New Delhi

Sorotan terbaru dari Tag # New Delhi

BRICS 2026: Perkuat Suara Global South dari New Delhi Internasional
Internasional
14 jam yang lalu

BRICS 2026: Perkuat Suara Global South dari New Delhi

New Delhi, katakabar.com - Negara-negara BRICS perkuat komitmen untuk membangun kerja sama yang lebih tangguh, inklusif, dan berorientasi pada pembangunan melalui Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke 18 di New Delhi, India. Pertemuan yang berlangsung dari 12 hingga 13 September 2026 tersebut menghasilkan Deklarasi New Delhi, yang menjadi arah bersama negara-negara BRICS dalam memperkuat kerja sama politik dan keamanan, ekonomi dan keuangan, serta hubungan antar masyarakat. KTT tahun ini digelar di bawah kepemimpinan India usung tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability.” Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto turut hadir dalam KTT tersebut sebagai salah satu pemimpin negara anggota BRICS. Di pertemuan itu, Prabowo menekankan kekuatan kolektif BRICS dapat digunakan untuk perkuat ketahanan global sekaligus memberikan manfaat yang lebih besar bagi negara-negara berkembang. “BRICS mewakili setengah dari seluruh umat manusia dan bagian yang besar dari perekonomian global serta perdagangan global. BRICS menyatukan pasar-pasar terbesar di dunia dan para produsen energi utama. Hal ini memberikan kita kekuatan kolektif yang sangat besar,” jelas Prabowo. BRICS dan Perubahan Tatanan Global BRICS telah berkembang jauh dari kelompok ekonomi yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, dan China. Setelah Afrika Selatan bergabung, kelompok tersebut kemudian mengalami ekspansi dan kini mencakup negara-negara seperti Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Perluasan tersebut membuat BRICS memiliki cakupan kepentingan yang semakin beragam. Forum ini tidak lagi hanya berbicara mengenai perdagangan dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menyentuh isu teknologi, energi, pangan, perubahan iklim, pendidikan, kesehatan, hingga reformasi tata kelola global. Deklarasi New Delhi menegaskan kembali komitmen BRICS terhadap multilateralisme dan sistem internasional yang lebih representatif. Negara-negara anggota juga menyerukan partisipasi yang lebih bermakna bagi negara-negara berkembang dan emerging markets dalam proses pengambilan keputusan global. Global South Harus Ikut Membentuk Aturan Sebagai Ketua BRICS 2026, India mendorong agar BRICS menjadi salah satu wadah untuk memperkuat suara negara-negara berkembang. Dalam sesi KTT mengenai tata kelola global dan penguatan multilateralisme, Perdana Menteri India Narendra Modi menyoroti ketimpangan antara besarnya dampak yang dirasakan Global South dan keterwakilannya dalam pengambilan keputusan dunia. “Global South berada di barisan terdepan dalam menghadapi krisis global, tetapi berada di barisan belakang dalam pengambilan keputusan,” ucap Modi. Modi menyerukan agar negara-negara Global South tidak hanya menjadi rule-taker, tetapi berkembang menjadi rule-shaper dalam tata kelola global. BRICS, menurutnya, dapat menjadi platform untuk memperkuat kapasitas negara-negara berkembang. Pandangan tersebut sejalan dengan Deklarasi New Delhi yang menekankan pentingnya memperluas partisipasi dan representasi negara-negara berkembang dalam institusi internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ekonomi dan Ketahanan Menjadi Fondasi Deklarasi New Delhi menekankan pentingnya rantai pasok yang lebih tangguh serta peningkatan kapasitas produksi negara berkembang agar dapat masuk ke segmen manufaktur dan produksi bernilai tambah lebih tinggi. Kerja sama tersebut juga mencakup transfer teknologi, peningkatan kapasitas industri, fasilitasi perdagangan, dan investasi. BRICS juga melanjutkan pembahasan mengenai sistem pembayaran lintas batas dan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan serta investasi antaranggota, dengan tetap mempertimbangkan prioritas nasional masing-masing negara. Prabowo menilai kekuatan kolektif BRICS dapat menjadi modal untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi serta menciptakan peluang pembangunan bagi negara-negara berkembang. Dari Teknologi hingga Riset BRICS juga memberikan perhatian besar terhadap perkembangan sains, teknologi, dan inovasi. Deklarasi New Delhi menempatkan kerjasama Science, Technology and Innovation (STI) sebagai salah satu penggerak pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. Negara-negara anggota mendukung kerja kelompok-kelompok kerja STI serta pengembangan BRICS Science and Research Repository sebagai platform berbagi pengetahuan dan hasil penelitian. Melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia menawarkan pemanfaatan infrastruktur dan fasilitas riset unggulan kepada periset, perguruan tinggi, industri, dan peneliti dari negara-negara anggota BRICS. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat mobilitas peneliti dan mendorong lahirnya kolaborasi riset yang lebih konkret. Pendidikan Menjadi Investasi Jangka Panjang Selain ekonomi dan teknologi, pendidikan menjadi bagian penting dari upaya BRICS membangun sumber daya manusia. Deklarasi New Delhi mendorong peningkatan kualitas dan aksesibilitas pendidikan, program pertukaran dan beasiswa pada tingkat sarjana maupun pascasarjana, termasuk dalam bidang Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM). BRICS Network University menjadi salah satu mekanisme yang didukung untuk memperkuat kerjasama akademik dan penelitian antarnegara. Jaringan tersebut mendorong program bersama, mobilitas akademik, serta pertukaran pengetahuan lintas disiplin. Menariknya, agenda pendidikan BRICS juga mencakup tahap paling awal dalam perkembangan manusia. Deklarasi mendorong pertukaran praktik terbaik dalam Early Childhood Care and Education (ECCE) serta Foundational Literacy and Numeracy (FLN). Penggunaan teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan (AI), dalam pendidikan juga didorong dengan prinsip aman, etis, dan berpusat pada manusia. Indonesia Memperkuat Posisi di BRICS Bagi Indonesia, KTT BRICS 2026 menjadi salah satu momentum penting setelah Indonesia bergabung sebagai anggota penuh. Kehadiran Presiden RI di New Delhi menunjukkan upaya Indonesia untuk mengambil peran aktif dalam forum yang semakin berpengaruh terhadap pembahasan ekonomi dan tata kelola global. Pemerintah Indonesia menempatkan keanggotaan BRICS sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama multilateral dan membangun kemitraan strategis dengan negara-negara berkembang. Indonesia memiliki kepentingan untuk memastikan keanggotaannya menghasilkan kerja sama konkret, mulai dari perdagangan dan investasi hingga pangan, energi, teknologi, riset, dan pengembangan sumber daya manusia. Dengan pasar yang luas dan sumber daya yang dimiliki negara-negara BRICS, Indonesia memiliki peluang untuk memperluas kerja sama ekonomi sekaligus membangun kapasitas nasional melalui pertukaran teknologi, pengetahuan, dan sumber daya manusia. Deklarasi New Delhi dan Tantangan ke Depan Deklarasi New Delhi menjadi salah satu hasil utama KTT BRICS 2026. Dokumen tersebut mencakup agenda yang luas, mulai dari reformasi tata kelola global dan kerja sama ekonomi hingga teknologi, pendidikan, perubahan iklim, kesehatan, dan hubungan antar masyarakat. Dengan anggota yang memiliki sistem politik, struktur ekonomi, serta kepentingan nasional yang berbeda, konsensus menjadi faktor penting dalam menjaga efektivitas kerja sama. Karena itu, keberhasilan BRICS tidak hanya akan diukur dari banyaknya deklarasi yang dihasilkan, tetapi dari sejauh mana kesepakatan tersebut dapat diterapkan melalui program, investasi, pertukaran pengetahuan, dan kerja sama lintas negara. Dari Suara Menjadi Aksi Dua dekade setelah pembentukannya, BRICS kini memasuki fase yang berbeda. Ekspansi keanggotaan telah memperluas cakupan kelompok tersebut, sementara agenda kerja sama semakin masuk ke berbagai aspek yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. India, melalui kepemimpinannya pada 2026, mendorong BRICS untuk memperkuat ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan. Indonesia, sebagai anggota penuh, memiliki kesempatan untuk ikut membentuk agenda tersebut sekaligus memastikan kepentingan negara berkembang tetap mendapat tempat dalam pembahasan global. Bagi negara-negara Global South, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa peningkatan suara juga diikuti dengan peningkatan pengaruh. Prabowo melihat kekuatan tersebut sebagai sesuatu yang harus diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. “Ketahanan kita harus memberikan manfaat bagi rakyat kita dan untuk memberikan manfaat bagi rakyat kita, kita harus mampu mengubah kerentanan kita menjadi peluang. Kelemahan kita menjadi kekuatan,”sebut Prabowo dalam KTT BRICS. Menurut Prabowo, BRICS memiliki kesempatan untuk menyatukan sumber daya, kapasitas produktif, kemampuan teknologi, dan pasar yang dimiliki negara-negara anggotanya untuk menghasilkan perubahan yang nyata bagi dunia. Pandangan tersebut bertemu dengan pesan yang disampaikan Modi dalam menutup sesi mengenai tata kelola global. Bagi India, masa depan BRICS bukan sekadar tentang seberapa besar suara yang dimiliki kelompok tersebut, tetapi bagaimana suara itu diterjemahkan menjadi pengaruh dan kemitraan yang lebih setara. “Jika masa depan kita adalah milik bersama, maka hak untuk membentuk masa depan itu pun harus menjadi milik bersama. From voice to impact. From privilege to partnership," tegas Presiden RI ke 8. Pesan tersebut menjadi salah satu gagasan utama India dalam kepemimpinan BRICS 2026: mengubah suara menjadi dampak dan privilese menjadi kemitraan.

India dan Indonesia Perkokoh Kemitraan Strategis di Pertemuan Komisi Bersama ke 8 di New Delhi Internasional
Internasional
Selasa, 09 Juni 2026 | 12:46 WIB

India dan Indonesia Perkokoh Kemitraan Strategis di Pertemuan Komisi Bersama ke 8 di New Delhi

New Delhi, katakabar.com - India dan Indonesia tegaskan lagi komitmen perkuat Kemitraan Strategis Komprehensif yang telah menjadi fondasi hubungan kedua negara selama beberapa dekade. Komitmen tersebut mengemuka dalam Pertemuan Komisi Bersama (Joint Commission Meeting/JCM) ke-8 yang digelar di New Delhi, Minggu (7/6). Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono bersama Menteri Urusan Luar Negeri India, Dr. S. Jaishankar, yang pimpin pertemuan. Pertemuan tingkat tinggi ini forum penting untuk evaluasi perkembangan hubungan bilateral sekaligus merumuskan langkah-langkah baru dalam memperluas kerja sama di berbagai sektor strategis. Kedua negara membahas berbagai isu mulai dari politik, pertahanan dan keamanan, ekonomi digital, perdagangan, kesehatan, energi, konektivitas, pendidikan, hingga hubungan antar masyarakat. Dalam pernyataan bersama yang dirilis, kedua menteri meninjau keseluruhan perkembangan hubungan bilateral di bawah kerangka Kemitraan Strategis Komprehensif India dan Indonesia dan membahas berbagai peluang baru untuk memperdalam kolaborasi di masa mendatang. Pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya intensitas hubungan kedua negara dalam beberapa tahun terakhir, termasuk setelah kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025 yang dinilai memberikan dorongan baru bagi hubungan bilateral. Hubungan Bilateral Dinilai Alami Kemajuan Signifikan Menteri Urusan Luar Negeri India, Dr. S. Jaishankar mengatakan hubungan India dan Indonesia telah menunjukkan perkembangan yang kuat dalam beberapa tahun terakhir. “Merupakan suatu kehormatan untuk bersama-sama memimpin Pertemuan Komisi Bersama India–Indonesia ke-8 bersama Menteri Luar Negeri Sugiono. Kemitraan Strategis Komprehensif kita telah mengalami pertumbuhan yang kuat dalam beberapa tahun terakhir,” ujar Jaishankar. Ia menjelaskan kedua pihak melakukan pembahasan mendalam mengenai berbagai bidang kerja sama yang selama ini menjadi prioritas kedua negara. “Kami mengadakan diskusi substantif mengenai kerja sama politik, pertahanan dan keamanan, maritim dan pelayaran, perdagangan, fintech, kesehatan, farmasi, pupuk, mineral kritis, pariwisata, pendidikan, dan kerja sama budaya,” ujarnya. Menurut Jaishankar, pertemuan tersebut juga dimanfaatkan untuk bertukar pandangan mengenai perkembangan kawasan dan isu global yang menjadi kepentingan bersama. “Kami juga bertukar perspektif mengenai perkembangan regional, memajukan koordinasi multilateral, serta memperdalam hubungan India dengan ASEAN,” tambahnya. Momentum Baru Pasca Kunjungan Presiden RI ke India Dalam sambutan pembukaannya, Jaishankar menyoroti pentingnya pertemuan kali ini yang merupakan JCM pertama setelah jeda selama empat tahun. “Pertemuan Komisi Bersama ini berlangsung setelah empat tahun. Saya pikir penting untuk menyadari bahwa selama empat tahun tersebut kita telah membuat kemajuan yang baik dalam hubungan bilateral,” jelasnya. Ia juga mengingat kembali sejumlah capaian penting yang telah memperkuat hubungan kedua negara, termasuk peringatan 75 tahun hubungan diplomatik India dan Indonesia pada tahun 2025. “Kami mendapat kehormatan menyambut Presiden Prabowo dalam kunjungan kenegaraan sekaligus sebagai tamu utama pada perayaan Hari Republik India ke-76 tahun lalu. Ketika saya bertemu dengan Yang Mulia Presiden selama kunjungan tersebut, saya sangat menghargai arahan yang beliau berikan untuk mengembangkan hubungan bilateral kita yang semakin beragam,” ucapnya. Menurutnya, pembicaraan antara Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Prabowo Subianto selama kunjungan tersebut telah memberikan energi baru bagi hubungan kedua negara. “Terdapat diskusi yang sangat produktif antara Perdana Menteri Modi dan Presiden Prabowo selama kunjungan itu dan hal tersebut telah memberikan momentum baru bagi Kemitraan Strategis Komprehensif kita,” ujarnya. Indonesia Tekankan Kerja Sama yang Memberikan Manfaat Nyata Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, menegaskan Indonesia memandang India sebagai mitra strategis penting di kawasan Indo-Pasifik dan dunia berkembang. “Senang dapat memimpin bersama Pertemuan Komisi Bersama Indonesia–India ke-8 bersama Dr. S. Jaishankar di New Delhi,” tutur Sugiono. Ia menjelaskan pembahasan kedua negara mencakup berbagai sektor yang memiliki dampak langsung terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. “Kami membahas berbagai prioritas utama dalam Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia–India, mulai dari perdagangan dan keamanan maritim hingga konektivitas digital, infrastruktur, kesehatan, serta hubungan antar masyarakat,” kupasnya. Sugiono juga menaruh harapan besar terhadap kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Jakarta yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu mendatang. “Kami menantikan kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Jakarta. Kunjungan tersebut akan menjadi kesempatan penting untuk semakin memperdalam kerja sama dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara,” imbuh Sugiono. Komitmen Perkuat Koordinasi Regional dan Global Selain membahas hubungan bilateral, kedua menteri juga bertukar pandangan mengenai berbagai perkembangan regional dan internasional. India dan Indonesia sepakat bahwa kerja sama yang lebih erat diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks. Kedua negara kembali menegaskan komitmen untuk meningkatkan koordinasi di berbagai forum regional dan multilateral, termasuk dalam kerangka ASEAN serta berbagai organisasi internasional lainnya. Pertemuan tersebut juga menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pilar utama dalam kebijakan Act East Policy India. Dengan ikatan sejarah dan peradaban yang telah terjalin selama berabad-abad, kedua negara meyakini bahwa hubungan bilateral masih memiliki ruang yang luas untuk terus berkembang. Menutup pertemuan, kedua pihak menyambut positif tren peningkatan hubungan India–Indonesia dan sepakat untuk menyelenggarakan Pertemuan Komisi Bersama berikutnya pada waktu yang akan disepakati bersama dalam waktu dekat. Dengan semakin luasnya cakupan kerja sama, mulai dari keamanan maritim, ekonomi digital, mineral kritis, kesehatan, hingga pertukaran budaya dan pendidikan, India dan Indonesia menunjukkan tekad untuk menjadikan kemitraan strategis mereka sebagai salah satu hubungan bilateral paling penting di kawasan Indo-Pasifik.