Peringatan Bos AI Guncang Pasar, Investor Mulai Waspadai Saham Teknologi
Jakarta, katakabar.com - Perkembangan industri kecerdasan buatan (AI) kembali menjadi perhatian pasar setelah sejumlah pemimpin perusahaan AI terbesar di dunia mulai menyerukan agar laju pengembangan teknologi tersebut tidak dilakukan tanpa batas. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran investor dan menekan saham-saham yang selama beberapa tahun terakhir menjadi pendorong utama reli sektor teknologi. CEO Anthropic Dario Amodei menjadi salah satu tokoh yang paling vokal. Ia menyerukan agar industri AI memperlambat pengembangan teknologi frontier untuk memberikan lebih banyak waktu bagi perusahaan, pemerintah, dan peneliti untuk memastikan sistem AI dapat dikembangkan dengan lebih aman. Seruan tersebut kemudian mendapat dukungan dari CEO OpenAI, Sam Altman serta Elon Musk. Situasi ini menjadi perhatian pasar karena Anthropic dan OpenAI merupakan bagian penting dari ekosistem AI yang selama ini mendorong investasi besar-besaran pada chip, pusat data, cloud computing, dan infrastruktur teknologi. Kekhawatiran Terhadap Perkembangan AI Dalam pernyataannya, Amodei memperingatkan bahwa kemampuan model AI berkembang sangat cepat dan dapat menimbulkan risiko yang semakin sulit dikendalikan. Ia bahkan memperingatkan bahwa sistem AI dapat memperoleh kemampuan untuk mengambil alih aktivitas internet dalam waktu relatif singkat apabila perkembangannya tidak dikelola dengan baik. Anthropic kemudian mendorong pendekatan yang lebih terkoordinasi untuk mengembangkan teknologi AI. Salah satu gagasannya adalah meningkatkan pengawasan independen dan evaluasi keamanan terhadap model AI sebelum teknologi tersebut dikembangkan lebih jauh. Sam Altman juga menyatakan dukungan terhadap gagasan tersebut. CEO OpenAI itu mengatakan bahwa pengembangan AI perlu dilakukan dengan ritme yang lebih terukur dan menyambut ide penggunaan evaluator independen yang memiliki akses cukup untuk menilai keamanan model. Pernyataan dari dua perusahaan AI terkemuka ini menjadi penting karena selama beberapa tahun terakhir industri teknologi justru berlomba meningkatkan kemampuan model AI secepat mungkin. Saham AI Mulai Tertekan Kekhawatiran mengenai kemungkinan perlambatan perkembangan AI langsung berdampak terhadap sentimen pasar. Saham perusahaan yang memiliki keterkaitan erat dengan AI dan infrastruktur pusat data mengalami tekanan di sejumlah pasar global. Di Asia, SoftBank menjadi salah satu saham yang mengalami penurunan tajam dengan koreksi sekitar 13,2%. Saham perusahaan semikonduktor seperti Kioxia dan SK Hynix juga ikut tertekan. Di Eropa, ASML turun sekitar 4%, sementara saham teknologi global secara umum mengalami pelemahan. Tekanan tersebut menunjukkan bahwa investor tidak hanya memperhatikan perusahaan pembuat model AI, tetapi juga seluruh rantai pasok yang mendapatkan manfaat dari meningkatnya investasi AI. Selama ini, perkembangan AI telah menjadi salah satu alasan perusahaan teknologi dan cloud meningkatkan belanja modal untuk membeli chip, membangun pusat data, serta memperluas kapasitas komputasi. Jika perkembangan AI melambat, investor mulai mempertanyakan apakah tingkat investasi tersebut masih dapat menghasilkan keuntungan sesuai ekspektasi. Ancaman bagi “AI Trade” Fenomena tersebut berpotensi mengubah apa yang selama ini dikenal sebagai AI trade di pasar saham. Investor sebelumnya banyak membeli saham perusahaan yang dianggap akan menjadi penerima manfaat dari ledakan AI. Nvidia menjadi salah satu contoh utama karena chip GPU perusahaan digunakan secara luas untuk menjalankan dan melatih model AI. Perusahaan cloud, pusat data, produsen memori, hingga pemasok energi juga ikut mendapatkan sentimen positif dari meningkatnya kebutuhan komputasi. Namun, apabila pengembangan AI mulai diperlambat karena alasan keamanan, regulasi, atau keterbatasan infrastruktur, asumsi pertumbuhan yang sangat agresif dapat kembali dipertanyakan. Investor kini perlu melihat apakah investasi AI yang sangat besar benar-benar dapat menghasilkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang sebanding. Kekhawatiran tersebut semakin relevan karena pembangunan infrastruktur AI membutuhkan modal dalam jumlah sangat besar. Bukan Berarti AI Akan Berhenti Meski demikian, seruan untuk memperlambat pengembangan AI tidak berarti industri tersebut akan berhenti berkembang. Justru, pendekatan yang lebih hati-hati dapat menjadi upaya untuk membuat pertumbuhan AI lebih berkelanjutan dalam jangka panjang. Anthropic sendiri masih memiliki prospek bisnis yang kuat dan tengah mempersiapkan rencana penawaran umum perdana atau IPO di Nasdaq. Perusahaan tersebut juga telah mencatat beberapa kuartal dengan profitabilitas yang meningkat. Di sisi lain, OpenAI terus mengembangkan berbagai produk dan layanan AI untuk konsumen maupun perusahaan. Dengan demikian, fokus pasar kemungkinan akan bergeser dari sekadar seberapa cepat kemampuan AI berkembang menjadi seberapa aman, efisien, dan menguntungkan teknologi tersebut dapat diterapkan. Apa Artinya bagi Investor? Perubahan sentimen ini menjadi pengingat bahwa tren besar di pasar saham tetap memiliki risiko. Perusahaan yang berada di pusat perkembangan AI memang memiliki potensi pertumbuhan besar, tetapi valuasi saham juga sangat bergantung pada ekspektasi investor terhadap pertumbuhan tersebut. Jika ekspektasi berubah, harga saham dapat ikut bergerak meskipun fundamental perusahaan belum mengalami perubahan besar. Karena itu, investor perlu memperhatikan tidak hanya perkembangan teknologi, tetapi juga regulasi, belanja modal perusahaan, permintaan chip, pembangunan data center, serta kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari investasi AI. Pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Saham AS, Nanovest dapat menjadi pilihan untuk mulai berinvestasi sekaligus mengeksplorasi berbagai koin kripto lainnya. Nanovest merupakan aplikasi investasi saham dan kripto yang dapat menjadi pilihan bagi investor di Indonesia. Bagi investor yang baru ingin memulai berinvestasi, kamu juga tidak perlu khawatir karena Nanovest memiliki perlindungan dari risiko cybercrime dengan Asuransi Sinarmas. Nanovest berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi lebih lanjut dapat kamu kunjungi melalui website Nanovest. Aplikasi Nanovest juga sudah tersedia di Play Store maupun App Store. Dengan munculnya peringatan dari para pemimpin industri AI, investor kini memiliki alasan baru untuk melihat kembali prospek saham teknologi. Perlombaan AI kemungkinan masih akan berlanjut, tetapi pertanyaannya bukan lagi hanya siapa yang dapat mengembangkan AI paling cepat, melainkan siapa yang mampu melakukannya secara aman, efisien, dan menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Apple Masuk ke Pasar Foldable, Bisakah iPhone Duo Saingi Samsung?
Jakarta, katakabar.com - Persaingan di industri smartphone semakin menarik setelah Samsung mengungkap adanya peningkatan signifikan jumlah pengguna iPhone yang beralih ke perangkat foldable Galaxy. Momentum ini datang tepat ketika Apple akhirnya memasuki pasar smartphone lipat dengan memperkenalkan iPhone Duo pada September 2026. Kondisi tersebut membuka babak baru persaingan dua raksasa teknologi. Samsung selama bertahun-tahun telah membangun posisi di pasar foldable, sementara Apple baru mulai masuk ke segmen tersebut. Bagi investor, perkembangan ini juga menjadi perhatian karena keberhasilan atau kegagalan produk foldable berpotensi memengaruhi prospek bisnis serta pergerakan saham kedua perusahaan. Pengguna iPhone Mulai Beralih ke Samsung Samsung menyebut tingkat perpindahan pengguna iOS ke seri Galaxy Z Fold8 mencapai 1,6 kali lebih tinggi dibandingkan tingkat perpindahan ke generasi Fold7 dan Flip7 tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa perangkat foldable Samsung mulai memiliki daya tarik yang lebih besar di kalangan pengguna iPhone. Di Amerika Serikat, sekitar 30% pembeli Galaxy Z Flip8 disebut berasal dari pengguna perangkat merek lain. Menariknya, sebagian besar dari mereka merupakan konsumen yang baru pertama kali membeli smartphone foldable. Samsung juga berupaya membuat proses perpindahan dari iPhone menjadi lebih mudah. Melalui pembaruan fitur Smart Switch, pengguna iPhone dapat memindahkan data ke perangkat Galaxy menggunakan pemindaian kode QR tanpa perlu memasang aplikasi tambahan. Langkah tersebut menjadi strategi penting bagi Samsung karena salah satu hambatan terbesar dalam berpindah ekosistem adalah proses transfer data dan adaptasi terhadap sistem operasi baru. Samsung Punya Keunggulan sebagai Pelopor Samsung mulai memasuki pasar foldable pada 2019 melalui Galaxy Fold. Artinya, perusahaan Korea Selatan tersebut memiliki pengalaman sekitar tujuh tahun dalam mengembangkan dan memasarkan perangkat dengan layar lipat. Keunggulan sebagai pelopor memungkinkan Samsung memiliki waktu lebih panjang untuk mengembangkan desain, mekanisme engsel, software, serta pengalaman pengguna pada perangkat foldable. Apple kini harus menghadapi tantangan untuk mengejar pengalaman tersebut. Namun, masuknya Apple ke pasar foldable juga dapat memperluas ukuran pasar secara keseluruhan karena basis pengguna iPhone yang sangat besar. Menurut Counterpoint Research, Samsung diproyeksikan tetap memimpin pasar foldable pada 2026 dengan pangsa sekitar 32%, sedangkan Apple diperkirakan langsung mengambil sekitar 25% setelah memasuki pasar tersebut. Huawei juga masih menjadi pemain penting, khususnya di pasar China. Apple Akhirnya Hadirkan iPhone Duo Setelah bertahun-tahun menjadi bahan rumor, Apple akhirnya memperkenalkan perangkat foldable pertamanya yang diberi nama iPhone Duo pada acara 9 September 2026. Perangkat tersebut dibanderol mulai US$1.999 untuk kapasitas 256 GB dan mencapai US$3.199 untuk varian 2 TB. iPhone Duo memiliki layar internal berukuran sekitar 7,6 inci dan layar eksternal 5,4 inci dengan bodi berbahan titanium. Harga tersebut menjadikan iPhone Duo sebagai salah satu perangkat paling premium yang pernah diperkenalkan Apple. Pre-order dijadwalkan dimulai pada 16 Oktober, sementara penjualan perdana berlangsung pada 23 Oktober di Amerika Serikat dan lebih dari 70 negara lainnya. Peluncuran tersebut juga menjadi momen penting bagi CEO baru Apple, John Ternus, yang baru menggantikan Tim Cook pada 1 September 2026. Karena itu, iPhone Duo bukan hanya produk baru, tetapi juga menjadi salah satu ujian awal bagi arah Apple di bawah kepemimpinan baru. Saham Apple Menghadapi Efek “Sell the News” Meski peluncuran iPhone Duo menjadi perhatian besar, reaksi pasar terhadap saham Apple tidak langsung positif. Saham Apple ditutup di sekitar US$315,34, turun 0,28% setelah acara peluncuran. Pola tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Analis Bank of America Wamsi Mohan mencatat bahwa saham Apple pernah turun pada hari setelah peluncuran produk dalam 10 dari 24 acara sebelumnya. Fenomena ini sering disebut sebagai “sell the news”, ketika investor yang telah membeli saham berdasarkan ekspektasi positif sebelum sebuah acara memilih merealisasikan keuntungan setelah katalis tersebut benar-benar terjadi. Tetapi, secara historis, penurunan tersebut tidak selalu berlangsung lama. Data yang dikutip Yahoo Finance menunjukkan bahwa pergerakan saham Apple dalam pola serupa cenderung berbalik dalam rentang sekitar 30 hingga 60 hari. Persaingan Foldable Jadi Katalis Baru Persaingan antara Samsung dan Apple di pasar foldable menjadi menarik karena keduanya memiliki kekuatan yang berbeda. Samsung memiliki pengalaman lebih panjang serta portofolio foldable yang sudah berkembang. Sementara itu, Apple mempunyai basis pengguna iPhone yang sangat besar dan ekosistem produk yang terintegrasi. Jika Apple mampu meyakinkan pengguna iPhone untuk melakukan upgrade ke iPhone Duo, perangkat tersebut berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru. Sebaliknya, jika konsumen tetap memilih perangkat Samsung karena harga, pengalaman foldable, atau fleksibilitas Android, Samsung berpeluang mempertahankan keunggulannya. Bagi investor, perkembangan ini menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan karena persaingan produk dapat berdampak pada penjualan, pendapatan, hingga sentimen terhadap saham perusahaan teknologi. Pantau Saham AS dan Aset Investasi di Nanovest Pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Saham AS, Nanovest dapat menjadi pilihan untuk mulai berinvestasi sekaligus mengeksplorasi berbagai koin kripto lainnya. Nanovest merupakan aplikasi investasi saham dan kripto yang dapat menjadi pilihan bagi investor di Indonesia. Bagi para investor yang baru ingin memulai berinvestasi, kamu juga tidak perlu khawatir karena Nanovest memiliki perlindungan dari risiko cybercrime dengan Asuransi Sinarmas. Nanovest berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi lebih lanjut dapat kamu kunjungi melalui www.nanovest.io. Aplikasi Nanovest juga sudah tersedia di Play Store maupun App Store, sehingga investor dapat mengakses berbagai pilihan aset investasi melalui satu aplikasi. Persaingan Apple dan Samsung di pasar foldable pada akhirnya bukan hanya soal siapa yang memiliki teknologi layar lipat terbaik. Perkembangan ini juga menjadi gambaran bagaimana perusahaan teknologi besar terus mencari sumber pertumbuhan baru di tengah pasar smartphone yang semakin kompetitif. Bagi investor, respons konsumen terhadap iPhone Duo dan kemampuan Samsung mempertahankan pengguna iPhone akan menjadi cerita yang menarik untuk dipantau sepanjang 2026.
Bitcoin-Ethereum Terkoreksi, Pelaku Pasar Cermati Suku Bunga The Fed
Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin dan Ethereum mengalami koreksi di tengah dinamika pasar aset kripto dan perhatian pelaku pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Lantaran itu, menjelang FOMC Meeting September 2026, investor perlu mencermati perkembangan ekonomi global serta memahami risiko volatilitas sebelum mengambil keputusan investasi. Pergerakan harga aset kripto masih menunjukkan dinamika di tengah berbagai sentimen ekonomi global. Berdasarkan data CoinMarketCap pada 11 September 2026 pagi, Bitcoin berada di kisaran US$76.695, melemah 1,88% dalam 24 jam terakhir dan 5,00% dalam sepekan. Sementara itu, Ethereum berada di sekitar US$2.452, terkoreksi 0,51% dalam 24 jam dan 2,16% dalam sepekan. Bittime, Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menilai pergerakan tersebut menunjukkan bahwa investor perlu mencermati berbagai sentimen yang dapat memengaruhi kondisi pasar aset kripto. Investor Cermati Sentimen Suku Bunga The Fed Sejumlah perkembangan makroekonomi turut menjadi perhatian pelaku pasar, salah satunya adalah perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) setelah data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan kondisi ekonomi yang relatif kuat. Melansir situs resmi Federal Reserve, The Fed dijadwalkan akan menggelar FOMC meeting pada 15-16 September 2026. Mengutip pemberitaan The Block pada 7 September 2026 lalu, ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) kembali meningkat setelah laporan pekerjaan AS menunjukkan penambahan 162.000 lapangan kerja pada Agustus. Perubahan ekspektasi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury dan menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar aset berisiko, termasuk kripto. “Pergerakan Bitcoin dan Ethereum saat ini menunjukkan bahwa pasar masih cukup dinamis. Kenaikan secara mingguan tidak serta-merta menghilangkan potensi volatilitas dalam jangka pendek. Investor perlu mencermati berbagai faktor yang dapat memengaruhi pasar sebelum mengambil keputusan,” ujar Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn. Investor Perlu Mencermati Volatilitas Pasar Pergerakan harga aset kripto dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi makroekonomi, kebijakan moneter, perkembangan geopolitik, hingga sentimen pasar. Karena itu, perubahan harga dalam jangka pendek perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Pemahaman terhadap kondisi pasar juga menjadi bagian penting bagi investor dalam menentukan keputusan investasi. Investor perlu mempertimbangkan tujuan investasi, tingkat toleransi terhadap risiko, serta kondisi pasar sebelum mengambil keputusan. “Pasar aset kripto memiliki karakteristik volatilitas yang perlu dipahami oleh investor. Pergerakan harga dalam jangka pendek dapat berubah seiring dengan munculnya data ekonomi maupun sentimen global. Karena itu, penting bagi investor untuk melakukan pertimbangan secara menyeluruh dan menyesuaikan keputusan dengan profil risikonya,” ucap Ryan.
Bitcoin Bertahan di US$78.000, September Jadi Ujian Besar Pasar Kripto
Jakarta, katakabar.com - Bitcoin (BTC) memasuki akhir Agustus dengan volatilitas tinggi setelah sempat menembus level psikologis US$80.000. Setelah sentuh area tertinggi di atas US$81.000 pada pekan lalu, Bitcoin kini diperdagangkan di kisaran US$78.300, menunjukkan pasar mulai melakukan konsolidasi setelah reli kuat sepanjang paruh kedua Agustus. Data CoinGecko mencatat rentang perdagangan Bitcoin dalam 24 jam terakhir berada di sekitar US$77.314 hingga US$78.310. Pergerakan tersebut sekaligus menandai perubahan fokus pasar. Jika sebelumnya investor dibayangi pertanyaan apakah Bitcoin mampu kembali menembus US$80.000, perhatian kini bergeser pada apakah level tersebut dapat direbut kembali dan dipertahankan di tengah ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat. Dalam Market Outlook FLOQ, Bitcoin sebelumnya tercatat mengalami reli sekitar 26% dari level US$62.700 pada 12 Agustus hingga menyentuh US$81.235, dengan US$80.000 menjadi level psikologis penting bagi kelanjutan tren. Namun, FLOQ juga telah mengingatkan bahwa posisi long yang semakin padat dan volume yang mulai melandai membuat Bitcoin rentan terhadap koreksi. Risiko tersebut mulai terlihat setelah pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh di Jackson Hole pada 28 Agustus. Warsh menegaskan inflasi AS masih berada di atas target 2% dan menyebut perkembangan inflasi dalam beberapa bulan terakhir belum cukup menunjukkan perbaikan tren yang berarti. Ia juga menekankan bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila inflasi tidak bergerak menuju target dengan kecepatan yang memadai. Pasar merespons pernyataan tersebut sebagai sinyal yang cenderung hawkish. Bitcoin sempat turun ke bawah US$77.000 sebelum kembali stabil di area US$78.000 pada akhir pekan. CEO & Founder FLOQ Yudhono Rawis, menilai koreksi setelah Bitcoin menembus US$80.000 tidak serta-merta menghilangkan prospek positif aset kripto, namun menunjukkan bahwa fase berikutnya akan sangat ditentukan oleh fundamental makro dan kekuatan permintaan investor. “Reli Bitcoin sepanjang Agustus menunjukkan bahwa minat investor terhadap aset kripto masih sangat kuat. Namun, setelah gagal bertahan di atas US$80.000, pasar sekarang masuk ke fase pembuktian. Investor perlu melihat apakah permintaan spot dan arus dana institusional tetap mampu menyerap volatilitas yang datang dari kebijakan The Fed,” kataYudho. Arus Dana Institusional Jadi Penopang Salah satu faktor yang menopang reli Bitcoin sepanjang Agustus adalah kembalinya arus modal institusional melalui produk exchange-traded fund (ETF) kripto. Market Outlook FLOQ mencatat ETF Bitcoin dan Ethereum di Amerika Serikat membukukan sekitar US$2,71 miliar inflow bersih pada pekan yang berakhir 24 Agustus, menjadi salah satu pekan terkuat sepanjang 2026. Bitcoin mengambil porsi terbesar dengan sekitar US$1,92 miliar. Meski demikian, tren tersebut mulai menunjukkan tanda pendinginan. Data Farside Investors menunjukkan ETF Bitcoin spot AS mencatat net outflow sekitar US$201,9 juta pada 28 Agustus, setelah beberapa hari sebelumnya konsisten membukukan arus masuk positif. Menurut Yudho, perubahan tersebut membuat data ETF menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam beberapa pekan ke depan. “Penting saat ini bukan hanya melihat Bitcoin naik atau turun dalam satu hari. Pasar perlu melihat apakah demand institusional tetap konsisten. Jika arus ETF kembali positif ketika Bitcoin berada di area US$77.000–US$80.000, itu bisa menjadi indikasi bahwa investor besar masih melihat koreksi sebagai kesempatan untuk membangun posisi,” tuturnya. September Bisa Jadi Bulan Penentu Memasuki September, pasar kripto diperkirakan masih akan menghadapi sederet katalis makroekonomi. Data ketenagakerjaan AS untuk Agustus dijadwalkan dirilis pada 4 September, disusul Consumer Price Index (CPI) Agustus pada 11 September. Keduanya akan menjadi data penting menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15 hingga 16 September 2026 nanti. Kombinasi data tenaga kerja, inflasi dan respons The Fed berpotensi menentukan apakah investor kembali meningkatkan eksposur ke aset berisiko seperti Bitcoin atau justru mengambil posisi lebih defensif. Hal ini menjadi semakin penting setelah Warsh menegaskan bahwa The Fed tidak ingin terlalu bergantung pada forward guidance. Ia menilai pasar seharusnya lebih banyak mengambil kesimpulan sendiri berdasarkan perkembangan ekonomi dibanding hanya menunggu sinyal mengenai langkah bank sentral berikutnya. Dalam konteks tersebut, volatilitas Bitcoin menjelang keputusan FOMC berpotensi tetap tinggi. “September kemungkinan menjadi bulan yang jauh lebih data driven. Pasar akan sangat sensitif terhadap angka tenaga kerja dan inflasi AS. Jika data menunjukkan ekonomi mulai mendingin tanpa inflasi kembali melonjak, ruang bagi aset berisiko untuk kembali menguat akan terbuka. Sebaliknya, inflasi yang tetap tinggi dapat memperpanjang tekanan terhadap Bitcoin dan aset kripto lainnya,” jelas Yudho. US$80.000 Masih Jadi Level Kunci Dalam jangka pendek, area US$80.000–US$81.000 diperkirakan tetap menjadi zona penting untuk Bitcoin. Keberhasilan menembus dan bertahan di atas area tersebut dapat memperkuat kembali momentum bullish. Sebaliknya, selama Bitcoin masih berada di bawah US$80.000, pasar berpotensi tetap bergerak dalam fase konsolidasi sembari menunggu katalis berikutnya. Outlook FLOQ sebelumnya juga menempatkan arus ETF sebagai salah satu sinyal positif utama bagi tren jangka menengah Bitcoin, meskipun investor tetap perlu mewaspadai koreksi setelah kenaikan harga yang cepat dalam waktu singkat. Yudho menilai investor sebaiknya tidak menjadikan satu level harga sebagai satu-satunya dasar keputusan investasi. “Untuk beberapa minggu ke depan, pertanyaannya bukan sekadar apakah Bitcoin bisa kembali ke US$80.000. Yang lebih penting adalah apakah US$80.000 nantinya dapat berubah dari resistance menjadi support. Kalau itu terjadi bersamaan dengan arus institusional yang kuat dan kondisi makro yang lebih kondusif, struktur pasar untuk kuartal berikutnya akan menjadi jauh lebih menarik,” sebut Yudho. Agenda ekonomi AS yang padat sepanjang September, arah Bitcoin dalam beberapa pekan mendatang berpotensi menjadi barometer penting bagi sentimen pasar aset digital menuju kuartal terakhir 2026. Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli, menjual, atau memperdagangkan aset digital. Harga aset digital dapat berubah dengan cepat dan memiliki risiko kerugian.
Transaksi Kripto Turun 33 Persen, Tapi Investor Bertambah: Pasar RI Masih Menjanjikan!
Jakarta, katakabar.com - Pasar kripto Indonesia tengah menghadapi situasi yang cukup unik. Nilai transaksi mengalami penurunan tajam, tetapi jumlah investor justru terus bertambah di tengah tekanan daya beli masyarakat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi aset kripto sepanjang semester I/2026 mencapai Rp150,60 triliun, turun 33,56% secara tahunan dari Rp226,68 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, jumlah investor aset kripto meningkat dari 20,19 juta orang pada Desember 2025 menjadi 22,69 juta orang pada Juni 2026. Artinya, ada tambahan sekitar 2,5 juta investor hanya dalam enam bulan. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai kondisi tersebut menunjukkan minat masyarakat terhadap kripto belum hilang, tetapi pola investasinya mulai berubah akibat tekanan ekonomi. “Basis investor tetap tumbuh meski nilai transaksinya turun. Ini menunjukkan masyarakat masih masuk ke pasar kripto, hanya saja dengan nilai transaksi yang lebih kecil karena tekanan daya beli,” ujar Yudho. Menurutnya, pelemahan transaksi tidak hanya dipengaruhi kondisi domestik. Kapitalisasi pasar kripto global juga sempat turun sekitar 45%, dari sekitar US$4,2 triliun pada Oktober 2025 menjadi US$2,3 triliun pada Maret 2026. Karena itu, penurunan transaksi di Indonesia dinilai lebih mencerminkan kombinasi tekanan ekonomi domestik dan pelemahan pasar global, bukan penurunan minat terhadap aset kripto secara struktural. Kelas Menengah Tertekan Pola Investasi Berubah Tekanan daya beli menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi aktivitas investasi. Jumlah kelompok aspiring middle class atau calon kelas menengah tercatat meningkat dari 137,5 juta orang pada 2024 menjadi 142 juta orang pada 2025, atau sekitar 50,4% dari total penduduk Indonesia. Yudho menjelaskan, ketika ketahanan finansial rumah tangga melemah, alokasi dana untuk instrumen berisiko seperti kripto cenderung ikut berkurang. “Kripto bukan kebutuhan primer. Ketika kondisi ekonomi rumah tangga tertekan, masyarakat secara alami akan menjadi lebih konservatif dalam berinvestasi,” ulasnya. Tetapi, kondisi tersebut tidak berarti masyarakat meninggalkan pasar kripto. Sebaliknya, investor mulai bertransaksi dengan nominal lebih kecil, lebih selektif, dan lebih berhati-hati. Perubahan ini juga terjadi bersamaan dengan turunnya posisi Indonesia dalam peringkat adopsi kripto global, dari sebelumnya peringkat ketiga menjadi peringkat ketujuh berdasarkan laporan Chainalysis. Persaingan Industri Makin Ketat Di tengah tekanan transaksi, minat pelaku industri terhadap pasar Indonesia masih tinggi. Hingga pertengahan 2026, OJK telah mengizinkan 32 entitas dalam ekosistem perdagangan aset kripto, dengan lebih dari 1.200 aset kripto legal diperdagangkan. Masuknya pemain global ke Indonesia juga menunjukkan pasar domestik masih dinilai memiliki potensi pertumbuhan. Menurut Yudho, kondisi tersebut membuat perusahaan kripto perlu mengubah strategi. Fokus tidak lagi hanya pada akuisisi pengguna, tetapi juga memperdalam transaksi dan menghadirkan produk yang sesuai dengan perubahan karakter investor. Salah satu peluang datang dari tokenized stocks. Volume perdagangan tokenized stocks secara global melonjak dari US$831 juta pada Juli 2025 menjadi US$54 miliar pada Juni 2026. Produk ini dinilai menarik karena memberikan eksposur terhadap saham perusahaan global seperti Tesla atau Nvidia, sehingga dapat menjadi alternatif bagi investor yang menginginkan instrumen dengan karakter berbeda dari aset kripto murni. Selain itu, pasar derivatif atau futures juga masih memiliki ruang pertumbuhan besar. Volume perdagangan derivatif kripto global pada kuartal II/2026 mencapai US$12,7 triliun, jauh di atas volume spot sebesar US$1,95 triliun. Sementara itu, kontribusi derivatif terhadap transaksi kripto nasional baru sekitar 22%. “Strategi yang relevan adalah mengombinasikan tokenized stocks untuk menjangkau investor yang lebih konservatif dan produk derivatif untuk menangkap pertumbuhan aktivitas trader,” jelas Yudho. Literasi Jadi Kunci Yudho menambahkan, membesarnya kelompok calon kelas menengah juga dapat menjadi peluang jangka panjang bagi industri kripto. Namun, pertumbuhan investor harus dibarengi dengan peningkatan literasi keuangan. “Pertumbuhan jumlah investor jangan hanya berhenti pada angka partisipasi. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat memahami risiko dan mampu mengambil keputusan investasi secara lebih matang,” ucapnya. Menurutnya, tekanan ekonomi saat ini bukan berarti prospek industri kripto Indonesia hilang. Sebaliknya, kondisi ini menjadi momentum bagi pelaku industri untuk membangun basis investor yang lebih luas, teredukasi, dan berkelanjutan. “Pasar Indonesia masih prospektif. Tantangannya adalah bagaimana industri bisa menyesuaikan produk, memperluas edukasi, dan membangun kepercayaan investor untuk jangka panjang,” sebut CEO FLOQ.
Jepang Bidik Pasar Indonesia di Era AI: Firma Hukum dan Startup Legal-Tech Seminar Strategi Masuk Pasar Tokyo
Tokyo, katakabar.com - Seiring dengan meningkatnya minat perusahaan Jepang untuk berekspansi ke Indonesia, sebuah seminar yang digelar di Shibuya membahas pertanyaan yang kerap dihadapi perusahaan Jepang: bukan lagi sekadar apakah akan memasuki perekonomian terbesar di Asia Tenggara, melainkan kapan, bagaimana, dan melalui struktur apa langkah tersebut sebaiknya dilakukan. Seminar berjudul “Indonesia Market Entry Strategy Seminar in the Age of AI” yang digelar di Shibuya Scramble Square tersebut merupakan kolaborasi antara GHP Law Firm, Gani.AI, dan Marunouchi Sogo Law Office. Seminar ini menghadirkan para praktisi di bidang hukum, investasi lintas batas, dan teknologi hukum untuk membahas berbagai aspek praktis dalam memasuki pasar Indonesia, termasuk semakin besarnya peran kecerdasan buatan dalam pelaksanaan pekerjaan hukum lintas batas. Panel menghadirkan Ruly Fitrah Nasrullah, Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) Tokyo Office, Bintang Hidayanto, Co-Founder dan CEO Gani.AI sekaligus Founder GHP Law Firm, Naufal Fileindi, Co-Managing Partner GHP Law Firm, serta Kyota Konnai, Attorney-at-Law pada Marunouchi Sogo Law Office. Sesi tersebut dimoderatori oleh Ayuki Kamata. Melampaui Besarnya Pasar: Mengutamakan Struktur Tepat Alih-alih melakukan pitching mengenai kekuatan ekonomi maupun jumlah penduduk Indonesia. Hal yang pada umumnya telah diketahui oleh para eksekutif Jepang panel berfokus pada berbagai keputusan yang perlu diambil setelah perusahaan memutuskan untuk memasuki pasar Indonesia. Keputusan tersebut mencakup pemilihan antara kemitraan lokal, skema distribusi, joint venture, atau entitas yang dimiliki sepenuhnya, pengelolaan anak perusahaan di Indonesia yang berkantor pusat di Jepang, serta melakukan navigasi atas ketentuan regulasi dalam menjalankan kegiatan usaha yang melibatkan dua yurisdiksi hukum. Topik yang dibahas meliputi: * Peluang investasi dan pasar bagi perusahaan Jepang di Indonesia * Pemilihan struktur masuk pasar yang sesuai dengan model bisnis dan profil risiko * Tata kelola dan koordinasi antara kegiatan operasional di Indonesia dan kantor pusat di Jepang * Pertimbangan khusus bagi perusahaan manufaktur yang mempertimbangkan produksi lokal * Aspek regulasi dan kepatuhan dalam kegiatan usaha lintas batas * Peluang-peluang baru di Indonesia di luar sektor investasi tradisional “Industri otomotif selama ini menjadi sektor utama bagi pelaku usaha Jepang. Tetapi, sektor F&B dan e-commerce belum berkembang seprogresif sektor tersebut, meskipun pasar Indonesia terbuka terhadap keduanya," kata Naufal Fileindi, Co-Managing Partner GHP Law Firm Peran AI Semakin Besar dan Kompleks dalam Pekerjaan Hukum Cross-Border Pembahasan lainnya dalam seminar tersebut mengulas bagaimana artificial intelligence mulai mengubah pelaksanaan kegiatan hukum dan bisnis cross-border. Para panelis membahas potensi AI dalam meningkatkan efisiensi pekerjaan hukum sekaligus berbagai risiko praktis yang perlu diperhatikan, khususnya terkait kerahasiaan klien, pengawasan manusia, serta ketertelusuran dalam konteks hukum dan sektor publik. Dengan mengacu pada pengalaman Gani.AI di bidang teknologi hukum, diskusi ini fokus pada bagaimana pelaku usaha dan penyedia jasa profesional dapat mengadopsi teknologi AI tanpa mengesampingkan mekanisme perlindungan dan pertimbangan manusia yang tetap diperlukan dalam pekerjaan hukum cross-border. “Tidak dapat dipungkiri bahwa AI memiliki peran penting. Dengan AI, manusia akan mampu berkembang melampaui kemampuan yang kita miliki saat ini," timpal Bintang Hidayanto, Co-Founder dan CEO GANI.AI Pendekatan Spesifik Tiap Perusahaan, Bukan Pendekatan Berlaku untuk Semua Penyelenggara seminar menegaskan tidak terdapat satu strategi yang dapat diterapkan secara seragam bagi seluruh perusahaan yang hendak memasuki pasar Indonesia. Pesan utama yang disampaikan panel adalah bahwa pendekatan masing-masing perusahaan perlu disesuaikan dengan model bisnis, tahap ekspansi, profil risiko, struktur organisasi, serta tujuan jangka panjangnya, bukan semata-mata didasarkan pada besarnya potensi pasar. GHP Law Firm, Gani.AI, dan Marunouchi Sogo Law Office, menyampaikan komitmennya untuk terus mendorong dialog antara pelaku usaha Jepang dan mitra mereka di Indonesia maupun kawasan Asia Tenggara, seiring dengan meningkatnya minat perusahaan Jepang terhadap peluang investasi, manufaktur, teknologi, dan pasar konsumen di Indonesia.
Ketika Pasar Bergejolak: Membaca Pola Emas dan IHSG dari Tiga Krisis Besar
Jakarta, katakabar.com - Setiap kali pasar keuangan memasuki masa gejolak, satu pertanyaan yang sama selalu muncul di benak banyak investor: ke mana sebaiknya dana ditempatkan agar lebih tahan terhadap guncangan? Menengok ke belakang, tiga periode krisis besar yang dialami pasar Indonesia, yaitu krisis keuangan global 2008, pandemi 2020, dan volatilitas pasar 2024, memberikan gambaran yang menarik mengenai bagaimana emas dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak ke arah yang sering kali berlawanan. Babak Pertama: Guncangan Global 2008 Krisis keuangan global 2008 menjadi salah satu ujian terberat bagi pasar saham di hampir seluruh dunia. Tekanan yang berawal dari sektor keuangan negara maju merembet dengan cepat ke berbagai bursa, termasuk Indonesia. IHSG mengalami koreksi yang dalam seiring meningkatnya kehati-hatian investor secara global. Pada periode yang sama, harga emas dalam denominasi dolar AS justru bergerak menguat. Banyak pelaku pasar internasional mengalihkan sebagian dananya ke aset yang dianggap lebih defensif ketika ketidakpastian meningkat. Inilah kali pertama dalam ingatan banyak investor modern, pola pergerakan emas dan saham yang berlawanan arah terlihat begitu jelas. Babak Kedua: Tekanan Pandemi 2020 Lebih dari satu dekade kemudian, pandemi 2020 kembali menghadirkan tekanan yang luar biasa pada pasar keuangan dunia. Dalam waktu singkat, IHSG sempat turun tajam ketika kekhawatiran menyebar lebih cepat daripada kepastian. Pola yang serupa dengan 2008 pun terulang. Di tengah gelombang ketidakpastian itu, harga emas global sempat menyentuh kisaran rekor tertingginya, sementara harga emas dalam rupiah juga mencatat penguatan. Bagi sebagian investor, emas kembali menjalankan perannya sebagai salah satu aset penyeimbang ketika kelas aset lain berada di bawah tekanan. Babak Ketiga: Dinamika Pasar 2024 Berbeda dengan dua periode sebelumnya, 2024 tidak ditandai oleh satu guncangan besar, melainkan oleh dinamika pasar yang lebih beragam sepanjang tahun. IHSG menutup tahun dengan koreksi tipis. Pada saat yang sama, harga emas, baik secara global maupun dalam bentuk emas Antam, melanjutkan tren penguatan yang cukup konsisten. Rangkuman berikut memberikan gambaran umum atas pola pergerakan kedua aset selama tiga periode tersebut. Konteks Sering Terlewat: Pola Bukan Jaminan Meski pola di atas terlihat berulang, penting untuk dipahami bahwa hal ini bukan jaminan akan terjadi kembali dengan cara yang sama. Sejumlah studi akademik di Indonesia justru menunjukkan peran emas sebagai aset lindung nilai bersifat kontekstual. Pada beberapa periode, kekuatan hubungannya dengan pasar saham tidak selalu konsisten. Temuan ini memberi pelajaran berharga: tidak ada satu pun kelas aset yang dapat dianggap sepenuhnya bebas risiko. Setiap aset memiliki karakteristik, kelebihan, dan keterbatasannya masing-masing, yang perlu dipahami sebelum keputusan investasi diambil. Market Insight Ada beberapa pelajaran yang dapat dibaca dari ketiga periode tersebut. Pertama, pada masa tekanan pasar yang luas, emas dan saham kerap bergerak ke arah yang berbeda, sehingga keduanya dapat saling melengkapi dalam sebuah portofolio. Kedua, besarnya pergerakan tidak pernah sama di setiap krisis, sehingga mengandalkan satu skenario tunggal berisiko menyesatkan. Ketiga, dan yang paling konsisten muncul, adalah pentingnya diversifikasi. Dengan menyebar penempatan dana pada beberapa kelas aset yang memiliki karakteristik berbeda, investor memiliki peluang lebih baik untuk membangun portofolio yang seimbang dalam menghadapi berbagai kondisi pasar. Menurut tim Research Valbury, data historis sebaiknya dipahami sebagai bahan pembelajaran, bukan sebagai ramalan. Hal yang ingin terus didorong adalah literasi keuangan, agar masyarakat memahami karakteristik setiap aset beserta risikonya, dan dapat mengambil keputusan yang lebih bijak sesuai dengan profil masing-masing.
Transaksi Kripto Juni Tumbuh 24,2 persen, Bittime Sebut Pasar Indonesia Kian Matang
Jakarta, katakabar.com - Bittime menilai pasar aset kripto Indonesia semakin matang seiring pertumbuhan transaksi dan jumlah konsumen. Data OJK mencatat transaksi aset kripto Juni 2026 mencapai Rp28,58 triliun, naik 24,20 persen secara bulanan. Bittime melihat penguatan regulasi, diversifikasi aset digital, serta meningkatnya aktivitas perdagangan menjadi fondasi pertumbuhan industri aset kripto di Indonesia. Bittime, sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang terdaftar dan diawasi OJK, menilai pasar aset kripto Indonesia semakin matang seiring meningkatnya aktivitas transaksi, jumlah konsumen, serta penguatan regulasi dan pengawasan industri. Penilaian tersebut sejalan dengan data OJK yang mencatat nilai transaksi aset kripto mencapai Rp28,58 triliun pada Juni 2026, meningkat 24,20 persen month-to-month (mtm) dibandingkan Rp23,01 triliun pada Mei 2026. Jumlah akun konsumen pedagang aset keuangan digital juga meningkat 1,32 persen mtm menjadi 22,69 juta akun pada Juni 2026. Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin kuatnya minat masyarakat terhadap aset digital. Menurutnya, perkembangan aktivitas pasar yang diikuti penguatan regulasi dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan industri dalam jangka panjang. “Pertumbuhan transaksi dan jumlah konsumen menunjukkan bahwa minat terhadap aset digital di Indonesia terus meningkat. Di saat yang sama, regulasi dan pengawasan yang semakin kuat dapat memberikan kepastian bagi pelaku industri dan investor, sekaligus membangun fondasi yang lebih sehat bagi pertumbuhan pasar,” kata Ryan. Regulasi Perkuat Kepercayaan, Tantangan Pasar Tetap Ada Bittime melihat regulasi yang semakin jelas di Indonesia maupun global dapat menjadi salah satu pendorong pertumbuhan pasar aset digital. Pengawasan OJK memberikan standar yang lebih jelas bagi pelaku industri sekaligus memperkuat aspek perlindungan konsumen. Di tingkat global, implementasi penuh Markets in Crypto-Assets (MiCA) di Eropa sejak 1 Juli 2026 menjadi salah satu tonggak penting dalam menciptakan standar regulasi aset kripto yang lebih seragam. Sementara di Amerika Serikat, pelaku industri masih menantikan perkembangan Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY Act) yang diharapkan memberikan kepastian hukum bagi industri aset digital. Di Indonesia, penguatan regulasi juga berlanjut melalui revisi UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU PPSK). Tetapi, Bittime menilai pasar aset kripto masih menghadapi tantangan pada semester kedua 2026. Ketegangan geopolitik, konflik di sejumlah kawasan, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral global masih berpotensi mempengaruhi sentimen investor dan pergerakan aset kripto. “Pada semester kedua 2026, pasar aset kripto masih akan menghadapi dinamika dari kondisi makroekonomi dan geopolitik global. Karena itu, investor perlu mencermati perkembangan pasar secara lebih menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada pergerakan harga dalam jangka pendek,” ucap Ryan. Pasar Aset Digital Semakin Beragam Di tengah perkembangan tersebut, Bittime terus memperluas pilihan aset digital bagi masyarakat Indonesia, mulai dari aset kripto hingga aset berbasis blockchain lainnya. Bittime menyediakan akses ke berbagai aset, mulai dari Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Solana (SOL), XRP, dan USDT, hingga Tokenized US Stocks seperti NVDA, AAPL, GOOGL, dan META. Keragaman minat pengguna juga tercermin dari aktivitas perdagangan di Bittime. Berdasarkan data trade volume sepanjang pekan lalu, aset yang aktif diperdagangkan tidak hanya berasal dari aset kripto mainstream, tetapi juga mencakup AI Stocks dan meme token. Pada kategori AI Stocks, tiga aset dengan trade volume tertinggi adalah NVDAX, SPCXX, dan TSLAX. Sementara pada kategori meme, TUT, KOMA, dan BABYSHARK menjadi tiga aset dengan trade volume tertinggi. Untuk aset mainstream, Solana (SOL), Bitcoin (BTC), dan Ethereum (ETH) mencatat trade volume tertinggi. Pada Juli 2026, Bittime juga menjadi pedagang aset keuangan digital pertama yang memperoleh izin perdagangan derivatif aset keuangan digital melalui proses perizinan yang sepenuhnya berlangsung di bawah era pengawasan OJK, dengan izin yang diterbitkan oleh PT Central Finansial X (CFX). “Pertumbuhan industri bukan hanya mengenai peningkatan transaksi, tetapi juga bagaimana ekosistem dapat menyediakan akses yang semakin beragam dengan tetap mengedepankan kepatuhan, transparansi, dan edukasi investor,” tandas Ryan.
Bittime Ungkap Tren Diversifikasi Aset Digital di Tengah Pemulihan Pasar Kripto
Jakarta, katakabar.com - Data internal Bittime menunjukkan investor Indonesia semakin beragam dalam memilih aset digital. Selain tetap aktif bertransaksi pada aset kripto utama dan USDT, minat terhadap Tokenized US Stocks juga meningkat 2,5 kali lipat pada Juli 2026, mencerminkan tren diversifikasi portofolio ke aset global. Investor kripto semakin selektif menentukan aset untuk bertransaksi di tengah dinamika pasar aset digital yang terus berkembang. Data Bittime menunjukkan meningkatnya minat investor terhadap aset kripto utama, hingga stablecoin USDT, serta aset global berbasis tokenisasi, seiring investor mencari peluang yang lebih luas untuk membangun portofolio aset digital. "Investor saat ini semakin selektif dalam menentukan aset yang ingin mereka transaksikan. Bitcoin dan Ethereum tetap menjadi aset utama yang banyak diperhatikan, tetapi investor juga mulai melihat peluang lain berdasarkan kondisi pasar, momentum, dan strategi masing-masing. Bagi kami, ini menunjukkan bahwa pasar semakin berkembang dan investor semakin memahami bahwa setiap aset memiliki karakteristik dan peluang yang berbeda," ucap Ryan Lymn, Direktur Operasional Bittime. Tren selektivitas investor juga terlihat dalam pasar aset digital global. Berdasarkan laporan CoinShares, pada Mei 2026 Bitcoin mencatat arus dana keluar sebesar US$982 juta, sementara XRP dan Solana masih mencatat arus dana masuk masing-masing sebesar US$67,6 juta dan US$55,1 juta. Perbedaan arus dana tersebut menunjukkan bahwa investor dapat memberikan respons yang berbeda terhadap setiap aset dan tetap mencari peluang tertentu di tengah dinamika pasar. Investor Kripto Indonesia Mulai Mengeksplorasi Beragam Aset Di Indonesia, perubahan preferensi investor juga tercermin dalam aktivitas transaksi di Bittime. Berdasarkan data internal Bittime, minat transaksi pengguna terlihat pada sejumlah aset seperti USDT, Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan Solana (SOL). Hal ini menunjukkan aset kripto utama masih memiliki peran penting, sementara investor semakin memperhatikan pilihan aset berdasarkan kondisi dan peluang yang tersedia. Tidak hanya aset kripto, minat terhadap instrumen digital yang memberikan eksposur ke pasar global juga mulai berkembang. Data internal Bittime menunjukkan aktivitas perdagangan Tokenized US Stocks pada Juli 2026 meningkat 2,5 kali lipat dibandingkan Juni 2026. Lima Tokenized US Stocks yang paling banyak diminati di Bittime adalah SPCXX, NVDAX, CRCLX, MSTRX, dan AAPLX. "Perkembangan ini menunjukkan kebutuhan investor dalam mengakses pasar juga semakin beragam. Mereka tetap menjadikan aset kripto utama sebagai bagian penting dari aktivitas transaksi, namun pada saat yang sama mulai mengeksplorasi instrumen lain yang dapat memberikan eksposur terhadap peluang di pasar global. Bagi Bittime, tren ini menjadi dorongan untuk terus menghadirkan pilihan aset yang relevan bagi investor Indonesia dalam satu ekosistem aset digital," sebut Ryan.
RI Teken 7 MoU di INNOPROM 2026 Demi Tembus Pasar Eurasia
Jakarta, katakabar.com - Pemerintah Republik Indonesia terus mendorong perluasan jaringan pasar industri domestik ke kancah global. Langkah strategis ini terlihat nyata melalui partisipasi aktif Indonesia sebagai negara mitra (Partner Country) dalam pameran industri internasional INNOPROM 2026 yang berlangsung di Yekaterinburg, Rusia. "Indonesia membawa agenda industri yang tegas, yaitu mempercepat hilirisasi mulai dari mineral kritis dan manufaktur maju, hingga energi, ketahanan pangan, dan kawasan industri," ujar Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam sambutannya pada acara Business Forum: Russia–Indonesia Industrial Dialogue di Yekaterinburg, Rusia, di penghujung pekan pertama Juli 2026 lalu. Agus juga menambahkan Indonesia sangat optimistis untuk memperdalam kemitraan teknologi dengan Rusia, serta mengintegrasikan manufaktur bernilai tambah tinggi ke dalam pasar Eurasia. Sektor manufaktur atau Industri Pengolahan (IP) terbukti masih menjadi penopang utama atau tulang punggung perekonomian nasional. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sektor IP pada Triwulan I Tahun 2026 mencatatkan pertumbuhan yang positif sebesar 5,04 persen. Angka pertumbuhan ini lebih tinggi jika kita bandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang menyentuh angka 4,55 persen. Selain itu, sektor IP memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, yaitu mencapai 19,07 persen atau setara dengan Rp1.179,62 triliun. Kinerja memukau ini juga terlihat dari realisasi investasi pada Triwulan I Tahun 2026, di mana sektor IP menyumbang hingga 36,49 persen atau senilai Rp182,04 triliun. Tidak hanya dari sisi modal, sektor ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat masif, yakni sebanyak 20,04 juta orang per Februari 2026. Sementara pada sektor perdagangan internasional, kontribusi ekspor IP pada periode Januari–Februari 2026 mendominasi hingga 83,61 persen dengan nilai penjualan mencapai Rp622,68 triliun. Hubungan ekonomi antara Indonesia dan Rusia sendiri memperlihatkan perkembangan yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Nilai total perdagangan bilateral kedua negara tumbuh sebesar 5,4 persen hingga mencapai USD 4,8 miliar pada tahun 2025. Nilai ekspor produk Indonesia ke Rusia pun melonjak tajam sebesar 7,5 persen dengan total nilai sekitar USD 1,8 miliar pada tahun 2025. Indonesia secara rutin mengekspor komoditas unggulan seperti karet, kopi, coklat, teh, alas kaki, komponen elektronik, serta produk kimia. Sebaliknya, Indonesia mengimpor komoditas penting dari Rusia seperti pupuk, besi, baja, sereal, kimia organik, hingga pesawat terbang. Lebih lanjut, pelaksanaan forum bisnis ini mengangkat tiga topik kunci, antara lain Joint industrial projects, Investment opportunities for industrial companies in Russia and Indonesia, dan Tools and mechanisms to support exporters. “Saya yakin forum hari ini akan membawa kedua negara, khususnya sektor industri dapat berkolaborasi secara konkret melalui inisiasi proyek-proyek kerja sama yang saling menguntungkan dan berkelanjutan” tambah Menperin. Guna memperkokoh jalinan kerja sama strategis ini, kedua negara sepakat menandatangani tujuh dokumen perjanjian atau Memorandum of Understanding (MoU) baru di bidang industri. Dokumen tersebut meliputi kerja sama antara Kementerian Perindustrian dengan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia, serta lima dokumen kerjasama teknis dan komersial yang melibatkan pelaku usaha seperti Ikatan Perusahaan Industri Galangan Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO), PT PCM Kabel Indonesia, PT Athira Maritim Indonesia, Perkumpulan Industri Komponen Kapal Indonesia (PIKKI) bersama United Industrial Corporation AK Bars dan MoU antara PT Minang Jordanindo dengan CHETRA LLC, serta nota kesepahaman antara Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia dengan the Association of Clusters dan Technology Parks, and SEZs of the Russian Federation (ACTPRF). Kerja sama baru ini melengkapi dua MoU terdahulu yang sudah berjalan sejak Desember 2025 di bidang galangan kapal dan studi krisotil asbestos. Peran Indonesia sebagai Partner Country diharapkan dapat menjadi landasan kuat untuk membangun kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan, baik bagi Indonesia dan Rusia maupun pada skala global, ditengah tantangan geoekonomi dan geopolitik.