Pasar Kripto

Sorotan terbaru dari Tag # Pasar Kripto

FLOQ Sukses Taja Media Gathering tentang Pasar Kripto Indonesia, Didukung Vritimes Default
Default
Selasa, 27 Januari 2026 | 12:33 WIB

FLOQ Sukses Taja Media Gathering tentang Pasar Kripto Indonesia, Didukung Vritimes

Jakarta, katakabar.com - Viritimes umumkan keberhasilan acara Media Gathering yang ditaja FLOQ pada 23 Januari 2026 lalu di restoran Kembang Goela, Jakarta. Acara ini berlangsung suasana obrolan ringan yang membahas perkembangan pasar kripto Indonesia yang kini memasuki fase yang lebih terukur dan berkelanjutan. Acara ini turut dihadiri oleh CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, yang berbagi pandangan mengenai dinamika pasar kripto Indonesia termasuk pergeseran dari aktivitas spekulatif menuju pendekatan yang lebih disiplin, akuntabel, dan berfokus pada kepercayaan jangka panjang. Diskusi ini juga melibatkan para jurnalis dari media nasional terkemuka seperti Media Indonesia, Republika, Rakyat Merdeka, dan media besar lainnya. Antusiasme mereka tetap tinggi meskipun diguyur hujan deras di Jakarta, yang menunjukkan besarnya perhatian media terhadap perkembangan sektor aset digital dan kripto di Indonesia. Di kegiatan itu, Yudhono Rawis, memaparkan rencana perkembangan FLOQ ke depannya, termasuk fokus pada peningkatan layanan, pengembangan teknologi baru, serta fitur‑fitur aplikasi yang lebih inovatif untuk mendukung kebutuhan investor dan pengguna aset digital. Upaya ini mencerminkan komitmen FLOQ dalam menjadi platform kripto yang tidak hanya relevan secara teknologi tetapi juga bertanggung jawab dan berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang. Vritimes menyampaikan terima kasih kepada seluruh jurnalis, pembicara, dan peserta yang telah hadir dan aktif berdiskusi dalam acara ini. Kami juga memberikan apresiasi kepada para hadirin yang tetap antusias meskipun cuaca kurang bersahabat.

Tekanan Suku Bunga dan Arus Institusi Jadi Penentu Arah Pasar Kripto 2026 Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 03 Januari 2026 | 14:58 WIB

Tekanan Suku Bunga dan Arus Institusi Jadi Penentu Arah Pasar Kripto 2026

Jakarta, katakabar.com - Memasuki tahun 2026, pasar kripto diperkirakan masih berada dalam fase transisi antara tekanan makroekonomi global dan potensi pertumbuhan jangka menengah yang semakin kuat. Dinamika suku bunga global, arus institusional, serta perilaku investor jangka panjang akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah pasar kripto sepanjang 2026. Menurut Analisis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, Bitcoin sepanjang akhir 2025 hingga awal 2026 berada di area support struktural yang sangat penting. “Bitcoin mampu bertahan di atas area US$80.000 pada penutupan bulanan, yang secara historis menjadi zona stabilisasi harga. Tetapi, tekanan masih terlihat dari sisi likuiditas dan sentimen global,” jelasnya. Data on-chain menunjukkan adanya sinyal yang saling bertolak belakang. Coinbase Premium Index, indikator permintaan institusional dari Amerika Serikat, tercatat berada di zona negatif dalam waktu yang cukup panjang. Kondisi ini menandakan tekanan jual dari investor AS masih berlangsung dan menjadi faktor utama tertahannya pergerakan harga Bitcoin di bawah level US$90.000. Fyqieh menilai, selama premi Coinbase belum kembali positif secara konsisten, pasar masih berpotensi mengalami fluktuasi dan koreksi terbatas. Di sisi lain, tekanan jual mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Arus keluar dari ETF Bitcoin Spot memang masih terjadi, namun volumenya terus menurun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. “Ini mengindikasikan bahwa tekanan distribusi tidak lagi sekuat sebelumnya. Dalam beberapa siklus historis, kondisi seperti ini sering menjadi fase transisi menuju konsolidasi yang lebih sehat,” ujar Fyqieh. Fyqieh mencermati pergerakan pemegang Bitcoin jangka panjang yang mulai kembali ke fase akumulasi. Data Tokocrypto mencatat adanya pergeseran lebih dari 10.000 BTC ke status kepemilikan jangka panjang pada akhir 2025. Hal ini memperkuat pandangan bahwa tekanan jual struktural mulai berkurang, meskipun volatilitas jangka pendek masih sulit dihindari. Kunci Kebijakan The Fed Dari sisi makroekonomi, kebijakan bank sentral Amerika Serikat masih menjadi tantangan utama bagi pasar kripto. Risalah FOMC terbaru menunjukkan bahwa The Fed cenderung mempertahankan suku bunga di level tinggi lebih lama, dengan peluang pemangkasan suku bunga baru terbuka setelah Maret atau bahkan April 2026, apabila inflasi benar-benar melandai. Kondisi “higher for longer” ini membuat likuiditas global tetap ketat dan membatasi katalis kenaikan harga kripto dalam jangka pendek. “Di awal 2026, risiko pasar kripto masih cenderung ke downside apabila data inflasi dan tenaga kerja tidak mendukung pelonggaran kebijakan moneter. Namun, tekanan ini bersifat makro dan bukan karena melemahnya fundamental kripto itu sendiri,” jelas Fyqieh. Tetapi, prospek jangka menengah hingga akhir 2026 tetap dinilai konstruktif. Sejumlah analis global memproyeksikan Bitcoin berpotensi mencetak rekor harga baru hingga US$150.000 pada akhir 2026, didorong oleh adopsi institusional yang semakin luas, peningkatan penggunaan ETF kripto, serta peran Bitcoin sebagai aset lindung nilai di tengah tingginya utang pemerintah dan ketidakpastian ekonomi global. Selain Bitcoin, sektor stablecoin diproyeksikan mengalami pertumbuhan signifikan. Fyqieh menilai tren penggunaan stablecoin akan semakin meluas, terutama melalui integrasi kartu pembayaran berbasis stablecoin dan dukungan regulasi yang lebih jelas. Pertumbuhan pasokan stablecoin global diperkirakan dapat mencapai lebih dari 50%, seiring meningkatnya adopsi oleh institusi keuangan dan perusahaan teknologi. Sentimen Regulasi Dari sisi regulasi, tahun 2026 diperkirakan menjadi fase penting bagi industri kripto global. Di Amerika Serikat, regulasi yang lebih komprehensif seperti Clarity Act berpotensi disahkan, memberikan kepastian hukum yang lebih jelas bagi pelaku industri. Sementara di Indonesia, RUU P2SK menjadi penentu arah industri dalam negeri ke depan. Fyqieh menilai, meskipun regulasi yang lebih ketat dapat menekan pasar dalam jangka pendek, kepastian hukum justru akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan industri kripto yang lebih berkelanjutan. “Secara keseluruhan, 2026 kemungkinan besar akan menjadi tahun dengan volatilitas tinggi di awal, namun membuka peluang pemulihan dan penguatan secara bertahap. Investor perlu memahami bahwa fase konsolidasi saat ini merupakan bagian dari proses menuju struktur pasar yang lebih matang,” sebut Fyqieh. Fyqieh mengimbau masyarakat dan investor untuk tetap berhati-hati, memahami risiko, serta menerapkan strategi investasi yang selaras dengan profil risiko masing-masing, terutama di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. Ke depan, arah pasar berpotensi makin jelas ketika Bitcoin keluar dari area konsolidasinya: Penembusan di atas US$105.000 dapat membuka ruang penguatan lanjutan, sementara penurunan di bawah US$80.000 bisa memicu koreksi lebih dalam. Momentum itu pada akhirnya akan menjawab pertanyaan besar yang selama ini “ditahan” pasar: Apakah 2026 akan menjadi tahun bull market , atau justru fase bear market.

Pasar Kripto Global Melemah, Indonesia Tetap Tunjukkan Ketahanan Investor Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 22 November 2025 | 10:00 WIB

Pasar Kripto Global Melemah, Indonesia Tetap Tunjukkan Ketahanan Investor

Jakarta, katakabar.com - Bitcoin kembali melemah tajam pada perdagangan Jumat (21/11), turun ke level yang belum terlihat sejak lebih dari enam bulan terakhir. Aset kripto terbesar di dunia itu sempat menyentuh titik terendah di angka US$86.325,81 atau setara Rp1,44 miliar, sebelum kembali diperdagangkan di sekitar US$86.990,11. Penurunan ini terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap prospek pemotongan suku bunga The Fed pada bulan depan. Rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih positif dibanding perkiraan menimbulkan keraguan pasar mengenai rencana penurunan suku bunga. Ekonomi AS menambah 119.000 tenaga kerja pada September, jauh melampaui proyeksi 50.000. Data yang lebih kuat dari ekspektasi ini membuat pasar memperhitungkan peluang pemotongan suku bunga pada Desember sekitar 40 persen, menurut CME FedWatch. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai gejolak pasar global ini juga membawa dampak ke pasar domestik. Ia menjelaskan bahwa pola penurunan volume transaksi yang terjadi di Indonesia masih berkaitan erat dengan dinamika global. Tetapi, ia menegaskan bahwa pasar Indonesia menunjukkan ketahanan lebih kuat dibanding kondisi global. Calvin mengatakan, Volatilitas yang terjadi di pasar global memang memengaruhi aktivitas perdagangan di Indonesia. Tetapi, menariknya adalah meskipun nilai transaksi turun, jumlah pengguna kripto di Indonesia terus meningkat. Ini menunjukkan kepercayaan dan minat masyarakat terhadap aset digital tetap terjaga, bahkan ketika pasar sedang cooling down. Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi kripto di Indonesia sepanjang Januari hingga Oktober 2025 mencapai Rp409,56 triliun. Angka ini turun sekitar 13,77 persen dibanding periode yang sama pada 2024 yang mencapai Rp475 triliun. Meski demikian, jumlah pengguna kripto di Indonesia justru meningkat menjadi 18,61 juta pada September 2025, atau naik 3,05 persen dalam satu bulan. Rata-rata tren jumlah investor kripto meningkat di atas 3 persen setiap bulannya. Tren ini memperlihatkan investor lokal bukan menarik diri dari pasar, tetapi memilih untuk lebih berhati-hati dalam memasukkan dana baru. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa pasar domestik tetap resilien meski tengah berada dalam tekanan global. Proyeksi Pasar Kripto ke Depan Melihat ke depan, Calvin memproyeksikan bahwa perdagangan kripto hingga akhir 2025 kemungkinan berada dalam fase konsolidasi seiring sikap wait and see pelaku pasar global. Faktor makro seperti kebijakan suku bunga The Fed, stabilitas geopolitik, aliran likuiditas, dan arus modal institusional akan menjadi penentu utama arah pasar beberapa kuartal mendatang. Calvin menambahkan, saat ini kita belum melihat konfirmasi bahwa pasar memasuki fase bearish struktural. Banyak indikator on-chain, adopsi pengguna, dan aktivitas pengembang masih stabil. Kondisinya lebih menggambarkan pendinginan pasar daripada pembalikan tren besar. Pemerintah dinilai memiliki peran signifikan dalam menjaga stabilitas pasar domestik melalui regulasi perpajakan, rencana implementasi bursa aset kripto tambahan, hingga edukasi publik. Inisiatif-inisiatif ini dipercaya dapat memperkuat fondasi ekosistem aset digital di Indonesia. Memasuki 2026, pasar berpotensi bergerak lebih terarah. Skenario penguatan dapat terjadi jika kondisi makro global membaik, termasuk potensi penurunan suku bunga, meningkatnya appetite risiko investor, serta masuknya likuiditas baru. Siklus empat tahunan (post-halving) yang secara historis biasanya mendorong harga aset digital juga bisa berperan dalam pemulihan pasar. Tetapi, berbagai potensi risiko tetap harus diwaspadai. Jika tekanan makro terus berlanjut, pasar bisa bergerak sideways dengan potensi bearish yang bertahan lebih lama. CEO Tokocrypto ini menutup dengan pesan optimis tetapi berhati-hati, investor perlu tetap waspada, melakukan analisis, dan memahami risiko.

Pasar Kripto Bergelora Usai The Fed Pangkas Suku Bunga, Bitcoin dan Aset Lain Bergerak Naik Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 24 September 2025 | 16:34 WIB

Pasar Kripto Bergelora Usai The Fed Pangkas Suku Bunga, Bitcoin dan Aset Lain Bergerak Naik

Jakarta, katakabar.com - Keputusan Bank Sentral AS, Federal Reserve atau The Fed, untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin untuk pertama kalinya tahun ini telah memicu pergerakan menarik di pasar global, termasuk dunia aset kripto. Meski langkah ini telah banyak diperkirakan, respons pasar yang terkesan terlambat dan kemudian melonjak menunjukkan adanya dinamika yang kompleks. Terlepas dari respons awal yang cenderung stabil, pergerakan positif pada jam-jam berikutnya di pasar futures S&P 500 dan Nasdaq, serta lonjakan harga Bitcoin, mengindikasikan para investor mulai mencerna implikasi jangka panjang dari kebijakan ini. Sikap waspada The Fed terlihat semakin jelas. Meskipun memangkas suku bunga, Ketua The Fed, Jerome Powell, menyatakan bahwa kedepannya keputusan akan diambil berdasarkan data ekonomi yang masuk, khususnya terkait inflasi dan angka pasar tenaga kerja. The Fed memproyeksikan dua pemangkasan suku bunga tambahan hingga akhir 2025, tetapi hal ini bergantung pada kondisi ekonomi. Federal Open Market Committee atau FOMC menunjukkan hampir seluruh anggotanya menyetujui pemangkasan, dengan satu pengecualian yakni Stephen Miran, seorang pejabat baru yang diangkat oleh Presiden Donald Trump, yang menginginkan pemotongan yang lebih besar, mencerminkan pandangan Presiden Trump. Menariknya, meski sering bertentangan, Powell dan Trump sepakat pemotongan suku bunga saat ini tidak akan memberikan dampak material yang signifikan pada perekonomian. Tapi, langkah The Fed ini dikhawatirkan dapat menjadi bukti adanya campur tangan politik yang semakin besar dari White House, yang berpotensi menimbulkan ketidakstabilan di pasar. Di sisi lain, beberapa analis melihat pemangkasan ini sebagai katalis bagi aset berisiko. Max Gokhman, wakil kepala bidang investasi di Franklin Templeton Investment Solutions, berpendapat kebijakan yang mendorong inflasi dan melemahkan Treasury justru dapat menciptakan landasan bagi renaissance aset digital. Ia memprediksi aset seperti XRP dan Solana atau SOL akan mengalami adopsi lintas batas yang lebih besar. Pada kenyataannya, pergerakan pasar aset kripto setelah pengumuman The Fed memang menunjukkan fenomena tersebut. Kripto dengan kapitalisasi pasar yang lebih kecil, seperti Ethereum (ETH), XRP, dan Solana (SOL), menunjukkan kenaikan yang lebih signifikan dibandingkan Bitcoin (BTC). Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pemotongan suku bunga dapat mendorong investor untuk mencari aset yang lebih berisiko dan berpotensi memberikan imbal hasil lebih tinggi. Selain Bitcoin, ada beberapa aset kripto lain yang juga menunjukkan pergerakan positif. Misalnya, Bitcoin Cash (BCH) melonjak hampir 3% setelah pengumuman tersebut. Peningkatan volume perdagangan dan open interest pada BCH menunjukkan sentimen bullish yang kuat di pasar. Meski demikian, penting untuk dicatat bahwa pasar kripto sangat sensitif terhadap kebijakan moneter. Pemangkasan suku bunga memang cenderung menguntungkan aset berisiko, namun investor juga harus tetap waspada terhadap data inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja yang dapat mengubah arah kebijakan The Fed di masa depan. Bittime, sebagai platform pertukaran aset kripto, memainkan peran penting dalam memfasilitasi perdagangan yang volatil ini. Sebagai penghubung antara investor dan pasar kripto, Bittime menyediakan instrumen yang dibutuhkan para pengguna untuk merespons keputusan The Fed. Dengan menyediakan layanan perdagangan yang efisien dan data pasar yang real-time, Bittime memungkinkan para investor untuk mengambil keputusan yang cepat dan terinformasi, baik saat harga Bitcoin mengalami fluktuasi maupun ketika altcoin menunjukkan lonjakan signifikan.

Dampak Tarif Trump: Lagi, XRP dan Pasar Kripto Terguncang Internasional
Internasional
Jumat, 04 April 2025 | 15:40 WIB

Dampak Tarif Trump: Lagi, XRP dan Pasar Kripto Terguncang

Jakarta, katakabar.com - Pasar kripto diguncang oleh pengumuman mengejutkan dari mantan Presiden AS, Donald Trump, yang mengumumkan tarif dagang baru terhadap beberapa negara di awal April 2025. Pengumuman ini langsung memicu kepanikan pasar karena dikhawatirkan akan memicu balasan dari negara-negara mitra dagang Amerika, yang pada akhirnya memperburuk kondisi ekonomi global. Akibatnya, investor berbondong-bondong menarik dananya dari aset berisiko seperti kripto, termasuk XRP. Dalam waktu singkat, XRP kehilangan lebih dari 5 persen nilainya, menjadikannya salah satu aset dengan kinerja terburuk di antara 10 besar kripto. Penurunan ini juga dibarengi dengan lonjakan harga emas, yang mencapai rekor tertinggi karena dianggap sebagai aset aman. Salah satu faktor paling krusial yang dapat memengaruhi masa depan XRP adalah kasus hukum antara Ripple vs SEC (U.S. Securities and Exchange Commission). Sejak 2020 lalu, Ripple terlibat dalam sengketa hukum karena SEC menganggap penjualan XRP sebagai penawaran sekuritas ilegal. Tapi, pengadilan memutuskan bahwa penjualan XRP kepada publik tidak melanggar hukum sekuritas, sementara penjualan ke investor institusional masih dipermasalahkan. Kini, SEC tengah mengajukan banding, namun muncul kemungkinan besar bahwa mereka akan mencabut banding tersebut. Jika ini terjadi, Ripple pun berpeluang mencabut banding silang mereka, dan proses penyelesaian bisa segera diajukan. Kemungkinan hasil penyelesaian:

Pengaruh USDT di Pasar Kripto dan Potensinya di Industri Komoditas Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 13 Agustus 2024 | 07:51 WIB

Pengaruh USDT di Pasar Kripto dan Potensinya di Industri Komoditas

Jakarta, katakabar.com - USDT, atau dikenal sebagai Tether salah satu stablecoin terbesar dan paling berpengaruh di dunia kripto. Dengan kapitalisasi pasar yang mencapai lebih dari $114 miliar, USDT menjadi aset kripto terbesar ketiga di dunia, setelah Bitcoin dan Ethereum. Sebagai stablecoin yang dipatok pada dolar AS, USDT memiliki peran penting dalam pasar komoditas dan sering digunakan sebagai alat pembayaran lintas negara. USDT telah berkembang menjadi sistem pembayaran global yang banyak digunakan oleh negara-negara yang mengalami inflasi tinggi dan memproduksi bahan mentah.