Mereda

Sorotan terbaru dari Tag # Mereda

Bitcoin Berpeluang Menuju US$100.000, Jika Konflik AS-Iran Mereda? Internasional
Internasional
Minggu, 06 September 2026 | 12:09 WIB

Bitcoin Berpeluang Menuju US$100.000, Jika Konflik AS-Iran Mereda?

Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin (BTC) kembali berada di area krusial setelah diperdagangkan di kisaran US$77.000–US$78.000. Di tengah pergerakan harga yang relatif terbatas, perkembangan konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran kini menjadi salah satu faktor eksternal yang mendapat perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi harga energi, ekspektasi suku bunga, hingga minat investor terhadap aset berisiko. Pada perdagangan Kamis (3/9), Bitcoin berada di sekitar US$77.759 dan masih bergerak di bawah level US$78.000. Pasar kripto juga masih menghadapi sentimen hati-hati akibat konflik AS-Iran dan perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Sejumlah analis teknikal melihat area US$78.000 sebagai salah satu level penting yang perlu ditembus Bitcoin untuk membuka ruang penguatan lebih lanjut. Apabila momentum positif mampu berlanjut, target psikologis US$100.000 kembali menjadi salah satu skenario yang diperhatikan pasar. Sebaliknya, pelemahan signifikan dan penutupan mingguan di bawah area US$70.000 berpotensi meningkatkan tekanan jual. CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan pergerakan Bitcoin dalam kondisi saat ini tidak dapat hanya dilihat melalui indikator teknikal. Perkembangan geopolitik dan dampaknya terhadap pasar energi menjadi faktor penting yang dapat menentukan perubahan sentimen investor secara lebih luas. “Bitcoin saat ini berada di persimpangan antara faktor teknikal dan makro. Level resistance memang penting, tetapi katalis yang lebih besar bisa datang dari perubahan persepsi risiko global. Jika tensi geopolitik mereda, tekanan terhadap harga energi ikut berkurang dan sentimen risk-on kembali, Bitcoin berpotensi menjadi salah satu aset yang menerima aliran modal lebih cepat,” kata Yudho. Meredanya Konflik Bisa Ubah Sentimen Pasar Spekulasi mengenai potensi meredanya konflik meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump memberi sinyal bahwa gelombang serangan terbaru terhadap Iran kemungkinan tidak berlangsung lama. Pada saat bersamaan, laporan media menyebut Trump telah mendiskusikan dengan penasihat senior kemungkinan untuk secara resmi menyatakan konflik dengan Iran berakhir, meskipun belum ada keputusan final. Tetapi, situasi di lapangan masih belum sepenuhnya mereda. AS dan Iran kembali bertukar serangan pada awal September setelah periode yang relatif lebih tenang. AS menyerang sejumlah fasilitas radar dan kemampuan penempatan ranjau Iran di sekitar wilayah pesisir selatan, sementara Iran membalas dengan serangan drone dan rudal terhadap posisi AS di kawasan Timur Tengah. Ketidakpastian tersebut membuat pasar tetap sensitif terhadap setiap perkembangan baru. Bagi aset berisiko seperti saham dan kripto, meredanya konflik dapat mengurangi kebutuhan investor terhadap aset defensif dan membuka ruang bagi kembalinya risk appetite. “Perlu diperhatikan bukan semata-mata apakah perang dinyatakan berakhir, tetapi efek berantainya. Jika eskalasi mereda, risiko gangguan pasokan energi dapat berkurang, harga minyak berpotensi terkoreksi, tekanan inflasi bisa lebih terkendali, dan ruang kebijakan bank sentral menjadi lebih fleksibel. Kombinasi faktor tersebut secara historis lebih kondusif bagi aset berisiko, termasuk kripto,” jelas Yudho. Harga Minyak Jadi Indikator Penting Pasar minyak menjadi salah satu indikator utama dalam membaca dampak konflik tersebut. Harga Brent sempat turun ke sekitar US$95,20 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$90,77 per barel pada perdagangan Kamis pagi. Pergerakan itu terjadi setelah sesi yang sangat volatil akibat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah. Harga minyak yang tetap tinggi menjadi perhatian karena dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi tersebut berpotensi membatasi kemampuan bank sentral, terutama The Fed, untuk melonggarkan kebijakan moneter. Sebaliknya, penurunan harga minyak yang konsisten akibat deeskalasi konflik dapat membantu meredakan kekhawatiran inflasi. Pada Kamis (3/9), harga minyak dan imbal hasil obligasi mulai turun setelah komentar Trump mengenai kemungkinan serangan terhadap Iran berlangsung singkat, sementara sebagian pasar saham Asia menguat. Menurut Yudho, hubungan inilah yang membuat perkembangan konflik menjadi relevan bagi investor kripto. “Pasar kripto semakin terhubung dengan dinamika likuiditas global. Karena itu, investor perlu melihat Bitcoin bukan sebagai aset yang bergerak sendiri, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pasar global yang juga merespons minyak, inflasi, yield obligasi, dolar AS, dan ekspektasi suku bunga,” terangnya. US$100.000 Masih Skenario, Bukan Kepastian Meski peluang Bitcoin kembali menuju US$100.000 dapat terbuka apabila kondisi makro membaik dan resistance teknikal berhasil ditembus, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan tingginya ketidakpastian. Konflik AS-Iran masih berlangsung, harga minyak tetap berada pada level tinggi, sementara arah kebijakan moneter AS terus menjadi perhatian investor. Kondisi tersebut membuat pergerakan Bitcoin berpotensi tetap volatil dalam jangka pendek. Yudho menilai investor sebaiknya tidak menjadikan satu peristiwa geopolitik sebagai satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan. “Target US$100.000 sebaiknya dipandang sebagai sebuah skenario, bukan kepastian. Deeskalasi geopolitik bisa menjadi katalis positif, tetapi pasar tetap membutuhkan konfirmasi dari pergerakan harga, likuiditas, kondisi makro, serta sentimen investor. Dalam situasi volatil seperti sekarang, manajemen risiko tetap menjadi hal yang utama,” sebut CEO FLOQ.

Wall Street Cetak Rekor Baru, Investor Mulai Optimistis Konflik Global Mereda Internasional
Internasional
Jumat, 29 Mei 2026 | 11:10 WIB

Wall Street Cetak Rekor Baru, Investor Mulai Optimistis Konflik Global Mereda

Jakarta, katakabar.com - Wall Street kembali mencatat sejarah baru setelah indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) berhasil ditutup di level tertinggi sepanjang masa. Kenaikan ini menjadi sorotan utama pelaku pasar global karena terjadi di tengah situasi geopolitik yang sebelumnya sempat membuat investor khawatir, terutama terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen positif mulai muncul setelah pasar melihat adanya peluang meredanya konflik geopolitik yang selama beberapa waktu terakhir memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. Kondisi ini ikut mendorong harga minyak turun, sehingga memberikan ruang napas bagi pasar keuangan. Turunnya harga minyak menjadi salah satu faktor penting yang mendukung reli Wall Street. Sebelumnya, lonjakan harga energi sempat membuat investor khawatir terhadap tekanan inflasi yang bisa memengaruhi kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Ketika harga minyak mulai melemah, pasar menilai tekanan inflasi berpotensi lebih terkendali. Situasi tersebut langsung disambut positif oleh investor karena pasar saham Amerika Serikat memang sangat sensitif terhadap pergerakan inflasi dan suku bunga. Saat risiko inflasi dianggap menurun, maka peluang penurunan suku bunga di masa depan menjadi lebih terbuka. Hal inilah yang akhirnya memicu arus beli besar-besaran di pasar saham. Kenaikan DJIA juga menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi Amerika Serikat masih sangat kuat. Meski dunia menghadapi berbagai tantangan mulai dari konflik geopolitik, perlambatan ekonomi global, hingga ketidakpastian perdagangan internasional, pasar saham AS justru mampu menunjukkan daya tahan yang solid. Tidak hanya Dow Jones, indeks saham utama lainnya juga bergerak positif. Investor mulai kembali masuk ke aset berisiko karena optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang masih cukup tinggi. Salah satu sektor yang paling banyak menarik perhatian adalah sektor teknologi. Saham-saham teknologi kembali menjadi motor utama penggerak pasar, terutama perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap perkembangan artificial intelligence (AI). Investor saat ini percaya bahwa perkembangan AI masih berada di tahap awal sehingga potensi pertumbuhannya dinilai masih sangat besar dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi ini membuat saham teknologi kembali menjadi incaran utama. Selain faktor AI, investor juga melihat perusahaan-perusahaan besar di Amerika Serikat masih mampu menjaga profitabilitas meskipun biaya operasional dan kondisi global penuh tantangan. Hal tersebut memberikan sinyal bahwa fundamental ekonomi AS masih cukup sehat. Tetapi, pelaku pasar tetap diminta untuk berhati-hati. Risiko geopolitik masih belum sepenuhnya hilang dan dapat kembali memicu volatilitas kapan saja. Konflik di Timur Tengah misalnya, masih menjadi salah satu faktor yang terus dipantau investor global. Jika ketegangan kembali meningkat, maka harga minyak berpotensi melonjak lagi dan memicu tekanan baru terhadap inflasi. Oleh karena itu, investor perlu tetap disiplin dalam mengatur strategi investasi dan melakukan diversifikasi aset. Diversifikasi menjadi penting terutama di tengah kondisi pasar yang bergerak sangat cepat. Banyak investor kini tidak hanya fokus pada saham, tetapi juga mulai mempertimbangkan aset digital seperti kripto dan emas digital sebagai bagian dari strategi investasi jangka panjang. Pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Aset Kripto, Nanovest dapat menjadi pilihan kamu untuk mulai berinvestasi dan eksplor koin kripto lainnya, sebuah aplikasi investasi saham & kripto yang terpercaya dan aman yang dapat menjadi pilihan terbaik bagi para investor di Indonesia. Bagi para investor yang baru ingin memulai berinvestasi tidak perlu khawatir karena cuma di aplikasi ini aset kamu terproteksi dari risiko cybercrime dengan Asuransi Sinarmas. Nanovest secara resmi telah terdaftar dan berlisensi resmi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi lebih lanjut silahkan kunjungi web kami di www.nanovest.io. Bagi para penggiat investasi yang ingin menggunakan Nanovest, aplikasi ini sudah tersedia di Play Store maupun App Store Anda. Dengan kondisi Wall Street yang terus mencetak rekor baru, investor Indonesia juga semakin tertarik untuk ikut memiliki eksposur terhadap pasar saham Amerika Serikat. Apalagi banyak perusahaan teknologi global yang menjadi penggerak utama tren ekonomi masa depan berasal dari AS.

Bittime Catatkan Lonjakan Transaksi Emas $XAUT dan $SLVON di Tengah Meredanya Ketegangan Perang Iran Internasional
Internasional
Kamis, 26 Maret 2026 | 08:37 WIB

Bittime Catatkan Lonjakan Transaksi Emas $XAUT dan $SLVON di Tengah Meredanya Ketegangan Perang Iran

Jakarta, katakabar.com - Tren positif kembali menghampiri pasar komoditas global yang kini merambah kuat ke sektor aset digital, di mana harga emas dunia terpantau mulai menunjukkan pemulihan signifikan setelah sempat mengalami tekanan. Bertepatan dengan ini, Bittime juga mencatatkan kenaikan harga aset kripto berbasis emas yakni Tether Gold ($XAUT) hingga mencapai 4,23% (25 Maret 2026). Sebelumnya, berdasarkan data yang dihimpun dari laporan Readers.id harga emas pada perdagangan, Selasa (24/3) melonjak sebesar 1,54% ke level $4.473,59 per troy ons. Ini mengakhiri tren penurunan sembilan hari berturut-turut yang sempat menggerus nilai emas hingga 15%. Kenaikan harga di pasar aset fisik tersebut turut terjadi pada instrumen aset kripto yang dipatok 1:1 pada harga logam mulia. Mengutip data internal dari Bittime, aset kripto berbasis emas yakni Tether Gold ($XAUT) tersebut dalam beberapa hari terakhir tercatat mengalami kenaikan volume perdagangan harian hingga 2-3x pada platformnya. Sentimen positif ini tidak hanya terbatas pada emas, namun juga merambah ke aset perak digital yaitu Silver Token ($SLVON) yang juga mengalami lonjakan volume perdagangan harian hingga 5x. Hal ini mencerminkan sentimen investor yang kini semakin melirik perak digital sebagai alternatif diversifikasi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh isu energi dan inflasi di Selat Hormuz. Kedua aset tersebut dapat diakses dan diperdagangkan melalui platform Bittime. Di mana, saat ini Bittime menyediakan fitur flexible staking dengan imbal hasil tahunan (APY) hingga 10% APY bagi pengguna baru. Bersama ini, sebagai platform perdagangan aset kripto yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD), Bittime berkomitmen untuk terus menyediakan ekosistem perdagangan yang aman, transparan, dan mudah diakses bagi para investor di Indonesia. Investasi sebaiknya tidak berdasar pada tren, melainkan pemahaman dan fundamental di baliknya. Perlu dipahami aset kripto mengandung risiko tinggi, termasuk fluktuasi harga dan risiko likuiditas yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Untuk itu, sangat penting bagi setiap investor untuk terus melakukan riset mandiri dan berdiskusi dengan komunitas terpercaya sebelum mengambil keputusan investasi.

Harga Emas Tertekan Akibat Meredanya Ketegangan AS-China Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 30 April 2025 | 13:36 WIB

Harga Emas Tertekan Akibat Meredanya Ketegangan AS-China

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) alami tekanan di awal sesi perdagangan Asia hari ini, Senin (28/4) lalu, bergerak di kisaran $3.310 setelah sebelumnya mencatat rekor tertinggi minggu lalu. Menurut analisis Andy Nugraha dari Dupoin Futures Indonesia, koreksi tajam pada emas dipicu oleh berkurangnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China, yang menyebabkan menurunnya minat terhadap aset safe haven. Dijelaskan Andy, berdasarkan kombinasi analisis candlestick dan indikator Moving Average, tren bearish mulai menguat kembali pada XAU/USD. Harga emas menunjukkan pola pelemahan yang konsisten, terutama setelah kegagalan mempertahankan penguatan Kamis (24/4) dan anjlok di bawah $3.300. Secara teknikal, emas diperkirakan masih berpotensi melanjutkan penurunan hingga ke area $3.213. Meski begitu, ujarnya, jika terjadi pantulan kuat, emas berpeluang menguji resistance di sekitar $3.367. Tekanan terhadap harga emas juga diperkuat oleh faktor fundamental, termasuk pernyataan Menteri Pertanian AS, Brooke Rollins, yang menyebutkan bahwa negosiasi perdagangan dengan China berjalan positif dan kesepakatan hampir tercapai. Optimisme ini meningkatkan sentimen risk-on di pasar, mengurangi permintaan terhadap emas. Selain itu, kabar mengenai kemungkinan pengecualian beberapa tarif balasan turut memperparah pelemahan harga emas hingga menembus level psikologis $3.300. Meski tekanan jual masih mendominasi, ada risiko volatilitas yang perlu diperhatikan. Presiden AS, Donald Trump, tetap bersikeras tidak akan mencabut tarif terhadap China tanpa konsesi besar, yang memicu ketidakpastian pasar. Di sisi lain, IMF mengingatkan bahwa ketegangan perdagangan yang berkepanjangan bisa mendorong Amerika Serikat menuju resesi, yang berpotensi kembali mendongkrak permintaan emas sebagai aset safe haven. Dalam jangka pendek, perhatian pasar akan tertuju pada data ekonomi AS, termasuk laporan awal Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama yang dirilis Rabu (30/4), serta data ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat (2/5). Kedua data ini diperkirakan akan menjadi petunjuk penting untuk arah pergerakan emas selanjutnya, terutama terkait ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve. Secara keseluruhan, Andy menilai tekanan bearish masih mendominasi pergerakan emas dengan target penurunan ke area $3.213, sementara potensi rebound dibatasi di sekitar $3.367.