Bitcoin Turun: Buy the Dip atau DCA, Strategi Mana Lebih Sesuai? Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 21 Juli 2026 | 13:07 WIB

Bitcoin Turun: Buy the Dip atau DCA, Strategi Mana Lebih Sesuai?

Jakarta, katakabar.com - Ketika harga Bitcoin turun, dua kalimat biasanya mulai ramai muncul di media sosial: “buy the dip” dan “tunggu harga paling bawah”. Keduanya terdengar sederhana, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui secara pasti kapan harga sudah mencapai titik terendah. Harga yang terlihat murah hari ini masih dapat turun lagi besok. Sebaliknya, menunggu harga yang dianggap sempurna juga dapat membuat seseorang tidak pernah mengambil keputusan sesuai rencana. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan koreksi pasar sering membuat pengguna merasa harus mengambil keputusan dengan cepat. Padahal, keputusan yang sehat dimulai dari pemahaman terhadap risiko, kondisi keuangan pribadi, dan tujuan yang jelas, bukan dari rasa takut ketinggalan. Pada 13 Juli 2026, Bitcoin berada di sekitar US$62.328. Sebagai pembanding historis, Bitcoin pernah mencapai sekitar US$68.999,99 pada November 2021. Artinya, harga pada snapshot tersebut berada sekitar 10% di bawah puncak 2021. Perbandingan ini bukan berarti kondisi pasar 2026 sama dengan 2021. Bitcoin telah mencapai level yang lebih tinggi setelah 2021, sehingga angka tersebut hanya digunakan sebagai titik referensi untuk menunjukkan bahwa harga yang terlihat familiar dapat muncul dalam konteks pasar yang sangat berbeda. Mengapa Harga Bitcoin Bisa Turun Tajam? Bitcoin diperdagangkan selama 24 jam setiap hari dan dapat bereaksi cepat terhadap berbagai informasi. Pergerakan harga dapat dipengaruhi oleh: 1. Perubahan suku bunga dan likuiditas global. 2. Kondisi geopolitik dan perubahan selera terhadap aset berisiko. 3. Aktivitas investor besar dan arus dana institusional. 4. Regulasi aset digital. 5. Likuidasi posisi dengan leverage. 6. Pergerakan pasar saham dan aset berisiko lainnya. 7. Sentimen media dan media sosial. Penurunan harga tidak selalu berarti terdapat masalah mendasar pada jaringan Bitcoin. Sebaliknya, kenaikan harga juga tidak berarti risikonya telah hilang. Apa Itu Buy the Dip? Buy the dip adalah pendekatan membeli aset setelah harganya mengalami penurunan dari level sebelumnya. Tujuannya adalah memperoleh harga yang dianggap lebih menarik dibandingkan sebelum koreksi. Tantangan utamanya adalah menentukan kapan penurunan dianggap cukup dalam. Seseorang dapat membeli setelah harga turun 10%, tetapi harga masih dapat turun 10%, 20%, atau lebih setelah transaksi dilakukan. Risiko utamanya bukan hanya salah memilih aset, tetapi juga salah menilai waktu dan menggunakan modal terlalu besar dalam satu keputusan. Apa Itu DCA? DCA atau dollar-cost averaging adalah pendekatan membeli aset secara berkala menggunakan nominal yang sudah ditentukan sebelumnya. Sebagai contoh, pengguna mengalokasikan Rp500.000 setiap bulan selama enam bulan, terlepas dari apakah harga sedang naik atau turun. Dengan DCA, pengguna tidak harus menentukan satu titik masuk yang dianggap sempurna. Harga pembelian rata-rata terbentuk dari beberapa transaksi dalam periode berbeda. Namun, DCA bukan strategi tanpa risiko. Jika harga aset terus turun dalam waktu panjang, nilai portofolio tetap dapat mengalami kerugian. DCA juga tidak menjamin keuntungan. Buy the Dip vs DCA Tidak ada pendekatan yang otomatis sesuai untuk semua orang. Pilihan bergantung pada tujuan, kondisi keuangan, toleransi risiko, jangka waktu, dan pemahaman terhadap aset. Bitcoin 2026 dan Bitcoin 2021: Harga Serupa, Konteks Berbeda Pada November 2021, Bitcoin mencapai puncak mendekati US$69.000 sebelum memasuki periode penurunan besar pada tahun berikutnya. Pada Juli 2026, Bitcoin kembali berada di area harga yang berdekatan dengan referensi tersebut. Namun, pengguna tidak boleh menyimpulkan bahwa pola setelahnya pasti akan sama. Pelaku pasar, kondisi likuiditas, produk institusional, regulasi, dan lingkungan ekonomi telah berubah. Riwayat harga dapat memberikan konteks, tetapi tidak dapat digunakan untuk menjamin arah berikutnya. Pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa saya ingin memiliki Bitcoin, berapa lama saya siap memegangnya, berapa besar penurunan yang dapat saya toleransi, dan apakah kondisi keuangan saya mendukung keputusan ini? Checklist Sebelum Buy the Dip atau DCA 1. Dana darurat sudah tersedia. 2. Dana yang digunakan tidak dibutuhkan untuk kebutuhan jangka pendek. 3. Utang berbunga tinggi sudah dipertimbangkan. 4. Tujuan transaksi dan jangka waktunya sudah jelas. 5. Batas nominal sudah ditentukan. 6. Pengguna memahami volatilitas Bitcoin. 7. Tidak menggunakan leverage yang tidak dipahami. 8. Keputusan tidak hanya didasarkan pada influencer, FOMO, atau tekanan sosial. 9. Harga dan informasi pasar telah diperiksa. 10. Pengguna siap menghadapi penurunan lanjutan. Gunakan Informasi, Bukan Emosi Penurunan harga dapat menciptakan peluang bagi sebagian pengguna, tetapi juga dapat menghasilkan kerugian bagi pengguna yang masuk tanpa perencanaan. Buy the dip memerlukan penilaian terhadap harga dan penggunaan modal. DCA mengurangi kebutuhan untuk menentukan satu waktu pembelian, tetapi tetap membawa risiko pasar. Sebelum mengambil keputusan, cek harga dan pergerakan Bitcoin di Pasar FLOQ dan pelajari manajemen risiko kripto melalui FLOQ Academy. <Diolah dari berbagai sumber> Disclaimer: Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian akibat volatilitas harga pasar. Seluruh informasi yang tersedia hanya bersifat umum dan bukan merupakan ajakan, penawaran, saran, maupun rekomendasi investasi. Kami menghimbau seluruh konsumen untuk melakukan riset dan mempertimbangkan keputusan investasi secara matang sebelum melakukan transaksi aset kripto. Konsumen juga diharapkan untuk bertransaksi sesuai dengan profil risiko dan kemampuan finansial masing-masing serta tidak menggunakan dana yang berada di luar batas kemampuan.

Dupoin Futures Ungkap Alasan Harga Emas Berpotensi Turun ke Area Support 3.873 Internasional
Internasional
Minggu, 19 Juli 2026 | 15:07 WIB

Dupoin Futures Ungkap Alasan Harga Emas Berpotensi Turun ke Area Support 3.873

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas pada perdagangan di pertengahan Juli 2026 diperkirakan masih berada dalam tekanan setelah berbagai indikator teknikal dan fundamental belum menunjukkan sinyal perubahan tren yang berarti. Menurut analisis terbaru Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai kecenderungan pelemahan masih menjadi skenario utama selama harga belum mampu menembus sejumlah level resistance penting. "Meski volatilitas pasar masih berpotensi meningkat akibat rilis data ekonomi Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik global, Dupoin Futures melihat peluang penurunan harga emas masih lebih besar dibandingkan potensi penguatan dalam jangka pendek," ujarnya. Kata Gelardo, pada grafik time frame Daily, struktur pergerakan emas masih memperlihatkan dominasi tren bearish. Harga hingga kini belum berhasil mencatatkan penutupan perdagangan di atas kisaran resistance 4.102 hingga 4.179, sehingga belum ada konfirmasi teknikal yang mengindikasikan perubahan arah menuju tren naik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan dari pihak penjual masih relatif kuat dan mampu membatasi setiap upaya pemulihan harga yang terjadi dalam beberapa sesi terakhir. Ia menjelaskan kegagalan harga menembus area resistance tersebut membuat peluang pembalikan tren masih cukup terbatas. Oleh karena itu, setiap kenaikan yang terjadi dalam waktu dekat masih berpotensi bersifat sementara atau hanya menjadi bagian dari secondary trend, sebelum harga kembali melanjutkan tren penurunan yang menjadi arah utama pasar saat ini. Dupoin Futures menyoroti posisi harga yang masih bergerak di bawah Moving Average (MA) 21 dan Moving Average (MA) 34. Kedua indikator tersebut masih berfungsi sebagai dynamic resistance, yang terus menjadi penghalang bagi laju penguatan emas. Selama harga belum mampu bergerak dan bertahan di atas area tersebut, Dupoin Futures menilai struktur bearish masih tetap valid dan belum menunjukkan indikasi perubahan yang signifikan. Selain itu, indikator Stochastic Oscillator juga masih menggambarkan momentum pelemahan yang cukup kuat. Menurut pengamatan Dupoin Futures, indikator tersebut belum memperlihatkan sinyal bullish reversal yang dapat menjadi dasar perubahan tren. Hal ini semakin memperkuat pandangan bahwa tekanan jual masih mendominasi pergerakan harga emas dalam jangka pendek hingga menengah. Dengan mempertimbangkan berbagai sinyal teknikal tersebut, Dupoin Futures memproyeksikan harga emas berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area support di level 3.981. Apabila tekanan jual semakin meningkat dan level tersebut berhasil ditembus, maka peluang penurunan menuju support berikutnya di kisaran 3.873 akan semakin terbuka. Area tersebut dipandang sebagai level penting yang perlu diperhatikan oleh para pelaku pasar dalam menentukan strategi transaksi berikutnya. Di sisi fundamental, Dupoin Futures melihat prospek emas masih dibayangi oleh sentimen yang cenderung negatif. Salah satu faktor utama berasal dari penguatan dolar Amerika Serikat yang masih didukung oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Kebijakan tersebut membuat aset berbasis dolar tetap menarik di mata investor dan secara bersamaan mengurangi daya tarik emas sebagai instrumen investasi yang tidak memberikan imbal hasil. Masih menurut Dupoin Futures, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury Yield) juga menjadi faktor lain yang memberikan tekanan terhadap harga emas. Ketika yield obligasi meningkat, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan tingkat pengembalian lebih kompetitif dibandingkan emas. Kondisi ini menyebabkan permintaan terhadap logam mulia berpotensi menurun sehingga ruang kenaikan harga menjadi semakin terbatas. Tetapi, Dupoin Futures mengingatkan bahwa dinamika pasar global tetap perlu dicermati karena dapat mengubah sentimen sewaktu-waktu. Rilis data inflasi Amerika Serikat, laporan ketenagakerjaan, perkembangan aktivitas ekonomi, hingga komentar dari pejabat Federal Reserve akan menjadi faktor penting yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan dolar AS maupun harga emas. Jika data ekonomi menunjukkan perlambatan atau bank sentral mulai memberikan sinyal kebijakan moneter yang lebih longgar, tekanan terhadap emas dapat berkurang dan membuka peluang terjadinya pemulihan harga. Selain faktor ekonomi, Dupoin Futures juga menilai bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik atau munculnya risiko baru terhadap perekonomian global masih dapat mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Namun, selama penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi tetap mendominasi sentimen pasar, potensi kenaikan emas diperkirakan masih akan terbatas. Secara keseluruhan, Dupoin Futures menegaskan bahwa prospek harga emas masih cenderung bearish. Selama harga belum mampu menembus dan bertahan di atas area resistance 4.102–4.179, serta masih bergerak di bawah Moving Average 21 dan Moving Average 34, tekanan jual diperkirakan tetap mendominasi pasar. Berdasarkan kombinasi analisis teknikal dan fundamental tersebut, Dupoin Futures memproyeksikan harga emas masih berpeluang melanjutkan pelemahan menuju area support 3.981 hingga 3.873, meskipun pelaku pasar tetap perlu mengantisipasi potensi volatilitas yang dipicu oleh perkembangan data ekonomi Amerika Serikat maupun dinamika geopolitik global.

Bitcoin Masih Berisiko Turun ke US$50.000 Meski Peluang Rebound Belum Tertutup Internasional
Internasional
Jumat, 03 Juli 2026 | 12:05 WIB

Bitcoin Masih Berisiko Turun ke US$50.000 Meski Peluang Rebound Belum Tertutup

Jakarta, katakabar.com - FLOQ merilis laporan Market Outlook pekan keempat Juni 2026 yang menunjukkan bahwa pasar kripto masih berada dalam fase ketidakpastian tinggi setelah Bitcoin (BTC) kehilangan level psikologis US$60.000. Meski harga sempat pulih ke kisaran US$62.000, FLOQ menilai pergerakan tersebut belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pembalikan tren. Tekanan terhadap pasar kripto saat ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor makroekonomi global, keluarnya dana investor institusi dari Spot Bitcoin ETF, hingga meningkatnya perhatian pasar terhadap perkembangan regulasi aset digital di Amerika Serikat melalui CLARITY Act. Menurut Yudhono Rawis, CEO & Founder FLOQ, investor perlu melihat kondisi pasar secara lebih menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada pergerakan harga harian. "Breakdown di bawah US$60.000 memang menjadi sinyal penting karena level tersebut selama ini dipandang sebagai support psikologis Bitcoin. Namun, investor juga perlu memahami bahwa pergerakan pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor makro global dibandingkan fundamental Bitcoin itu sendiri. Karena itu, kami melihat fase saat ini sebagai periode konfirmasi, bukan titik untuk mengambil keputusan secara emosional," ujar Yudho. Tekanan Makro Masih Mendominasi Pergerakan Bitcoin Dalam laporan tersebut, FLOQ menjelaskan bahwa penurunan Bitcoin pada 24 Juni hingga menyentuh level intraday US$59.023 dipicu oleh beberapa faktor yang terjadi secara bersamaan. Penguatan dolar Amerika Serikat, kenaikan imbal hasil US Treasury setelah sikap hawkish Federal Reserve, serta aksi jual pada saham-saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) mendorong investor global mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto. Kondisi tersebut diperparah oleh likuidasi lebih dari US$850 juta dalam waktu 24 jam, yang sebagian besar berasal dari posisi long berleverage. Efek domino dari likuidasi tersebut turut menekan Ethereum (ETH), Solana (SOL), XRP, hingga saham perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap Bitcoin. Secara teknikal, Bitcoin juga masih diperdagangkan di bawah sejumlah indikator moving average utama, sehingga struktur downtrend dinilai masih aktif. Area US$64.000 kini menjadi resistance penting yang harus ditembus sebelum pasar dapat mengonfirmasi pemulihan yang lebih kuat. Bitcoin Treasury Mulai Menghadapi Ujian Selain pergerakan harga Bitcoin, FLOQ juga menyoroti tekanan yang mulai dirasakan perusahaan-perusahaan dengan strategi Bitcoin Treasury seperti Strategy dan Strive. Perusahaan-perusahaan tersebut diketahui melakukan akumulasi Bitcoin pada harga rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan harga pasar saat ini. Di tengah pelemahan harga, investor mulai mempertanyakan keberlanjutan model pendanaan berbasis leverage maupun preferred equity yang digunakan untuk membiayai pembelian Bitcoin. Menurut FLOQ, tantangan terbesar bukan hanya berasal dari potensi unrealized loss, tetapi juga kewajiban pembayaran dividen dan kebutuhan likuiditas apabila pasar bearish berlangsung lebih lama. "Model Bitcoin Treasury belum pernah benar-benar diuji dalam periode penurunan harga yang panjang. Apabila tekanan harga terus berlanjut, investor akan mulai lebih memperhatikan kemampuan perusahaan dalam mengelola arus kas dibanding sekadar jumlah Bitcoin yang dimiliki," jelas Yudho. Outflow ETF Menunjukkan Investor Institusi Masih Berhati-hati FLOQ mencatat Spot Bitcoin ETF masih mengalami tekanan dengan outflow kumulatif sekitar US$6 miliar dalam enam minggu terakhir. Meski sempat terjadi inflow pada 23 Juni, jumlah tersebut dinilai belum cukup untuk membalikkan tren. FLOQ menilai pasar membutuhkan arus dana masuk yang konsisten sebelum dapat menyimpulkan bahwa tekanan jual mulai mereda. Di sisi lain, data on-chain masih menunjukkan aktivitas akumulasi oleh long-term holder dan whale. Namun, akumulasi tersebut belum mampu mengimbangi tekanan dari redemption ETF. CLARITY Act Berpotensi Jadi Katalis Terbesar Tahun Ini Di tengah tekanan jangka pendek, FLOQ menilai perkembangan CLARITY Act masih menjadi katalis positif terbesar bagi pasar aset digital sepanjang tahun 2026. Teks final regulasi tersebut dijadwalkan dirilis pada awal Juli sebelum memasuki tahap floor vote pada bulan yang sama. Apabila berhasil disahkan, Bitcoin dan Ethereum berpotensi memperoleh kepastian hukum sebagai digital commodity di bawah pengawasan Commodity Futures Trading Commission (CFTC). "Pasar saat ini sedang mencari katalis baru. Jika CLARITY Act berhasil disahkan, dampaknya bukan hanya terhadap harga Bitcoin dalam jangka pendek, tetapi juga terhadap meningkatnya kepastian regulasi yang selama ini menjadi perhatian investor institusi. Ini berpotensi menjadi fondasi pertumbuhan industri aset digital dalam jangka panjang," sebut Yudho. Tiga Skenario Bitcoin Waktu Dekat Dalam Market Outlook pekan ini, FLOQ memetakan tiga kemungkinan pergerakan Bitcoin dalam beberapa minggu ke depan. Skenario pertama adalah recovery terkonfirmasi, apabila Bitcoin mampu bertahan di atas US$62.000 selama lebih dari tiga hari berturut-turut, didukung inflow ETF yang kembali positif, data inflasi PCE Amerika Serikat yang melandai, serta stabilnya Nasdaq. Dalam kondisi tersebut, Bitcoin berpotensi bergerak menuju kisaran US$64.000 hingga US$68.000. Skenario kedua adalah konsolidasi, di mana Bitcoin diperkirakan bergerak dalam rentang US$59.000 - US$63.000 sambil menunggu perkembangan data ekonomi dan regulasi. Sementara, skenario ketiga adalah breakdown lanjutan apabila Bitcoin kembali kehilangan level US$59.000 dengan volume transaksi yang besar. Dalam kondisi tersebut, target koreksi menuju US$50.000 - US$51.000 dinilai semakin realistis. Investor Diminta Tetap Kedepankan Manajemen Risiko FLOQ mengimbau investor untuk tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko selama volatilitas pasar masih tinggi. Investor pemula disarankan menghindari panic selling maupun keputusan investasi yang didorong oleh euforia sesaat. Bagi investor jangka panjang, strategi akumulasi bertahap atau Dollar Cost Averaging (DCA) masih dapat dipertimbangkan selama dilakukan sesuai profil risiko dan tujuan investasi. Sedang, trader jangka pendek disarankan menunggu konfirmasi arah pasar, khususnya di area US$62.000 - US$63.000 yang masih menjadi level penentu dalam waktu dekat. "Volatilitas merupakan bagian dari karakter pasar kripto. Yang membedakan investor yang berhasil bukanlah kemampuan menebak harga berikutnya, melainkan kemampuan mengelola risiko dan tetap disiplin terhadap strategi investasi yang telah dibuat," tutup Yudho. Disclaimer: Laporan Market Outlook FLOQ disusun berdasarkan data publik hingga 25 Juni 2026 dan bertujuan sebagai informasi serta edukasi. Seluruh informasi dalam laporan ini bukan merupakan rekomendasi investasi maupun ajakan untuk membeli atau menjual aset kripto. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Harga Emas Masih Lesu, Analis Dupoin Futures Prediksi Turun ke 4.446 Internasional
Internasional
Sabtu, 06 Juni 2026 | 07:30 WIB

Harga Emas Masih Lesu, Analis Dupoin Futures Prediksi Turun ke 4.446

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas dunia masih dibayangi tekanan jual pada perdagangan hari Rabu (3/6) lalu. Meskipun pasar sempat menunjukkan fase konsolidasi dalam beberapa sesi terakhir, sinyal teknikal maupun fundamental mengindikasikan bahwa tren pelemahan masih menjadi skenario yang lebih dominan dalam jangka pendek. Berdasarkan analisis Dupoin Futures yang disampaikan oleh analis Geraldo Kofit, pasangan XAU/USD pada timeframe daily belum memperlihatkan tanda-tanda pemulihan yang cukup kuat untuk mengubah arah tren utama. Harga emas masih bergerak di bawah sejumlah level teknikal penting yang selama ini menjadi acuan pelaku pasar dalam menentukan arah pergerakan selanjutnya. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah kegagalan harga emas menembus area resistance di level 4.545. Dalam beberapa kali percobaan, harga belum mampu bertahan di atas level tersebut, yang menunjukkan bahwa tekanan jual masih cukup kuat untuk menahan laju kenaikan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar masih cenderung berhati-hati dan belum memiliki keyakinan yang cukup untuk mendorong harga ke level yang lebih tinggi. Selain itu, pergerakan harga juga membentuk pola candlestick Doji. Pola ini umumnya muncul ketika pasar sedang berada dalam kondisi seimbang antara tekanan beli dan tekanan jual. Artinya, baik buyer maupun seller sama-sama belum mampu mengambil kendali penuh terhadap arah pergerakan harga. Tetapi, karena pola Doji tersebut muncul di tengah tren yang masih cenderung turun, sinyal yang dihasilkan belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pembalikan arah menuju tren bullish. Sebaliknya, pola tersebut lebih menggambarkan bahwa pasar sedang menunggu sentimen baru yang dapat menjadi pemicu pergerakan berikutnya. Dari sisi indikator teknikal, posisi harga yang masih berada di bawah Moving Average (MA) 21 dan MA 50 juga memperkuat pandangan bearish. Kedua indikator tersebut masih berfungsi sebagai area resistance dinamis yang membatasi ruang penguatan harga emas. Selama harga belum mampu menembus dan bertahan di atas area tersebut, peluang kenaikan masih dinilai cukup terbatas. Sementara, indikator stochastic belum menunjukkan arah yang tegas. Pergerakannya yang relatif datar menggambarkan bahwa momentum pasar masih lemah dan belum ada dorongan kuat yang mampu mengubah arah tren. Meski demikian, munculnya tekanan jual pada awal perdagangan menjadi petunjuk bahwa pelaku pasar masih lebih condong mengambil posisi jual dibandingkan membeli. Dalam proyeksi jangka pendek, area support terdekat yang menjadi perhatian berada di level 4.446. Level ini diperkirakan akan menjadi titik uji penting bagi harga emas dalam beberapa sesi perdagangan ke depan. Jika area tersebut tidak mampu menahan tekanan jual, maka peluang penurunan menuju support berikutnya di level 4.365 akan semakin terbuka. Dari sisi fundamental, kondisi pasar juga masih belum sepenuhnya mendukung penguatan harga emas. Salah satu faktor utama yang menekan pergerakan logam mulia adalah masih kuatnya dolar Amerika Serikat. Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga berpotensi mengurangi permintaan global terhadap aset tersebut. Selain faktor dolar, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury Yield juga menjadi tantangan bagi harga emas. Ketika obligasi menawarkan tingkat pengembalian yang menarik, sebagian investor cenderung mengalihkan dana mereka ke instrumen tersebut dibandingkan menyimpan aset pada emas yang tidak memberikan imbal hasil tetap. Pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan kebijakan Federal Reserve. Hingga saat ini, ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi masih cukup kuat. Jika data ekonomi Amerika Serikat, terutama inflasi dan pasar tenaga kerja, tetap menunjukkan kinerja yang solid, maka peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat akan semakin kecil. Situasi tersebut berpotensi menjaga penguatan dolar AS dan mempertahankan tekanan terhadap harga emas. Di sisi lain, sentimen pasar global yang relatif stabil juga membuat minat terhadap aset safe haven belum mengalami peningkatan yang signifikan. Secara keseluruhan, prospek harga emas masih cenderung bearish dalam jangka pendek. Kombinasi tekanan teknikal dan fundamental membuat ruang kenaikan masih terbatas, sementara risiko penurunan tetap perlu diwaspadai. Selama harga belum mampu menembus area resistance utama di 4.545 dan masih bergerak di bawah MA 21 serta MA 50, peluang pelemahan menuju area 4.446 hingga 4.365 diperkirakan masih terbuka. Karena itu, investor dan trader disarankan untuk tetap memperhatikan perkembangan data ekonomi Amerika Serikat, arah kebijakan Federal Reserve, serta pergerakan dolar AS yang dapat menjadi faktor penentu arah harga emas dalam beberapa waktu mendatang.

Emas Masih Tertekan, Peluang Turun ke Area 4.306 Terbuka Internasional
Internasional
Jumat, 05 Juni 2026 | 14:04 WIB

Emas Masih Tertekan, Peluang Turun ke Area 4.306 Terbuka

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas dunia masih menghadapi tekanan pada perdagangan awal Juni 2026. Sejumlah faktor teknikal dan fundamental menunjukkan tren penurunan belum sepenuhnya berakhir, sehingga pelaku pasar masih perlu mewaspadai potensi koreksi lanjutan dalam jangka pendek. Menurut analisis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, pasangan XAU/USD pada timeframe daily masih bergerak dalam tren bearish yang cukup kuat. Secara teknikal, ujarnya, harga emas belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan. Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah posisi harga yang masih berada di bawah Moving Average (MA) 21 dan MA 50. Sedang analisis pasar, ulasnya, kedua indikator tersebut sering digunakan untuk mengidentifikasi arah tren utama. Ketika harga bergerak di bawah area tersebut, kondisi itu umumnya mengindikasikan tekanan jual masih mendominasi dan pasar belum memiliki momentum yang cukup kuat untuk berbalik arah. Geraldo Kofit menjelaskan kegagalan harga emas untuk kembali menembus area MA 21 dan MA 50 menunjukkan bahwa sentimen bearish masih cukup dominan. Meskipun sempat terjadi pergerakan naik dalam beberapa sesi sebelumnya, penguatan tersebut belum mampu mengubah struktur tren yang masih cenderung turun. "Dengan kondisi tersebut, peluang pelemahan harga masih terbuka dalam waktu dekat. Area support terdekat yang menjadi perhatian berada di level 4.365. Jika tekanan jual terus berlanjut dan level tersebut berhasil ditembus, maka harga emas berpotensi bergerak menuju area support berikutnya di kisaran 4.306," imbuhnya. Level-level tersebut menjadi area penting yang akan dipantau pelaku pasar karena berpotensi menjadi titik reaksi harga. Selama belum ada sinyal teknikal yang menunjukkan pembalikan tren secara jelas, skenario penurunan masih dianggap lebih dominan dibandingkan potensi kenaikan. Selain faktor teknikal, kondisi fundamental global juga masih memberikan tekanan terhadap pergerakan emas. Salah satu faktor utama yang memengaruhi harga saat ini adalah penguatan dolar Amerika Serikat yang masih relatif stabil. Dalam kondisi normal, pergerakan emas dan dolar AS cenderung memiliki hubungan yang berlawanan arah. Ketika dolar menguat, harga emas biasanya mengalami tekanan karena menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar. Kondisi tersebut membuat sebagian investor memilih untuk meningkatkan eksposur pada aset berbasis dolar AS dibandingkan emas. Apalagi saat ini instrumen keuangan berbasis dolar masih menawarkan tingkat imbal hasil yang cukup menarik. Faktor lain yang turut menekan harga emas adalah tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury Yield. Ketika yield obligasi berada di level tinggi, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen tersebut karena dinilai mampu memberikan keuntungan yang lebih pasti. Sebaliknya, emas yang tidak menghasilkan bunga atau imbal hasil tetap menjadi kurang menarik dalam kondisi tersebut. Tekanan terhadap emas juga datang dari ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve. Hingga saat ini, pelaku pasar masih memperkirakan bank sentral Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga pada level yang relatif tinggi selama data ekonomi belum menunjukkan pelemahan yang signifikan. Data ekonomi Amerika Serikat yang masih cukup solid, terutama dari sektor tenaga kerja dan inflasi, menjadi alasan mengapa pasar belum sepenuhnya yakin terhadap peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Situasi ini terus memberikan dukungan terhadap dolar AS dan secara tidak langsung membatasi ruang kenaikan harga emas. Di sisi lain, permintaan terhadap aset safe haven juga belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sentimen pasar global yang relatif stabil membuat investor lebih berani menempatkan dana pada aset berisiko seperti saham dan instrumen investasi lainnya. Akibatnya, minat terhadap emas sebagai aset pelindung nilai cenderung berkurang. Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan perkembangan ekonomi global yang dapat mengubah arah sentimen sewaktu-waktu. Ketidakpastian geopolitik, perubahan kebijakan bank sentral, maupun data ekonomi yang berada di luar ekspektasi dapat memicu pergerakan harga emas yang lebih volatil. Secara keseluruhan, prospek harga emas dalam jangka pendek masih cenderung bearish. Selama harga belum mampu kembali bergerak di atas area MA 21 dan MA 50, tekanan jual diperkirakan masih akan mendominasi pasar. Dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang ada saat ini, peluang penurunan menuju area support 4.365 hingga 4.306 masih terbuka dan menjadi level yang patut diperhatikan oleh para investor maupun trader emas.

Harga Emas Masih Rentan Turun, XAU/USD Diprediksi Menguji Area Support 4.247 Internasional
Internasional
Selasa, 02 Juni 2026 | 14:41 WIB

Harga Emas Masih Rentan Turun, XAU/USD Diprediksi Menguji Area Support 4.247

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas dunia pada perdagangan hari Kamis (28/5) lalu diperkirakan masih berada dalam tekanan. Menurut analisis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, pasangan XAU/USD pada timeframe daily masih menunjukkan kecenderungan bearish atau melemah, seiring tekanan jual yang belum mereda di pasar. Secara teknikal, tren penurunan harga emas masih terlihat cukup dominan. Hal tersebut tercermin dari posisi harga yang hingga kini masih bergerak di bawah indikator Moving Average (MA) 21 dan MA 50. Dalam analisis pasar, posisi tersebut umumnya menunjukkan bahwa arah tren utama masih berada dalam fase turun. Menurut Geraldo, kondisi ini menandakan bahwa tenaga beli belum cukup kuat untuk mendorong pembalikan arah harga. Sebaliknya, tekanan jual masih lebih mendominasi sehingga peluang pelemahan lanjutan masih terbuka dalam jangka pendek maupun menengah. Selain itu, harga emas juga baru saja mengalami breakout pada area support minor yang sebelumnya menjadi titik penting pergerakan harga. Setelah breakout terjadi, harga sempat melakukan retest atau pengujian ulang pada area tersebut sebelum kembali bergerak turun. Kondisi itu menjadi sinyal bahwa pasar masih berada dalam tekanan bearish. Selama harga belum mampu kembali naik dan bertahan di atas area resistance penting, maka potensi pelemahan diperkirakan masih akan berlanjut. Dalam proyeksi jangka pendek, area support yang menjadi perhatian pasar berada di kisaran 4.349 hingga 4.247. Level tersebut dinilai menjadi target penurunan berikutnya apabila tekanan jual tetap mendominasi perdagangan emas dunia. Dari sisi indikator tambahan, Stochastic Oscillator juga masih menunjukkan arah penurunan menuju area oversold atau jenuh jual. Meski area oversold sering dianggap sebagai sinyal bahwa harga sudah terlalu rendah, namun hingga saat ini belum muncul tanda pembalikan arah yang cukup kuat. Artinya, ruang pelemahan harga emas masih cukup terbuka sebelum pasar menemukan momentum baru untuk rebound. Karena itu, pelaku pasar masih perlu mewaspadai potensi koreksi lanjutan dalam beberapa waktu ke depan. Tak hanya dari sisi teknikal, tekanan terhadap harga emas juga datang dari faktor fundamental global. Salah satu faktor utama yang masih menekan harga emas adalah kuatnya dolar AS, serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury Yield. Kondisi tersebut membuat investor lebih tertarik pada aset berbasis dolar yang dinilai mampu memberikan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan emas. Sebagai aset non-yielding, emas memang cenderung kurang diminati ketika suku bunga dan yield obligasi berada di level tinggi. Selain itu, pasar juga masih memperkirakan Federal Reserve belum akan terburu-buru menurunkan suku bunga. Selama data ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan kondisi yang kuat, terutama dari sektor tenaga kerja dan inflasi, maka peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama masih cukup besar. Ekspektasi tersebut ikut memperkuat pergerakan dolar AS dan menjadi sentimen negatif bagi harga emas. Sebab, ketika dolar menguat, harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor global sehingga permintaan cenderung melemah. Di sisi lain, kondisi pasar global yang mulai lebih stabil juga mengurangi minat investor terhadap aset safe haven seperti emas. Ketika pelaku pasar mulai optimistis terhadap ekonomi dan pasar saham, dana investasi biasanya beralih ke aset berisiko yang dianggap lebih menguntungkan. Situasi itu membuat ruang kenaikan emas menjadi semakin terbatas dalam jangka pendek. Hingga saat ini, pasar juga masih menunggu sentimen baru yang cukup kuat untuk mengubah arah pergerakan harga. Secara keseluruhan, kombinasi tekanan teknikal dan fundamental membuat tren bearish pada XAU/USD masih cukup kuat. Selama harga belum mampu kembali bergerak di atas area MA 21 dan MA 50, peluang penurunan menuju area support 4.349 hingga 4.247 diperkirakan masih terbuka. Lantaran itu, investor disarankan tetap berhati-hati dan mencermati perkembangan sentimen global, terutama terkait arah kebijakan Federal Reserve, data ekonomi Amerika Serikat, serta pergerakan dolar AS yang dapat memengaruhi volatilitas harga emas dalam waktu dekat.

Harga Emas Tertekan, Risiko Turun ke 4.480 Masih Terbuka Internasional
Internasional
Rabu, 29 April 2026 | 16:10 WIB

Harga Emas Tertekan, Risiko Turun ke 4.480 Masih Terbuka

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas dunia pada perdagangan Selasa (28/4) kemarin diprediksi masih berada dalam tekanan, seiring belum adanya sinyal kuat yang menunjukkan kelanjutan tren kenaikan.  Dupoin Futures melalui analisnya, Geraldo Kofit, menilai kondisi pasar saat ini justru mengarah pada potensi pelemahan lanjutan, terutama setelah harga gagal menembus sejumlah level penting di area resistance. Dari sisi teknikal, katanya, harga emas pada timeframe harian terlihat kesulitan untuk melanjutkan kenaikan setelah tertahan di level 4.741 dan kembali gagal menembus resistance kuat di kisaran 4.832. Kegagalan ini menjadi indikasi bahwa dorongan beli mulai melemah dan pasar kehilangan momentum untuk bergerak lebih tinggi. "Di kondisi seperti ini, pergerakan harga cenderung beralih ke fase koreksi. Fase ini merupakan bagian normal dari siklus pasar, di mana harga mengalami penurunan sementara setelah sebelumnya mencatat kenaikan yang cukup signifikan. Koreksi tersebut dikenal sebagai secondary trend, yang biasanya terjadi sebelum pasar menentukan arah berikutnya," jelasnya. Dengan tekanan yang masih dominan, harga emas diperkirakan berpotensi turun menuju area support di sekitar 4.592. Level ini menjadi titik awal yang akan diuji oleh pasar dalam waktu dekat. Jika tekanan jual masih berlanjut dan level tersebut tidak mampu menahan penurunan, maka harga berpeluang bergerak lebih dalam hingga ke kisaran 4.480. Tetapu, kupasnya, area support tersebut tetap menjadi level krusial. Jika harga mampu bertahan, tidak menutup kemungkinan terjadi pergerakan konsolidasi atau bahkan pantulan sementara sebelum arah selanjutnya terbentuk. Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati respons harga di area tersebut. "Dari sisi fundamental, tekanan terhadap emas masih dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika Serikat. Dalam kondisi dolar yang kuat, harga emas cenderung melemah karena menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Hal ini berdampak pada menurunnya permintaan global terhadap emas," terangnya. Selain itu, lanjutnya, kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan oleh Federal Reserve juga menjadi faktor utama yang menekan harga emas. Tingginya suku bunga membuat instrumen investasi berbasis imbal hasil seperti obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga. "Kondisi ini diperkuat oleh imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih berada di level tinggi. Ketika yield meningkat, investor cenderung memindahkan dana mereka ke aset yang memberikan keuntungan tetap, sehingga minat terhadap emas berkurang," ucapnya. Di sisi lain, imbuhnya, situasi pasar global yang relatif stabil juga ikut menekan harga emas. Dalam kondisi pasar yang cenderung positif atau risk-on, investor biasanya lebih memilih aset berisiko dengan potensi imbal hasil lebih tinggi, sehingga permintaan terhadap aset safe haven seperti emas menjadi berkurang. Secara keseluruhan, kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut membuat prospek harga emas dalam jangka pendek masih cenderung negatif. Selama harga belum mampu kembali menembus area resistance penting, tekanan penurunan diperkirakan masih akan mendominasi pergerakan. Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan perkembangan global yang dapat memengaruhi arah harga. Perubahan sentimen yang terjadi secara tiba-tiba, baik dari data ekonomi maupun faktor geopolitik, dapat memicu pergerakan yang cukup signifikan. Dengan kondisi pasar yang masih dinamis, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan fokus pada level-level penting sebagai acuan. Pendekatan yang disiplin dan berbasis analisis dinilai menjadi kunci untuk menghadapi volatilitas harga emas saat ini.

Harga Emas Sulit Bangkit, Tren Turun Masih Mendominasi Internasional
Internasional
Minggu, 26 April 2026 | 14:08 WIB

Harga Emas Sulit Bangkit, Tren Turun Masih Mendominasi

Jakarta, katakabar.com - Harga emas dunia diprediksi masih bergerak dalam tekanan, seiring sinyal pelemahan yang cukup kuat dari sisi teknikal serta dukungan faktor fundamental yang belum berpihak pada penguatan.  Dupoin Futures melalui analisnya, Geraldo Kofit, menilai pergerakan XAU/USD dalam jangka pendek masih berada dalam tren turun, dengan potensi penurunan lanjutan yang perlu diwaspadai pelaku pasar. "Secara teknikal, harga emas saat ini masih tertahan di bawah indikator Moving Average 21 dan 34. Kedua indikator tersebut berfungsi sebagai resistance dinamis yang belum berhasil ditembus oleh harga. Kondisi ini mencerminkan tekanan jual di pasar masih cukup dominan, sehingga peluang untuk kembali melemah masih terbuka," ujar Geraldo. Selain itu, kata Geraldo, pola pergerakan harga juga menunjukkan terbentuknya formasi bearish pennant, yang umumnya menjadi sinyal kelanjutan tren turun. Pola ini biasanya muncul setelah fase penurunan yang cukup tajam dan menandakan pasar sedang bersiap untuk melanjutkan pelemahan. "Dengan adanya sinyal ini, arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek masih cenderung negatif," jelasnya. Dalam proyeksi pergerakannya, sambung Geraldo, harga emas diperkirakan berpotensi turun menuju area support terdekat di kisaran 4.668. Level ini menjadi titik penting yang akan diuji oleh pasar dalam waktu dekat. Jika tekanan jual masih berlanjut dan level tersebut tidak mampu menahan penurunan, maka harga berpotensi melanjutkan pelemahan ke level berikutnya di sekitar 4.644. Tetapi, imbuh Geraldo, area support tersebut juga berpotensi menjadi titik penahan sementara yang dapat memicu pergerakan konsolidasi atau bahkan rebound jangka pendek. Oleh karena itu, respons harga di area tersebut akan menjadi kunci dalam menentukan arah pergerakan selanjutnya. Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas masih dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika Serikat. Ketika nilai dolar meningkat, harga emas cenderung mengalami tekanan karena menjadi lebih mahal bagi investor global. Hal ini membuat permintaan terhadap emas cenderung menurun dalam jangka pendek," sebutnya. Selain itu, ulas Geraldo lagi, kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih mempertahankan suku bunga pada level tinggi juga menjadi faktor utama yang membebani harga emas. Suku bunga yang tinggi membuat instrumen investasi berbasis imbal hasil seperti obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil. "Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga memperkuat tekanan tersebut. Dalam kondisi yield yang meningkat, biaya peluang untuk memegang emas menjadi lebih tinggi, sehingga investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang menawarkan imbal hasil lebih besar," bebernya. Di sisi lain, ucap Geraldo, kondisi pasar global yang relatif stabil turut mengurangi minat investor terhadap emas sebagai aset safe haven. Ketika sentimen pasar berada dalam kondisi positif atau risk-on, investor biasanya lebih memilih aset berisiko yang memberikan potensi keuntungan lebih tinggi, sehingga permintaan terhadap emas menurun. "Secara keseluruhan, kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut membuat prospek harga emas dalam jangka pendek masih cenderung lemah. Selama harga belum mampu menembus area resistance penting, tekanan penurunan diperkirakan masih akan mendominasi pergerakan pasar," terangnya. Namun demikian, tambanya, pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi arah harga. Perubahan sentimen secara tiba-tiba, baik dari data ekonomi maupun faktor geopolitik, dapat memicu volatilitas yang cukup tinggi.

Tim Was Ops Itwasda Polda Riau Cek Langsung Operasi Lilin 2025 di Tanah Jantan Riau
Riau
Senin, 29 Desember 2025 | 09:42 WIB

Tim Was Ops Itwasda Polda Riau Cek Langsung Operasi Lilin 2025 di Tanah Jantan

Kepulauan Meranti, katakabar.com - Komitmen memastikan pengamanan Natal dan Tahun Baru berjalan maksimal, Tim Pengawasan Operasi (Was Ops) Itwasda Polda Riau turun langsung melakukan pengawasan Operasi Lilin Lancang Kuning (LK) 2025 di wilayah hukum Polres Kepulauan Meranti, berjuluk 'Tanah Jantan,' Minggu (28/11). Sejumlah titik strategis menjadi sasaran pengecekan, mulai dari Pos Pelayanan Pelabuhan Penumpang Tanjung Harapan, Pos Pengamanan Taman Cik Puan, hingga Markas Komando (Mako) Polres Kepulauan Meranti. Tim Was Ops dipimpin, Kompol Deni Afriza bersama Iptu Dodi Fejri, Aiptu Iswandi, dan Hengki Irawan. Kedatangan tim disambut Wakapolres Kepulauan Meranti, Kompol Detis Mayer SilitongaS.H., mewakili Kapolres AKBP Aldi Alfa Faroqi, bersama jajaran pejabat utama, personel Polres, Basarnas, serta Satpol PP Kepulauan Meranti. Sekitar pukul 11.45 WIB, Tim Was Ops tiba di Pelabuhan Tanjung Harapan dan langsung melakukan pemeriksaan kesiapan personel, kelengkapan pos, serta administrasi pendukung operasi. Pemeriksaan serupa juga dilakukan di Pos Pam Taman Cik Puan dan Mako Polres Kepulauan Meranti. “Pengawasan ini untuk memastikan seluruh personel siap, perlengkapan lengkap, dan administrasi berjalan sesuai aturan,” ujar Ketua Tim Was Ops Itwasda Polda Riau, Kompol Deni Afriza. Menurutnya, hasil pengawasan menunjukkan pelaksanaan Operasi Lilin LK-2025 di Polres Kepulauan Meranti sudah berjalan sesuai rencana. Meski begitu, ia menekankan pentingnya ketelitian dan konsistensi dalam pelaporan agar evaluasi ke depan semakin optimal. Kompol Deni juga menyebut, kegiatan pengawasan ini berdampak positif terhadap kedisiplinan personel dan kesiapsiagaan sarana prasarana dalam pengamanan Natal dan Tahun Baru 2026. Tak lupa, ia mengingatkan masyarakat bahwa Polres Kepulauan Meranti menyediakan layanan Call Center 110, layanan cepat dan gratis tanpa dipungut biaya, untuk melaporkan gangguan kamtibmas atau membutuhkan bantuan kepolisian. “Dengan pengawasan ini, kami berharap pelayanan kepada masyarakat selama Natal dan Tahun Baru semakin aman, nyaman, dan kondusif,” jelasnya.

Transaksi Kripto RI Turun 24,5 Persen, Tokocrypto Dorong Likuiditas lewat Deposit BCA Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 18 Desember 2025 | 16:00 WIB

Transaksi Kripto RI Turun 24,5 Persen, Tokocrypto Dorong Likuiditas lewat Deposit BCA

Jakarta, katakabar.com - Aktivitas perdagangan aset kripto di Indonesia mengalami perlambatan menjelang akhir tahun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi aset kripto pada November 2025 mencapai Rp37,20 triliun, turun 24,53 persen dibandingkan Oktober 2025 yang tercatat sebesar Rp49,29 triliun. Meski demikian, secara kumulatif sepanjang tahun 2025 (year to date/ytd), total nilai transaksi aset kripto masih tercatat signifikan, yakni mencapai Rp446,77 triliun. Di tengah dinamika pasar tersebut, Tokocrypto mencatatkan kinerja yang tetap solid. Hingga November 2025, total nilai transaksi di Tokocrypto telah mendekati Rp150 triliun, mencerminkan tingginya minat dan partisipasi pengguna meskipun pasar global tengah berada dalam fase koreksi. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menjelaskan penurunan transaksi secara umum sejalan dengan pergerakan harga Bitcoin yang diperkirakan mencatatkan bulan terburuk kedua sepanjang 2025. Pada November, harga Bitcoin terkoreksi lebih dari 17 persen akibat kombinasi arus keluar dana ETF Bitcoin, melemahnya permintaan institusional, serta meningkatnya tekanan jual dari investor jangka pendek. “Tekanan pasar global semakin besar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperluas kebijakan tarif terhadap China pada 10 Oktober 2025, yang memicu penilaian ulang risiko di pasar global. Volatilitas berlanjut hingga November dan diperparah oleh penutupan pemerintahan AS yang memecahkan rekor, sehingga memperketat likuiditas di pasar keuangan tradisional,” jelas Calvin. Selain faktor makroekonomi, kata Calvin, arus dana institusional juga menunjukkan pelemahan. Data SoSo Value mencatat ETF Bitcoin di Amerika Serikat mengalami arus keluar dana sebesar US$3,48 miliar sepanjang November, menjadi arus keluar bulanan terbesar kedua sejak produk tersebut diluncurkan pada 2024. Kondisi ini turut memengaruhi sentimen investor domestik, yang cenderung mengambil posisi wait and see menjelang musim liburan akhir tahun dan perayaan Natal. Menurut Calvin, koreksi pasar merupakan bagian dari siklus industri kripto yang perlu disikapi secara bijak. “Kami melihat pasar kripto global memang sedang berada dalam fase koreksi yang berdampak pada psikologi investor, termasuk di Indonesia yang cenderung bersikap wait and see menjelang akhir tahun. Namun, minat terhadap aset kripto tetap kuat,” jelasnya. Akselerasi Volume Transaksi Kripto Menanggapi kondisi tersebut, Tokocrypto mengambil langkah strategis untuk mendorong kembali aktivitas transaksi kripto di Indonesia dengan menghadirkan kanal deposit baru melalui Bank Central Asia (BCA). Menjawab tingginya permintaan pengguna, Tokocrypto kini resmi membuka fitur deposit melalui Virtual Account BCA. Dengan metode ini, proses deposit Rupiah menjadi lebih mudah, cepat, dan nyaman tanpa biaya tambahan, sehingga pengguna dapat memilih metode transaksi yang paling sesuai dengan kebutuhannya. Calvin menambahkan, peluncuran fitur deposit BCA menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk meningkatkan kemudahan akses bagi pengguna. “Peluncuran fitur deposit melalui Virtual Account BCA merupakan jawaban atas permintaan banyak pengguna agar proses top up Rupiah bisa lebih cepat dan praktis tanpa biaya tambahan. Kami percaya kemudahan akses menjadi kunci untuk menjaga likuiditas dan mendorong aktivitas transaksi, terutama di periode akhir tahun ketika volume perdagangan biasanya melambat,” ucapnya. Lebih lanjut, Calvin menilai periode akhir tahun tetap menyimpan peluang menarik di pasar kripto, meski volatilitas masih menjadi karakter utama. Secara historis, Bitcoin kerap menunjukkan pola musiman yang dikenal sebagai “Santa Claus rally”, yakni kecenderungan penguatan harga pada pekan menjelang Natal hingga periode setelah Natal. Kurun satu dekade terakhir, Bitcoin tercatat mengalami reli tujuh kali pada periode pra-Natal dan lima kali pada periode pasca-Natal, dengan rentang penguatan pra-Natal sekitar 0,20%–13,19% dan pasca-Natal 0,33%–10,86%. Tetapi, Calvin menekankan pola musiman tersebut tidak selalu terjadi setiap tahun, seperti pada 2017, Bitcoin justru terkoreksi tajam, sehingga strategi dan manajemen risiko tetap krusial. “Di tengah fase koreksi global, data historis menunjukkan akhir tahun sering menjadi periode yang dinamis. Momentum musiman seperti Santa Claus rally kerap memunculkan peluang, tetapi tetap harus disikapi dengan disiplin dan manajemen risiko yang baik. Untuk itu, kami menyiapkan ekosistem yang makin memudahkan pengguna untuk merespons pergerakan pasar secara cepat dan efisien,” imbuh Calvin. Ke depan, ulasnya, kami tetap optimistis terhadap prospek pasar kripto. Tokocrypto akan terus menghadirkan inovasi layanan, memperluas opsi pembayaran, serta memperkuat edukasi agar semakin banyak masyarakat dapat memanfaatkan peluang pasar secara optimal, dengan tetap mengedepankan manajemen risiko.