan Resmi ke Indonesia

Jakarta, katakabar.com - Kepala Staf Pertahanan India (Chief of Defence Staff/CDS), Jenderal Anil Chauhan, tiba di Indonesia pada Minggu (26/10) untuk memulai kunjungan resmi selama enam hari, dari 26 hingga 31 Oktober 2025. Kunjungan ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama pertahanan dan memperdalam kemitraan strategis antara India dan Indonesia sebagai dua negara Mitra Strategis Komprehensif di kawasan Indo-Pasifik. Selama kunjungan, Jenderal Chauhan dijadwalkan melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin serta Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Jenderal Agus Subiyanto. Selain itu, ia juga akan bertemu dengan para Kepala Staf TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara untuk membahas peluang peningkatan kerja sama di bidang pertahanan, keamanan maritim, dan pembangunan kapasitas militer. Sebagai bagian dari agenda, Jenderal Chauhan akan mengunjungi Bandung dan Surabaya untuk meninjau sejumlah industri pertahanan dan galangan kapal utama di kedua kota tersebut. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperluas kolaborasi di sektor industri pertahanan, produksi bersama, serta pengembangan teknologi antara India dan Indonesia. Selain pertemuan resmi, Jenderal Chauhan melakukan diskusi strategis dengan para eksekutif perusahaan pertahanan Indonesia serta berinteraksi dengan lembaga kajian pertahanan dan keamanan (think tank) guna memperdalam dialog kebijakan dan memperkuat hubungan kelembagaan antara kedua negara. Menurut pernyataan resmi, kunjungan ini menunjukkan peningkatan hubungan pertahanan antara India dan Indonesia serta menjadi tindak lanjut atas hasil-hasil kerja sama pertahanan yang disepakati dalam kunjungan kenegaraan Presiden RI, H Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025. Sebagai dua negara maritim yang memiliki posisi strategis di Indo-Pasifik, India dan Indonesia terus memperkuat kerja sama dalam menjaga stabilitas kawasan, keamanan maritim, dan perdamaian regional.

H Asmar Terima Kunjungan PT ITA, Bahas Progres Pelatihan Batik Ecoprint dari Mangrove Riau
Riau
Rabu, 17 September 2025 | 18:16 WIB

H Asmar Terima Kunjungan PT ITA, Bahas Progres Pelatihan Batik Ecoprint dari Mangrove

Kepulauan Meranti, katakabar.com - Bupati Kepulauan Meranti, H Asmar, terima kunjungan perwakilan PT Imbang Tata Alam atau PT ITA di Kantor Bupati Kepulauan Meranti, Rabu (17/9). Kunjungan tersebut bahas progres pelatihan pembuatan batik ecoprint berbahan alami mangrove yang diinisiasi oleh perusahaan bersama kelompok masyarakat binaan. Di kunjungan itu, hadir Komunikasi Officer PT ITA, Hari Maulana, dan CSR Coordinator EMP, Arip Hidayatuloh, yang turut mendampingi pertemuan bersama Bupati. "Kami sampaikan progres pelatihan batik ecoprint dari bahan alami mangrove dan daun-daunan lokal. Produk ini nantinya akan dihasilkan oleh kelompok Mangrove Merbau," ujar Hari Maulana. Selain kegiatan pelatihan, PT ITA juga menyampaikan kontribusinya dalam pembangunan infrastruktur. Di antaranya pembangunan akses jalan menuju Batang Malas sepanjang 1 kilometer dengan lebar 4 meter. "Untuk tahun mendatang, PT ITA berkomitmen melanjutkan kontribusi dalam pembangunan di Kabupaten Kepulauan Meranti," jelasnya. Menanggapi hal tersebut, Bupati Kepulauan Meranti, H Asmar menyampaikan apresiasi atas upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh PT ITA, terutama pengembangan batik ecoprint berbasis bahan alami. "Saya sangat bangga karena masyarakat binaan PT ITA mampu menghasilkan produk batik ecoprint dari pewarna alami mangrove dengan kualitas yang tidak kalah dari daerah lain," ujar H Asmar.

Gubri Resmikan GPM, Serahkan Bantuan Rumah, dan Lihat Jembatan PS di 'Kota Sagu' Riau
Riau
Rabu, 10 September 2025 | 17:35 WIB

Gubri Resmikan GPM, Serahkan Bantuan Rumah, dan Lihat Jembatan PS di 'Kota Sagu'

Kepulauan Meranti, katakabar.com - Gubernur Riau, Abdul Wahid, didampingi Bupati Kepulauan Meranti, H. Asmar, meresmikan kegiatan Gerakan Pangan Murah atau GPM di halaman Kantor Desa Alah Air Timur, Rabu (10/8). Program ini bertujuan untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Selain pelaksanaan GPM, Gubernur juga secara simbolis serahkan bantuan 8 unit Rumah Layak Huni kepada warga Kepulauan Meranti melalui program BAZNAS Provinsi Riau. Bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup dan memberikan tempat tinggal yang layak bagi masyarakat kurang mampu. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan Jembatan Panglima Sampul, salah satu infrastruktur penting yang sedang dibangun dan menjadi prioritas dalam mendukung konektivitas antarwilayah di Kepulauan Meranti. Turut hadir dalam kunjungan tersebut Kapolda Riau, Irjen Pol. Dr. Herry Heryawan, Kepala Pelaksana BAZNAS Provinsi Riau, Idris, S.E. Sy, Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharudin, jajaran Forkopimda, pimpinan instansi vertikal, Sekretaris Daerah, para camat, kepala desa, dan sejumlah tokoh masyarakat. Gubernur Riau, Abdul Wahid menyampaikan, kunjungan ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Riau dalam mendukung pembangunan yang merata dan berkelanjutan. “Kami fokus menyelesaikan infrastruktur seperti jembatan, meningkatkan pendidikan, serta menyalurkan bantuan yang tepat sasaran. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri, kami butuh partisipasi aktif masyarakat,” tegas Gubernur.

Thermax Sambut Kunjungan Kemenperin ke Fasilitas di Cilegon Ekonomi
Ekonomi
Minggu, 07 September 2025 | 12:00 WIB

Thermax Sambut Kunjungan Kemenperin ke Fasilitas di Cilegon

Cilegon, katakabar.com - PT Thermax Indonesia terima kunjungan resmi dari Kementerian Perindustrian atau Kemenperin di fasilitas manufaktur perusahaan yang berlokasi di Cilegon, Senin (25/8) lalu. Delegasi dipimpin Andi Rizaldi, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri atau BSKJI, bersama Apit Pria Nugraha, Kepala Pusat Industri Hijau. Rabindranath Pillai, President Director PT Thermax Indonesia menegaskan komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan dan tenaga kerja lokal. “Kami berkomitmen untuk terus berinvestasi di Indonesia, memperluas fasilitas, serta mengutamakan tenaga kerja lokal. Saat ini lebih dari 90 persen karyawan kami adalah putra-putri Indonesia. Ke depan, kami akan menambah kapasitas dan menghadirkan lebih banyak peluang kerja bagi masyarakat,” ujar Rabindranath. Di kunjungan ini, perwakilan Kemenperin menyampaikan apresiasi terhadap langkah Thermax. Andi Rizaldi mengatakan, kami sudah berkomitmen dengan sembilan asosiasi industri, seperti semen, baja, dan pupuk, untuk mencapai net zero emission 2050.

Kunjungan Delegasi Parlemen India Hari Terakhir Tegaskan Komitmen Anti-Terorisme Internasional
Internasional
Selasa, 03 Juni 2025 | 21:03 WIB

Kunjungan Delegasi Parlemen India Hari Terakhir Tegaskan Komitmen Anti-Terorisme

Jakarta, katakabar.com - Delegasi Parlemen Multi-Partai Republik India yang dipimpin Shri Sanjay Kumar Jha telah menyelesaikan kunjungan resminya ke Indonesia. Tepat di penghujung Mei 2025 lalu, Ia bertolak dari Jakarta menuju Kuala Lumpur, Malaysia, sebagai destinasi terakhir dari rangkaian lawatan diplomatik kawasan. Selama tiga hari berada di Jakarta, delegasi melakukan serangkaian pertemuan strategis dengan berbagai pemangku kepentingan di Indonesia, mencakup pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, dan mitra kerja sama lintas sektor. Melalui dialog yang intensif, dan konstruktif, India menyampaikan secara tegas prinsip-prinsip kebijakan luar negerinya, khususnya terkait penolakan total terhadap segala bentuk terorisme. Delegasi menyampaikan posisi India secara jelas dan konsisten, menekankan komitmen negara tersebut dalam mendukung upaya global untuk memberantas terorisme, serta menyerukan kerja sama internasional yang lebih erat dalam mencegah penyebaran ekstremisme. Sikap ini mendapat sambutan positif dan dukungan penuh dari para mitra di Indonesia. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan India memperkuat hubungan bilateral dengan negara-negara mitra di kawasan, serta memperluas kolaborasi strategis di bidang keamanan, stabilitas regional, dan pembangunan berkelanjutan. Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, pendekatan India yang berbasis pada prinsip ketegasan terhadap terorisme menjadi landasan penting bagi kerja sama internasional yang lebih efektif.