Sumut, katakabar.com-Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Aceh Utara dan berbagai wilayah di Sumatera Utara, pada Kamis (4/9/2025) kembali melemah.
Kondisi ini membuat petani kian terhimpit, sebab biaya perawatan kebun terus naik sementara produksi justru turun akibat musim trek.
Ramli, petani sawit asal Blang Rubek, Kecamatan Lhoksukon, menyebutkan saat ini harga sawit yang dibeli pengepul hanya Rp2.500 per kilogram. Penurunan harga ini diperparah dengan turunnya produktivitas kebun.
“Biasanya kalau musim puncak bisa satu ton per hektare. Sekarang hanya sekitar 700 kilogram per hektare. Kami berharap harga sawit bisa stabil minimal Rp3.000 per kilogram karena biaya perawatan semakin besar,” ujar Ramli.
Ia juga berharap pemerintah menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok agar daya beli masyarakat tidak semakin lemah.
Sementara itu, Manajer Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PTPN IV Regional 6 Cot Girek, Basri, menjelaskan harga beli sawit di tingkat pabrik saat ini ditetapkan Rp2.840 per kilogram.
“Kami menyesuaikan harga berdasarkan penetapan pemerintah daerah dan mekanisme pasar. Fluktuasi harga TBS dipengaruhi banyak faktor, baik dari pasar global maupun kondisi produksi lokal,” kata Basri.
Tren Turun Juga Terjadi di Sumut
Bukan hanya di Aceh, harga sawit juga ikut melemah di Sumatra Utara (Sumut). Data Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Sumut mencatat harga TBS petani mitra terkoreksi di awal September 2025.
Hari ini, Kamis (4/9/2025), harga TBS tertinggi untuk usia tanaman 10–20 tahun ditetapkan Rp3.614,10 per kilogram. Angka ini turun Rp6,28 dari pekan sebelumnya yang berada di level Rp3.620,38 per kilogram.
“Penetapan harga TBS dipengaruhi banyak faktor, termasuk harga CPO dan kernel. Minggu ini harga acuan CPO memang naik tipis dari Rp14.447 menjadi Rp14.497,29 per liter, tapi harga kernel justru turun dari Rp13.488 menjadi Rp12.938 per kilogram. Itu berdampak pada harga TBS,” jelas Dewiana, Analis Pasar Disbunak Sumut.
Sebagai informasi, TBS dengan usia tanaman 10–20 tahun memiliki kadar rendemen CPO tertinggi di Sumut, yakni 22,34%, dengan faktor K yang digunakan bulan ini sebesar 92,92%.
Sawit merupakan komoditas perkebunan unggulan di Aceh dan Sumatra Utara. Namun, ketidakstabilan harga yang dipengaruhi pasar global membuat petani sering menanggung risiko.
Situasi semakin berat saat musim trek, di mana produksi menurun sementara biaya perawatan kebun tidak bisa dikurangi.()
Harga Sawit Hari Ini Petani Aceh-Sumut Tertekan di Tengah Musim Trek
Diskusi pembaca untuk berita ini