Jakarta, katakabar.com - Indonesia penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, sehingga pengembangan sumber daya manusia (SDM) di bidang sawit hal yang mutlak dilakukan.

Dana Perkebunan Kelapa Sawit ( BPDPKS ) di bawah naungan Kementerian Keuangan meluncurkan program Beasiswa Sawit dari tahun 2016 silam.

Salah satu institusi pendidikan yang digandeng menjadi mitra program Beasiswa Sawit awalnya Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY). Setelah 9 tahun, kini ada sekitar 23 institusi pendidikan vokasi perkebunan yang telah menjadi mitra BPDPKS dalam menyediakan pendidikan bagi pengembangan SDM sawit Indonesia.

“Peminat Beasiswa Sawit selalu meningkat. Pada tahun 2016 sebanyak 200 siswa. Saat ini 570, itupun dengan saringan yang luar biasa tinggi,” ungkap Idum Satia Santi, Wakil Direktur AKPY melalui keterangan resmi Kemenkeu, dilansir dari laman EMG, Sabtu (23/11).

Manfaat program Beasiswa Sawit sangat besar, ujar Santi, sebab menyasar anak-anak petani dan pekerja sawit dari seluruh penjuru Indonesia.

"Beasiswa SDM Sawit ini program pendanaan studi komprehensif bagi para penerima beasiswanya. Tak hanya biaya perkuliahan, pendanaannya mencakup biaya transportasi dari rumah hingga ke kampus di kota tujuan, pemberian laptop sebagai gawai kegiatan belajar sehari-hari, uang saku bulanan, uang buku per semester, dan kebutuhan belajar lainnya," jelasnya.

Pada rogram tersebut, mahasiswa penerima beasiswa berhak mengikuti program magang di perusahaan besar pengolahan sawit dan mendapatkan sertifikasi kompetensi yang menunjang karir mereka ke depan.

Fokus program ini menjangkau calon-calon SDM Sawit di pelosok nusantara untuk menjadi taruna taruni sawit andalan yang memenuhi kriteria yang dibutuhkan oleh industri dan kemudian hari dia akan memperkenalkan kelapa sawit dan bisa menceritakan kepada seluruh dunia betapa pentingnya kelapa sawit ini dengan berbagai macam kegunaannya.

Salah satu penerima manfaat Beasiswa Sawit adalah Miftahul Jannah, asal Muaro Bungo, Provinsi Jambi. Gadis cantik ini mendapatkan beasiswa tersebut pada tahun 2021 dengan mengambil jalur anak petani sawit rakyat. Setelah menyelesaikan program tersebut, Miftah saat ini menjadi mandor perawatan bagian ESP (excellence Sustainable Pruning) di perkebunan milik Minamas di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Proses pemangkasan (pruning) adalah kegiatan membuang pelepah sawit yang tidak produktif seperti pelepah yang rusak atau patah pada saat panen dan juga pelepah yang kering. Miftah dipercaya menyatukan kinerja 6 anggota yang melakukan pemangkasan di lahan seluas 567 hektar.

Di usianya yang masih muda, Miftah mengaku ada tantangan tersendiri dalam memimpin tim di sektor yang mayoritas pekerjanya adalah laki-laki. Namun, hal itu tak menggentarkan Miftah dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, gaung kesetaraan gender telah sampai dan diimplementasikan di bidang pekerjaan yang ia geluti.

“Selagi kita punya mental dan kemampuan untuk mengelola sebuah tim, kita bisa menjadi supervisor di sini,” ceritanya.

Miftah mengakui banyaknya perubahan yang ia alami setelah mengikuti program Beasiswa Sawit. Dulu, ia hanyalah seorang anak petani sawit dan hanya bisa mengenali bentuk pohon sawit saja. Banyak pengetahuan yang ia dapat dibanding sebelum masuk program hingga akhirnya kini ia benar-benar turun langsung ke lapangan dan bekerja di sektor pengolahan kelapa sawit.

“Sekarang saya tahu bagaimana cara merawat kelapa sawit dan meningkatkan produktivitasnya,” ucapnya.

Meski iklim kerjanya sangat keras dan berat, Miftah mengaku betah bekerja di sektor pengolahan kelapa sawit ini. Layaknya generasi muda lainnya, Ia pun masih ingin terus berkembang, baik secara kemampuan maupun tanggung jawab. “Saya ingin meningkatkan karir,” tegasnya.

"Saya bercita-cita suatu hari nanti pulang ke kampung halaman untuk membagikan ilmu, cerita dan pengalaman berkiprah di industri pengolahan kelapa sawit. Saya berharap kelompok tani lokal mengembangkan produktivitasnya, semakin naik daya saingnya dengan pemain besar," sebutnya.