Jakarta, katakabar.com - Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita optimis nilai ekonomi berbasis kelapa sawit dari hulu ke hilir tembus Rp775 triliun pada tahun ini.
"Di akhir tahun 2024 nanti, magnitude ekonomi basis kelapa sawit diperkirakan mencapai Rp775 triliun. Ini lebih tinggi dari realisasi nilai ekonomi kelapa sawit tahun sebelumnya yang mencapai Rp750 triliun," kata Menteri Perindustrian lewat keterangan resmi, dilansir dari laman EMG, Kamis (10/10).
Asumsi tersebut, ulas Agus, didasarkan pada nilai ekonomi sektor sawit pada kuartal II 2024 yang telah mencapai Rp193 triliun. Menurut data nilai produk domestik bruto (PDB) nasional kuartal II 2024, tercatat mencapai Rp5,536 triliun dengan kontribusi sektor industri pengolahan kelapa sawit dan turunannya sekitar 3,5 persen.
"Nilai ekspor kelapa sawit dan turunannya mencapai US$ 28,45 miliar atau sekitar Rp 450 triliun. Ini setara dengan 11,6 persen dari total ekspor nonmigas," jelasnya.
Menurut Agus, industri sawit menyerap 16,2 juta tenaga kerja langsung dan tidak langsung, termasuk melibatkan pelaku usaha perkebunan rakyat/smallholders, sebagai center point kebijakan nasional.
"Semua hal tersebut sejalan dengan kerangka kebijakan hilirisasi yang kita harapkan mampu mendorong tidak hanya nilai tambah produk, tetapi juga penyerapan tenaga kerja, serta diversifikasi ekonomi," ucapnya.
Dijabarkannya, besarnya kontribusi besar industri sawit bagi ekonomi nasional disebabkan pemerintah terus gencar melakukan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah.
Di mana, sebut Agus, Industri kelapa sawit saat ini telah mampu menghasilkan produk turunan berupa pangan (oleofood), nonpangan (oleochemical), bahan bakar terbarukan (biofuel), hingga material baru ramah lingkungan (biomaterial).
"Kami terus mengarahkan pengembangan produk hilir minyak sawit ke produk yang memiliki specialties seperti deterjen cair, kosmetik, cat, serta farmasi. Dengan begitu, sawit mampu menghasilkan nilai tambah hingga 580 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan CPO dan CPKO yang hanya 30 persen hingga 50 persen," terangnya.
Adapun untuk produk hilir berupa biomassa, lanjutnya, pengembangannya diarahkan ke produk derivatif seperti dimethyl eter (DME) yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti Liquified Petroleum Gas (elpiji). Selain itu juga produk seperti kapasitor, biokatalis, serta ethanol G-2.
"Produk turunan yang dihasilkan oleh industri kelapa sawit dalam negeri telah meningkat dari awalnya 48 jenis di tahun 2011 menjadi lebih dari 193 jenis di tahun 2023. Bahkan terakhir terdapat 200 jenis," tuturnya.
Hal itu, tambah Agus, bisa dilihat betapa pentingnya hilirisasi kelapa sawit yang bisa menjawab tantangan keluar dari middle income trap.
2024, Diproyeksikan Nilai Ekonomi Sawit Bisa Tembus Rp775 Triliun
Diskusi pembaca untuk berita ini