katakabar.com - Saat kita bicara tentang 'emas hijau' nama lain dari kelapa sawit, sebagian besar boleh jadi langsung terbayang hamparan kebun luas di pedesaan atau minyak goreng yang tersaji di meja makan.

Padahal, perjalanan sawit jauh lebih panjang. Dari kebun rakyat di hulu hingga industri pengolahan di hilir, terdapat mata rantai yang saling terhubung, melibatkan petani, teknologi, serta kebijakan besar negara.

Gambaran ini yang muncul dari dua forum berbeda. Di acara IDN Fest, Direktur Penyaluran Dana Hulu Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Normansyah H Syahruddin, menekankan bagaimana program hulu dijalankan. Sementara, di forum Katadata SAFE, Direktur Hilir BPDP, M. Alfansyah, menjelaskan bagaimana hilirisasi menjadi bagian dari industrialisasi hijau. Keduanya berbicara dari perspektif berbeda, tapi menyampaikan pesan yang sama, yakni kunci utama pembangunan sawit adalah keberlanjutan atau sustainability.

Hulu: Perkuat Fondasi Petani dan Kebun

Di sisi hulu, fokus utama BPDP adalah pastikan kebun rakyat lebih produktif dan berdaya saing. Banyak kebun sawit rakyat yang usianya telah tua sehingga tidak lagi menghasilkan secara optimal. Untuk itu, Program Peremajaan Sawit Rakyat atau PSR jadi langkah strategis. Hingga saat ini, lebih dari Rp10 triliun telah disalurkan guma mendukung replanting, mencakup ratusan ribu hektare dan melibatkan puluhan ribu petani.

PSR bukan sekadar menanam kembali. Program ini diiringi dengan dukungan sarana dan prasarana perkebunan, mulai dari perbaikan akses jalan hingga penyediaan peralatan produksi. Tidak cuma itu, BPDP menaruh perhatian pada pengembangan sumber daya manusia atau SDM melalui beasiswa dan pelatihan vokasi, agar generasi muda memiliki kompetensi untuk mengelola perkebunan dengan lebih modern.

Begitu dengan inovasi turut dikembangkan, salah satunya melalui Pabrik Minyak Goreng atau Pamigo. Fasilitas ini memungkinkan petani mengolah tandan buah segar menjadi minyak goreng yang langsung bisa dimanfaatkan masyarakat. Ada pula pabrik minyak makan merah yang menghasilkan minyak sawit kaya vitamin A dan E, berkontribusi tidak hanya pada perekonomian, tetapi juga pada peningkatan gizi masyarakat.

Semua inisiatif tersebut dijalankan dengan mengedepankan prinsip keberlanjutan. Misalnya, petani yang mengikuti PSR didorong untuk memiliki sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil atau ISPO agar produknya diakui secara internasional dan memenuhi standar keberlanjutan global.

Hilir: Gerakkan Industrialisasi Hijau

Di hilir, fokus BPDP adalah hilirisasi sawit. Dalam paparannya di forum Katadata, Alfansyah menyampaikan sawit tidak hanya berhenti pada minyak goreng. Sawit dapat diolah menjadi bioenergi, biomassa, hingga bahan bakar nabati yang berperan penting mendukung transisi energi nasional.

Hilirisasi diposisikan sebagai mesin kedaulatan ekonomi Indonesia. Dengan mengolah hasil sawit di dalam negeri, nilai tambah dapat dinikmati masyarakat Indonesia, bukan sekadar mengekspor bahan mentah. Lebih jauh, industrialisasi sawit yang dijalankan juga diarahkan untuk menjadi green industrialization, yakni industrialisasi yang ramah lingkungan, efisien, dan selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan.

Dengan pendekatan ini, sektor hilir tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari solusi menghadapi tantangan lingkungan, dan energi global.

Satu Visi: Keberlanjutan

Meski fokusnya berbeda, pandangan yang disampaikan Direktur Hulu dan Direktur Hilir BPDP bertemu satu titik, yakni keberlanjutan adalah kunci.

Di hulu, keberlanjutan diwujudkan dalam bentuk kebun yang produktif, petani yang sejahtera, dan produk yang tersertifikasi. Di hilir, keberlanjutan hadir melalui hilirisasi dan industrialisasi hijau yang mampu menggerakkan ekonomi sekaligus menjaga lingkungan.

Sawit memang kerap menjadi bahan perdebatan. Tapi, lewat strategi hulu hingga hilir yang dijalankan secara terpadu, terlihat jelas bahwa kelapa sawit tidak hanya soal produksi, melainkan juga soal masa depan tentang kesejahteraan petani, ketahanan pangan, gizi masyarakat, transisi energi, dan posisi Indonesia di panggung global.

Dari kebun hingga industri, dari hulu hingga hilir, BPDP berupaya menghadirkan ekosistem sawit yang berkelanjutan. Cerita ini menunjukkan saat seluruh rantai nilai dikelola dengan baik, sawit dapat menjadi contoh nyata bagaimana sebuah komoditas mampu menjadi motor pembangunan ekonomi yang adil, inklusif, dan ramah lingkungan.

Jadi, keberlanjutan bukan sekadar jargon, tapi fondasi yang menyatukan setiap langkah pembangunan sawit Indonesia untuk hari ini, esok, dan generasi mendatang.