Oleh: Agung Marsudi
katakabar.com - Dua minggu lalu, seorang Menteri Keuangan pulang dari rapat dan tidak kembali ke kursinya. Tidak ada pelanggaran yang diumumkan. Tidak ada kesalahan yang dibuktikan. Yang ada hanya satu pesan: "Presiden memanggil". Selesai.
Banyak orang berkata: "Itu urusan atas, bukan urusan kita."
Catatan ini ditulis untuk mengatakan: "Justru itu urusan kita".
Karena bukan nama seorang menteri yang dipertaruhkan. Yang dipertaruhkan adalah sistem keuangan negara—uang dari pajak kita, dari sawah kita, dari laut kita, dari keringat setiap rakyat Indonesia. Negeri kaya laut impor garam, kaya sawah impor beras.
Purbaya dicopot setelah mengusulkan agar sebagian keuntungan Danantara masuk ke kas negara. Setelah meminta pejabat lama berganti. Setelah berkata jujur: "utang kita naik, defisit tidak bisa diperlebar sesuka hati".
Apakah berkata jujur kini menjadi alasan untuk digantikan?
Kita tidak membela satu orang. Kita membela satu prinsip: kebijakan negara harus ditentukan di meja yang terbuka, bukan di ruang yang tertutup.
Danantara adalah dana terbesar dalam sejarah bangsa ini. Uang itu bukan milik mereka yang mengelolanya. Bukan milik kerabat dekat. Bukan milik siapa pun yang berbisik paling keras di telinga kekuasaan. Itu milik seluruh rakyat Indonesia—yang lahir hari ini, dan yang belum lahir tahun 2045.
Jika pengelolaan dana ini dirahasiakan, jika pertanggungjawaban dihindari, jika siapa pun yang mempertanyakan diusir—maka kita tidak sedang membangun Indonesia Emas. Kita sedang membangun Indonesia yang makin cemas.
_Kepada wakil-wakil rakyat di Senayan:_
Anda duduk di kursi itu bukan untuk menyetujui apa pun yang dikirim dari Istana. Anda duduk di sana untuk mengawasi, untuk menegur, untuk melindungi. Jika Anda diam saat uang bangsa dipertaruhkan, Anda tidak menjaga kekuasaan—Anda menyerahkannya. Bukankah Konstitusi mengatakan Kedaulatan berada di tangan rakyat.
Kepada sesama warga bangsa: "Jangan diam. Tanyakan. Pantau. Ingatkan. Bukan untuk menentang negara, tetapi untuk menyelamatkannya".
Ini saatnya. "Right now or not at all!"
Karena Indonesia Emas tidak akan datang dengan sendirinya. Ia tidak akan turun dari podium, tidak akan dikirim dalam amplop, tidak akan dijanjikan dalam pidato.
Ia akan dibangun—oleh kita, bersama-sama—dengan kejujuran, dengan keberanian, dengan kesadaran bahwa masa depan ini milik kita semua.
Catatan Tentang Pencopotan Purbaya
Diskusi pembaca untuk berita ini