Penurunan
Sorotan terbaru dari Tag # Penurunan
Emas Tertekan, Dupoin Futures Waspadai Penurunan Harga
Jakarta, katakabar.com - Harga emas atau XAUUSD masih berpotensi melanjutkan pelemahan di pekan kedua September 2026. Analisis Geraldo Kofit dari Dupoin Futures menyebutkan, pergerakan emas pada time frame Daily masih menunjukkan tekanan bearish. Kondisi tersebut terlihat dari terbentuknya pola Head & Shoulder yang membuka peluang bagi harga emas untuk bergerak menuju area support terdekat di level 4.281 hingga 4.221. Geraldo Kofit menilai pola Head & Shoulder yang terbentuk pada grafik harian menjadi sinyal penting bagi arah XAUUSD dalam jangka pendek. Pola tersebut umumnya menunjukkan adanya potensi perubahan momentum setelah harga mengalami penguatan sebelumnya. Dengan struktur tersebut, Dupoin Futures melihat ruang penurunan masih terbuka selama tekanan jual tetap mendominasi pergerakan emas. Area 4.281–4.221 menjadi zona support yang perlu diperhatikan pelaku pasar. Menurut analisis Dupoin Futures, apabila tekanan bearish berlanjut, XAUUSD berpotensi bergerak secara bertahap menuju support tersebut. Level 4.281 menjadi area yang dapat diuji terlebih dahulu, sementara penurunan lebih lanjut berpotensi membawa harga menuju 4.221. Tetapi, respons harga ketika mencapai area support akan menjadi faktor penting untuk menentukan arah berikutnya. Jika support mampu menahan tekanan jual, peluang terjadinya rebound masih terbuka. Sebaliknya, apabila XAUUSD menembus zona tersebut, tekanan bearish dapat semakin kuat dan membuka ruang bagi pelemahan berikutnya. Karena itu, Geraldo Kofit dari Dupoin Futures menempatkan area support tersebut sebagai level penting yang perlu dicermati. Secara fundamental, harga emas pagi ini bergerak di sekitar US$4.350 per troy ounce dan masih berada di bawah tekanan setelah mengalami penurunan selama tiga sesi perdagangan terakhir. Pergerakan tersebut terjadi di tengah kombinasi sentimen pasar yang cenderung membebani emas, terutama kenaikan harga minyak dan meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko inflasi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena dapat meningkatkan tekanan inflasi melalui kenaikan biaya energi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve. Jika inflasi diperkirakan bertahan lebih tinggi, ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga dapat semakin terbatas. Bagi pasar emas, kondisi tersebut menjadi tantangan karena ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi cenderung memberikan dukungan terhadap dolar AS dan yield Treasury Amerika Serikat. Kenaikan yield dapat meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas, mengingat logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi. Dalam situasi tersebut, XAUUSD berpotensi menghadapi tekanan tambahan. Dupoin Futures melihat pergerakan yield Treasury dan dolar AS masih menjadi indikator penting bagi harga emas hari ini. Jika keduanya terus menguat akibat meningkatnya ekspektasi suku bunga The Fed, tekanan terhadap XAUUSD berpotensi semakin besar. Kondisi tersebut dapat memperkuat peluang harga emas untuk menguji support 4.281–4.221 sesuai proyeksi teknikal Geraldo Kofit. Di sisi lain, perkembangan konflik Timur Tengah juga menghadirkan sentimen yang berlawanan. Meningkatnya ketegangan geopolitik biasanya mendorong permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Investor dapat meningkatkan kepemilikan emas ketika ketidakpastian global meningkat. Namun, dampak konflik terhadap kenaikan harga minyak dan inflasi membuat pengaruh geopolitik terhadap emas menjadi lebih kompleks. Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada data inflasi Amerika Serikat. Setelah pergerakan harga emas mendapatkan tekanan dari ekspektasi kenaikan suku bunga, data Consumer Price Index atau CPI akan menjadi salah satu indikator penting untuk menentukan arah kebijakan The Fed. Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dan berpotensi menekan emas. Sebaliknya, apabila inflasi menunjukkan perlambatan, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar dapat kembali meningkat. Kondisi tersebut berpotensi menekan dolar AS dan yield Treasury sehingga memberikan ruang bagi emas untuk melakukan pemulihan. Dengan demikian, hasil CPI dapat menjadi katalis penting yang menentukan apakah tekanan bearish XAUUSD akan berlanjut atau mulai mereda. Berdasarkan kombinasi teknikal dan fundamental tersebut, Dupoin Futures masih melihat risiko pelemahan harga emas pada perdagangan hari ini. Geraldo Kofit memproyeksikan XAUUSD berpotensi turun menuju area support 4.281 hingga 4.221 setelah terbentuk pola Head & Shoulder pada time frame Daily. Pelaku pasar perlu mencermati perkembangan dolar AS, yield Treasury, harga minyak, serta data inflasi AS dalam menentukan arah XAUUSD selanjutnya. Selama tekanan jual masih dominan dan pola Head & Shoulder belum menunjukkan pembatalan, Dupoin Futures menilai peluang pelemahan menuju support 4.281–4.221 masih terbuka. Dengan demikian, prediksi harga emas hari ini dari Dupoin Futures masih cenderung bearish. Area 4.281–4.221 menjadi target support utama, sementara perkembangan inflasi AS dan ekspektasi kebijakan The Fed akan menjadi katalis penting yang dapat menentukan seberapa kuat tekanan terhadap harga emas dalam perdagangan berikutnya.
MIND ID Perkuat Dekarbonisasi Grup Lewat Penurunan Emisi dan Peningkatan Energi Terbarukan
Jakarta, katakabar.com - Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID terus perkuat langkah dekarbonisasi di tengah percepatan program hilirisasi mineral nasional. Upaya tersebut dilakukan melalui pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK), pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), hingga konversi menuju energi rendah karbon guna pastikan ekspansi industri tetap sejalan dengan target keberlanjutan. Di tengah pengembangan berbagai proyek hilirisasi, MIND ID menargetkan penurunan emisi GRK sebesar 15,5 persen atau setara sekitar 2 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) pada 2030. Target tersebut dipasang meski kebutuhan energi operasional grup diproyeksikan meningkat hampir dua kali lipat dalam lima tahun ke depan. Poyeksi perusahaan, kebutuhan energi Grup MIND ID akan meningkat dari sekitar 149.000 terajoule (TJ) pada 2026 menjadi 293.000 TJ pada 2030 atau naik lebih dari 90 persen. Tanpa intervensi, emisi GRK diperkirakan meningkat dari 6.100 kiloton CO2e menjadi 12.900 kiloton CO2e pada periode yang sama. Peningkatan kebutuhan energi tersebut sejalan dengan pengembangan sejumlah proyek strategis, mulai dari tambang baru di Kalimantan, pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik di Halmahera Timur, ekspansi fasilitas aluminium, pembangunan smelter, hingga proyek penambangan bawah laut. Untuk menekan emisi, MIND ID menjalankan sejumlah strategi dekarbonisasi. Langkah pertama dilakukan melalui konversi menuju bahan bakar rendah karbon, mulai dari peningkatan penggunaan biodiesel dari B35 menuju B40, penggantian High Speed Diesel (HSD) menjadi liquefied natural gas (LNG), hingga optimalisasi pemanfaatan listrik dari jaringan PLN. Di tingkat operasional, PT Bukit Asam Tbk telah menggunakan Bucket Wheel Excavator (BWE) pada kegiatan coal handling di Unit Pertambangan Tanjung Enim untuk menggantikan dump truck berbahan bakar fosil. Inisiatif tersebut mampu menurunkan emisi sekitar 5.200 ton CO2e per tahun. Sementara, PT Indonesia Asahan Aluminium melakukan konversi bahan bakar dari HSD ke LNG pada fasilitas baking plant, yang menghasilkan penurunan emisi sekitar 3.700 ton CO2e sekaligus meningkatkan efisiensi energi operasional. Penguatan dekarbonisasi juga dilakukan melalui pemanfaatan energi baru terbarukan. PT Indonesia Chemical Alumina menerapkan co-firing biomassa cangkang kelapa sawit sebagai pengganti sebagian batu bara yang mampu menurunkan emisi sekitar 560 ton CO2e. Lalu, PT Timah Tbk mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 300 kilowatt peak (kWp) yang mampu mengurangi emisi sekitar 300 ton CO2e sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi bersih di kawasan industri. Selain pengurangan emisi secara langsung, MIND ID juga mengembangkan skema carbon offset melalui proyek berbasis alam (nature-based solutions), pemanfaatan Renewable Energy Certificate (REC), serta partisipasi dalam perdagangan karbon. Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno, menilai langkah dekarbonisasi yang dijalankan MIND ID layak diapresiasi karena dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penguatan bauran energi terbarukan hingga peningkatan efisiensi operasional. "Apa yang dilakukan oleh MIND ID ini menurut saya perlu diapresiasi dalam tiga konteks, yaitu mitigasi, adaptasi, dan efisiensi. Mereka meningkatkan bauran energi terbarukan sebagai bagian dari mitigasi. Selain itu, mereka juga mendorong efisiensi," ujar Eddy. Menurut Eddy, peningkatan pemanfaatan energi terbarukan menjadi langkah penting, terutama bagi industri pengolahan dan pemurnian mineral yang memiliki tingkat emisi tinggi. "Saya kira sangat positif. Pemanfaatan EBT sangat penting, terutama di sektor-sektor yang memiliki tingkat emisi karbon tinggi, seperti smelter. Smelter termasuk kategori hard-to-abate industries, yaitu industri yang memang sulit menurunkan emisi karbonnya," jelasnya.
Dolar Perkasa Tekan Minyak WTI, Harga Berisiko Lanjutkan Penurunan
Jakarta, katakabar.com - Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan masih akan bergerak dalam tekanan di pekan keempat Mei 2026, seiring dominasi sentimen negatif yang masih kuat di pasar energi global. Analisis Dupoin Futures yang disampaikan oleh analis Geraldo Kofit menunjukkan, pergerakan harga WTI pada timeframe daily menunjukkan kecenderungan tren bearish yang semakin jelas, dengan peluang pelemahan lanjutan apabila tidak ada perubahan signifikan dari sisi teknikal maupun fundamental. Secara teknikal, pergerakan harga minyak dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan upaya kenaikan kerap tertahan di area resistance yang terbentuk dari level swing high sebelumnya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan jual masih mendominasi dan pelaku pasar cenderung memanfaatkan setiap kenaikan harga sebagai peluang untuk melakukan aksi jual. Struktur harga yang terbentuk juga mulai memperlihatkan indikasi tren turun baru, di mana harga gagal mempertahankan momentum bullish dan kembali bergerak melemah mengikuti arah tren utama. Saat ini, level support penting berada di kisaran 89,89 dolar AS per barel. Area ini menjadi titik krusial yang akan menentukan arah pergerakan harga selanjutnya. Jika harga mampu menembus level tersebut, maka potensi penurunan lanjutan diperkirakan akan membawa WTI menuju area support berikutnya di sekitar 85,11 dolar AS per barel. Hal ini menunjukkan ruang penurunan masih terbuka cukup lebar dalam jangka pendek hingga menengah. Dari sisi indikator teknikal, stochastic juga memberikan konfirmasi terhadap tren bearish yang sedang berlangsung. Indikator tersebut masih bergerak turun dan sejalan dengan arah pergerakan harga, yang menandakan momentum penurunan masih cukup kuat. Dalam kondisi seperti ini, peluang terjadinya rebound cenderung terbatas, kecuali terdapat faktor eksternal yang mampu mendorong perubahan sentimen pasar secara signifikan. Sementara, tekanan terhadap harga minyak juga diperkuat oleh faktor fundamental. Kekhawatiran terhadap perlambatan permintaan energi global menjadi salah satu faktor utama yang membebani harga minyak mentah. Ketika prospek pertumbuhan ekonomi dunia mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan, pelaku pasar cenderung memperkirakan konsumsi energi akan menurun. Hal ini secara langsung berdampak pada berkurangnya permintaan minyak, sehingga menekan harga di pasar internasional. Penguatan dolar Amerika Serikat juga menjadi faktor penting yang menambah tekanan terhadap harga minyak. Karena minyak diperdagangkan dalam denominasi dolar AS, penguatan mata uang tersebut membuat harga minyak menjadi relatif lebih mahal bagi negara-negara dengan mata uang lain. Kondisi ini berpotensi menekan permintaan global, yang pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap harga WTI. Tidak cuma itu, pasar juga tengah mencermati potensi peningkatan pasokan minyak dari negara-negara produsen utama. Kemungkinan perubahan kebijakan produksi dari kelompok OPEC+ menjadi perhatian investor, terutama jika terjadi peningkatan suplai di tengah kondisi permintaan yang melemah. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan ini dapat memperbesar tekanan bearish terhadap harga minyak dalam waktu dekat. Di sisi lain, sentimen risk-off yang berkembang di pasar global turut memengaruhi pergerakan harga minyak. Dalam situasi ketidakpastian, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko seperti komoditas energi dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman. Hal ini menyebabkan aliran dana ke pasar minyak berkurang, sehingga memperkuat tekanan terhadap harga. Dengan mempertimbangkan kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut, harga minyak WTI diperkirakan masih akan bergerak dalam tren menurun pada perdagangan hari ini. Selama harga belum mampu menembus area resistance kunci dan tekanan jual tetap dominan, potensi pelemahan lanjutan masih terbuka. Lantaran itu, pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati dinamika ekonomi global, pergerakan dolar AS, serta kebijakan produksi minyak yang dapat menjadi penentu arah pergerakan harga selanjutnya.
Emas Lanjutkan Tren Bearish, Target Penurunan Mengarah ke 4.379
Jakarta, katakabar.com - Harga emas global diperkirakan masih menghadapi tekanan sepanjang pekan ketiga bulan Mei, seiring dominasi tren bearish yang belum menunjukkan tanda-tanda pelemahan signifikan. Menurut analisis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, pergerakan XAU/USD pada timeframe H4 masih mencerminkan kecenderungan turun yang kuat, dengan peluang penurunan lanjutan selama harga belum mampu menembus area resistance penting. Dari sisi teknikal, struktur harga emas saat ini masih membentuk pola lower high dan lower low, yang menjadi indikasi utama tren bearish masih mendominasi pasar. Pola ini menggambarkan setiap kenaikan harga cenderung terbatas dan diikuti oleh tekanan jual baru. Selain itu, ulasnya posisi harga yang masih berada di bawah indikator Moving Average (MA) 21 dan 50 memperkuat sinyal pelemahan, mengingat kedua indikator tersebut kini berperan sebagai resistance dinamis yang menahan pergerakan naik. Dalam proyeksi untuk pekan ini, area resistance terdekat berada di level 4.589 dolar AS sebagai batas awal dan 4.639 dolar AS sebagai resistance berikutnya. Selama harga bergerak di bawah kisaran tersebut, tren turun diperkirakan masih akan berlanjut. Sementara itu, level support terdekat berada di 4.462 dolar AS, dengan support lanjutan di sekitar 4.379 dolar AS yang menjadi target berikutnya apabila tekanan jual semakin meningkat. Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas masih didorong oleh penguatan dolar Amerika Serikat dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kondisi ini membuat investor lebih tertarik pada instrumen berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih kompetitif dalam jangka pendek. Kuatnya dolar secara langsung berdampak negatif terhadap harga emas, mengingat hubungan keduanya yang cenderung berbanding terbalik. Tidak hanya itu, ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve turut memperkuat sentimen negatif bagi emas. Pelaku pasar saat ini meyakini bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama, terutama jika data ekonomi tetap menunjukkan kinerja yang solid, khususnya di sektor tenaga kerja dan inflasi. Lingkungan suku bunga tinggi ini menjadi faktor utama yang mengurangi daya tarik emas sebagai aset investasi. Di sisi lain, stabilnya sentimen pasar global juga turut menekan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Ketika kondisi pasar relatif kondusif dan investor memiliki kepercayaan terhadap pertumbuhan ekonomi, aliran dana cenderung beralih ke aset berisiko seperti saham atau instrumen keuangan lainnya. Hal ini menyebabkan permintaan terhadap emas menurun, sehingga memberikan tekanan tambahan pada harga. Geraldo Kofit menegaskan selama harga emas belum mampu menembus kembali area resistance utama pada timeframe H4, maka tren bearish diperkirakan masih akan tetap bertahan. Setiap kenaikan harga yang terjadi dalam kondisi ini kemungkinan hanya bersifat sementara atau sekadar koreksi teknikal sebelum kembali melanjutkan penurunan. Dengan mempertimbangkan kombinasi antara faktor teknikal dan fundamental, harga emas pada pekan ini diperkirakan masih akan bergerak dalam bias negatif, dengan potensi menguji level support yang lebih rendah. Investor diimbau untuk tetap waspada terhadap perkembangan ekonomi global, khususnya data dari Amerika Serikat serta arah kebijakan moneter Federal Reserve, yang akan menjadi faktor utama dalam menentukan arah pergerakan harga emas ke depan. Dalam kondisi pasar yang masih fluktuatif, pendekatan yang disiplin dan berbasis analisis menjadi kunci dalam mengelola risiko investasi.
KS Perkuat Daya Saing di Tengah Penurunan Produksi Baja Global dan Meroketnya Tekanan Perdagangan
Jakarta, katakabar.com - Penurunan produksi baja global pada Januari 2026 jadi momentum bagi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk / Krakatau Steel Group (KRAS) untuk perkuat daya saing dan posisi di pasar domestik, seiring meningkatnya arus perdagangan baja dunia yang berpotensi menekan industri nasional. Langkah ini penting untuk menjaga keberlanjutan usaha dan menciptakan nilai ekonomi jangka panjang bagi industri baja nasional. Data World Steel Association menunjukkan, produksi baja global mencapai 147,3 juta ton pada Januari 2026, turun 6,5% secara tahunan, terutama dipengaruhi oleh penurunan produksi Tiongkok sebesar 13,9 persen. Tetapi, di tengah penurunan tersebut, arus ekspor baja global justru meningkat sebagai mekanisme penyesuaian kelebihan kapasitas. Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Dr. Akbar Djohan, menegaskan komitmen perusahaan memperkuat fundamental industri nasional. “Krakatau Steel terus meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas produk guna memastikan industri baja nasional tetap kompetitif dan berperan strategis dalam mendukung pembangunan nasional,” ujar Dr. Akbar Djohan, juga menjabat sebagai Chairman Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA). Pengamat Industri Baja dan Pertambangan, Widodo Setiadharmaji, menegaskan penurunan produksi global tidak identik dengan berkurangnya tekanan eksternal. Menurutnya, ketika permintaan domestik melemah, ekspor meningkat sebagai mekanisme penyesuaian kapasitas. “Situasi ini dapat menjadi momentum konsolidasi industri nasional apabila didukung oleh kebijakan perdagangan dan strategi industri yang tepat,” kata Widodo. Upaya penguatan industri baja nasional tentunya sejalan dengan visi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang tertuang pada Asta Cita dalam memperkuat kemandirian ekonomi melalui industrialisasi dan hilirisasi. Sebagai industri strategis, baja memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan infrastruktur, ketahanan industri, dan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Percepat Transformasi ESG, PalmCo Catat Penurunan Emisi 28,88 Persen
Medan, katakabar.com - Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) terus mempercepat implementasi prinsip environmental, social, and governance (ESG) sebagai bagian dari transformasi bisnis berkelanjutan di sektor perkebunan negara. Langkah ini sejalan dengan dorongan Komisi VI DPR RI untuk memperkuat daya saing industri nasional di tengah tuntutan global terhadap praktik usaha yang berkelanjutan. Penegasan tersebut mengemuka dalam kunjungan kerja reses Komisi VI DPR RI ke Regional 1 PTPN IV di Medan, Sumatera Utara, di Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2025–2026. Dalam kesempatan tersebut, rombongan dewan menyoroti berbagai inisiatif transformasi yang dijalankan Holding Perkebunan Nusantara bersama entitas di bawahnya, termasuk PTPN IV PalmCo. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Nurdin Halid, menegaskan sektor perkebunan memiliki ketergantungan tinggi terhadap kualitas lingkungan serta penerimaan sosial masyarakat, sehingga penerapan ESG menjadi fondasi utama keberlanjutan usaha. “ESG bukan lagi pilihan moral, tetapi kebutuhan strategis. Sektor ini sangat bergantung pada kualitas lingkungan, ketersediaan air, kesuburan tanah, dan dukungan masyarakat,” kata Nurdin kepada jajaran manajemen BUMN perkebunan, BP BUMN dan Danantara Asset Management. Dalam pemaparan kepada DPR, Direksi Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) yang diwakili Direktur Bisnis, Ryanto Wisnuhardi, menyampaikan transformasi tata kelola yang dijalankan mulai menunjukkan hasil positif. Kinerja keuangan grup berada dalam tren meningkat, yang antara lain ditopang kontribusi signifikan dari subholding kelapa sawit, PTPN IV PalmCo. “Sekitar 80 persen pendapatan grup berasal dari komoditas utama yang dikelola PalmCo. Secara keseluruhan, PTPN Group juga mencatat skor risiko ESG sebesar 17,1 (kategori low risk) dari lembaga pemeringkat global Sustainalytics, yang mencerminkan tingkat kepatuhan terhadap standar keberlanjutan internasional,” jelas Ryanto. Capaian tersebut diperkuat kinerja PTPN IV PalmCo. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyatakan bahwa perusahaan menempatkan ESG sebagai inti strategi bisnis. Ia mengungkapkan PalmCo telah mencatat penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 28,88 persen sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi. Selain itu, perusahaan juga memperluas kemitraan ekonomi kerakyatan melalui program plasma yang kini mencapai 46.314 hektar. “Efisiensi bisnis dan keberlanjutan lingkungan harus berjalan beriringan. Kami mendorong keduanya sebagai motor pertumbuhan perusahaan,” ucap Jatmiko. Dukungan terhadap transformasi tersebut juga disampaikan Anggota Komisi VI DPR RI, Nasril Bahar, yang menilai perbaikan tata kelola di tubuh PTPN menjadi indikator positif di tengah tantangan industri global. “Ini menunjukkan bahwa langkah transformasi mulai berjalan efektif,” timpalnya. Selain fokus pada pengurangan emisi, PTPN IV PalmCo juga menyiapkan strategi jangka panjang melalui pengembangan energi terbarukan. Hingga 2030, perusahaan merencanakan pembangunan 36 fasilitas energi baru, termasuk pembangkit listrik tenaga biogas dan compressed biomethane gas (CBG). Program ini diproyeksikan mampu menekan emisi hingga 54,46 persen dibandingkan skenario business as usual pada 2030. Penguatan ESG di sektor perkebunan menjadi salah satu kunci dalam menjawab tekanan global terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan. Di sisi lain, langkah ini juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai pemain utama dalam industri kelapa sawit yang lebih modern, transparan, dan berdaya saing tinggi. Dengan dukungan legislatif serta konsistensi implementasi di tingkat operasional, transformasi yang dijalankan Holding Perkebunan Nusantara diharapkan tidak hanya meningkatkan kinerja korporasi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Pasar Aset Bitcoin Tetap Kokoh, Mengapa Penurunan Pasar Sinyal Positif Bagi Investor?
Jakarta, katakabar.com - Belkangan ini di tengah dinamika pasar aset kripto yang penuh tantangan, para analis dari perusahaan riset terkemuka, Bernstein, menyampaikan pandangan yang sangat optimis mengenai masa depan Bitcoin di tengah kondisi pasar yang sedang mengalami penurunan. Bernstein menegaskan situasi yang terjadi saat ini merupakan fase pelemahan yang tidak mengkhawatirkan karena tidak ditemukan adanya kegagalan sistem maupun keruntuhan institusi besar seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Penurunan harga yang kita saksikan akhir-akhir ini dipandang sebagai ujian kepercayaan bagi para investor dibandingkan sebuah kegagalan teknologi, sehingga para ahli tetap yakin bahwa harga Bitcoin berpotensi menyentuh angka $150.000 pada akhir tahun 2026 mendatang. Keyakinan ini didasari oleh fondasi industri yang kini jauh lebih kokoh dengan adanya dukungan nyata dari lembaga keuangan besar dan kebijakan pemerintah di beberapa negara yang semakin terbuka terhadap aset kripto. Berbeda dengan masa lalu yang penuh dengan ketidakpastian, saat ini Bitcoin telah menjadi bagian dari strategi cadangan perusahaan besar dan instrumen investasi resmi melalui ETF yang diakui secara global. Bagi para investor di Indonesia, dinamika pasar global ini tentu memberikan pengaruh psikologis yang cukup besar terutama dalam menghadapi fluktuasi harga harian yang cukup tajam. Tetapi, pandangan positif dari lembaga riset internasional ini memberikan harapan baru bahwa peluang keuntungan jangka panjang masih terbuka sangat lebar bagi mereka yang mampu bersikap tenang dan tidak terbawa arus kepanikan sesaat. Bittime platform pertukaran aset kripto yang berizin dan diawasi di Indonesia, menekankan pentingnya literasi dan strategi investasi jangka panjang bagi setiap penggunanya agar investasi tidak sekadar menjadi ajang spekulasi, melainkan sebuah keputusan yang diambil berdasarkan pemahaman mendalam mengenai manajemen risiko dan fundamental aset. Dengan memperkuat wawasan sebelum bertransaksi, investor diharapkan dapat membedakan antara fluktuasi harga sementara dan nilai jangka panjang sebuah teknologi sehingga tidak mudah goyah oleh berita-berita yang kurang akurat. Kesabaran dan pemahaman yang baik akan menjadi kunci utama dalam meraih potensi maksimal dari perkembangan aset kripto yang terus bertransformasi menuju standar keuangan masa depan yang lebih inklusif dan modern. Diketahui, investasi aset kripto mengandung risiko tinggi. Hal tersebut termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya, salah satunya komunitas Bittime
Tahun Baru 2025, Bitcoin Belum Stabil dan Cenderung Alami Penurunan
Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin dan aset kripto teratas lainnya menunjukkan pergerakan yang seragam, di penghujung Desember 2024 lalu. Lagi, mayoritas aset kripto terkemuka berada di zona merah, menunjukkan tren penurunan yang terus berlanjut. Data dari Coinmarke tcap menunjukkan, kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin atau BTC, masih mengalami tekanan jual yang signifikan. Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin turun sebesar 1,17 persen, menambah kekhawatiran di kalangan investor. Tidak hanya jangka pendek, Bitcoin mencatatkan penurunan yang lebih besar dalam sepekan terakhir, yakni sebesar 2,41 persen. Penurunan ini mencerminkan sentimen pasar yang masih negatif terhadap aset kripto utama menjelang akhir tahun 2024. Banyak analis mengaitkan penurunan ini dengan berbagai faktor, termasuk ketidakpastian regulasi dan fluktuasi pasar global yang mempengaruhi keseluruhan ekosistem kripto. Kondisi ini membuat investor berhati-hati dan memilih untuk menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum melakukan langkah signifikan di pasar kripto.
XRP Hadapi Tekanan Jual: Apa yang Memicu Penurunan Harga?
Jakarta, katakabar.com - Pasar kripto sedang memperhatikan XRP dengan cermat, sebab tanda-tanda penurunan harga semakin jelas. Aliran 32 juta token XRP yang dikirim ke bursa pada awal Oktober memicu spekulasi bahwa tekanan jual bisa membawa harga turun hingga 15 persen. Tapi, meski risiko penurunan cukup besar, ada potensi pemulihan, terutama jika adopsi ETF XRP mulai meningkat. Apakah kurs tukar XRP benar-benar akan anjlok, atau masih ada secercah harapan untuk kebangkitan? Mari kita lihat lebih dalam analisisnya.
Penurunan Produksi Bikin Naik HR CPO September 2024
Jakarta, katakabar.com - Harga Referensi (HR) komoditas minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) periode 1 hingga 30 September 2024 sebesar USD 839,53 per ton. Harga ini meningkat sebesar USD19,42 setara 2,32 persen dari periode Agustus 2024 dibandrol sebesar USD 820,11 per ton. Penetapan ini tercantum dalam Keputusan Menteri Perdagangan (Kepmendag) Nomor 1204 tahun 2024 tentang Harga Referensi Crude Palm Oil yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Periode 1 hingga 30 September 2024.