Terbuka

Sorotan terbaru dari Tag # Terbuka

Bitcoin Sentuh Level Tertinggi Lima Pekan, FLOQ Lihat Momentum Positif Masih Terbuka Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 30 Juli 2026 | 11:07 WIB

Bitcoin Sentuh Level Tertinggi Lima Pekan, FLOQ Lihat Momentum Positif Masih Terbuka

Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin bergerak fluktuatif setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam lima minggu di kisaran US$66.400–US$66.500 pada 21 Juli 2026. Tetapi, penguatan tersebut tertahan setelah BTC terkoreksi ke area US$65.600–US$65.700 pada 22 Juli 2026.  Koreksi terjadi seiring lonjakan harga minyak dunia, dengan WTI menembus US$85 per barel dan Brent mendekati US$90 per barel. Kondisi ini kembali memicu kekhawatiran pasar terhadaptekanan inflasi global dan arah kebijakan suku bunga The Fed.  CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai koreksi Bitcoin tidak sertamerta menghapus peluang penguatan, tetapi pasar membutuhkan konfirmasi yang lebih kuat dari faktor makro dan arus dana institusional.  “Koreksi setelah Bitcoin menyentuh level tertinggi lima minggu adalah hal yang wajar, terutama ketika pasar menghadapi tekanan dari harga minyak dan geopolitik. Peluang penguatan tetap terbuka, tetapi pasar membutuhkan dukungan yang lebih solid, baik dari stabilisasi makro, meredanya risiko energi, maupun keberlanjutan inflow institusional,” kata Yudho.  Menurut Yudho, harga minyak kini menjadi salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar dalam membaca arah Bitcoin jangka pendek. Selama tekanan energi dan eskalasigeopolitik masih berlangsung, volatilitas pasar kripto berpotensi tetap tinggi.  “Kondisi saat ini, harga minyak menjadi variabel yang sangat penting untuk diperhatikan. Jika kenaikan harga energi berlanjut dan kembali mendorong kekhawatiran inflasi, ekspektasiterhadap arah suku bunga The Fed juga bisa berubah. Dampaknya dapat langsung terasa pada aset berisiko seperti Bitcoin,” jelasnya.  Menurut data riset Market Outlook FLOQ, level US$66.500 menjadi resistance jangka pendek Bitcoin setelah dua kali gagal ditembus sepanjang bulan ini. Sementara itu, area US$64.000 menjadisupport penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar.  Harga Minyak dan Geopolitik Jadi Fokus  Data FLOQ mencatat eskalasi konflik AS-Iran menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak. Selama tekanan geopolitik dan risiko pasokan energi belum mereda, hargaminyak diperkirakan tetap menjadi variabel penting yang memengaruhi pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek.  “Dalam kondisi saat ini, harga minyak menjadi indikator penting untuk membaca arah Bitcoin. Jika tekanan energi berlanjut dan kembali mendorong kekhawatiran inflasi, pasar aset berisiko, termasuk kripto, berpotensi tetap bergerak volatil,” jelas Yudho.  Selain itu, pelaku pasar juga mencermati pertemuan FOMC pada 28 hingga 29 Juli 2026. Meskipun pasar masih memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga, peluang kenaikan suku bunga pada horizon September meningkat seiring lonjakan harga minyak.  ETF dan Regulasi Beri Sinyal Positif  Di tengah tekanan makro, arus dana ETF Bitcoin spot memberikan sinyal yang lebih konstruktif. ETF Bitcoin mencatat inflow selama lima hari berturut-turut hingga 21 Juli 2026, menjadi rangkaianinflow pertama sejak April. ETF Ethereum juga mencatat inflow bersih pada pekan 13–17 Juli setelah sebelumnya mengalami outflow selama delapan minggu berturut-turut.  Meski demikian, Yudho menilai pemulihan tersebut masih perlu dibaca secara hati-hati karena outflow year-to-date masih berada di sekitar US$5,2 miliar. Dengan demikian, inflow pekan ini lebihtepat dilihat sebagai pemulihan parsial, bukan pembalikan tren besar secara penuh.  “Masuknya kembali dana ke ETF Bitcoin dan Ethereum menjadi sinyal positif bagi pasar. Namun, investor tetap perlu membedakan antara pemulihan jangka pendek dan perubahan tren besar, terutama karena risiko makro masih cukup dominan,” terang Yudho.  Dari sisi regulasi, perkembangan CLARITY Act di Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar. Data FLOQ mencatat peluang floor vote meningkat setelah hambatan terkait bahasa etika selesai, tetapi peluang RUU tersebut benar-benar disahkan masih perlu dikawal secara realistis.  “Regulasi yang lebih jelas akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan industri kripto ke depan. Namun, kemajuan prosedural belum otomatis berarti regulasi akan langsung disahkan ataulangsung berdampak besar terhadap harga aset,” sebut Yudho.  Volatilitas Masih Berpotensi Tinggi  Yudho menilai pasar kripto masih berpotensi bergerak volatil dalam jangka pendek. Arah Bitcoin pekan ini akan banyak dipengaruhi oleh kombinasi faktor global, mulai dari pergerakan harga minyak, perkembangan geopolitik, ekspektasi suku bunga The Fed, hingga keberlanjutan inflow ETF Bitcoin spot.  Dari pasar domestik, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 5,75% pada RDG 21–22 Juli 2026. Rupiah juga menguat tipis ke kisaran Rp17.909–Rp17.917 per dolar AS pada 22 Juli 2026, sementara IHSG melanjutkan penguatan ke level 6.374.  Meski kondisi domestik menunjukkan perbaikan, Yudho menilai investor tetap perlu mencermati tekanan eksternal yang dapat mempengaruhi pasar aset berisiko, termasuk kripto. Dalam kondisipasar yang masih dinamis, investor perlu memahami bahwa pergerakan harga tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen pasar, tetapi juga faktor makroekonomi, kebijakan moneter, arus dana institusional, dan risiko geopolitik.  “Peluang pasar kripto tetap terbuka, terutama jika inflow ETF berlanjut dan tekanan geopolitik mulai mereda. Namun, dalam kondisi yang masih penuh ketidakpastian, disiplin manajemen risikomenjadi sangat penting. Investor sebaiknya tidak hanya melihat potensi kenaikan harga, tetapi juga memahami faktor-faktor yang dapat memicu volatilitas,” kata Yudho lagi.  Edukasi Jadi Kunci bagi Investor  Menghadapi pasar kripto yang masih fluktuatif, Yudho mengimbau investor untuk tetap disiplin, melakukan riset mandiri, dan menghindari keputusan investasi yang hanya didasarkan pada sentimenjangka pendek. Strategi investasi juga perlu disesuaikan dengan profil risiko, tujuan keuangan, serta pemahaman masing-masing investor terhadap aset yang dipilih.  “Dalam pasar kripto, volatilitas adalah hal yang perlu dipahami, bukan dihindari tanpa strategi. Investor perlu melihat pergerakan harga secara lebih rasional, tidak terbawa euforia jangka pendek, dan tetap menyesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko masing-masing. Untuk investor jangka panjang, strategi seperti dollar cost averaging (DCA) masih dapat menjadi pendekatan yang relevan, selama dilakukan secara konsisten dan disertai pemahaman risiko yang memadai,” jelas Yudho.  Sebagai bagian dari komitmen untuk meningkatkan literasi aset digital, FLOQ menyediakan FLOQ Academy yang dapat diakses secara gratis oleh masyarakat. Melalui platform edukasi ini, pengguna dapat mempelajari dasar-dasar kripto, memahami dinamika pasar, serta membangun kebiasaan riset sebelum mengambil keputusan investasi.  Disclaimer: Informasi dalam siaran pers ini disusun berdasarkan data publik yang tersedia hingga 24 Juli 2026. Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian akibat volatilitasharga pasar. Seluruh informasi yang disampaikan dalam siaran pers ini bersifat umum dan hanya ditujukan untuk keperluan informasi. Informasi ini bukan merupakan ajakan, penawaran, saran, maupun rekomendasi untuk membeli, menjual, atau melakukan investasi pada aset kripto tertentu.  FLOQ mengimbau masyarakat untuk selalu melakukan riset secara mandiri (Do Your Own Research/DYOR) dan mempertimbangkan setiap keputusan investasi secara matang sesuai dengan profilrisiko, tujuan investasi, serta kemampuan finansial masing-masing. Masyarakat juga diharapkan tidak menggunakan dana yang berada di luar batas kemampuan dalam melakukan transaksi aset kripto.

Marwah DPRD Riau Tercoreng Rapat Ricuh, PW IWO Dorong Penyelidikan Terbuka Politik
Politik
Kamis, 16 Juli 2026 | 19:46 WIB

Marwah DPRD Riau Tercoreng Rapat Ricuh, PW IWO Dorong Penyelidikan Terbuka

Pekanbaru,.katakabar.com - Kericuhan yang terjadi di Gedung DPRD Provinsi Riau saat rapat Badan Anggaran (Banggar) bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), Kamis (16/7/) tuai sorotan. Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Wartawan Online (PW-IWO) Provinsi Riau, Muridi Susandi, meminta insiden tersebut diusut secara terbuka. Muridi menyayangkan terjadinya keributan di lingkungan lembaga legislatif yang seharusnya menjadi contoh dalam menjaga etika, komunikasi politik, dan penyelesaian perbedaan secara demokratis. "Ini sangat disayangkan. Gedung DPRD adalah rumah rakyat, tempat para wakil rakyat menyampaikan aspirasi dan mengambil keputusan untuk kepentingan masyarakat. Bukan tempat mempertontonkan tindakan yang mencederai nilai-nilai demokrasi," tegas Muridi. Ia meminta Badan Kehormatan (BK) DPRD Provinsi Riau segera memanggil pihak-pihak terkait untuk melakukan pemeriksaan internal guna mengetahui akar persoalan yang menyebabkan kericuhan tersebut. Selain itu, Muridi juga mendesak Polda Riau melakukan penyelidikan apabila ditemukan adanya dugaan pelanggaran hukum dalam peristiwa tersebut. "Kami meminta BK DPRD Riau dan Polda Riau tidak tinggal diam. Peristiwa ini harus diusut secara profesional, transparan, dan objektif. Masyarakat berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumah rakyat," jelasnya. Kericuhan terjadi saat rapat Banggar DPRD Provinsi Riau bersama TAPD Pemerintah Provinsi Riau berlangsung di Ruang Medium DPRD Riau, Pekanbaru. Video yang merekam kejadian tersebut beredar luas di sejumlah grup WhatsApp. Dalam rekaman itu terlihat sejumlah orang terlibat ketegangan hingga terjadi aksi saling dorong dan dugaan adu fisik. Informasi awal menyebutkan keributan diduga bermula dari perselisihan antara Wakil Ketua DPRD Provinsi Riau, Pariaman Ihwan, dengan Ketua Komisi V DPRD Provinsi Riau, Indra Gunawan Eet. Ketegangan disebut kembali memanas setelah rapat berakhir sekitar pukul 14.30 WIB. Sejumlah pihak kemudian terlibat keributan di area Gedung DPRD Riau. Di insiden tersebut, seorang pria dilaporkan terjatuh dan tidak sadarkan diri setelah diduga terkena pukulan. Belum ada informasi resmi mengenai identitas maupun kondisi terkini pria tersebut. Keributan akhirnya berhasil dihentikan setelah sejumlah anggota DPRD yang berada di lokasi bersama petugas pengamanan berupaya melerai pihak-pihak yang terlibat. Hingga kini, DPRD Provinsi Riau maupun pihak terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai penyebab pasti insiden tersebut. PW IWO Riau menilai kejadian ini menjadi evaluasi penting bagi seluruh pihak agar menjaga kehormatan lembaga publik dan mengedepankan penyelesaian persoalan melalui mekanisme sesuai aturan.

Harga Emas Masih Dibayangi Tekanan Jual, Peluang Pelemahan Japen Tetap Terbuka Internasional
Internasional
Minggu, 07 Juni 2026 | 12:10 WIB

Harga Emas Masih Dibayangi Tekanan Jual, Peluang Pelemahan Japen Tetap Terbuka

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas dunia masih menunjukkan kecenderungan melemah pada perdagangan Jumat (5/6). Meskipun sempat mengalami kenaikan dalam beberapa sesi sebelumnya, tren utama yang terbentuk di pasar masih mengarah ke bawah.  Analisis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menunjukkan XAU/USD pada timeframe H4 masih berada dalam tekanan bearish, sehingga peluang penurunan lanjutan masih perlu diantisipasi oleh pelaku pasar. Dari sisi teknikal, harga emas saat ini belum mampu keluar dari tekanan yang muncul setelah fase koreksi naik atau secondary trend berakhir. Kondisi tersebut terlihat dari pergerakan harga yang kembali tertahan di area Moving Average (MA) 21 dan MA 50. Kedua indikator tersebut masih berfungsi sebagai resistance dinamis yang membatasi ruang kenaikan harga. Ketidakmampuan emas menembus area resistance tersebut menjadi sinyal bahwa kekuatan pembeli masih belum cukup besar untuk mengubah arah tren yang sedang berlangsung. Sebaliknya, tekanan dari pihak penjual masih terlihat dominan dan membuat harga kembali bergerak turun setelah sempat mencoba menguat. Menurut analisis Dupoin Futures, kondisi ini diperkuat oleh terbentuknya swing high baru pada grafik H4. Dalam analisis teknikal, terbentuknya swing high setelah fase kenaikan biasanya menjadi tanda bahwa pasar masih berada dalam tren turun. Artinya, setiap kenaikan yang terjadi sejauh ini masih lebih banyak dimanfaatkan sebagai momentum jual dibandingkan awal terbentuknya tren naik baru. Tekanan bearish tersebut terlihat semakin jelas pada sesi perdagangan pagi ketika harga bergerak turun dengan cukup cepat. Pergerakan ini menunjukkan bahwa minat jual masih mendominasi pasar dan belum ada sinyal kuat yang mengindikasikan perubahan tren dalam waktu dekat. Sementara, indikator stochastic juga masih memberikan sinyal yang sejalan dengan pergerakan harga. Indikator ini bergerak turun menuju area oversold atau jenuh jual. Walaupun area oversold sering dianggap sebagai wilayah yang berpotensi memicu rebound, kondisi saat ini menunjukkan bahwa momentum penurunan masih cukup kuat dan belum memberikan konfirmasi pembalikan arah yang signifikan. Selama harga tetap bergerak di bawah area resistance yang dibentuk oleh MA 21 dan MA 50, skenario pelemahan masih menjadi fokus utama pasar. Oleh karena itu, pelaku pasar cenderung akan tetap berhati-hati dan menunggu sinyal teknikal yang lebih kuat sebelum mempertimbangkan peluang pembalikan tren. Selain faktor teknikal, sentimen fundamental juga masih memberikan tekanan terhadap harga emas. Investor global saat ini masih mencermati berbagai perkembangan ekonomi yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter dan pergerakan pasar keuangan secara keseluruhan. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah ketidakpastian terkait prospek pertumbuhan ekonomi global. Meskipun sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perbaikan, pasar masih menilai terdapat berbagai risiko yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi ini membuat investor cenderung bersikap selektif dalam mengambil keputusan investasi. Di sisi lain, ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga juga masih menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan harga emas. Pasar masih memperkirakan  bank sentral akan mempertahankan kebijakan moneter yang relatif ketat untuk menjaga stabilitas inflasi. Harapan tersebut membuat instrumen berbasis imbal hasil tetap menarik di mata investor. Dalam kondisi suku bunga yang tinggi, emas sering kali menghadapi tantangan karena tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen pendapatan tetap lainnya. Akibatnya, sebagian investor memilih mengalihkan dana ke aset yang menawarkan potensi return lebih tinggi, sehingga permintaan terhadap emas menjadi lebih terbatas. Pelaku pasar juga menaruh perhatian besar terhadap berbagai data ekonomi yang akan dirilis dalam waktu dekat. Data terkait inflasi, tenaga kerja, hingga pertumbuhan ekonomi akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan bank sentral selanjutnya. Jika data-data tersebut menunjukkan kondisi ekonomi yang masih kuat, maka peluang suku bunga bertahan di level tinggi akan semakin besar dan dapat memberikan tekanan tambahan bagi harga emas. Secara keseluruhan, kombinasi antara sinyal teknikal yang masih negatif dan sentimen fundamental yang belum sepenuhnya mendukung membuat prospek emas dalam jangka pendek masih cenderung bearish. Dominasi tekanan jual, posisi harga yang masih berada di bawah MA 21 dan MA 50, serta belum munculnya sinyal pembalikan arah yang kuat menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan investor. Dengan kondisi tersebut, pergerakan harga emas masih berisiko melanjutkan pelemahan dalam beberapa sesi mendatang. Pelaku pasar disarankan untuk tetap memantau perkembangan ekonomi global, arah kebijakan bank sentral, serta dinamika pasar keuangan yang dapat memengaruhi sentimen terhadap logam mulia. Selama belum ada katalis baru yang cukup kuat untuk mengubah arah pergerakan, tekanan bearish diperkirakan masih akan menjadi tema utama dalam perdagangan emas.

Emas Masih Tertekan, Peluang Turun ke Area 4.306 Terbuka Internasional
Internasional
Jumat, 05 Juni 2026 | 14:04 WIB

Emas Masih Tertekan, Peluang Turun ke Area 4.306 Terbuka

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas dunia masih menghadapi tekanan pada perdagangan awal Juni 2026. Sejumlah faktor teknikal dan fundamental menunjukkan tren penurunan belum sepenuhnya berakhir, sehingga pelaku pasar masih perlu mewaspadai potensi koreksi lanjutan dalam jangka pendek. Menurut analisis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, pasangan XAU/USD pada timeframe daily masih bergerak dalam tren bearish yang cukup kuat. Secara teknikal, ujarnya, harga emas belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan. Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah posisi harga yang masih berada di bawah Moving Average (MA) 21 dan MA 50. Sedang analisis pasar, ulasnya, kedua indikator tersebut sering digunakan untuk mengidentifikasi arah tren utama. Ketika harga bergerak di bawah area tersebut, kondisi itu umumnya mengindikasikan tekanan jual masih mendominasi dan pasar belum memiliki momentum yang cukup kuat untuk berbalik arah. Geraldo Kofit menjelaskan kegagalan harga emas untuk kembali menembus area MA 21 dan MA 50 menunjukkan bahwa sentimen bearish masih cukup dominan. Meskipun sempat terjadi pergerakan naik dalam beberapa sesi sebelumnya, penguatan tersebut belum mampu mengubah struktur tren yang masih cenderung turun. "Dengan kondisi tersebut, peluang pelemahan harga masih terbuka dalam waktu dekat. Area support terdekat yang menjadi perhatian berada di level 4.365. Jika tekanan jual terus berlanjut dan level tersebut berhasil ditembus, maka harga emas berpotensi bergerak menuju area support berikutnya di kisaran 4.306," imbuhnya. Level-level tersebut menjadi area penting yang akan dipantau pelaku pasar karena berpotensi menjadi titik reaksi harga. Selama belum ada sinyal teknikal yang menunjukkan pembalikan tren secara jelas, skenario penurunan masih dianggap lebih dominan dibandingkan potensi kenaikan. Selain faktor teknikal, kondisi fundamental global juga masih memberikan tekanan terhadap pergerakan emas. Salah satu faktor utama yang memengaruhi harga saat ini adalah penguatan dolar Amerika Serikat yang masih relatif stabil. Dalam kondisi normal, pergerakan emas dan dolar AS cenderung memiliki hubungan yang berlawanan arah. Ketika dolar menguat, harga emas biasanya mengalami tekanan karena menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar. Kondisi tersebut membuat sebagian investor memilih untuk meningkatkan eksposur pada aset berbasis dolar AS dibandingkan emas. Apalagi saat ini instrumen keuangan berbasis dolar masih menawarkan tingkat imbal hasil yang cukup menarik. Faktor lain yang turut menekan harga emas adalah tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury Yield. Ketika yield obligasi berada di level tinggi, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen tersebut karena dinilai mampu memberikan keuntungan yang lebih pasti. Sebaliknya, emas yang tidak menghasilkan bunga atau imbal hasil tetap menjadi kurang menarik dalam kondisi tersebut. Tekanan terhadap emas juga datang dari ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve. Hingga saat ini, pelaku pasar masih memperkirakan bank sentral Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga pada level yang relatif tinggi selama data ekonomi belum menunjukkan pelemahan yang signifikan. Data ekonomi Amerika Serikat yang masih cukup solid, terutama dari sektor tenaga kerja dan inflasi, menjadi alasan mengapa pasar belum sepenuhnya yakin terhadap peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Situasi ini terus memberikan dukungan terhadap dolar AS dan secara tidak langsung membatasi ruang kenaikan harga emas. Di sisi lain, permintaan terhadap aset safe haven juga belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sentimen pasar global yang relatif stabil membuat investor lebih berani menempatkan dana pada aset berisiko seperti saham dan instrumen investasi lainnya. Akibatnya, minat terhadap emas sebagai aset pelindung nilai cenderung berkurang. Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan perkembangan ekonomi global yang dapat mengubah arah sentimen sewaktu-waktu. Ketidakpastian geopolitik, perubahan kebijakan bank sentral, maupun data ekonomi yang berada di luar ekspektasi dapat memicu pergerakan harga emas yang lebih volatil. Secara keseluruhan, prospek harga emas dalam jangka pendek masih cenderung bearish. Selama harga belum mampu kembali bergerak di atas area MA 21 dan MA 50, tekanan jual diperkirakan masih akan mendominasi pasar. Dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang ada saat ini, peluang penurunan menuju area support 4.365 hingga 4.306 masih terbuka dan menjadi level yang patut diperhatikan oleh para investor maupun trader emas.

Emas Bangkit dari Tekanan, Target 4.588 Kian Terbuka Internasional
Internasional
Rabu, 06 Mei 2026 | 20:16 WIB

Emas Bangkit dari Tekanan, Target 4.588 Kian Terbuka

Jakarta, katakabar.com - Harga emas dunia pada perdagangan diprediksi mulai menunjukkan peluang penguatan setelah sebelumnya mengalami tekanan cukup dalam, Selasa (5/5) kemarin.  Menurut analisis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, melihat adanya sinyal bahwa penurunan harga mulai mereda dan berpotensi diikuti oleh pergerakan naik dalam jangka pendek. Dari sisi teknikal, kata Kofit, pergerakan XAU/USD pada timeframe H4 memperlihatkan bahwa harga berhasil bertahan di area support kuat di level 4.510. "Level ini menjadi titik penting yang mampu menahan tekanan jual, sehingga mencegah harga turun lebih dalam. Ketika harga mampu bertahan di area support yang solid, kondisi ini biasanya menjadi tanda awal bahwa tren penurunan mulai kehilangan kekuatan," ujarnya. Situasi tersebut, ulas Kofit, membuka peluang bagi harga emas untuk bergerak naik, meskipun dalam bentuk koreksi sementara atau yang dikenal sebagai secondary trend. "Kenaikan ini merupakan bagian wajar dari dinamika pasar setelah sebelumnya terjadi penurunan yang cukup signifikan," kupasnya. Pada proyeksi jangka pendek, imbuh Kofit, harga emas diperkirakan akan bergerak menuju area resistance terdekat di kisaran 4.560 hingga 4.588. Level ini menjadi target awal yang akan diuji oleh pasar. Tetapi, area tersebut juga berdekatan dengan indikator Moving Average 21 dan 34 yang berfungsi sebagai resistance dinamis. Artinya, meskipun harga berpotensi naik, pergerakan tersebut kemungkinan akan menghadapi hambatan di area tersebut. Selain itu, lanjutnya, indikator stochastic saat ini menunjukkan kondisi jenuh jual atau oversold. Dalam analisis teknikal, kondisi ini sering diartikan sebagai sinyal bahwa tekanan jual sudah terlalu kuat dan pasar berpotensi mengalami rebound. Dengan kata lain, peluang terjadinya kenaikan harga dalam jangka pendek semakin terbuka. "Pelaku pasar tetap perlu berhati-hati. Kenaikan yang terjadi dalam fase koreksi biasanya tidak berlangsung terlalu lama dan masih berpotensi kembali tertekan apabila tidak didukung oleh momentum yang kuat," tegasnya. Dari sisi fundamental, sebut Kofit, potensi kenaikan harga emas juga didukung oleh pelemahan sementara dolar Amerika Serikat. Setelah sebelumnya menguat, dolar mulai menunjukkan tanda-tanda melemah, yang memberikan ruang bagi emas untuk bergerak naik. Hal ini terjadi karena emas menjadi lebih terjangkau bagi investor global ketika dolar melemah. Terus, ucapnya, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang cenderung stabil atau menurun turut memberikan sentimen positif. Ketika yield tidak meningkat, biaya peluang dalam memegang emas menjadi lebih rendah, sehingga meningkatkan minat investor terhadap logam mulia tersebut. "Ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve yang mulai lebih berhati-hati juga menjadi faktor pendukung. Pelaku pasar mulai melihat kemungkinan bahwa tidak akan ada kenaikan suku bunga tambahan dalam waktu dekat. Kondisi ini membuat emas menjadi lebih menarik sebagai aset investasi, mengingat sifatnya yang tidak memberikan imbal hasil tetap," terangnya. Di sisi lain, tutur Kofit, posisi harga yang saat ini berada di area support kuat juga mendorong aksi beli dari pelaku pasar. Banyak investor memanfaatkan kondisi harga yang relatif rendah untuk melakukan pembelian, yang dikenal sebagai strategi bargain hunting. Aktivitas ini turut membantu mendorong harga emas untuk naik dalam jangka pendek. Secara keseluruhan, tambahnya, kombinasi antara sinyal teknikal dan faktor fundamental memberikan gambaran bahwa harga emas memiliki peluang untuk mengalami rebound dalam waktu dekat. Selama harga mampu bertahan di atas area support penting, potensi kenaikan menuju kisaran 4.560 hingga 4.588 masih terbuka. "Pelaku pasar tetap disarankan untuk mencermati perkembangan kondisi global yang dapat memengaruhi pergerakan harga. Dengan pasar yang masih fluktuatif, pendekatan yang disiplin dan berbasis analisis menjadi hal penting dalam mengambil keputusan investasi," tandasnya.

Harga Emas Tertekan, Risiko Turun ke 4.480 Masih Terbuka Internasional
Internasional
Rabu, 29 April 2026 | 16:10 WIB

Harga Emas Tertekan, Risiko Turun ke 4.480 Masih Terbuka

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas dunia pada perdagangan Selasa (28/4) kemarin diprediksi masih berada dalam tekanan, seiring belum adanya sinyal kuat yang menunjukkan kelanjutan tren kenaikan.  Dupoin Futures melalui analisnya, Geraldo Kofit, menilai kondisi pasar saat ini justru mengarah pada potensi pelemahan lanjutan, terutama setelah harga gagal menembus sejumlah level penting di area resistance. Dari sisi teknikal, katanya, harga emas pada timeframe harian terlihat kesulitan untuk melanjutkan kenaikan setelah tertahan di level 4.741 dan kembali gagal menembus resistance kuat di kisaran 4.832. Kegagalan ini menjadi indikasi bahwa dorongan beli mulai melemah dan pasar kehilangan momentum untuk bergerak lebih tinggi. "Di kondisi seperti ini, pergerakan harga cenderung beralih ke fase koreksi. Fase ini merupakan bagian normal dari siklus pasar, di mana harga mengalami penurunan sementara setelah sebelumnya mencatat kenaikan yang cukup signifikan. Koreksi tersebut dikenal sebagai secondary trend, yang biasanya terjadi sebelum pasar menentukan arah berikutnya," jelasnya. Dengan tekanan yang masih dominan, harga emas diperkirakan berpotensi turun menuju area support di sekitar 4.592. Level ini menjadi titik awal yang akan diuji oleh pasar dalam waktu dekat. Jika tekanan jual masih berlanjut dan level tersebut tidak mampu menahan penurunan, maka harga berpeluang bergerak lebih dalam hingga ke kisaran 4.480. Tetapu, kupasnya, area support tersebut tetap menjadi level krusial. Jika harga mampu bertahan, tidak menutup kemungkinan terjadi pergerakan konsolidasi atau bahkan pantulan sementara sebelum arah selanjutnya terbentuk. Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati respons harga di area tersebut. "Dari sisi fundamental, tekanan terhadap emas masih dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika Serikat. Dalam kondisi dolar yang kuat, harga emas cenderung melemah karena menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Hal ini berdampak pada menurunnya permintaan global terhadap emas," terangnya. Selain itu, lanjutnya, kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan oleh Federal Reserve juga menjadi faktor utama yang menekan harga emas. Tingginya suku bunga membuat instrumen investasi berbasis imbal hasil seperti obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga. "Kondisi ini diperkuat oleh imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih berada di level tinggi. Ketika yield meningkat, investor cenderung memindahkan dana mereka ke aset yang memberikan keuntungan tetap, sehingga minat terhadap emas berkurang," ucapnya. Di sisi lain, imbuhnya, situasi pasar global yang relatif stabil juga ikut menekan harga emas. Dalam kondisi pasar yang cenderung positif atau risk-on, investor biasanya lebih memilih aset berisiko dengan potensi imbal hasil lebih tinggi, sehingga permintaan terhadap aset safe haven seperti emas menjadi berkurang. Secara keseluruhan, kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut membuat prospek harga emas dalam jangka pendek masih cenderung negatif. Selama harga belum mampu kembali menembus area resistance penting, tekanan penurunan diperkirakan masih akan mendominasi pergerakan. Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan perkembangan global yang dapat memengaruhi arah harga. Perubahan sentimen yang terjadi secara tiba-tiba, baik dari data ekonomi maupun faktor geopolitik, dapat memicu pergerakan yang cukup signifikan. Dengan kondisi pasar yang masih dinamis, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan fokus pada level-level penting sebagai acuan. Pendekatan yang disiplin dan berbasis analisis dinilai menjadi kunci untuk menghadapi volatilitas harga emas saat ini.

Harga Emas Mulai Pulih, Peluang Naik ke 4.767 Terbuka Internasional
Internasional
Rabu, 29 April 2026 | 07:01 WIB

Harga Emas Mulai Pulih, Peluang Naik ke 4.767 Terbuka

Jakarta, katakabar.com - Harga emas dunia di perdagangan, Senin (27/4) kemarin diperkirakan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah sempat tertekan pada awal sesi.  Dupoin Futures melalui analisnya, Geraldo Kofit, menilai pergerakan harga emas saat ini mulai mengarah pada potensi kenaikan, meskipun sebelumnya sempat mengalami penurunan yang cukup tajam. Di awal perdagangan pagi, ujarnya, harga emas dibuka dengan kondisi gap down yang memicu penurunan secara cepat. Tekanan jual sempat mendominasi pasar, sehingga harga bergerak turun menuju area support terdekat. Penurunan ini mencerminkan respons pasar terhadap sentimen jangka pendek yang mendorong aksi jual. "Setelah mencapai area support tersebut, tekanan jual mulai berkurang. Harga tidak melanjutkan penurunan lebih dalam, melainkan mulai bergerak stabil. Kondisi ini menjadi indikasi awal bahwa pasar mulai menemukan titik keseimbangan setelah pergerakan turun yang cukup agresif," ucapnya. Secara teknikal, lanjutnya, harga kemudian membentuk swing low di area support tersebut. Ini salah satu sinyal penting yang menunjukkan bahwa level tersebut cukup kuat untuk menahan penurunan. Dengan terbentuknya titik ini, peluang bagi harga untuk bergerak naik kembali mulai terbuka. Selain itu, kupasnya, indikator teknikal juga menunjukkan adanya bullish divergence. Kondisi ini terjadi ketika harga masih bergerak turun, tetapi indikator justru mulai mengarah naik. Sinyal ini biasanya menjadi tanda bahwa tekanan jual mulai melemah dan potensi pembalikan arah mulai muncul. Melihat kombinasi sinyal tersebut, Dupoin Futures memperkirakan harga emas memiliki peluang untuk naik dalam jangka pendek. Target kenaikan terdekat berada di level 4.733, yang menjadi area resistance pertama yang akan diuji oleh pasar. Jika harga mampu melewati level tersebut, maka peluang kenaikan lanjutan menuju level 4.767 semakin terbuka. Tetapi, kenaikan ini masih perlu dikonfirmasi oleh kekuatan pasar. Pergerakan setelah penurunan tajam biasanya tidak langsung berbalik secara kuat, sehingga masih ada kemungkinan harga bergerak naik secara bertahap. Dari sisi fundamental, potensi penguatan emas juga didukung oleh kondisi dolar AS yang mulai melemah. Ketika dolar mengalami tekanan, harga emas biasanya mendapatkan dorongan karena menjadi lebih terjangkau bagi investor global. Tidak hanya itu, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menjadi faktor yang mendukung. Ketika yield turun, minat investor terhadap emas meningkat karena perbedaan imbal hasil dengan instrumen lain menjadi lebih kecil. Permintaan terhadap aset safe haven juga turut memberikan dukungan. Dalam kondisi pasar yang belum stabil, investor cenderung mencari instrumen yang lebih aman, seperti emas. Hal ini bisa membantu harga emas untuk kembali menguat setelah sebelumnya mengalami penurunan. Untuk itu, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan risiko yang ada. Kebijakan suku bunga dari Federal Reserve yang masih berada di level tinggi dapat menjadi faktor yang membatasi kenaikan emas. Jika dolar kembali menguat atau yield obligasi naik, tekanan terhadap emas bisa kembali muncul. Secara keseluruhan, Dupoin Futures melihat bahwa harga emas saat ini mulai menunjukkan peluang rebound setelah penurunan di awal sesi. Selama harga mampu bertahan di atas area support, potensi kenaikan menuju level 4.733 hingga 4.767 masih terbuka. Dalam kondisi pasar yang masih dinamis, pelaku pasar disarankan untuk tetap berhati-hati dan mencermati pergerakan harga serta perkembangan sentimen global sebelum mengambil keputusan.

Harga Emas Terseret Sentimen Global Tapi Koreksi Masih Terbuka Internasional
Internasional
Sabtu, 25 April 2026 | 14:41 WIB

Harga Emas Terseret Sentimen Global Tapi Koreksi Masih Terbuka

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas global diprediksi masih berada dalam tekanan, seiring kuatnya kombinasi sentimen teknikal dan fundamental yang belum berpihak pada penguatan logam mulia. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengungkapkan pasangan XAU/USD saat ini menunjukkan kecenderungan melanjutkan tren penurunan, setelah gagal mempertahankan momentum kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Dari sisi teknikal, kondisi pasar mengindikasikan bahwa emas tengah berada dalam fase bearish yang cukup solid. Hal ini tercermin dari posisi harga yang masih bergerak di bawah indikator Moving Average periode 21 dan 34. Kedua indikator tersebut kini berfungsi sebagai resistance dinamis yang menahan setiap upaya kenaikan harga. Selama harga belum mampu menembus area tersebut secara meyakinkan, peluang untuk terjadinya pembalikan tren masih tergolong kecil. Pergerakan harga sebelumnya sempat menunjukkan adanya koreksi naik, namun momentum tersebut tidak bertahan lama. Setelah itu, harga kembali membentuk pola lower high dan lower low yang mengonfirmasi keberlanjutan tren turun. Dengan struktur pasar seperti ini, tekanan jual dinilai masih mendominasi, sehingga membuka peluang bagi emas untuk melanjutkan pelemahan dalam jangka pendek. Dalam proyeksi teknikal, harga emas diperkirakan akan menguji area support terdekat di level 4.669. Level ini menjadi titik penting yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar karena dapat menjadi penentu arah selanjutnya. Jika tekanan jual terus berlanjut dan harga mampu menembus level tersebut, maka potensi penurunan lanjutan terbuka hingga mencapai area 4.607 sebagai target berikutnya. Area ini dipandang sebagai support lanjutan yang berpotensi menjadi titik konsolidasi sementara sebelum harga menentukan arah baru. Meski tren bearish masih dominan, peluang terjadinya koreksi teknikal tetap ada. Pergerakan harga dalam tren turun umumnya tidak berlangsung secara linear, melainkan diselingi oleh fase pullback. Namun demikian, selama tidak ada sinyal pembalikan yang kuat seperti breakout signifikan di atas resistance dinamis maka koreksi yang terjadi cenderung bersifat sementara dan berpotensi dimanfaatkan sebagai peluang jual oleh pelaku pasar. Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas masih dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat yang terus menunjukkan dominasi. Menguatnya dolar membuat harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan global cenderung melemah. Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju kenaikan emas dalam beberapa waktu terakhir. Selain itu, kebijakan moneter dari Federal Reserve yang masih mempertahankan suku bunga pada level tinggi turut memperburuk sentimen terhadap emas. Suku bunga yang tinggi meningkatkan daya tarik instrumen investasi berbasis imbal hasil, seperti obligasi pemerintah. Akibatnya, investor cenderung mengalihkan dana dari emas ke aset yang menawarkan return lebih kompetitif. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga memperbesar opportunity cost dalam memegang emas. Dalam kondisi ini, investor akan lebih memilih instrumen yang memberikan pendapatan tetap dibandingkan menyimpan aset yang tidak menghasilkan bunga. Hal ini semakin memperkuat tekanan terhadap harga emas di pasar global. Di sisi lain, kondisi pasar keuangan yang cenderung stabil atau berada dalam mode risk-on turut mengurangi minat terhadap emas sebagai aset safe haven. Ketika investor merasa lebih percaya diri terhadap prospek ekonomi dan pasar saham, permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas biasanya menurun. Faktor ini menjadi tambahan tekanan yang membuat harga emas sulit untuk bangkit dalam jangka pendek. Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, Dupoin Futures memperkirakan harga emas hari ini masih berpotensi melanjutkan tren penurunan dengan target utama di level 4.669 dan kemungkinan pelemahan lanjutan menuju 4.607.

Harga Emas Berpotensi Koreksi, Peluang Rebound Terbuka Internasional
Internasional
Rabu, 22 April 2026 | 18:04 WIB

Harga Emas Berpotensi Koreksi, Peluang Rebound Terbuka

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas dunia pada perdagangan Selasa (21/4) kemarin diperkirakan masih berada dalam fase konsolidasi, di tengah pasar yang belum menemukan sentimen kuat untuk mendorong harga bergerak lebih agresif. Dupoin Futures melalui analisnya, Geraldo Kofit, menilai kondisi ini menunjukkan pelaku pasar masih cenderung berhati-hati sambil menunggu kepastian arah dari faktor teknikal maupun fundamental. Secara umum, harga emas saat ini belum menunjukkan sinyal penembusan yang jelas, baik ke atas maupun ke bawah. Situasi ini mencerminkan pasar masih bergerak dalam rentang terbatas, di mana investor belum memiliki keyakinan yang cukup untuk mendorong harga keluar dari area konsolidasi. Menurut analisis Dupoin Futures, harga emas sebelumnya sempat menutup gap yang terbentuk saat pembukaan pasar. Penutupan gap tersebut sempat menjadi sinyal positif, namun belum cukup kuat untuk mendorong kelanjutan kenaikan dalam waktu dekat. Setelah fase itu, harga justru dinilai berpotensi mengalami koreksi terbatas terlebih dahulu. Area support di level 4.737 saat ini menjadi titik penting yang menjadi perhatian pasar. Level ini dinilai berpotensi menjadi area penahan apabila tekanan jual muncul dalam jangka pendek. Respons harga di area ini akan menjadi salah satu penentu apakah emas akan melanjutkan koreksi atau kembali mendapatkan momentum penguatan. Potensi koreksi jangka pendek ini juga diperkuat oleh indikator stochastic yang menunjukkan pelemahan momentum. Indikator tersebut belum menunjukkan dorongan kuat ke area jenuh beli, sehingga ruang pergerakan turun masih terbuka sebelum harga kembali mencari arah baru. Tetapi, tekanan jangka pendek ini belum serta-merta mengubah prospek emas menjadi negatif. Dupoin Futures menilai area support saat ini justru bisa menjadi titik krusial untuk melihat peluang rebound, terutama jika muncul konfirmasi teknikal yang mendukung pembalikan arah. Jika harga mampu bertahan di area support dan membentuk sinyal rebound, maka peluang kenaikan menuju resistance di level 4.890 masih terbuka. Bahkan, jika momentum beli kembali menguat dan resistance tersebut berhasil ditembus, harga emas berpotensi melanjutkan penguatan menuju level 5.004. Dari sisi fundamental, pergerakan emas yang cenderung terbatas saat ini juga dipengaruhi sikap wait and see investor terhadap arah kebijakan Federal Reserve. Pasar masih menunggu kejelasan mengenai prospek suku bunga, yang menjadi salah satu faktor utama penentu arah aset safe haven seperti emas. Pada jangka pendek, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS masih menjadi faktor yang berpotensi memberi tekanan pada harga emas. Kondisi ini biasanya membuat sebagian investor beralih sementara ke instrumen berbasis imbal hasil. Tetapi, untuk jangka menengah, prospek emas dinilai masih cukup positif. Ekspektasi Federal Reserve akan cenderung lebih dovish ke depan masih menjadi sentimen yang menopang harga logam mulia ini. Terus, ketidakpastian global juga tetap menjadi faktor yang menjaga permintaan terhadap emas. Risiko perlambatan ekonomi, tensi geopolitik, serta volatilitas pasar keuangan masih membuat emas dipandang sebagai instrumen lindung nilai yang relevan. Faktor pendukung lainnya datang dari pembelian emas oleh bank sentral global yang masih berlanjut. Aktivitas ini dinilai turut menjaga prospek bullish emas dalam jangka menengah hingga panjang. Secara keseluruhan, Dupoin Futures melihat harga emas saat ini masih bergerak dalam fase konsolidasi, dengan peluang koreksi jangka pendek menuju support 4.737 sebelum kembali mencari arah penguatan. Selama level tersebut mampu bertahan, peluang rebound menuju 4.890 hingga 5.004 dinilai masih terbuka. Pelaku pasar disarankan tetap mencermati perkembangan sentimen global dan pergerakan harga di level-level kunci, mengingat volatilitas masih berpotensi tinggi dan dapat memengaruhi arah emas dalam jangka pendek.

Harga Emas Masih Menguat, Target 5.005 Kian Terbuka Internasional
Internasional
Sabtu, 18 April 2026 | 09:06 WIB

Harga Emas Masih Menguat, Target 5.005 Kian Terbuka

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas dunia pada perdagangan hari Kamis (16/4) diperkirakan masih berada dalam tren penguatan, seiring dukungan sinyal teknikal yang tetap solid dan faktor fundamental global yang cenderung kondusif. Dupoin Futures melalui analisnya, Geraldo Kofit, menilai XAU/USD pada timeframe harian masih menunjukkan kecenderungan bullish yang cukup kuat, dengan peluang kenaikan yang tetap terbuka dalam jangka pendek hingga menengah. Secara teknikal, harga emas saat ini masih mampu bertahan di atas indikator Moving Average 21 dan 34, yang berfungsi sebagai area penopang pergerakan harga. Bertahannya harga di atas level tersebut menjadi indikasi bahwa tren kenaikan masih berada dalam jalurnya dan belum mengalami perubahan signifikan. Kondisi ini juga mencerminkan bahwa tekanan beli di pasar masih cukup dominan dibandingkan tekanan jual. Struktur pergerakan yang stabil di atas area support dinamis tersebut memberikan sinyal bahwa harga emas memiliki fondasi yang cukup kuat untuk melanjutkan penguatan. Pada kondisi seperti ini, koreksi yang mungkin terjadi cenderung bersifat terbatas dan tidak mengganggu arah tren utama yang masih mengarah ke atas. Dalam proyeksi terbarunya, Dupoin Futures memperkirakan bahwa harga emas berpotensi melanjutkan kenaikan menuju level resistance terdekat di kisaran 4.868. Level ini menjadi titik penting yang akan diuji oleh pasar dalam waktu dekat. Jika harga mampu menembus area tersebut dengan kuat, maka peluang kenaikan lanjutan akan semakin terbuka. Selanjutnya, apabila momentum bullish tetap terjaga, harga emas diperkirakan berpotensi melanjutkan penguatan hingga mencapai level 5.005. Level ini tidak hanya berfungsi sebagai resistance teknikal, tetapi juga memiliki arti penting secara psikologis bagi pelaku pasar, sehingga sering menjadi acuan dalam menentukan arah pergerakan harga berikutnya. Dari sisi indikator, pergerakan stochastic yang masih mengarah naik turut memperkuat sinyal bullish. Indikator ini menunjukkan bahwa momentum kenaikan masih berlangsung dan sejalan dengan pergerakan harga. Tetapi, posisi yang mendekati area overbought juga menjadi sinyal bahwa potensi koreksi jangka pendek tetap perlu diperhatikan. Di luar faktor teknikal, pergerakan harga emas juga didukung oleh sejumlah sentimen global yang positif. Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang masih berlangsung menjadi salah satu faktor utama yang mendorong meningkatnya permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, investor cenderung mencari instrumen yang lebih aman untuk melindungi nilai aset mereka. Selain itu, ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat juga turut memberikan pengaruh besar terhadap pergerakan emas. Pasar mulai memperkirakan bahwa Federal Reserve akan mengambil pendekatan yang lebih longgar, baik melalui penghentian kenaikan suku bunga maupun kemungkinan penurunan suku bunga di masa mendatang. Kondisi ini menjadi sentimen positif bagi emas, mengingat logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil. Di sisi lain, pelemahan dolar Amerika Serikat juga memberikan dorongan tambahan bagi kenaikan harga emas. Dengan adanya hubungan yang berlawanan arah antara dolar dan emas, tekanan terhadap dolar akan membuka ruang bagi harga emas untuk bergerak lebih tinggi. Faktor lain yang turut memperkuat tren kenaikan adalah meningkatnya permintaan dari bank sentral global yang terus menambah cadangan emas mereka. Langkah ini menunjukkan bahwa emas masih dipandang sebagai aset strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang. Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai bahwa tren bullish harga emas masih memiliki peluang untuk berlanjut dalam waktu dekat. Selama harga mampu bertahan di atas area support utama, arah pergerakan diperkirakan tetap mengarah ke atas, dengan potensi pengujian level resistance yang lebih tinggi. Tetapi, pelaku pasar tetap disarankan untuk mencermati dinamika global yang dapat memicu fluktuasi harga dalam jangka pendek.