Pilar

Sorotan terbaru dari Tag # Pilar

PTPN I Teguhkan Komitmen Pilar Kedaulatan Negara Nasional
Nasional
Jumat, 04 September 2026 | 13:04 WIB

PTPN I Teguhkan Komitmen Pilar Kedaulatan Negara

Jakarta, katakabar.com - Lima aspek fundamental pembentuk kedaulatan negara melekat pada bisnis PTPN I (Persero). Bergerak di industri agro, anak usaha PTPN III (Persero) ini segaris dengan ketersediaan pangan. Sifat padat karyanya menjadikan PTPN I menyerap banyak tenaga kerja. Lokasinya yang tersebar di pelosok negeri membuka isolasi wilayah dan mendorong pemerataan pembangunan. Hadir dengan budidaya agronomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi modern juga menempatkan PTPN I sebagai pusat inkubasi usaha dan transfer sains kepada masyarakat luas. Posisi strategis itu mengemuka dalam forum dialog dalam rangka Syukuran, Doa Bersama Swasembada Pangan Indonesia, dan Peluncuran Buku karya Direktur Utama PTPN I,.Abdul Rivai Ras di Jakarta, Sabtu (1/8). Sejumlah tokoh nasional hadir pada peluncuran buku berjudul Pangan dalam Aspek Pertahanan Negara tersebut. Selain membedah sari pati isi buku, Direktur Utama, alumnus Program Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia itu juga menarik benang merah antara PTPN I dan ketahanan negara. Ia menyebut PTPN I, dengan aset yang besar, tenaga kerja yang banyak, sebaran yang luas, dan misi yang humanis, memiliki irisan yang sangat kuat dengan ketahanan pangan. Acara doa bersama dan peluncuran buku digelar dalam suasana batin yang khidmat, patriotis, dan religius. Selain diskusi, acara juga diisi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan ayat-ayat suci Al Quran, santunan kepada anak-anak yatim, serta tausiah oleh Ustaz Das'ad Latif yang memberikan perspektif spiritual yang mendalam. Paparan isi buku dan visi PTPN I dijelaskan Abdul Rivai Ras sebagai relasi yang sangat kuat. "Program Asta Cita Presiden RI, H Prabowo Subianto," kata Bro Rivai, sapaan akrabnya, sangat relevan dengan tugas dan tanggung jawab setiap insan PTPN I dalam mendukung pembangunan bangsa, khususnya pada aspek ketahanan pangan. "Dalam banyak kesempatan, Presiden RI, H Prabowo Subianto menyebut bangsa yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri tidak akan pernah benar-benar merdeka. Karena itu, pembangunan pangan bukan semata meningkatkan produksi, melainkan membangun kemandirian, memperkuat stabilitas ekonomi, dan menjaga ketahanan negara," kata Rivai mengutip pernyataan Presiden RI. Abdul Rivai Ras juga mengutip beberapa data fundamental dalam buku dan orasinya. Berdasarkan data pemerintah, kata dia, produksi beras nasional pada 2025 mencapai sekitar 34,71 juta ton, meningkat 13,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi padi mencapai 71,95 juta ton Gabah Kering Panen (GKP) dengan surplus beras sekitar 3,52 juta ton, sehingga Indonesia tidak melakukan impor beras konsumsi sepanjang tahun 2025. Selain itu, cadangan beras pemerintah juga berada pada level tertinggi dalam sejarah modern Indonesia. Indonesia juga berhasil mencapai swasembada pada delapan komoditas strategis, yakni beras, jagung pakan, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Keberhasilan tersebut merupakan buah sinergi pemerintah, petani, pekebun, peternak, penyuluh, akademisi, BUMN, dunia usaha, TNI, Polri, dan seluruh elemen masyarakat. Menurut Abdul Rivai Ras, keberhasilan swasembada pangan harus dipandang sebagai awal untuk membangun sistem pangan nasional yang semakin tangguh dan berkelanjutan. Ia menuturkan sektor perkebunan memiliki peran strategis dalam menopang ketahanan pangan melalui penyediaan komoditas utama, penguatan industri hilir, serta peningkatan kesejahteraan petani. "Swasembada pangan adalah wujud nyata kemandirian bangsa. Di balik setiap capaian produksi terdapat kerja keras jutaan petani, pekebun, peneliti, pemerintah, BUMN, dan seluruh pemangku kepentingan. Sebagai BUMN perkebunan, PTPN I berkomitmen terus memperkuat produktivitas, mempercepat modernisasi perkebunan, mengembangkan bibit unggul, memperluas hilirisasi, serta membangun kemitraan yang saling menguatkan dengan petani agar kontribusi sektor perkebunan terhadap ketahanan pangan nasional semakin besar," ulas Abdul Rivai Ras. Ia menegaskan, dinamika global yang dipengaruhi perubahan iklim, konflik geopolitik, dan gangguan rantai pasok internasional semakin membuktikan bahwa ketahanan pangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan nasional. "Pangan hari ini adalah isu strategis bangsa. Ketika pasokan pangan terjaga, masyarakat terlindungi, perekonomian lebih stabil, dan daya tahan negara semakin kuat. Karena itu, transformasi PTPN I tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kinerja korporasi, tetapi juga memastikan setiap langkah perusahaan memberikan nilai tambah bagi agenda besar pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan, memperkuat industri gula nasional, mengembangkan komoditas perkebunan unggulan, serta mendukung ketahanan energi melalui hilirisasi berbasis bioenergi," jelasnya. Masih Abdul Rivai Ras, keberhasilan swasembada pangan juga menjadi fondasi bagi berbagai program strategis pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan bahan pangan secara berkelanjutan. Karena itu, keberhasilan menjaga produksi pangan nasional harus terus didukung melalui penguatan sektor hulu hingga hilir. Sebagai perusahaan yang mengelola berbagai komoditas strategis nasional, PTPN I akan terus memperkuat kontribusinya melalui transformasi bisnis yang berorientasi pada produktivitas, keberlanjutan, inovasi, dan hilirisasi. Pengembangan perkebunan modern, pemanfaatan teknologi digital, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat akan terus menjadi fokus perusahaan dalam mendukung terwujudnya swasembada pangan yang berkelanjutan. Bagi PTPN I, menjaga swasembada pangan bukan sekadar memenuhi target produksi, melainkan menjaga kedaulatan bangsa. Dari setiap hektare kebun yang dikelola secara produktif, tumbuh harapan untuk memperkuat ketahanan nasional, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan mewujudkan Indonesia yang mandiri menuju Indonesia Emas 2045.

Perkuat Pilar Sosial ESG, Pelindo Multi Terminal Tempatkan SDM Pusat Perubahan Sumut
Sumut
Rabu, 24 Juni 2026 | 13:06 WIB

Perkuat Pilar Sosial ESG, Pelindo Multi Terminal Tempatkan SDM Pusat Perubahan

Medan, katakabar.com - Sejalan dengan komitmen perusahaan implementasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), PT Pelindo Multi Terminal, anak usaha PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang bergerak di bidang operasional terminal nonpetikemas, terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia sebagai bagian dari pilar sosial (Social) dalam roadmap keberlanjutan perusahaan. Penguatan kapasitas, ketangguhan, dan kemampuan adaptasi insan perusahaan dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis di tengah perubahan industri yang berlangsung semakin cepat. Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam gelaran BREATH (Balancing, Resilience, Energy, and Health) Session Series 33 yang mengangkat tema “People at the Center of Change: Resilience, Adaptability, and Continuity”, yang digelar Kamis (18/6) di Grha Pelindo Medan, serta diikuti secara daring oleh insan perusahaan. Direktur SDM Pelindo Multi Terminal, Edi Priyanto, menegaskan keberlanjutan perusahaan di tengah perubahan industri yang berlangsung cepat tidak hanya ditentukan oleh sistem, teknologi, maupun fasilitas, melainkan terutama oleh kesiapan manusia di dalam organisasi. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan sistem yang ada atau fasilitas yang terus kita perbaiki. Yang paling menentukan adalah manusianya. Karena itu, SDM harus dipersiapkan dengan baik agar mampu menjaga keberlanjutan perusahaan dan menjadi penggerak utama transformasi yang sedang berlangsung,” ujar Edi. Ia menambahkan industri kepelabuhanan dan logistik saat ini bergerak sangat dinamis, ditandai oleh perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan pelanggan, serta tuntutan efisiensi yang semakin tinggi. Kondisi tersebut menuntut insan perusahaan untuk memiliki resilience, adaptability, dan continuity dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya. “Kunci utama menghadapi perubahan sesungguhnya berada di tangan kita sendiri. Dengan ketangguhan, kemampuan beradaptasi, dan semangat untuk terus berkembang, kita yakin insan Pelindo Multi Terminal mampu menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan perusahaan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,” tuturnya. Sementara, Komisaris Pelindo Multi Terminal, Gugun Gumilar, pada sesi paparan menekankan perubahan berkelanjutan selalu berangkat dari manusia sebagai pusat transformasi organisasi. Ia menyampaikan dalam lingkungan bisnis yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, faktor penentu keberhasilan organisasi bukan semata teknologi atau sistem, melainkan kualitas manusia yang ada di dalamnya. “Perubahan yang berkelanjutan selalu dimulai dari cara berpikir manusia. Ketika berbicara tentang transformasi perusahaan, sesungguhnya yang sedang kita bicarakan adalah bagaimana membangun manusia yang tangguh, adaptif, dan memiliki karakter yang kuat,” timpalnya. Gugun menerangkan resilience bukan hanya kemampuan bertahan, tetapi juga kemampuan untuk bangkit dan menjadikan tantangan sebagai energi untuk tumbuh. Sementara adaptability mencerminkan kesiapan menerima perubahan, dan continuity memastikan nilai, budaya, serta tujuan perusahaan tetap terjaga di tengah transformasi. “Perubahan besar tidak terjadi secara instan. Semuanya berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Ketika setiap insan perusahaan memiliki komitmen untuk terus belajar dan memberikan kontribusi positif, perubahan tersebut akan membawa dampak nyata bagi kemajuan perusahaan,” bebernya. Pada kegiatan yang sama, perusahaan juga memberikan apresiasi kepada para inovator yang berkompetisi dalam program pengembangan inovasi di lingkungan Pelindo Group, yakni Pelindo IDEA dalam mewakili Pelindo Multi Terminal. Selain itu, perusahaan juga memberikan penghormatan kepada pekerja yang telah memasuki masa purnabakti atas dedikasi dan kontribusinya selama menjadi bagian dari perjalanan perusahaan.

2nd IPORICE 2026, Direktur PAPSI: Sawit Komoditas Statrgis Nasional Pilar Ekonomi Hijau Sawit
Sawit
Sabtu, 04 Oktober 2025 | 16:00 WIB

2nd IPORICE 2026, Direktur PAPSI: Sawit Komoditas Statrgis Nasional Pilar Ekonomi Hijau

Jakarta, katakabar.com - Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung menegaskan kelapa sawit tidak hanya komoditas strategis bagi perekonomian nasional, tetapi harus menjadi pilar penting mewujudkan ekonomi hijau (green economy) berkelanjutan. "Kelapa sawit tidak hanya komoditas strategis bagi perekonomian nasional, tetapi harus menjadi pilar penting mewujudkan ekonomi hijau (green economy) berkelanjutan," tegas Tungkot di sesi diskusi 2nd Indonesia Palm Oil Research and Innovation Conference (IPORICE) 2025, dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Sabtu (4/10). Menurut Tungkot, konsep ekonomi hijau dan keberlanjutan memiliki perbedaan tipis tapi keduanya saling melengkapi. Pada praktiknya, produksi perkebunan sawit tidak hanya berorientasi aspek ekonomi tetapi kelestarian lingkungan. “Paradigma baru green economy sebenarnya lahir dari sektor pertanian termasuk perkebunan. Sawit kita kenal saat ini bukan hanya soal minyak, tetapi biomassa dengan produktivitas mencapai 16 ton per hektare per tahun. Selama ini kita baru memanfaatkan minyaknya saja, dan itu sudah menjadikan Indonesia sebagai raja sawit dunia. Bayangkan, jika biomassa ini kita kelola optimal,” ujarnya. Sejak 1980 lampau, FAO telah memperkenalkan konsep multifunctionality dalam sawit. Artinya, sawit tidak hanya memberikan manfaat ekonomi tetapi mencakup aspek sosial, lingkungan, dan keanekaragaman hayati. Dari sisi sosial, perkebunan kelapa.sawit telah menciptakan jutaan lapangan kerja baik di tingkat nasional maupun internasional. Kehadiran 'emas hijau' ini terbukti menurunkan tingkat kemiskinan di daerah sentra produksi dan membentuk pusat-pusat pertumbuhan baru di pedesaan. Sementara, dari aspek lingkungan sawit justru memiliki kemampuan penyerapan karbon dioksida lebih baik dibanding hutan, serta tingkat kehilangan biodiversitas yang lebih rendah dibandingkan minyak nabati lain. Diterangkan Tungkot, tantangan ke depan memperbesar peran sawit dalam ekonomi hijau melalui inovasi dan teknologi. Penurunan emisi, peningkatan produktivitas, serta model ekspansi yang lebih ramah lingkungan menjadi kunci. “Ke depan ekspansi kelapa.sawit masih ada tetapi tidak dengan cara lama. Kita menambah sawit sekaligus menambah hutan melalui konsep reforestasi. Inilah wajah baru green economy Indonesia,” bebernya. Selain itu, hilirisasi menjadi langkah strategis memperluas peran kelapa sawit. Substitusi energi fosil dan material berbasis sawit dinilai dapat menjadi motor penggerak baru bagi green economy lintas sektor. Dengan potensi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dimiliki, Tungkot optimistis kelapa sawit terus menjadi komoditas unggulan sekaligus solusi global dalam transisi menuju ekonomi hijau.