Tokenisasi

Sorotan terbaru dari Tag # Tokenisasi

Sinergi Ondo Finance dan FLOQ Hadirkan Akses Tokenisasi Saham dan ETF AS di Indonesia Nasional
Nasional
Sabtu, 12 September 2026 | 12:45 WIB

Sinergi Ondo Finance dan FLOQ Hadirkan Akses Tokenisasi Saham dan ETF AS di Indonesia

Jakarta, katakabar.com - Akses investor Indonesia terhadap saham dan exchange-traded fund (ETF) Amerika Serikat (AS) berpotensi semakin luas melalui teknologi blockchain. Ini seiring Ondo Finance dan platform aset digital FLOQ menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk menjajaki penyediaan tokenisasi saham dan ETF AS bagi masyarakat di Indonesia. MoU tersebut ditandatangani dalam ajang Indonesia Blockchain Week (IDBW) 2026 di Jakarta, setelah diskusi panel mengenai perkembangan tokenisasi saham dan ETF AS serta masa depan akses pasar global. Kesepakatan ini menjadi langkah awal bagi kedua perusahaan untuk mengevaluasi potensi integrasi produk, distribusi lokal, edukasi pengguna, serta kesiapan teknis sebelum produk tokenisasi pasar modal dapat tersedia melalui FLOQ. Ondo Finance Bawa Lebih dari 430 Saham dan ETF ke Blockchain Ondo Finance saat ini menawarkan lebih dari 430 tokenisasi saham dan ETF melalui Ondo Stocks. Produk tersebut memungkinkan investor yang memenuhi syarat di luar AS memperoleh eksposur ekonomi secara onchain terhadap berbagai saham dan ETF yang diperdagangkan di pasar AS. Sejumlah aset yang masuk dalam pembahasan kerja sama antara lain saham perusahaan besar seperti Nvidia, Apple, Amazon, Alphabet, Meta, dan Tesla. ETF seperti SPDR S&P 500 ETF Trust (SPY) dan Invesco QQQ juga termasuk aset yang sedang dipertimbangkan. Meski demikian, belum ada aset atau produk tertentu yang dikonfirmasi akan diluncurkan melalui FLOQ di Indonesia. Ondo Stocks dirancang untuk memberikan eksposur ekonomi terhadap saham dan ETF yang mendasarinya. Aset pendukung tersebut disimpan melalui broker-dealer yang terdaftar di AS. Kolaborasi dengan FLOQ menjadi langkah bagi Ondo Finance untuk menjajaki bagaimana infrastruktur tokenisasi sekuritas tersebut dapat menjangkau pengguna di salah satu pasar aset digital terbesar di Asia Tenggara. FLOQ dan Ondo Jajaki Akses Pasar Global Kerja sama ini berlangsung ketika ekosistem aset digital Indonesia terus berkembang. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah akun konsumen aset keuangan digital di Indonesia mencapai 22,93 juta akun pada Juli 2026, meningkat 1,03 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Pada periode yang sama, nilai transaksi aset kripto tercatat sebesar Rp20,52 triliun. Angka tersebut turun 28,20 persen secara bulanan dari Rp28,58 triliun pada Juni 2026. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan perkembangan ekosistem aset digital Indonesia tidak hanya berkaitan dengan penambahan jumlah aset, tetapi juga bagaimana pengguna dapat memperoleh akses terhadap perkembangan pasar keuangan global. “Indonesia telah memiliki ekosistem aset digital yang besar. Kami percaya bahwa tahap berikutnya bukan sekadar menambahkan lebih banyak aset, melainkan menjajaki bagaimana produk keuangan global dan infrastruktur pasar baru dapat diakses oleh masyarakat Indonesia,” jelas Yudho. Menurut Yudho, Ondo Finance telah membangun kapabilitas dalam membawa sekuritas tradisional ke infrastruktur onchain. Sementara itu, FLOQ memiliki distribusi lokal serta pemahaman terhadap karakteristik pasar Indonesia. Senior Director for Asia Pacific Ondo Finance, Rania Rahardja, menimpali Indonesia merupakan pasar penting bagi perkembangan tokenisasi sekuritas karena memiliki komunitas aset digital yang besar dan aktif. “Di Ondo, kami membangun infrastruktur untuk membawa saham dan ETF secara onchain. FLOQ memberi kami mitra lokal yang kuat untuk menjajaki bagaimana aset pasar tokenisasi dapat menjangkau masyarakat di Indonesia secara bertanggung jawab,” ujar Rania. Selain menjajaki integrasi produk, FLOQ dan Ondo Finance juga akan mengevaluasi potensi program edukasi bagi komunitas. Materi tersebut dapat mencakup cara kerja tokenisasi saham dan ETF, hubungan antara token dengan aset yang mendasarinya, mekanisme penerbitan dan penebusan, serta risiko yang perlu dipahami pengguna. Dengan kolaborasi ini, kedua perusahaan menjajaki kemungkinan menghubungkan ekosistem aset digital Indonesia dengan pasar publik global melalui teknologi blockchain. Bagi FLOQ, langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses pengguna Indonesia terhadap perkembangan produk keuangan global. Sementara bagi Ondo Finance, kerja sama tersebut membuka peluang untuk memperluas jangkauan infrastruktur tokenisasi ke pasar Indonesia.

OJK Siapkan Era Baru Kripto: SID Investor, Stablecoin hingga Tokenisasi Aset Nasional
Nasional
Sabtu, 05 September 2026 | 11:31 WIB

OJK Siapkan Era Baru Kripto: SID Investor, Stablecoin hingga Tokenisasi Aset

Jakarta, katakabar.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai mendorong aset kripto terintegrasi lebih dalam dengan sistem keuangan Indonesia. Arah kebijakan ini mencakup penguatan status penyedia layanan aset kripto, penerapan Single Investor Identification (SID), pengaturan stablecoin, hingga pengembangan tokenisasi aset dunia nyata atau real-world assets (RWA). Arah tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, dalam Coinfest Asia 2026 yang berlangsung di Bali pada 20–21 Agustus 2026. “Hari ini, di forum Coinfest Asia, saya ingin menyatakan bahwa ekonomi on-chain Indonesia akan segera hadir,” ujar Adi. Langkah tersebut menjadi sinyal pengembangan industri aset digital nasional mulai bergerak dari sekadar aktivitas perdagangan kripto menuju integrasi yang lebih luas dengan infrastruktur keuangan. CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai arah tersebut dapat menjadi momentum penting bagi industri kripto Indonesia untuk memasuki tahap perkembangan yang lebih matang. “Integrasi aset kripto dengan sistem keuangan bukan hanya tentang memperluas penggunaan teknologi blockchain. Yang lebih penting adalah membangun fondasi industri yang memiliki tata kelola, transparansi, perlindungan konsumen, dan infrastruktur yang semakin setara dengan sektor jasa keuangan lainnya,” ujar Yudho. Industri Kripto Masuk Fase Baru Perkembangan regulasi tersebut berlangsung di tengah pertumbuhan jumlah konsumen aset kripto di Indonesia. Data OJK menunjukkan jumlah konsumen aset kripto mencapai 22,69 juta pada Juni 2026, meningkat dari 22,40 juta pada Mei. Nilai transaksi kripto pada periode yang sama mencapai Rp28,58 triliun, naik 24,2 persen dibandingkan Rp23,01 triliun pada bulan sebelumnya. Pertumbuhan tersebut berlangsung seiring semakin luasnya minat masyarakat terhadap aset digital, termasuk Bitcoin sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar. Infrastruktur pasar aset kripto Indonesia juga terus berkembang dengan keberadaan 26 pedagang aset keuangan digital berizin, dua bursa, dua lembaga kliring, dan dua kustodian. Salah satu agenda yang tengah disiapkan OJK adalah memperkuat posisi penyedia layanan aset kripto sebagai bagian dari industri jasa keuangan, sejalan dengan perkembangan regulasi melalui Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Menurut Adi, perubahan tersebut bukan hanya sebatas perubahan nomenklatur, melainkan mencerminkan peningkatan standar industri. “Ini bukan sekadar perubahan label, tetapi benar-benar menunjukkan peningkatan kelas industri,” ucapnya. Yudho melihat penguatan status tersebut dapat meningkatkan kepercayaan terhadap industri sekaligus mendorong pelaku usaha meningkatkan standar operasionalnya. “Ketika aset digital semakin terhubung dengan sistem keuangan nasional, ekspektasi terhadap pelaku industri juga akan semakin tinggi. Governance, manajemen risiko, keamanan aset, hingga transparansi harus ikut berkembang. Bagi industri, ini merupakan tantangan sekaligus peluang untuk membangun kepercayaan dalam jangka panjang,” terang Yudho. Investor Kripto Bakal Punya SID OJK juga berencana menerapkan Single Investor Identification bagi investor aset kripto. Mekanisme serupa selama ini digunakan di pasar modal untuk memberikan nomor identitas tunggal kepada investor. Menurut OJK, penerapan SID dapat membuat infrastruktur pasar aset digital semakin selaras dengan pasar modal sekaligus memperkuat transparansi aktivitas investor. “Hal ini akan menyelaraskan ekosistem kripto dengan pasar modal, meningkatkan kredibilitas serta mendorong transparansi dan efisiensi secara bersamaan,” imbuh Adi. Yudho menilai SID dapat menjadi salah satu fondasi penting jika Indonesia ingin membangun ekosistem aset digital yang lebih terintegrasi. “Identitas investor yang terintegrasi berpotensi membuat ekosistem lebih transparan sekaligus mempermudah pengembangan produk dan layanan keuangan digital di masa depan. Hal yang perlu dijaga adalah implementasinya tetap efisien, aman, dan tidak menciptakan hambatan yang berlebihan bagi masyarakat untuk mengakses layanan,” jelasnya. Stablecoin Mulai Masuk Agenda Regulasi Selain infrastruktur investor, stablecoin menjadi salah satu sektor yang mulai mendapatkan perhatian lebih besar dari regulator. OJK berencana menempatkan stablecoin sebagai instrumen transaksi, bukan sebagai alat pembayaran. Pengaturannya akan tetap dikoordinasikan dengan Bank Indonesia sesuai kewenangan masing-masing lembaga. “Stablecoin diposisikan sebagai instrumen transaksi, bukan sebagai alat pembayaran,” tutur Adi. Pembahasan mengenai stablecoin menjadi semakin relevan seiring peningkatan penggunaannya secara global. Berdasarkan data yang dipaparkan OJK, suplai stablecoin dunia meningkat dari sekitar US$200 miliar pada awal 2025 menjadi sekitar US$317 miliar–US$320 miliar pada awal 2026. Sejumlah model bisnis stablecoin di Indonesia juga telah melewati proses regulatory sandbox OJK dan bersiap memasuki tahap pengembangan berikutnya. Menurut Yudho, kejelasan regulasi menjadi faktor penting agar inovasi stablecoin dapat berkembang tanpa menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha maupun pengguna. “Stablecoin memiliki banyak potensi penggunaan, terutama untuk efisiensi transaksi dan penyelesaian berbasis blockchain. Tetapi, karena bersinggungan langsung dengan sistem keuangan dan pembayaran, batas kewenangan serta aturan mainnya harus jelas. Kepastian regulasi justru akan memberikan ruang yang lebih sehat bagi inovasi,” ujarnya. Tokenisasi Emas, SBN hingga Properti Agenda lain yang berpotensi membuka babak baru industri aset digital Indonesia adalah tokenisasi aset dunia nyata. OJK tengah menyusun kerangka regulasi yang lebih luas untuk pengembangan real-world assets. Sejumlah model tokenisasi yang telah dikembangkan melalui regulatory sandbox antara lain mencakup emas, Surat Berharga Negara (SBN), hingga hak ekonomi atas properti. “Kami sedang menyusun regulasi OJK yang komprehensif untuk memastikan skalabilitas dan keamanannya,” jelas Adi. Secara global, perkembangan RWA juga berlangsung cepat. Data yang dipaparkan OJK menunjukkan nilai pasar RWA meningkat sekitar 256,7 persen dari kuartal pertama 2025 hingga kuartal pertama 2026, dengan nilai mendekati US$33,5 miliar pada pertengahan 2026. Yudho melihat tokenisasi berpotensi menjadi salah satu titik pertemuan terbesar antara teknologi blockchain dan sistem keuangan tradisional. “RWA bisa menjadi salah satu use case blockchain yang paling relevan bagi sektor keuangan karena teknologi tidak lagi berdiri sendiri, tetapi digunakan untuk merepresentasikan aset dan hak ekonomi yang nyata. Jika regulasi, kustodian, likuiditas, dan perlindungan investor dibangun dengan baik, tokenisasi dapat membuka akses investasi yang lebih luas sekaligus menciptakan model pembiayaan baru,” ulas Yudho. Dari Trading Menuju Ekonomi On-Chain Berbagai agenda tersebut menunjukkan arah kebijakan aset digital Indonesia mulai berkembang melampaui aktivitas jual beli kripto. Identitas investor, standardisasi penyedia layanan, stablecoin, dan tokenisasi menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem keuangan berbasis teknologi yang lebih terintegrasi. OJK juga mengaitkan perkembangan aset digital dengan agenda ekonomi nasional, termasuk transformasi digital, pendalaman pasar keuangan, serta perluasan akses investasi dan pembiayaan. “Kami berkomitmen penuh menjadikan Indonesia sebagai pusat kripto Asia, pusat inovasi, investasi, dan transaksi kripto di kawasan ini,” sebut Adi. Menurut Yudho, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat perkembangan aset digital di kawasan apabila inovasi dan regulasi dapat bergerak secara seimbang. “Fase berikutnya dari industri aset digital tidak hanya akan berbicara tentang harga aset atau volume perdagangan. Kita akan semakin banyak melihat blockchain masuk ke infrastruktur investasi, tokenisasi aset, settlement, hingga berbagai layanan keuangan lainnya. Indonesia punya basis pengguna yang besar dan ekosistem yang terus berkembang. Jika regulasi mampu memberikan kepastian sekaligus ruang inovasi, peluang Indonesia untuk menjadi salah satu pusat ekonomi on-chain di Asia semakin terbuka,” tandas CEO FLOQ.

Pelaku Industri Soroti Masa Depan Kripto: Tokenisasi, Edukasi dan Regulasi Jadi Kunci Ekonomi
Ekonomi
Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:03 WIB

Pelaku Industri Soroti Masa Depan Kripto: Tokenisasi, Edukasi dan Regulasi Jadi Kunci

Bali, katakabar.com - Industri aset digital mulai bergerak melampaui narasi spekulasi dan kenaikan harga semata. Munculnya produk seperti tokenized stocks, meningkatnya keterlibatan institusi, hingga kebutuhan akan edukasi dan pengelolaan risiko menjadi sejumlah indikator bahwa industri kripto memasuki fase yang semakin matang. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai perubahan tersebut juga terlihat dari perkembangan industri dibandingkan masa-masa awal ketika aset kripto masih kerap dipandang dengan skeptis oleh masyarakat. Kini, semakin jelasnya kerangka regulasi dan perlindungan konsumen membuat proses adopsi aset digital menjadi lebih terbuka. “Dulu, aset kripto mungkin dianggap seperti scam. Saat ini, regulasinya sudah jauh lebih jelas dan perlindungan konsumen juga semakin diperkuat. Memang dulu lebih sulit, tetapi sekarang sudah jauh lebih mudah,” ujar Calvin dalam Tokocrypto Beach Horizon Topic Showcase, bagian dari perhelatan Coinfest 2026, di Bali pada Jumat (21/8) lalu. Diskusi bertajuk “Navigating the Future: Macroeconomics, Regulation, and the Path to Mainstream Crypto in Indonesia” tersebut turut menghadirkan Founder Malaka Project Ferry Irwandi dan Founder ASTRONACCI Gema Goeyardi dengan dimoderatori oleh Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), Yudhono Rawis. Uli Agustina, Kepala Departemen Pengawasan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), turut hadir dan tampak mengikuti rangkaian acara. Menurut Calvin, salah satu perubahan yang kini mulai terlihat adalah semakin luasnya penggunaan teknologi aset digital untuk membuka akses terhadap instrumen keuangan. Tokenized stocks, misalnya, memungkinkan pengguna memperoleh eksposur terhadap saham global melalui aset digital dengan nominal yang lebih fleksibel. “Banyak orang ingin berinvestasi di saham Amerika, tetapi sebelumnya harus membuka brokerage account di luar negeri dan melalui banyak layer. Dengan tokenized stocks, aksesnya menjadi lebih mudah,” jelas Calvin. Ia mengatakan, perkembangan produk seperti tokenized stocks mencerminkan potensi aset digital untuk menjembatani ekosistem keuangan tradisional dan teknologi Web3. Ke depan, menurutnya, akses yang semakin mudah perlu tetap berjalan beriringan dengan pemahaman pengguna terhadap instrumen yang digunakan. Membutuhkan Edukasi dan Investasi Jangka Panjang Calvin menilai pertumbuhan industri aset digital tidak hanya ditentukan oleh munculnya inovasi dan produk baru. Edukasi tetap menjadi faktor penting agar kemudahan akses tidak justru mendorong keputusan investasi yang hanya didasarkan pada euforia pasar. “Edukasi itu sangat penting. Tanpa edukasi, akhirnya orang hanya FOMO dan berinvestasi secara asal. Kami sangat mengedepankan edukasi sebelum mereka benar-benar berinvestasi, supaya mereka tahu apa yang mereka investasikan, bukan hanya mengejar cuan-nya,” ucap Calvin. Pandangan tersebut diperkuat oleh Gema Goeyardi, yang menilai kematangan industri juga perlu diikuti oleh perubahan perilaku investor. Ia mengatakan pertumbuhan pasar aset digital tidak seharusnya terus dikaitkan dengan budaya mencari keuntungan secara instan. “Budaya get-rich-quick itu harus di-cancel,” timpal Gema. Ia menilai semakin beragamnya instrumen di industri aset digital, termasuk perdagangan futures, perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap profil risiko dan pengelolaan portofolio. Menurut Gema, investor perlu menghindari keputusan yang semata-mata didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan dalam waktu singkat. Sementara, Ferry Irwandi melihat perkembangan aset digital sebagai bagian dari transformasi teknologi yang lebih besar. Menurutnya, industri kripto telah menunjukkan ketahanan melalui berbagai siklus dan kini perlu dilihat tidak hanya dari pergerakan harga asetnya. “Cryptocurrency selalu disebut sebagai masa depan. Artinya, kita memang seharusnya melihat ke masa depan,” imbuh Ferry. Ia juga menekankan pentingnya memberikan pemahaman yang lebih baik kepada generasi yang tumbuh bersama teknologi digital. Menurut Ferry, industri yang berkembang pesat tetap membutuhkan edukasi agar partisipasi masyarakat dapat berlangsung secara lebih sehat dan berkelanjutan. Menuju Ekosistem Aset Digital 24/7 Pembahasan kemudian berlanjut pada sesi kedua bertajuk “The Mechanics of Market Dynamics: Tokenizing Real-World Assets, Base Infrastructure, and Algorithmic Liquidity”. Sesi ini menghadirkan Rohit Mulani, President Southeast Asia Alpaca; Nicholas Soong, BD Director Exchanges Circle; dan Dharmawan Tjokro, Head of Marketing Xenorize, dengan Bonifacio, Head of TKO Token, sebagai moderator. Rohit melihat tokenisasi aset dunia nyata (real-world assets/RWA) berpotensi mendorong pasar keuangan menuju sistem yang beroperasi lebih fleksibel dan 24/7. Menurutnya, semakin banyaknya modal yang dapat dipindahkan secara on-chain akan membuat penggunaan modal menjadi lebih efisien. “Kita bergerak menuju pasar 24/7, 365 hari. Jam bursa dan jam perbankan akan semakin tidak relevan, sementara modal dapat berpindah lebih mudah antara aset likuid dan aset produktif,” tukas Rohit. Nicholas Soong menyoroti potensi tokenized money market funds dalam meningkatkan efisiensi penggunaan modal. Menurutnya, aset yang digunakan sebagai collateral tidak lagi harus sekadar “diam” selama proses perdagangan, tetapi tetap dapat menghasilkan imbal hasil. “Ini membuat penggunaan modal jauh lebih efisien. Collateral dapat digunakan untuk trading sekaligus tetap menghasilkan yield karena aset dasarnya merupakan money market fund,” tutur Nicholas. Dari sisi pelaku pasar, Dharmawan menyebutkan, perkembangan tersebut juga akan meningkatkan akses investor ritel terhadap pasar modal sekaligus mendorong penggunaan teknologi seperti algorithmic trading. Namun, ia menekankan pentingnya memastikan investor memahami risiko dan mekanisme aset yang diperdagangkan. Di sisi lain, para panelis menilai regulasi dan fragmentasi likuiditas masih menjadi tantangan utama dalam memperluas adopsi tokenized assets. Karena itu, diperlukan kolaborasi antara pelaku industri aset digital, institusi keuangan tradisional, bursa, dan regulator agar inovasi dapat berkembang secara terukur sekaligus tetap memberikan perlindungan bagi pengguna. Ketersediaan dan Hal-hal Perlu Diketahui Aset tokenisasi ini mengacu pada saham referensi yang dirancang untuk mengikuti pergerakan harga saham acuan tersebut. Produk ini tidak memberikan hak sebagai pemegang saham, seperti hak suara maupun dividen, serta tidak dapat ditukarkan menjadi saham acuan, kecuali dinyatakan secara eksplisit dalam ketentuan produk. Tokenized stocks memang dapat diperdagangkan di luar jam operasional pasar saham, tetapi harga dan likuiditasnya dapat bervariasi, terutama ketika pasar saham acuan sedang tutup. Disclaimer: Perdagangan aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian. Pengguna diimbau untuk memahami seluruh risiko serta syarat dan ketentuan yang berlaku sebelum melakukan transaksi. Informasi yang disampaikan hanya bertujuan untuk memberikan edukasi dan bukan merupakan nasihat maupun rekomendasi investasi. Setiap keputusan untuk membeli, menjual, menyimpan, atau melakukan transaksi aset digital sepenuhnya menjadi pertimbangan dan tanggung jawab masing-masing pengguna.  Tokocrypto tidak mewajibkan, mengarahkan, merekomendasikan, maupun memengaruhi pengguna untuk melakukan transaksi aset digital tertentu.

Potensi Pasar Tokenisasi Aset Capai US$88 Miliar, Bittime: Tokenized US Stocks Diminati Investor Internasional
Internasional
Rabu, 29 Juli 2026 | 10:03 WIB

Potensi Pasar Tokenisasi Aset Capai US$88 Miliar, Bittime: Tokenized US Stocks Diminati Investor

Jakarta, katakabar.com - Pasar tokenisasi aset Indonesia diproyeksikan mencapai US$88 miliar pada 2030. Bittime melihat Tokenized US Stocks semakin diminati investor seiring meningkatnya kebutuhan diversifikasi ke aset global. Tokenisasi aset diperkirakan akan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan industri aset keuangan digital di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.  Riset Tiger Research menunjukkan, nilai pasar tokenisasi aset ata Real World Assets (RWA) di Indonesia diproyeksikan mencapai US$88 miliar pada 2030, dengan tingkat pertumbuhan tahunan (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 31,7%. Pertumbuhan tersebut didukung oleh semakin kuatnya ekosistem digital Indonesia yang dinilai mampu mempercepat adopsi aset berbasis blockchain. Tiger Research juga menilai investor Indonesia mulai meningkatkan minat terhadap aset global, khususnya Tokenized US Stocks, karena menawarkan akses yang lebih mudah ke perusahaan-perusahaan global melalui teknologi blockchain. Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan tren tersebut menunjukkan investor Indonesia semakin terbuka terhadap diversifikasi portofolio ke aset global. "Tokenisasi membuka akses yang lebih mudah bagi investor Indonesia untuk memiliki eksposur ke perusahaan-perusahaan global. Kami melihat minat terhadap aset ini terus meningkat seiring berkembangnya ekosistem aset digital," ujar Ryan. Pilihan Aset dan Fitur Jadi Faktor Pendorong Seiring meningkatnya minat investor, pilihan aset yang tersedia di platform tokenisasi menjadi salah satu pertimbangan. Berdasarkan analisis Tiger Research dan benchmark industri yang dilakukan Bittime, platform dengan pilihan Tokenized US Stocks yang lebih komprehensif dinilai lebih mampu memenuhi kebutuhan investor yang ingin membangun portofolio global. Berdasarkan benchmark tersebut, Bittime menyediakan salah satu lini Tokenized US Stocks paling lengkap di antara platform aset digital lokal, mencakup saham perusahaan global seperti NVIDIA, Microsoft, Apple, Amazon, Alphabet (Google), Meta, Tesla, serta sejumlah ETF berbasis teknologi.  Selain kelengkapan pilihan aset, Bittime juga menjadi exchange aset kripto berlisensi pertama di Indonesia yang menghadirkan fitur Flexible Staking pada Tokenized US Stocks dengan reward hingga 7% APR, sehingga investor dapat memperoleh potensi imbal hasil tambahan tanpa kehilangan fleksibilitas dalam mengelola asetnya. Ryan mengatakan inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab karakteristik saham Amerika Serikat yang umumnya memiliki dividend yield lebih rendah dibandingkan saham di Indonesia. "Kami ingin menghadirkan pengalaman investasi yang lebih relevan melalui akses ke aset global yang disertai fitur bernilai tambah sesuai kebutuhan investor Indonesia," jelas Ryan. Minat tersebut juga tercermin pada data internal Bittime. Dalam 48 jam setelah peluncuran Flexible Earn, kepemilikan Tokenized US Stocks meningkat 106%, dengan sekitar 96% dana baru mengalir ke tokenized saham bertema AI, terutama NVIDIA, Meta, dan Microsoft. Hampir 50% kepemilikan Tokenized US Stocks di Bittime juga langsung ditempatkan ke fitur Earn. Sementara, lima Tokenized US Stocks dengan kepemilikan terbesar pada pekan lalu adalah SpaceX (SPCXX), NVIDIA (NVDAX), Tesla (TSLAX), MicroStrategy (MSTRX), dan Apple (AAPLX).  Data tersebut menunjukkan investor Indonesia mulai membangun portofolio global dengan berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang, mulai dari sektor teknologi, kecerdasan buatan (AI), kendaraan listrik, hingga aset yang terkait dengan ekosistem aset digital. Ryan menilai proyeksi pasar tokenisasi aset yang terus bertumbuh menunjukkan peluang pengembangan investasi aset global di Indonesia juga semakin besar. "Potensi pasar tokenisasi aset yang terus berkembang menunjukkan investor Indonesia akan memiliki semakin banyak pilihan untuk mengakses aset global. Kami melihat Tokenized US Stocks menjadi salah satu segmen yang berpotensi tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan diversifikasi investasi dan dukungan regulasi yang semakin kuat," sebut Ryan.

Pasar Kripto Masih Stagnan, Data Bittime Ungkap Minat Investor pada Tokenisasi Saham AI Meningkat Internasional
Internasional
Selasa, 14 Juli 2026 | 10:03 WIB

Pasar Kripto Masih Stagnan, Data Bittime Ungkap Minat Investor pada Tokenisasi Saham AI Meningkat

Jakarta, katakabar.com - Data awal Bittime menunjukkan minat investor Indonesia terhadap Tokenized US Stocks terus meningkat, dengan mayoritas dana baru mengalir ke saham-saham AI seperti NVIDIA, Meta, dan Microsoft. Tren ini muncul di tengah pasar kripto yang masih bergerak stagnan dan sejalan dengan penguatan ekosistem inovasi keuangan digital oleh OJK. Minat investor Indonesia terhadap saham sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai menunjukkan tren positif di tengah berkembangnya ekosistem tokenisasi aset di Indonesia. Sejalan dengan komitmen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam memperkuat inovasi teknologi sektor keuangan, data awal Bittime, Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin OJK, menunjukkan mayoritas dana investor pada layanan Tokenized US Stocks mengalir ke saham-saham AI. Di acara Simposium Nasional dan Forum Konsultasi Stakeholder Pengembangan dan Penguatan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD), pada 2 Juli 2026 lalu, OJK menegaskan perkembangan teknologi, mulai dari AI hingga tokenisasi aset, membuka peluang besar bagi pengembangan sektor keuangan.  OJK juga tengah menyusun Roadmap IAKD 2026–2031 yang mencakup pengembangan tokenisasi aset, stablecoin, keamanan siber, transaksi Over-the-Counter (OTC), hingga Single Investor Identifier (SID). Menanggapi hal tersebut, Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan penguatan regulasi akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan industri aset keuangan digital di Indonesia. "Komitmen OJK dalam penguatan IAKD,  memberikan kepastian bagi pelaku industri untuk terus berinovasi. Kami melihat langkah ini akan mempercepat adopsi aset digital sekaligus memperluas akses masyarakat Indonesia terhadap peluang investasi global melalui platform yang teregulasi," ujar Ryan. Di sisi lain, kondisi pasar aset kripto global masih bergerak cenderung stagnan. Berdasarkan data CoinMarketCap pada Rabu (8/7) pagi, harga Bitcoin berada di kisaran US$62.900, turun 0,59% dalam 24 jam terakhir, namun masih mencatat kenaikan 6,61% dalam sepekan.  Sementara, indeks Fear and Greed CoinMarketCap berada di level 27 atau fear, membaik dibandingkan pekan sebelumnya yang masih berada pada kategori extreme fear. Kondisi ini menunjukkan sebagian investor mulai mencari alternatif diversifikasi investasi yang memiliki eksposur terhadap tema pertumbuhan global, termasuk melalui tokenisasi saham.  Tokenisasi Saham AI Dominasi Minat Investor Dalam 48 jam setelah peluncuran flexible staking untuk Tokenized US Stocks, Bittime mencatat kepemilikan tokenized saham AS meningkat 106%. Sekitar 96% dana baru terkonsentrasi pada tokenized NVIDIA, Meta, dan Microsoft, sementara permintaan terhadap tokenized Apple, Google, Tesla, dan Amazon relatif lebih datar. Hampir 50% kepemilikan Tokenized US Stocks di Bittime juga langsung ditempatkan ke dalam fitur Earn untuk memperoleh reward hingga 7%, menunjukkan investor tidak hanya mencari eksposur ke saham global, tetapi juga peluang memperoleh imbal hasil dari aset digital. Melihat antusiasme tersebut, Bittime kembali menghadirkan kampanye Tokenized US Stocks pada pekan ini. Berdasarkan perilaku pengguna pada kampanye sebelumnya, SpaceX Token (SPCXX) dipilih sebagai insentif utama, sementara pengguna tetap dapat menikmati fitur Earn dengan reward hingga 7%. Ryan mengatakan tren tersebut menunjukkan investor Indonesia mulai lebih selektif dalam memilih sektor yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang. "Minat yang tinggi terhadap saham-saham bertema AI menunjukkan investor Indonesia mulai berinvestasi berdasarkan tema pertumbuhan global. Tokenisasi aset membuat akses terhadap peluang investasi global menjadi lebih mudah, efisien, dan inklusif," jelas Ryan. Sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD), Bittime terus memperluas akses masyarakat terhadap investasi global melalui Tokenized US Stocks. Sejalan dengan data OJK yang mencatat jumlah konsumen aset keuangan digital dan aset kripto telah mencapai 22,4 juta, data awal Bittime menunjukkan inovasi tokenisasi aset mulai mendapat respons positif dari investor Indonesia, khususnya untuk memperoleh eksposur pada perusahaan-perusahaan yang menjadi pemimpin perkembangan teknologi AI.

Bittime dan Nobu Bank Jembatani Keuangan Tradisional Menuju Tokenisasi Aset Global Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 27 Mei 2026 | 11:10 WIB

Bittime dan Nobu Bank Jembatani Keuangan Tradisional Menuju Tokenisasi Aset Global

Jakarta, katakabar.com - Di tengah kondisi tekanan pada kondisi ekonomi Indonesia, Bittime, platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), resmi gandeng Nobu Bank guna menjembatani sistem keuangan konvensional dengan ekosistem aset keuangan digital. Dalam agenda media gathering nya, Bittime bersama Nobu Bank resmi membagikan kolaborasi strategisnya melalui integrasi akses virtual account (VA) Nobu Bank yang kini telah tersedia di platform Bittime. Langkah in dipandang sebagai inovasi Bittime dan Nobu Bank dalam menghadirkan akses investasi aset digital yang lebih mudah dipahami, praktis, dan dapat diakses kapan saja oleh investor Indonesia. Business Director Bittime, Junji Misael menyampaikan bahwa pihaknya berharap untuk dapat memfasilitasi diversifikasi aset investor Indonesia di tengah volatilitas pasar. Terutama melalui onboarding dari Rupiah ke aset digital secara praktis dan efisien), sehingga diversifikasi aset menjadi lebih accessible. “Sebagai platform yang menyediakan aset-aset global berbasis tokenisasi, kami berkomitmen untuk menyediakan akses bagi investor untuk dapat dengan seamless berinvestasi 24/7 dan tanpa biaya tambahan (Zero Fee) dengan memanfaatkan IDR swap ke aset USDT. Terutama di tengah kondisi volatilitas dan tekanan pada nilai ekonomi Indonesia saat ini,” ungkap Junji. Melalui integrasi ini, pengguna diharap dapat menikmati proses yang lebih seamless mulai dari transaksi Rupiah hingga masuk ke aset digital dan tokenized global assets dalam satu ekosistem yang lebih efisien. Apalagi, kondisi volatilitas pasar cenderung mendorong investor untuk mencari aset-aset alternatif yang lebih stabil seperti USD, emas dan aset global sebagai aset diversifikasi portofolio sekaligus ‘lindung nilai’. Di saat bersamaan, tokenisasi aset-aset global seperti USD, emas, dan US stocks kini memberikan kemudahan perluasan pilihan investasi karena bersifat fraksional. Selaras dengan ini, Chandra Lesmana, Head of Universe Merchant Business and Interlink Development Nobu Bank menyampaikan bahwa, kedepannya masa depan keuangan akan semakin terhubung antara traditional finance (TradFi) dan digital finance. Kolaborasi Bittime dan Nobu Bank menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem finansial yang lebih inklusif, seamless, dan accessible bagi masyarakat Indonesia. “Harapannya dengan kolaborasi ini, kami dapat menghadirkan pengalaman investasi digital yang lebih seamless bagi masyarakat Indonesia. Sehingga dengan ini, Bittime dan Nobu Bank dapat mendorong pertumbuhan dan keberlanjutan industri ekonomi kreatif Indonesia,” ungkap Chandra. Salah satu keunggulan yang ditawarkan dari kemitraan ini adalah “Only 10 minutes from Nobu Bank to Bittime. Bittime is the Indonesia's Global Assets Platform”. Di mana, melalui kolaborasi pengalaman pengguna yang kami hadirkan dapat ini lebih cepat dan praktis. Mulai dari pengguna Nobu Bank dapat registrasi di Bittime, menyelesaikan KYC, hingga melakukan transaksi aset digital pertama mereka. Konsep seluruh transaksi di satu tempat ini memungkinkan pengguna untuk mengakses aset global seperti emas, USD, dan US Stocks berbasis tokenisasi kapan saja dengan lebih fleksibel dengan imbal hasil hingga 10% APY pada token-token terdaftar. Guna merayakan kolaborasi strategis ini, Bittime dan Nobu Bank turut menghadirkan program promosi khusus yang ditujukan bagi para pengguna baru yang ingin memulai langkah investasi mereka.  Melalui kampanye cashback, para investor berkesempatan mendapatkan cashback sebesar 20% dengan nilai maksimal mencapai Rp100.000 dalam bentuk $USDT, cukup dengan melakukan deposit pertama menggunakan layanan Virtual Account Nobu Bank.  Sebelumnya, tentu perlu dipahami bahwa investasi sebaiknya tidak berdasar pada tren, melainkan pemahaman dan fundamental di baliknya. Aset kripto mengandung risiko tinggi yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan mengenai manajemen risiko dan analisis fundamental makro ekonomi menjadi pondasi utama dalam membangun portofolio investasi yang sehat dan berkelanjutan di era digital ini.

Nilai Tukar Rupiah Terhadap USD Terus Melemah, Bittime Hadirkan Aset-aset Tokenisasi RWA Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 16 Mei 2026 | 17:05 WIB

Nilai Tukar Rupiah Terhadap USD Terus Melemah, Bittime Hadirkan Aset-aset Tokenisasi RWA

Jakarta, katakabar.com - Kondisi ekonomi nasional saat ini sedang menghadapi tantangan besar seiring dengan nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan hebat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini sentuh level Rp17.600. Bertepatan dengan ini Bittime hadirkan aset-aset tokenisasi Real World Assets (RWA) berbasis Stocks. Sebelumnya, investor seringkali menghadapi berbagai hambatan birokrasi dan biaya yang tinggi ketika mencoba mengakses aset pasar modal global atau komoditas internasional secara langsung. Fenomena volatilitas mata uang yang tidak menentu juga memperkuat kebutuhan akan alternatif lindung nilai (hedging) yang lebih efisien dan fleksibel guna menjaga daya beli serta nilai aset di masa depan. Menanggapi tantangan tersebut, Bittime menghadirkan aset-aset tokenisasi Real World Assets (RWA) yang membuka akses bagi masyarakat Indonesia ke ranah investasi dunia nyata secara digital.  Langkah strategis ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan aksesibilitas investasi, sehingga masyarakat memiliki peluang yang sama untuk mendiversifikasi portofolio mereka di tengah ketidakpastian geopolitik. Dengan memanfaatkan teknologi blockchain, aset fisik maupun finansial konvensional kini dapat direpresentasikan dalam bentuk token digital yang sah dan memiliki nilai nyata. Fokus utama dari inovasi ini adalah memberikan kebebasan bagi investor untuk memiliki aset global dengan modal yang sangat terjangkau melalui sistem kepemilikan fraksional (fractional ownership). Melalui sistem ini, setiap individu dapat memiliki bagian dari aset berharga tanpa harus membeli satu unit utuh, sehingga batasan finansial tidak lagi menjadi penghalang untuk membangun portofolio yang tangguh.  Kehadiran RWA di ekosistem Bittime memastikan aset digital yang dimiliki pengguna memiliki dasar nilai yang berbanding satu banding satu dengan aset dunia nyata, memberikan rasa aman dan transparansi yang lebih tinggi. Integrasi ini memungkinkan investor untuk beralih dari aset kripto tradisional ke aset yang didukung oleh komoditas atau ekuitas global dengan sangat mudah.  Sebagai platform Pedagang Aset Keuangan Digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bittime menjamin bahwa seluruh proses transaksi berjalan dalam koridor regulasi yang ketat dan transparan bagi keamanan pengguna. Seiring dengan meningkatnya minat terhadap tokenisasi aset, Bittime secara resmi memperluas jajaran produknya dengan meluncurkan delapan token baru berbasis saham Amerika Serikat pada tanggal 13 Mei lalu.  Melalui pasangan perdagangan Rupiah (IDR), kini investor dapat dengan mudah memiliki eksposur terhadap perusahaan global seperti Netflix ($NFLXON), Starbucks ($SBUXON), Cisco ($CSCOON), Palantir ($PLTRON), Procter & Gamble ($PGON), Broadcom ($AVGOON), Alibaba ($BABAON), dan Eli Lilly ($LLYON). Apalagi, aset-aset tersebut dapat diperdagangkan tanpa batas waktu atau 24/7 karena bersifat terdesentralisasi. Selain itu, investor juga dapat meningkatkan potensi pertumbuhan asetnya dengan memanfaatkan fitur staking pada platform Bittime. Di mana, fitur ini memberikan imbal hasil tahunan (APY) sebagai passive income dari total jumlah aset yang dimiliki. Sehingga investor dapat meningkatkan potensi pertumbuhan portfolio tidak hanya dari nilai aset yang bertumbuh tetapi juga imbal hasil tahunan yang didapatkan. Tetapi perlu dipahami investasi sebaiknya tidak berdasar pada tren, melainkan pemahaman dan fundamental di baliknya. Unruk itu, edukasi berkelanjutan mengenai manajemen risiko dan analisis fundamental makro ekonomi menjadi pondasi utama dalam membangun portofolio investasi yang sehat dan berkelanjutan di era digital ini. Di samping itu, aset kripto mengandung risiko tinggi yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi

Tokenisasi Emas Meningkat Saat Harga Emas Fisik Meroket Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 14 Oktober 2025 | 11:00 WIB

Tokenisasi Emas Meningkat Saat Harga Emas Fisik Meroket

Jakarta, katakabar.com - Nilai pasar token emas global kini menembus rekor tertinggi. Berdasarkan laporan CoinGecko, nilai total pasar token emas telah melampaui 3,02 miliar dolar AS per 7 Oktober 2025. Pencapaian ini menjadi tonggak baru bagi aset logam mulia berbasis blockchain, dan mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap instrumen yang didukung oleh emas fisik. Kenaikan tersebut terjadi seiring dengan menguatnya harga emas di pasar internasional. Harga emas dunia kini berada di kisaran 3.900 dolar AS per troy ounce, sementara di Indonesia, harga emas Antam telah menembus Rp2,3 juta per gram pada 9 Oktober 2025, level tertinggi sepanjang tahun. Keterbatasan pasokan dan meningkatnya permintaan membuat emas batangan, terutama ukuran kecil, semakin sulit ditemukan di pasaran. Keterbatasan akses terhadap emas fisik mendorong munculnya inovasi baru melalui tokenisasi emas, atau dikenal dengan istilah RWA emas (Real World Asset). Sistem ini memungkinkan seseorang memiliki emas dalam bentuk digital yang nilainya setara dengan logam mulia sungguhan. Setiap token emas digital didukung oleh cadangan emas fisik yang disimpan di lembaga kustodian resmi dan diaudit secara rutin. Dengan mekanisme ini, investor dapat membeli pecahan emas kecil, misalnya 0,01 gram, tanpa harus menyimpan emas fisiknya secara langsung. Seluruh kepemilikan tercatat di jaringan blockchain, sehingga lebih transparan dan mudah diakses kapan saja. Konsep emas digital mulai dilirik oleh investor global sebagai cara berinvestasi yang lebih praktis. Token emas seperti PAXG dan XAUT kini menjadi pilihan utama di pasar internasional. Nilai keduanya melonjak seiring dengan rally harga emas dunia, memperkuat posisi emas sebagai aset pelindung nilai di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian. Kenaikan harga emas memunculkan kembali perbandingan klasik di kalangan investor: emas vs tanah dan emas vs Bitcoin. Tanah masih menjadi pilihan populer untuk jangka panjang karena nilainya stabil dan memiliki fungsi nyata. Tetapi, modal awal yang besar dan proses jual beli yang tidak fleksibel sering kali menjadi kendala bagi investor muda. Sementara, emas memiliki keunggulan dari sisi likuiditas dan kemudahan transaksi. Kini, dengan adanya tokenisasi, emas bahkan bisa dimiliki secara fraksional dan diperdagangkan secara digital. Di sisi lain, Bitcoin sering disebut sebagai “emas digital” karena suplainya terbatas dan potensi kenaikan harganya besar. Meski demikian, volatilitasnya jauh lebih tinggi dibanding emas. Kombinasi antara emas dan aset kripto kini menjadi strategi diversifikasi baru. Emas memberikan stabilitas jangka panjang, sementara aset digital menawarkan peluang pertumbuhan yang lebih agresif. Arah Baru Investasi di Indonesia Tren tokenisasi emas menunjukkan bahwa cara masyarakat berinvestasi kini semakin modern. Dengan harga emas yang terus meningkat, emas digital menawarkan cara baru bagi investor untuk tetap memiliki eksposur terhadap pergerakan harga emas hari ini, tanpa harus membeli atau menyimpan logam mulia secara fisik. Beberapa platform lokal seperti Bittime menyediakan layanan jual beli aset digital, termasuk token emas. Kehadiran platform seperti ini membantu memperluas akses masyarakat terhadap investasi digital, sekaligus mendukung pertumbuhan ekosistem aset berbasis teknologi di Indonesia. Perpaduan antara emas fisik dan emas digital menjadi bukti bahwa dunia investasi sedang mengalami transformasi besar. Bagi masyarakat, memahami perbedaan antara dua bentuk kepemilikan ini merupakan langkah penting untuk menentukan strategi yang paling sesuai dengan tujuan dan profil risiko masing-masing.

Inovasi Tokenisasi: Cara Baru Ubah Dunia Investasi Real Estate Ekonomi
Ekonomi
Jumat, 07 Maret 2025 | 13:30 WIB

Inovasi Tokenisasi: Cara Baru Ubah Dunia Investasi Real Estate

Jakarta, katakabar.com - Tokenisasi properti dan transformasi pasar investasi real estate memang menghadirkan berbagai tantangan, tapi teknologi blockchain punya potensi untuk merevolusi industri ini, menjadikannya salah satu aplikasi yang paling menarik. Tokenisasi Real-Word Asset (RWA) dapat sepenuhnya mengubah cara investasi real estate dilakukan, memberikan solusi untuk masalah jangka panjang seperti ketidaklikuidan, banyaknya perantara, dan tingginya biaya transaksi. Menurut Mark Boiron, CEO Polygon, transformasi ini dapat membuka peluang baru bagi para investor, menjadikan pasar lebih aksesibel dan efisien. Dalam wawancaranya dengan Cointelegraph, Boiron menyoroti salah satu manfaat utama dari tokenisasi properti adalah potensi untuk menghilangkan perantara yang tidak perlu, yang selama ini memperumit dan meningkatkan biaya transaksi. Secara tradisional, proses investasi real estate dipenuhi dengan berbagai pihak tengah, mulai dari broker hingga penasihat hukum, yang secara signifikan menaikkan biaya membeli, menjual, dan mentransfer properti. Dengan menggunakan teknologi blockchain untuk men-tokenisasi properti, perantara ini bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan, sehingga prosesnya menjadi lebih efisien. Pengurangan perantara dan penurunan biaya transaksi secara keseluruhan dapat mendemokratisasi akses ke investasi real estate, memungkinkan investor kecil untuk berpartisipasi dalam pasar yang sebelumnya didominasi oleh lembaga besar. Lalu, Boiron menekankan tokenisasi dapat meningkatkan likuiditas aset real estate, mempermudah investor untuk membeli dan menjual kepemilikan mereka dengan cara yang tidak mungkin dilakukan dengan metode tradisional. Terobosan ini bisa mengubah lanskap real estate secara fundamental, menjadikannya lebih dinamis, transparan, dan aksesibel bagi lebih banyak orang. Lumia Towers, sebuah proyek pengembangan real estate komersial senilai USD $220 juta yang sedang berlangsung di Istanbul, Turki, merupakan langkah signifikan mengintegrasikan teknologi blockchain ke dalam sektor properti. Proyek ini mencakup pembangunan dua gedung pencakar langit yang akan menampung 300 unit campuran, baik untuk ruang komersial maupun hunian. Untuk meningkatkan inovasi, pengembang menggunakan teknologi blockchain Polygon untuk men-tokenisasi seluruh proyek, memungkinkan struktur investasi dan kepemilikan yang lebih mudah dan efisien. Langkah ini menandakan tren yang berkembang penerapan blockchain di sektor real estate, menawarkan transparansi, aksesibilitas, dan likuiditas yang lebih baik dalam pasar yang selama ini bersifat tradisional. Mark Boiron, CEO Polygon, meyakini masa depan investasi real estate akan semakin bergantung pada teknologi blockchain. Ia berpendapat bahwa proses tokenisasi aset, seperti properti, dapat mengubah industri ini dengan membuatnya lebih efisien dan dapat diakses. Tapi, Boiron mengakui adopsi luas terhadap real estate yang ditokenisasi bergantung pada penerimaan dan pemahaman teknologi blockchain oleh regulator. Ia menekankan sebelum tokenisasi menjadi standar industri, regulator harus merasa nyaman dan percaya terhadap sistem blockchain dan platform publik yang bersifat tanpa izin. Meski ada tantangan yang harus dihadapi, potensi real estate yang ditokenisasi untuk mengubah lanskap investasi sangatlah besar. Tokenisasi real estate tidak hanya menyederhanakan proses membeli, menjual, dan mentransfer properti, tetapi juga membuka kemungkinan untuk kepemilikan fractional, di mana investor kecil bisa berpartisipasi dalam properti bernilai tinggi. Tapi, untuk mewujudkan visi ini sepenuhnya, regulator harus menciptakan kerangka kerja yang memastikan keamanan dan legitimasi transaksi berbasis blockchain. Setelah hambatan regulasi ini teratasi, real estate yang ditokenisasi berpotensi menjadi norma baru, yang akan mengubah cara properti dibeli, dijual, dan diinvestasikan secara global. Pergerakan harga Aset kripto, Saham Amerika Serikat, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Aset Kripto, Nanovest dapat menjadi pilihan kamu untuk mulai berinvestasi dan eksplor koin kripto lainnya, sebuah aplikasi investasi saham dan kripto yang terpercaya dan aman yang dapat menjadi pilihan terbaik bagi para investor di Indonesia.

Inovasi Tokenisasi: Cara Baru Ubah Dunia Investasi Real Estate Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 06 Maret 2025 | 10:34 WIB

Inovasi Tokenisasi: Cara Baru Ubah Dunia Investasi Real Estate

Jakarta, katakabar.com - Tokenisasi properti dan transformasi pasar investasi real estate memang menghadirkan berbagai tantangan, tapi teknologi blockchain punya potensi untuk merevolusi industri ini, menjadikannya salah satu aplikasi yang paling menarik. Tokenisasi Real-Word Asset (RWA) dapat sepenuhnya mengubah cara investasi real estate dilakukan, memberikan solusi untuk masalah jangka panjang seperti ketidaklikuidan, banyaknya perantara, dan tingginya biaya transaksi. Menurut Mark Boiron, CEO Polygon, transformasi ini dapat membuka peluang baru bagi para investor, menjadikan pasar lebih aksesibel dan efisien. Dalam wawancaranya dengan Cointelegraph, Boiron menyoroti salah satu manfaat utama dari tokenisasi properti adalah potensi untuk menghilangkan perantara yang tidak perlu, yang selama ini memperumit dan meningkatkan biaya transaksi.