Sampingan

Sorotan terbaru dari Tag # Sampingan

Tips Membagi Waktu Untuk Punya Pekerjaan Sampingan Berjualan Ekonomi
Ekonomi
Kemarin

Tips Membagi Waktu Untuk Punya Pekerjaan Sampingan Berjualan

Jakarta, katakabar.com - Punya pekerjaan sampingan berjualan bisa menjadi cara untuk tambah pemasukan sekaligus mengembangkan usaha. Tetapi, menjalankan bisnis di luar pekerjaan utama membutuhkan pengaturan waktu yang baik. Ketika pesanan mulai bertambah, aktivitas seperti membalas chat pelanggan, menyiapkan barang, mengatur stok, hingga mencatat transaksi bisa ikut menyita waktu. Kalau tidak diatur, pekerjaan sampingan justru bisa mengganggu pekerjaan utama dan waktu istirahat. Supaya keduanya tetap berjalan, berikut beberapa tips membagi waktu yang bisa kamu coba. 1. Tentukan Waktu Khusus untuk Mengurus Usaha Mulai dengan menentukan waktu khusus untuk mengurus pekerjaan sampingan. Misalnya, kamu bisa menggunakan waktu setelah pulang kerja untuk membalas pesan pelanggan dan memproses pesanan. Sementara itu, pekerjaan yang membutuhkan waktu lebih panjang seperti membuat konten, mengecek stok, atau menyiapkan barang bisa dilakukan pada akhir pekan. Dengan pembagian seperti ini, kamu tidak perlu terus-menerus memikirkan pekerjaan sampingan sepanjang hari. 2. Buat Daftar Pekerjaan Berdasarkan Prioritas Ketika mengurus bisnis sendirian, ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Namun, semuanya tidak harus diselesaikan dalam waktu yang sama. Buat daftar pekerjaan berdasarkan tingkat kepentingannya. Misalnya: - Memproses pesanan yang masuk - Membalas pertanyaan pelanggan - Menyiapkan dan mengemas barang - Mengecek stok - Mencatat transaksi - Membuat konten promosi Pekerjaan yang berkaitan langsung dengan pesanan pelanggan bisa menjadi prioritas. Sementara pekerjaan lainnya dapat dijadwalkan sesuai waktu yang tersedia. 3. Manfaatkan Waktu Luang dengan Efisien Tidak semua aktivitas bisnis membutuhkan waktu berjam-jam. Beberapa pekerjaan bisa dilakukan di sela-sela waktu yang tersedia. Misalnya, kamu bisa membalas pesan pelanggan pada waktu yang sudah ditentukan atau membuat beberapa konten sekaligus untuk digunakan selama beberapa hari. Mengelompokkan pekerjaan yang serupa juga bisa membantu menghemat waktu. Dengan begitu, kamu tidak perlu berulang kali berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. 4. Tetapkan Batas antara Pekerjaan dan Bisnis Memiliki pekerjaan sampingan bukan berarti seluruh waktu di luar kantor harus digunakan untuk berjualan. Tetapkan batas yang jelas antara pekerjaan utama, bisnis, dan waktu pribadi. Ketika jam kerja selesai, kamu bisa beralih ke bisnis sesuai jadwal yang sudah dibuat. Setelah pekerjaan sampingan selesai, beri waktu untuk beristirahat. Pembagian ini penting agar kamu tetap bisa menjalankan bisnis tanpa mengorbankan kebutuhan istirahat. 5. Pisahkan Keuangan Pribadi dan Usaha Selain membagi waktu, pisahkan juga keuangan pribadi dengan keuangan usaha. Ketika pemasukan dari penjualan bercampur dengan uang pribadi, kamu akan lebih sulit mengetahui berapa omzet, pengeluaran, dan dana yang sebenarnya tersedia untuk bisnis. Menggunakan rekening usaha khusus dapat membantu transaksi bisnis menjadi lebih mudah dipantau. Pemasukan dari pelanggan dan pengeluaran untuk kebutuhan usaha bisa dicatat secara terpisah dari transaksi pribadi. 6. Evaluasi Rutinitas Secara Berkala Rutinitas bisnis bisa berubah ketika jumlah pelanggan dan pesanan bertambah. Jadwal yang awalnya terasa cukup mungkin menjadi kurang efektif ketika usaha mulai berkembang. Karena itu, luangkan waktu untuk mengevaluasi aktivitas usaha. Perhatikan pekerjaan apa yang paling banyak menyita waktu dan cari cara untuk membuat prosesnya lebih efisien. Kamu juga tidak harus mengerjakan semuanya sendiri. Ketika bisnis sudah semakin berkembang, beberapa pekerjaan bisa mulai didelegasikan atau menggunakan bantuan layanan tertentu sesuai kebutuhan. Kelola Keuangan Usaha dengan Neo Bisnis Setelah waktu untuk pekerjaan utama dan bisnis mulai tertata, jangan lupa memperhatikan pengelolaan keuangan usaha. Salah satunya dengan memiliki rekening yang digunakan khusus untuk transaksi bisnis. Buat kamu yang ingin buka rekening atas nama usaha, Neo Bisnis di aplikasi neobank dari Bank Neo Commerce dapat menjadi pilihan untuk kebutuhan perbankan usaha secara digital. Melalui layanan neobank merchant di Neo Bisnis, pelaku usaha dapat menerima pembayaran menggunakan satu kode QR sesuai standar QRIS. Neo Bisnis menyediakan layanan yang dirancang untuk mendukung kebutuhan transaksi pelaku usaha, di antaranya: - Pencatatan kas masuk dan kas keluar secara otomatis - Bunga tabungan kompetitif* - Gratis transfer antarbank hingga 90 kali per bulan - Pembuatan QRIS merchant yang praktis dan mudah - Pencairan dana hasil transaksi QRIS hingga 3 kali sehari, termasuk saat akhir pekan dan hari libur nasional untuk transaksi yang diproses sebelum pukul 14.00 WIB Fitur-fitur tersebut dapat membantu pelaku usaha mengelola transaksi harian dengan lebih praktis sekaligus memantau arus kas bisnis. Sebelum membuka rekening, pastikan kamu memahami fitur produk, manfaat, biaya, risiko, serta syarat dan ketentuan yang berlaku. Jika ingin mulai menggunakan Neo Bisnis, unduh aplikasi neobank melalui PlayStore atau App Store. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi halaman Neo Bisnis di website resmi Bank Neo Commerce.   *Perhatikan tingkat bunga penjaminan yang ditetapkan LPS. Tabungan dengan bunga melebihi tingkat bunga penjaminan tidak dijamin oleh LPS. Tingkat bunga penjaminan LPS sampai 30 September 2026 adalah 3,75% per tahun PT Bank Neo Commerce Tbk berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), serta merupakan bank peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Tren Kerja Online dan Kerja Sampingan Menguat, NambahCuan Tawarkan Tiga Jenis Tugas Tanpa Jam Kerja Mengikat Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 15 September 2026 | 11:01 WIB

Tren Kerja Online dan Kerja Sampingan Menguat, NambahCuan Tawarkan Tiga Jenis Tugas Tanpa Jam Kerja Mengikat

Jakarta, katakabar.com - Dulu, brand yang mau kontennya ramai di media sosial biasanya cuma punya dua pilihan: kerjakan sendiri lewat tim internal, atau sewa agency dengan biaya yang tidak murah, terutama berat untuk brand kecil dan menengah. Pergeseran terjadi begitu konsep microtask berkembang di Indonesia. Brand kini bisa mempertemukan langsung kebutuhan campaign-nya dengan ribuan talent lewat satu platform, dengan biaya yang lebih terukur per tugas. Model ini juga ikut mendorong minat kerja online dan kerja sampingan naik, karena membuka peluang penghasilan tambahan lewat tugas digital dari HP. NambahCuan menjawab dua kebutuhan ini sekaligus lewat platform microtask yang kini didukung lebih dari 10.000 talent terdaftar, memungkinkan pengguna memilih dan mengerjakan tugas digital untuk penghasilan tambahan tanpa terikat jam kerja tetap. Tiga Jenis Tugas, Bisa Dipilih Sesuai Waktu Luang NambahCuan menghubungkan kebutuhan campaign dari brand dengan talent yang bersedia mengerjakan tugas digital sesuai brief. Tiga kategori tugas yang tersedia: Buzzer, membantu mendistribusikan campaign lewat akun media sosial pribadi sesuai instruksi yang diberikan Clipper video, mengolah video berdurasi panjang menjadi beberapa konten pendek berformat vertikal untuk TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts, membutuhkan kemampuan editing dasar seperti CapCut Micro-job media sosial, tugas ringan lain dengan tingkat kesulitan dan komisi yang bervariasi Pendaftaran sebagai talent tidak dikenakan biaya. Setelah akun memenuhi ketentuan platform, pengguna dapat memilih tugas yang tersedia lewat dashboard NambahCuan tanpa kewajiban mengambil seluruh campaign yang ditawarkan. Tugas Clipper, Butuh Skill Tambahan Tapi Prosesnya Tetap Sederhana Dari tiga jenis tugas di atas, clipper adalah satu-satunya yang butuh keterampilan tambahan di luar sekadar posting atau share. Talent memotong video panjang milik brand menjadi klip pendek berformat vertikal, lalu mengeditnya sendiri dengan aplikasi sederhana seperti CapCut sebelum diunggah. Begitu klip selesai diedit dan diposting sesuai ketentuan campaign, sistem akan memverifikasi hasilnya dan saldo langsung masuk ke akun talent, tanpa proses pencairan yang berlapis-lapis. Talent tidak perlu memiliki followers dalam jumlah besar untuk bisa mengambil tugas ini, karena penilaiannya ada di hasil kerja, bukan di ukuran akun. Penghasilan Berbeda di Tiap Jenis Tugas Besaran komisi berbeda untuk setiap jenis pekerjaan. Tugas buzzer dan micro-job media sosial menawarkan potensi Rp50.000 hingga Rp100.000 per hari, tergantung jumlah tugas yang tersedia dan berhasil diselesaikan. Tugas clipper bernilai lebih tinggi karena membutuhkan waktu dan keterampilan editing lebih banyak, dengan potensi penghasilan Rp5 juta hingga Rp15 juta per bulan bagi talent yang aktif dan konsisten mengambil campaign. NambahCuan menegaskan nominal tersebut adalah potensi berdasarkan aktivitas pekerjaan, bukan pendapatan tetap yang dijamin untuk setiap pengguna. Bukan Skema Rekrutmen, Ini Penegasan NambahCuan Mas Abai, Admin NambahCuan, menekankan pentingnya membedakan platform microtask dari sistem yang menjadikan perekrutan anggota baru sebagai sumber pendapatan utama. "Kalau penghasilan utamanya berasal dari merekrut orang lain, bukan dari mengerjakan tugas, modelnya sudah berbeda dari micro-job. Di NambahCuan, talent mendapat komisi dari tugas yang mereka kerjakan sendiri, tidak ada target merekrut orang lain," ujar Mas Abai. Syarat dan ketentuan NambahCuan dapat diakses publik secara terbuka. Calon talent tetap disarankan mempelajari mekanisme platform sebelum bergabung dengan platform kerja online apa pun.

Bukan Content Creator, Ini Profesi Sampingan Diam-diam Digemari Gen Z Ekonomi
Ekonomi
Senin, 10 Agustus 2026 | 08:00 WIB

Bukan Content Creator, Ini Profesi Sampingan Diam-diam Digemari Gen Z

Jakarta, katakabar.com - Narasi "cuan dari konten" terlanjur jadi mimpi kolektif Gen Z, followers dikejar, algoritma dipelajari mati-matian, tapi hasilnya kerap jauh dari janji manis yang beredar di media sosial. Sementara, kebutuhan akan penghasilan tambahan tidak menunggu siapa pun jadi viral lebih dulu. Laporan 2026 Gen Z and Millennial Survey yang dirilis Deloitte mencatat hampir 30 persen Gen Z dan sekitar 25 persen milenial di dunia kini memiliki pekerjaan sampingan, baik paruh waktu maupun penuh waktu, di luar pekerjaan utama mereka. Di celah itulah sebagian Gen Z bergerak diam-diam, menjadi reseller layanan digital seperti SMM Panel, jauh dari sorotan tapi terbukti menghasilkan. Bisnis Bekerja Tanpa Pernah Tampil Reseller layanan digital menjual kembali layanan peningkatan media sosial, followers, likes, views, dari penyedia besar ke pelanggan akhir, mulai dari UMKM, brand kecil, sampai individu yang ingin akunnya terlihat lebih meyakinkan. Tidak ada wajah yang perlu dikenali, tidak ada konten yang perlu dibuat, cukup selisih harga antara beli grosir dan jual eceran yang jadi mesin uangnya. "Banyak yang tidak sadar, sebagian bisnis yang mereka lihat aktif dan kredibel di media sosial itu dibantu tangan reseller di belakang layar. Profesinya senyap, tapi perputaran transaksinya nyata dan terus berjalan setiap hari," ujar Mas Eko, pengamat industri digital dari ProviderSMM.id. Yang membuat profesi ini menarik, menurutnya, justru karena tidak menuntut personal branding maupun konsistensi produksi konten yang melelahkan. "Modalnya kecil, prosesnya bisa dipelajari cepat, dan hasilnya terasa jauh lebih cepat dibanding menunggu jadi content creator yang viral," jelasnya. Dua Sisi Mata Uang Sama Industri ini berjalan lewat dua peran yang saling mengunci. Provider memegang sumber daya dan sistem pengiriman layanan secara langsung, biasanya dengan harga grosir dan akses API untuk mitra bisnis. Reseller membeli dari provider lalu menjualnya kembali ke pelanggan akhir, tanpa perlu memikirkan infrastruktur teknis di baliknya sama sekali. "Bagi yang baru mulai, jadi reseller jauh lebih realistis dibanding langsung jadi provider, modal dan risikonya kecil, tapi peluang belajar cara kerja industri ini tetap terbuka lebar," ucap Mas Eko. Ia menegaskan, faktor yang paling menentukan keberhasilan reseller bukan seberapa besar modal awal, melainkan ketepatan memilih smm panel terpercaya untuk diajak bekerja sama, transparansi soal drop rate, kejelasan sumber followers, hingga kebijakan garansi refill yang tertulis jelas jadi pembeda antara reseller yang bertahan lama dengan yang cepat kehilangan kepercayaan klien. Yang Senyap, Belum Tentu Sepi Tidak semua jalan menghasilkan uang di dunia digital butuh tepuk tangan atau notifikasi like yang ramai. Selama bisnis kecil masih berlomba membangun kredibilitas instan di media sosial, dan selama Gen Z masih mencari celah penghasilan yang tidak menuntut wajah dikenal publik, profesi reseller kemungkinan akan terus tumbuh, diam-diam, tapi jauh dari kata berhenti.