Emas Gagal Tembus 4.355, Harga Berisiko Lanjut Melemah
Jakarta, katakabar.com - Harga emas dunia atau XAUUSD masih menghadapi tekanan pada perdagangan hari Selasa (15/9). Analisis Dupoin Futures mengatakan, pergerakan harga emas pada time frame Daily menunjukkan kecenderungan bearish yang masih cukup kuat. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai tekanan jual berpotensi berlanjut apabila harga belum mampu menembus sekaligus bertahan di atas level resistance penting 4.355. Menurut analisis Dupoin Futures, level 4.355 menjadi area yang perlu diperhatikan pelaku pasar karena dapat menjadi penentu arah pergerakan XAUUSD selanjutnya. Selama harga emas masih bergerak di bawah resistance tersebut, peluang terjadinya pelemahan masih terbuka. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan bearish masih mendominasi struktur pergerakan harga emas pada time frame Daily. Geraldo Kofit dari Dupoin Futures, menjelaskan apabila XAUUSD kembali mendapatkan tekanan jual dan tidak mampu melakukan breakout terhadap resistance 4.355, harga emas berpotensi melanjutkan penurunan menuju area support berikutnya. Dalam analisis Dupoin Futures, level 4.223 menjadi target support yang perlu diperhatikan karena berada di sekitar area Order Block dan Unfilled Order. Dengan demikian, prediksi harga emas hari ini menurut Dupoin Futures masih cenderung bearish. Selama tidak terdapat penguatan signifikan yang mampu membawa XAUUSD melewati resistance 4.355, peluang harga untuk menguji area 4.223 tetap terbuka. Pergerakan di sekitar kedua level tersebut menjadi penting untuk melihat apakah tekanan jual akan semakin kuat atau justru mulai kehilangan momentum. Dupoin Futures juga menilai reaksi harga ketika mendekati area 4.223 perlu menjadi perhatian. Jika support tersebut mampu menahan tekanan jual, XAUUSD berpotensi mengalami rebound atau konsolidasi. Sebaliknya, apabila harga emas berhasil menembus support tersebut, tekanan bearish dapat semakin terkonfirmasi dan membuka peluang pelemahan ke area yang lebih rendah. Selain faktor teknikal, pergerakan emas juga masih dipengaruhi oleh perkembangan fundamental global. Analisis Dupoin Futures menunjukkan bahwa penguatan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve menjadi salah satu faktor yang membebani harga emas. Ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi atau mengambil langkah yang lebih ketat dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS dan memberikan tekanan terhadap emas. Kondisi tersebut semakin diperhatikan karena harga emas tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika tingkat suku bunga dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat meningkat, opportunity cost dalam memegang emas menjadi lebih tinggi. Oleh sebab itu, menurut Dupoin Futures, pergerakan dolar AS dan Treasury yield akan menjadi dua indikator penting yang dapat memengaruhi arah XAUUSD dalam jangka pendek. Di sisi lain, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih menjadi faktor yang berpotensi memberikan dukungan terhadap emas. Situasi geopolitik yang meningkat biasanya mendorong investor untuk mencari aset safe haven, termasuk emas. Namun, menurut analisis Dupoin Futures, dukungan dari faktor safe haven tersebut masih harus berhadapan dengan tekanan dari ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah juga menjadi perhatian pasar. Harga minyak yang meningkat dapat menambah risiko inflasi global. Kondisi tersebut berpotensi membuat bank sentral, khususnya The Fed, lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya. Bagi harga emas, situasi tersebut dapat menjadi tekanan apabila pasar kembali meningkatkan ekspektasi terhadap suku bunga yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama. Lantaran itu, Dupoin Futures melihat arah pergerakan XAUUSD akan sangat bergantung pada keseimbangan antara sentimen safe haven dan tekanan dari dolar AS serta imbal hasil obligasi. Jika USD dan Treasury yield tetap tinggi, ruang penguatan emas dapat menjadi lebih terbatas. Sebaliknya, peningkatan ketidakpastian geopolitik yang signifikan dapat memberikan dorongan terhadap permintaan emas sebagai aset perlindungan. Secara keseluruhan, prediksi harga emas hari ini dari Dupoin Futures masih mengarah pada potensi pelemahan. Level 4.355 menjadi resistance utama yang perlu ditembus untuk mengurangi dominasi tekanan bearish. Selama XAUUSD belum mampu breakout dan bertahan di atas area tersebut, Dupoin Futures memperkirakan harga emas masih berpeluang melanjutkan penurunan menuju support 4.223. Pelaku pasar juga disarankan mencermati perkembangan keputusan dan komunikasi The Fed, pergerakan dolar AS, serta Treasury yield sebagai katalis utama. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan dinamika inflasi, Dupoin Futures menilai kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut akan menjadi penentu penting bagi arah harga emas berikutnya.
Peluang Harga Emas Bisa Tembus 4.500, Ini Analisis Dupoin Futures
Jakarta, katakabar.com - Harga emas atau XAUUSD diprediksi masih punga peluang untuk melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (10/9). Analisis Dupoin Futures menunjukkan adanya potensi pembentukan pola double bottom pada grafik harian yang dapat menjadi sinyal positif bagi pergerakan harga emas. Dalam skenario tersebut, XAUUSD berpeluang bergerak menuju area resistance terdekat di level 4.479 hingga 4.510. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengatakan peluang penguatan harga emas masih terbuka selama XAUUSD mampu mempertahankan area support penting. Berdasarkan analisis Dupoin Futures, zona support yang perlu diperhatikan berada di kisaran 4.366 hingga 4.340. Menurut Geraldo Kofit dari Dupoin Futures, selama harga emas tidak menembus area support tersebut, struktur pergerakan pada time frame Daily masih memberikan indikasi bullish. Kondisi ini membuat area 4.479–4.510 menjadi target resistance yang berpotensi diuji apabila momentum beli terus berlanjut. Analisis Dupoin Futures melihat pola double bottom sebagai salah satu faktor teknikal yang mendukung peluang kenaikan XAUUSD. Pola tersebut biasanya terbentuk setelah harga mengalami tekanan dan kemudian menemukan area yang mampu menahan penurunan sebanyak dua kali. Apabila harga mampu bergerak lebih tinggi dari area neckline, peluang terjadinya pembalikan tren menuju level yang lebih tinggi akan semakin terbuka. Dalam konteks pergerakan saat ini, Dupoin Futures menilai area support 4.366–4.340 menjadi batas penting bagi skenario bullish tersebut. Selama harga masih bertahan di atas zona itu, tekanan beli berpotensi tetap mendominasi. Sebaliknya, apabila support tersebut berhasil ditembus, skenario kenaikan yang disampaikan dalam analisis Dupoin Futures perlu dievaluasi kembali karena dapat membuka ruang bagi pelemahan lebih lanjut. Selain faktor teknikal, pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh sejumlah sentimen fundamental. Berdasarkan rangkuman berita Reuters, emas masih memperoleh dukungan dari pelemahan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik akibat perkembangan konflik di Timur Tengah. Situasi tersebut membuat aset emas tetap menarik bagi investor yang mencari instrumen safe haven di tengah meningkatnya risiko global. Dupoin Futures melihat perkembangan dolar AS sebagai salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam perdagangan XAUUSD. Ketika dolar AS mengalami tekanan, emas yang dihargai dalam mata uang tersebut cenderung menjadi lebih menarik bagi pemegang mata uang lainnya. Kondisi ini dapat memberikan dukungan tambahan terhadap harga emas. Di sisi lain, Dupoin Futures juga menilai pelaku pasar perlu mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat. Investor kini menunggu rilis data Producer Price Index (PPI) AS pada hari ini dan Consumer Price Index (CPI) pada Jumat. Kedua indikator tersebut berpotensi memberikan gambaran baru mengenai tekanan inflasi dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed. Data inflasi menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap keputusan suku bunga The Fed. Berdasarkan pemberitaan Reuters, peluang kenaikan suku bunga saat ini berada di sekitar 60%. Ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat membatasi penguatan emas, terutama apabila kenaikan suku bunga mendorong imbal hasil Treasury AS semakin tinggi. Kenaikan yield Treasury menjadi tantangan bagi emas karena instrumen tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga. Dengan demikian, apabila imbal hasil obligasi AS terus meningkat, sebagian investor dapat mengalihkan perhatian ke aset berbasis dolar yang menawarkan tingkat pengembalian lebih tinggi. Namun, menurut analisis Dupoin Futures, tekanan dari kenaikan yield dan ekspektasi suku bunga masih perlu dilihat bersama dengan kondisi teknikal XAUUSD. Jika dolar AS tetap melemah dan ketidakpastian geopolitik terus meningkat, permintaan terhadap emas berpotensi tetap kuat. Dengan mempertimbangkan analisis Dupoin Futures dan perkembangan sentimen pasar, Geraldo Kofit memperkirakan XAUUSD masih memiliki peluang untuk bergerak naik selama area support 4.366–4.340 tetap bertahan. Jika momentum bullish semakin kuat, harga emas berpotensi menguji resistance 4.479–4.510. Sebaliknya, apabila harga menembus support 4.340, pelaku pasar perlu mewaspadai perubahan struktur harga karena tekanan jual dapat kembali meningkat. Itu sebabnya, Dupoin Futures menilai respons XAUUSD terhadap area support dan resistance tersebut menjadi kunci untuk melihat arah pergerakan emas selanjutnya, terutama menjelang rilis data ekonomi penting Amerika Serikat.
Bitcoin Masuki Pekan Penentuan, Mampukah Kembali Tembus US$85.000?
Jakarta, katakabar.com - Masih bergerak di sekitar level US$79.000 setelah reli menuju US$82.000 belum mampu berlanjut. Meski momentum jangka pendek cenderung tertahan, peluang Bitcoin untuk kembali menguji US$85.000 masih terbuka seiring pasar bersiap menghadapi sejumlah agenda ekonomi penting Amerika Serikat (AS) dalam beberapa hari ke depan. Data internal FLOQ menunjukkan Bitcoin diperdagangkan sekitar US$79.522, dengan rentang perdagangan 24 jam antara US$79.081 hingga US$80.494. Sementara itu, dalam tujuh hari terakhir, BTC sempat bergerak hingga US$82.108 sebelum kembali terkoreksi. CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai kondisi saat ini menempatkan Bitcoin pada fase konsolidasi penting. Menurutnya, area US$82.000 menjadi salah satu level yang perlu ditembus agar momentum kenaikan menuju US$85.000 kembali mendapatkan konfirmasi. “Bitcoin saat ini berada dalam fase menunggu katalis baru. Area US$82.000 menjadi level yang cukup penting karena beberapa kali menjadi resistance. Jika level tersebut berhasil ditembus dengan volume dan permintaan yang kuat, peluang untuk melihat Bitcoin kembali menguji US$85.000 akan semakin terbuka,” kata Yudho. Jalan Menuju US$85.000 Masih Terbuka Secara teknikal, Bitcoin masih menghadapi resistance di kisaran US$80.000 hingga US$82.000. Kemampuan BTC merebut kembali area tersebut akan menjadi salah satu sinyal penting untuk menentukan apakah tren pemulihan dapat berlanjut. Sentimen pasar terhadap kemungkinan kenaikan juga masih relatif positif. Laporan mencatat pasar prediksi pergerakan Bitcoin sebelumnya memberikan probabilitas sekitar 77% bahwa BTC akan melewati US$85.000 sebelum 2 Oktober 2026. Meski demikian, probabilitas di prediction market bersifat dinamis dan bukan merupakan proyeksi harga yang pasti. Yudho mengatakan target US$85.000 masih realistis apabila beberapa katalis makro bergerak sesuai harapan pasar. “Untuk menuju US$85.000, Bitcoin tidak hanya membutuhkan faktor teknikal. Pasar juga membutuhkan dukungan dari sisi likuiditas dan sentimen makro. Karena itu, pergerakan minggu ini penting untuk melihat apakah investor kembali meningkatkan eksposur terhadap aset berisiko atau justru memilih lebih defensif menjelang keputusan The Fed,” jelasnya. Arus Dana ETF Masih Jadi Penopang Di tengah volatilitas harga, permintaan institusional terhadap Bitcoin masih menunjukkan sinyal positif. ETF Bitcoin di AS membukukan net inflow sekitar US$175 juta pada 4 September, menandai tiga sesi berturut-turut arus dana positif. BlackRock IBIT menyumbang sekitar US$117 juta, sedangkan Fidelity mencatat arus masuk sekitar US$57,22 juta. Sehari sebelumnya, total inflow ETF Bitcoin bahkan mencapai sekitar US$731 juta. Menurut Yudho, kesinambungan arus dana ETF menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena dapat menunjukkan bahwa investor institusional masih memiliki minat terhadap Bitcoin meskipun volatilitas jangka pendek meningkat. “ETF inflow menjadi salah satu indikator yang menarik karena memperlihatkan bahwa permintaan institusional masih ada ketika Bitcoin mengalami konsolidasi. Apabila tren arus masuk ini berlanjut, tekanan dari sisi permintaan bisa membantu Bitcoin mempertahankan struktur kenaikannya dan kembali mencoba resistance yang lebih tinggi,” katanya. Bitcoin Hadapi Tiga Ujian Besar Pekan Ini Selain pergerakan harga, perhatian investor pekan ini akan tertuju pada serangkaian agenda ekonomi AS yang berpotensi mengubah ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Ujian pertama datang dari pasar obligasi AS. Departemen Keuangan AS dijadwalkan melelang kembali Treasury Note tenor 10 tahun pada 9 September 2026, dengan settlement pada 15 September. Hasil lelang menjadi penting karena permintaan yang lemah berpotensi mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi, sementara permintaan yang kuat dapat membantu menahan kenaikan yield. Pada hari yang sama, kebijakan baru Treasury untuk meningkatkan kapasitas program buyback obligasi berjangka panjang juga mulai berlaku. Treasury meningkatkan batas maksimum operasi liquidity-support buyback dari US$2 miliar menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi untuk sejumlah surat utang berjangka panjang. Kebijakan ini berlaku mulai 9 September hingga awal November. Setelah itu, pasar kripto akan menghadapi dua laporan inflasi utama. Bureau of Labor Statistics (BLS) dijadwalkan merilis Producer Price Index (PPI) Agustus pada 10 September, disusul Consumer Price Index (CPI) Agustus pada 11 September. CPI AS terakhir tercatat meningkat 3,4% secara tahunan pada Juli. Data tersebut menjadi semakin penting setelah laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan nonfarm payroll bertambah 162.000 pada Agustus, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1%. Kondisi pasar tenaga kerja yang masih relatif kuat membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat. “PPI dan CPI akan menjadi dua data yang sangat penting. Jika inflasi menunjukkan tanda-tanda mereda, pasar bisa kembali melihat ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif ke depan. Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat mendorong yield dan dolar AS naik, yang biasanya menjadi tantangan bagi aset berisiko termasuk Bitcoin,” jelas Yudho. FOMC Jadi Penentu Arah Berikutnya Puncak perhatian pasar kemudian akan tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026. Federal Reserve dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya pada 16 September, disertai pembaruan proyeksi ekonomi dan jalur suku bunga dari para pejabat The Fed. Menurut Yudho, keputusan suku bunga saja belum tentu menjadi faktor terpenting. Panduan The Fed mengenai prospek inflasi, ekonomi, dan arah suku bunga berikutnya juga berpotensi menentukan sentimen pasar hingga akhir September. “Pasar pada akhirnya tidak hanya melihat apakah The Fed menaikkan atau mempertahankan suku bunga. Investor akan membaca bagaimana The Fed melihat inflasi dan arah kebijakan beberapa bulan ke depan. Nada yang lebih dovish dapat menjadi katalis positif bagi likuiditas pasar, sementara sikap yang tetap hawkish berpotensi membuat Bitcoin bertahan dalam fase konsolidasi lebih lama,” ucap Yudho. Dengan kondisi tersebut, US$82.000 menjadi resistance penting yang perlu diperhatikan dalam jangka pendek. Keberhasilan Bitcoin menembus dan mempertahankan level tersebut dapat membuka kembali peluang menuju US$85.000. Sebaliknya, apabila tekanan makro kembali meningkat, Bitcoin masih berpotensi bergerak volatil di sekitar area US$79.000 dan menguji support yang lebih rendah. Namun, kombinasi antara arus dana ETF yang masih positif, minat institusional, serta rangkaian katalis makro dalam beberapa hari ke depan membuat September berpotensi menjadi periode penting dalam menentukan fase berikutnya bagi Bitcoin. “Kami melihat September sebagai periode yang akan memberikan lebih banyak kejelasan mengenai arah pasar. US$85.000 masih sangat mungkin dicapai, tetapi jalannya tidak akan linear. Investor perlu memperhatikan data makro, arus dana institusional, dan bagaimana Bitcoin merespons level-level penting, bukan hanya mengejar pergerakan harga dalam satu atau dua hari,” sebut Yudho. Disclaimer: Materi ini disampaikan untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan rekomendasi atau ajakan untuk membeli maupun menjual aset kripto.
Emas Gagal Tembus 4.440, Harga Emas Berpotensi Anjlok ke 4.365–4.331
Jakarta, katakabar.com - Harga emas atau XAUUSD masih berpotensi mengalami tekanan pada perdagangan Senin (7/9). Analisis Dupoin Futures, Geraldo Kofit selaku analis Dupoin Futures melihat harga emas pada time frame Daily masih memiliki ruang untuk melanjutkan pelemahan menuju area support 4.365 hingga 4.331. "Prospek tersebut muncul setelah XAUUSD gagal menembus resistance di level 4.440 dan membentuk pola ABC Correction," kata Geraldo. Dupoin Futures menilai kegagalan emas melewati resistance 4.440 menjadi sinyal penting dalam membaca arah pergerakan harga berikutnya. Level tersebut sebelumnya menjadi area yang harus ditembus apabila XAUUSD ingin mempertahankan momentum penguatan. Tetapi, lantaran harga kembali tertahan di bawah resistance, tekanan jual berpotensi mengambil alih dan membawa emas menuju level support yang lebih rendah. Dalam analisis Dupoin Futures, terbentuknya pola ABC Correction juga menunjukkan bahwa XAUUSD masih berada dalam fase koreksi. Pola tersebut memberikan indikasi bahwa harga memiliki peluang untuk melanjutkan penurunan sebelum menemukan area yang dapat menjadi titik pantulan. Lantaran itu, area 4.365–4.331 menjadi zona penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar dalam perdagangan emas hari ini. Geraldo memperkirakan harga dapat terlebih dahulu menguji support 4.365 apabila tekanan jual terus berlanjut. Jika support tersebut tidak mampu menahan penurunan, XAUUSD berpotensi bergerak lebih rendah menuju 4.331. Bila harga mampu bertahan di zona tersebut dan muncul kembali minat beli, peluang terjadinya rebound tetap terbuka. Meski demikian, selama XAUUSD belum mampu menembus 4.440, Dupoin Futures masih melihat risiko koreksi sebagai skenario yang patut diwaspadai. Pergerakan emas hari ini juga tidak terlepas dari dinamika pasar global. Harga emas berada di sekitar US$4.410 per troy ounce dan menghadapi sejumlah sentimen yang saling berlawanan. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah kenaikan harga minyak yang dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta gangguan di sekitar Strait of Hormuz. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi karena energi merupakan salah satu komponen penting dalam aktivitas ekonomi. Jika harga minyak bertahan tinggi, pasar dapat kembali memperhitungkan risiko tekanan inflasi yang lebih persisten. Kondisi tersebut menjadi penting bagi harga emas karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve. Dupoin Futures melihat kebijakan The Fed masih menjadi salah satu faktor utama yang menentukan pergerakan XAUUSD. Setelah data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan hasil yang lebih kuat, ekspektasi pasar terhadap suku bunga kembali menjadi perhatian. Suku bunga yang berpotensi lebih tinggi dapat memberikan dukungan terhadap dolar AS dan yield Treasury, yang pada saat bersamaan dapat membatasi daya tarik emas. Ketika yield Treasury meningkat, investor memiliki alternatif aset dengan imbal hasil yang lebih tinggi sehingga biaya peluang memegang emas ikut meningkat. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap harga logam mulia. Karena itu, dalam analisis Dupoin Futures, arah pergerakan yield Treasury dan dolar AS menjadi dua indikator yang perlu terus dicermati untuk menentukan potensi XAUUSD dalam jangka pendek. Di sisi lain, pelemahan dolar AS dan turunnya yield Treasury dapat memberikan ruang bagi emas untuk kembali menguat. Apabila ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mulai berkurang, tekanan terhadap XAUUSD berpotensi mereda. Situasi tersebut dapat menjadi katalis bagi emas untuk melakukan pemulihan dari area support. Perhatian pasar kini mulai bergeser ke data inflasi Amerika Serikat, terutama Consumer Price Index atau CPI. Data tersebut menjadi penting setelah laporan tenaga kerja AS memberikan sinyal yang relatif kuat. Menurut Dupoin Futures, pelaku pasar akan mencermati apakah tekanan harga di Amerika Serikat masih cukup tinggi untuk memengaruhi keputusan The Fed pada pertemuan September. Jika CPI menunjukkan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, pasar berpotensi meningkatkan kembali ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga yang lebih ketat. Skenario tersebut dapat memberikan dukungan bagi dolar AS dan yield Treasury sekaligus meningkatkan tekanan terhadap XAUUSD. Kondisi ini akan memperkuat risiko harga emas untuk menguji area 4.365–4.331 seperti yang diproyeksikan Dupoin Futures. Sebaliknya, apabila data CPI menunjukkan perlambatan inflasi, peluang pelonggaran kebijakan The Fed dapat kembali menjadi perhatian. Ekspektasi tersebut berpotensi menekan dolar AS dan yield Treasury sehingga memberikan dukungan bagi harga emas. Dalam kondisi demikian, XAUUSD dapat memperoleh momentum untuk kembali naik dan menguji resistance 4.440. Faktor geopolitik juga masih menjadi elemen penting dalam pergerakan emas. Ketegangan AS-Iran dan kondisi di sekitar Strait of Hormuz berpotensi meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Ketidakpastian geopolitik biasanya mendorong investor mencari aset yang dinilai lebih defensif. Namun, Dupoin Futures menilai pengaruh geopolitik terhadap emas perlu dilihat bersamaan dengan dampaknya terhadap harga minyak dan inflasi. Kenaikan minyak akibat ketegangan geopolitik dapat meningkatkan risiko inflasi, yang kemudian berpotensi membuat The Fed lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan. Dengan demikian, sentimen geopolitik tidak selalu memberikan dampak satu arah terhadap harga emas. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat pergerakan XAUUSD berpotensi berlangsung volatil. Dari sisi teknikal, Dupoin Futures masih melihat peluang pelemahan setelah harga gagal menembus resistance 4.440 dan membentuk pola ABC Correction. Sementara dari sisi fundamental, arah dolar AS, yield Treasury, ekspektasi suku bunga, data CPI, serta perkembangan konflik AS-Iran akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga emas. Berdasarkan analisis Geraldo Kofit dari Dupoin Futures, area 4.365–4.331 menjadi target support yang perlu diperhatikan jika tekanan jual berlanjut. Selama XAUUSD belum mampu menembus kembali level 4.440, skenario koreksi masih menjadi perhatian utama Dupoin Futures untuk perdagangan hari ini. Pelaku pasar perlu mencermati respons harga ketika mendekati area support tersebut. Jika 4.365–4.331 mampu bertahan, peluang rebound dapat kembali terbuka. Namun, apabila support tersebut ditembus, tekanan bearish berpotensi semakin kuat. Dengan demikian, menurut Dupoin Futures, pergerakan emas hari ini akan sangat bergantung pada keseimbangan antara tekanan dari ekspektasi suku bunga dan permintaan safe haven akibat risiko geopolitik.
Harga Emas Gagal Tembus 4.464, Akankah Jatuh ke 4.396?
Jakarta, katakabar.com - Harga emas atau XAUUSD diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pekan pertama September 2026. Soalnya menurut analisis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, pergerakan emas pada time frame H4 belum menunjukkan kekuatan yang cukup untuk melanjutkan penguatan. Harga belum berhasil ditutup di atas resistance 4.464 dan justru membentuk swing high baru. Kondisi tersebut, ujarnya, menjadi indikasi bahwa tekanan jual masih cukup kuat, sehingga Dupoin Futures memperkirakan XAUUSD berpotensi bergerak turun menuju area support 4.415 hingga 4.396. Secara teknikal, kata Geraldo, Dupoin Futures melihat level resistance 4.464 sebagai salah satu area penting dalam pergerakan harga emas saat ini. Upaya buyer untuk membawa harga melewati level tersebut belum menghasilkan breakout yang meyakinkan. Kegagalan tersebut menunjukkan seller masih mampu menahan kenaikan XAUUSD. "Selama harga belum mampu menembus dan bertahan di atas resistance tersebut, Dupoin Futures menilai peluang koreksi masih terbuka pada perdagangan," ucapnya. Pembentukan swing high baru turut menjadi perhatian dalam analisis Dupoin Futures. Kondisi tersebut menunjukkan pergerakan harga belum memberikan konfirmasi kuat mengenai perubahan tren menuju bullish. Ketika harga gagal melanjutkan kenaikan setelah membentuk swing high, tekanan jual berpotensi kembali muncul. Dalam skenario tersebut, Dupoin Futures melihat XAUUSD berpeluang bergerak menuju support terdekat di 4.415. Apabila tekanan jual semakin kuat, Dupoin Futures memproyeksikan pelemahan dapat berlanjut menuju level 4.396. Area tersebut menjadi support berikutnya yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar. Respons harga ketika mencapai kisaran 4.415–4.396 akan menjadi penting untuk menentukan apakah XAUUSD berpotensi mengalami rebound atau justru melanjutkan penurunan ke level yang lebih rendah. Masih Dupoin Futures, support 4.415 dan 4.396 dapat menjadi area yang menentukan arah pergerakan emas selanjutnya. Jika buyer kembali masuk dan mampu mempertahankan harga di atas support, terdapat peluang terjadinya pemulihan dalam jangka pendek. Namun, apabila tekanan bearish berhasil membawa harga menembus support tersebut, Dupoin Futures menilai risiko pelemahan lanjutan akan semakin terbuka. Di luar faktor teknikal, Dupoin Futures melihat harga emas masih sensitif terhadap perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Pasar terus mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) setelah komentar hawkish Kevin Warsh dalam agenda Jackson Hole sebelumnya. Pernyataan tersebut membuat investor kembali memperhitungkan kemungkinan perubahan suku bunga pada September, sehingga pergerakan dolar AS dan Treasury Yield menjadi perhatian utama. Kenaikan US Treasury Yield berpotensi memberikan tekanan terhadap emas. Dupoin Futures menjelaskan bahwa ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat, aset tersebut menjadi relatif lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil. Kondisi tersebut dapat meningkatkan opportunity cost dalam memegang emas dan mendorong sebagian investor mengurangi eksposurnya terhadap logam mulia. Pergerakan dolar AS juga menjadi faktor yang diperhatikan Dupoin Futures. Ekspektasi suku bunga The Fed yang lebih tinggi dapat memberikan dukungan terhadap dolar AS. Jika dolar kembali menguat, harga emas berpotensi menghadapi tekanan karena emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Situasi tersebut dapat memperkuat tekanan bearish yang terlihat pada grafik teknikal XAUUSD. Tetapi, Dupoin Futures menilai terdapat faktor lain yang berpotensi membatasi pelemahan emas, yaitu meningkatnya risiko geopolitik. Eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi perhatian pasar dan berpotensi meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven. Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik, investor biasanya meningkatkan perhatian terhadap emas sebagai salah satu instrumen lindung nilai. Kondisi geopolitik tersebut membuat arah harga emas tidak hanya ditentukan oleh faktor suku bunga dan yield. Dupoin Futures melihat apabila ketegangan AS-Iran semakin meningkat, permintaan safe haven dapat memberikan dukungan terhadap XAUUSD. Sentimen tersebut berpotensi menahan laju penurunan meskipun secara teknikal harga masih berada dalam tekanan. Di sisi lain, Dupoin Futures menilai pelaku pasar perlu memperhatikan perkembangan data ekonomi Amerika Serikat berikutnya. Data ekonomi dapat memengaruhi kembali ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Data yang menunjukkan ekonomi AS tetap kuat berpotensi memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dan memberikan tekanan terhadap emas. Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat mengurangi tekanan terhadap XAUUSD melalui perubahan ekspektasi kebijakan moneter. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Dupoin Futures masih melihat prospek harga emas hari ini cenderung bearish dalam jangka pendek. Kegagalan XAUUSD menembus resistance 4.464 menjadi salah satu sinyal utama yang mendukung skenario tersebut. Selama harga masih bergerak di bawah resistance tersebut, Dupoin Futures memproyeksikan peluang pelemahan menuju support 4.415 hingga 4.396 masih terbuka. Pelaku pasar perlu mencermati perkembangan harga ketika memasuki area support tersebut. Jika support mampu bertahan, Dupoin Futures melihat peluang rebound masih dapat terjadi. Apabila XAUUSD menembus area 4.396, tekanan jual berpotensi semakin kuat. Pada saat yang sama, perkembangan Treasury Yield, dolar AS, kebijakan The Fed, serta eskalasi AS-Iran dapat meningkatkan volatilitas harga emas. Dengan demikian, Dupoin Futures memproyeksikan XAUUSD berpotensi melemah menuju 4.415–4.396 pada perdagangan hari ini. Resistance 4.464 menjadi level penting yang perlu diperhatikan untuk melihat potensi perubahan momentum. Selama resistance tersebut belum berhasil ditembus secara meyakinkan, Dupoin Futures masih menempatkan skenario koreksi sebagai proyeksi utama, dengan perkembangan kebijakan The Fed dan sentimen safe haven menjadi faktor fundamental yang dapat memengaruhi pergerakan harga emas sepanjang perdagangan.
Berawal dari Jadi Ojol, Rayyan Kenal Kripto hingga Tembus Coinfest Asia 2026
Bali, katakabar.com - Siang-siang Rayyan biasanya dihabiskan di atas sepeda motor. Pemuda berusia 23 tahun yang lahir di Bali itu berpindah dari satu titik ke titik lain, mengikuti pesanan yang muncul di layar ponselnya sebagai pengemudi ojek daring. Tetapi, satu perjalanan membawanya lebih jauh dari sekadar alamat tujuan. Semua bermula ketika salah seorang karyawan FLOQ menggunakan jasa Rayyan. Seperti banyak percakapan singkat antara pengemudi dan penumpang, obrolan awalnya berlangsung sederhana. Hingga pembicaraan mengarah pada pekerjaan, investasi, dan aset kripto. Dari percakapan itu, karyawan FLOQ mengetahui Rayyan ternyata sedang memulai perjalanan investasinya. Kripto bukan sesuatu yang sepenuhnya asing baginya. Ia sudah lebih dulu mengenalnya melalui berbagai konten edukasi di internet, salah satunya dari Akademi Crypto, platform pembelajaran yang membahas aset kripto dan ekosistemnya. Rasa ingin tahu itu kemudian mendorongRayyan membuka akun di FLOQ. Ia tidak langsung menjadi trader yang setiap hari memandangi pergerakan grafik harga. Justru sebaliknya. Rayyan mengaku masih belum berani melakukan trading aktif. Ia memilih berjalan perlahan. Alih-alih mengejar pergerakan harga jangka pendek, Rayyan menggunakan pendekatan dollarcost averaging (DCA), yakni membeli aset kripto tertentu secara bertahap dalam periode tertentu. Di sela aktivitasnya sebagai pengemudi ojol, ia juga terus mengikuti konten edukasi untuk memahami dunia yang baru dimasukinya itu. Bagi Rayyan, langkah pertamanya di kripto bukan dimulai dari keberanian mengambil risiko besar, melainkan dari belajar. Undangan Membuka Pintu Lebih Lebar Pertemuan sederhana antara pengemudidan penumpang tersebut kemudian berkembang menjadi pengalaman yang tidakdiduga Rayyan. Sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat belajarnya, FLOQ mengundang Rayyan menghadiri Coinfest Asia 2026. Festival kripto tersebut berlangsung pada 20 hingga 21 Agustus 2026 lalu di Melasti Beach, Bali, dan mempertemukan pelaku industri, komunitas, pengembang, hingga trader dariberbagai negara. Bagi seseorang yang sebelumnya mengenal kripto terutama melalui layar ponsel, kesempatan itu menawarkan pengalaman berbeda. Di Coinfest Asia, Rayyan dapat melihat dunia kripto bukanhanya tentang harga Bitcoin yang naik dan turun. Di baliknya terdapat komunitas, perusahaan teknologi, pengembang blockchain, pelaku industrikeuangan, regulator, hingga orang-orang yang sedang membangun berbagai layanan berbasis aset digital. Perjalanan itu seakan mempertemukan dua dunia. Di satu sisi adalah keseharian Rayyan di jalanan Bali, menerima pesanan demi pesanan melalui aplikasi. Di sisi lain adalah sebuah industri digital yang berkembang cepat dan semakin banyak diakses masyarakat melaluiperangkat yang sama: ponsel di genggaman. Cerita Rayyan menjadi potret kecil dari perubahan yang sedang berlangsung di Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah akun konsumen pedagang aset keuangan digital telah mencapai 22,69 juta pada Juni 2026. Pada bulan yang sama, nilai transaksi aset kripto tercatat Rp28,58 triliun, meningkat 24,20 persen dibanding bulan sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa aset kripto semakin dekat dengan masyarakat. tetapi, semakin mudahnya akses juga membawa pekerjaan rumah lain: literasi. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 yang dilakukan OJK bersama Badan Pusat Statistik mencatat indeks inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 80,51 persen. Sementara indeks literasi keuanganberada pada 66,46 persen. Jarak antara akses dan pemahaman itu menjadi penting. Memiliki aplikasi keuangan di ponsel belum tentu berarti seseorang telah memahami produk yang digunakan, termasuk risiko di dalamnya. Di sinilah perjalanan Rayyan menjadi relevan. Ia tidak memulai dengan transaksi besar atau keputusan yang rumit. Ia memulai dengan menonton, membaca, bertanya, kemudian mencoba memahami sebelum mengambil langkah berikutnya. Kripto Tidak Mengenal Profesi CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis, melihat cerita semacam Rayyan sebagai gambaran bagaimana teknologi finansial dapat menjangkau masyarakat dengan latar belakang yang semakin beragam. “Bagi kami, cerita Rayyan menunjukkan akses terhadap aset digital tidak seharusnya dibatasi oleh profesi atau latar belakang. Yang paling penting adalah bagaimana seseorang memulainya dengan pengetahuan, memahami risikonya, lalu mengambil keputusan sesuai dengan kemampuan masing-masing,” ujar Yudho. Menurut Yudho, perkembangan industri aset digital juga perlu dibarengi dengan semakin luasnya akses terhadap pendidikan finansial. “Teknologi bisa membuka akses, tetapi edukasi yang membuat akses tersebut menjadi lebih bermakna. Kami ingin semakin banyak orang merasa bahwa mereka boleh belajar, boleh bertanya, dan tidak perlu menjadi ahli keuangan terlebih dahulu untuk mulai memahami aset digital,” ucapnya. Pandangan tersebut sejalan dengan misi FLOQ yang menyebut ingin membuat perjalanan menuju investasi aset digital menjadi lebih sederhana dan inklusif. Perusahaan itu sendiri telah mencatat sekitar 1,8 juta pengguna setelah satu tahun beroperasi. Di tengah pertumbuhan tersebut, cerita Rayyan menunjukkan wajah lain dari adopsi kripto Indonesia. Bukan tentang layar perdagangan dengan deretan angka. Bukan pula tentang siapa yang memiliki modal paling besar. Melainkan tentang bagaimana pengetahuan yang sebelumnya terasa jauh kini dapat ditemukan lewat sebuah video, aplikasi, percakapan dengan orang asing, bahkan perjalanan singkat mengantar seorang penumpang. Bagi Rayyan, perjalanan itu masih berada di awal. Ia masih bekerja sebagai pengemudi ojol. Masih menjalani rutinitasnya di jalanan Bali. Masih mempelajari kripto sedikit demi sedikit dan memilih pendekatan investasi yang menurutnya lebih nyaman dibanding trading aktif. Tetapi, kini ada satu hal yang berbeda. Ponsel yang sehari-hari membantunya menemukan penumpang dan mencari penghasilan juga telah menjadi pintu masuk menuju pengetahuan finansial yang lebih luas. Sebuah perjalanan yang bermula dari jalanan Bali, lalu membawanya ke tengah pertemuan industri kripto dunia di pulau tempat ia dilahirkan.
Bitcoin Tembus US$74.000, Sinyal Menuju US$80.000 Makin Kuat!
Jakarta, katakabar.com - Bitcoin (BTC) kembali membuat pasar kripto bergairah. Aset kripto terbesar dunia itu melonjak sekitar 7,9 persen Jumat (21/8), hingga diperdagangkan di kisaran US$74.409 atau sekitar Rp1,31 miliar, setelah sebelumnya bergerak dari sekitar US$63.000 menuju area US$75.000 dalam waktu kurang dari dua hari. Lonjakan ini membawa kembali level US$80.000 ke radar investor. Namun, berbeda dengan reli yang hanya ditopang euforia jangka pendek, pergerakan Bitcoin kali ini didorong kombinasi beberapa katalis besar: membaiknya likuiditas global, kembalinya dana institusional melalui ETF Bitcoin spot, serta gelombang likuidasi posisi short. Salah satu pemicu terbesarnya datang dari Amerika Serikat (AS). Pada 19 Agustus 2026, Departemen Keuangan AS mengumumkan akan meningkatkan setidaknya dua kali lipat ukuran operasi pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah berjangka panjang. Batas pembelian yang sebelumnya maksimal US$2 miliar per operasi dinaikkan menjadi setidaknya US$4 miliar, efektif mulai 9 September hingga 4 November 2026. Kebijakan tersebut menyasar obligasi dengan tenor 10 hingga 30 tahun dan ditujukan untuk memberikan dukungan likuiditas di pasar obligasi jangka panjang. Pengumuman itu sempat menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan melemahkan dolar AS, kondisi yang secara umum memberikan ruang lebih besar bagi aset seperti Bitcoin dan emas untuk menguat. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai reli Bitcoin kali ini menjadi menarik karena tidak hanya berasal dari satu faktor. “Kita melihat tiga mesin bekerja hampir bersamaan. Likuiditas makro mendapat sentimen positif, investor institusional kembali mengakumulasi Bitcoin melalui ETF spot, lalu posisi short yang terlalu besar dipaksa keluar dari pasar. Kombinasi seperti ini membuat kenaikan harga menjadi sangat cepat,” ujar Yudho. Dana Institusi Kembali Masuk Sinyal kuat lainnya datang dari pasar ETF Bitcoin spot di AS yang mencatat arus dana bersih sebesar US$517,19 juta pada 19 Agustus, menjadi inflow harian terbesar sejak 4 Mei 2026. BlackRock IBIT memimpin dengan sekitar US$284,7 juta, disusul ARK 21Shares ARKB sebesar US$77,7 juta dan Fidelity FBTC sekitar US$62,4 juta. Masuknya lebih dari setengah miliar dollar AS dalam satu hari memberi indikasi bahwa kenaikan Bitcoin tidak sepenuhnya berasal dari spekulasi investor ritel. Menurut Yudho, aliran ETF menjadi salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan dalam beberapa hari ke depan. “Kalau ingin menilai apakah reli ini punya napas lebih panjang, jangan hanya melihat candle hijau atau persentase kenaikan harian. Perhatikan apakah inflow ETF tetap berlanjut. Konsistensi permintaan spot jauh lebih penting untuk menjaga tren dibandingkan reli yang hanya berasal dari leverage,” ucap Yudho. Short Seller “Terbakar”, Reli Makin Kencang Setelah Bitcoin menembus sejumlah level resistance, kenaikan harga kemudian diperbesar oleh fenomena short squeeze. Lebih dari US$3,1 miliar posisi short kripto dilikuidasi ketika harga bergerak cepat ke atas. Investor yang sebelumnya bertaruh harga akan turun terpaksa menutup posisi, yang pada akhirnya menambah tekanan beli di pasar. Besarnya pergerakan tersebut juga menjadi perhatian perusahaan analitik blockchain Glassnode. Pergerakan penutupan harian Bitcoin tercatat sekitar 5,8 standar deviasi di atas volatilitas 30 harinya, menjadi pergerakan naik sebesar itu yang terbesar sejak Oktober 2023. Artinya, reli yang terjadi kali ini tergolong tidak biasa, bahkan untuk ukuran Bitcoin yang dikenal sebagai aset dengan volatilitas tinggi. Bitcoin Menuju US$80.000? Secara teknikal, Bitcoin kini telah meninggalkan zona resistance penting US$69.000-US$70.000 dan bergerak di atas level psikologis US$72.000. Selama harga mampu mempertahankan area tersebut sebagai support, peluang Bitcoin melanjutkan penguatan menuju US$76.000-US$80.000 tetap terbuka. Level US$80.000 juga mulai kembali masuk ke dalam proyeksi sejumlah pengamat pasar. Yudho perkirakan Bitcoin berpotensi memasuki akhir tahun 2026 di sekitar US$80.000 sebelum memasuki fase penguatan yang lebih besar pada tahun berikutnya. Namun, Yudho mengingatkan bahwa US$80.000 sebaiknya dibaca sebagai skenario, bukan kepastian. “US$80.000 sekarang semakin dekat secara teknikal, tetapi pasar tidak bergerak dalam garis lurus. Setelah kenaikan hampir vertikal, konsolidasi atau koreksi sehat sangat mungkin terjadi. Selama Bitcoin mampu menjaga area sekitar US$72.000 dan permintaan spot tetap kuat, skenario menuju US$76.000 hingga US$80.000 masih terbuka,” jelasnya. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan momentum di atas US$72.000 dapat membuka ruang koreksi kembali ke area US$70.000 hingga sekitar US$68.000. September Bisa Jadi Penentu Selain faktor harga, investor juga mulai memperhatikan perkembangan regulasi di Amerika Serikat. Salah satu katalis yang menjadi perhatian adalah perkembangan CLARITY Act, regulasi yang bertujuan memberikan struktur lebih jelas mengenai pembagian pengawasan pasar aset digital di AS. Laporan pasar menyebut pemungutan suara di Senat dijadwalkan pada 15 September 2026. Bila dikombinasikan dengan arus masuk ETF yang berkelanjutan dan kondisi likuiditas yang mendukung, perkembangan regulasi positif dapat memberikan katalis lanjutan bagi pasar kripto. Tetapi, CEO FLOQ ini menilai investor tetap perlu menjaga ekspektasi. “Momentum Bitcoin sedang sangat kuat, tetapi justru ketika pasar bergerak cepat, disiplin menjadi semakin penting. Jangan mengejar harga hanya karena takut tertinggal. Perhatikan fundamental, likuiditas, regulasi, dan sesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko masing-masing,” imbuh Yudho. Dengan Bitcoin kembali mendekati area US$75.000, pasar kini menghadapi pertanyaan berikutnya: apakah reli ini hanya ledakan akibat short squeeze, atau awal perjalanan Bitcoin menuju US$80.000 dan level yang lebih tinggi? Jawabannya kemungkinan akan ditentukan oleh satu hal yang tidak bisa dihasilkan dari likuidasi semata: apakah pembeli riil dan dana institusional tetap bertahan setelah euforia mereda.
Transaksi Kripto di Indonesia Selalu Tembus Rp45 Triliun Pada Agustus Dua Tahun Terakhir, Apa Penyebabnya?
"Dalam dua tahun terakhir, transaksi kripto di Indonesia pada bulan Agustus konsisten menembus Rp45 triliun, menjadikannya salah satu periode perdagangan paling aktif". Jakarta, katakabar.com - Bulan Agustus menjadi salah satu periode dengan aktivitas perdagangan aset kripto yang relatif tinggi di Indonesia. Kurun dua periode Agustus terakhir yang telah memiliki data lengkap, nilai transaksi kripto nasional konsisten berada di atasRp45 triliun. Data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) menunjukkan nilai transaksi aset kripto pada Agustus 2024 mencapai Rp48,92 triliun. Sementara itu, berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi pada Agustus 2025 tercatatsekitar Rp45,21 triliun. Secara gabungan, transaksi pada kedua periode Agustus tersebut mencapai lebih dari Rp94,13 triliun. Penggunaan dua sumber regulator tersebut mengikuti peralihan tugas pengaturan dan pengawasan aset kripto dari Bappebti kepada OJK yang berlaku sejak Januari 2025. Lihat, Agustus 2024, nilai transaksi kripto meningkat 15,54 persen dibandingkan Juli 2024 yang sebesar Rp42,34 triliun. Namun, pada Agustus 2025, transaksi turun dari Rp52,46 triliun pada Juli menjadi Rp45,21 triliun. Kondisi ini memperlihatkan bahwa aktivitas pasar pada bulan Agustus tetap besar, tetapi arah pergerakannya dapat berbeda setiap tahun karena dipengaruhi sentimen global, kondisi makroekonomi, likuiditas, dan perilaku investor. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan data tersebut mencerminkan minat masyarakat terhadap aset kripto yang tetap kuat, meskipun nilai transaksi dan harga aset digital dapat bergerak secara fluktuatif. “Nilai transaksi yang tetap berada di atas Rp45 triliun dalam dua periode Agustus menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat Indonesia di pasar kripto masih cukup aktif. Namun, tingginya aktivitas tidak selalu berarti harga akan terus naik. Investor perlu memahami faktoryang menggerakkan pasar dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan momentum atau asumsi musiman,” ujar Yudho. Peluang Kenaikan Tetap Ada Dari sisi pergerakan harga, performa Bitcoin pada Agustus juga menunjukkan pola yang beragam. Bitcoin tercatat melemah sekitar 8,75 persen pada Agustus 2024 dan kembali turun sekitar 6,48 persen pada Agustus 2025. Data historis CoinGlass yang dihimpun hingga 2025 menunjukkan Bitcoin hanya mencatat kenaikan dalam empat dari 12 periode Agustus sejak 2013. Meskipun rata-rata return Agustus masih positif sekitar 1,75 persen, nilai mediannya berada di kisaran minus 8,04 persen. Perbedaan tersebut terjadi karena rata-rata terdorong oleh kenaikan besar pada tahun tertentu, termasuk lonjakan lebih dari 65 persen pada Agustus 2017. Menurut Yudho, data historis tetap dapat digunakan sebagai referensi, tetapi tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar dalam memperkirakan pergerakan pasar. “Peluang kenaikan tentu tetap terbuka, terutama ketika didukung likuiditas, sentimen makroekonomi, perkembangan regulasi, dan masuknya permintaan baru. Namun, data historis juga mengingatkan bahwa Agustus mungkin menjadi bulan yang bullish. Strategi yang disiplin, manajemen risiko, serta kemampuan membedakan antara investasi dan spekulasi tetap menjadi hal utama,” jelasnya. Investor juga perlu menyesuaikan nilai transaksi dengan kemampuan finansial, menghindari penggunaan dana kebutuhan sehari-hari, dan melakukan riset mandiri sebelum memilih aset kripto. Sambut HUT RI, FLOQ Hadirkan Program Edukasi dan Aktivasi Pengguna Sejalan dengan momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, FLOQ menghadirkan rangkaian kampanye bertema kemerdekaan yang berlangsung pada 1–20 Agustus 2026. Salah satu programnya adalah Referral Trading Competition, yang menghitung gabungan volume transaksi peserta dan pengguna yang terhubung melalui kode referral. Program tersebut menyediakan total hadiah senilai Rp17 juta bagi peserta dengan volume transaksitertinggi. Selain itu, FLOQ menghadirkan program Tebak-Tebakan Kemerdekaan berupa pertanyaan benar atau salah yang dapat dijawab setiap hari. Setelah menjawab, pengguna dapat melihat jawaban yang benar beserta informasi atau fun fact yang tersedia. Sebanyak 70 pengguna terpilih berkesempatan mendapatkan total hadiah Rp7 juta dalam bentuk USDT. Yudho mengatakan rangkaian kampanye tersebut dirancang untuk menggabungkan aktivitas pengguna dengan pengalaman belajar yang lebih ringan dan relevan dengan momentum kemerdekaan. “Bagi kami, semangat kemerdekaan dalam dunia finansial tidak hanya berarti memiliki kebebasan untuk bertransaksi, tetapi juga memiliki pengetahuan untuk mengambil keputusan secara mandiri dan bertanggung jawab. Karena itu, kampanye ini tidak hanyamenghadirkan aktivitas trading, tetapi juga unsur edukasi yang dapat membantu pengguna mengenal pasar kripto dengan cara yang lebih interaktif,” kata Yudho. Melalui rangkaian program tersebut, FLOQ berharap momentum HUT RI dapat mendorong masyarakat untuk semakin aktif meningkatkan literasi, memahami peluang dan risiko aset digital, serta membangun kebiasaan bertransaksi yang lebih terukur. Disclaimer: Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian akibat volatilitas harga pasar. Seluruh informasi yang tersedia hanya bersifat umum dan bukan merupakan ajakan, penawaran, saran, maupun rekomendasi investasi.
RI Teken 7 MoU di INNOPROM 2026 Demi Tembus Pasar Eurasia
Jakarta, katakabar.com - Pemerintah Republik Indonesia terus mendorong perluasan jaringan pasar industri domestik ke kancah global. Langkah strategis ini terlihat nyata melalui partisipasi aktif Indonesia sebagai negara mitra (Partner Country) dalam pameran industri internasional INNOPROM 2026 yang berlangsung di Yekaterinburg, Rusia. "Indonesia membawa agenda industri yang tegas, yaitu mempercepat hilirisasi mulai dari mineral kritis dan manufaktur maju, hingga energi, ketahanan pangan, dan kawasan industri," ujar Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam sambutannya pada acara Business Forum: Russia–Indonesia Industrial Dialogue di Yekaterinburg, Rusia, di penghujung pekan pertama Juli 2026 lalu. Agus juga menambahkan Indonesia sangat optimistis untuk memperdalam kemitraan teknologi dengan Rusia, serta mengintegrasikan manufaktur bernilai tambah tinggi ke dalam pasar Eurasia. Sektor manufaktur atau Industri Pengolahan (IP) terbukti masih menjadi penopang utama atau tulang punggung perekonomian nasional. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sektor IP pada Triwulan I Tahun 2026 mencatatkan pertumbuhan yang positif sebesar 5,04 persen. Angka pertumbuhan ini lebih tinggi jika kita bandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang menyentuh angka 4,55 persen. Selain itu, sektor IP memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, yaitu mencapai 19,07 persen atau setara dengan Rp1.179,62 triliun. Kinerja memukau ini juga terlihat dari realisasi investasi pada Triwulan I Tahun 2026, di mana sektor IP menyumbang hingga 36,49 persen atau senilai Rp182,04 triliun. Tidak hanya dari sisi modal, sektor ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat masif, yakni sebanyak 20,04 juta orang per Februari 2026. Sementara pada sektor perdagangan internasional, kontribusi ekspor IP pada periode Januari–Februari 2026 mendominasi hingga 83,61 persen dengan nilai penjualan mencapai Rp622,68 triliun. Hubungan ekonomi antara Indonesia dan Rusia sendiri memperlihatkan perkembangan yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Nilai total perdagangan bilateral kedua negara tumbuh sebesar 5,4 persen hingga mencapai USD 4,8 miliar pada tahun 2025. Nilai ekspor produk Indonesia ke Rusia pun melonjak tajam sebesar 7,5 persen dengan total nilai sekitar USD 1,8 miliar pada tahun 2025. Indonesia secara rutin mengekspor komoditas unggulan seperti karet, kopi, coklat, teh, alas kaki, komponen elektronik, serta produk kimia. Sebaliknya, Indonesia mengimpor komoditas penting dari Rusia seperti pupuk, besi, baja, sereal, kimia organik, hingga pesawat terbang. Lebih lanjut, pelaksanaan forum bisnis ini mengangkat tiga topik kunci, antara lain Joint industrial projects, Investment opportunities for industrial companies in Russia and Indonesia, dan Tools and mechanisms to support exporters. “Saya yakin forum hari ini akan membawa kedua negara, khususnya sektor industri dapat berkolaborasi secara konkret melalui inisiasi proyek-proyek kerja sama yang saling menguntungkan dan berkelanjutan” tambah Menperin. Guna memperkokoh jalinan kerja sama strategis ini, kedua negara sepakat menandatangani tujuh dokumen perjanjian atau Memorandum of Understanding (MoU) baru di bidang industri. Dokumen tersebut meliputi kerja sama antara Kementerian Perindustrian dengan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia, serta lima dokumen kerjasama teknis dan komersial yang melibatkan pelaku usaha seperti Ikatan Perusahaan Industri Galangan Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO), PT PCM Kabel Indonesia, PT Athira Maritim Indonesia, Perkumpulan Industri Komponen Kapal Indonesia (PIKKI) bersama United Industrial Corporation AK Bars dan MoU antara PT Minang Jordanindo dengan CHETRA LLC, serta nota kesepahaman antara Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia dengan the Association of Clusters dan Technology Parks, and SEZs of the Russian Federation (ACTPRF). Kerja sama baru ini melengkapi dua MoU terdahulu yang sudah berjalan sejak Desember 2025 di bidang galangan kapal dan studi krisotil asbestos. Peran Indonesia sebagai Partner Country diharapkan dapat menjadi landasan kuat untuk membangun kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan, baik bagi Indonesia dan Rusia maupun pada skala global, ditengah tantangan geoekonomi dan geopolitik.
Kolaborasi Muhammadiyah dan Kementerian UMKM Cetak Potensi Transaksi Rp2,2 Miliar
Yogyakarta, katakabar.com - Langkah nyata mendorong pengusaha usaha mikro naik kelas terus digelorakan. Lembaga Pengembangan UMKM (LP UMKM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM Republik Indonesia menggelar Business Matching Program Penguatan Rantai Pasok (Supply Chain) UMKM, Selasa (30/6), di Kampus Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang dihadiri antara lain PP Aisyiyah, Majelis Pengembangan Masyarakat PP Muhammadiyah, Majelis Ekonomi dan Bisnis PP Muhammadiyah. Point pentingnya sukses mempertemukan produk-produk lokal terbaik dengan raksasa ritel dan agregator nasional, serta diproyeksikan mampu mencetak potensi nilai transaksi hingga Rp2,2 miliar. Kegiatan ini merupakan puncak dari program pendampingan intensif yang diinisiasi sejak 15 Juni 2026. Dari total 60 UMKM binaan LP UMKM Muhammadiyah asal wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta yang mendaftar, sebanyak 48 UMKM berhasil lolos kurasi menuju tahap pitching, dan 25 UMKM terpilih melaju ke tahap negosiasi langsung, one-on-one business matching dengan para buyer utama. Tidak tanggung-tanggung, para pelaku UMKM langsung berhadapan dengan agregator pasar dan korporasi jaringan nasional, antara lain Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Krisna Oleh-Oleh Bali, PT Food Station Tjipinang Jaya, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart), dan PT Indomarco Primatama (Indomaret). Kementerian UMKM diwakili Asdep Kemitraan dan Rantai Pasok Usaha Mikro - Deputi Bidang Usaha Mikro, Pristiyanto, menyampaikan agenda ini implementasi nyata dari komitmen Pemerintah dalam mengorkestrasi ekosistem kemitraan usaha mikro agar masuk ke dalam rantai pasok industri nasional. "Penguatan rantai pasok adalah kunci agar UMKM kita tidak berjalan sendiri-sendiri. Lewat sinergi bersama LP UMKM Muhammadiyah, kita membangun agregasi produk yang berkualitas, konsisten, dan berkelanjutan. Korporasi mendapatkan kepastian pasokan bahan baku lokal bermutu, sementara UMKM mendapatkan kepastian pasar (offtaker). Ini adalah model ideal dari gotong royong ekonomi nasional," ungkapnya. Melalui skema kemitraan ini, potensi transaksi sebesar Rp2,2 miliar tersebut ditargetkan dapat segera terealisasi secara bertahap. Dalam jangka panjang, program kolaboratif ini tidak hanya diproyeksikan untuk memperluas skala usaha dan kapasitas produksi pelaku mikro, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru serta memperkokoh ketahanan ekonomi nasional berbasis umat dan kerakyatan," ujarnya. Di sisi lain, Ketua LP UMKM Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pengembang dan Pelatihan, Bambang Sutrisno, menegaskan Business Matching ini menjadi jembatan konkret (concrete bridge) untuk memecah tantangan akses pasar yang sering dihadapi pelaku usaha mikro. "Keberhasilan pembinaan UMKM tidak boleh berhenti pada seremonial pelatihan, melainkan harus bermuara pada akses pasar yang berkelanjutan. Potensi transaksi sebesar Rp2,2 miliar ini membuktikan produk UMKM binaan Muhammadiyah memiliki daya saing tinggi. Kami akan mengawal proses lanjutan dari Letter of Intent (LoI) hingga terwujudnya sales contract sehingga terciptanya kemitraan jangka panjang yang inklusif," jelasnya.