Startup
Sorotan terbaru dari Tag # Startup
ION Ajak Startup Bandung Lihat Celah Infrastruktur Digital Peluang Bisnis
Bandung, katakabar.com - Peluang bisnis baru tidak selalu datang dari menciptakan platform baru. Dalam ekosistem digital yang semakin terhubung, peluang juga bisa muncul dari hal-hal yang belum terhubung: antara bisnis dan pelanggan, layanan pembayaran dan merchant, logistik dan penjual, atau teknologi dan berbagai penyedia layanan. Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam “Digital Public Infrastructure: Mini Seminar & Networking” yang digelar Indonesia Open Network (ION) di Garuda Spark Innovation Hub, BLOCK71 Bandung, Rabu (9/9/2026) lalu. Usung tema “What’s Your Next Big Move? Discover New Business Opportunities Through the Power of Open Networks,” kegiatan tersebut memperkenalkan konsep Digital Public Infrastructure (DPI), interoperabilitas dan open network kepada startup serta pelaku ekosistem digital di Bandung. Yang membuat kegiatan ini berbeda adalah peserta tidak hanya duduk mendengarkan presentasi. Mereka kemudian diajak melihat bisnis masing-masing, mengidentifikasi persoalan yang dihadapi, mencari celah dalam ekosistem dan memikirkan koneksi apa yang dibutuhkan untuk membuka peluang baru. Format tersebut memang dirancang sebagai proses dua arah. Selain memperkenalkan ION kepada startup, kegiatan ini juga digunakan untuk menemukan use cases, kebutuhan dan missing connections yang belum tercermin dalam pemetaan ekosistem ION. Ketika Sistem Digital Tidak Saling Terhubung Bisnis saat ini semakin bergantung pada berbagai platform, sistem pembayaran, layanan logistik, data dan perangkat digital lainnya. Masalahnya, sistem-sistem tersebut tidak selalu dapat terhubung dengan mudah. Fragmentasi ini dapat menciptakan hambatan bagi bisnis yang ingin berkembang, mulai dari kesulitan integrasi hingga keterbatasan dalam menjangkau pasar dan bekerja sama dengan partner baru. Karena itu, interoperabilitas menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai Digital Public Infrastructure. ION memperkenalkan dirinya sebagai open digital commerce network yang menghubungkan buyers, sellers, logistics providers, developers dan penyedia layanan lainnya melalui partisipasi terbuka dan standar bersama. Pendekatan ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap platform tertentu sekaligus memperluas akses pasar. Tetapi, bagi Dr. Uruqul Nadhif Dzakiy, Assistant Professor di Telkom University, membangun koneksi saja belum cukup. Dalam sesi “Ecosystem Opportunity Mapping”, Uruqul mengajak peserta melihat ekosistem bisnis dari sisi hubungan antaraktor dan manfaat yang dapat mereka peroleh. “Masalahnya adalah ketika masuk di platform itu tidak adanya mutual benefit. Nah di open network ini menganut prinsip yaitu ada mutual benefit," jelasnya. Menurut Uruqul, sebuah ekosistem memiliki berbagai peran, mulai dari buyer dan vendor hingga pihak yang mengoordinasikan hubungan di antara para aktor tersebut. Yang penting bukan sekadar membuat mereka terhubung, tetapi memastikan hubungan tersebut memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terlibat. Bukan Sekedar “Connectivity” Pembahasan Uruqul kemudian bergerak pada satu hal yang menurutnya menjadi pembeda antara konektivitas biasa dan ekosistem yang benar-benar berjalan: transaksi dan kepercayaan. “Melalui di sini tidak hanya sekedar connectivity. Tapi di situ ada namanya transaksi. Kalau connectivity saja itu sudah bisa dengan teknologi. Tapi kalau sampai kemudian ada transaksi di dalamnya itu sudah ada trust,” ucapnya. Menurutnya, teknologi dapat membuat berbagai pihak saling terhubung. Tetapi hubungan tersebut belum tentu menciptakan ekosistem yang hidup jika tidak ada kolaborasi nyata dan manfaat bagi setiap aktor. Hal itu juga menjadi tantangan yang ia lihat dalam ekosistem startup Bandung. Kota tersebut memiliki banyak startup dan institusi pendukung inovasi, tetapi tantangannya adalah bagaimana kolaborasi dapat bergerak dari sekadar koneksi menuju kerja sama yang menghasilkan transaksi dan kepercayaan. “Kolaborasinya itu dalam bentuknya yang real tidak hanya sekedar ... tapi ada sampai kemudian transaksi karena dengan transaksi itu ada trust,” imbuhnya. Uruqul menilai sebuah ekosistem dapat disebut aktif ketika para aktornya memahami peran masing-masing dan mendapatkan manfaat dari keberadaannya di dalam ekosistem. “Parameter aktif adalah entiti di dalam ekosistem itu saling mendapatkan benefit dan dia tahu peran masing-masingnya," terangnya. Mulai dari Masalah, Bukan Teknologi Dari konsep tersebut, peserta kemudian diarahkan untuk melihat bisnis mereka sendiri. Materi ION menggunakan Ecosystem Opportunity Mapping untuk membantu peserta memetakan platform, partner, pelanggan, layanan dan sistem digital yang mereka gunakan, kemudian melihat koneksi mana yang sudah ada dan mana yang masih hilang. Uruqul meminta peserta memulai dari persoalan yang benar-benar mereka hadapi dalam menjalankan bisnis. “Bisa nanti mengidentifikasi apa sih jadi pain point yang dirasakan, khususnya yang running business, masalahnya di mana," ulasnya. Setelah menemukan pain point, peserta kemudian diminta mencari gap antara kondisi yang ada dan kondisi yang mereka butuhkan. “Pertama apa sih pain point, apa sih yang jadi problem ... kemudian setelah itu gap-nya apa ... dari situlah kemudian kira-kira apa sih yang perlu diakomodasi oleh Open Network," bebernya. Menurut Uruqul, masukan tersebut penting karena ION juga masih mengembangkan ekosistemnya. Apa yang dibutuhkan oleh pelaku bisnis dapat menjadi insight untuk menentukan koneksi dan fungsi apa yang perlu dikembangkan ke depan. Melihat Peluang dari Berbagai Sektor Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh Haryo Kusuma Wibawa, Head of Operations ION, yang memimpin sesi Mini Group Discussion. Dalam sesi tersebut, Haryo membawa konsep open network ke contoh peluang bisnis yang lebih konkret. Ia menunjukkan bahwa peluang dapat muncul di berbagai sisi ekosistem, termasuk finance, logistik, teknologi dan mobility. Salah satu ilustrasi yang disampaikan Haryo adalah bagaimana bisnis dapat memanfaatkan koneksi dengan pemilik basis pengguna yang sudah memiliki ekosistem sendiri. Dalam contoh yang ia berikan, perusahaan telekomunikasi dan bank dapat memiliki basis pengguna serta informasi transaksi yang, dengan persetujuan dan mekanisme yang tepat, dapat membuka kemungkinan koneksi dengan bisnis atau produk lain di dalam open network. Bagi startup, kemungkinan seperti itu berarti akses terhadap partner dan pelanggan tidak harus selalu dibangun dari nol. Haryo juga menyoroti kemungkinan model bisnis dengan biaya administrasi yang lebih rendah dibandingkan marketplace konvensional. “Kalau teman-teman punya marketplace dengan ION itu bisa men-charge administrasi yang jauh lebih rendah daripada yang saat ini terjadi. Nah itu yang kita harapkan,” tukasnya. Enam Kelompok Mencari Peluang Setelah sesi pemaparan, peserta dibagi menjadi enam kelompok untuk mengerjakan pemetaan mereka masing-masing. Haryo memimpin proses pembentukan kelompok tersebut dan mengarahkan peserta masuk ke sesi diskusi. Dalam kelompok, peserta diminta memilih bisnis atau kasus tertentu kemudian mengidentifikasi kebutuhan utama, persoalan yang muncul, aktor yang terlibat, koneksi yang sudah tersedia dan koneksi yang masih hilang. Mereka kemudian mencari kemungkinan peluang yang dapat muncul jika koneksi tersebut tersedia melalui interoperabilitas atau open network. Tujuannya bukan menghasilkan solusi teknologi yang sudah final, melainkan menemukan kebutuhan, peluang dan kemungkinan use case. Pendekatan ini membuat diskusi menjadi lebih dekat dengan persoalan yang dihadapi startup sehari-hari. Alih-alih bertanya, “Teknologi apa yang bisa kita bangun?”, peserta diajak mulai dari pertanyaan yang lebih sederhana: masalah apa yang sebenarnya ingin diselesaikan? Dari sana, mereka dapat melihat siapa saja yang dibutuhkan, apa yang belum tersedia dan apakah koneksi baru dapat menciptakan nilai. Peserta Menguji Model Bisnisnya Salah satu peserta, Fajar dari Bandung, mengatakan bahwa framework yang digunakan dalam workshop membantunya melihat sebuah ide bisnis secara lebih terstruktur. “Itu bisa membantu kami dalam membuat sebuah business model, apa yang jadi tantangan dan juga bisa melihat opportunities apa yang bisa kita lakukan," katak Fajar. Kelompok Fajar mengembangkan ide layanan untuk tenaga kerja di Indonesia, dengan fokus pada pengembangan pekerja untuk berbagai jenis pekerjaan seperti pengemudi, pekerja rumah tangga dan koki. Melalui framework yang diperkenalkan ION, kelompok tersebut melihat kembali model bisnis, target pasar dan peluang yang mungkin dikembangkan. “Kita bisa membantu bagaimana bisa melihat business modelnya, target marketnya gimana, dan juga peluang apa yang bisa didapatkan dari business model yang dibuat tadi dengan dibantu framework yang diajarkan oleh ION," tuturnya. Bagi ION, contoh tersebut menunjukkan fungsi lain dari kegiatan di Bandung. Startup tidak hanya diperkenalkan dengan konsep open network, tetapi juga diajak memberikan gambaran mengenai persoalan dan kebutuhan yang mereka hadapi sendiri. Membangun Open Network dari Kebutuhan Nyata Kegiatan di Bandung merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem Bandung ION Lab, dengan menghubungkan startup, inkubator, bisnis, komunitas teknologi dan stakeholder inovasi lokal dengan kebutuhan pasar yang lebih luas. Karena itu, hasil workshop tidak hanya berhenti pada enam kelompok yang selesai berdiskusi. ION juga menggunakan kegiatan tersebut untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai kebutuhan, kapabilitas dan kemungkinan partisipasi para pelaku ekosistem. Setiap kelompok diharapkan menghasilkan setidaknya satu peluang bisnis, kebutuhan infrastruktur digital atau tantangan konektivitas, sekaligus memahami posisi bisnis mereka dalam ekosistem ION. Bagi startup Bandung, pertanyaan yang diberikan ION menjadi cukup praktis: apa yang seharusnya bisa dilakukan oleh ekosistem mereka hari ini, tetapi belum bisa dilakukan? Jawaban atas pertanyaan itu bisa saja menjadi peluang bisnis berikutnya.
Jepang Bidik Pasar Indonesia di Era AI: Firma Hukum dan Startup Legal-Tech Seminar Strategi Masuk Pasar Tokyo
Tokyo, katakabar.com - Seiring dengan meningkatnya minat perusahaan Jepang untuk berekspansi ke Indonesia, sebuah seminar yang digelar di Shibuya membahas pertanyaan yang kerap dihadapi perusahaan Jepang: bukan lagi sekadar apakah akan memasuki perekonomian terbesar di Asia Tenggara, melainkan kapan, bagaimana, dan melalui struktur apa langkah tersebut sebaiknya dilakukan. Seminar berjudul “Indonesia Market Entry Strategy Seminar in the Age of AI” yang digelar di Shibuya Scramble Square tersebut merupakan kolaborasi antara GHP Law Firm, Gani.AI, dan Marunouchi Sogo Law Office. Seminar ini menghadirkan para praktisi di bidang hukum, investasi lintas batas, dan teknologi hukum untuk membahas berbagai aspek praktis dalam memasuki pasar Indonesia, termasuk semakin besarnya peran kecerdasan buatan dalam pelaksanaan pekerjaan hukum lintas batas. Panel menghadirkan Ruly Fitrah Nasrullah, Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) Tokyo Office, Bintang Hidayanto, Co-Founder dan CEO Gani.AI sekaligus Founder GHP Law Firm, Naufal Fileindi, Co-Managing Partner GHP Law Firm, serta Kyota Konnai, Attorney-at-Law pada Marunouchi Sogo Law Office. Sesi tersebut dimoderatori oleh Ayuki Kamata. Melampaui Besarnya Pasar: Mengutamakan Struktur Tepat Alih-alih melakukan pitching mengenai kekuatan ekonomi maupun jumlah penduduk Indonesia. Hal yang pada umumnya telah diketahui oleh para eksekutif Jepang panel berfokus pada berbagai keputusan yang perlu diambil setelah perusahaan memutuskan untuk memasuki pasar Indonesia. Keputusan tersebut mencakup pemilihan antara kemitraan lokal, skema distribusi, joint venture, atau entitas yang dimiliki sepenuhnya, pengelolaan anak perusahaan di Indonesia yang berkantor pusat di Jepang, serta melakukan navigasi atas ketentuan regulasi dalam menjalankan kegiatan usaha yang melibatkan dua yurisdiksi hukum. Topik yang dibahas meliputi: * Peluang investasi dan pasar bagi perusahaan Jepang di Indonesia * Pemilihan struktur masuk pasar yang sesuai dengan model bisnis dan profil risiko * Tata kelola dan koordinasi antara kegiatan operasional di Indonesia dan kantor pusat di Jepang * Pertimbangan khusus bagi perusahaan manufaktur yang mempertimbangkan produksi lokal * Aspek regulasi dan kepatuhan dalam kegiatan usaha lintas batas * Peluang-peluang baru di Indonesia di luar sektor investasi tradisional “Industri otomotif selama ini menjadi sektor utama bagi pelaku usaha Jepang. Tetapi, sektor F&B dan e-commerce belum berkembang seprogresif sektor tersebut, meskipun pasar Indonesia terbuka terhadap keduanya," kata Naufal Fileindi, Co-Managing Partner GHP Law Firm Peran AI Semakin Besar dan Kompleks dalam Pekerjaan Hukum Cross-Border Pembahasan lainnya dalam seminar tersebut mengulas bagaimana artificial intelligence mulai mengubah pelaksanaan kegiatan hukum dan bisnis cross-border. Para panelis membahas potensi AI dalam meningkatkan efisiensi pekerjaan hukum sekaligus berbagai risiko praktis yang perlu diperhatikan, khususnya terkait kerahasiaan klien, pengawasan manusia, serta ketertelusuran dalam konteks hukum dan sektor publik. Dengan mengacu pada pengalaman Gani.AI di bidang teknologi hukum, diskusi ini fokus pada bagaimana pelaku usaha dan penyedia jasa profesional dapat mengadopsi teknologi AI tanpa mengesampingkan mekanisme perlindungan dan pertimbangan manusia yang tetap diperlukan dalam pekerjaan hukum cross-border. “Tidak dapat dipungkiri bahwa AI memiliki peran penting. Dengan AI, manusia akan mampu berkembang melampaui kemampuan yang kita miliki saat ini," timpal Bintang Hidayanto, Co-Founder dan CEO GANI.AI Pendekatan Spesifik Tiap Perusahaan, Bukan Pendekatan Berlaku untuk Semua Penyelenggara seminar menegaskan tidak terdapat satu strategi yang dapat diterapkan secara seragam bagi seluruh perusahaan yang hendak memasuki pasar Indonesia. Pesan utama yang disampaikan panel adalah bahwa pendekatan masing-masing perusahaan perlu disesuaikan dengan model bisnis, tahap ekspansi, profil risiko, struktur organisasi, serta tujuan jangka panjangnya, bukan semata-mata didasarkan pada besarnya potensi pasar. GHP Law Firm, Gani.AI, dan Marunouchi Sogo Law Office, menyampaikan komitmennya untuk terus mendorong dialog antara pelaku usaha Jepang dan mitra mereka di Indonesia maupun kawasan Asia Tenggara, seiring dengan meningkatnya minat perusahaan Jepang terhadap peluang investasi, manufaktur, teknologi, dan pasar konsumen di Indonesia.
Vritimes Perkuat Ekosistem Bisnis dan Startup di Acara ConnectX 1st Anniversary Jakarta
Jakarta, katakabar.com - Vritimes, platform distribusi siaran pers terkemuka, secara resmi mendukung dan berpartisipasi pada perayaan ulang tahun pertama ConnectX yang digelar pada penghujung Juli 2026, di Garuda Spark Innovation Hub, Jakarta. Acara perayaan bertajuk perkuat jejaring dan kolaborasi ini menghadirkan para founder, pemilik bisnis, investor, operators, hingga pemimpin industri lintas sektor. Kehadiran Vritimes sebagai mitra strategis sekaligus pemateri menegaskan komitmen perusahaan dalam mendorong pertumbuhan ekosistem bisnis dan startup tanah air melalui komunikasi dan jejaring yang bermakna. Mendorong Kolaborasi Nyata di Sektor Bisnis Sesuai dengan semangat ConnectX bahwa peluang bisnis terbesar lahir dari hubungan dan jejaring yang kuat, acara ini dirancang bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan wadah untuk bertukar ide, membangun relasi jangka panjang, serta menjajaki kolaborasi konkret. Co-Founder & CEO Vritimes, Ferry Bayu, hadir langsung sebagai salah satu pembicara utama dalam sesi Founder-to-Founder Sharing. Dalam paparan dan diskusinya, Ferry membagikan wawasan mendalam mengenai pentingnya visibilitas media, komunikasi strategis, serta bagaimana membangun relasi bermakna yang mampu memicu peluang usaha baru. "Peluang bisnis sering kali lahir bukan hanya dari apa yang kita ketahui, melainkan dari siapa yang kita kenal dan bagaimana kita membina hubungan tersebut. Di VRITIMES, kami percaya bahwa satu percakapan yang tepat dapat membuka babak baru bagi perkembangan karier maupun bisnis. Kami bangga dapat menjadi bagian dari perayaan ke-1 ConnectX dan terus berkomitmen mendukung ekosistem bisnis yang saling menguatkan," jelas Ferry Bayu, Co-Founder & CEO Vritimes. Sinergi Lintas Industri dan Kehadiran Booth Vritimes Acara ConnectX 1st Anniversary ini dipandu oleh Ika Afifah (Founder ConnectX) dan dimeriahkan oleh rangkaian agenda utama, seperti: Founder-to-Founder Sharing bersama para praktisi dan investor seperti Loïc Caudan (Vonerio), Arif Fajar Saputra (Ibunda.id & Nuxcle), Fahri Reza (TAKA Lab), Dwi Andi, MBA (Sanggabiz), Eldo Kusuma (SPIL Ventures), serta Ferry Bayu (VRITIMES). Business Pitching & Curated Business Matching untuk mempertemukan ide-ide potensial dengan mitra yang tepat. Investor & Partner Networking Dinner yang menjadi ajang diskusi santai namun produktif antar-pemangku kepentingan. Selain menjadi pemateri, Vritimes juga diberikan booth khusus di acara ini. Melalui booth tersebut, tim Vritimes membagikan wawasan seputar pentingnya siaran pers, membuka ruang konsultasi media secara langsung, serta berinteraksi erat dengan para founder dan pemilik bisnis yang bermaksud memperluas jangkauan publisitas mereka. Melalui partisipasi aktif ini, VRITIMES berharap dapat terus menjadi jembatan bagi para pelaku usaha dalam menyebarkan kabar baik, memperluas jangkauan informasi, serta memperkuat hubungan strategis antar-pelaku industri di Indonesia.
GS Volume 28 Bahas Peluang Kolaborasi Startup dan Korporasi di PK dan CE 2026
Jakarta, katakabar.com - LindungiHutan kembali gelar Green Skilling Vol. 28 bertajuk “Carbon Innovation Landscape 2026: Peluang Startup & Corporate di Circular Economy & Carbon Market”, Kamis (30/10) lalu. Diskusi ini soroti arah baru inovasi karbon di Indonesia menjelang 2026, dengan fokus pada kolaborasi strategis antara startup hijau, dan korporasi besar dalam membangun ekonomi sirkular dan pasar karbon yang kredibel. Webinar ini menghadirkan pembicara dari berbagai sektor, di antaranya LindungiHutan, PT Biro Karbon Nusantara, dan AFS Lawyer Partnership, serta Asosiasi Ahli Karbon Indonesia (Aceksi). Diskusi menyoroti potensi, tantangan, dan strategi dalam memperkuat ekosistem inovasi karbon di Indonesia, mulai dari penerapan teknologi hijau, regulasi baru, hingga model kolaborasi yang dapat mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon. Sejak berdiri pada 2016 silam, LindungiHutan telah menanam lebih dari 1 juta pohon di berbagai daerah di Indonesia. Platform digital ini memungkinkan donatur untuk memantau pertumbuhan pohon secara real-time dan turut berpartisipasi dalam upaya penyerapan karbon melalui fitur seperti Imbangi (kalkulator karbon) dan Kolaboratory (platform kolaborasi hijau bagi brand dan korporasi). Model berbasis transparansi ini menjadi contoh nyata bagaimana startup lingkungan dapat membangun kepercayaan publik dan memperluas dampak sosial-ekologis melalui teknologi. Sementara, PT Biro Karbon Nusantara memaparkan praktik bisnis sirkular melalui proyek biogas bersertifikat Gold Standard yang mengubah limbah organik menjadi energi dan pupuk organik. Model ini tidak hanya menghasilkan manfaat lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar melalui energi terbarukan dan kredit karbon. Pada sesi diskusi, para panelis menyoroti pentingnya regulasi baru Perpres 110 Tahun 2025 yang menggantikan Perpres 98 Nomor 2021, memperkuat pasar karbon sukarela, dan memperkenalkan registri baru untuk kredit karbon. Regulasi ini diharapkan meningkatkan transparansi dan integrasi standar internasional seperti Article 6 dari Paris Agreement. Diskusi juga membahas peluang besar bagi startup dalam mengembangkan teknologi pengukuran dan verifikasi digital (digital MRV), teknologi penghilangan karbon seperti Biochar dan Carbon Capture and Storage (CCS), serta model bisnis inovatif seperti carbon collaboration as a service yang memungkinkan startup dan korporasi berbagi peran dalam mitigasi emisi. Kolaborasi antara startup dan korporasi dinilai menjadi kunci akselerasi transisi hijau. Model co-development project dan green investment memungkinkan startup melakukan uji coba teknologi dengan dukungan dana dan jaringan korporasi, sementara korporasi memperoleh manfaat reputasi, pengurangan risiko, serta kontribusi nyata terhadap target Net Zero Emission. Para narasumber menegaskan kredit karbon seharusnya menjadi pelengkap, bukan pengganti, upaya pengurangan emisi langsung. Transparansi data, verifikasi independen, dan pelaporan terbuka menjadi syarat utama agar pasar karbon Indonesia tetap kredibel dan terhindar dari praktik greenwashing.
Green Skilling #28 Bahas Peluang Startup dan Korporasi di Circular Economy dan Pasar Karbon 2026
Semarang, katakabar.com - LindungiHutan hadirkan lagi Green Skilling edisi ke 28 bertajuk “Carbon Innovation Landscape 2026: Peluang Startup & Corporate di Circular Economy & Carbon Market”, yang akan digelar Kamis, 30 Oktober 2025 kemarin. Webinar ini mengupas tuntas tren inovasi karbon global dan nasional, serta bagaimana startup dan korporasi dapat berkolaborasi membangun ekosistem bisnis rendah emisi yang kredibel dan berdampak. Menuju tahun 2026, isu inovasi karbon kian menjadi sorotan dunia. Data dari World Bank (2024) menunjukkan pasar karbon global telah tumbuh hingga lebih dari US$ 100 miliar dan diprediksi akan meningkat dua kali lipat dalam lima tahun ke depan, seiring meningkatnya regulasi dan komitmen perusahaan terhadap target net zero emission. Indonesia sendiri memiliki potensi besar, terutama melalui kekayaan hutan tropis dan ekosistem karbon biru seperti mangrove yang mampu menyerap hingga 1.500 ton karbon per hektare (Kementerian KLHK, 2023). Tetapi, tantangan masih besar. Banyak perusahaan belum memahami bagaimana mengintegrasikan inovasi karbon ke dalam model bisnis mereka. Di sisi lain, startup teknologi hijau menghadapi kesulitan dalam pendanaan dan kemitraan jangka panjang. Green Skilling #28 hadir untuk menjembatani dua dunia ini, yakni antara inovasi teknologi dengan kebutuhan korporasi dan arah kebijakan nasional. “Kolaborasi antara startup dan corporate adalah kunci untuk membangun ekosistem inovasi karbon yang berkelanjutan. Tidak cukup hanya mengurangi emisi; kita perlu menciptakan model bisnis baru yang memutar kembali sumber daya, mengubah limbah menjadi nilai ekonomi, dan mendukung circular economy,” ujar Dara, Event Organizer LindungiHutan melalui keterangan tertulisnya. Acara ini menampilkan dua sesi utama. Sesi pertama menghadirkan perspektif dari startup founder di bidang circular economy dan carbon tech, yang akan membahas potensi teknologi daur ulang, bio-material, dan platform digital dalam mendukung carbon trading. Sesi berikutnya diisi oleh corporate sustainability leader dan investor, yang akan mengulas strategi perusahaan besar dalam mendorong inovasi karbon serta peran investasi hijau dalam membangun pasar karbon Indonesia. Selain diskusi utama, peserta mendapatkan wawasan tentang peta jalan (roadmap) menuju Carbon Innovation Landscape 2026, termasuk tren regulasi, peluang pendanaan startup hijau, dan strategi pengembangan open innovation lintas sektor.
Japan Tech Indonesia 2025 Peluang Baru Bersama Startup dan Industri Jepang di Indonesia
Jakarta, katakabar.com - Japan Tech Indonesia 2025 bakal pertemukan startup, inovator, dan pemimpin industri Jepang dan Indonesia untuk menggali peluang kolaborasi di bidang AI, blockchain, dan transformasi digital. Japan Tech Indonesia 2025 akan menjadi konferensi teknologi yang diadakan pada 21 Oktober 2025 di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Acara ini akan mempertemukan startup, inovator, dan pemimpin industri dari Jepang dan Indonesia untuk menggali peluang kolaborasi dan mempercepat perkembangan teknologi, termasuk dalam bidang AI, blockchain, transformasi digital, dan lainnya. Acara ini ditujukan untuk para profesional di bidang IT dan Product Development yang ingin membuka peluang baru dengan startup atau industri Jepang yang sedang berkembang di Indonesia. Japan Tech Indonesia 2025 akan menyediakan peluang jaringan, presentasi produk digital terbaru, serta insights langsung dari para pemimpin industri yang memimpin inovasi global. Beberapa hal bakal ditemukan di acara ini adalah: - Sesi Keynote dari pemimpin pemikiran Jepang dan Indonesia yang berbicara tentang peluang bisnis dan teknologi terbaru - Pameran produk digital dari startup Jepang yang berinovasi di sektor AI, CRM, SaaS, dan teknologi transformasi digital lainnya - Sesi Networking yang dirancang khusus untuk perusahaan, startup, dan investor yang ingin menjalin kolaborasi di Indonesia - Workshop eksklusif yang membahas tren dan peluang teknologi terbaru dalam pengembangan bisnis Panel Discussion: 'Transforming B2B Tech through Innovation, Efficiency, and Strategic Leadership' Di acara ini, akan ada sesi Panel Discussion yang sangat dinantikan, yang akan mengupas topik terkait transformasi teknologi B2B, dengan fokus pada inovasi, efisiensi, dan kepemimpinan strategis. Panel ini akan diisi oleh Yuiichiro Sasaki, Founder of VRIGroup dan VP Global Business Dept at RevComm, bersama Harutoshi Tanaka, SVP Corporate Finance and Development at Mekari. Diskusi ini akan dipandu oleh Ika Sastrosoebroto, seorang Moderator dari Prominent Public Relations. “Kami membawa para pemimpin inovasi dari Jepang untuk berbagi pengalaman mereka dalam membangun startup dan ekosistem teknologi yang sukses,” kata Ferry Bayu, Co-Founder di VRIGROUP. “Acara ini adalah kesempatan langka bagi mereka yang ingin menjalin hubungan dan membuka peluang dengan perusahaan teknologi Jepang yang berkembang pesat di Indonesia,” jelasnya. Exhibitors: 1. Michiru Co., Ltd. Didirikan pada 2018, Michiru menawarkan solusi perangkat lunak seperti MICHIRU RPA dan MICHIRU OCR untuk membantu bisnis mengotomatisasi proses dan meningkatkan efisiensi. 2. Kintone Corporation Platform kolaborasi berbasis cloud yang memungkinkan tim mengelola data, tugas, dan komunikasi dalam satu tempat terpusat. 3. HENNGE K.K. Perusahaan SaaS asal Jepang yang menyediakan solusi keamanan dan produktivitas berbasis cloud untuk membantu organisasi menghadapi tantangan digital. 4. SOFTBRAIN Co., Ltd. Perusahaan CRM berbasis cloud dan otomatisasi penjualan. Dipercaya oleh lebih dari 7.500 perusahaan di Jepang, platform unggulan mereka e-Sales Manager membantu bisnis menyederhanakan proses penjualan, mengoptimalkan hubungan pelanggan, dan meningkatkan produktivitas. 5. Giftee, Inc. Platform e-gifting terdepan yang menawarkan solusi hadiah digital untuk memperkuat hubungan melalui pengalaman memberi hadiah yang praktis dan lancar. 6. Cacco, Inc. Berfokus pada solusi berbasis algoritma untuk deteksi penipuan, konsultasi pembayaran, serta layanan data science. 7. Asuene, Inc. Perusahaan teknologi yang menyediakan layanan akuntansi karbon berbasis cloud dan konsultasi ESG untuk membantu bisnis mengelola dampak lingkungan mereka. 8. Josys, Inc. Platform manajemen SaaS yang menyederhanakan operasional IT, memungkinkan bisnis mengelola perangkat dan aplikasi SaaS dengan mudah.
Muslim AI Companion Resmi Sebagai Halal Startup oleh Hasan.VC
keuntungan besar, meliputi Mentorship Strategis Selama lima minggu, startup akan dibimbing oleh mentor global di bidang AI, bisnis, dan etika. Refinement Produk Aplikasi akan dipoles lebih lanjut agar relevan dengan kebutuhan global dan memenuhi ekspektasi investor. Jaringan Investor Terhubung ke lebih dari 500 angel investors dan venture capital yang fokus pada solusi halal dan etis.
Mahasiswa Satu University Belajar dari Pelaku Industri Startup Digital
Jakarta, katakabar.com - Industry Visit INDIGO 2025 menunjukkan Satu University terus berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual, dan relevan dengan tantangan industri saat ini. Diharapkan, kegiatan ini mampu menumbuhkan semangat wirausaha digital dan membuka jalan bagi lahirnya para founder masa depan dari lingkungan kampus. Sebagai bagian dari komitmen untuk menghubungkan dunia akademik dengan industri, Satu University gelar kegiatan Industry Visit. Kali ini membawa mahasiswa ke Indigo by Telkom Indonesia, inkubator startup digital terkemuka di Indonesia. Usung tema “From Ideas to Impact: Journey of Future Founders”, kunjungan ini diikuti mahasiswa dari tiga program studi, yakni Desain Komunikasi Visual atau DKV, Informatika, dan Sistem Informasi, yang memiliki ketertarikan tinggi terhadap dunia startup dan inovasi digital. Acara yang berlangsung Senin (26/5) dari pukul 14.00 hingga 16.15 WIB lalu di Indigo Space, Bandung, menghadirkan dua narasumber inspiratif, yakni Lusia Elsa Dika Damayanty Business and Community Lead - Indigo pada sesi pembuka. Lusia membagikan pengalaman tentang bagaimana Indigo membina berbagai startup digital dari tahap ide hingga menjadi bisnis berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya validasi pasar, kolaborasi tim, dan keberanian untuk gagal sebagai bagian dari proses bertumbuhnya seorang founder. Sedang, Nida Khairunnisa Kusumawardhani Manager of Product and Curriculum - Educourse.id Nida membagikan kisah perjalanannya membangun produk edtech dari nol. Mahasiswa mendapatkan wawasan langsung tentang product development, design thinking, hingga bagaimana menyusun kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pengguna. Belajar di Lingkungan Inovatif Bertempat di Indigo Space, mahasiswa tidak hanya mengikuti sesi seminar, tetapi juga berkesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan kerja kreatif khas startup digital. Suasana kolaboratif dan teknologi yang digunakan di Indigo memberikan inspirasi bagi mahasiswa tentang bagaimana dunia kerja digital saat ini berlangsung. Kegiatan ini menjadi bagian dari program penguatan karier dan inovasi mahasiswa di Satu University. Dengan interaksi langsung bersama pelaku industri, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan praktis, tapi didorong untuk mulai merancang ide-ide inovatif yang bisa dikembangkan menjadi produk digital masa depan. Industry Visit Indigo 2025 menunjukkan Satu University terus berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual dan relevan dengan tantangan industri saat ini.
Ide Bisnis Startup di Indonesia: Panduan Buat Warga Negara Asing
Jakarta, katakabar.com - Indonesia, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, menawarkan lingkungan dinamis untuk pertumbuhan kewirausahaan. Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, penetrasi internet yang meningkat, dan kelas menengah yang berkembang, negara ini menyediakan pasar luas bagi usaha inovatif. Baik Anda tertarik pada teknologi, pertanian, layanan, atau bisnis berkelanjutan, terdapat berbagai ide bisnis startup yang menjanjikan di Indonesia. Bagi warga negara asing, Indonesia menyajikan peluang sekaligus persyaratan regulasi tertentu. Memahami iklim bisnis, kewajiban hukum, dan perilaku pasar sangat penting sebelum memulai. Artikel ini membahas hal-hal yang perlu diketahui oleh warga negara asing dan menawarkan ide-ide bisnis startup yang layak dan menjanjikan di Indonesia. Memahami Pasar Indonesia Demografi dan Penetrasi Digital Indonesia memiliki populasi muda yang melek teknologi. Lebih dari 70 persen penduduk menggunakan internet, dan e-commerce berkembang pesat. Ide bisnis startup yang berfokus pada solusi mobile, e-commerce, atau logistik dapat berkembang dengan eksekusi yang tepat. Konsumen modern Indonesia menghargai kenyamanan, keterjangkauan, dan kepercayaan. Warga negara asing sebaiknya mempertimbangkan ide bisnis startup yang melokalisasi layanan atau produk untuk menyesuaikan dengan nuansa budaya, ekspektasi harga, dan perilaku digital. Memulai bisnis sebagai warga negara asing memerlukan pendaftaran hukum melalui PT PMA (Perusahaan Penanaman Modal Asing). Dengan pengalaman bertahun-tahun dalam pendaftaran perusahaan di Indonesia, CPT Corporate dapat membimbing Anda melalui: 1. Mendirikan entitas PT PMA 2. Memahami batas kepemilikan asing 3. Memperoleh izin usaha yang diperlukan 4. Pendaftaran dan kepatuhan pelaporan pajak Jika Anda memiliki ide bisnis startup tetapi tidak yakin bagaimana menangani hambatan birokrasi, CPT Corporate memastikan masuk ke pasar Indonesia berjalan lancar.
Dorong Inovasi Generasi Muda, Yume Pro dan KAJI Taja Startup Competition Pelajar dan Mahasiswa
Jakarta, katakabar.com - Sebagai upaya menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan generasi muda, Yume Pro atau Dream Fulfilment Project salah satu komunitas bisnis pelajar terbesar di Asia, berkolaborasi dengan KAJI atau Komunitas Alumni Jepang di Indonesia taja World Student Pitch atau WSP oleh Yume Pro X Kaji, yakni acara Business Presentation Competition khusus untuk pelajar dan mahasiswa, pada 21 April 2025 di Kijang Function Chamber, Universitas Binus Kampus Kijang, Kemanggisan, Jakarta Barat. Kompetisi ini menjadi wadah bagi para siswa dan mahasiswa untuk mengembangkan ide bisnis inovatif yang berdampak positif bagi masyarakat. Peserta ditantang untuk merancang dan mempresentasikan startup mereka di hadapan para juri yang berasal dari kalangan profesional, investor, dan praktisi industri. “Melalui kompetisi ini, kami ingin memberikan ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan potensi mereka dalam menciptakan solusi kreatif bagi tantangan di masa depan,” ujar perwakilan dari Yume Pro. Kolaborasi dengan KAJI memperkuat jaringan dukungan dan inspirasi dari alumni Jepang yang telah berkiprah di berbagai bidang. Acara yang didukung Jetro, Binus University dan Marvin Foundation, ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana edukasi dan networking, di mana peserta akan mendapatkan pembekalan berupa workshop dan sesi mentoring dari para ahli. Salah satu perwakilan dari Tim terbaik akan berkesempatan untuk menjadi tamu pembicara di Ajang Pitching Contest bergengsi yang akan diselenggarakan di IVS Kyoto Japan pada 2 Juli 2025 selain mendapatkan hadiah uang tunai senilai Rp20 juta. Seluruh peserta berkesempatan mendapatkan pendampingan bisnis, dan akses ke berbagai peluang pengembangan startup mereka.