Vritimes di TEI 2026: Strategi Memperkuat Jangkauan Eksportir ke Pasar Global Nasional
Nasional
Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:00 WIB

Vritimes di TEI 2026: Strategi Memperkuat Jangkauan Eksportir ke Pasar Global

Serpong, katakabar.com - Berakhirnya gelaran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada 18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City menandai langkah aktif Vritimes mendukung daya saing produk dan layanan ekspor nasional di kancah global. Mengusung tema "The Ultimate Hub for Global Sourcing", pameran dagang internasional terbesar di Indonesia ini mempertemukan ribuan pelaku usaha, eksportir, dan pembeli (buyers) dari berbagai negara.

Strategi Transformasi PTPN III Menuju Penciptaan Nilai Berkelanjutan Nasional
Nasional
Rabu, 07 Oktober 2026 | 08:10 WIB

Strategi Transformasi PTPN III Menuju Penciptaan Nilai Berkelanjutan

Jatinangor, katakabar.com - Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) terus memperkuat transformasi perusahaan menuju penciptaan nilai yang berkelanjutan. Transformasi tersebut dilakukan secara bertahap, mulai dari memastikan keberlangsungan perusahaan, memperbaiki fundamental bisnis, hingga membangun pertumbuhan yang berkelanjutan dengan tetap memperhatikan aspek people, profit, dan planet.

BP Tapera Genjot Kinerja di Akhir 2026: Simak Strategi Utama Mencapai Target Nasional
Nasional
Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:30 WIB

BP Tapera Genjot Kinerja di Akhir 2026: Simak Strategi Utama Mencapai Target

Jakarta, katakabar.com - BP Tapera menggelar evaluasi kinerja KPR Subsidi FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) Tahun Anggaran 2026. Diselenggarakan di kantor BP Tapera, kegiatan evaluasi ini dilakukan bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) serta turut mengundang mitra kerja strategis BP Tapera, seperti perwakilan Bank Penyalur Himbara, para Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan, hingga PT. Sarana Multigriya Finansial (SMF).

Pasar Derivatif Indonesia Berkembang, Bittime Sorot Futures Bagian dari Evolusi Strategi Trading Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 12 September 2026 | 09:13 WIB

Pasar Derivatif Indonesia Berkembang, Bittime Sorot Futures Bagian dari Evolusi Strategi Trading

Jakarta, katakabar.com - Pasar aset keuangan digital Indonesia terus berkembang, dengan jumlah akun konsumen Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) mencapai 22,93 juta pada Juli 2026, naik 1,03% secara bulanan dari Juni 2026. Data tersebut tercatat dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agustus 2026. Melihat perkembangan tersebut, Bittime menilai pasar aset digital Indonesia mulai memasuki tahap yang lebih matang, termasuk dengan berkembangnya perdagangan derivatif. Semakin beragamnya instrumen membuka lebih banyak pilihan strategi trading bagi investor, sekaligus menuntut pemahaman yang lebih baik mengenai karakteristik dan risiko setiap instrumen. Pada Juli 2026, nilai transaksi aset kripto tercatat sebesar Rp20,52 triliun, sementara nilai transaksi derivatif Aset Keuangan Digital (AKD) mencapai Rp3,41 triliun. Meski nilai transaksi mengalami penurunan secara bulanan, OJK mencatat kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset keuangan digital, termasuk aset kripto, tetap terjaga dan menunjukkan perkembangan positif. Bagi Bittime, semakin beragamnya instrumen di pasar menunjukkan bahwa kebutuhan investor juga berkembang. Salah satunya adalah futures, yang memiliki karakteristik berbeda dari perdagangan spot dan dapat digunakan untuk berbagai strategi berdasarkan pergerakan harga. Namun, karakteristik tersebut juga membuat futures memiliki risiko yang perlu dipahami, terutama terkait leverage, volatilitas, dan manajemen risiko. Melalui Bittime Futures, pengguna dapat mengakses perdagangan futures sebagai salah satu pilihan instrumen dalam ekosistem aset digital. Layanan ini menjadi bagian dari upaya Bittime untuk mengikuti perkembangan kebutuhan pasar sekaligus memberikan akses terhadap instrumen derivatif dalam ekosistem yang berada dalam kerangka regulasi yang berlaku. CFX sebelumnya menyebut peluncuran layanan futures Bittime pada tanggal 15 Juli 2026, sebagai bagian dari upaya pendalaman pasar dan perluasan use case industri aset digital di Indonesia. “Pasar derivatif Indonesia terus berkembang dan memberikan pilihan baru bagi investor dalam menghadapi dinamika pasar. Namun, semakin beragam instrumennya, semakin penting pula pemahaman mengenai bagaimana instrumen tersebut bekerja dan risiko yang menyertainya. Futures bukan hanya tentang mengejar peluang dari pergerakan harga, tetapi juga tentang bagaimana mengelola posisi dan risiko dengan disiplin,” ucap Ryan Lymn, Direktur Operasional Bittime. Berbeda dengan perdagangan spot, futures dapat melibatkan leverage yang memperbesar potensi keuntungan sekaligus kerugian. Karena itu, pemahaman mengenai mekanisme kontrak, pergerakan harga, leverage, dan manajemen risiko menjadi bagian penting sebelum investor menggunakan instrumen tersebut. Perkembangan futures juga sejalan dengan upaya regulator untuk membangun ekosistem aset keuangan digital yang lebih matang. Dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan Agustus 2026, OJK menyatakan akan terus memperkuat regulatory sandbox, perizinan, pengawasan, dan kolaborasi lintas sektor untuk membangun ekosistem Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto yang inovatif, terpercaya, inklusif, dan berkelanjutan. Selain itu, OJK menekankan inovasi perlu berkembang melampaui tahap eksperimentasi dengan didukung tata kelola yang baik, manajemen risiko yang memadai, serta perlindungan konsumen. Bittime melihat sinergi antara inovasi, regulasi, dan edukasi sebagai fondasi penting bagi perkembangan pasar derivatif Indonesia. Semakin beragam instrumen yang tersedia, semakin penting pula bagi pengguna untuk memahami karakteristik dan risiko sebelum menentukan strategi trading.  “Kami melihat perkembangan futures sebagai bagian penting dari evolusi pasar aset digital Indonesia. Melalui Bittime Futures, kami ingin memberikan akses yang lebih luas terhadap instrumen aset digital sekaligus turut mendorong terbentuknya pasar yang semakin matang dan bertanggung jawab,” jelas Ryan.  Ke depan, Bittime akan terus mendukung perkembangan pasar aset digital Indonesia melalui inovasi, edukasi, dan pengembangan layanan yang mengedepankan tata kelola serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku. Seiring berkembangnya pasar derivatif, Bittime mendorong investor untuk tidak hanya melihat futures dari sisi peluang, tetapi juga memahami strategi dan risiko sebagai bagian dari aktivitas trading.

Godrej dan Childcare di Tempat Kerja: Ketika Dukungan bagi Perempuan Jadi Strategi Bisnis Nasional
Nasional
Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:07 WIB

Godrej dan Childcare di Tempat Kerja: Ketika Dukungan bagi Perempuan Jadi Strategi Bisnis

Jakarta, katakabar.com - Ketika perempuan memasuki dunia kerja, tantangan yang mereka hadapi tidak selalu berhenti pada kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan. Bagi banyak orang tua yang bekerja, terutama perempuan dengan anak kecil, kemampuan untuk menyeimbangkan tanggung jawab profesional dengan pengasuhan anak dapat menjadi faktor penting yang menentukan apakah mereka dapat bertahan dan berkembang dalam karier. Di tengah persoalan tersebut, dukungan pengasuhan anak dari perusahaan atau employer-supported childcare semakin dipandang sebagai bagian penting menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan ramah keluarga. Salah satu contohnya datang dari Godrej Consumer Products Indonesia (GCPI), yang mengembangkan dukungan pengasuhan anak sebagai bagian dari upaya membantu karyawan menyeimbangkan tanggung jawab keluarga dan pekerjaan. Perjalanan tersebut bukan baru dimulai dengan hadirnya fasilitas daycare permanen. Sejak 2017 lalu, tim Godrej di Indonesia telah menyediakan pop-up daycare selama periode libur Idul Fitri untuk membantu orang tua yang bekerja menghadapi salah satu periode dengan kebutuhan pengasuhan yang tinggi. Pendekatan tersebut kemudian berkembang menjadi model yang lebih permanen. Pada Juni 2025 lalu, GCPI meresmikan iPLAY at Godrej, fasilitas daycare permanen di lokasi kerja perusahaan di Halim, Jakarta Timur. Inisiatif ini dikembangkan sebagai bagian dari upaya membangun tempat kerja yang lebih ramah keluarga dan mendukung orang tua untuk tetap menjalankan karir sekaligus memenuhi kebutuhan pengasuhan anak. Dari Pop-Up Daycare ke Fasilitas Permanen Dukungan childcare Godrej tidak dimulai dari pembangunan fasilitas permanen. Sejak 2017, tim GCPI di Indonesia telah menyediakan pop-up daycare selama libur Idul Fitri, memberikan alternatif pengasuhan sementara bagi karyawan yang tetap harus bekerja selama periode tersebut. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan perusahaan dalam memahami kebutuhan orang tua yang bekerja dan bagaimana perusahaan dapat memberikan dukungan yang lebih praktis. Hadirnya iPLAY kemudian membawa pendekatan tersebut ke tahap yang lebih terstruktur. Berlokasi di kantor pusat GCPI di Halim, Jakarta Timur, fasilitas ini dirancang sebagai ruang yang aman dan edukatif bagi anak-anak ketika orang tua mereka bekerja. Fasilitas tersebut dikelola oleh mitra profesional dan juga terbuka bagi anak-anak karyawan maupun pekerja dari gedung perkantoran di sekitarnya, dengan pilihan layanan harian, mingguan, dan bulanan. iPLAY juga dilengkapi dengan sistem keamanan, alat permainan dan materi edukasi, serta makanan bergizi yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Dengan demikian, fasilitas ini tidak hanya diposisikan sebagai tempat penitipan anak, tetapi sebagai bagian dari sistem dukungan yang membantu orang tua bekerja dengan lebih tenang. Mengapa Childcare Penting bagi Perempuan di Dunia Kerja? Bagi pekerja yang memiliki anak, tanggung jawab pengasuhan dapat mempengaruhi keputusan untuk tetap bekerja, mengurangi jam kerja, atau bahkan meninggalkan dunia kerja. Tanpa dukungan yang memadai, beban pengasuhan juga dapat lebih banyak ditanggung oleh perempuan, sehingga menciptakan hambatan tambahan bagi keberlanjutan dan perkembangan karier mereka. Indonesian Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) menilai employer-supported childcare dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu pekerja yang memiliki anak menjalankan tanggung jawab pekerjaan secara lebih maksimal. Dukungan tersebut juga memiliki manfaat strategis bagi perusahaan, mulai dari meningkatkan keterlibatan dan produktivitas karyawan hingga membantu mempertahankan talenta. Pada konteks ini, onsite daycare bukan sekadar fasilitas tambahan bagi karyawan. Ketika menjadi bagian dari kebijakan workplace care yang lebih luas, childcare dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan orang tua tetap produktif tanpa harus mengabaikan kebutuhan anak. iPLAY sebagai Bagian dari Kebijakan Ramah Keluarga Bagi GCPI, childcare bukanlah kebijakan yang berdiri sendiri. Perusahaan juga menyediakan berbagai kebijakan yang mendukung orang tua, termasuk cuti melahirkan selama enam bulan, cuti ayah selama delapan minggu, cuti adopsi, cuti bagi karyawan yang mengalami keguguran atau stillbirth, bantuan finansial untuk program IVF, serta akses terhadap Employee Assistance Program (EAP). GCPI juga menyediakan pengaturan kerja yang fleksibel, program reintegrasi setelah cuti melahirkan, serta dukungan perjalanan bisnis bagi orang tua yang memiliki bayi berusia 0 hingga 12 bulan dan perlu membawa pengasuh. Di tingkat global, Godrej juga menempatkan konsep equal parenting sebagai bagian dari kebijakan perusahaan. Godrej menyediakan manfaat childcare bagi orang tua biologis maupun adopsi, cuti berbayar bagi primary caregivers, opsi kerja fleksibel setelah kembali bekerja, serta dukungan bagi secondary caregivers. Membangun Model Berdasarkan Kebutuhan Karyawan Pengembangan model childcare Godrej juga didasarkan pada kebutuhan karyawan. Perusahaan menggunakan masukan dari survei karyawan dan focus group dalam mengembangkan model childcare bersama IBCWE. Perusahaan kemudian bermitra dengan Montessori Preschool and Daycare yang terakreditasi oleh Association Montessori Internationale (AMI). Pendekatan berbasis masukan karyawan tersebut penting karena kebutuhan pengasuhan dapat berbeda antara satu tempat kerja dan tempat kerja lainnya. IBCWE sendiri menekankan bahwa solusi employer-supported childcare tidak dapat diterapkan dengan pendekatan yang sama untuk semua perusahaan. Kebutuhan perusahaan perkantoran, manufaktur, pertambangan, perkebunan, maupun sektor lainnya dapat berbeda, sehingga dukungan perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pekerja. Dengan melibatkan karyawan sejak tahap pengembangan, perusahaan dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai tantangan yang mereka hadapi dan bentuk dukungan yang paling relevan. Kolaborasi untuk Mendorong Perubahan Hadirnya iPLAY juga menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas mengenai employer-supported childcare di Indonesia. IBCWE dan Investing in Women sebelumnya telah bekerja sama dalam mendorong perusahaan untuk mengembangkan berbagai model dukungan childcare. Pada 2024, keduanya menerbitkan panduan employer-supported childcare yang memberikan pilihan bagi perusahaan, mulai dari fasilitas penitipan anak permanen atau sementara hingga dukungan tidak langsung seperti subsidi childcare. Dalam konteks tersebut, pengalaman Godrej dapat menjadi contoh bagaimana perusahaan dapat bergerak dari dukungan childcare yang bersifat sementara menuju model yang lebih permanen dan terintegrasi dengan kebijakan ramah keluarga. Saat peresmian iPLAY pada Juni 2025 lalu, perwakilan pemerintah, sektor swasta, APINDO, IBCWE, Investing in Women, serta berbagai mitra turut hadir dalam forum yang membahas pentingnya employer-supported childcare dan penerapannya di dunia kerja. Kolaborasi lintas sektor tersebut menunjukkan bahwa persoalan childcare tidak lagi semata-mata dipandang sebagai urusan keluarga. Pengasuhan juga berkaitan dengan ketenagakerjaan, kesetaraan gender, produktivitas, serta partisipasi perempuan dalam perekonomian. Mendukung Ekonomi Perawatan di Indonesia Pembahasan mengenai childcare menjadi semakin penting seiring meningkatnya perhatian terhadap care economy atau ekonomi perawatan di Indonesia. Bagi Godrej, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perusahaan dapat mengambil peran langsung dalam membangun ekosistem yang lebih mendukung keluarga pekerja. Ketika childcare dipandang sebagai bagian dari infrastruktur tempat kerja, bukan sekadar biaya tambahan, perusahaan dapat melihat manfaat yang lebih luas. Dukungan tersebut dapat membantu mempertahankan talenta, meningkatkan loyalitas karyawan, dan menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan perempuan terus berkembang dalam karir mereka. Childcare Investasi Jangka Panjang Pembicaraan mengenai kesetaraan gender di dunia kerja sering kali berfokus pada representasi perempuan, posisi kepemimpinan, dan kesetaraan upah. Namun, ada persoalan mendasar yang perlu diperhatikan terlebih dahulu, yaitu apakah perempuan dan orang tua yang bekerja memiliki dukungan yang memungkinkan mereka untuk tetap berada dalam dunia kerja. Perjalanan Godrej dari pop-up daycare sejak 2017 hingga hadirnya iPLAY sebagai fasilitas daycare permanen menunjukkan bagaimana dukungan tersebut dapat berkembang dari waktu ke waktu. Pengalaman tersebut juga memperlihatkan bahwa childcare akan lebih efektif ketika menjadi bagian dari kebijakan ramah keluarga yang lebih luas. Cuti orang tua, fleksibilitas kerja, dukungan bagi caregiver, dan fasilitas daycare dapat saling melengkapi untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih berkelanjutan. Bagi perusahaan, manfaatnya tidak berhenti pada membantu karyawan mengelola kehidupan keluarga. Dukungan terhadap orang tua yang bekerja juga dapat berkontribusi terhadap retensi talenta, keterlibatan karyawan, produktivitas, dan terciptanya lingkungan kerja yang lebih inklusif. Pada akhirnya, dukungan terhadap childcare bukan hanya tentang menyediakan tempat bagi anak selama orang tua bekerja. Ini adalah tentang menciptakan dunia kerja yang memahami bahwa kesejahteraan karyawan, tanggung jawab keluarga, dan produktivitas profesional saling berkaitan. Melalui iPLAY, Godrej menunjukkan bagaimana perusahaan dapat mengambil peran konkret dalam membangun tempat kerja yang lebih ramah keluarga, sekaligus berkontribusi pada perkembangan ekonomi perawatan di Indonesia. Jika model seperti ini semakin banyak diadopsi oleh perusahaan lain, childcare dapat menjadi bagian penting dari perubahan menuju dunia kerja yang memungkinkan orang tua, khususnya perempuan, berkembang tanpa harus memilih antara keluarga dan karier.

Jepang Bidik Pasar Indonesia di Era AI: Firma Hukum dan Startup Legal-Tech Seminar Strategi Masuk Pasar Tokyo Internasional
Internasional
Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:01 WIB

Jepang Bidik Pasar Indonesia di Era AI: Firma Hukum dan Startup Legal-Tech Seminar Strategi Masuk Pasar Tokyo

Tokyo, katakabar.com - Seiring dengan meningkatnya minat perusahaan Jepang untuk berekspansi ke Indonesia, sebuah seminar yang digelar di Shibuya membahas pertanyaan yang kerap dihadapi perusahaan Jepang: bukan lagi sekadar apakah akan memasuki perekonomian terbesar di Asia Tenggara, melainkan kapan, bagaimana, dan melalui struktur apa langkah tersebut sebaiknya dilakukan. Seminar berjudul “Indonesia Market Entry Strategy Seminar in the Age of AI” yang digelar di Shibuya Scramble Square tersebut merupakan kolaborasi antara GHP Law Firm, Gani.AI, dan Marunouchi Sogo Law Office. Seminar ini menghadirkan para praktisi di bidang hukum, investasi lintas batas, dan teknologi hukum untuk membahas berbagai aspek praktis dalam memasuki pasar Indonesia, termasuk semakin besarnya peran kecerdasan buatan dalam pelaksanaan pekerjaan hukum lintas batas. Panel menghadirkan Ruly Fitrah Nasrullah, Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) Tokyo Office, Bintang Hidayanto, Co-Founder dan CEO Gani.AI sekaligus Founder GHP Law Firm, Naufal Fileindi, Co-Managing Partner GHP Law Firm, serta Kyota Konnai, Attorney-at-Law pada Marunouchi Sogo Law Office. Sesi tersebut dimoderatori oleh Ayuki Kamata. Melampaui Besarnya Pasar: Mengutamakan Struktur Tepat Alih-alih melakukan pitching mengenai kekuatan ekonomi maupun jumlah penduduk Indonesia. Hal yang pada umumnya telah diketahui oleh para eksekutif Jepang panel berfokus pada berbagai keputusan yang perlu diambil setelah perusahaan memutuskan untuk memasuki pasar Indonesia. Keputusan tersebut mencakup pemilihan antara kemitraan lokal, skema distribusi, joint venture, atau entitas yang dimiliki sepenuhnya, pengelolaan anak perusahaan di Indonesia yang berkantor pusat di Jepang, serta melakukan navigasi atas ketentuan regulasi dalam menjalankan kegiatan usaha yang melibatkan dua yurisdiksi hukum. Topik yang dibahas meliputi: * Peluang investasi dan pasar bagi perusahaan Jepang di Indonesia * Pemilihan struktur masuk pasar yang sesuai dengan model bisnis dan profil risiko * Tata kelola dan koordinasi antara kegiatan operasional di Indonesia dan kantor pusat di Jepang * Pertimbangan khusus bagi perusahaan manufaktur yang mempertimbangkan produksi lokal * Aspek regulasi dan kepatuhan dalam kegiatan usaha lintas batas * Peluang-peluang baru di Indonesia di luar sektor investasi tradisional “Industri otomotif selama ini menjadi sektor utama bagi pelaku usaha Jepang. Tetapi, sektor F&B dan e-commerce belum berkembang seprogresif sektor tersebut, meskipun pasar Indonesia terbuka terhadap keduanya," kata Naufal Fileindi, Co-Managing Partner GHP Law Firm Peran AI Semakin Besar dan Kompleks dalam Pekerjaan Hukum Cross-Border Pembahasan lainnya dalam seminar tersebut mengulas bagaimana artificial intelligence mulai mengubah pelaksanaan kegiatan hukum dan bisnis cross-border. Para panelis membahas potensi AI dalam meningkatkan efisiensi pekerjaan hukum sekaligus berbagai risiko praktis yang perlu diperhatikan, khususnya terkait kerahasiaan klien, pengawasan manusia, serta ketertelusuran dalam konteks hukum dan sektor publik. Dengan mengacu pada pengalaman Gani.AI di bidang teknologi hukum, diskusi ini fokus pada bagaimana pelaku usaha dan penyedia jasa profesional dapat mengadopsi teknologi AI tanpa mengesampingkan mekanisme perlindungan dan pertimbangan manusia yang tetap diperlukan dalam pekerjaan hukum cross-border. “Tidak dapat dipungkiri bahwa AI memiliki peran penting. Dengan AI, manusia akan mampu berkembang melampaui kemampuan yang kita miliki saat ini," timpal Bintang Hidayanto, Co-Founder dan CEO GANI.AI Pendekatan Spesifik Tiap Perusahaan, Bukan Pendekatan Berlaku untuk Semua Penyelenggara seminar menegaskan tidak terdapat satu strategi yang dapat diterapkan secara seragam bagi seluruh perusahaan yang hendak memasuki pasar Indonesia. Pesan utama yang disampaikan panel adalah bahwa pendekatan masing-masing perusahaan perlu disesuaikan dengan model bisnis, tahap ekspansi, profil risiko, struktur organisasi, serta tujuan jangka panjangnya, bukan semata-mata didasarkan pada besarnya potensi pasar. GHP Law Firm, Gani.AI, dan Marunouchi Sogo Law Office, menyampaikan komitmennya untuk terus mendorong dialog antara pelaku usaha Jepang dan mitra mereka di Indonesia maupun kawasan Asia Tenggara, seiring dengan meningkatnya minat perusahaan Jepang terhadap peluang investasi, manufaktur, teknologi, dan pasar konsumen di Indonesia.